PEMBARUAN PENDIDIKAN ISLAM SEBAGAI UPAYA MENYIAPKAN SDM YANG
BERKUALITAS
Makalah diajukan guna memenuhi tugas
mata kuliah:
Pemikiran Pembaruan/filsafat
Pendidikan Islam
Dosen Pengampu: Dr. Syakur ,MA.
Disusun Oleh:
Drs. Qurrotul
aeni
Nim.a.1110.646.
PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM
PROGRAM PASCASARJANA
Unwahas Semarang
2011/2012
PEMBARUAN PENDIDIKAN AGAMA
SEBAGAI SULUSI MENYIAPKAN SDM BERKUALITAS
SEBAGAI SULUSI MENYIAPKAN SDM BERKUALITAS
I. Potret Buram Generasi Kini
Memotret generasi kekinian, dari berbagai dimensi,
nampak kurang menyenangkan. Sejak dinyatakan krisis pada tahun 1995, hingga
lebih dari satu dasawarsa berikutnya, nampak sekali bila Indonesia belum
bisa lepas dari apa yang disebutnya dengan “krisis multidimensional” ini.
Fakta-fakta dibawah ini akan membenarkan masih bergelimangnya Indonesia pada
kubangan krisis multidimensional ini.
1.
Kondisi kualitas fisik manusia Indonesia
menurut laporan UNDP, semakin memprihatinkan. Indek pembangunan manusia ditilik
dari tingkat kesehatan, pendidikan dan ekonomi rata-rata penduduk, menempatkan Indonesia pada
peringkat 111 dari 175 negara. Peringkat ini jauh dibawah negara-negara
tetangga; Singapura (25), Brunei Darusalam (31), Malaysia (58), Thailand (76)
dan Filiphina (86). Peringkat Indonesia
bhkan dibawah negara-negara terbelakang seperti Aljazair (108),
Guinea-Katulistiwa (109) dan Kisgistan (110). (Berita Indonesia,
Juli 2005)
|
Negara
|
Peringkat |
|
Singapura
|
25
|
|
Brunei Darussalam
|
33
|
|
Malaysia
|
58
|
|
Thailand
|
76
|
|
Filiphina
|
86
|
|
Aljazair
|
108
|
|
Guinea-Katulistiwa
|
109
|
|
Kisgistan
|
110
|
|
Indonesia
|
111
|
2. Menurut laporan ISEI (Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia), tahun
2000 dalam soal daya saing bangsa, Indonesia menempati urutan 44 dari 45 negara
berkembang. Tahun 2001, urutan 46 dari 47 negara berkembang. Dalam hal daya
saing SDM, tahun 2000 Indonesia
berada pada posisi 43 dari 45 negara. Tahun 2001, pada posisi 45 dari 47 negara. Tahun 2002, pada posisi 48 dari
49 negara. Dalam hal daya saing untuk menarik investor, Indonesia berada pada
posisi kedua dari bawah. (Berita Indonesia, Juli 2005)
|
Tahun
|
Peringkat
|
Jumlah Negara yang
Disurvey
|
|
2000
|
44
|
45
|
|
2001
|
46
|
47
|
|
2002
|
49
|
49
|
Daya Saing SDM Indonesia
|
Tahun
|
Peringkat
|
Jumlah Negara yang
Disurvey
|
|
2000
|
43
|
45
|
|
2001
|
45
|
47
|
|
2002
|
48
|
49
|
3.
Di seluruh Indonesia
sampai 20 Juni 2005, terdapat 25.467 kasus gizi buruk (busung lapar) yang
menimpa balita. (Harian Rakyat Merdeka, 21 Juni 2005). Bila diusia
balita bergizi buruk, sulit rasanya diusia dewasa akan mampu berprestasi
optimal.
4.
Mantan Menneg Perencanaan Pembangunan
Nasional dan Kepala Bappenas, Sri Mulyani, mengatakan bahwa jumlah keluarga
miskin tahun 2005 tercatat 16,5 juta keluarga. Sedang Badan Pusat Statistik
(BPS), memaparkan jumlah warga miskin saat ini 52 juta orang. Untuk
pengangguran penuh, Ketua Dewan Direktur Center of Information dan Development
Studies (CIDES), Umar Juoro, memperkirakan sebanyak 10,3%. Sedangkan
pengangguran setengah penuh, sekarang ada 31,2%. Kata Iman Sugema dari INDEF
(Institute for Development of Economic and Finance) ini artinya, total
pengangguran di Indonesia
mencapai 40 juta jiwa dari total penduduk yang sekitar 200 juta jiwa. (Harian Republika,
20 Oktober 2005)
5.
