Minggu, 23 September 2012

ILMU BALAGHAH SEBAGAI CABANG ILMU BAHSA ARAB



1. Pendahuluan

1.1. Latar Belakang Masalah
ILMU BALAGHAH SEBAGAI CABANG
ILMU BAHSA ARAB

Drs. Qurotul Aeni

Pondok Pesantren Darussalam
Bawang-Batang

Bahasa Arab pertama sekali dikenal sebagai bahasa-bahasa orang-orang dizajirah
Semenanjung Arabia, kemudian setelah datangnya agama Islam dikenal pula sebagai bahasa
Al-Quran sebagai pedoman hidup kaum muslimin itu dituliskan dalam bahasa Arab yang sangat
indah susunannya dan rangkaian kalimatnya.
Bahasa Arab dikenal juga sebagai Ilmu Pengetahuan sebab begitu banyak ilmu
pengetahuan dimasa perkembangan Islam yang dituliskan dalam bahasa ini, lelau ditahapan
perkembangan selanjutnya bahasa Arab telah menjadi bahasa Dunia, karena tidak hanya
digunakan oleh sekelompok masyarakat Arab atau pemeluk Islam saja, tetapi telah diakui
sebagai bahasa kumunikasi di PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa).
Dilihat dari segi penggunaannya maka bahasa Arab ini terbagi dua yaitu : Bahasa
Ammiyah (bahasa yang dipakai untuk berkomunikasi), berasal dari bahasa daerah di Jazirah
Arabiya tidak terikat pada tata bahasa.
Kedua bahasa Fushah yaitu bahasa Resmi, contohnya bahasa Al-Quran dan Hadist,
untuk karangan ilmiah kitab-kitab, surat-menyurat dan komunikasi resmi lainnya. Bahasa
fushah (resmi) ini mempunyai tingkat kesulitan tersendiri karena terikat erat dengan peraturan
kebahasaan diantaranya ilmu nahwu (Qawaid) dan Ilmu Balaghah Semantik Arab.
Ilmu Balaghah tetap dianggap sebagai ilmu yang tersulit untuk dicerna, sebab ilmu ini
akan menterkaitkan antara komponen-komponen ilmu bahasa Arab yang ainnya. Namun jika
dipelajari dengan penghayatan yang tinggi serta dihubungkan pula kepada kegunaannya dari
sisi ilmu-ilmu agama jelas akan mendatangkan kenikmatan tersendiri dan dapat memperkaya
dan mempertajam mata bathin manusia, sehingga menimbulkan dampak kehidupan yang baik
secta dapat mengusir kejenuhan untuk mempelajarinya.

1.2. Masalah
Pelajaran ilmu Balaghah (semantik Arab) ini sangat berat untuk dipahami, terutama
sekali bagi orang-orang yang tidak mempunyai ilmu-ilmu dasar bahasa Arab, seperti ilmu Sari
dan Nahwu serta leksikologi (Dirasat Mu'jamiyat). Hal seperti ini tampak jelas dikalangan
mahasiswa di Jurusan bahasa Arab Universitas Sumatera Utara Medan.
Pada buku-buku Balaghah yang ada saat ini, kebanyakan contoh-contoh kalimat dikutip
dari nukilan-nukilan, syair-syair Arab serta contoh Ayat-Ayat Suci AI-Quran dan Hadist maupun
AI-Hikam (kata-kata yang mengandung pesan hikmah).
Kalimat-kalimat tersebut tidak selalu dijumpai dalam kalimat percakapan sehari-hari,
mempunyai perbedaan jauh dari kalimat yang dibahas pada pelajaran Nahwu dan Sarf, namun
tetap mempunyai hubungan dengan peraturan tata bahasa. Sebagai salah seorang tenaga
pengajar yang mengasuh mata kuliah Balaghah ini, penulis merasa sangat penting untuk
membuat solusi, sehingga mahasiswa termotivasi untuk mengembangkan ilmunya.

aPembatasan masalah balaghah sangat luas dan sukar jika diuraikan secara terperinci
dan mendetail sekali. Ilmu balaghah ini tida bisa terlepas dari ilmu tata bahasa Arab dan
pertalian dengan ilmu-ilmu agama. Diantara ilmu fikih, Usul Fikih, Ilmu Hadist, Ilmu Tafsir,
Ilmu Tasauf, Ilmu Ahklaq dan sebagainya.
Dari sekian banyak masalah yang dapat diulas itu penulis membatasinya pada
keberadaan ilmu balaghah sebagai salah satu sisi Ilmu bahasa Arab. Keterkaitannya dengan ilmu Nahwu dan manfaatnya dalam memterjemahkan bahasa Arab terutama sekali ayat-ayat

AI-Quran yang pada akhirnya berguna sekali dalam menetapkan hukum-hukum Islam.

1.4. Tujuan Pembahasan
Adapun tujuan penulisan karya ilmiyah ini adalah :
1. Mengungkapkan keterkaitan ilmu Balaghah
2. Memperkenalkan Ilmu Balaghah secara umum
3. Memperlihatkan keurgensian ilmu Balaghah dan keterkaitannya dengan ilmu Nahwu
4. Menambah hazanah ilmu pengetahuan Mahasiswa program studi Bahasa Arab
khususnya dan para pencinta bahasa Arab umumnya tentang ilmu Semantik Arab.

1.5. Metode Pembahasan
Metode yang penulis gunakan dalam penulisan ini adalah metode Desktiptif analisis,
yaitu mengkaji beberapa referensi yang berkaitan dengan judul makalah ini, baik dari sumber
bacaan berbahasa Arab dan sumber yang berbahasa Indonesia, kemudian disusun ulang
berdasarkan analisis yang cermat sehingga berbentuk makalah.
Penulis mengadakan pembahasan bertahap dari uraian keterangan secara umum
meningkat pada penjelasan khusus (deduktif) 
Untuk menterjemahkan kalimat bahasa Arab penulis menggunakan sistem terjemahan
bebas dengan tetap mempertahankan nilai-nilai estetis terkandung didalamnya.

