1. Pendahuluan
1.1. Latar Belakang Masalah
ILMU BALAGHAH SEBAGAI CABANG
ILMU BAHSA ARAB
Drs. Qurotul Aeni
Pondok Pesantren Darussalam
Bawang-Batang
Bahasa Arab pertama sekali dikenal sebagai bahasa-bahasa
orang-orang dizajirah
Semenanjung Arabia, kemudian setelah datangnya agama Islam dikenal
pula sebagai bahasa
Al-Quran sebagai pedoman hidup kaum muslimin itu dituliskan dalam
bahasa Arab yang sangat
indah susunannya dan rangkaian kalimatnya.
Bahasa Arab dikenal juga sebagai Ilmu Pengetahuan sebab begitu
banyak ilmu
pengetahuan dimasa perkembangan Islam yang dituliskan dalam bahasa
ini, lelau ditahapan
perkembangan selanjutnya bahasa Arab telah menjadi bahasa Dunia,
karena tidak hanya
digunakan oleh sekelompok masyarakat Arab atau pemeluk Islam saja,
tetapi telah diakui
sebagai bahasa kumunikasi di PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa).
Dilihat dari segi penggunaannya maka bahasa Arab ini terbagi dua
yaitu : Bahasa
Ammiyah (bahasa yang dipakai untuk berkomunikasi), berasal dari
bahasa daerah di Jazirah
Arabiya tidak terikat pada tata bahasa.
Kedua bahasa Fushah yaitu bahasa Resmi, contohnya bahasa Al-Quran
dan Hadist,
untuk karangan ilmiah kitab-kitab, surat-menyurat dan komunikasi
resmi lainnya. Bahasa
fushah (resmi) ini mempunyai tingkat kesulitan tersendiri karena
terikat erat dengan peraturan
kebahasaan diantaranya ilmu nahwu (Qawaid) dan Ilmu Balaghah
Semantik Arab.
Ilmu Balaghah tetap dianggap sebagai ilmu yang tersulit untuk
dicerna, sebab ilmu ini
akan menterkaitkan antara komponen-komponen ilmu bahasa Arab yang
ainnya. Namun jika
dipelajari dengan penghayatan yang tinggi serta dihubungkan pula
kepada kegunaannya dari
sisi ilmu-ilmu agama jelas akan mendatangkan kenikmatan tersendiri
dan dapat memperkaya
dan mempertajam mata bathin manusia, sehingga menimbulkan dampak
kehidupan yang baik
secta dapat mengusir kejenuhan untuk mempelajarinya.
1.2. Masalah
Pelajaran ilmu Balaghah (semantik Arab) ini sangat berat untuk
dipahami, terutama
sekali bagi orang-orang yang tidak mempunyai ilmu-ilmu dasar
bahasa Arab, seperti ilmu Sari
dan Nahwu serta leksikologi (Dirasat Mu'jamiyat). Hal seperti ini
tampak jelas dikalangan
mahasiswa di Jurusan bahasa Arab Universitas Sumatera Utara Medan.
Pada buku-buku Balaghah yang ada saat ini, kebanyakan
contoh-contoh kalimat dikutip
dari nukilan-nukilan, syair-syair Arab serta contoh Ayat-Ayat Suci
AI-Quran dan Hadist maupun
AI-Hikam (kata-kata yang mengandung pesan hikmah).
Kalimat-kalimat tersebut tidak selalu dijumpai dalam kalimat
percakapan sehari-hari,
mempunyai perbedaan jauh dari kalimat yang dibahas pada pelajaran
Nahwu dan Sarf, namun
tetap mempunyai hubungan dengan peraturan tata bahasa. Sebagai
salah seorang tenaga
pengajar yang mengasuh mata kuliah Balaghah ini, penulis merasa
sangat penting untuk
membuat solusi, sehingga mahasiswa termotivasi untuk mengembangkan
ilmunya.
aPembatasan masalah balaghah sangat luas dan sukar jika
diuraikan secara terperinci
dan mendetail sekali. Ilmu balaghah ini tida bisa terlepas dari
ilmu tata bahasa Arab dan
pertalian dengan ilmu-ilmu agama. Diantara ilmu fikih, Usul Fikih,
Ilmu Hadist, Ilmu Tafsir,
Ilmu Tasauf, Ilmu Ahklaq dan sebagainya.
Dari sekian banyak masalah yang dapat diulas itu penulis
membatasinya pada
keberadaan ilmu balaghah sebagai salah satu sisi Ilmu
bahasa Arab. Keterkaitannya dengan ilmu Nahwu dan manfaatnya dalam
memterjemahkan bahasa Arab terutama sekali ayat-ayat
AI-Quran yang pada akhirnya berguna sekali dalam menetapkan
hukum-hukum Islam.
1.4. Tujuan Pembahasan
Adapun tujuan penulisan karya ilmiyah ini adalah :
1. Mengungkapkan keterkaitan ilmu Balaghah
2. Memperkenalkan Ilmu Balaghah secara umum
3. Memperlihatkan keurgensian ilmu Balaghah dan keterkaitannya
dengan ilmu Nahwu
4. Menambah hazanah ilmu pengetahuan Mahasiswa program studi
Bahasa Arab
khususnya dan para pencinta bahasa Arab umumnya tentang ilmu
Semantik Arab.
1.5. Metode Pembahasan
Metode yang penulis gunakan dalam penulisan ini adalah metode
Desktiptif analisis,
yaitu mengkaji beberapa referensi yang berkaitan dengan judul
makalah ini, baik dari sumber
bacaan berbahasa Arab dan sumber yang berbahasa Indonesia,
kemudian disusun ulang
berdasarkan analisis yang cermat sehingga berbentuk makalah.
Penulis mengadakan pembahasan bertahap dari uraian keterangan
secara umum
meningkat pada penjelasan khusus (deduktif)
Untuk menterjemahkan kalimat bahasa Arab penulis menggunakan
sistem terjemahan
bebas dengan tetap mempertahankan nilai-nilai estetis terkandung
didalamnya.
2. BAHASA ARAB
2.1. Sejarah Singkat Bahasa Arab
Bahasa Arab berasal dari bahasa Smit, yakni bahasa yang
dipergunakan kabilah-kabilah Arab purba yang mendiami daerah Asia Barat. Semula
Bahasa Arab ni berpangkal dari putra
Sam bin Nuh, namun kelompok ini
telah musnah mereka dikenal dengan Arab Ba'idah daD peraturan tata
bahasanya sudah tidak dikenal lagi.
Dari berbagai sumber bacaan yang penulis talaah, maka
dijumpai keterangan yang sama yaitu menyatakan bahwa . Bahasa Arab adalah satu
bahasa dengan aslinya, terutama sekali terutama sekali bagi penduduk di daerah
pegunungan.
