PEMIKIRAN IBNU KHALDUN RELEVENSINYA TERHADAP PENDIDIKAN MASA
KINI
(Guna memenuhi tugas mata
kuliah Studi Tokoh Pendidikan Islam)

DISUSUN OLEH
QURROTUL AENI
NIM: A.111.0646
DOSEN PEMBIMBING
Dr.Mudzakir Ali,MA
PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS WAHID HASYIM SEMARANG
TAHUN 2012
IBNU
KHALDUN DAN PEMIKIRANNYA TENTANG PENDIDIKAN RELEVENSINYA DENGAN PENDIKAN MASA
KINI
PENDAHULUAN
Rasanya tidaklah berlebihan untuk
mengatakan bahwa falsafah tentang segala sesuatu bukan tidak lebih
penting dari sesuatu itu sendiri, karenafalsafahlah yang akan menentukan kemana
tujuan darisesuatu tersebut diarahkan, karena ia merupakan ide atau pembahasan
yang sistematis tentang permasalahan yang sedang dihadapi,
sebagaimana pula masalah pendidikan. Brodi, seorang pakar filsafat
pendidikan, sebagaimana dikutip Muhaimin dalam bukunya Wacana Pengembangan
Pendidikan Islam, mengatakan bahwa tugas filsafat pendidikan Islam adalah
menyelidiki suatu persoalan metafisika, epistemologi, etika, logika, estetika,
maupun kombinasi dari semuanya. Dalam kaitannya dengan pemikiran Ibnu Khaldun mengenai
filsafat pendidikan, dapat dikatakan bahwa pemikiran yang lahir pada
pertengahan abad XIV itu telah mengakomodir ide-ide falsafah pendidikan
yangmasih aktual sampai hari ini. Hal itu sebagaimana dikatakan Ibnu Khaldun
pada bab IV dari Muqaddimahnya, bahwa ilmu pendidikan bukan sebagai suatu
aktifitas yang semata-mata bersifat pemikiran dan perenungan, yang jauh
dari aspek-aspek pragmatis di dalam kehidupan, akan tetapi ia merupakan gejala
konklusif yang lahir dari terbentuknya masyarakat dan perkembangannya dalam
tahapan kebudayaan. Dengan demikian pendidikan merupakan sebuah keniscayaan
dalam sebuah masyarakat manusia, dan ia akan selalu berkembang sesuai
perkembangan dan kemajuan peradaban manusia.
Karena disadari atau tidak,
sesungguhnya manusia senantiasa berada dan tidak mungkin bisa keluar dari
ruangan pendidikan yang disebut “dunia”, karena ketika sekolah dikatakan
sebagai lembaga pendidikan formal, maka sesungguhnya “dunia” merupakan sekolah
terbesar bagi manusia, karena di dalamnya dan dari padanya manusia dapat
memperoleh banyak hal tentang pengetahuan kehidupan. Karena itu Ibnu Khaldun
berkeyakinan bahwa manusia yang tidak sempat memperoleh pendidikan dari
kedua orang tuanya, maka zamanlah yang akan mendidiknya.
Oleh karena pendidikan sesungguhnya
tidak pernah mengenal batas usia, tempat dan waktu, sebab sepanjang
kehidupannya pada hakekatnya manusia akan selalu berpikir, berkreasi,
beraktifitas, memiliki pengalaman-pengalaman, serta tujuan-tujuan hidup yang
akan dicapai dengan cara-cara itu atau metode tertentu, yang menurut Ibnu
Khaldun tujuan itu adalah kebahagiaan dunia akhirat.
Berangkat dari uraian tersebut di
atas, tulisan ini akan mencoba mendiskripsikan pandangan dan ide-ide Ibnu
Khaldun tentang falsafah pendidikan yang secara implisit mengacu kepada tujuan
sebagaimana tersebut di atas.
