Minggu, 29 September 2013

konsekwensi iman pada al quran

KONSEKUENSI IMAN KEPADA AL-QUR’AN I. DEFINISI AL-QUR'AN Al-Qur'an adalah kalamullah, merupakan mukjizat yang diturunkan ke hati Nabi Muhammad saw., diriwayatkan kepada kita secara mutawatir, dan membacanya merupakan ibadah. Lebih lanjut akan diuraikan maksud dari definisi tersebut di atas. - Al-Qur'an adalah kalamullah Hal ini memberikan pengertian bahwa Al-Qur’an bukan merupakan ucapan maupun gubahan Nabi Muhammad saw., malaikat, maupun manusia atau makhluk yang lain. Al-Qur’an adalah firman Allah yang diturunkan melalui wahyu. Keberadaannya sebagai wahyu memberikan jaminan kesempurnaan dan kebebasannya dari kekurangan sebagaimana yang ada pada semua kitab selainnya. Kebenaran yang ada di dalamnya adalah mutlak. - Mukjizat Mukjizat adalah hal luar biasa yang diberikan kepada para nabi sebagai bukti kenabiannya. Al-Qur’an merupakan mukjizat Nabi Muhammad saw. yang terbesar dan abadi. Kemukjizatannya dapat dilihat dari keorisinalannya. Belasan abad sudah kitab itu tidak berubah hatta satu huruf pun, demikian hingga hari akhir. Allah telah menjamin untuk menjaganya sehingga tidak akan pernah mengalami perubahan. Kemukjizatan lain dapat dilihat dari kesempurnaan bahasa dan kandungannya. - Diturunkan ke dalam hati Muhammad saw. Keberadaannya sebagai wahyu yang diturunkan ke hati memberikan pengertian bahwa ia bukan sekedar dibaca atau dihafal dengan lisan. Al-Qur’an akan efektif memberi manfaat kalau interaksi dengannya merupakan interaksi qalbiyah (hati). Interaksi inilah yang akan menggerakkan hingga menciptakan perubahan. Hubungan lisan akan menghasilkan perubahan lisan, pun demikian bila hubungan hati. Hati yang berubah akan mampu menggerakkan seluruh sendi kehidupan. - Diriwayatkan secara mutawatir Informasi agama dalam Islam harus melalui periwayatan yang dapat dipertanggungjawabkan validitas dan reliabilitasnya. Mutawatir adalah riwayat yang disampaikan oleh tiga orang atau lebih yang memiliki kualifikasi terbaik sebagai orang-orang yang adil (kredibilitas moral), sempurna hafalannya (kapabilitas), dan tidak mungkin sepakat berbohong. Seluruh ayat-ayat Al-Qur’an sampai kepada kita dengan derajat periwayatan yang demikian. - Membacanya merupakan ibadah Karena ia adalah kalamullah, maka membacanya merupakan ibadah. Membacanya merupakan indikasi keimanan seseorang. Semakin besar iman seseorang semakin intens membacanya, semakin intens membacanya semakin meningkat imannya. Pahala besar akan diberikan Allah pada mukmin yang membacanya. Satu huruf dibalas dengan sepuluh pahala. Alif laam miim bukan satu huruf, tapi tiga huruf.. Subkanallah... II. KEDUDUKAN AL-QUR’AN Kedudukan Al-Qur’an, antara lain sebagai: - Kitab berita dan kabar tentang berbagai hal yang telah, sedang dan akan terjadi, baik yang terjangkau oleh indera manusia maupun yang masih ghaib. - Kitab hukum dan syariat karena memuat hukum dan perundang-undangan yang harus dipatuhi dan diterapkan dalam kehidupan. - Kitab jihad karena ia menggelorakan semangat jihad dan menjadi panduan para mujahidin. - Kitab tarbiyah karena ia mendidik orang-orang yang beriman. Mereka membaca, memahami, dan mengamalkannya agar menjadi mukrim yang baik. - Pedoman hidup karena orang-orang yang beriman menjadikannya sebagai panduan dalam hidup mereka. - Kitab ilmu pengetahuan karena ia memuat berbagai pengetahuan, mendorong, danmemberi dasar-dasar yang kokoh bagi pengembangan berbagai cabang ilmu pengetahuan. III. KONSEKUENSI I MAN KEPADA AL-QUR'AN Iman kepada Al-Qur’an menuntut beberapa hal yang harus dipenuhi oleh orang yang telah menyatakan beriman kepadanya. Keimanan itu tidak sempurna bahkan patut dipertanyakan kebenarannya apabila ia belum memenuhinya. Di antara konsekuensi-konsekuensi itu adalah: 1. Akrab dengan Al-Qur’an Seseorang dikatakan akrab dengan Al-Qur’an apabila ia melakukan interaksi yang intens dengannya. Hal itu dilakukan dengan cara mempelajari dan mengajarkan kepada orang lain. “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya!” (HR Bukhari). Yang ia pelajari dan ajarkan itu meliputi - Bacaannya Membaca Al-Qur’an dengan baik sesuai dengan makhraj-tajwidnya merupakan indikasi