Faktor-faktor penunjang terselamatkannya Bahasa Arab dari
pengaruh asing adalah antara lain, bangsa Arab adalah bangsa rang tidak pemah
dijajah, bangsa ini tidak banyak bergaul disebabkan keadaan daerah mereka.
Kemajuan bangsa Arab mempengaruhi perkembangan bahasa
Arab. Semula bahasa Arab tidak mengenal bentuk huruf seperti sekarang tidak
kenal titik dan baris, berkembang menjadi huruf-huruf yang bersahaja lengkap
dengan titik dan baris atas prakarsa para ulama Arab masa lampau. Namun
bagaimana bentuk tulisan masa lampau itu belum pernah penulis jumpai sampai
sekarang ini. Kecuali hanya berita-berita dari sejarah yang dituliskan dalam buku-buku.
Perbedaan tulisan dan Lahzah (dialeg) disebabkan perbedaan
geografis tetap ada, tetapi setelah datangnya Islam maka bahasa Arab pun
bertambah tinggi kedudukannya dan adilah
bahasa Al-Quran menjadi bahasa standart.
Perkembangan bahasa Arab dapat diperhatikan dari catatan
sejarah perkembangan agama Islam. Tahapan demi tahapan Agama Islam dan kerajaan
Islam berkembang pesat sehingga kaum muslimin Arab dapat menaklukkan kerajaan
di luar semenanjung Arabiya sampai ke Codowa dan Spanyol, sehingga mencapai
puncak kejayaan di zaman Khalifah Abbasyiyah. Maka demikian pula halnya bahasa
Arab bertambah masyhur.
Bahasa Arab tidak hanya dipergunakan oleh bangsa Arab
saja, tetapi mulai dipergunakan oleh bangsa lain yang telah takluk dibawah
kekuasaan Islam. Kekhalifahan Islam menjadikan
bahasa Arab sebagai bahasa resmi kenegaraan. Dipergunakan dalam segala bentuk kegiatan
pemerintahan.
Kebanggaan terhadap agama Islam (Fahkrul Islami). Membuat
mereka (bangsa Arab) semakin bersemangat mengembangkan bahasanya dengan baik
dan memasyhurkannya keseluruh pelosok dunia.
Ruhul Islami atau semangat keislaman mereka pada
gilirannya membuat mereka terlebih-lebih ulama dan fakar muslim berinisiatif
menulis berbagai macam disiplin ilmu dalam
© 2004 Digitized by USU digital library
2
bahasa Arab, mulai dari ilmu Filsafat, kedokteran, matematika,
Ilmu Politik, llmu Astrologi dan
Astronomi, Ilmu Geografi, disamping ilmu-ilmu agama (Fikh, Tafsir,
Hadist, Usul Fikh, Ahkalq,
tarbiyah atau pendidikan, ilmu bahasa dan sastra).
Karya para fakar yang tersebut di atas ini di terjemahkan ke dalam
berbagai bahasa di
dunia kemudian menjadi buku-buku rujukan dan pegangan bagi para
intelektual dan ilmuan.
Satu catatan dari (AI-Badaawi, Bairut. Tanpa tahun) menyatakan:
IImu hisab (matematika)
Arab masuk ke Eropa pada abad ke 13 rang dibawa oleh Leonardo de
Pisa adalah perhitungan
rang praktis karena mempunyai bilangan desimal (Al-Ghubar). Orang
Arab juga menemukan
angka 0 (nol) pertama sekali. Demikianlah secara ringkasnya
sejarah bahasa arab.
2.2. Pentingnya Bahasa Arab
Jika ditinjau dari asfek sejarah kepentingan pada tata bahasa
Arab,(Motgomery watt,
1990) berpendapat :"Dua kebutuhan praktis memaksa orang untuk
mempelajari tata bahasa
Arab: pertama dibutuhkan semacam kesepakatan mengenai asas-asas
umum tata bahasa jika
orang ingin memperoleh hasil dari bahasan-bahasan mengenai
penafsiran dari ayat-ayat AlQuran,
dan
kedua
kesepakatan
mengenai makna
kata-kata
rang tidak
diketahui
artinya".
Masalah ini menjadi mendesak sebab Al-Quran telah menjadi dasar
dari Agama Islam
dan menjadi dasar dari negara Islam saat itu bahkan sampai
sekarang ini. Dalam pemahaman
Ayat-ayat Al-Quran penulis Barat mengakui bahwa bahasa Arab
memberikan lebih banyak
cakupan makna yang memungkinkan dibanding dengan bahasa Inggris.
Selain itu para sekretaris yang non Arab pertama sekali dihadapkan
kepada penulisan
berbahasa Arab menjadi kebanggan profisional pada zaman
Khulafaurrasyidin terlebih-lebih
dimasa khalifah Umar bin Khattab berlajut sampai ke masa keemasan
Islam pada Dinasti Bani
Abbasiyah.
Tingginya kebanggaan profesional ini membuat mereka terpacu untuk
mempelajari tata
bahasa Arab agar terhindar dari "Solecisme" kekacauan
tata bahasa ketika mereka menulis.
Setelah perkembangan kekuasaan negara Islam dan juga perkembangan
agama Islam
ke berbagai pelosok dunia maka bangsa Arab berbaur dengan
bangsa-bangsa lain seperti bangsa Romawi, Paris, Eropa. Penuturan bahasa Arab
pun mulai bercampur baur dengan bahasa-bahasa daerah penaklukan tadi oleh
karena itu khalifah Ali Bin Ali Thalib merasa sangat khawatir bahasa tersebut
akan terlepas dari struktur bahasa semula. Khalifah Ali Bin Thalib memprakarsai
terciptanya ilmu tata bahasa Arab (llmu Nahwu).Pada awalnya beliau mengumpulkan
bahan mengenai ن |/inna/kemudian قإ(idhafat/lalu mempeluasnya lagi kepada masalah Atf dan
Ta'ajjub. (keterangan lebih lanjut dari ini dapat diperhatikan dari buku Nahwu
karangan Zama) syari dari buku pengantar sastra Arab karangan Fuad Said).
Orang-orang yang meneruskan pembahasan Ali ini adalah Abu
I-Aswad As Dualiy (wafat 19 H). Nasar Bin 'Asim (wafat 86 H), dan Adurrahman
Bin Hurmuz (wafat 117 H). Kebebasan mencurahkan buah pikiran dari para ulama
yang masyhur itu akhirnya melahirkan dua kelompok ulama Nahwu yaitu ulama
Kuffah dan Ulama Basyrah.