PEMBAHASAN MASALAH
A. BIOGRAFI DAN KARYANYA IBNU KHALDUN
1. Asal Usul dan Pendidikannya
2. Perjalanan
dan Pengalaman
Hidup Ibnu Khaldun
setelah Usia Dewasa
3. Kepribadian dan Corak Pemikiran Ibnu Khaldun
4. Karya-Karya Ibnu Khaldum
B. PEMIKIRAN IBNU KHALDUN RELEVANSINYA
DENGAN PENDIDIKAN MASA KINI
1. Pengertian dan
Tujuan Pendidikan Menurut
Ibnu Khaldun
2. Pandangan Ibnu Khaldun mengenai Kurikulum dan
Materi Pendidikan
3. Pandangan Ibnu Khaldun tentang
Metode Pendidikan
A. Biografi Ibnu Khaldun.
1. Asal Usul dan Pendidikannya
Ibnu
Khaldun, nama lengkapnya adalah Abdurrahman Zaid Waliuddin bin Khaldun, lahir
di Tunisia pada tanggal 1 Ramadhan 732 H, bertepatan dengan tanggal 27 Mei 1332
M. Nama kecilnya adalah Abdurrahman, sedangkan Abu Zaid adalah
nama panggilan keluarga, karena dihubungkan dengan anaknya yang sulung. Waliuddin
adalah kehormatan dan kebesaran yang dianugerahkan oleh Raja Mesir sewaktu
ia diangkat menjadi Ketua Pengadilan di Mesir.[1]
Adapun asal-usul Ibnu
Khaldun menurut Ibnu Hazmulama Andalusia yang wafat tahun 457 H/1065
M,disebutkan bahwa: Keluarga Ibnu Khaldun berasal dari Hadramaut di Yaman, dan
kalau ditelusuri silsilahnya sampai kepada sahabat Rasulullah yang terkenal
meriwayatkan kurang lebih 70 hadits dari Rasulullah, yaitu Wail
bin Hujr. Nenek moyang Ibnu Khaldun
adalah Khalid bin Usman, masuk Andalusia (Spanyol) bersama-sama para
penakluk berkebangsaan Arab sekitar abad ke VII M., karena tertarik
oleh kemenangan-kemenangan yang dicapai oleh tentara Islam. Ia menetap di
Carmona, suatu kota kecil yang terletak di tengah-tengah antara tiga kota yaitu
Cordova, Granada dan Seville, yang dikemudian hari kota ini menjadi pusat
kebudayaan Islam di Andalusia.[2]
Pada abad ke VII M,
anak cucu Khaldun pindah ke Sevilla yang pada masa pemerintahan Amir Abdullah Ibnu
Muhammad dari Bani Umayyah (274-300 H.) Andalusia dalam suasana perpecahan dan
perebutan kekuasaan dan yang paling parah adalah Sevilla. Dalam suasana seperti
itu anak cucu Khaldun yang bernama Kuraib mengadakan pemberontakan bersama
Umayyah Ibnu Abdul Ghofir, dia berhasil merebut kekuasaan dan mendirikan
pemerintahan (sebagai Amir)[3]
di Sevilla. Akan tetapi karena kekejaman dan kekerasannya dia tidak disenangi
rakyat dan akhirnya meninggal terbunuh pada tahun 899 H.
Banu Khaldun tetap
tinggal di Sevilla selama pemerintahan Umayyah dengan tidak mengambil peranan
yang berarti sehingga datangnya pemerintahan raja-raja kecil (al-Thowalif)
dan Sevilla berada dalam kekuasaan Ibnu Abbad. Pada masa itulah bintang
Banu Khaldun meningkat lagi sampai pada masa pemerintahan
Al-Muwahidun. Setelah raja-raja
Thowaif mengalami kemunduran, maka muncullah raja-raja Muwahhidin
menggeser kekuasaan raja-raja Murabbith. Pada pemerintahan Muwahhidun
inilah Banu Khaldun menjalin hubungan dengan keluarga pemerintah, sehingga mereka
mempunyai kedudukan yang terhormat. Tatkala kerajaan Muwahhidin mengalami kemunduran
dan Andalusia menjadi kacau balau,maka Banu Khaldun pindah ke Tunisia pada
tahun 1223 M. Nenek moyang Ibnu Khaldun yang pertama mendarat ke Tunisia adalah
al-Hasan Ibnu Muhammad (kakek keempat Ibnu Khaldun), kemudian disusul oleh
saudara-saudaranya yang lain seperti Abu Bakar Muhammad bin Abu Bakar Muhammad dan lain-lain. Kakek Ibnu
Khaldun itu rata-rata menduduki jabatan penting di dalam pemerintahan
waktu itu. Sedangkan anaknya Abu Abdillah Muhammad (ayah Ibnu Khaldun)
tidak tertarik kepada jabatan pemerintahan, akan tetapi ia lebih
mementingkan bidang ilmu dan pendidikan, sehingga ia dikenal sebagai ahli dalam
bidang ilmu fiqih, meninggal tahun 749 H/1349 M. Ia meninggalkan beberapa orang
anak diantaranya: Abu Yazid Waliuddin (Ibnu Khaldun), Umar, Musa,Yahya dan
Muhammad.[4]
Pada waktu itu Ibnu Khaldun baru berusia 18 tahun.
Adapun
pendidikan yang diperoleh Ibnu Khaldun diantaranya adalah pelajaran agama,
bahasa, logika dan filsafat. Sebagai gurunya yang utama adalah ayahnya sendiri,
di samping Ibnu Khaldun juga menghafal al-Qur’an, mempelajari fisika dan matematika
dari ulama-ulama besar pada masanya. Di antara guru-guru Ibnu Khaldun adalah
Muhammad bin Saad Burral al-Anshari, Muhammad bin Abdissalam, Muhammad bin
Abdil Muhaimin al-Hadrami dan Abu Abdillah Muhammad bin Ibrohimal-Abilli. Dari
merekalah Ibnu Khaldun mendapatkan berbagai macam ilmu pengetahuan. Pada
tahun 1349 setelah kedua orang tua Ibnu Khaldun meninggal dunia Ibnu Khaldun
memutuskan untuk pindah ke Marokko, namun dicegah oleh kakaknya, baru tahun1354
Ibnu Khaldun melaksanakan niatnya pergi ke Marokko, dan di sanalah Ibnu Khaldun
mendapatkan kesempatan untuk menyelesaikan pendidikan tingginya. Selama
menjalani pendidikannya di Marokko, ada empat ilmu yang dipelajarinya secara mendalam
yaitu: Kelompok bahasa Arab yang terdiri dari: Nahwu, shorof, balaghoh,
khitabah dan sastra. Kelompok ilmu syari’at terdiri dari: Fiqh (Maliki),tafsir,
hadits, ushul fiqh dan ilmu al-Qur’an. Kelompok ilmu ‘aqliyah (ilmu-ilmu filsafat)
terdiri dari: filsafat, mantiq, fisika, matematika, falak, musik, dan sejarah.
