Proposal
Tesis
|
Nama
NIM
Prodi
Judul
|
:Qurrotul
Aeni
:
A. 11.10646
:
Pendidikan Agama Islam
: Tipologi Pondok Pesantren dalam Konstelasi Pembaharuan
Pendidikan Islam (Studi pada Pesantren-Pesantren di Kecamatan
Bawang Kabupaten Batang)”.
|
1. Latar
Belakang Masalah
Isu utama pesantren[1]
saat ini, sebagaimana pernyataan Abdul Djamil pada dasawarsa terakhir nampak
sedang memasuki babak baru di tengah-tengah dinamika sosio-kultural masyarakat
Indonesia. Fenomena menguatnya kembali peran pesantren dalam membentuk
kebudayaan bangsa Indonesia menurutnya semakin signifikan.[2]
Babak baru tersebut setidaknya dapat dilacak melalui visi pesantren yang di
samping sebagai lembaga pengemban intelektual, juga sebagai pembinaan moral
masyarakat. Tidak heran pesantren memiliki posisi nilai tawar tinggi karena
berbagai macam pemikiran mencoba berdialektika tarik ulur antara idealitas dan
realitas dalam memenuhi kebutuhan mereka.
Di zaman yang multikompleks ini tentunya pendidikan ideal menjadi sebuah keniscayaan. Namun,
tantangan globalisasi kini semakin tak terkendalikan. Ketegangan antara aspek
teoritis dan praktis atau subjektifitas dan objektifitas pesantren pun muncul.
Akibatnya pendidikan Islam dengan paksa termarginalkan secara
tragis ditengah kemelut krisis globalisme. Oleh karenanya pembaharuan pesantren sebagai jendela
pembaharuan pendidikan Islam diharapkan mampu menjadi pendidkan alternatif bagi
masyarakat.
Sejak awalnya, pesantren merupakan institusi keagamaan
yang tidak bisa lepas dari masyarakat. Secara normatif, lembaga ini berusaha meletakkan visi dan kiprahnya
dalam rangka transformasi sosial dalam bentuk pengabdian untuk membentuk moral
keagamaan dan dikembangkan pada rintisan-rintisan pengembangan yang lebih
sistematis dan terpadu.[3]
Rintisan ini secara substansial berikhtiar memenuhi kebutuhan riil masyarakat
dalam menyesuaikan era globalisasi, seperti pengembangan ekonomi, pelestarian
lingkungan, dan penggunaan teknologi alternatif. Upaya yang dilakukan merupakan
bentuk manifestasi pengabdian pada masyarakat oleh pesantren yang meyakini bahwa
seluruh kehidupan ini adalah sebagai ibadah.[4]
Lembaga ini konon disebut sebagai lembaga pendidikan
Islam tertua, bahkan sempat dikatakan sudah mapan di zaman para wali. Meskipun
demikian, produk pesantren uniknya mampu berkompetitif dalam merespons tantangan
zaman. Sebenarnya faktor apa yang mempengaruhi pesantren
tetap berkembang dinamis meskipun nilai-nilai pesantren secara bersamaan
dipertaruhkan? Bisa jadi pesantren mulai menyadari bahwa penggiatan diri yang
hanya berorientasi pada wilayah keagamaan tidak lagi memadai. Maka
sewajarnya pihak pesantren lebih
proaktif
dengan memberikan ruang untuk pembenahan. Sehingga pembaharuan pendidikan
pesantren dengan senantiasa harus selalu apresiatif sekaligus selektif dalam
menyikapi dan merespons perkembangan yang ada.
Berdasar pembaharuan di atas, Sahal Mahfudz, sebagaimana
dikutip oleh M. Nadjib Hassan, sangat tegas menyatakan eksistensi[5]
pesantren dengan berbagai perkembangan saat ini masih tetap tetap dipertahankan, meski perubahan
atau modernisasi pendidikan Islam diberbagai kawasan dunia muslim terus
dilancarkan. Bahkan pesantren sempat mengalami kejayaan dan kokoh
sejak era 1980-an dengan banyak menarik minat masyarakat dan mendapatkan
perhatian yang signifikan, khususnya di Jawa.[6]
Padahal tidak banyak lembaga
pendidikan tradisional Islam seperti pesantren yang mampu bertahan. Bahkan
kebanyakan punah setelah tergusur oleh ekspansi sistem pendidikan umum.
Namun, bukan berarti pembaharuan ini tanpa masalah.
Fenomena menunjukkan modernitas pesantren ternyata membawa berbagai persoalan
yang cukup ruwet baik ditinjau secara nilai[7]
maupun secara institutif. Institusi pesantren modern contohnya memberikan
peluang sepenuhnya kepada negara untuk campur tangan sehingga dominasi negara
dalam hal ini terasa cukup kuat. Dampaknya orientasi pesantren bukan tertuju
pada nilai melainkan pada capaian yang bersifat formalistik. Akhirnya sebagian
pendidikan pesantren menunjukkan mulai mengarah pada orientasi ijazah semata.[8]
Pesantren dan pembaharuan, jika dihadapkan dengan dinamika
perkembangan pendidikan Islam merupakan dua term yang saat ini sangat menarik
untuk dipelajari. Di samping pembaharuan merupakan kajian yang sangat relevan
bila dikaitkan dengan konteks keindonesiaan yang sedang dihujani arus
modernisasi, pendidikan pesantren saat ini tengah disinyalir merupakan propotipe
model pendidikan yang ideal bagi bangsa indonesia.[9]
Perlunya mengadakan pembaharuan karena pada akhir-akhir ini pesantren dinilai
tidak responsif terhadap perkembangan zaman, artinya sulit atau bahkan tidak
mau menerima perubahan. Pesantren tetap merasa kokoh dengan mempertahankan pola
pendidikannya yang tradisional (salafiyah).