2.3. llmu-ilmu Bahasa Arab
setelah mengemukakan beberapa urgensi tata bahasa arab dan
kemajuanya secara ringkas, berikut ini penulis mengetengahkan penjelasan
tentang ilmu-ilmu bahasa Arab selain llmu Nahwu. Bahasa Arab adalah bahasa yang
terjaya dari bahasa-bahasa lainnya, terbanyak pramasastranya, hingga ia dapat
melayani kemajuan-kemajuan ilmu pengetahuan disegala
bidang. Untuk mengetahui seluk beluk bahasa Arab yang
masyhur itu lebih jauh dan untuk menilai keindahan kalimat baik prosa maupun
puisi, maka satrawan-sastrawan arab telah menetapkan 13 cabang ilmu yang
bertalian dengan bahasa yang disebut dengan "Ulumul Arabiyah"
"Ulumul Arabiyah" bisa disebut linguistik Arab itu
terdiri dari :
1. Ilmu L-ughah : llmu pengetahuan yang menguraikan kata-kata
(lafaz) Arab besamaan dengan maknanya. Dengan pengetahuan ini, orang akan dapat
mengetahui asal kata dan seluk beluk kata. Tujuan ilmu ini untuk memberikan
pedoman dalam percakapan, 3 pidato,
surat-menyurat, sehingga seseorang dapat berkata-kata dengan baik dan menulis
dengan baik' pula.
2. Ilmu Nahwu : Ilmu pengetahuan yang
membahas prihal kata-kata Arab, baik ketika sendiri (satu kata) maupun ketika
terangkai dalam kalimat. Dengan kaidah-kaidah ini orang dapat mengatahui Arab
baris akhir kata (kasus), kata-kata yang tetap barisnya (mabni), kata yang
dapat berubah ( mu'rab).
Tujuanya adalah untuk menjaga kesalahan-kesalahan dalam
mempergunakan bahasa , untuk menghindarkan kesalahan makna dalam rangka
memahami AI-Quran dan Hadist, dan tulisan-tulisan ilmiah atau karangan.
Alam tata bahasa/ sintaksis Arab, dikenal istilah Fi'iil dan Harf, jumlah Islamiyah dan
Fi'liyah serta Syibhu jumlah. Dalam ilmu Nahwu banyak lagi istilah dan
persoalan yang dihadapi dapat diteliti dari buku-buku bahwa yang banyak
tersebar. Yang dikenal memprakarsai Nahwu adalah Ali bin Ali Thalib beserta
sahabatnya. Peristilahan Nahwu yang
berpengaruh kepada bahasa Indonesia adalah yang dikarang oleh Abul Aswat
Adduali dan Sibawaihi yang terlebih dahulu
dikenal orang Barat. (keterangan lanjutan dapat dilihat dari buku
Sejarah Studi bahasa Indonesia oleh Drs. Ahmad Samin 1982. Diktat Fakultas
Sastra USU).
3. Ilmu Sarf(morfologi Arab). Ilmu
pengetahuan yang menguraikan tentang bentuk asal kata, maka dengan ilmu ini
dapat dikenal kata dasar dan kata bentukan, dikenal pula afiks, Sufiks dan
infiks, kata kerja yang sesuai dengan masa. Penciptaan llmu Sari ini adalah
Muaz bin Muslim.
4. Ilmu Isytiqaq : Ilmu pengetahuan
tentang asal kata dan pemecahannya, tentang imbuhan pada kata (hampir sama
dengan ilmu Sarf)
5. Ilmu L-'arudh : Yang membahas hal-hal
yang bersangkutan dengan karya sastra syair dan puisi. llmu Arudh
memberitahukan tentang wazan-wazan (timbangan) syair dan tujuanya adalah untuk
membedakan proses dalam puisi membedakan syair dan bukan syair .Dengan ilmu
arudh ini dikenal bahar syair seperti berikut ini : bahar thawi, bahar madid,
bahar basith, bahar wafir, bahar kamil, bahar hijaz, bahar rozaz, bahar sari' bahar
munsarih, bahar khafif, bahar mudhari, bahar muqradmib, bahar mujtas, bahar
mutaqarib, bahar Romawi dan bahar mutadarik.
6. Ilmu Qawafi : yang membahas suku
terakhir kata dari bait-bait syair sehingga diketahui
keindahan syair. Yang memprakarsai adanya Qawafi ialah Muhallil
bin Rabi'ah paman
Amruul Qaisy.
7. llmu Qardhus Syi'ri yaitu sejenis
ilmu pengetahuan tentang karangan yang berirama
(lirik), dengan tekanan suara yang tertentu. Gunanya untuk
membantu menghafalkan
syair dan mempertajam ingatan pembaca syair.
8. Ilmu hkat yaitu pengetahuan tentang
huruf dan cara merangkaikannya, termasuk
bentuk halus kasarnya dan seni menulis dengan indah dapat
dibedakan dalam beberapa
bentuk mulai dari khat tsulus, Diwan, Parsi dan khat nasakh.
Penemu pertama ilmu khat
adalah nabi Idris karena beliaulah yang pertama kali menulis
dengan kalam.
9. Ilmu Insyak yaitu ilmu pengetahuan
tentang karang mengarang surat, buku, pidato,
cerita artikel, features dan sebagainya. Gunanya untuk menjaga
jangan sampai salah
dalam dunia karang-mengarang.
10. Ilmu Mukhodarat yaitu pengetahuan
tentang cara-cara memperdalam suatu persoalan,
untuk diperdebatkan didepan majlis, untu menambah keterampilan
berargumentasi,
mahir bertutur dan terampil mengungkapkan cerita.
11.
Ilmu Badi' yaitu pengetahuan, tentang seni sastra, Penemu imu ini
adalah Abdullah bin
Mu'taz. llmu ini ditujukan untuk menguasai seluk beluk sastra
sehingga memudahkan
seseorang dalam meletakkan kata- sesuai tempatnya sehingga
kata-kata tadi berlin
bertelindan dengan indah, sedap didengar dan mudah diucapkan.
12. Ilmu Bayan ialah ilmu yang menetapkan
beberapa peraturan dan kaedah untuk mengetahui makna yang terkandung dalam
kalimat penemunya adalah Abu Ubaidah yang menyusun pengetahuan ini dalam
"Mujazu Al-Quran" kemudian berkembang pada imam Ahu T ,qahir
disempurnakan oleh pujangga-pujangga Arab lainnya seperti AIJahiz,.lbnu Mu'taz,
Qaddamah dan Abu Hilal Al- Asikari. Dengan ilmu ini akan diketahui rahasia bahasa
arab dalam prosa dan puisi, keindahan sastra Al-Quran dan Hadist.