Kelompok ilmu kenegaraan terdiri atas:ilmu administrasi, organisasi, ekonomi
dan politik. Dalam sepanjang hidupnya Ibnu Khaldun tidak pernah
berhenti belajar, sebagaimana dikatakan olehVon Wesendonk: bahwa sepanjang
hidupnya, dari awal hingga wafatnya Ibnu Khaldun telah dengan sungguh-sungguh
mencurahkan perhatiannya untuk mencari ilmu. Sehingga merupakan hal yang
wajar apabila dengan kecermelangan otaknya dan didukung oleh kemauannya
yang membaja untuk menjadi seorang yang alim dan arif, hanya dalam waktu kurang
dari seperempat abad Ibnu Khaldun telah mampu menguasai berbagai ilmu
pengetahuan.
2. Perjalanan
dan Pengalaman
Hidup Ibnu Khaldun
setelah Usia Dewasa
Memasuki tahun ke-20
dari usianya, Ibnu Khaldun mulai tertarik dengan kehidupan politik,
sehingga pada tahu 755 H./1354 Ml., karena kecakapannya Ibnu Khaldun
diangkat menjadi sekretaris Sultan di Maroko, namun jabatan ini tidak lama dipangkunya,
karena pada tahun 1357 Ibnu Khaldun terlibat dalam persekongkolan untuk
menggulingkan Amir bersama Amir Abu
Abdullah Muhammad, sehingga ia ditangkap dan dipenjarakan. Tetapi tidak lama kemudian
dia dibebaskan, yang kemudian pada tahun itu juga setelah Sultan meninggal
dunia dan kekuasaan direbut oleh Al-Mansur bin Sulaiman dari menterinya
Al-Hasan, maka Ibnu Khaldun menggabungkan diri dengan Al-Mansur dan dia diangkat
menjadi sekretarisnya. Namun tidak lama kemudian Ibnu Khaldun meninggalkan
Al-Mansur dan bekerjasama dengan Abu Salim. Pada waktu ituAbu Salim
menduduki singgasana dan Ibnu Khaldun diangkat menjadi sekretarisnya dan dua
tahun kemudian diangkat menjadi Mahkamah Agung. Disinilah Ibnu Khaldun
menunjukkan prestasinya yang luar biasa, tetapi itupun tidak berlangsung lama, karena
pada tahun 762 H./1361 M., timbul pemberontakan di kalangan keluarga
istana, maka pada waktu itu Ibnu Khaldun meninggalkan jabatan yang
disandangnya.[5]
Rupanya tidak tahan
lama Ibnu Khaldun bergelut dengan dunia politik dia ingin kembali ke dalam dunia
ilmu pengetahuan yang pernah lama digelutinya. Akhirnya dia memutar haluan
bertolak ke daerah Banu Arif bersama keluarganya, dan di tempat inilah Ibnu
Khaldun dan keluarganya baru merasa hidup tenang dan tentram jauh dari
kemunafikan politik. Dalam ketenangannya itu Ibnu Khaldun merenung ingin
menumpahkan semua pengalamandan liku-liku kehidupannya. Maka dari sinilah ia mengalihkan
perjalanan hidupnya dari petualang politik kembali kepada dunia ilmu
pengetahuan, dan mulailah ia menyusun karya besarnya yang kemudian dikenal
dengan “Muqoddimah Ibnu Khaldun”.Selama empat tahun tinggal di daerah Banu Arif
IbnuKhaldun juga menyusun sejarah besarnya Al-‘Ibar,akan tetapi karena
kekurangan referensi maka ia pergike Tunisia, dan disanalah ia menyelesaikan
karyanya. Rupanya ketenangan Ibnu Khaldun terganggu lagi ketika Sultan
mengajaknya untuk mendampingi menumpas pengacau, namun karena Ibnu Khaldun sudah
jenuh dengan kehidupan politik, maka kemudian ia pindah ke Mesir. Di Mesir Ibnu
Khaldun disambut
dengan hangat. Ilmuwan yang sarjana ini sudah tidak asing lagi di sana karena
karya-karyanya sudah tersebar di sana. Sebagai orang baru Ibnu Khaldun langsung
diberi dua jabatan penting yaitu sebagai hakim tinggi dan sebagai guru besar
di perguruan Al-Azhar. Setelah sekian lama berhidmat untuk ilmu dan
mengabdi kepada Afrika Utara dan Andalusia ilmuwan besar dan terkemuka itu meninggal
dunia pada hari Rabu tanggal 25 Ramadhan 808 H. bertepatan dengan tanggal 17 Maret
1406 M. dalam usianya yang ke-76, dan dimakamkan di pekuburan orang-orang sufi
Babul Nashr di Kairo.[6]
3. Kepribadian dan Corak Pemikiran Ibnu Khaldun
Sebagai
seoang pemikir Ibnu Khaldun memiliki watak yang luar biasa yang kadang terasa
kurang baik. Dalam hal ini Muhammad Abdullah Enan melukiskan kepribadian
Ibnu Khaldun yang istimewa itu dengan mencoba memperlihatkan ciri
psikologik Ibnu Khaldun, walaupun diakuinya secara moral ini tidak selalu sesuai.
Menurutnya ia melihat dalam diri Ibnu Khaldun terdapat sifat angkuh dan
egoisme, penuh ambisi, tidak menentu dan kurang memiliki rasa terima
kasih. Namun di samping sifat-sifatnyayang tersebut di atas dia juga mempunyai
sifat pemberani, tabah dan kuat, teguh pendirian sertatahan uji. Disamping
memiliki intelegensi yang tinggi, cerdas, berpandangan jauh dan pandai berpuisi.