keimanan seseorang. Untuk itu seorang mukmin harus mempelajari dan mengajarkannya kepada orang lain dengan baik. - Pemahamannya Hal ini dilakukan dengan mempelajari dan mengajarkan maknanya secara baik, karena sebagian ayat-ayatnya harus dipahami secara kontekstual. Pemahaman kontekstual harus didasarkan pada apa yang dipahami para salafushalih melalui riwayat-riwayat yang sahih. Pemahaman kontekstual dapat juga dengan penalaran akai, asal tidak menyimpang dari riwayaj karena Nabi saw. dan para shahabat tentu lebih memahaminya. Merekalah yang mengalami masa turunnya wahyu itu. - Penerapannya Apa yang telah dipahami hendaknya diterapkan dalam kehidupan. Di samping itu, ia mempelopori penerapannya dalam kehidupan dan mengajak orang lain untuk melakukan hal yang sama. - Penghafalan dan penjagaannya Ia menghafalkan Al-Qur’an dan mengajarkan hafalan Al-Qur’an kepada orang lain. Di samping itu ia senantiasa menjaga hafalannya supaya tidak rusak, mengalami perubahan atau hilang. 2. Mendidik diri dengannya Al-Qur’an memuat nilai-nilai dan ajaran yang ideal, sementara manusia dan kehidupan di sekitarnya terkadang jauh dari nilai-nilai Al-Qur’an. Dalam kondisi ini, ia berusaha untuk mendidik diri supaya sifat-sifat dan karakternya sesuai dengan Al-Qur’an. Bila berhasil, ia akan menjadi seorang yang berkepribadian khas karena Al-Qur’an sebagai shibghah mewarnai seluruh dirinya secara utuh. 3. Tunduk menerima hukum-hukumnya Al-Qur’an sebagai hukum dan perundang-undangan tidak cukup dibaca dan dikaji. Al-Qur’an harus dipatuhi dengan segala ketundukan dan lapang dada karena hukum-hukum yang ada di dalamnya dibuat oleh Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Penolakan dan pembangkangan terhadap Al-Qur’an merupakan kebodohan yang hanya akan menyebabkan kerusakan dan kehancuran. 4. Mengajak (menyeru) orang kepadanya Karena ia yakin bahwa Al-Qur’an adalah kebenaran hakiki yang menenteramkan maka ia pun mengajak orang lain kepadanya dengan cinta dan penuh tanggung jawab. Di samping itu, karena sebagian nilai dan hukum-hukumnya hanya dapat ditegakkan bersama dengan orang lain dalam wadah jamaatul muslimin yang solid. 5. Menegakkannya di bumi Nilai dan hukum-hukum yang menyangkut kehidupan pribadi ditegakkan dalam dirinya sebagai individu. Dalam konteks kehidupan sosial politik ia tegakkan bersama dengan kaum mukminin lainnya dalam wadah jamaah yang solid, tentunya dalam institusi sosial politik dan kenegaraan. IV. BAHAYA MELUPAKAN AL-QUR’AN Manfaat Al-Qur’an bagi umat manusia sangat besar. Namun, kenyataan menunjukkan bahwa Al-Qur’an telah ditinggalkan bahkan oleh kaum muslimin sendiri. Akibatnya, umat manusia menghadapi berbagai problema yang tiada habis-habisnya. Dahulu yang melupakan dan meninggalkan Al-Qur’an adalah orang-orang munafik dan ahli kitab, namun kini kaum muslimin termasuk di dalamnya. Melupakan Al-Qur’an sama dengan menjauhkan diri dari fungsi dan manfaatnya, bahkan tidak meghormati kedudukannya. Akibatnya, akan mendatangkan berbagai bahaya yang disebut dalam Al-Qur’an sendiri, di antaranya: 1. Kesesatan yang nyata Hukum yang ada dalam Al-Qur’an adalah petunjuk yang mencerahkan. Siapa yang tidak menggunakan Al-Qur’an sebagai petunjuk berarti menggunakan selainnya. Padahal petunjuk yang sebenarnya adalah petunjuk Allah. 2. Kesempitan dan kesesakan Barangsiapa yang Allah kehendaki untuk mendapat petunjuk, Ia swt. melapangkan dadanya. Sebaliknya, yang tidak mendapat petunjuk, dadanya akan terasa sempit menghimpit seakan naik ke ketinggian langit. 3. Kehidupan yang sempit Siapa yang tidak mengikuti petunjuk Allah, maka kehidupannya pasti penuh permasalahan. Mengikuti petunjuk buatan manusia sama saja dengan menjerumuskan diri dalam kepentingan berbagai pihak sehingga akan terombang-ambing di antara kepentingan-kepentingan itu. 4. Kebutaan mata hati Mereka tidak dapat melihat kebenaran Al-Qur’an bukan karena mata mereka buta. Kebutaan yang lebih parah adalah apabila mengenai hati. Orang yang mengalami kebutaan secara lahir mungkin saja mendapatkan kehidupan yang baik selama hatinya tidak buta. 5. Kekerasan hati Di antara mukjizat Al-Qur’an adalah kekuatannya meluluhkan hati sehingga orang