Oleh karena itu, klaim di atas menjadikan
pesantren sebagai institusi yang cenderung ekslusif dan isolatif dari
kehidupan sosial umumnya. Bahkan lebih sinis lagi ada yang
beranggapan pendidikan pesantren tergantung selera kyai. Masih banyak orang
yang memandang sebelah mata terhadap pesantren. Namun, menurut Ismail SM,
justru dengan tradisionalitas pesantren tersebut, tidak bisa dipungkiri,
semakin survive di tengah masyarakat yang mampu bertahan berabad-abad.
Bahkan menurutnya pesantren dianggap sebagai alternatif dalam glamouritas dan
hegemoni modernisme yang pada saat bersamaan mencatat tradisi sebagai masalah.[10]
Setelah melalui
beberapa kurun waktu, pesantren tumbuh dan berkembang secara subur dengan tetap
menyandang ciri-ciri tradisionalnya. Sebagai lembaga pendidikan indigenous,
pesantren memiliki akar sosio-historis yang cukup kuat sehingga membuatnya
mampu menduduki posisi yang relatif sentral dalam dunia keilmuan masyarakatnya
dan sekaligus bertahan di tengah berbagai gelombang perubahan.
Jika diadakan pengamatan lebih lanjut, pembaharuan yang
dilaksanakan di pesantren memiliki karakteristik bila dibandingkan dengan pembaharuan
lainnya. Bahkan tidak salah jika dikatakan punya keunikan tersendiri, yakni
unik pada kealotan dan kuatnya proses tarik ulur antara sifat dasar pesantren
yang tradisional dengan potensi dasar modernisasi yang progesif dan
berubah-ubah. Sehingga ditinjau dari segi komponen pembentuknya, pesantren
mempunyai ragam jenis, mulai dari jenis pesantren besar yang mempunyai program
baik formal maupun non-formal, bahkan memiliki universitas, sampai jenis
pesantren pengajian kitab yang banyak memiliki pondok dan masjid
Pertumbuhan
pesantren yang semula rural based institution, meminjam istilahnya
Azyumardi, menjadi juga lembaga pendidikan urban yang bermunculan juga di
Kabupaten-kabupaten besar. Bahkan tidak sedikit pesantren melakukan sumbangsih
pembaharuan untuk masyarakat luas sehingga lulusan pesantren tetap marketable.[11]
Di antara Kabupaten yang terdapat banyak pesantren adalah di Kabupaten Batang. Salah satu kecamatan yang terdapat banyak
pesantrennya adalah Kecamatan Bawang. Ada hamper 20an pondok pesantren di
Kecamatan Bawang. Dari banyaknya pesantren yang tercatat di atas, tentu
memiliki karakteristik tersendiri jika dilihat dari visi, misi, dan orientasi
keilmuwan pesantren menjadi varian menarik untuk diteliti lebih mendalam.
Fenomena semakin digandrunginya pesantren di tengah kemelut bangsa ini tentu
tidak lepas dari spesifikasi pesantren. Oleh karena itu, spesifikasi pesantren
menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat.
Terlebih jika
penelitian ini dikaitkan dengan agenda pembaharuan pendidikan Islam yang sedang
di gadang-gadang oleh para pembaharunya. Oleh karena itu, penelitian ini
nantinya akan berikhtiar mengumpulkan semua pesantren yang ada di Kecamatan
Bawang, kemudian dikategorisasikan menurut karakternya masing-masing.
Selanjutnya, ditipologikan menurut teori tipologi pembaharuan pesantren yang
digunakan dalam penelitian ini.
Meskipun
demikian, dari banyaknya pondok pesantren tersebut dalam berbagai aspek
setidaknya dapat ditemukan kesamaan-kesamaan umum. Jika ditelusuri lebih
lanjut, maka akan ditemukan variabel-variabel struktural seperti bentuk
kepemimpinan, orientasi pesantren, organisasi pengurus, susunan rencana
pelajaran (kurikulum), karakteristik keilmuwan, dan variabel-variabel lain yang
apabila dibandingkan dengan antara satu pesantren dengan pesantren lainnya,
dari satu daerah ke daerah lainnya, maka akan ditemukan tipologi pondok
pesantren. Di mana dalam penelitian ini diharapkan akan menemukan kontribusi
format pendidikan pesantren ideal sehingga dengan ini dapat merumuskan
bagaimana tipologi pesantren masa depan yang berpotensi menjadi pilihan bagi
masyarakat.
Fenomena pondok pesantren di Kecamatan
Bawang menunjukkan muncul sejumlah
pesantren yang mempunyai keunikan tersendiri. Banyak juga pesantren yang mempunyai
pondokan (asrama), masjid yang besar dan disediakan berbagai ketrampilan di
dalamnya, bahkan banyak juga yang mengembangkan sistem modern. Merekapun juga
tetap eksis menyelenggarakan pengajian kitab kuning. Namun uniknya di Kecamatan
Bawang juga muncul pesantren yang tidak mempunyai pondokan, akan tetapi
memiliki ratusan santri yang berjubel-jubel.