2. BAHASA ARAB

2.1. Sejarah Singkat Bahasa Arab
Bahasa Arab berasal dari bahasa Smit, yakni bahasa yang dipergunakan kabilah-kabilah Arab purba yang mendiami daerah Asia Barat. Semula Bahasa Arab ni berpangkal dari putra
Sam bin Nuh, namun kelompok ini  telah musnah mereka dikenal dengan Arab Ba'idah daD peraturan tata bahasanya sudah tidak dikenal lagi.
Dari berbagai sumber bacaan yang penulis talaah, maka dijumpai keterangan yang sama yaitu menyatakan bahwa . Bahasa Arab adalah satu bahasa dengan aslinya, terutama sekali terutama sekali bagi penduduk di daerah pegunungan. 
Faktor-faktor penunjang terselamatkannya Bahasa Arab dari pengaruh asing adalah antara lain, bangsa Arab adalah bangsa rang tidak pemah dijajah, bangsa ini tidak banyak bergaul disebabkan keadaan daerah mereka.
Kemajuan bangsa Arab mempengaruhi perkembangan bahasa Arab. Semula bahasa Arab tidak mengenal bentuk huruf seperti sekarang tidak kenal titik dan baris, berkembang menjadi huruf-huruf yang bersahaja lengkap dengan titik dan baris atas prakarsa para ulama Arab masa lampau. Namun bagaimana bentuk tulisan masa lampau itu belum pernah penulis jumpai sampai sekarang ini. Kecuali hanya berita-berita dari sejarah yang dituliskan dalam buku-buku.
Perbedaan tulisan dan Lahzah (dialeg) disebabkan perbedaan geografis tetap ada, tetapi setelah datangnya Islam maka bahasa Arab pun bertambah tinggi kedudukannya dan adilah
bahasa Al-Quran menjadi bahasa standart.
Perkembangan bahasa Arab dapat diperhatikan dari catatan sejarah perkembangan agama Islam. Tahapan demi tahapan Agama Islam dan kerajaan Islam berkembang pesat sehingga kaum muslimin Arab dapat menaklukkan kerajaan di luar semenanjung Arabiya sampai ke Codowa dan Spanyol, sehingga mencapai puncak kejayaan di zaman Khalifah Abbasyiyah. Maka demikian pula halnya bahasa Arab bertambah masyhur.
Bahasa Arab tidak hanya dipergunakan oleh bangsa Arab saja, tetapi mulai dipergunakan oleh bangsa lain yang telah takluk dibawah kekuasaan Islam.  Kekhalifahan Islam menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa resmi kenegaraan. Dipergunakan dalam segala bentuk kegiatan pemerintahan.
Kebanggaan terhadap agama Islam (Fahkrul Islami). Membuat mereka (bangsa Arab) semakin bersemangat mengembangkan bahasanya dengan baik dan memasyhurkannya keseluruh pelosok dunia. 
Ruhul Islami atau semangat keislaman mereka pada gilirannya membuat mereka terlebih-lebih ulama dan fakar muslim berinisiatif menulis berbagai macam disiplin ilmu dalam
© 2004 Digitized by USU digital library
2
bahasa Arab, mulai dari ilmu Filsafat, kedokteran, matematika, Ilmu Politik, llmu Astrologi dan
Astronomi, Ilmu Geografi, disamping ilmu-ilmu agama (Fikh, Tafsir, Hadist, Usul Fikh, Ahkalq,
tarbiyah atau pendidikan, ilmu bahasa dan sastra).
Karya para fakar yang tersebut di atas ini di terjemahkan ke dalam berbagai bahasa di
dunia kemudian menjadi buku-buku rujukan dan pegangan bagi para intelektual dan ilmuan.
Satu catatan dari (AI-Badaawi, Bairut. Tanpa tahun) menyatakan: IImu hisab (matematika)
Arab masuk ke Eropa pada abad ke 13 rang dibawa oleh Leonardo de Pisa adalah perhitungan
rang praktis karena mempunyai bilangan desimal (Al-Ghubar). Orang Arab juga menemukan
angka 0 (nol) pertama sekali. Demikianlah secara ringkasnya sejarah bahasa arab.

2.2. Pentingnya Bahasa Arab
Jika ditinjau dari asfek sejarah kepentingan pada tata bahasa Arab,(Motgomery watt,
1990) berpendapat :"Dua kebutuhan praktis memaksa orang untuk mempelajari tata bahasa
Arab: pertama dibutuhkan semacam kesepakatan mengenai asas-asas umum tata bahasa jika
orang ingin memperoleh hasil dari bahasan-bahasan mengenai penafsiran dari ayat-ayat AlQuran,
dan
kedua
kesepakatan
mengenai makna
kata-kata
rang tidak
diketahui
artinya".