yang kasar dan kaku pun menjadi lembut karenanya. Contoh yang sangat ekstrim adalah Umar bin Khattab ra. Saat amarah, kebencian, dan permusuhannya berkobar-kobar justru beliau tersentuh oleh Al-Qur’an yang sedang dibacakan. Tidak tersentuhnya hati oleh Al-Qur’an adalah akibat sekat yang menjadikannya keras. Padahal bila sudah mengeras, hati lebih keras dibanding batu. 6. Kezhaliman dan kehinaan Meninggalkan hal yang bermanfaat dan menggantinya dengan kesesatan merupakan tindak kezhaliman terhadap diri dan orang lain. Kezhaliman semacam ini akan menyebabkan hilangnya kehormatan sehingga orang akan hina di mata Allah dan di mata manusia. 7. Menjadi teman setan Setan akan sangat senang apabila manusia meninggalkan kitab suci Tuhannya. Mengapa? Karena mereka akan menjadi teman yang loyal kepadanya. 8. Lupa diri Akibat melupakan Allah, ia dilupakan Allah, padahal kepentingannya sangat tergantung kepada-Nya. Melupakan Al-Qur’an sama dengan melupakan diri sendiri. Hal ini akan menimbulnya bahaya yaitu kefasikan dan kemunafikan. Semua itu mengakibatkan kesengsaraan di dunia maupun di akhirat. V. SYARAT MENDAPAT MANFAAT AL-QUR'AN Imam Ibnu Qayyim ra. dalam Al-Fawaid mengatakan bahwa kita akan mendapat manfaat dari Al-Qur’an apabila terpenuhi hal-hal sebagai berikut: pemberi pengaruh (Al-Qur’an itu sendiri), tempat yang menerimanya (hati yang hidup), dan tiada hal yang menghalangi. Syarat-syarat itu secara rinci dapat dijabarkan sebagai berikut: 1. Bersikap sopan terhadap Al-Qur’an. Hal ini dapat diwujudkan dengan niat yang baik; kebersihan hati dari penyakit-penyakit hati; mengosongkan hati dari hal-hal yang menyibukkannya; kesucian jasmani dari najis; dan mengkhususkan pikiran bersama Al-Qur’an. 2. Talaqqi dengan sebaik-baiknya. Hal ini dilakukan dengan hati yang khusyuk; ta’zhim (pengagungan); dan semangat untuk melaksanakan apa yang diperintahkannya. 3. Memperhatikan tujuan asasi diturunkannya Al-Qur’an. Yaitu sebagai petunjuk menuju ridha Allah; untuk membentuk kepribadian yang Islami; memandu umat manusia; dan membentuk masyarakat Islami. 4. Mengikuti cara interaksi para shahabat ra. dengan Al-Qur’an. Merekalah generasi terbaik. Mereka mencapai predikat itu karena interaksinya yang sangat baik bersama Al-Qur’an. Cara mereka dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an itu adalah: - Pandangan yang menyeluruh Maksudnya bahwa mereka tidak memahami ayat-ayat secara terpisah karena ayat satu dengan yang lain saling terkait. Pandangan yang parsial terhadap Al-Qur’an akan memunculkan anggapan bahwa ada kontradiksi di antara ayat-ayatnya. Ini menyebabkan orang mengimani sebagian ayat dan mengkafiri sebagian yang lain. Padahal, mengimani sebagian ayat dan mengkafiri sebagian lainnya merupakan kekafiran yang sebenarnya. Rasulullah saw. bahkan melarang kita mempertentangkan satu ayat dengan ayat yang lain. - Memasuki Al-Qur'an tanpa membawa persepsi, pemahaman, dan keyakinan-keyakinan masa lalu. Sikap ini demikian dilakukan agar apa yang akan dipahaminya dari Al-Qur’an tidak dibatasi oleh pemahaman dan persepsi-persepsi lamanya. - Kepercayaan mutlak kepada Al-Qur'an. Apa yang dikatakan Al-Qur’an sebagai haram, mereka mengatakannya sebagai haram. Sebaliknya, apa yang Al-Qur’an katakan sebagai halal mereka mengatakannya sebagai halal. Bahkan mereka pun percaya sepenuhnya pada hal-hal yang kadang belum mereka ketahui atau bertentangan dengan logika berpikir mereka. Logikalah yang harus menyesuaikan dengan Al-Qur’an, bukan Al-Qur’an yang dipaksakan untuk selaras dengan logika mereka. - Merasakan bahwa ayatnya (yang dibaca/didengar)ditujukan kepadanya Imam Ahmad mengatakan bahwa siapa yang ingin berdialog dengan Allah hendaklah ia membaca Al-Qur’an. Sayyid Qutub mengatakan bahwa hendaklah ia merasakan seakan-akan wahyu itu sedang turun kepadanya secara langsung. 5. Tiada penghalang. Hal yang menghalangi terjadinya pengaruh Al-Qur’an secara efektif adalah kesibukan hati dengan urusan lain; ketidakpahamannya terhadap makna dan pesan-pesan yang terkandung di dalam ayat yang dibaca atau didengar; dan ketika ia berpaling kepada selain Al-Qur'an. Disarikan dari : Syarah Rasmul Bayan Tarbiyah, oleh: Jasiman, Lc.