Hal di atas
menunjukkan bahwa realitas tersebut
menjadi fenomena tersendiri bagi khasanah pesantren Batang. Ini artinya, respon
pesantren Batang tunjukkkan dengan berada ditengah-tengah antara menolak dan
mengikuti pola-pola terbaru. Demikian, jenis pesantren yang
menerapkan pola semacam ini dinamakan jenis pesantren berjargon al-muhafadzah ‘ala al-qadim al-shalih
wal-akhdzu bi al-jadid al-ashlah. Pesantren tersebut pada pola pembaharuannya sangat selektif mengadaptasi
pola-pola modern yang bisa mendukung kelanggengan pendidikan pesantren yang
sudah terbina sejak dulu.
Oleh karena itu, sangat penting jika pola dan corak
pembaharuannya, serta arah pendidikan tersebut dicermati lebih seksama dalam
sebuah penelitian yang tujuannya membingkai pola pembaharuan pesantren
tersebut. Fenomena kyai banyak santri tanpa pondok pesantren merupakan realitas
variabel menarik yang layak untuk diteliti. Terlebih diklasifikasikan tipologi
masing-masing dengan harapan agar dapat mempermudah cara pemahaman dalam
mengkajinya.
Dengan mempertimbangkan uraian di atas beserta berbagai
permasalahan yang melatar belakanginya, maka penelitian yang studi pada
pesantren-pesantren di Kecamatan Bawang ini secara tegas dengan judul, “Tipologi Pondok
Pesantren dalam Konstelasi Pembaharuan Pendidikan Islam (Studi pada Pesantren-Pesantren
di Kecamatan
Bawang Kabupaten Batang)”.
2. Rumusan
Masalah
Dari latar belakang
masalah di atas, secara eksplisit penelitian ini bertujuan untuk menjawab,”
bagaimana tipologi pondok pesantren dan pembaharuan pendidikan Islam di Kec.
Bawang Kab. Batang?”
dan secara implisit rumusan tersebut mengandung pertanyaan-pertanyaan :
a.
Bagaimana kondisi objektif pesantren-pesantren di Kecamatan
Bawang Kab.Batang?
b.
Bagaimana eksistensi pembaharuan pendidikan Islam di Kecamatan
Bawang Kab.Batang?
c.
Bagaimana tipologi pondok pesantren dalam konstelasi
pembaharuan pendidikan Islam di Kecamatan Bawang
Kab.Batang?
3. Tujuan
dan Kegunaan Penelitian
a. Tujuan
Dari rumusan masalah di atas, maka tujuan yang hendak
dicapai dari penelitian ini adalah:
1)
Mendeskripsikan tipologi dan karakter pondok pesantren di
Kec. Bawang Kab. batang sebagai pemberdayaan potensi pesantren dengan
menjadikannya sebagai model pendidikan Islam alternatif..
2)
Mencari format tipologi pendidikan ideal di kalangan
pesantren yang memang sistem pendidikan dan tradisi keilmuwannya benar-benar
dibutuhkan oleh masyarakat sebagai sarana untuk membangun jiwa-jiwa kemandirian
yang mempunyai mentalitas ikhlas limardlotillah.
3)
Mengkategorisasikan pesantren-pesantren di Kec. Bawang
Kab. Batang dengan berbagai variannya sesuai dengan tipologi, maupun dengan
visi yang dibawa dalam menegakkan tujuan pendidikan Islam sehingga dapat
mempermudah masyarakat untuk menilai keunggulan dan kekurangannya.
b. Kegunaan
Dengan
memperhatikan hasil penelitian ini secara menyeluruh, maka diharapkan akan
memperoleh manfaat sebagai berikut :
1) Memberikan
kontribusi pada khasanah keilmuan Islam
dalam studi pendidikan Islam, khususnya
tentang sejarah dan perkembangan lembaga pendidikan Islam tradisional, yaitu
pesantren.
2) Memberikan
kontribusi pemikiran kepada praktisi dan atau institusi-institusi yang
berkompeten terhadap dunia pendidikan, khususnya pendidikan Islam.
3) Mempermudah
masyarakat dalam usaha untuk memperoleh informasi tentang tipe-tipe pesantren
yang ada di Kec. Bawang Kab. Batang sehingga lahir amal kebaikan bagi peneliti sendiri
terutama secara khusus, dan secara umumnya semua pihak yang telah membantu,
baik dari kalangan pesantren sendiri maupun sumber-sumber dari luar pesantren.
4. Kajian
Pustaka
Di antara alasan kenapa pesantren selalu menarik untuk
diteliti yaitu : Pertama, pesantren dinilai tetap eksis sejak ratusan tahun di
Indonesia meskipun tergerus oleh arus modernisme.
Kedua, pesantren mempunyai keunikan tersendiri dimana antara
satu pesantren dengan pesantren yang lain mempunyai kekhasan masing-masing
serta sama-sama dapat mempertahankan karakter khasnya.
Ketiga, definisi tentang tradisional dan modern yang ditujukan
pada pesantren kurang komprehensf sehigga menarik untuk terus diteliti.
Keempat, perkembangan pesantren semakin kompleks dan
multidimensi.[12]
Alasan di atas menunjukkan bahwa penelitian yang dimaksud
merupakan tantangan tersendiri karena bahan kajiannya selalu berkembang dinamis
mengikuti deras laju kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu, studi yang peneliti
lakukan ini tak lepas dari jasa-jasa peneliti terdahulu yang telah memberikan
berbagai informasi yang dibutuhkan. Berkaitan dengan fokus kajian penelitian
ini, maka berikut ini peneliti paparkan hasil studi tentang pesantren secara
umum dan pesantren Batang secara khususnya sebagai acuan dalam penelitian ini,
antara lain :
1.