Masalah ini menjadi mendesak sebab Al-Quran telah menjadi dasar dari Agama Islam
dan menjadi dasar dari negara Islam saat itu bahkan sampai sekarang ini. Dalam pemahaman
Ayat-ayat Al-Quran penulis Barat mengakui bahwa bahasa Arab memberikan lebih banyak
cakupan makna yang memungkinkan dibanding dengan bahasa Inggris.
Selain itu para sekretaris yang non Arab pertama sekali dihadapkan kepada penulisan
berbahasa Arab menjadi kebanggan profisional pada zaman Khulafaurrasyidin terlebih-lebih
dimasa khalifah Umar bin Khattab berlajut sampai ke masa keemasan Islam pada Dinasti Bani
Abbasiyah.
Tingginya kebanggaan profesional ini membuat mereka terpacu untuk mempelajari tata
bahasa Arab agar terhindar dari "Solecisme" kekacauan tata bahasa ketika mereka menulis.
Setelah perkembangan kekuasaan negara Islam dan juga perkembangan agama Islam
ke berbagai pelosok dunia maka bangsa Arab berbaur dengan bangsa-bangsa lain seperti bangsa Romawi, Paris, Eropa. Penuturan bahasa Arab pun mulai bercampur baur dengan bahasa-bahasa daerah penaklukan tadi oleh karena itu khalifah Ali Bin Ali Thalib merasa sangat khawatir bahasa tersebut akan terlepas dari struktur bahasa semula. Khalifah Ali Bin Thalib memprakarsai terciptanya ilmu tata bahasa Arab (llmu Nahwu).Pada awalnya beliau mengumpulkan bahan mengenai ن |/inna/kemudian قإ(idhafat/lalu mempeluasnya lagi kepada masalah Atf dan Ta'ajjub. (keterangan lebih lanjut dari ini dapat diperhatikan dari buku Nahwu karangan Zama) syari dari buku pengantar sastra Arab karangan Fuad Said).
Orang-orang yang meneruskan pembahasan Ali ini adalah Abu I-Aswad As Dualiy (wafat 19 H). Nasar Bin 'Asim (wafat 86 H), dan Adurrahman Bin Hurmuz (wafat 117 H). Kebebasan mencurahkan buah pikiran dari para ulama yang masyhur itu akhirnya melahirkan dua kelompok ulama Nahwu yaitu ulama Kuffah dan Ulama Basyrah.

2.3. llmu-ilmu Bahasa Arab
setelah mengemukakan beberapa urgensi tata bahasa arab dan kemajuanya secara ringkas, berikut ini penulis mengetengahkan penjelasan tentang ilmu-ilmu bahasa Arab selain llmu Nahwu. Bahasa Arab adalah bahasa yang terjaya dari bahasa-bahasa lainnya, terbanyak pramasastranya, hingga ia dapat melayani kemajuan-kemajuan ilmu pengetahuan disegala
bidang. Untuk mengetahui seluk beluk bahasa Arab yang masyhur itu lebih jauh dan untuk menilai keindahan kalimat baik prosa maupun puisi, maka satrawan-sastrawan arab telah menetapkan 13 cabang ilmu yang bertalian dengan bahasa yang disebut dengan "Ulumul Arabiyah"
"Ulumul Arabiyah" bisa disebut linguistik Arab itu terdiri dari :
1. Ilmu L-ughah  : llmu pengetahuan yang menguraikan kata-kata (lafaz) Arab besamaan dengan maknanya. Dengan pengetahuan ini, orang akan dapat mengetahui asal kata dan seluk beluk kata. Tujuan ilmu ini untuk memberikan pedoman dalam percakapan, 3 pidato, surat-menyurat, sehingga seseorang dapat berkata-kata dengan baik dan menulis dengan baik' pula.
2. Ilmu Nahwu : Ilmu pengetahuan yang membahas prihal kata-kata Arab, baik ketika sendiri (satu kata) maupun ketika terangkai dalam kalimat. Dengan kaidah-kaidah ini orang dapat mengatahui Arab baris akhir kata (kasus), kata-kata yang tetap barisnya (mabni), kata yang dapat berubah ( mu'rab).
Tujuanya adalah untuk menjaga kesalahan-kesalahan dalam mempergunakan bahasa , untuk menghindarkan kesalahan makna dalam rangka memahami AI-Quran dan Hadist, dan tulisan-tulisan ilmiah atau karangan. 
Alam tata bahasa/ sintaksis Arab, dikenal istilah  Fi'iil dan Harf, jumlah Islamiyah dan Fi'liyah serta Syibhu jumlah. Dalam ilmu Nahwu banyak lagi istilah dan persoalan yang dihadapi dapat diteliti dari buku-buku bahwa yang banyak tersebar. Yang dikenal memprakarsai Nahwu adalah Ali bin Ali Thalib beserta sahabatnya.  Peristilahan Nahwu yang berpengaruh kepada bahasa Indonesia adalah yang dikarang oleh Abul Aswat Adduali dan Sibawaihi yang terlebih dahulu  dikenal orang Barat. (keterangan lanjutan dapat dilihat dari buku Sejarah Studi bahasa Indonesia oleh Drs. Ahmad Samin 1982. Diktat Fakultas Sastra USU).
3. Ilmu Sarf(morfologi Arab). Ilmu pengetahuan yang menguraikan tentang bentuk asal kata, maka dengan ilmu ini dapat dikenal kata dasar dan kata bentukan, dikenal pula afiks, Sufiks dan infiks, kata kerja yang sesuai dengan masa. Penciptaan llmu Sari ini adalah Muaz bin Muslim.
4. Ilmu Isytiqaq : Ilmu pengetahuan tentang asal kata dan pemecahannya, tentang imbuhan pada kata (hampir sama dengan ilmu Sarf)
5. Ilmu L-'arudh : Yang membahas hal-hal yang bersangkutan dengan karya sastra syair dan puisi. llmu Arudh memberitahukan tentang wazan-wazan (timbangan) syair dan tujuanya adalah untuk membedakan proses dalam puisi membedakan syair dan bukan syair .Dengan ilmu arudh ini dikenal bahar syair seperti berikut ini : bahar thawi, bahar madid, bahar basith, bahar wafir, bahar kamil, bahar hijaz, bahar rozaz, bahar sari' bahar munsarih, bahar khafif, bahar mudhari, bahar muqradmib, bahar mujtas, bahar
mutaqarib, bahar Romawi dan bahar mutadarik.
6. Ilmu Qawafi : yang membahas suku terakhir kata dari bait-bait syair sehingga diketahui
keindahan syair. Yang memprakarsai adanya Qawafi ialah Muhallil bin Rabi'ah paman
Amruul Qaisy.
7. llmu Qardhus Syi'ri yaitu sejenis ilmu pengetahuan tentang karangan yang berirama
(lirik), dengan tekanan suara yang tertentu. Gunanya untuk membantu menghafalkan
syair dan mempertajam ingatan pembaca syair.
8. Ilmu hkat yaitu pengetahuan tentang huruf dan cara merangkaikannya, termasuk
bentuk halus kasarnya dan seni menulis dengan indah dapat dibedakan dalam beberapa
bentuk mulai dari khat tsulus, Diwan, Parsi dan khat nasakh. Penemu pertama ilmu khat
adalah nabi Idris karena beliaulah yang pertama kali menulis dengan kalam.
9. Ilmu Insyak yaitu ilmu pengetahuan tentang karang mengarang surat, buku, pidato,
cerita artikel, features dan sebagainya. Gunanya untuk menjaga jangan sampai salah
dalam dunia karang-mengarang.