Tanpa mengetahui ilmu ini seseorang tidak akan dapat menilai
apalagi memahami isi AJQuran
dan
Sabda nabi
dengan sesungguhnya.
13. Ilmu Ma'ani ialah pengetahuan untuk
menentukan beberapa kaedah untuk pemakaian
kata sesuai dengan keadaan (situasi dan kondisi) dalam istilah
disebutkan "Muthabiq Lil
/muqtadhal Hali" tujuannya untuk mengetahui I'jaz Al-Quran,
keindahan sastra Al-Quran
yang tiada taranya. Demikian pembagian ilmu L-Arabiyah yang disadur
dari (pengantar
Sastra Arab(Food Said 1985, 98-106).
Jika ditinjau dari segj perbidangan linguistik maka pembagian ilmu
bahasa Arab tersebut
diatas termasuk bidang interdisiplioner linguistik yang saling
terkait satu dan lainnya.
Bidang ilmu Balghah (semantik Arab) terangkum dalam komponen ilmu
bayan, Ma'ani
dan Badi'.
Maka apabila dilihat dari keterkaitan ilmu-ilmu yang telah
disebutkan itu, tak satupun
ilmu bahasa Arab itu diabaikan, namun yang terlebih masyhur
dikalangan masyarakat
Indonesia yang harus benar-benar dipelajari adalah Ilmu Nahwu
saja, ini merupakan anggapan
yang keliru.
Maka untuk mengetahui kebenarannya , penulis mencoba untuk
menguraikan sisi
keterkaitanya, pada bab- bab berikut ini.
3. ILMU BALAGHAH
3.1. Pengetian Ilmu Balaghah
Untuk lebih mengetahui tentang ilmu Balaghah, maka hendaklah
diketahui pengertian
dari Balaghah. Meskipun pengertian singkat dari komponen ilmu
balaghah itu secara singkat
dipandang perlu pula untuk mengetengahkan uraian tentang iImu
balaghah agar tampak jelas
keurgensian (keberadaan) ilmu Balaghah tersebut.
Adapun pengertian dari segi etimologi adalah sampai atau
berkesudahan atau sampai.
Menurut pengertian dari sisi kesusastraan ialah "Penonjokan
makna dan pengertian kalimat
yang jelas, sampai tertanam pada hati pembaca dan pendengarnya
(diungkapkan oleh Syaid
Ahrnad Aal-Hasymy).
Al-Mukaffa menyatakan bahwa Balaghah adalah beberapa makan yang
terpancar dari
suatu kalimat melalui beberapa cam, sebagian dengan isayarat ,
berbicara, berpidato, diskusi,
surat-menyurat, karangan yang umumnya merupakan "wahyu"
pada kalimat indah, ringkas
tepat dan lugas.
Jika kita perhatikan dari keterangan-keterangan fakar ilmu
balaghah dari beberapa
regenerasi dapat disimpulkan bahwa :
llmu Balaghah adalah ilmu yang mengungkapkan metode untuk
mengungkapkan bahasa
yang indah, mempunyai nilai estetis (keindahan seni), memberikan
makna sesuai dengan
muktadhal hat (situasi dan kondisi), serta memberikan kesan sangat
mendalam bagi pendengar
dan pembacanya.
Ungkapan yang mempunyai nilai sastra tinggi telah lama dimiliki
oleh orang orang Arab,
babkan sebelum tersebarnya agama Islam, tidak mengherankan dari
keindahan bahasa
membuat mereka terkesima mendengarkan ayat-ayat suci AI-Quran dan
bahasa Hadist.
Alam tarakaifa dharaba L-Lahu masalan kalimatin Thayyibatin
kasyajaratin ashluha a-sabitun
wa far'uha fi s-sa,a'I.
Apakah engkau tidak melihat Allah memberikan suatu perumpamaan
dengan kalimat yang baik
seperti sebatang pohon yang baik akarnya kokoh dan cabangnya
menjulang kelangit.
© 2004 Digitized by USU digital library
5
lnilah suatu ayat yang menyatakan kebaradaan dari keindahan dari
suatu bahasa.Bila
dipandang dari peristilahan linguistik ilmu balaghah ini disebut
Ilmu Sematik bahasa Arab.
Penamaan sebagai ilmu semantik ini adalah merupakan suatu
peristilahan setelah meneliti dan
membandingkan disiplin ilmu semantik dan ruang lingkup bahasanya dari segi semantik
bahasa Indonesia.
Namun jika diperhatikan dari pendapat para fakar yang lebih
dominan menyatakan
balaghah sebagai bagian dari pembahasan sastra, mereka juga
mempunyai alasan yaitu yang
diulas dalam balaghah adalah kebanyakan hasil karya sastra atau
bahasa yang mengandung
nilai-nilai sastra tinggi (bahasa al-Quran dan Hadist).
3.2. Pembabagian llmu Balaghah
Ilmu balaghah sebagaimana diketahui terdiri dari bahagian yaitu :
ilmu Bayan, Ilmu
Ma'ani dan ilmu Badi'. Untuk lebih jelasnya pembahagian dari ilmu
Balaghah ini akan dijelaskan
dalam sub-sub pembahasan ini.
3.2.1.Ilmu Bayan
Ilmu Bayan adalah ilmu yang menjelaskan seluk beluk bahasa Arab
dimulai dari
mengetahui uslub (ragam bahasa) puisi dan prosa.
Pembagian ilmu Bayan meliputi :
Tasybih,
rukun tasbih. Pembahagian Tasybih dan kegunaan ungkapan Tasybih .
Balaghah
dan pengaruhnya bagi orang Arab dan bahasa Arab bagi para pembicara dan
lawan bicara
Pembahasan
tentang Majaz serta pembahagiannya
Isti'ara
(kata pinjaman) beserta pembahagiannya.
Kinayah
dan pembahagiannya.
Keterangan ringkas mengenai pembahasan ilmu Bayan :
a. Tasybih
Jika dilihat dari asal kata, tasybih berasal dari kata ٩بش/Syabbaha, mengingat masamuda,
mensifatkan kecantikan gadis. (Muhammad Yunus, 1973:188). Dari
segi ilmu Balaghah adalah
menyempakan sesuatu kepada sesuatu yang lain dalam bahasa arab
disebut :
Itu ditujukan
supaya dapat menggambarkan hal rang tersembunyi, hal yang jauh,
dan yang dekat,
menambah ketinggian derajat, memuji keindahan, kelebihan seseorang
atau kelompok,
sehingga menyentuh perasaan orang.