Zamachsjari Dhofier dalam disertasinya yang berjudul The Pesantren
Tradition : A Study the Role of the Kyai in Maintenance of the Traditional
Idiologi of Islam in Java (1980) yang telah di terbitkan oleh LP3ES pada
tahun 1982 dengan judul Tradisi Pesantren : Sudi tentang Pandamgan Hidup
Kyai. Dalam bukunya tersebut, Dhofier sengaja melakukan penelitian tentang
dua pesantren, yakni pesantren Tegalsari di Kabupaten Semarang Jawa Tengah dan pesantren Tebu Ireng di
Jombang Jawa Timur. Di mana kedua pesantren tersebut memang berbeda sistem dan
kelembagaannya. Sehingga dalam proses penelitiannya itu sedikit banyak
ditemukan berbagai fenomena khususnya strategi kyai dalam memelihara tradisi
keilmuwan pesantrennya. Indikasi adanya sebuah network, menurut Dhofier
menyatakan penjagaan tradisi bisa melalui transmisi pengetahuan yang bisa
membentuk genealogi intelektual maupun perkawinan yang endogamous.
2.
Mastuhu, Dinamika
Sistem Pendidikan Pesantren (1994) yang diterbitkan oleh INIS di Jakarta.
Dalam salah satu pemikirannya, Mastuhu berusaha ingin menjelaskan fenomena dari
banyaknya pesantren yang ada di Indonesia di lihat dari tujuan pendidikannya.
Antara satu pesantren dengan pesantren lainnya terdapat perbedaan dalam tujuan,
meskipun semangatnya sama, yakni untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat
serta meningkatkan ibadah kepada Allah SWT. Dengan perbedaan ini, ia menilai
terdapat keunikan masing-masing pesantren dan sekaligus menjadi karakteristik
kemandirian dan independensinya. Dengan meneliti 6 pesantren, ia menggunakan
pendekatan sosiologis-antropologis dan fenomenologis dengan harapan dapat
menembus tabir rahasia nilai-nilai kehidupan pesantren sehingga dapat
mengembangkannya dalam sistem pendidikan nasional.
5. Kerangka
Teori
a. Pondok
pesantren
Zamachsjari Dhofier
mendefinisikan pondok berasal dari bahasa Arab “funduq” yang berarti hotel atau asrama.[13]
Dengan maksud yang sama, Haidar Putra Daulay mengartikan sebagai hotel, tempat bermalam.[14]
Baik Dhofier maupun Haidar menyengaja menggunakan kata hotel karena pondok bagi
santri merupakan tempat tinggal sewaktu tholabul ‘ilmi. Sebuah pesantren idealnya memiliki tempat
tinggal sebagai ajang komunikasi antara santri dan kyai.
Sedangkan
pesantren, Dhofier mengatakan berasal dari kata santri yang diawali dengan
awalan pe dan akhiran an yang berarti sebagai tempat tinggal para
santri.[15]
Sementara Manfred Ziemek, sebagaimana di kutip oleh Haidar Putra Daulay
menguatkan dengan menyatakan secara etimologi pesantren adalah pesantrian yang
berarti tempat santri.[16]
Begitu juga Abdurrahman Wahid, yang di kutip oleh Isma’il SM secara teknis
pesantren dinyatakan sebagai, “a place where santri (student) live”.[17]
Hampir ada kesepakatan mengenai terminologi pesantren ini jika istilah pesantren
digunakan setelah datangnya Islam. Namun, jika memandang kata tersebut sebelum
datangnya Islam, maka Prof. Johns berpendapat santri berasal dari bahasa Tamil,
yang berarti guru mengaji.[18]
Begitu juga C.C Berg menyatakan kata santri berasal dari istilah shastri
yang merupakan bahasa India yang berarti orang yang tahu buku-buku suci agama
Hindu, atau seorang sarjana ahli kitab suci agama Hindu.[19]
Sehingga pondok pesantren berdasar pada pendapat-pendapat di atas bisa
diartikan sebagai tempat tinggal sementara para santri yang jauh dari asalnya.
Ahmad Syafi’i Noer menguatkan tempat tinggal tersebut merupakan tempat di mana
kyai dan santri dapat melakukan pengajian sesuai jadwal yang sudah ditetapkan
oleh kyai. [20]
pondok santri biasanya tidak jauh dengan
ndalem kyainya. Hal
ini bertujuan untuk lebih
mempermudah
mengontrol kehidupan
Sehari-hari para
santri terutama mengenai pendidikan moral. Sehingga titik sentral kyai ini jika
dianalisis lebih lanjut masih sepaham dengan pendapat Dawam Raharjo yang mengartikan
secara institusi pesantren bukanlah sekolah atau madrasah, meskipun dalam
lingkungan pesantren sekarang ini banyak didirikan unit-unit pendidikan
klasikal dan kursus-kursus.[21]
Ketradisionalan pesantren yang bukan sekolah ataupun madrasah
ini menjadikannya sebagai lembaga
pendidikan yang mempunyai karakteristik tersendiri. Untuk mengenai pendapat
mengenai asal usul dan latar belakang berdirinya, ada beberapa pendapat yang
mengatakan : Pertama, transformasi sistem pesantren yang diadakan oleh
orang-orang Hindu di Nusantara. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa jauh
sebelum datangnya Islam di Indonesia, lembaga pesantren sudah ada di negeri
ini. Kedua, pendapat yang
menyebutkan bahwa pondok pesantren berakar pada tradisi Islam sendiri yaitu
tradisi tarekat. Pesantren mempunyai kaitan yang erat dengan tempat pendidikan
yang khas bagi kaum sufi. Pendapat ini berdasarkan fakta bahwa penyiaran Islam
di Indonesia pada awalnya lebih banyak dikenal dalam bentuk kegiatan tarekat.