Menurut beberapa ahli, Ibnu Khaldun dalam proses pemikirannya mengalami
percampuran yangunik, yaitu antara dua tokoh yang saling
bertolak belakang, Al-Ghozali dan Ibnu Rusyd. Al-Ghozali dan Ibnu
Rusyd bertentangan dalam bidang filsafat. Ibnu Rusyd adalah pengikut
Aristoteles yang setia,sedangkan Al-Ghozali adalah penentang
filsafatAristoteles yang gigih. Ibnu Khaldun adalah pengikut Al-Ghozali dalam
permusuhannya melawan logika Aristoteles, dan pengikut Ibnu Rusyd dalam
usahanya mempengaruhi massa. Ibnu Khaldun adalah satu-satunya sarjana muslim
waktu itu yang menyadari arti pentingnya praduga dan katagori dalam
pemikiran untuk menyelesaikan perdebatan-perdebatan intelektual. Barangkali
karena itulah seperti anggapan Fuad Baali bahwa Ibnu Khaldun membangun
suatu bentuk logika baru yang realistik, sebagai upayanya untuk mengganti
logika idealistik Aristoteles yang berpola
paternalistik-absolutistik-spiritualistik. Sedangkan logika realistik Ibnu
Khaldun ini berpola pikir relatifistik-temporalistik-materialistik.
Dengan
berpola pikir seperti itulah Ibnu Khaldun mengamati dan menganalisa
gejala-gejala sosial beserta sejarahnya, yang pada akhirnya tercipta
suatuteori kemasyarakatan yang modern.2. Karya-karya Ibnu KhaldunIbnu Khaldun
terkenal sebagai ilmuwan besar adalah karena karyanya “Muqaddimah”. Rasanya
memanganeh ia terkenal justru karena muqaddimahnya bukan karena karyanya yang
pokok (al-‘Ibar), namun pengantar al-‘Ibarnyalah yang telah membuat namanya
diagung-agungkan dalam sejarah intelektualisme. Karya monumentalnya itu telah membuat
para sarjana baik di Barat maupun di Timur begitu mengaguminya.
Sampai-sampai Windellband dalam filsafat sejarahnya menyebutnya sebagai“Tokoh ajaib yang sama
sekali lepas, baik dari masa lampau maupun masa yang akan datang”. Sebenarnya
Ibnu Khaldun sudah memulai kariernya dalam bidang tulis menulis semenjak masa
mudanya, tatkala ia masih menuntut ilmu pengetahuan, dan kemudian dilanjutkan
ketika ia aktif dalam dunia politik dan pemerintahan.
4. Karya-Karya Ibnu Khaldun
Adapun
hasil karya-karyanya yang terkenal di antaranya adalah:
1. Kitab Muqaddimah, yang merupakan
buku pertama dari kitab al-‘Ibar, yang terdiri dari bagian muqaddimah
(pengantar). Buku pengantar yang panjang inilah yang merupakan inti dari
seluruh persoalan, dan buku tersebut pulalah yang mengangkat nama Ibnu
Khaldun menjadi begitu harum. Adapun tema muqaddimah ini adalah gejala-gejala
sosial dan sejarahnya.[7]
2. Kitab al-‘Ibar, wa Diwan al-Mubtada’
wa al-Khabar, fi Ayyam al-‘Arab wa al-‘Ajam wa al-Barbar, wa man Asharuhum min
dzawi as-Sulthanial-‘Akbar. (Kitab Pelajaran dan Arsip Sejarah Zaman Permulaan
dan Zaman Akhir yang mencakup Peristiwa Politik Mengenai Orang-orang Arab,
Non-Arab, dan Barbar, serta Raja-raja Besar yang Semasadengan Mereka), yang
kemudian terkenal dengan kitab ‘Ibar, yang terdiri dari tiga buku: Buku
pertama, adalah sebagai kitab
Muqaddimah, atau jilid pertama yang berisi tentang: Masyarakat dan ciri-cirinya
yang hakiki, yaitu pemerintahan, kekuasaan, pencaharian, penghidupan, keahlian-keahlian dan ilmu pengetahuan
dengan segala sebab dan alasan-alasannya. Buku kedua terdiri dari empat jilid,
yaitu jilid kedua, ketiga, keempat, dan kelima, yang menguraikan tentang
sejarah bangsa Arab, generasi-generasi mereka serta dinasti-dinasti mereka. Disamping
itu juga mengandung ulasan tentang bangsa-bangsa
terkenal dan negara yang sezaman dengan mereka, seperti bangsa Syiria, Persia,
Yahudi (Israel),Yunani, Romawi, Turki dan Franka (orang-orangEropa). Kemudian
Buku Ketiga terdiri dari dua jilid yaitu jilid keenam dan ketujuh, yang berisi
tentang sejarah bahasa Barbar dan Zanata yang merupakan bagian dari
mereka, khususnya kerajaan dan negara-negara Maghribi (Afrika Utara).
3. Kitab al-Ta’rif
bi Ibnu
Khaldun wa Rihlatuhu
Syarqon wa Ghorban atau disebut al-Ta’rif,
dan oleh orang-orang Barat disebut dengan Autobiografi, merupakan bagian
terakhir dari kitab al-‘Ibar yang berisi tentang beberapa bab mengenai
kehidupan Ibnu Khaldun. Dia menulis autobiografinya secara sistematis dengan
menggunakan metode ilmiah, karena terpisah dalam bab-bab, tapi
saling berhubungan antara satu dengan yang lain.[8]
B. PEMIKIRAN IBNU
KHALDUN TENTANG PENDIDIKAN
DAN RELEVANSINYA
DENGAN PENDIDIKAN MASA KINI
DENGAN PENDIDIKAN MASA KINI
1.