Arkanutasybih yaitu:
Musyabbah : yaitu suatu
yang dipersamakan
Musyabbah bih : yaitu yang diumpamakan
Adat Tasybih : yaitu lapaz
yang dipergunakan untuk membuat suatu perumpamaan
Wajah syabah : suatu sisi
yang dipersamakan.
Al-'Ilmu ka n-nuri fi'
l-hidayati
Musyabbah : Musyabbah bih : Adat tasybih : Wajah Syabah :
Dilihat dari struktur arkanu t – tasybih : Wajah Syabah :
1. Tasybih Mursal
Musyabah : musyabah bih : Adat tasybih : Wajah Syabah
2. Muakkad
© 2004 Digitized by USU digital library
6
Muasyabbah : musyabah bih : Adat tasybih : Wajah Syabah
3. Mujmal
Musyabbah : musyabah bih : Adat tasybih : Wajah Syabah
4. Mufassal
Musyabah : musyawarah bih : Adat tasybih : Wajah Syabah
5. Baligh
Musaybbah : musyabah bih : Adat tasybih : Wajah Syabah
6. Tamtsil (wajah syabah bersjfat
majemuk serta memerlukan pemikiran dan
Hayalan :
Musyabbah: musyabah bili: Adat tasybili: Wajah Syabah
7. Ghairu t-tamtsil (wajah syabah yang
lugas, tidak memerlukan banyak hayalan dan
Penafasiran).
Musyabbah: musyabah bili: Adat tasybili: Wajah Syabah
Tasybih jika dilihat dari sudut linguistik dapat dipadankan dengan
istilah gaya bahasa
Metafora
© 2004 Digitized by USU digital library
7
b. Majaz
Majaz juga dikenal dalam bahasa Indonesia yang berarti makna
kiasan atau figuratif meaning
(pemakian kata – kata yang bukan pada arti yang sebenarnya)
Contoh
Artinya : seorang pemberani berpidato di depan kita
Ditinjau dari padanan peristilahan semantik bahasa Indonesia majaz
ini termasuk gaya bahsa
Hiperbola dalam kelompok gaya bahsa pertentangan.
c. Isti’arah
Ist’arah merupakan kata pinjaman yaitu penggunaan kata dengan
tujuan memperkuat makna
yang terkandungdalam kata tersebut (makna tersirat) (Hasymy 303).
Isti’arah terbagi dua :
a. Tasyrihiyah : dipadankan dengan anti
klimaks yakni penitik makna pada lapaz
musyabbah bih.
Contoh :
Kitabun anzalnahu ilayka li tu hkrija n-nasu mina z-zulumati ila
n-nuri
Kitab (AI-Qur'an) ini diturunkan adalah untuk mengeluarkan manusia
dari kegelapan kepada
bahaya.
b. Makniyah: Dari peristilahan semantik indonesia di sebut gaya
bahasa klimaks, pada isti'arah
makniyah ini lafaz musyabbah bih dibuang dan digantikan dengan
kata yang lazin
dipergunakan sebagai rangkaian kata tadi.
Contoh :
/Inni la ara ra'usan qad ainaat wa hana qitafuha wa ini
lashabuha./
Aku telah melihat kepala-kepala yang siap dipetik akulah
empunyanya.
d.Kinayah
Kinayah (gaya bahasa Antonomasia) adalah gaya bahasa yang
mengandung makna kiasan dan
sindiran.
Kinayah ini dibagi kepada dua bahagian yakni :
1. Kinayah Sifat : suatu sindiran yang ditujukan untuk
menyatakan sifat seseorang.
Contoh :
/Thawilu n-najadi rafi'u l-imadi kastiru r-ramadi iza ma syata/
Banyak pertolongan ringan pekerjaan banyak api unggun di musim
dingin.
© 2004 Digitized by USU digital library
8
Tujuan sindiran ini menyatakan sifat tolong menolong itu
diperlukan di setiap keadaan.
2. Kinayah Mausuf sindiran yang ditujukan kepada seseorang
Contoh :
/Qara' a fulanun sinnuhu /
Sipulan telah menggerakan giginya, sindiran kepada seseorang yang
sudah benar-benar
marah.
3.2.2. Ilmu Ma'ani
ilmu ma' ani adalah ilmu untuk mengetahui kejelasan ucapan Arab
sesuai dengan situasi
kondosinya (amin Hakri 1979:53).
Ilmu Ma'ani merupakan pengetahuan untuk menentukan beberapa kaedah
untuk
pemakaian kata sesuai muqtadal hal. Jelasnya Ilmu Ma'ani itu
adalah suatu peraturan tentang
pemberian makna yang tepat sesuai dengan redaksi kalimat.
Dalam kelompok ilmu Ma' ani ini akan dibahas mengenai :
Kalam
khabari dan insya
Zikru
dan Hazfu
Taqdim
dan ta'hir
Qashar
Washal
dan fashal
Ijaz
dan Musawah
Untuk mempermudah pemahaman pembaca pemula maka akan dijelaskan di
sini
tentang kalam khabari dan insya'i.
Menceritakan tentang kalam tidak dapat terlepas dari Musnad dan
Musnad ilyhi juga
Mutakallim, mukhatab dan kalam itu sendiri (isi dan manfaat kalam)
Kalam khabari yaitu kalam (kalimat ) yang mengandung pengertian
(arti) benar atau
dusta sedangkan kalam insya'I suatu kalimat yang tidak mengandung
pengertian benar dan
dusta.
Setiap kalam baik berbentuk khabari atau insyai mempunyai dua
rukun (komponen)
yakni Mahkum Alayhi dan Mabkum bib, disebut juga dengan Musnad
ilayhi dan musnad .
Contoh:
/yabunayya ta'allam husna l-istima'l kama tatallam husna l-hadis/
hai anakku perhatikanlah pelajaranmu sebagaimana engkau
mempelajari kata-kata yang baik'
Contoh 2:
Nukilan sajak Abu Nawas (penyair seribu satu malam)
'Ar- rizqu wa l-hirmanu majrahuma bima qadha L-Lahu wa ma
Qaddaral/ Rezki dan kehormatan
itu sama-sama dilimpahkan sesuai dengan ketentuan Allah dan sesuai
dengan ukurannya.
© 2004 Digitized by USU digital library
9
Penganalisaan dari kedua contoh diatas sebagai berikut :
Jumlah (kalimat) : jenis : Musnad ilayhi : Musnad
dari segi bahasa Indonesia, Musnad ilayhi ini bisa disebut subjek
dan musnad adalah predikat.
a. Kalam Khabari
Kelompok kalam khabari, yang lebih dekat pengertiannya adalah
kalimat yang
mengandung makna berita. Berita yang diungkapkan oleh si pembicara
mempunyai tujuan
tertentu demikian pula bagi sipendengar/pembaca berita.