Dalam hal hutang, ternyata
jumlanya terus terjadi peningkatan. Tahun 1966, pada akhir masa pemerintahan
Soekarno, tercatat 6,3 miliar dolar AS. Tahun 1998 saat kejatuhan Soeharto
membengkak menjadi 54 miliar dolar AS. Prestasi besar dicatat oleh pemerintah
Habibie sukses menambah hutang 23 milyar dolar AS. Hal yang lebih kurang
serupa, walaupun dengan volume yang kecil, terus berlanjut dalam 3 pemerintahan
berikutnya. Saat ini, secara keselurhan bangsa Indonesia memiliki hutang luar
negeri sebesar 78 miliar dolar AS. Jika ditambah dengan hutang dalam ngeri yang
muncul sejak 1998, yakni yang berjumlah sebesar Rp 630 triliun, saat ini
memiliki hutang sekitar Rp 1.300 triliun. Artinya jika dibagi dengan jumlah
penduduk, setiap manusia Indonesia
rata-rata memiliki hutang sebesar Rp 6,5 juta per kepala. (Revisond Baswir,
dalam “Republika, 17 April
2006)
6. Bila beban hutang begitu besar, ternyata angka korupsi di Indonesia juga
tidak kalah seramnya. Tahun 2006, Indonesia masih tercatat sebagai
negara yang unggul korupsinya. Menurut data Transparency International (TI), Indonesia masih
menempati rangking 130 dari 163 negara yang disurvey. (Harian Jawa Post, November 2006).
Peringkat I (paling korup) ditempati Haiti. Posisi Indonesia tahun 2006 tak
jauh dari rangking 2005 yang masuk 5 besar dari 146 negara. Di kawasan Asia
Tenggara, Indonesia hanya lebih sedikit baik dari Myanmar. Dari laporan TI itu,
Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia hanya 2,7 atau hanya sedikit lebih baik
daripada IPK Myanmar 1,9. (Catatan: Skor IPK adalah 10 menunjukkan negara
tersebut paling bersih dari korupsi, sedangkan yang mendekati angka 0 berarti yang
paling parah).
Negara Paling Korup di Dunia Tahun 2006
|
No
|
Negara |
CPI
|
Rangking
|
|
1.
|
Haiti
|
1,6
|
163
|
|
2.
|
Myanmar
|
1,9
|
160
|
|
3.
|
Iraq
|
1,9
|
160
|
|
4.
|
Bangladesh
|
2,0
|
156
|
|
5.
|
Kamboja
|
2,1
|
151
|
|
6.
|
Pakistan
|
2,2
|
142
|
|
7.
|
Kamerun
|
2,3
|
138
|
|
8.
|
Papua Nugini
|
2,4
|
130
|
|
9.
|
Indonesia
|
2,4
|
130
|
|
10.
|
Timor
Leste
|
2,6
|
111
|
7.
Dalam hal moralitas, tidak kalah
memprihatinkan, Iip Wijayanto di tahun 2002, melaporkan penelitian di komunitas
mahasiswa Yogya. Hasilnya 95% lebih mahasiswi Yogya tidak lagi perawan. Sedang
peneliti dokter Muchtadi, M.Sc., Kepala sub Dinas Pelayanan Kesehatan
Masyarakat Jawa Tengah, menyimpulkan bahwa 6% pelajar SLTA di Jawa Tengah
pernah melakukan “pergaulan bebas” (Harian Republika, 12 April 1995).
8.