Hal ini ditandai oleh terbentuknya kelompok-kelompok organisasi tarekat yang
melaksanakan amalan-amalan dzikir dan wirid-wirid tertentu yang dipimpin oleh
seorang kyai. Oleh sebab itu, tujuan umum terbentuknya pondok pesantren adalah
membimbing anak didik untuk menjadi manusia yang berkepribadian Islam yang
dengan ilmu agamanya ia sanggup menjadi mubaligh Islam dalam masyarakat sekitar
melalui ilmu dan amalnya mencetak ulama-ulama yang menguasai ilmu-ilmu agama.
Sedangkan tujuan khususnya adalah mempersiapkan para santri untuk menjadi orang
alim dalam ilmu agama yang diajarkan oleh kiai yang bersangkutan serta
mengamalkannya dalam masyarakat, dan mendidik muslim yang dapat melaksanakan
syariat agama.[22]
b. Tipologi
pondok pesantren
Berbagai pola
pesantren telah diklasifikasikan, baik dari sudut pandang kurikulum, sistem
pendidikan, maupun dari pola pembelajaran yang dilaksanakan oleh pesantren.
Tujuannya tidak lain untuk mempermudah memahami dinamika perkembangan pesantren
secara umum. Dengan pertimbangan efektivitas kondisi pesantren yang ada di
obyek penelitian (Kec. Bawang), maka peneliti menggunakan tipologi dari Kemenag RI. Maka,
untuk lebih jelasnya, di bawah ini akan dipaparkan
pola-pola tersebut.
1)
Tipologi Pesantren
Menurut Kemenag RI
Secara umum jenis
pesantren dapat dideskripsikan menjadi 3 (tiga) tipe, yaitu sebagai berikut :
(a)
Pesantren Tipe A
(1)
Para santri
belajar dan menetap di pesantren
(2)
Kurikulum tidak
tertulis secara eksplisit melainkan memakai hidden curriculum (benak
kyai)
(3)
Pola pembelajaran
menggunakan metode pembelajaran asli milik pesantren (sorogan, bandongan,
dan lain sebagainya)
(4)
Tidak
menyelenggarakan pendidikan dengan sistem madrasah
(b)
Pesantren Tipe B
(1)
Para santri
tinggal dalam pondok/asrama
(2)
Pembelajaran
menggunakan perpaduan pola pembelajaran asli pesantren dengan sistem madrasah
(3)
Terdapatnya
kurikulum yang jelas
(4)
Memiliki tempat
khusus yang
berfungsi sebagai sekolah (madrasah)
(c)
Pesantren Tipe C
(1)
Pesantren hanya
semata-mata tempat tinggal (asrama) bagi para santri
(2)
Para santri
belajar di madrasah/sekolah yang letaknya tidak jauh dengan pesantren
(3)
Waktu belajar di
pesantren biasanya malam/siang hari jika para santri tidak belajar di
sekolah/madrasah (ketika mereka di pesantren)
(4)
Pada umumnya tidak
terprogram dalam kurikulum yang jelas dan baku.[23]
Menurut Zamachsjari
Dhofier, tipologi pesantren dipandang dari segi fisik terbagi menjadi lima
pola, yaitu :
(i)
Pesantren yang terdiri hanya masjid dan rumah kyai.
Pesantren ini masih sangat sederhana dimana kyai menggunakan masjid atau
rumahnya sendiri untuk tempat mengajar. Santri berasal dari daerah sekitar
pesantren tersebut.
(ii)
Pesantren yang terdiri dari masjid, rumah kyai, pondok
atau asrama. Pola ini telah dilengkapi dengan pondok yang disediakan bagi para
santri yang datang dari daerah lain.
(iii) Pesantren yang
terdiri dari masjid, rumah kyai, pondok atau asrama, dan madrasah. Berbeda
dengan yang pertama dan kedua, pola ini telah memakai sistem klasikal, santri
mendapat pengajaran di madrasah. Di samping itu, belajar mengaji, mengikuti
pengajaran yang diberikan oleh kyai pondok.
(iv) Pesantren yang
telah berubah kelembagaannya yang terdiri dari masjid, rumah kyai, pondok atau
asrama, madrasah, dan tempat ketrampilan. Pola ini dilengkapi dengan
tempat-tempat ketrampilan agar santri trampil dengan pekerjaan yang sesuai
dengan sosial kemasyarakatannya, seperti pertanian, peternakan, jahit menjahit,
dan lain sebagainya.
Pesantren modern
yang tidak hanya terdiri dari masjid, rumah kyai, pondok atau asrama, madrasah,
dan tempat keterampilan, melainkan ditambah adanya universitas, gedung
pertemuan, tempat olahraga, dan sekolah umum. Pesantren semacam inilah yang
dinamakan oleh Zamachsjari Dhofier sebagai pesantren khalafi yang telah
memasukkan pelajaran-pelajaran umum, atau membuka tipe sekolah umum di
lingkungan pesantren.[24]
6. Metodologi
a. Pendekatan
Jenis penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah jenis
penelitian lapangan dengan pendekatan kualitatif. Dalam pendekatan ini, penulis
menggunakan pendekatan kualitatif yaitu suatu penelitian yang dilakukan
terhadap data primer
dan sekunder dalam memberikan gambaran secara umum mengenai pola pembelajaran PAI
b. Metode
pengumpulan data
Metode pengumpulan data yang peneliti terapkan antara
lain :
1)
Metode observasi
Maksud dari metode observasi ini adalah untuk mengetahui
bentuk pembaharuan yang dilakukan pesantren melalui observasi secara langsung.