Fakar ilmu balaghah
menentukan keadaan ini dan menamakan pokok bahasan tentang
Al-ghardu mill ilqai I-hkabari/.
,.
Tujuan dari ungkapan dari berita
Hal ini dibagi menjadi dua kategori yaitu :
1. Bila kalimat tersebut sudah sama-sama diketahui oleh si
pembicara dan dipendengar
(pembaca) maka kaliInat khabari itu disebut
Lazim Fa' i dah/
2. Bila kalimat itu sebelum diketahui oleh sipendengar/pembaca
atau offing ke dua maka
disebut
'/
Selanjutnya khabari inipun dilihat dari kegunaannya sesuai dengan
konteks kalimat
serta situasi dan kondisi kalimat itu disampaikan atau /
al-ghardhu tufhamu mill siyaqi l-kalam/
Dilihat dari konteks klaimatnya ini hkabari dibagi kepada :
1.
/istirhamu/penghormatan
l /C h/_"_
2.
_ / Izharu tahassuri/
keluhan
3. /Izharu
dha-dha'fi/mengungkapkan kelemahan
4.
/al-fihkri/Bangga
© 2004 Digitized by USU digital library
10
5. / Al-Hassu ‘ala s-sa'yi wa
I-jiddi /Memotivasi untuk menimbulkan
semangat dan kesungguhan.
(contoh dari masing-masing hal ini dapat diperhatikan dalam buku
Al-Balaghatu l-wadhihah
144-147, Mustafa amin, tanpa tahun) khabari ditinjau dari kepentingan
si lawan bicara terbagi
kepada tiga bahagian yaitu :
1. Bila orang kedua sama sekali belum
mengetahui barita, maka khabar tidak perlu
mengunakan huruf tawkid (tanda penguat berita). Disebut khabar
Ibtida'i.
2. Bila orang ke dua ragu akan berita
yang disampaikan padahal dia belum mengetahuinya
maka dikemukakan kbahar dengan penambahan huruf taukid (tanda
penguat).
3. Bila orang kedua tetap tidak percaya
(munkir) atas berita yang disampaikan meskipun
ada dalil yang telah ditentukan, maka wajib diberikan huruf
taukid, satu taukid atau
lebih. Konteks ini disebut khabar Inkari.
Huruf-huruf taukid (ada waktu -t-taukidi) sebagai berikut ini :
Inna, anna, waw qasam, lam ibtida', nun taukid, ahrufu t-tanbih,
hurufu z-zaidah, qad, amma
syarthiyah.
b. Kalam Khabar huruju an muqthada -zahir
Kalak khabari khuruju an muqthada z-zahir adalah kalam khabari
yang keluar dari konteks
semula, pada kaidah ilmu balaghah dibagi kepada tiga bahagian
yaitu:
1. Khabar yang diungkapkan tanpa buruf
taukid tetapi lawan bicara masih terus bertanya
dan ragu atas berita yang diceritakan hal ini menyalahi konteks
berita biasa disebabkan
lawan bicara khuruju an muqthada z-zahir. Lawan bicara dalam hal
ini dianggap sebagi
orang yang tidak ingkar.
2. Khabar yang diberikan tanpa huruf
taukid, tetapi lawan bicara tidak lagi bertanya. Disini
ia digolongkan sebagai orang yang inkar.
3. Khabar yang dikemukakan tanpa huruf
taukid, disini pembicara menempatkan lawan
bicaranya sebagai seorang yang tidak mungkar, dengan tujuan untuk
menjinakkan hati
lawan bicaranya. Ini kerap kali digunakan dalam berpolitik (Ali
Jarim tanpa tahun. Hal
165).
c. Kalam lnsya'I
Kalam insya'I terbagi kepada dua kelompok yaitu:
Insya' Thalaby dan insya' Gbayru Thalaby.
lnsya'
Thalaby : yaitu menuntut sesuatu yang
tidak berhasil pada waktu
kata - kata itu diungkapkan
yakni bentuk amar, Nahyi,
Tamanny dan Nida'i.
lnsya'
Gbayru Thalaby : yaitu tidak ada
tuntutan sesuatu terdiri dari bentuk,
Ta'ajjub, Madah , Zam,
Qasam Af'alu, r-raja dan
bentuk-bentuk lain selain
insya' thalaby.
Untuk melihat keterkaitan ilmu Balaghah dengan tata bahasa Arab
maka penulis hanya
menerangkan tentang beberapa sisi dari Insya' Thalaby saja.
c. 1. Pembagian Insya' Thalaby
Amar
Adapun Qaidah Amar yaitu menuntut suatu pekerjaan dari orang rang
lebih tinggi
(kedudukan atau umur). Bentuk Amar dalam balaghah sama dengan
bentuk amar dalam tata
bahasa Arab.
© 2004 Digitized by USU digital library
11
Fakar-dakar ilmu balaghah menyebutkan :"Bentuk Amar ada empat
:
Fi'il
Amar
Mudhari'
yang diketahui oleh Ei'lam Amar
Ism
Fi'il amar
Masdar
sebagai ganti dari Fi'il Amar
Selain makna perintah dari segi balaghah Amar mempunyai makna lain
yakni apabila diteliti
dari konteks kalimat (siyaqul kalam) mendatangkan makna sebagai
berikut
/Irsyad/' memberi petunjuk'
/ Do'a/Do’a
/lltimas/menyuruh orang
sebaya'
/amanny/'bercita-cita'
/Takhyir/'memilih'
/Taswiyah/'Mempersamakan'
/ Ta'jizl' Melemahkan'
/Tahdid/Ancaman'
/bahah/’ membolehkan'
contoh Amar :
1.
.
Amma ba'du fa aqin linasi l-hajji/' Seteleh itu maka peritahkanlah
hajji kepada manusia' .
2.
I... Wa l-yatawaffu
bi l-bayti l...'atiq/' dan tawaflah kamudi rumah suci'
3.
I' Alaykum
andusakum la yadhurrukum man dhalla iza h-tadaytum/'
Perliharalah dirimu janganlah membuat dirimu mudharat dengan
kesesatan setelah engkau
memperoleh petunjuk.
© 2004 Digitized by USU digital library
12
4.
/Wa bi l-walidayni ihsanan/ ' Berbuat baiklan kepada kedua orang
tuamu'
- Nahyi
Nahyi adalah menurut memberhentikan perbuatan dari orang yang
lebih tinggi. Bentuk bahyi
berasal dari fi'il mudhari' didahului oleh la nahiyyah.