Selasa, 18 September 2012

sejarah ilmu balahoh


Kajian Sejarah Ilmu Balaghah; Ma'ani, Bayan, dan Badi'
Prolog
Tradisi sastra arab telah berakar jauh sebelum munculnya agama Islam di semenanjung Arab. Pada mulanya Islam dipahami melalui penggunaan bahasa arab yang literer. Namun pada masa perkembangan selanjutnya, sastra Islam sedikit demi sedikit dipengaruhi Alqur'an dan Hadits Nabi.
Tradisi sastra Islam, khususnya Arab, bahkan jauh sebelum lahirnya Islam. Walaupun sampai abad ketujuh hanya dikenal sastra lisan, berbentuk puisi, pribahasa dan pidato, tradisi lama ini tetap bertahan sampai sekarang. Lirik lisan untuk dinyanyikan pada umumnya berisi kisah kepahlawanan, kebanggaan suku dan keturunan, elegi (marasiin), cinta, dan pelampiasan balas dendam.
Dalam berbagai literature disebutkan bahwa disiplin ilmu balaghah merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan yang menjadi alat untuk menguak kemukjizatan Alqur'an. Sebagaimana diketahui bahwa Alqur'an dikenal dengan susunan kalimatnya yang indah, tertib, dan rapi. Kelebihan ini disinyalir kuat karena memang mukjizat nabi terakhir ini diturunkan di tengah-tengah komunitas pengagum sastra. Bahkan, pasar Ukadz merupakan tempat yang menjadi ajang jual-beli sastra di masa jahiliyah, sebelum nabi Muhammad datang membawa Islam.
Secara terminologi, balaghah adalah suatu disiplin ilmu yang berfungsi untuk mengetahui aturan-aturan dalam merangkai kata-kata ataupun kalimat yang indah dan fasih, tepat, dan sesuai dengan kondisi yang ada (muqtadla al-hal).