membangun guru

UPAYA MEMBANGUN MORALITAS GURU AL-QUR’AN DI TANAH AIR I. Potensi TKQ-TPQ di Tanah Air Syukur alhamdulillah, Taman Pendidikan Al-Qur’an, baik yang dikenal dengan nama TKA/TKQ, TPA/TPQ, MDA/MDQ dan bentuk lain yang sejenis, saat ini telah tersebar luas di tanah air Indonesia. Catatan-catatan berikut ini menunjukkan betapa TKQ-TPQ saat ini telah menjadi salah satu aset bangsa yang memiliki potensi sangat besar dan strategis. 1. Jumlahnya yang cukup besar Sejak dirintisnya lembaga ini oleh KH. Dahlan Salim Zarkasi di Semarang (tahun 1986) dan oleh KH. As’ad Humam di Yogyakarta (1988), perkembangannya terus meng-Indonesia bahkan mendunia. Dr. Undang Sumantri, staf ahli di Direktorat PD Pontren Departemen Agama RI, pada tanggal 9 Januari 2007 menginformasikan bahwa jumlah TKQ tercatat di Departemen Agama ada 15.756 unit dan TPQ-nya ada 111.685 unit sehingga totalnya ada 127.441 unit, dengan jumlah ustadz sebanyak 544.411 orang, dan jumlah santri untuk TKQ ada 913.981 anak, untuk TPQ ada 6.812.303 anak atau totalnya ada 7.726.284 anak. Sungguh suatu jumlah yang lumayan besar. 2. Penyebarannya yang merata sampai pelosok Tidak hanya pada jumlah yang cukup besar, potensi TKQ-TPQ juga terletak pada penyebarannya yang merata sampai ke pelosok-pelosok terpencil. TKQ-TPQ saat ini bisa didapati di Papua, Maluku, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, Jawa dan pulau-pulau kecil di seluruh Nusantara. Bahkan juga dengan mudah didapati di daerah-daerah pantai maupun di pucuk-pucuk gunung, di kota-kota besar maupun di dusun-dusun terpencil. Dengan penyebarannya yang demikian memungkinkan TKQ-TPQ bisa menjadi agen perubahan dengan jaringan yang cepat dan luas. 3. Murah dan merakyat Berbeda dengan lembaga sekolah yang terkenal mahal, TKQ-TPQ bisa didirikan dengan biaya murah bahkan nyaris tanpa biaya sama sekali. Bisa diselenggarakan di tempat-tempat yang “apa ada”-nya, seperti masjid, musholla, atau tempat-tempat lain. Data menunjukkan bahwa dari 127.441 unit TKQ-TPQ, 41,3% bertempat di masjid, 24% di musholla, 14,4% di rumah, 7,5% di madrasah, 8,7% di gedung serba guna, 1% di pondok pesantren, dan 3,1% di tempat-tempat lain. Sehingga keberadaannya benar-benar merakyat dan bisa diikuti oleh semua lapisan masyarakat dari kalangan termiskin sekalipun. 4. Dukungan swadaya masyarakat cukup tinggi Dukungan masyarakat terhadap keberadaan TKQ-TPQ sangat luar biasa. Dari 127.441 unit yang ada di tanah air, 92.674 unit (72,7%) di selenggarakan oleh masyarakat, 10.361 unit (8,1%) diselenggarakan oleh organisasi massa, 12.466 unit (9,8%) diselenggarakan oleh yayasan, 11.940 unit (9,4%) diselenggarakan oleh lain-lain, dan tidak ada satu unitpun yang diselenggarakan oleh pemerintah. 5. Keikhlasan ustadz – ustadzah yang tinggi Potensi yang luar biasa besar nampak pada semangat juang ustadz-ustadzahnya yang tinggi. Mereka mengajar tanpa mengharap bayaran (hanya di sedikit tempat yang mereka mendapat “sekedar” honor), bahkan di banyak tempat mereka siap nombok. Coba bayangkan, andaikan pemerintah harus membayarnya, berapa trilyun dana yang harus disediakan? Misalnya setiap ustadz dibayar Rp 1 juta/bulan, maka di tanah air pemerintah harus menyediakan dana Rp 1 juta x 544.411 orang = Rp 544.411.000.000,- tiap bulan dan bila dikalikan 12 dalam satu tahun = Rp 6.532.932.000.000,- (lebih dari 6,5 trilyun) tiap tahunnya. Sungguh jumlah yang sangat besar. Belum lagi kalau ditambah dengan nilai sarana dan prasarana yang ada, tentu jumlahnya menjadi sangat-sangat besar! II. Perlu Pembinaan Potensi yang cukup besar ini tentunya akan terus sekedar menjadi potensi bila tidak ada upaya untuk mengaktualisasikannya. Sebab, disamping menyimpan potensi, TKQ-TPQ juga mengidap beberapa kelemahan antara lain pada: 1. Kuantitas dan kualitas ustadz yang kurang memadai 2. Keterbatasan