Pengertian
dan Tujuan
Pendidikan Menurut Ibnu
Khaldun
Pada bab ini akan dibahas
pandangan-pandangan Ibnu Khaldun mengenai pendidikan. Menurut Ibnu Khaldun
dalam awal pembahasannya pada bab empat dari Muqaddimahnya, dia menyatakan
bahwa ilmu pendidikan bukanlah suatu aktivitas yang
semat-mata bersifat pemikiran dan perenungan yang jauh dari aspek-aspek
pragmatis di dalam kehidupan, akan tetapi ilmu dan pendidikan merupakan gejala konklusif
yang lahir dari terbentuknya masyarakat dan perkembangannya dalam tahapan
kebudayaan. Menurutnya bahwa ilmu dan pendidikan tidak lain merupakan gejala
sosial yang menjadi ciri khas jenis insani.
Di dalam kitab
Muqaddimahnya Ibnu Khaldun tidak memberikan definisi pendidikan secara
jelas, ia hanya memberikan gambaran-gambaran secara umum, seperti dikatakan
Ibnu Khaldun bahwa: Barangsiapa tidak terdidik oleh orang tuanya, maka akan
terdidik oleh zaman, maksudnya barang siapa tidak memperoleh tata krama yang
dibutuhkan sehubungan pergaulan bersama melalui orang tua mereka yang mencakup
guru-guru dan para sesepuh,dan tidak mempelajari hal itu dari mereka, maka ia akan
mempelajarinya dengan bantuan alam, dari peristiwa-peristiwa yang terjadi
sepanjang zaman,zaman akan mengajarkannya.
Dari pendapatnya ini
dapat diketahui bahwa pendidikan menurut Ibnu Khaldun
mempunyai pengertian yang cukup luas. Pendidikan bukan hanya merupakan
proses belajar mengajar yang dibatasi olehempat dinding, tetapi pendidikan
adalah suatu proses,di mana manusia secara sadar menangkap, menyerap,dan
menghayati peristiwa-peristiwa alam sepanjangzaman.
Menurut Ibnu Khaldun
bahwa secara esensial manusia itu bodoh, dan menjadi berilmu
melalui pencarian ilmu pengetahuan. Alasan yang dikemukakan bahwa manusia
adalah bagian dari jenis binatang, dan Allah SWT telah membedakannya dengan
binatang dengan diberi akal pikiran. Kemampuan manusia untuk berfikir baru
dapat dicapai setelah sifat kebinatangannya mencapai kesempurnaan, yaitu dengan
melalui proses; kemampuan membedakan. Sebelum pada tahap ini manusia sama
sekali persis seperti binatang, manusia hanya berupa setetes sperma, segumpal
darah, sekerat daging dan masih ditentukan rupa mentalnya.Kemudian Allah
memberikan anugerah berupa pendengaran, penglihatan dan akal. Pada waktu
itu manusia adalah materi sepenuhnya karena itu diatidak mempunyai ilmu
pengetahuan. Dia mencapai kesempurnaan bentuknya melalui ilmu pengetahuan yang
dicari melalui organ tubuhnya
sendiri. Setelah manusia
mencapai eksistensinya, dia siap menerima apa yang dibawa para Nabi dan
mengamalkannya demi akhiratnya. Maka dia selalu berfikir tentang semuanya. Dari
pikiran ini tercipta berbagai ilmu pengetahuan dan keahlian-keahlian.
Kemudian manusia ingin mencapai apa yang menjadi tuntutan wataknya; yaitu ingin
mengetahui segala sesuatu, laludia mencari orang yang lebih dulu memiliki ilmu
ataukelebihan. Setelah itu pikiran dan pandangannya dicurahkan pada hakekat
kebenaran satu demi satuserta memperhatikan peristiwa-peristiwa yang dialaminya
yang berguna bagi esensinya. Akhirnyadia menjadi terlatih sehingga pengajaran
terhadap gejala hakekat menjadi suatu kebiasaan (malakah) baginya. Ketika
itu ilmunya menjadi suatu ilmu spesial, dan jiwa generasi yang sedang tumbuh
pun tertarik untuk memperoleh ilmu tersebut. Merekapun meminta bantuan para
ahli ilmu pengetahuan, dan dari sinilah timbul pengajaran.
Inilah yang oleh Ibnu Khaldun
dikatakan bahwa ilmu pengetahuan merupakan hal yang alami di dalam peradaban manusia.
Adapun tujuan
pendidikan menurut Ibnu Khaldun, bahwa di dalam Muqaddimahnya ia tidak merumuskan tujuan pendidikan
secara jelas, akantetapi dari uraian yang tersirat, dapat diketahui tujuanyang
seharusnya dicapai di dalam pendidikan. Dalamhal ini al-Toumy mencoba
menganalisa isiMuqaddimahnya dan ditemukan beberapa tujuan pendidikan yang
hendak dicapai. Dijelaskanmenurutnya ada enam tujuan yang hendak dicapaimelalui
pendidikan, antara lain:
1. Menyiapkan seseorang dari segi
keagamaan,yaitu dengan mengajarkan syair-syair agama menurutal-Qur’an dan
Hadits Nabi sebab dengan jalan itu potensi iman itu diperkuat, sebagaimana
dengan potensi-potensi lain yang jika kita mendarah daging,maka ia
seakan-akan menjadi fithrah.
2. Menyiapkan seseorang dari segi
akhlak. Hal inisesuai pula dengan apa yang dikatakan MuhammadAR., bahwa hakekat
pendidikan menurut Islam sesungguhnya adalah menumbuhkan dan
membentuk kepribadian manusia yang sempurna melalui budiluhur dan akhlak
mulia.
3. Menyiapkan seseorang dari segi
kemasyarakatanatau sosial.