Perkembangan Balaghah dari Masa ke Masa
Disipilin ilmu balaghah mulai dikenal pada masa dinasti Abbasiyah. Pada saat itu, terjadi perdebatan yang sengit di kalangan para sastrawan dan para ahli bahasa dalam mengungkap mukjizat Alqur'an. Seperti disinggung dalam kitab al-Maqasid karya as-Syaikh Sa'duddin al-Taftazani, ketegangan ini menyebabkan terjadinya perpecahan dalam tubuh umat Islam. Sehingga mereka berinisiatif untuk mendirikan aliran sesuai dengan keinginannya sendiri.
Sebenarnya ketegangan ini ditimbulkan oleh salah satu pendapat Ibrahim al-Nidzam yang dianggap paling menyesatkan. Al-Nidzam mengatakan bahwa Alqur'an tidak memiliki kekuatan mukjizat berupa kefasihan dan kebalighannya. Bahkan, semua orang Arab pasti bisa membuat kalimat yang nilainya sama dengan bahasa yang digunakan Alqur'an.
Pendapat ini mengundang reaksi keras para pakar sastra dan ulama waktu itu. Di antaranya adalah al-Baqilany, Imam Haramain, dan Imam al-Fakhrurrazi. Mereka kemudian menulis sebuah risalah yang isinya menolak semua argumen Ibrahim al-Nidzam, dan mengungkap kebobrokan aliran yang dianut olehnya.
Sebagaimana yang tertera di dalam kitab 'Ulum al-Balaghah' karya Ahmad Mushthofa al-Maraghi, bahwa yang pertama kali memperkenalkan metode balaghah adalah Ubaidah Mu'ammar bin Mutsanna al-Rowiyah (w. 211 H.), salah satu murid Imam Kholil yang notabene pakar bahasa arab. Ubaidah menulis sebuah kitab tentang Ilmu Bayan (salah satu topic utama disiplin ilmu balaghah, selain Ma'aniy dan Badi') yang bernama Majaz Alqur'an.
Akan tetapi, sebenarnya yang lebih tersohor dalam menyusun kaidah-kaidah balaghah adalah Khalifah Abdullah bin Mu'taz bin Mutawakkil al-Abbasiy (w. 296 H). Dalam usahanya menyusun kaidah balaghah tersebut, beliau betul-betul mendalami dan menekuni dunia sastra (sya'ir), kemudian menyusun kitab bernama Al-Badi'.
Dalam kitab tersebut beliau menguraikan tentang tujuh belas macam kaidah balaghah seperti Kinayah, Bayan, Isti'arah, dan Tauriyah. Dalam salah satu tulisannya beliau berkata, "Tak seorang pun sebelum aku yang pernah mengarang ilmu Badi', dan tidak seorang pun yang pernah menyusunnya selain aku. Bagi siapa saja yang ingin mempelajari karanganku, maka lakukanlah. Jika ada (di antara kalian) yang melihat kebaikan dalam karangan tersebut, maka itu perlu dicoba (dibuktikan)."
Sepeninggal beliau, pada periode selanjutnya perkembangan balaghah kian pesat dan signifikan. Hal ini dengan tersusunnya sebuah risalah bernama Naqdu Qudamah yang disusun oleh Qudamah bin Ja'far al-Baghdady (w. 310 H.). Kitab ini merupakan kelanjutan dari karangan Khalifah Abdullah al-Mu'taz al-Abbasiy, sekaligus menyempurnakan istilah-istilah yang dipakai di dalamnya. Kalau dalam kitab Al-Badi' Khalifah bin al-Mu'taz hanya mengenalkan tujuh belas istilah saja, maka imam Qudamah memperkenalkan beberapa kaidah-kaidah baru sehingga jumlah keseluruhan menjadi tiga puluh kaidah.
Tidak hanya sampai di situ saja, kedua kitab tersebut kemudian dipelajari lagi oleh imam Abu Hilal bin Abdillah al-'Askary (w. 395 H.). Dari pendalaman itu beliau akhirnya menyusun sebuah kitab bernama Al-Shina'ataini, yang disampaikan dengan dua kalimat, prosa dan sastra. Di dalamnya terdapat sebanyak 35 macam badi', serta membahas beberapa masalah yang berkaitan dengan balaghah seperti Fashahah, Balaghah, Ijaz, dan beberapa bab Naqdu al-Syi'ry (kritik sastra). Kitab inilah yang kemudian dianggap sebagai karangan pertama yang mengarah langsung pada tiga materi pokok ilmu balaghah berupa Ma'ani, Bayan, dan Badi' secara lengkap dan sempurna.
Abad kelima Hijriyah (atau abad kesepuluh dan kesebelas masehi) merupakan puncak dari kebangkitan ilmu balaghah. Hal itu bersamaan dengan maraknya diskusi filsafat, sastra juga kian subur lagi. Pendorongnya ialah kegairahan mengkaji sastra di kalangan ilmuwan dan filosof, dan munculnya berbagai teori sastra yang inspiratif bagi penciptaan. Di antara filosof dan ahli teori sastra terkemuka yang telah memberikan sumbangsih besar dalam teori dan kajian sastra adalah Abdul Qahir al-Jurjani, al-Baqillani, al-Farabi, Ibnu Sina (Avicenna), Qudamah, dan lainnya. Dalam teori mereka disampaikan pentingnya imajinasi (takhyil) dalam penciptaan karya seni. Mereka juga menemukan bahwa kekuatan bahasa Alqur'an disebabkan banyaknya ayat-ayat yang menggunakan bahasa figuratif (majaz), citraan visual (tamtsil), pengucapan simbolik (mitsal), dan metafora (isti'arah).
Sebagai kitab suci yang mengandung nilai sastra tinggi, tidak diragukan lagi bahwa Alqur'an memiliki pengaruh yang besar bagi perkembangan kesusastraan. Lebih daripada itu, kitab ini mampu membangkitkan perkembangan ilmu bahasa. Di samping itu, Alqur'an mengandung rujukan yang melimpah untuk berbagai cabang ilmu, dan di dalam Alqur'an pula terdapat banyak kisah dengan cara penyajian yang khas dan menarik. Pola ini pula yang turut mempengaruhi corak naratif sastra Islam. Yang perlu diketahui adalah bahwa perkembangan sastra yang demikian pesat ini sepenuhnya disulut oleh pengaruh kitab suci Alqur'an. Walaupun bukan merupakan kitab sastra, tapi Ia memiliki nilai sastra yang sangat tinggi.
Kelebihan di bidang sastra inilah yang juga menjadi nilai lebih dari Alqur'an sekaligus menjadi mukjizat Alqur'an sepanjang masa. Konon, tak satupun orang-orang arab Jahiliyah yang mampu menandingi bahasa Alqur'an yang begitu indah dan menawan. Sayyidina Umar r.a. pun sampai menangis dan akhirnya masuk Islam setelah mendengar bacaan ayat suci Alqur'an. Tak heran jika kemudian Alqur'an menjadi rujukan dan bahan utama yang dibidik oleh ilmu balaghah.
Salah satu hal penting dan signifikan yang menandakan pembaharuan dalam sastra ialah dikaitkannya sastra dengan adab, terutama dalam pemerintahan Abbasiyah (750-1258 M.). Bahkan di masa kemudian sastra lebih identik dengan bahasa arab, dan seorang penulis karya sastra disebut al-Adib.