dana 3. Kurangnya sarana dan prasarana 4. Statisnya pengembangan kurikulum 5. Metodologi pendidikan dan pengajaran yang cenderung ketinggalan zaman 6. Belum ditemukannya program lanjutan TKQ-TPQ yang bisa diandalkan 7. Menurunnya semangat juang para pengelola 8. Koordinasi yang belum solid Sekurang-kurangnya ada 8 kelemahan mendasar yang kini diidap oleh keberadaan TKQ-TPQ ini. Untuk itu, pembinaan harus terus menerus dilakukan. Ada 5 ulil yang mestinya harus menyatu dan bertanggung jawab dalam membina TKQ-TPQ ini, yaitu: 1. Ulil Amri, yaitu pemerintah, sejak jabatan tertinggi (Presiden) sampai jabatan terendah (Ketua RT). Dengan kekuasaan yang ada di tangannya, ulil amri akan mudah menggerakkan dan melindungi TKQ-TPQ. 2. Ulil albab, yaitu ulama, cendekiawan, dan organisasi massa. Dengan ilmu yang dimilikinya, ulil albab memiliki peran strategis untuk memotivasi masyarakat mendukung TKQ-TPQ. 3. Ulil amwal, yaitu aghniya’, penguasa dan orang-orang yang memiliki kelebihan harta. Dengan dukungan dana dari ulil anwal ini, maka gerakan TKQ-TPQ ini akan bisa berjalan dengan lancar. 4. Ulil anfus, yaitu kelompok anak-anak muda yang siap dibarisan terdepan berhadapan langsung dengan para santri, baik sebagai ustadz-ustadzah, karyawan, pengurus atau yang lainnya. 5. Ulil abshar, yaitu para pengamat, pemerhati, dan pemikir yang memberikan masukan, kritik dan saran demi kemajuan TKQ-TPQ. Ke-5 ulil ini harus ada dan menjadi satu kesatuan. Masing-masing kita tentu mampu memerankan diri dalam salah satu, syukur lebih, dari 5 ulil ini. III. Peningkatan Kuantitas dan Kualitas Ustadz Mutu atau tidaknya TKQ-TPQ sangat bergantung pada keberadaan ustadz-ustadzah. Untuk itu, harus senantiasa tersedia jumlah ustadz yang cukup. Idealnya perbandingan ustadz dengan santri adalah seorang ustadz maksimal menghadapi 6 orang santri. Semakin banyak ustadz dan semakin sedikit santri yang dihadapi tentu akan semakin ideal. Di samping jumlah yang cukup, kualitas ustadz sama sekali tidak boleh diabaikan. Idealnya, setiap ustadz memiliki 4 kompetensi, yaitu: 1. Kompetensi paedagogik, yaitu kemampuan mengelola pembelajaran TKQ-TPQ 2. Kompetensi kepribadian, yaitu memiliki kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif dan berwibawa serta menjadi teladan para santri 3. Kompetensi profesional, yaitu kemampuan penguasaan materi pembelajaran TKQ-TPQ secara luas dan mendalam 4. Kompetensi sosial, yaitu kemampuan ustadz-ustadzah untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan para santri, sesama ustadz-ustadzah, orangtua/wali santri dan masyarakat sekitar. Bila setiap ustadz memiliki 4 kompetensi diatas, dapat dipastikan bahwa dia akan memiliki keahlian sekaligus integritas moral yang handal. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana upaya mewujudkannya? Barangkali program yang dilakukan oleh Team Tadarus “AMM” Yogyakarta bisa untuk dijadikan acuan, yaitu sebagai berikut: 1. Diklat ustadz Diklat ini mengambil bentuk penataran ustadz-ustadzah, yang dikemas dalam 4 jenjang, sebagai berikut: Jenjang pertama disebut diklat tingkat dasar yang diperuntukkan bagi para calon ustadz dan ustadz pemula, dengan materi tatar meliputi (1) problematika pengajaran al-qur’an di Indonesia, (2) manajemen dan administrasi TKQ-TPQ, (3) metodologi Iqro’ dan (4) pengelolaan kelas. Diklat tingkat dasar ini berlangsung selama 1 (satu) hari, dimulai jam 08.00 sampai dengan 16.30. Jenjang kedua disebut diklat tingkat mahir I yang diperuntukkan bagi para ustadz yang telah mengikuti penataran tingkat dasar, dengan materi tatar meliputi (1) profil ustadz ideal, (2) ilmu tajwid dan bacaan garib, (3) makharijul huruf dan irama murottal dan (4) BCM (Bermain, Ceritera dan Menyanyi). Diklat tingkat mahir I ini berlangsung selama 1 (satu) hari, dimulai jam 08.00 s/d 16.30 Jenjang ketiga disebut diklat