Bentuk observasi yang dilakukan dengan cara partisipasi pasif karena peneliti bukan termasuk komunitas dari pesantren. Oleh karena itu, peneliti termasuk jenis peneliti
pemeranserta sebagai pengamat. Artinya, peranan peneliti
tidak sepenuhnya sebagai pengamat yang melakukan fungsi pengamatan. Peneliti menjadi anggota pura
pura, jadi tidak melebur dalam arti
sesungguhnya.[25]
Meskipun demikian, tidak mengurangi semangat peneliti untuk mengkaji lebih
dalam mengenai tujuan dari penelitian ini.
Secara umum, observasi yang dilakukan peneliti adalah
observasi deskripsi yang bertujuan untuk mengetahui gambaran umum tentang
varian pondok pesantren di Bawang yang meliputi sejarah berdiri, visi dan misi pesantren,
dan aspek pengembangan pendidikan pesantren. Bukan hanya itu, peneliti juga
akan melakukan observasi mengenai pelaksanaan kurikulum, metode pembelajaran,
dan lain sebagainya dengan tujuan untuk mengetahui karakteristik masing-masing
pesantren.Sehubungan dengan peristiwa yang diobservasi, peneliti menggunakan
strategi mengarahkan perhatian dengan fokus pada kepekaan perasaan. Menurut
Patton (1980), konsep demikian dinamakan
dengan sentizising consepts (konsep yang dirasakan). sentizising
consepts berjasa menjadi kerangka dasar untuk menarik yang penting dari
suatu peristiwa, kegiatan, atau perilaku tertentu.[26]
2)
Metode interview
Interview (wawancara) adalah percakapan dengan maksud
tertentu yang dilakukan oleh dua pihak, yaitu interviuwer (pewawancara) sebagai
pengaju pertanyaan dan interviewee (terwawancara) sebagai pemberi jawaban.
Tujuan dari metode interview ini adalah mengkonstruksi mengenai orang,
kejadian, organisasi, perasaan, motivasi, tuntutan, kepedulian, dan lain
sebagainya.[27]
Dalam penelitian ini interview dilakukan agar mendapatkan
data dari sumbernya secara langsung untuk kepentingan validitas data. Interview
peneliti lakukan kepada para pengasuh pondok pesantren, terhadap para pengurus
pondok pesantren yang peneliti rasa kapabel dan kompeten, maupun terhadap
masyarakat sekitar sebagai penunjang data yang peneliti ketahui sebelumnya.
Interview yang dilakukan dengan menggunakan teknik secara
terstruktur maupun tak terstruktur. Secara terstruktur dimaksudkan untuk
mengetahui persamaan antar masing-masing pondok pesantren. Dengan begitu,
peneliti dapat menemukan keunggulan satu pesantren dibanding pesantren yang lain,
dan kelemahan satu pesantren dibanding pesantren yang lain. Sehingga jika data
sudah terkumpul semua, peneliti dapat melakukan kategorisasi menurut tipologi
masing-masing pesantren. Terstruktur artinya peneliti menegaskan berbagai
pertanyaan dan berusaha memunculkan masalah sendiri yang akan diajukan. Bukan
hanya demikian, interview tak terstruktur pun juga peneliti lakukan untuk mengetahui data-data
tunggal yang sebelumnya peneliti belum mendapatkannya.
3)
Metode dokumentasi
Dokumentasi dalam penelitian dimaksudkan untuk mengetahui
dokumen-dokumen penting tentang pondok pesantren yang bersangkutan, baik
mengenai jumlah santri, profil pesantren, bentuk kegiatan, struktur
kepengurusan pondok pesantren, staf pengajar, tradisi keilmuwan yang
dipelajari, dan lain sebagainya. Pengumpulan dokumen penting ini tidak
semata-mata mengumpulkan semua data yang peneliti peroleh, namun dalam tahap
ini dilakukan seleksi data agar akurasi data bisa dipertanggung jawabkan secara
legal-formal.
Maka, dokumen yang dimaksud mencakup dokumen pribadi dan
dokumen resmi. Dokumen pribadi digunakan untuk melacak catatan atau karangan
seseorang secara tertulis tentang tindakan, pengalaman, dan kepercayaannya.
Tujuannya itu untuk memperoleh kejadian nyata tentang situasi soaial dan arti
berbagai faktor di sekitar subjek penelitian. Sedangkan dokumen resmi digunakan
untuk melacak berbagai macam bentuk instruksi, aturan lembaga yang terkait,
pengumuman, keputusan pemimpin (kyai, kepala madrasah), majalah, buletin, dan
berbagai macam dokumen lainnya. Tujuannya adalah untuk memberikan petunjuk
tentang gaya kepemimpinan dan menelaah konteks sosial.