4. Menyiapkan seseorang dari segi
vokasional atau pekerjaan. Ditegaskannya tentang pentingnya pekerjaan
sepanjang umur manusia, sedang pengajaran atau pendidikan menurutnya
termasuk diantara ketrampilan-ketrampilan itu.
5. Menyiapkan seseorang dari segi
pemikiran, sebabdengan pemikiran seseorang dapat memegang berbagai
pekerjaan atau ketrampilan tertentu.
6. Menyiapkan seseorang dari segi
kesenian, di sinitermasuk musik, syair, khat, seni bina dan lain-lain.
Dari
penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pendidikan bukan hanya
bertujuan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan akan tetapi juga untuk
mendapatkan keahlian. Dia telah memberikan porsi yang sama antara apa yang
akan dicapai dalam urusan ukhrowi dan duniawi, karena baginya pendidikan
adalah jalan untuk memperoleh rizki.Maka atas dasar itulah Ibnu Khaldun
beranggapan bahwa target pendidikan adalah memberikan kesempatan kepada
pikiran untuk aktif dan bekerja,karena dia memandang aktivitas ini sangat
penting bagi terbukanya pikiran dan kematangan individu.Karena kematangan
berfikir adalah alat kemajuan ilmu industri dan sistem sosial.
Dari
rumusan yang ingin dicapai Ibnu Khaldun menganut prinsip keseimbangan. Dia ingin
anak didik mencapai kebahagiaan duniawi dan sekaligusukhrowinya kelak.
Berangkat dari pengamatanterhadap rumusan tujuan pendidikan yang ingindicapai
Ibnu Khaldun, secara jelas kita dapat melihat bahwa ciri khas pendidikan
Islam yaitu sifat moralreligius nampak jelas dalam tujuan pendidikannya,dengan
tanpa mengabaikan masalah-masalah duniawi. Sehingga secara umum dapat kita
katakan bahwa pendapat Ibnu Khaldun tentang pendidikan telah sesuai dengan
prinsip-prinsip pendidikan Islam yakniaspirasi yang bernafaskan agama dan
moral.
2.
Pandangan Ibnu Khaldun mengenai Kurikulum dan
Materi Pendidikan
Sebelum
membahas pandangan Ibnu Khaldun tentang kurikulum perlu kiranya diberikan
pengertian kurikulum pada zamannya, karena kurikulum pada zamannya tentu saja
berbeda dengan kurikulum masa kini yang telah memiliki pengertian yang lebih
luas.Pengertian kurikulum pada masa Ibnu Khaldun masih terbatas pada
maklumat-maklumat dan pengetahuan yang dikemukakan oleh guru atau sekolah
dalam bentuk mata pelajaran yang terbatas atau dalam bentuk
kitab-kitab tradisional yang tertentu, yangdikaji oleh murid dalam tiap tahap
pendidikan.
Sedangkan
pengertian kurikulum modern, telah mencakup konsep yang lebih luas yang di
dalamnya mencakup empat unsur pokok yaitu: Tujuan pendidikan yang ingin
dicapai, pengetahuan- pengetahuan, maklumat-maklumat, data
kegiatan-kegiatan, pengalaman-pengalaman dari manaterbentuknya kurikulum itu,
metode pengajaran serta bimbingan kepada murid, ditambah metode
penilaianyang dipergunakan untuk mengukur kurikulum danhasil proses pendidikan.
Dalam pembahasannyamengenai kurikulum Ibnu Khaldun mencobamembandingkan
kurikulum-kurikulum yang berlaku pada masanya, yaitu kurikulum pada
tingkat rendahyang terjadi di negara-negara Islam bagian Barat danTimur. Ia mengatakan
bahwa sistem pendidikan dan pengajaran yang berlaku di Maghrib, bahwa
orang-orang Maghrib membatasi pendidikan dan pengajaranmereka pada mempelajari
al-Qur’an dari berbagaisegi kandungannya. Sedangkan orang-orangAndalusia,
mereka menjadikan al-Qur’an sebagaidasar dalam pengajarannya, karena
al-Qur’anmerupakan sumber Islam dan sumber semua ilmu pengetahuan.
Sehingga mereka tidak membatasi pengajaran anak-anak pada mempelajari
al-Qur’ansaja, akan tetapi dimasukkan juga pelajaran-pelajaran lain seperti
syair, karang mengarang, khat, kaidah-kaidah bahasa Arab dan hafalan-hafalan
lain.
Demikian
pula dengan orang-orang Ifrikiya, merekamengkombinasikan pengajaran al-Qur’an
denganhadits dan kaidah-kaidah dasar ilmu pengetahuantertentu.
Adapun
metode yang dipakai orang Timur seperti pengakuan Ibnu Khaldun, sejauh
yang ia ketahui bahwa orang-orang Timur memiliki jenis kurikulum campuran
antara pengajaran al-Qur’an dan kaidah-kaidah dasar ilmu pengetahuan. Dalam hal
ini Ibnu Khaldun menganjurkan agar pada anak-anak seyogyanya terlebih
dahulu diajarkan bahasa Arab sebelum
ilmu-ilmu yang lain, karena bahasa adalah merupakan kunci untuk menyingkap
semua ilmu pengetahuan, sehingga menurutnya mengajarkan al-Qur’an
mendahului pengajarannya terhadap bahasa Arab akan mengkaburkan pemahaman anak
terhadapal-Qur’an itu sendiri, karena anak akan membaca apayang tidak
dimengertinya dan hal ini menurutnya tidak ada gunanya.