Contoh :
/Wa La taqrabu mala l-yatimi ilia billati hiya ahsanu/ Dan
janganlah kamu mendekati harta
anak yatim kecuali untuk kebaikan.
Ahli ilmu Balaghah mengkategorikan arti nahyi dilihat dari (Siyaqu
l-kalam kepada :
/ Do'a/Doa'
/ lltimas/ melarang orang sebaya'
/ Tamanny/'Cita-cita'
/ Taubih/'Menjelaskan'
/ Tay'is/Menyesal'
/ Tahdid/' Ancaman'
/ Tahqir/'Hinaan'
Menganalisis analisis makna Nahyi dri konteks kalimat itu
memerlukan perhatian yang
jeli, sehingga nampak keistimewaan artinya. Ini merupakan hal yang
penting bagi
penterjemah, sehingga terjemahan tidak terjebak pada kesalahan
arti, terutama sekali bagi
penterjemahan ayat-ayat Al Quran dan Hadist Rasul.
- Istifham
Istilah adalah bentuk kalimat rang dipergunakan untuk mendaptkan
informasi yang jelas
tentang sesuatu masalah, yang belum diketahui sebelumnya.
Cara pembentukan Istifham adalah dengan mempergunakan ada watu
istifham.
Adawa tu l-istifham adalah :
نﻣ/min/’dari/,لﺤ/hal/’adalah’, ﻣﮐ/kam/’berapa,ﺎﻣ/ma/’apa’,
ت ﺎﻣ /mata/’bila أ/’a/’apa, تأ/anna/’bagaimana,
نﻳ أ/aina/’dimana’,ﻲا /ay/’apa’/ﺂنﺁﻳ ﺁ/ayyana/’bagaimana,
kapan’.
- Tamanny
Tamanny adalah menuntut sesuatu urusan rang sangat disukai tetap
adakalanya hal yang
mustahil tercapai dapat juga disebut sebagai angan-angan. Tamanny
ini dibentuk dengan
menggunakan huruf tamanny : لﺤ/hal/’, تﻳﻟ/layta/’sekiranya’,وﻟ/lau/ ‘kalu sekiranya’,
ﻞﻌﻟ/la’alla/’mudah-mudahan’
© 2004 Digitized by USU digital library
13
Contoh Istifbam :
1.
'fa hat Lana min sufa'a u fa yasfa'u lana/ ﻂ
'Masih adakah yang mau menolong kami, maka berilah pertolongan
kepaa kami'
2.
flaw La kana 'indi shadiqin yaji'u bi khamsati atafin rubiyyatin/
kalau ada temanku yang memberikan aku lima ribu rupiah saja'
3.
/Layta s-sabab ya'udu ghadan/
"Semoga masa muda dapat terulang besok"
An-nida
An-nida adalah panggilan kepada seseorang pada mulanya annida' ini
ditujukan hanya
untuk memanggil seseorang saja, namun pada tahapan selanjutnya An-
nida' ini ditujukan pula
untuk menyeru ;
An-nida' (seruan) menggunakan huruf Nida' yaitu:
Ỉ/hamzah/’hai', يﺁ/ay/'hai' ,mari, ﺂﻳ/ya/'hai,mari, ي/ya
/و/wa/ ي׀/ayya/ﺂﻳ ﺎﺤ/hayya/.
Semua ini
digunakan untuk menyeru orang yang dekat. أ/hamzah, digunakan untuk menyeru orang yang
dekat
يأ/Ay/menyeru kepada yang dekat dihati dan selalu hadir dalam
benaknya. Adakalanya
diperuntukkan يأ/
/Ay/ dan أ/hamzah/untuk memanggil orang yang
tinggi martabatnya, dengan
penuh kesopanan.
ﺎﻳ/ya/digunakan
untuk yang dekat meskipun tidak nampak, atau pada tempat yang jauh.
Contoh: بﺮ ﺎﻳ/Ya rabbi/'Ya Tuhanku.
4. KEBERADAAN ILMU BALAGHAH SEBAGAI CABANG ILMU BAHASA
Ilmu Balaghah yang sekilas berbeda dengan ilmu-ilmu babasa yang
lain seperti ilmu
Nahwu dan Sarf, Qira'ah dan muthala'ah, berbeda dengan Dirasatu
1-mu'jamiyah dan ilmu asashaut,
namun
bila
dianalisis
secara seksama maka
dapat diperincikan
keterangan mengenai
keterkaitan
ilmu
Al-Balaghah
dengan
ilmu-ilmu
bahasa
yang
lain.
Keberadaan ilmu Balaghah sebagai salah satu dari cabang ilmu
bahasa akan tampak
jelas jika diperbandingkan antara ilmu-ilmu tersebut.
Keberadaan ilmu Balaghah sebagai ilmu Bahasa Arab tahapan awal
terlihat pada
kelompok llmu Bayan.
Dalam ilmu Bayan terdapat kalam (kalimat yang sempurna) yang
terdapat juga dalam
ilmu Nahwu yang disebut dengan al-jumlatu I-mufidatu (kalimat yang
sempurna)
4.1. Keberadaan llmu Balaghah Dari Segi Uslub.
Uslub adalah gaya bahasa atau susunan kalimat yang dituturkan
dengan baik, sehingga
membuat pembaca atau pendengar terkesima.
Uslub dalam ilmu Balaghah dapat dipadankan dengan Ragam Bahasa
Indonesia dari sisi
Linguistik/ tata bahasa Indonesia.
Ragam bahasa yang tercermin dari ilmu Balaghah itu terdiri dari :
- Ragam Bahasa ilmiah
- Ragam Bahasa Sastra
© 2004 Digitized by USU digital library
14
- Ragam Bahasa Retorik (Pidato)
Ragam bahasa Ilmiyah adalah ragam bahasa yang dipergunakan untuk
menjelaskan
sesuatu secara ilmiyah, ragam bahasa ini digunakan dikalangan
pendidik, ilmuwan,
cendikiawan, dalam berbagai disiplin ilmu.
Ragam bahasa sastra adalah ragam bahasa yang digunakan untuk
mengungkapkan
bahasa yang indah mempunyai nilai estetik tinggi, ada kalanya
mempunyai penyimpangan dari
peraturan Nahwu dan Sarf.
Ali Jarim menyebutkan bahwa : "Uslub Adabi adalah Ragam
bahasa yang sulit yang
sangat memerlukan keterampilan dan pemikiran yang khusus dan
memerlukan hayalan
sipenterjemah untuk mengekspresikannya. (Ali Jarim. Tanpa taboo,
hal 16).
Ragam bahasa Retorik adalah ragam bahasa yang dipergunakan oleh
para Da'I, ahli
pidato (orator), ditujukan untuk terampil berargumentasi.