Dalam hal kemampuan membaca
Al-Qur’an kitab yang diyakini sebagai pedoman oleh mayoritas bangsa Indonesia, juga
sangat memprihatinkan. Yayasan Team Tadarus AMM sebagai Balai Litbang LPTQ
Nasional (2003:1) mencatat data telah terjadi peningkatan ketidakmampuan umat
Islam Indonesia
dalam membaca Al-Qur’an. Bila pada tahun 1950-an, yang tidak mampu membaca
Al-Qur’an hanya 17,5%, tahun 1980-an meningkat menjadi 56% dan di tahun 1988
meningkat lagi menjadi 75%. Kemudian pada bulan September 2004, saya diminta
untuk melakukan test penjajagan kemampuan membaca Al-Qur’an terhadap 60 orang Guru SD
(guru kelas) di Yogyakarta. Diharapkan guru-guru ini bisa membantu guru-guru
agama mengajarkan Iqro’ klasikal di sekolahnya masing-masing. Ternyata, dari 60
guru tersebut, 23 orang (38%) belum bisa membaca Al-Qur’an sama sekali, 18
orang (30%) masih terbata-bata, dan hanya 19 orang (32%) yang telah lancar
membaca Al-Qur’an.
II. Pembaruan Pendidikan Sebagai Solusi
Potret buram generasi masa kini, bila terus dibiarkan
maka tak mustahil dalam waktu yang tidak terlalu lama bangsa Indonesia akan
berantakan. Untuk itu, tugas kita semua untuk seoptimal mungkin memperbaikinya.
Disamping perbaikan untuk generasi sekarang ini, yang
tak kalah pentingnya adalah kita siapkan generasi mendatang agar lebih baik dan
lebih kuat dari yang sebelumnya. Allah mengingatkan:
Artinya:
“Dan hendaklah takut
(kepada Allah) orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang
mereka anak-anak keturunan yang lemah”. (QS. An-Nisa’:9)
Ada 6
kekuatan yang seharusnya kita miliki dan kita siapkan:
1.
Quwwatul ‘aqidah, yaitu kekuatan keimanan (idiologi power)
keyakinan penuh bahwa Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin, agama yang bisa
menyelamatkan dan mensejahterakan seluruh dunia. (QS. Al-Ambiya’:107)
2.
Quwwatul Khuluqi,
yaitu kekuatan akhlak dan moral. Akhlak perilaku kita senantiasa berpedoman
pada akhlakul kharimah yang menjadikan Rasulullah SAW sebagai uswah (QS.
Al-Ahzab:21)
3.
Quwwatul Ilmi, yaitu
kekuatan ilmu dan teknologi. Dengan
iptek suatu bangsa akan menjadi disegani oleh bangsa lain dan dapat melintasi
penjuru langit dan bumi. (QS. Al-Mujadalah:11 dan QS. Ar-Rahman:33)
4. Quwwatul Iqtishodi, yaitu kekuatan ekonomi. Harta memang bukan segala-galanya, tetapi
tanpa harta pelaksanaan jihad menjadi kurang sempurna dan sulit. (QS.
Ash-Shoff:11)
5. Quwwatul
Ijtima’i, yaitu
kekuatan organisasi. Kebenaran yang tidak diorganisir dengan baik akan
dihancurkan oleh kebathilan yang terorganisir. Termasuk dalam kekuatan ini
adalah kekuatan persatuan dan kebersamaan. (QS. Ash-Shodd:4)
6. Quwwatul jismi, yaitu kekuatan badan atau jasmani. Sebab
hanya terletak pada badan yang sehatlah akal seseorang akan terlihat
keberadaannya.
Untuk
memiliki 6 kekuatan diatas, sarana strategisnya adalah melalui “pendidikan dan
pengajaran”. Kita siapkan pendidikan dan pengajaran anak-anak kita dengan
sebaik-baiknya agar menjadi generasi bangsa yang tangguh. Disinilah perlunya
pembaruan pendidikan ini segera untuk dilakukan. Kita perlu belajar banyak dari
negara-negara tetangga, semisal Jepang, Singapura dan Malaysia.
Ketika kota
Hirosima dan Nagasaki luluh lantak dibom atom Agustus 1945 lalu, seorang bijak
bestari Jepang segera bertanya apakah masih ada guru yang tersisa? Ketika
diketahui masih ada beberapa guru yang hidup, orang bijak itu menyatakan
optimis bangsa Jepang akan segera bangkit dari keterpurukan fisik dan mental.
Sebab hanya gurulah yang akan mampu mendidik generasi baru menjadi lebih baik.
Sampai sekarang orang Jepang sangat hormat pada guru. Satu guru, akan mampu
menghantar sekian puluh orang lain menjadi pintar.