Masa Keemasan Balaghah dan Lahirnya Ulama Balaghah Terkemuka
Era keemasan ilmu Balaghag diawali dengan lahirnya seorang sastrawan terkemuka bernama Abu Bakar Abdul Qahir bin Abdurrahman al-Jurjani (w. 471 H.) yang dikenal dengan nama Abdul Qahir al-Jurjani. Beliau termasuk figur yang sangat perhatian terhadap ilmu balaghah. Dalam sejarah, beliaulah yang dikenal menguraikan semua kaidah balaghah satu persatu, mengajukan contoh yang mudah dimengerti dan menggunakan bahasa yang mudah dicerna. Hal itu tercermin dalam kitabnya yang bernama Asrar al-Balaghah dan Dalail al-I'jaz. Dalam penyampaiannya beliau memandang bahwa ilmu dan tindakan harus sama-sama berjalan. Oleh karena itu, contoh-contoh yang beliau kemukakan selalu berkaitan erat dengan hal-hal yang banyak terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Tujuannya agar pembaca lebih mudah mencerna kaidah-kaidah balaghah yang beliau sampaikan. Masalahnya, semua tema yang terdapat di dalam balaghah tidak akan mudah dicerna kecuali dengan memperbanyak contoh-contoh dan latihan. Maka contoh global itulah yang kemudian diolah dan dijelaskan sejelas mungkin, selain juga diperkuat dengan gambaran-gambaran particular yang makin memperjelas kandungan balaghah dalam satu redaksi atau ungkapan.
Walaupun pada masa sebelum itu ada beberapa cendekiawan yang telah memperkenalkan kaidah balaghah, seperti Imam al-Jahidz, Qudamah al-Katib, akan tetapi justru Abdul Qahir yang dianggap sebagai salah satu pelopor ilmu balaghah. Klaim tersebut bukanlah omong kosong belaka dan tanpa alasan. Penilaian ini berdasarkan kontribusi Abdul Qahir yang betul-betul membangkitkan ilmu balaghah. Apa yang beliau berikan, tidak pernah sekalipun berhasil disamai oleh periode-periode sebelum dan sesudah beliau. Beliau berhasil membangun ilmu balaghah menjadi disiplin ilmu pengetahuan yang dikenal masyarakat luas.
Setelah masa keemasan Abdul Qahir berlalu, muncullah al-Imam Jar al-Allah al-Zamakhsyari, yang dikenal dengan nama Imam Zamakhsyari (w. 538 H.). Beliau banyak menguak unsur-unsur balaghah yang terdapat dalam Alqur'an, mukjizatnya, maksud ayat, serta keistimewaan yang dimiliki ayat-ayat tertentu.
Pada masa berikutnya, muncullah seorang ulama balaghah terkenal yang kontribusinya juga tidak kalah penting, yaitu Abu Ya'kub Yusuf al-Sakaky atau dikenal dengan nama Imam Sakaky (w. 626 H.). Beliau menulis kitab berjudul Miftahul Ulum yang isinya menyempurnakan dan melengkapi karangan-karangan terdahulu, serta menjelaskan kekurangan yang terdapat sebelumnya, dan banyak meneliti (mengkritik) kaidah-kaidah balaghah yang dianggap tidak diperlukan. Hasil penelitian tersebut kemudian dituangkan dalam kitab tersebut dengan penyampaian yang sistematis, dan dikelompokkan dalam bab-bab tertentu dengan rapi, dan mengklasifikan beberapa kaidah yang terpisah satu sama lain.
Semua itu beliau lakukan karena beliau banyak mempelajari kitab-kitab mantiq dan filsafat. Tentu saja kitab ini memiliki kelebihan tersendiri dibandingkan kitab-kitab sama yang ditulis pada masa-masa sebelumnya.
Keberadaan Imam Sakaky ini juga ditenggarai menjadi salah satu pendorong berkembangnya ilmu balaghah. Bahkan, sejarawan dan sosiolog terkemuka sekelas Ibnu Khaldun menyebutkan kalau Imam al-Sakaky yang menjadi pioner balaghah, bukan Abdul Qahir. Apalagi Imam al-Sakaky merupakan tokoh yang menjembatani antara Abdul Qahir, yang menggabungkan ilmu dan amal, dengan orang-orang kontemporer, yang memaksakan diri untuk mengkaji balaghah. Mereka menyamakan balaghah dengan ilmu-ilmu nazariyah (rasional), serta menafsiri kalimat-kalimatnya seperti mengkaji ilmu bahasa arab. Keadaan ini hampir membuat balaghah lebih mirip dengan teka-teki dan tebak-tebakan. Sehingga batasan dan kriteria ilmu balaghah hampir musnah dan hilang. Lebih parah lagi, kitab-kitab karangan Abdul Qahir mulai ditelantarkan, dan tidak lagi dipelajari. Barangkali inilah nasib sebuah ilmu pengetahuan jika dipelajari oleh orang-orang yang berada dalam masa kehancuran (penurunan) kelemahan. Dalam kasus ini, kitab Asror al-Balaghah-nya Abdul Qahir bisa disamakan dengan kitab Muqaddimah-nya Ibnu Khaldun, atau Sultan Sulaiman dengan kitab Qawanin-nya.
Walaupun demikian, dalam pandangan Ahmad Mushthofa al-Maraghi, dibandingkan dengan Abdul Qahir, Imam al-Sakaky tak ubahnya hanya mem'bebek' pada Abdul Qahir. "ma kana al-sakaky illa 'iyalan 'ala abdil qahir," komentar beliau dalam kitab 'Ulum al-Balaghah-nya. Apalagi penggunaan redaksi dan penjelasan materi balaghah yang disampaikan oleh Imam al-Sakaky justru kurang tersusun rapi dan terkesan kacau. Mungkin kelebihan Imam al-Sakaky adalah karena beliau hidup setelah era Abdul Qahir, serta penyajian materi yang menggunakan sub bab yang lebih banyak dikenal. Tapi, lanjut al-Maraghi, seseorang yang hidup lebih dulu (Abdul Qahir) mempunyai kelebihn daripada orang yang hidup belakangan, karena dia dianggap sebagai pelopornya. Terlepas dari perbedaan pendapat tentang siapa yang lebih dulu, Abdul Qahir atau Imam al-Sakaky, ilmu balaghah telah mencapai tingkatan tertinggi pada masa itu. Hanya saja, beberapa sejarawan ada juga yang menganggap bahwa yang pantas menjadi 'Bapak' ilmu balaghah adalah Imam al-Sakaky. Tentu saja, perbedaan pendapat dan kaidah balaghah yang seringkali berbenturan satu sama lain, selalu mewarnai pembahasan kaidah dan tema ilmu balaghah secara merata.