Adapun
pandangannya mengenai materi pendidikan,karena materi adalah merupakan salah
satu komponen operasional pendidikan, maka dalam hal ini Ibnu Khaldun telah
mengklasifikasikan ilmu pengetahuanyang banyak dipelajari manusia pada waktu
itumenjadi dua macam yaitu:
1. Ilmu-ilmu tradisional (Naqliyah)
Ilmu
naqliyah adalah yang bersumber dari al-Qur’andan Hadits yang dalam hal ini
peran akal hanyalahmenghubungkan cabang permasalahan dengan cabangutama, karena
informasi ilmu ini berdasarkan kepadaotoritas syari’at yang diambil dari
al-Qur’an danHadits.
Adapun
yang termasuk ke dalam ilmu-ilmu naqliyahitu antara lain: ilmu tafsir, ilmu
qiraat, ilmu hadits,ilmu ushul fiqh, ilmu fiqh, ilmu kalam, ilmu bahasaArab,
ilmu tasawuf, dan ilmu ta’bir mimpi.
2. Ilmu-ilmu filsafat atau rasional
(Aqliyah)
Ilmu
ini bersifat alami bagi manusia, yangdiperolehnya melalui kemampuannya untuk
berfikir.Ilmu ini dimiliki semua anggota masyarakat di dunia,dan sudah ada
sejak mula kehidupan peradaban umatmanusia di dunia. Menurut Ibnu Khaldun
ilmu-ilmufilsafat (aqliyah) ini dibagi menjadi empat macamilmu yaitu: a. Ilmu
logika, b. Ilmu fisika, c. Ilmumetafisika dan d. Ilmu matematika. Walaupun
IbnuKhaldun banyak membicarakan tentang ilmugeografi, sejarah dan sosiologi,
namun ia tidak memasukkan ilmu-ilmu tersebut ke dalam klasifikasiilmunya.
Setelah
mengadakan penelitian, maka Ibnu Khaldun membagi ilmu berdasarkan
kepentingannya bagi anak didik menjadi empat macam, yang
masing-masing bagian diletakkan berdasarkan kegunaan dan
prioritasmempelajarinya. Empat macam pembagian itu adalah:
1. Ilmu agama (syari’at), yang terdiri
dari tafsir,hadits, fiqh dan ilmu kalam.
2. Ilmu ‘aqliyah, yang terdiri dari
ilmu kalam,(fisika), dan ilmu Ketuhanan (metafisika)
3. Ilmu alat yang membantu mempelajari
ilmuagama (syari’at), yang terdiri dari ilmu bahasa Arab,ilmu hitung dan
ilmu-ilmu lain yang membantumempelajari agama.
4. Ilmu alat yang membantu mempelajari
ilmufilsafat, yaitu logika.
Menurut
Ibnu Khaldun, kedua kelompok ilmu yang pertama itu adalah merupakan ilmu
pengetahuan yang dipelajari karena faidah dari ilmu itu sendiri.
Sedangkan
kedua ilmu pengetahuan yang terakhir (ilmu alat) adalah merupakan alat
untuk mempelajariilmu pengetahuan golongan pertama.
Demikian
pandangan Ibnu Khaldun tentang materiilmu pengetahuan yang menunjukkan
keseimbanganantara ilmu syari’at (agama) dan ilmu ‘Aqliyah(filsafat). Meskipun
dia meletakkan ilmu agama pada tempat yang pertama, hal itu ditinjau dari segi kegunaannya
bagi anak didik, karena membantunya untuk hidup dengan seimbang namun dia juga meletakkan
ilmu aqliyah (filsafat) di tempat yang mulia sejajar dengan ilmu agama. Menurut
Ibnu Khaldun ilmu-ilmu pengetahuan tersebut dalamkaitannya dengan proses
belajar mengajar banyak tergantung pada para pendidik, bagaimana dan
sejauhmana mereka pandai mempergunakan berbagaimetode yang tepat dan baik.
3.
Pandangan Ibnu Khaldun tentang Metode Pendidikan
Pandangan
Ibnu Khaldun tentang metode pengajaran merupakan bagian dari pembahasan pada
buku Muqaddimahnya. Sebagaimana kita ketahui dalam sejarah pendidikan Islam
dapat kita simak bahwa dalam berbagai kondisi dan situasi yang berbeda,telah
diterapkan metode pengajaran. Dan metode yang dipergunakan bukan hanya metode
mengajar bagi pendidik, melainkan juga metode belajar yang harus
digunakan oleh anak didik. Hal ini sebagaimana telah dibahas Ibnu Khaldun dalam
buku Muqaddimahnya.[9]
Di
dalam buku Muqaddimahnya dia telah mencanangkan langkah-langkah pendidikan
sebagai berikut : Pertama: Didalam memberikan pengetahuan kepadaanak
didik, pendidik hendaknya memberikan problem-problem pokok yang bersifat
umum danmenyeluruh, dengan memperhatikan kemampuan akalanak didik.
Kedua:
Setelah pendidik memberikan problem- problem yang umum dari pengetahuan
tadi baru pendidik membahasnya secara lebih detail danterperinci.
Ketiga:
Pada langkah ketiga ini pendidik menyampaikan pengetahuan kepada anak
didik secaralebih terperinci dan menyeluruh, dan berusahamembahas semua
persoalan bagaimapaun sulitnyaagar anak didik memperoleh pemahaman
yangsempurna. Demikian itu metode umum yangditawarkan Ibnu Khaldun di dalam
proses belajar mengajar.