Perdana
Menteri Lee Kwan Yew, pada awal menjabat (50 tahun lalu) menata Singapura
dengan lebih mendahulukan sektor pendidikan. Budget tertinggi pada peningkatan
kualitas guru. Lee Kwan percaya hanya dengan cara itulah, Singapura akan
memiliki generasi muda/baru yang ber-SDM kualitas tinggi. Kini, Lee membuktikan
apa yang diprediksikan. Singapura dengan wilayah yang sekecil itu menjadi
negara makmur dan sejahtera nomor dua di dunia. Semua berkat ‘anak-anak’ yang
40 tahun lalu, dididik. Apa yang ditanam Lee, benar-benar berbuah lezat.
Langkah
Singapura, diikuti Malaysia. Pada pertengahan tahun 1960-an Malaysia mengirim
pada guru untuk belajar di seluruh penjuru dunia. Tentu saja termasuk ke
Indoneisa. Karena kita ‘telat mikir’ maka menjadi seperti kebakaran jenggot –
ketika melihat negara jiran itu kini melesat menjadi negara maju. Sementara
kita tetap terpuruk.
Tegasnya,
kita mesti dan harus membenahi sektor pendidikan ini degan sebaik-baiknya dan
sesegera mungkin. Jadikan sektor pendidikan sebagai pilihan pembangunan yang
utama. Tinggalkan kesalahan masa lalu, disaat awal orde baru dulu, yang telah
menjadikan pertumbuhan ekonomi sebagai pilihan standar pembangunan. Akibatnya
justru kini malah terpuruk dalam krisis multi dimensional yang menyedihkan.
Tengoklah
Jerman. Negara yang kini menjadi negara tujuan belajar ilmu teknik nomor satu
di dunia, dan tujuan belajar nomor tiga setelah Amerika Serikt dan Inggris itu
– sejak zaman dulu, menempatkan fasilitas pendidikan warganya sebagaimana
negara itu memberi fasilitas publik. Guru menjadi profesi yang membanggakan dan
menjanjikan kehidupan intelek, terhormat dan sejahtera. Kenapa Indonesia
tidak?
III. Menyiapkan SDM Sejak Usia Dini
Di atas telah ditegaskan bahwa untuk mengatasi potret
buram generasi masa kini, adalah kita siapkan generasi mendatang menjadi
generasi yang tangguh, generasi yang memiliki SDM yang berkualitas prima,
dengan di tandai oleh dimilikinya 6 kekuatan, yaitu kekuatan (1) aqidah, (2)
moral, (3) iptek, (4) ekonomi, (5) persatuan dan kesatuan, serta (6) sehat
jasmaninya. Untuk itu, semua usaha
pembaruan pendidikan harus difokuskan pada 6 kekuatan ini. Keadaan yang
demikian harus berlangsung sejak usia sedini mungkin.
Tegasnya,
perlu disiapkan SDM yang berkualitas ini sejak anak-anak usia dini. Mengapa?
Ada 2 alasan
mendasar dalam hal ini:
- Secara kuantitas, potensi anak usia dini di Indonesia sangatlah besar. Jika upaya mendidik anak dimulai sejak 0 tahun sampai 6 tahun, maka jumlanya tidak kurang dari 24 juta anak atau 11,6% dari penduduk Indonesia yang berjumlah 206.264.595 (pada tahun 2000). Perkiraan ini didasarkan pada statistik hasil sensus 2000 yang mencatat jumlah penduduk usia 0-4 tahun sebanyak 20.302.376 (10,09%) dan usia 5-9 tahun sebanyak 20.494.091 (10,18%). Dari jumlah tersebut, diperkirakan baru sekitar 5-10% yang terjangkau PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) dalam bentuk penitipan anak, kelompok bermain, TK/RA dan TKA (Dr. Anwar, M.Pd., 2004:2-3). Dari data ini, menunjukkan bahwa sebagian besar potensi kuantitas anak usia dini belum tersentuh oleh PAUD, apalagi oleh pendidikan yang berkualitas.