Mukjizat Alqur'an Menurut Balaghah
Alqur'an merupakan satu-satunya kitab samawi yang dengan jelas dan tegas menyatakan bahwa tidak seorang pun yang mampu menandinginya, meskipun seluruh manusia dan jin berkumpul untuk melakukan hal itu. Bahkan, mereka tidak akan mampu sekalipun untuk menyusun, misalnya, sepuluh surat saja, atau malah satu surat pendek sekalipun yang hanya mencakup satu baris saja.
Oleh karena itu, Alqur'an menantang seluruh umat manusia untuk melakukan hal itu. Dan banyak sekali ayat-ayat Alqur'an yang menekankan tantangan tersebut. Sesungguhnya ketidakmampuan mereka untuk mendatangkan hal yang sama dan memenuhi tantangan tersebut merupakan bukti atas kebenaran kitab suci itu dan risalah Nabi Muhammad saw. dari Allah swt.
Dengan demikian, tidak diragukan lagi bahwa Alqur'an telah membuktikan pengakuannya sebagai mukjizat. Sebagaimana Rasul saw., pembawa kitab ini, tersebut telah menyampaikannya kepada umat manusia sebagai mukjizat yang abadi dan bukti yang kuat atas kenabiannya hingga akhir masa.
Hari ini – setelah 14 abad berlalu – bahana suara Ilahi itu masih terus menggema di tengah umat manusia melalui media-media informasi dan sarana-sarana komunikasi, baik dari kawan maupun lawan. Itu semua merupakan hujjah (argumentasi) atas mereka.
Dari sisi lain, nabi Islam, Muhammmad saw. – sejak hari pertama dakwahnya – senantiasa menghadapi musuh-musuh Islam dan para pendengki yang sangat keras. Mereka telah mengerahkan seluruh tenaga dan kekuatan untuk memerangi agama Islam. Setelah putus asa lantaran ancaman dan tipu dayanya tidak berpengaruh sama sekali, mereka berusaha melakukan pembunuhan dan pengkhianatan. Akan tetapi, usaha jahat itu pun mengalami kegagalan berkat inayah (pertolongan) Allah swt. dengan cara menghijrahkan Nabi saw. ke Madinah secara rahasia pada malam hari.
Setelah hijrah, Rasul saw. menghabiskan sisa-sisa umurnya yang mulia dengan melakukan berbagai peperangan melawan kaum musyrikin dan antek-antek mereka dari kaum Yahudi. Semenjak beliau wafat hingga hari ini, orang-orang munafik dari dalam dan musuh-musuh Islam dari luar senantiasa berusaha memadamkan cahaya Ilahi ini. Mereka telah mengerahkan segenap kekuatan dalam rangka ini. Seandainya mereka mampu menciptakan sebuah kitab sepadan Alqur'an, pasti mereka akan melakukannya, tanpa ragu sedikitpun.
Di zaman modern sekarang ini, kekuatan adidaya dunia (Amerika dan sekutunya) melihat bahwa Islam adalah musuh terbesar yang sanggup mengancam kekuasaan arogan mereka. Maka itu, mereka senantiasa berusaha memerangi Islam dengan segala kekuatan dan sarana yang mereka miliki berupa materi, strategi, politik, dan informasi. Seandainya mereka mampu menjawab tantangan Alqur'an, dan sanggup menulis satu baris saja yang menandingi satu surat pendek darinya, pasti mereka sudah melakukannya dan menyebarkannya melalui media informasi dunia. Karena memang cara semacam itu (menyebarkan informasi ke seluruh dunia) merupakan usaha yang paling mudah dan paling efektif dalam menghadapi Islam dan menahan perluasannya.
Atas dasar uraian di atas, setiap manusia berakal yang mempunyai kesadaran yang cukup merasa yakin – setelah memperhatikan hal-hal tersebut – bahwa Alqur'an merupakan kitab samawi yang istimewa, yang tidak mungkin ditiru atau dipalsukan, dan tidak mungkin pula bagi setiap individu atau kelompok manapun untuk menciptakan kitab yang sepadan dengannya, sekalipun mereka mengerahkan seluruh kekuatan dan telah menjalani pendidikan dan pelatihan khsusus.
Artinya, kitab suci itu memiliki ciri-ciri kemukjizatan yang luar biasa, tidak bisa ditiru dan dipalsukan, dan diturunkan sebagai bukti atas kebenaran kenabian seseorang. Tampak jelas bahwa Alqur'an merupakan bukti yang paling akurat dan kuat atas kebenaran klaim Muhammad saw sebagai nabi Allah. Sedangkan agama Islam yang suci adalah hak dan karunia Ilahi yang paling besar bagi umat Islam. Alqur'an diturunkan sebagai mukjizat abadi hingga akhir masa, yang kandungannya merupakan bukti atas kebenarannya. Begitu sederhananya argumentasi ini hingga dapat dipahami oleh setiap orang dan dapat diterima tanpa mempelajarinya secara khusus. 



Tanda-tanda sebuah bangsa sedang menuju jurang kehancuran

Negara kita “Indonesia dikenal memiliki karakter kuat sebelum zaman kemerdekaan, tatkala mencapai kemerdekaan dan mempertahankan kemerdekaan. Sekarang, karakter masyarakat Indonesia tidak sekuat pada masa lalu, sangat rapuh. Pemimpin saat ini juga tidak menjaga pembangunan karakter dan budaya bangsa” Demikian antara lain pernyataan Prof. Dr. Yahya Muhaimin dalam Sarasehan Nasional Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa
Thomas Lickona (1991) - seorang profesor pendidikan Karakter dari Cortland University -mengungkapkan bahwa “ada sepuluh tanda-tanda jaman yang harus diwaspadai karena jika tanda-tanda ini sudah ada, maka itu berarti bahwa sebuah bangsa sedang menuju jurang kehancuran”. Tanda-tanda yang dimaksud adalah :
1 meningkatnya kekerasan di kalangan remaja
2 penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk
3 pengaruh peer-group yang kuat dalam tindak kekerasan
4 meningkatnya perilaku merusak diri, seperti penggunaan narkoba, alkohol dan seks bebas.
5 semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk,
6 menurunnya etos kerja,
7 semakin rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru
8 rendahnya rasa tanggung jawab individu dan warga negara
9 membudayanya ketidakjujuran, dan
10 adanya rasa saling curiga dan kebencian