Ragam bahasa Retorik ini di bahas pada ilmu Balaghah dalam
kelompok ilmu Badi'. (Alhasymy
dalam Muqaddimah
jawahiri
1- Balaghah)
Berpidato merupakan suatu keterampilan yang sangat berharga
didalam khalifahkhalifah
masyarakat Arab
bahkan
sebelum
datangnya Islam.
Untuk menyusun kalimat dengan berbagai uslub yang telah disebutkan
tadi diperlukan
llmu Tata Bahasa Arab sintaksis Arab ini akan memberikan satu
rumusan tentang bentuk
kalimat Islamiyah, bentuk kalimat Fi'liyah dan bentuk Syibhu
Jumlah.
Dari struktur Fi’liyah
dikenal adanya subjek dan predikat atau dari balaghah yang
disebut mahkum ‘alayhi dan Mahkum Fih.
Demikian juga struktur
jumlah islamiyah akan terdiri dari mahkum alayhi dan mahkum
fih.
© 2004 Digitized by USU digital library
15
4.2. Keberadaan Balaghah dari Segi Struktur
llmu Balaghah memperkenalkan banyak struktur kalimat dan dari segi
isi (makna
kalimat). Struktur kalimat dalam ilmu Balaghah adakalanya terdiri
dari ismiyah dan adakalanya
jumlah fi'liyah.
Struktur jumlah ismiyah sama dengan struktur yang ada pada jumlah
al kahabari.
Pengenalan tentang mubtad' dan khabar (jumlah ismiyah) yang
terdiri dari jumlah musnad dan
musnad ilayhi.
Struktur yang terbalik dapat saja dalam ilmu balaghah jika kalimat
tersebut hasil karya
sastra. Hal seperti ini menandakan adanaya satu kebebasan memilih
struktur bagi para
sastrawan.
Kesamaan struktur Amar antara ilmu Nahwu dan ilmu Balaghah
terlihat jelas dari cara
pembentukan amar, yaitu :
- Dibentuk dari fi'il amar asli dengan makna perintah secara
hakiki (sebenarnya).
- Bentuk fi'il Mudhari' didahului lam Amar
- Bentuk Ism Fi'il Amar
- Bentuk masdar sebagai ganti fi'il Amar
Untuk kesamaan struktur ini para ahli balaghah menuliskan sama
dalam buku buku
mereka, tidak ada yang menuliskan adanya satu perbedaan struktur.
Struktur nahyi pads ilmu Balaghah juga "mempunyai kesamaan
dengan ilmu Nahwu
demikian juga dengan struktur Istifham, struktur Tamanny.
Urgensi illmu Balaghah akan sangat terasa apabila diperhatikan
kegunaannya ketika
menterjamahkan kalimat. Karena dalam Balaghah ada arti leksikal
dan ada arti gramatikal.
Suatu contoh dapat diperhatikan :
/la takullahuma uffun' /"janganlah kau katakan ah, pada kedua
orang tua mu".
Kalau seseorang tidak menggunakan ilmu balaghah maka ia tidak akan
sampai kepada
arti sebenarnya yang terkandung dalam kalimat itu. Makna
sebenarnya jauh lebih dalam dari
apa yang diterjemahkan ini.
Makna tersirat (tersembunyi) dari kalimat diatas adalah sedangkan mengucapkan
ah
saja dilarang dalam Islam apa lagi berbuat kasar dan tidak baik
terhadap orang tua.
Sindiran-sindiran halus dari bahasa Al-Quran akan terasa membekas
di dalam benak
seseorang, apabila ia telah mengetahui balaghah dan dasar-dasar
ilmu terjemah.
5. KESIMPULAN
Sebagai kesimpulan dari makalah ilmiyah ini adalah :
llmu balaghah yang semula oleh sementara orang dikategorikan
kepada ilmu sastra,
tetapi ilmu balaghah itu adalah sintaksis Arab.
Sebagai ilmu semantik tentu ia berkaitan erat dengan ilmu
Sintaksis ilmu Nahwu dan
ilmu sarf.
Keberadaan ilmu balaghah sebagai ilmu bahasa Arab akan terlihat
dengan jelas jika
dipergunakan kaca mata balaghah, dengan demikian akan mudah pula
untuk mengerti pesan
yang terkandung dalam serangkaian kalimat, baik berbentuk sastra
ataupun yang bukan
sastra.
5.1. Saran
Setiap orang akan merasa kesukaran apabila menggunakan bahasa yang
bukan bahasa
ibunya.
Kendala untuk mengerti ilmu Balaghah atau bahasan mengenai sastra
akan lebih sulit
dimengerti apabila tidak mempunyai dasar pengetahuan awal. Sebagai
staf pengajar penulis
menyarankan agar setiap, mahasiswa mempelajari tentang ilmu nahwu
dan Morfologi Arab
dengan baik agar lebih mudah menyerap, terutama ilmu balaghah yang
dianggap sulit itu akan
lenyap sendiri.
© 2004 Digitized by USU digital library
16
DAFTAR PUSTAKA
Abu Zayid Zayad, Abdu al-Roziy, Siria 1992. Tatawuru Mafhum
Al-Balaghah.
AminAhmad. Fairu I-Islam.
Kairo, 1955
Ash-shabuny, Muhammad Ali. Rawai'I-Bayani Tafsiru I-ayati I-ahkami
mina I-Ourani. Makkah
Al-Mukarramah, 1979
Ash-shabuny, Muhammad Ali. 'Ijazu l-Bayani fi suwari I-Qurani.
Maktabah Al-Ghazali Makkah,
1979.
Al- Hasyimi, Saleh Muhammad AI-Balaghahtu, l-wadhihatu King Ibnu
Suud Riyadh, 1987.
Basyir Hasan Kamal, DR Binau s-surati I-fanniyah fibayani I-arabi.
Damaskus Bairut. 1987.
Jama' Syari,
Balaghah. Bairot. Tanpa Tahun.
George. M. Abdul Masih. Dictionarv of Arabic Grammar Libanon.
1985.
Ridwan Muhammad Mustafa, dkk. At-tamhidu fi n-nahwi wa s-sarfi.
Jami'ah kari YunusLibanon,
1973.
Said Fuad. Pengantar Sastra Arab. Pustaka Babussalam Medan, 1984.
Siregar Said Ahmad. Fakultas Sastra USU. Sejarah Study Bahasa
Indonesia. Fakultas Sastra
USU 1982.
Watt Mentegomerry. Kejavaan Islam. Tiara Wacana Yogya 1990.
© 2004 Digitized by USU digital library
17
Tidak ada komentar:
Posting Komentar