- Secara kualitas, anak usia dini merupakan usia yang sangat potensial untuk dididik. Pendidikan anak usia dini merupakan fondasi bagi dasar kepribadian anak. Bila ia mendapatkan pendidikan bermutu secara cukup dan benar, bisa diharapkan kelak ia akan menjadi generasi yang berkepribadian unggul. Memang, sebagaimana kata Sutari Imam Barnadib (1987:78), bayi yang baru lahir merupakan makhluk yang tidak berdaya, namun ia dibekali dengan berbagai kemampuan yang bersifat bawaan, antara lain kemampuan untuk bereksplorasi dan beremansipasi. Kedua kemampuan ini, pada anak usia 0-8 th, berkembang dengan sangat luar biasa. Itulah sebabnya, sebagaimana kata Dra. Hibana S Rahman, M.Pd. (2002:5), usia ini disebut sebagai “Golden Age” (usia emas). Lebih lanjut dia mengatakan bahwa ditinjau dari perkembangan otak manusia, maka tahap perkembangan otak pada usia dini menempati posisi yang paling vital, yakni meliputi 80% perkembangan otak. Lebih jelasnya, bayi lahir telah mencapai perkembangan otak 25% orang dewasa. Untuk mencapai kesempurnaan perkembangan otak manusia 50% dicapai hingga usia 4 th, 80% hingga usia 8 tahun dan selebihnya diproses hingga anak usia 18 tahun.
Dengan
demikian, bila penyiapan SDM yang berkualitas ini dimulai sejak usia dini, maka
tentunya kita tidak akan kehilangan momentum yang sangat tepat dan strategis
ini.
IV.
Penutup
Begitulah pembaruan pendidikan mesti harus dilakukan,
hal ini bila ingin mewujudkan generasi yang memiliki SDM berkualitas. Dan hanya
dengan SDM yang unggul inilah maka bangsa Indonesia akan mampu untuk terus
eksis di tengah persaingan bangsa-bangsa global sekarang ini.
Namun satu hal yang harus disadari bahwa keberhasilan
pembaruan pendidikan itu ditentukan oleh banyak faktor. Faktor guru sebagai
agent pembaruan itu sendiri, kurikulum yang ada, metode dan sistem pendidikan
yang dianut, dan yang tidak kalah pentingya adalah kemauan semua pihak dari
kita bersama.(pak Pauuuuuuuuud)
DAFTAR
PUSTAKA
Anwar, Dr., M.Pd. – Arsyad Ahmad, Ir. M.Pd.
2004 Pendidikan Anak Usia Dini. Bandung: Alfabeta, CV.
Chairuddin Hadhiri, SP.
1993 Klasifikasi
Kandungan Al-Qur’an. Jakarta: Gema Insani Press.
Departemen
Agama
1997 Al-Qur’an dan
Terjemahannya. Jakarta: PT. Bumi Restu.
Departemen Pendidikan
Nasional
2001 Pedoman
Penyelenggaraan TK Alternatif Model TK Al-Qur’an. Jakarta: Proyek
Pengendalian Mutu Taman Kanak-Kanak Depdiknas.
Hibana, S.
Rahman, M.Pd.
2002 Konsep Dasar Pendidikan
Anak Usia Dini. Yogyakarta: PGTKI/Press.
M. Budiyanto,
H. Drs.
2003 Profil
Ustadz Ideal. Yogyakarta: Balitbang LPTQ Nasional.
Muhammad Ali
Ash-Shobuni
2001 Ikhtisar
Ulumul Qur’an Praktis (Terjemahan). Jakarta: Pustaka Amani.
Muhammad Jamal
Zeeno
2005 Resep
Menjadi Pendidik Sukses (Terjemahan). Bandung: Hikmah.
Muhammad Nur
Abdul Hamid
2004 Mendidik
Versi Rasulullah SAW (Terjemahan). Yogyakarta: Darussalam.
Sri Harini,
S.Ag., M.Si.
2003 Mendidik
Anak Sejak Dini. Yogyakarta: Kreasi Wacana.
Sutari Imam
Barnadib, Prof. Dr.
1995 Pengantar
Ilmu Pendidikan Sistimatis. Yogyakarta: Andi Offset.
Team Tadarus
“AMM”
2003 Ringkasan
Pengelolaan, Pembinaan dan Pengembangan Gerakan M 5A. Yogyakarta: Balitbang LPTQ Nasional Yogyakarta.