Visi Pembinaan Pendidikan Karakter di Sekolah Menengah Pertama

Dalam Pembinaan Pendidikan Karakter di Sekolah Menengah Pertama Tim Pendidikan Krakter Kemendiknas (2010:9-10) menyatakan visi Depdiknas 2014 :
“Terselenggaranya Layanan Prima Pendidikan Nasional untuk Membentuk Insan Indonesia Cerdas Komprehensif. Pemahaman insan Indonesia cerdas adalah insan yang cerdas komprehensif yaitu cerdas spiritual, cerdas emosional, cerdas sosial, cerdas intelektual, dan cerdas kinestetis. (1) Cerdas spiritual :  beraktualisasi diri melalui olah hati/kalbu untuk menumbuhkan dan memperkuat keimanan, ketakwaan dan akhlak mulia termasuk budi pekerti luhur dan kepribadian unggul; berkepribadian unggul dan gandrung akan keunggulan; bersemangat juang tinggi; mandiri; pantang menyerah; pembangun dan pembina jejaring; bersahabat dengan perubahan; inovatif dan menjadi agen perubahan; produktif; sadar mutu; berorientasi global; pembelajaran sepanjang hayat; dan menjadi rahmat bagi semesta alam; (2) Cerdas emosional dan sosial: beraktualisasi diri melalui olah rasa untuk meningkatkan sensitivitas dan apresiativitas akan kehalusan dan keindahan seni dan budaya, serta kompetensi untuk mengekspresikannya; beraktualisasi diri melalui interaksi sosial yang membina dan memupuk hubungan timbal balik; demokratis; empatik dan simpatik; menjunjung tinggi hak asasi manusia; ceria dan percaya diri; menghargai kebhinekaan dalam bermasyarakat dan bernegara; berwawasan kebangsaan dengan kesadaran akan hak dan kewajiban warga negara;  (3) Cerdas intelektual: beraktualisasi diri melalui olah pikir untuk memperoleh kompetensi dan kemandirian dalam ilmu pengetahuan dan teknologi; aktualisasi insan intelektual yang kritis, kreatif, inovatif dan imajinatif;  (4) Cerdas kinestetis: beraktualisasi diri melalui olah raga untuk mewujudkan insan yang sehat, bugar, berdayatahan, sigap, terampil, dan trengginas; serta aktualisasi insan adiraga….”

Pendidikan Karakter di Indonesia

Pendidikan karakter akhir-akhir ini semakin digalakkan di negeri Indonesia tercinta ini,entahlah apa sebenarnya tujuan utama dari pencetus istilah pendidikan karakter ini. Tapi yang jelas sesuai dengan undang-undang yaitu UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3, yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.
Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil.  Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (stakeholders) harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, kualitas hubungan, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan ethos kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah.

Hindari aksi corat-coret dan konvoi kendaraan

Pengumuman UN SMA/MA dan SMK tinggan 2 hari lagi, selepas pengumuman suatu tradisi dari tahun ke tahun yaitu aksi corat-coret dan konvoi kendaraan pasti tidak dapat dihindari. Dinas pendidikan harus segera mengantisipasi kira-kira cara yang tepat menyampaikan pengumuman tersebut dengan trik yang bagaimana. Misalnya pengumuman waktunya diundur sore hari otomatis waktu bagi mereka untuk meluapkan kegemberiaan punya waktu terbatas. Kemudian pihak-pihak terkait harus secara tegas melarang siswa SMA/SMK melakukan aksi konvoi dan corat-coret baju seragam, saat pengumuman kelulusan. Selain membahayakan diri sendiri, tradisi para pelajar dalam merayakan kelulusan ini dinilai mengganggu lalu lintas dan membahayakan orang lain.
Kelulusan dapat dilakukan siswa dengan kegiatan yang lebih positif seperti doa bersama di sekolah atau di rumah. Diharapkan, hal itu bisa menjadi budaya, sehingga perayaan kelulusan tidak terkesan hura-hura. Selain melarang siswa konvoi, juga melarang siswa corat-coret baju seragam. Menurut dia, baju seragam yang sudah tidak dipakai, dapat diberika

Visi Pembinaan Pendidikan Karakter di Sekolah Menengah Pertama

Dalam Pembinaan Pendidikan Karakter di Sekolah Menengah Pertama Tim Pendidikan Krakter Kemendiknas (2010:9-10) menyatakan visi Depdiknas 2014 :
“Terselenggaranya Layanan Prima Pendidikan Nasional untuk Membentuk Insan Indonesia Cerdas Komprehensif. Pemahaman insan Indonesia cerdas adalah insan yang cerdas komprehensif yaitu cerdas spiritual, cerdas emosional, cerdas sosial, cerdas intelektual, dan cerdas kinestetis. (1) Cerdas spiritual :  beraktualisasi diri melalui olah hati/kalbu untuk menumbuhkan dan memperkuat keimanan, ketakwaan dan akhlak mulia termasuk budi pekerti luhur dan kepribadian unggul; berkepribadian unggul dan gandrung akan keunggulan; bersemangat juang tinggi; mandiri; pantang menyerah; pembangun dan pembina jejaring; bersahabat dengan perubahan; inovatif dan menjadi agen perubahan; produktif; sadar mutu; berorientasi global; pembelajaran sepanjang hayat; dan menjadi rahmat bagi semesta alam; (2) Cerdas emosional dan sosial: beraktualisasi diri melalui olah rasa untuk meningkatkan sensitivitas dan apresiativitas akan kehalusan dan keindahan seni dan budaya, serta kompetensi untuk mengekspresikannya; beraktualisasi diri melalui interaksi sosial yang membina dan memupuk hubungan timbal balik; demokratis; empatik dan simpatik; menjunjung tinggi hak asasi manusia; ceria dan percaya diri; menghargai kebhinekaan dalam bermasyarakat dan bernegara; berwawasan kebangsaan dengan kesadaran akan hak dan kewajiban warga negara;  (3) Cerdas intelektual: beraktualisasi diri melalui olah pikir untuk memperoleh kompetensi dan kemandirian dalam ilmu pengetahuan dan teknologi; aktualisasi insan intelektual yang kritis, kreatif, inovatif dan imajinatif;  (4) Cerdas kinestetis: beraktualisasi diri melalui olah raga untuk mewujudkan insan yang sehat, bugar, berdayatahan, sigap, terampil, dan trengginas; serta aktualisasi insan adiraga….”