Disamping
itu Ibnu Khaldun juga menyebutkan keutamaan metode diskusi, karena dengan
metode ini anak didik telah terlibat dalam mendidik dirinya sendiri dan
mengasah otak, melatih untuk berbicara, disamping mereka mempunyai kebebasan
berfikir dan percaya diri. Atau dengan kata lain metode ini dapat membuat
anak didik berfikir reflektif dan inovatif.Lain halnya dengan metode hafalan,
yang menurutnyametode ini membuat anak didik kurang mendapatkan pemahaman
yang benar. Disamping metode yangsudah disebut di atas Ibnu Khaldun
jugamenganjurkan metode peragaan, karena denganmetode ini proses pengajaran
akan lebih efektif danmateri pelajaran akan lebih cepat ditangkap
anak didik. Satu hal yang menunjukkan kematangan berfikir Ibnu
Khaldun, adalah prinsipnya bahwa belajar bukan penghafalan di luar kepala,
melainkan pemahaman, pembahasan dan kemampuan berdiskusi.Karena menurutnya
belajar dengan berdiskusi akanmenghidupkan kreativitas pikir anak,
dapatmemecahkan masalah dan pandai menghargai pendapat orang lain,
disamping dengan berdiskusianak akan benar-benar mengerti dan paham terhadapapa
yang dipelajarinya. Demikian pandangan IbnuKhaldun tentang berbagai masalah
yang berkaitandengan pendidikan. Dan apabila kita cermati satudemi satu
pandangannya tentang kurikulum materi dan
metode pendidikan, maka dapat kita tarik suatukesimpulan bahwa ilmuan yang
diakui Barat danTimur
ini memang memiliki pandangan yang jauh kedepan dalam berbagai masalah
pengetahuan, berfikir universal dan sintetik, sehingga filsafatnya
tentang pendidikan tidak pernah dirasanya usang bahkan banyak diteladani
baik kawan maupun lawan.
KESIMPULAN
Mengakhiri
tulisan tentang pendidikan dalam pandangan Ibnu Khaldun ini ada beberapa
hal yang menurut hemat penulis perlu mendapatkan perhatian.
Yakni
bahwa sebagai ilmuan yang juga sejarawan Ibnu Khaldun telah banyak turut
mewarnai pemikiran-pemikiran tentang pendidikan. Dia telah mencanangkan
dasar-dasar dan sistem pendidikan yang patut diteladani baik di masa lalu
maupun masa sekarang. Dari segi metode, materi, maupun kurikulum yang
ditawarkan secara keseluruhan pantas untuk dikaji dan dicermati.
Walaupun
di dalam menuangkan tentang pandangannya terhadap filsafat pendidikan Ibnu
Khaldun hanya mengemukakan secara garis besar,namun harus diakui bahwa
sumbangannya terhadap proses pendidikan cukuplah besar. Dia telah menyajikan
pandangan-pandangannya dalam bentuk orientasi umum, sehingga dia
mengatakan bahwa aktifitas pendidikan bukan semata-mata bersifat pemikiran
dan perenungan, akan tetapi ia merupakangejala sosial yang menjadi ciri khas
jenis insani, dankarenanya ia harus dinikmati oleh setiap makhluk sosial
yang bernama manusia. Karena orientasi pendidikan menurutnya adalah
bagaimana bisa hidup bermasyarakat.
Sementara
itu Ibnu Khaldun
melihat bahwa penguasaan
terhadap bahasa merupakan prasyarat bagi keberhasilan suatu pendidikan.
Adapun
metode yang ditawarkan Ibnu Khaldunadalah bersifat intelektualitas, dengan
prinsipmemberikan kemudahan-kemudahan bagi anak didik,demi terciptanya tujuan
pendidikan. Karenamenurutnya hakekat
manusia itu adalah jiwanya,sehingga
jiwanyalah yang akan menentukan hakekat perbuatan-perbuatannya, termasuk
perbuatan pendidikan.
DAFTAR
PUSTAKA
Ali Abdul Wahid Wafi,. 1985. Ibnu Khaldun Riwayat dan Karyanya,
Jakarta: Grafiti Press
Ali, A. Mukti. 1970. Ibnu Khaldun dan Asal-Usul Sosiologinya,
Yogyakarta: Yayasan Nida,
Audah, Ali, .1986.Ibnu Khaldun Sebuah Pengantar. Jakarta:Pustaka Firdaus
Barnadib, Imam. 1987. Filsafat
Pendidikan Sistem dan Metode, Yogyakarta: Andi Offset
Khaldun, Ibnu, Muqaddimah Ibnu Khaldun, (terj.)Ahmadi Thoha, Jakarta: Pustaka
Firdaus, 1986.
Raliby, Osman,. 1978.Ibnu Khaldun, Tentang Masyarakatdan Negara,
Jakarta: Bulan Bintang
[1] Ali,
A. Mukti. 1970. Ibnu Khaldun dan
Asal-Usul Sosiologinya, Yogyakarta: Yayasan Nida Hal 75
[2]
Opcit hal 78
[3] Enan,
Muhammad Abdullah. 1982.Ibnu Khaldun: His
Lifeand Work, New Delhi: Kitab Bhavan, 1979 Hal 21
[5] Al-Syaibany,
Omar Mohammad Al-Toumy. 1979. Falsafah
Pendidikan Islam, (terj.) Hasan Langgulung, Jakarta:Bulan Bintang, hal 11
[6] Ali
Abdul Wahid Wafi,. 1985. Ibnu Khaldun
Riwayat dan Karyanya, Jakarta: Grafiti Press, hal 71
[7] Opcit,
hal 75
[8] Khaldun,
Ibnu, Muqaddimah Ibnu Khaldun,
(terj.)Ahmadi Thoha, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1986., hal 17
[9] Barnadib,
Imam. 1987. Filsafat Pendidikan Sistem dan Metode, Yogyakarta: Andi Offset