tingkat mahir II yang diperuntukkan bagi para ustadz yang telah mengikuti penataran tingkat dasar dan (dianjurkan) telah mengikuti penataran mahir I dengan materi tatar meliputi (1) wawasan kependidikan, (2) problem solving pengajaran Iqro’ dan TKQ-TPQ, (3) pengajaran Iqro klasikal, (4) program pendidikan pasca TKQ-TPQ, dan (5) pengelolaan kelas program pasca TKQ-TPQ. Diklat tingkat mahir II ini juga berlangsung selama 1 (satu) hari, dimulai jam 08.00 s/d 16.30. Jenjang keempat disebut diklat tingkat TOT (Training of Trainer) yang diperuntukkan bagi calon-calon penatar. Pesertanya disyaratkan ustadz yang telah mengikuti penataran tingkat dasar dan mahir I-II, berpengalaman menjadi ustadz minimal 3 tahun, mampu tampil berceramah di depan umum serta telah lulus kursus tartil. Materi tatarnya meliputi (1) wawasan kependidikan Islam, (2) pendalaman tingkat dasar, (3) pendalaman tingkat mahir I dan II, (4) pendalaman keislaman, (5) micro teaching, dan (6) diskusi dan dialog. Diklat tingkat TOT ini berlangsung 2 hari 2 malam. 2. Kursus Tartil Al-Qur’an Diselenggarakannya kursus ini untuk menyiapkan para ustadz, da’i, imam, khatib dan sebagainya agar fasih, berkualitas dan mengetahui ilmu tajwid serta bacaan-bacaan gharib. Dalam pelaksanaannya menerapkan sistem halaqah dan individual, peserta dikelompokkan dalam kelompok kecil antara 5-10 orang, disimak dan ditashih satu persatu. Lama waktu kursus tidak ditentukan. Untuk target yang ingin dicapai terbagi dalam 4 jenjang. Jenjang pertama mentargetkan peserta kursus memiliki kemampuan (1) membaca Al-Qur’an secara tartil, (2) membaca semua materi hafalan TKQ-TPQ secara tartil, (3) hafal dengan baik bacaan shalat, (4) hafal 12 surat pendek dalam Al-Qur’an dan (5) hafal 12 do’a sehari-hari. Bagi peserta yang telah mencapai target yang demikian, kepadanya diberikan sertifikat S1 (Syahadah Satu). Jenjang kedua mentargetkan peserta kursus memiliki kemampuan (1) menguasai ilmu tajwid, (2) praktek tajwid yang mencakup makharijul huruf, ahkamul huruf, ahkamul mad, al-waqfu wal ibtida’ dan bacaan-bacaan gharib dan (3) menguasai dasar-dasar ulumul qur’an. Bagi peserta yang telah mencapai target jenjang kedua ini kepadanya diberikan sertifikat S2A (Syahadah Dua A). Di sisi lain jenjang kedua juga mentargetkan peserta kursus memiliki kemampuan (1) hafal bacaan shalat, adzan dan iqamah, (2) hafal 14 do’a sehari-hari, (3) hafal 17 surat pendek, (4) hafal 6 kelompok ayat pilihan, (5) hafal surat Al-A’la dan Al-Gasyiyyah, dan (6) menguasai irama murottal. Bagi peserta yang telah mencapai target yang demikian ini kepadanya diberikan sertifikat S2B (Syahadah Dua B). Jenjang ketiga mentargetkan peserta kursus memiliki kemampuan (1) lulus S1, S2A dan S2B dengan nilai minimal 75 (B), (2) hafal juz ‘Amma, (3) hafal QS. Al-Mulk, QS. Al-Waqi’ah dan QS. Ar-Rahman, (4) menguasai 4 irama murottal, yaitu irama Rast, Nahawand, Hijaz dan Bayati, dan (5) menguasai ulumul Qur’an. Bagi peserta yang telah mencapai target yang demikian ini, kepadanya diberikan sertifikat S3 (Syahadah Tiga) Dengan diselenggarakannya diklat ustadz dan kursus tartil ini diharapkan setiap ustadz memiliki Piagam Penataran Tingkat Dasar dan sertifikat tartil S1. Sedang untuk menjadi Wali Kelas diharapkan telah memiliki Piagam Penataran Tingkat Mahir I dan sertifikat tartil S2A dan S2B. Adapun bagi ustadz yang ingin menjabat Kepala TKQ-TPQ diharapkan telah memiliki Piagam Penataran mahir 2 dan sertifikat tartil S3. Khusus bagi yang ingin menjadi penatar harus telah memiliki Piagam TOT dan sertifikat tartil S2A dan S2B. Demikian itulah 2 program kegiatan yang telah dilaksanakan oleh Team Tadarus “AMM” Yogyakarta. Tentu 2 hal itu belumlah mencukupi dan masih perlu ditambah dengan program kegiatan yang lain. Misalnya, alangkah baiknya bila dibuka suatu Perguruan Tinggi atau suatu