c. Metode
analisis data
Analisis data dalam penelitian kualitatif ini merupakan
rangkaian proses pengorganisasian dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori
dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan
hipotesis kerja. Secara umum, proses analisis ini dijalankan sesuai dengan
prosedur sebagai berikut :
1)
Mencatat hasil yang diperoleh dari lapangan kemudian
diberi kode supaya sumber data tetap bisa ditelusuri,
2)
Mengkategorisasikan : Mengumpulkan, memilah-milah, dan
klasifikasi data,
3)
Mensintesiskan : Membuat ikhtisar (ringkasan), dan
membuat indeksnya,
4)
Melakukan pemikiran dengan jalan membuat kategori data
itu mempunyai makna, mencari dan menemukan pola dan hubungan-hubungan, dan
membuat temuan-temuan umum.[28]
Sehingga berbagai data yang diperoleh dari lapangan, baik
dari observasi, interview, dan dokumentasi selanjutnya teknik analisis datanya
dilakukan dengan menggunakan analisis kualitatif yang berjenis analisis deskriptif-hermeneutis. Inti dari
analisis jenis ini adalah terletak pada tiga proses yang berkaitan, yaitu :
1)
Mendeskripsikan fenomena,
2)
Mengklasifikasikannya,
3)
Melihat bagaimana konsep-konsep yang
muncul itu satu dengan yang lainnya berkaitan.[29]
Namun, penelitian ini bukan hanya
mendeskripsikan data, melainkan dilengkapi dengan analisis kritis hermeneutis
sosial. Analisis hermeneutis ini
diterapkan sebagai alat untuk menafsirkan proses dialektika pemahaman dan
reinterpretasi[30]
terus menerus untuk menyingkap tabir makna-makna teks sosial.[31]
Setelah mendapatkan deskripsi utuh sesuai dengan cara
kerja analisis di atas, maka analisis selanjutnya adalah analisis tipologi
pesantren. Dalam analisis tipologi ini disertai dengan melakukan representasi
karena mengingat waktu penelitian relatif singkat. Analisis ini bertugas
melacak sistem
pendidikan yang diterapkan oleh pesantren, bagaimana kurikulum yang digunakan,
bagaimana juga pola pembelajarannya dan penyelenggaraan pendidikannya. Tujuan dari analisis tipologi yang dimaksud adalah
memberikan arti yang signifikan terhadap hasil analisis, menjelaskan pola atau
tipologi, dan mencari hubungan di antara dimensi-dimensi uraian.
Namun secara sederhana langkah-langkah
di atas dapat dirinci sesuai dengan analisisnya masing-masing sesuai dengan
teknik kerjanya. Rincian tersebut sebagai berikut :
(a)
Analisis deskriptif
Secara umum pada analisis ini yang termasuk adalah tahap
deskripsi data.
(b)
Analisis proses
Pada analisis ini, garapan peneliti mencakup tahap
mereduksi data, mengklasifikasikan, dan mengkategorisasikan.
(c)
Analisis hermeneutik
Pada analisis ini, peneliti membagi membagi empat
tahapan, yakni tahap mensintesiskan data, memberikan tipologi, merepresentasikan,
dan menafsirkan data melalui prosedur gerak lingkar hermeneutis.
Dengan langkah-langkah dan analisis di atas peneliti
berharap dapat menggambarkan konstelasi pembaharuan pendidikan Islam menurut
kategorisasi yang sudah ditetapkan. Kategorisasi yang pada akhirnya dengan
hermeneutika sosial ini peneliti dapat merumuskan kontribusi tipologi pesantren
di Bawang terhadap masyarakat. Di samping itu juga
dalam analisis akan diurai bagaimana format pesantren ideal dan tipologi
pesantren yang mampu dijadikan sebagai pendidikan alternatif pesantren.
7. Sistematika
Pembahasan
Untuk memudahkan dalam memahami maksud yang dikehendaki maka dalam
penulisan ini
penulis menyususn sistematika sebagai berikut:
Bab I PENDAHULUAN: Pada bab ini terdiri atas latar belakang, rumusan
masalah, tujuan dan kegunaan, kajian pustaka, kerangka teori, metodologi dan
sistematika pembahasan.
Bab II Hasil
Penelitian : Pada bab ini membahas tentang tipologi pesantren di Kec. Bawang Kab. Batang
Bab III hasil penelitian : Pada
bab ini berisi pembelajaran yang ada dalam
pesantren yang di Kec. Bawang Kab. Batang
Bab IV hasil penelitian berkaiatn dengan peranan pesantren terhadap pendidikan di Kec Bawang Kab. Batang.
Bab V adalah penutup/ penutup berisi kesimpulan
dan saran.
8. Kerangka
Pembahasan
|
|
![]() |
|||
9. Daftar
Pustaka
A’la,
Abdul, Pembaharuan Pesantren,
Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2006
Aunurrafiq,
Pesantren dan Pembaharuan: arah dan
Implikasi, Jakarta: Grassindo, 2001
Daulay,
haidar Putra, Sejarah Pertumbuhan dan
Pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Kencana Prenada, 2007
Dhofir,
Zamahsari, Tradisi Pesantren: Studi
tentang Pandangan Hidup Kyai, Jakarta: LP3S, 1982
Djamil,
Abdul, Pesantren: Jati Diri dan Perannya
dalam Kebudayaan, Batang: Central Manajemen, 2005
Hasan,
Najib M, Profil Pesantren Batang, Batang:
Central Riset, 2005
Ismail
SM, Signifikansi Peran Pesantren dalam
Perkembangan Masyarakat Madani, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000
Moeloeng,
Lexy J, Metodologi Penelitian,
Jakarta: Rieneka Cipta
Munthohar,
Ahmad, Ideologi Pendidikan Pesantren;
Pesantren ditengah Arus Ideologi Pendidikan, Semarang: Pustaka Rizki, 2007
Noer
Akhmad Syafi’i, Pesantren: Asal-Usul dan
Perkembangan Lembaga-lembaga Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta:
Grasindo, 2001
Raharjo,
M Dawam, Dunia Pesantren dalam Peta
Pembaharuan, Jakarta: LP3S, 1988
Tim
Depag RI, Pola Pembelajaran di Pesantren,
Jakarta: direktorat Jendral Kelembagaan Agama Islam, 2003
[1] Selain
istilah “pesantren” (Jawa, Sunda, dan
Madura), ditemukan juga istilah lain dengan makna yang sama, yakni “dayah” atau
“rangkang” (Aceh), dan “surau” (Minangkabau). Lihat Haidar Putra Daulay, Dinamika Pendidikan Islam di Asia Tenggara,
(Jakarta : PT Rineka Cipta, 2009), cet. I, hlm. 14-15.