Program Studi di Perguruan Tinggi yang sudah ada, yang secara khusus memproduk calon ustadz-ustadzah TKQ-TPQ yang unggul. IV. Nasehat Hasan Al-Banna untuk Membangun Integritas Moral Sebagai penutup makalah ini, ada baiknya kita renungkan 20 dari 40 nasehat Hasan Al-Banna untuk para angkatan mujahid, yang tentunya sangat relevan untuk membangun integritas moral para ustadz-ustadzah TKQ-TPQ. 1. Hendaklah engkau mempunyai wirid’ harian dari kitabullah tidak kurang dari satu juz. Usahakan mengkhatamkan Al-Qur’an dalam waktu tidak lebih dari sebulan dan tidak kurang dari tiga hari. 2. Hendaklah engkau membaca Al-Qur’an dengan baik, memperhatikannya dengan seksama dan merenungkan artinya. 3. Hendaklah engkau mengkaji Sirah Nabi dan sejarah para generasi salaf. Banyak membaca hadist Rasulullah saw, minimal hafal 40 hadist dalam Al-Arba’in An-Nawawiyah. Dan juga mengkaji pokok-pokok aqidah dan fiqih. 4. Hendaklah engkau bersegera melakukan general check up secara berkala atau berobat, begitu penyakit terasa mengenaimu. Di samping itu perhatikan faktor-faktor penyebab kekuatan dan perlindungan tubuh serta hindarilah faktor-faktor penyebab lemahnya kesehatan. 5. Hendaklah engkau menjauhi sikap berlebih-lebihan dalam mengkonsumsi kopi, teh, dan minuman perangsang lainnya. Hindarkan sama sekali rokok. 6. Hendaklah engkau perhatikan kebersihan dalam segala hal baik tempat tinggal, pakaian, makanan, minuman, badan dan tempat kerja, karena agama ini dibangun di atas dasar kebersihan. 7. Hendaklah engkau senantiasa bersikap tenang dan terkesan serius. Namun janganlah keseriusan itu menghalangimu dari canda, senyum dan tawa 8. Hendaklah engkau memiliki rasa malu yang kuat, berperasaan yang sensitive dan peka oleh kebaikan dan keburukan. Hendaklah engkau juga bersikap rendah hati dengan tanpa menghinakan diri, tidak bersikap taklid dan tidak terlalu berlunak hati. 9. Hendaklah engkau bersikap adil dan benar dalam memutuskan suatu perkara pada setiap situasi. Jangan kemarahan melalaikanmu dari berbuat kebaikan, jangan permusuhan membuatmu lupa dari pengakuan jasa baik. 10. Hendaklah engkau menjadi pekerja keras dan terlatih dalam aktivitas sosial. Bahagia jika dapat mempersembahkan bakti kepada orang lain, gemar membesuk orang sakit, membantu yang membutuhkan, menanggung orang yang lembah dan meringankan derita orang yang terkena musibah. 11. Hendaklah engkau berhati kasih, dermawan, toleran, pemaaf, lemah lembut kepada manusia maupun binatang, berprilaku baik dalam berhubungan dengan semua orang, menjaga etika-etika sosial Islam, menyayangi yang kecil dan menghormati yang besar, memberi tempat kepada yang lain dalam majelis, tidak memata-matai, tidak menggunjing, tidak mengumpat, meminta izin jika masuk maupun keluar rumah dan lain-lain. 12. Hendaklah engkau pandai membaca dan menulis, serta memperbanyak membaca koran, majalah atau tulisan lain. Bangun perpustakaan khusus, seberapapun ukurannya, konsentrasilah terhadap spesifikasi keilmuan dan keahlianmu jika engkau seorang spesialis, dan kuasailah persoalan Islam secara umum yang dengannya dapat membangun persepsi yang baik untuk menjadi referensi bagi pemahaman terhadap tuntutan fikrah. 13. Hendaklah engkau memiliki usaha ekonomi yang mandiri, betapapun kecil, dan cukupkanlah dengan apa yang ada pada dirimu betapapun tingginya kapasitas keilmuan. 14. Janganlah engkau terlalu berharap untuk menjadi pegawai negeri dan jadikanlah dia sebagai sesempit pintu rezeki namun jangan pula engkau tolak jika diberi peluang untuk itu. Jangan engkau melepaskannya kecuali jika ia benar-benar bertentangan dengan tugas dakwahmu. 15. Hendaklah engkau menjauhkan diri dari judi dan riba dengan segala macamnya, apapun maksud dibaliknya. Jauhi mata pencaharian yang haram, betappun keuntungan besar yang ada dibaliknya. 16. Hendaklah engkau senantiasa merasa diawasi oleh Allah, mengingat akherat dan bersiap-siap untuk menuju ridlo Allah dengan tekad yang kuat, serta mendekatkan diri kepada Allah dengan banyak ibadah sunah, memperbanyak dzikir (hati dan lisan), dan berusaha mengamalkan doa yang diajarkan pada setiap kesempatan. 17. Hendaklah engkau bersuci dengan baik dan usahakan agar senantiasa dalam keadaan berwudlu (suci) di sebagian besar waktumu. 18. Hendaklah engkau melakukan sholat dengan baik dan senantiasa tepat waktu dalam menunaikannya. Usahakan untuk senantiasa berjamaah di masjid. 19. Hendaklah engkau berjuang meningkatkan kemampuan dengan bersungguh-sungguh agar engkau dapat menerima tongkat kepemimpinan. 20. Hendaklah engkau menjauh dari pergaulan dengan orang jahat dan persahabatan dengan orang yang rusak serta jauhilah tempat-tempat maksiat. Semoga ada manfaatnya. DAFTAR PUSTAKA - Amidhan, dkk. 2006 Juknis Pengelolaan Taman Pengajian Al-Qur’an (TPA). Kanwil Dep. Agama Jawa Timur, Surabaya. - Banna, Hasan Al. 1993 Menuju Masyarakat Qur’ani (Terj. Geys At-Tamimi). Pustaka Progressif, Surabaya. - Budiyanto, Mangun. 2008 Mempertanyakan Pembelajaran Membaca Al-Qur’an untuk Usia Taman Kanak-Kanak. Griya Informasi TKA-TPA-TQA, Yogyakarta. - Budiyanto, Mangun, dkk. 2007 Panduan Praktis Pengelolaan TKA-TPA, TKAL-TPAL dan TQA. Team Tadarus AMM, Yogyakarta. - Budiyanto, Mangun. 2005 Ustadz Ideal. Team Tadarus AMM, Yogyakarta. - Humam, As’ad, dkk. 1995 Pedoman Pengelolaan Pembinaan & Pengembangan M3A. Team Tadarus AMM, Yogyakarta. - Bagus Herdananto. 2009 Menjadi Guru Bermoral Profesional. Kreasi Wacana, Yogyakarta. - Dep. Agama RI 2008 Pedoman Penyelenggaraan TKQ/TPQ. Direktorat PD Pontren Dep. Agama RI, Jakarta. - Sa’id Hawwa 1999 Membina Angkatan Mujahid (Terj. Abu Ridho Lc). Intermedia, Solo. - UU RI 2005 UUD RI Nomer 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Citra Umbara, Bandung.
KISI-KISI PENULISAN SOAL Nama sekolahI Jumlah soal 4 Mata pelajaran: fiqih Alokasi waktu Kurikulum ktsp Penyusun kelompok 6 no Standar kopentensi Kopetensi dasar materi indikator Bentuk tes Tingkat kesulitan 1 Melaksanakan thoharoh Menjelaskan kmacam macam najis dan tata cara thoharoh Pengertian najis Macam macam najis Tata cara membersihkan najis 1.Dapat menjelaskan najis 2.menyebutkan macam 2 najis 3.dapat menyebutkan pengertian najis 4.dapat menjelaskan cara membersihkan najis/dalilnya Portofolio /tulis Sedang Sedang Sedang sulit Portofolio anak Nama : ali minggu: 1 Kelas : x pelajaran : fiqih No soal Jawaban Score 1 2 3 4 1 apa yang dimaksud dengan najis 2 nama najis ringan adalah: 3 nama najis sedang dalam ilmu fiqih adalah 4 jelaskan tata cara membersihkan najis mukholad ……………………………………………… ……………………………………………….. …………………………………………………. …………………………………………………. Scor maxsimum16 Materi :bersesuci sebagai sarana prasarana ibadah >>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>> Indicator soal pengertian besesuci,macam najis dan cara membersihkannya …………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………ssumber bacaaan ktsp……….sebagai seseorang yang beraga islam,keindahan,kebersihan dan kerapian merupakan hal yang harus diperhatikan dalm beribadah dan sangat ditekankan dalam praktek kehidupan sehari hari dan bagai mana pendapatmu tentang bersuci dan tehnik nya . ………………………………………………………………………………………………………………………………………………….................. no nama tgl Jml soal Tingkat kesulitan Daya pembeda Aspek yang dinilai Ketekunan belajar Wawasan berfikir disiplin Sopan santun

Minggu, 15 September 2013

kamret

tubuh seksi untuk siapa? wajah ayu untuk siapa....? tubuh seksi,wajah ayu untuk suami tercinta, ti--ap hari ku rawat wa-jah nan a-yuu,untuk suami beriman bertaqwa,2x ku tak akan ku serahkan pada kamret yang durhaka manga bekas mulut kamret,tak berharga tak berguna,ku tak akan ku serahkan pada kamret yang durhaka