[2] Abdul
Djamil, “Pesantren : Jati Diri dan Perannya dalam Kebudayaan”, dalam
Prolog Profil
Pesantren Batang, (Batang :
Central Riset dan Manajemen Informasi, 2005), hlm. v.
[3]
Abd A’la, Pembaharuan
Pesantren, (Yogjakarta : Pustaka Pesantren, 2006), cet. I. hlm.2-3
[4]
Abd A’la, Pembaharuan
Pesantren, hlm. 5.
[5] Menurut MA. Sahal Mahfudz, yang dimaksud eksistensi
adalah meliputi kelembagaan, kurikulum, dan tradisi-tradisi khas keilmuwannya.
Oleh karena itu, meskipun disebut sebagai lembaga pendidikan tradisional Islam,
pesantren terdeteksi selalu memiliki pemikiran future Oriented.
[6]
M. Nadjib Hassan, et. all, Profil Pesantren Batang, (Batang
: Central Riset dan Manajemen Informasi, 2005), hlm. 2.
[7]
Sumber tertinggi pesantren
yang dari dulu hingga sekarang yang dikembangkan adalah nilai-nilai luhur,
seperti nilai keikhlasan, kesederhaaan, dan kemandirian. Ketiga nilai tersebut
dirasa semakin tereduksi dengan munculnya modernisme pesantren baru-baru ini.
[8]
Abd A’la, Pembaharuan
Pesantren, hlm. 5
[9] Ainurrofiq, “Pesantren dan Pembaruan : Arah dan Implikasi”,
dalam Abuddin Nata (ed), Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga-lembaga
Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta : Penerbit PT Grasindo dan IAIN Syatif
Hidayatullah Jakarta, 2001),
hlm.150-151.
[10]
Ismail SM, “Signifikansi
Peran Pesantren dalam Pengembangan Masyarakat Madani”, dalam MA. Sahal
Mahfudhz, et all, Pendidikan
Islam, Demokratisasi dan Masyarakat Madani, (Yojakarta : Pustaka Pelajar,
2000), cet. I, hlm. 171.
[11]
Ahmad Muthohar, Ideologi
Pendidikan Pesantren ; Pesantren di Tengah Arus Ideologi-Ideologi Pendidikan, (Semarang : Pustaka Rizki Putra, 2007), cet.
I, hlm . 5.
[12]
Ahmad Muthohar, Ideologi
Pendidikan, hlm. 5.
[13] Zamachsjari
Dhofier, Tradisi
Pesantren : Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai, (Jakarta : Penerbit LP3ES, 1982),
hlm.18
[14] Haidar Putra Daulay, Sejarah
Pertumbuhan dan Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta : Kencana
Prenada Media Group, 2007), cet. II, 62.
[16] Haidar Putra Daulay, Sejarah
Pertumbuhan, hlm. 61.
[17] Isma’il SM, “Pengembangan
Pesantren Tradisional (Sebuah Hipotesis Mengantisipasi Perubahan Sosial)”,
dalam Abdurrahman Mas’ud, Dinamika Pesantren dan Madrasah, (Semarang :
Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang dan Pustaka Pelajar, 2002), cet.I, hlm. 50.
[18] Haidar Putra Daulay, Sejarah
Pertumbuhan, hlm. 61.
[20] Ahmad Syafi’i Noer, “Pesantren
: Asal-usul dan Pertumbuhan Kelembagaan”, dalam Abuddin Nata
(ed), Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga-lembaga
Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta : Penerbit PT Grasindo dan IAIN Syatif
Hidayatullah Jakarta, 2001), hlm. 90.
[21] M. Dawam Raharjo, “Dunia Pesantren dalam Peta Pembaharuan”,
dalam M. Dawam Raharjo (ed), Pesantren
dan Pembaharuan, (Jakarta : LP3ES, 1988), cet. IV, hlm. 25.
[22] A.
Rafiq Zainul Mun’in, “Peran Pesantren dalam Education For All di Era
Globalisasi”, Jurnal Pendidikan Islam, (vol. I, No.01, Juni/ 2009), hlm.
10.
[23] Tim Depag
RI, Pola Pembelajaran di
Pesantren, (Jakarta : Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam,
2003), hlm. 18.
[27]
Lexy J. Moeloeng, Metodologi Penelitian., hlm. 186.
[28]
Lexy J. Moeloeng, Metodologi Penelitian, hlm. 248.
[30]
Upaya menafsirkan ulang
dengan merancang kerangka berpikir baru dengan tujuan untuk memperjelas
pengertian tersembunyi di balik teks-teks sosial menjadi sebuah makna yang
jelas.
[31] Sindung Tjahyadi, “Teori
Kritik Jurgen Habermas : Asumsi-asumsi
Dasar Menuju Metodologi Kritik Sosial”, Jurnal Fisafat,( vol.XXXIV, No. 34
No.2, Agustus/
2003), hlm. 2.
