Sabtu, 22 Desember 2012

supervisi pendidikan

BABIPENDAHULUANA.LatarBelakangUUSistemPendidikanNasional,UUNo.20Tahun2003tentangSistemPendidikanNasional,yangdikutipolehEngkoswara(2010:6)memberikanarti“Pendidikanadalahusahasadardanterencanauntukmewujudkansuasanabelajardanprosespembelajaranagarpesertadidiksecaraaktifmengembangkanpotensidirinyauntukmemilikikekuatanspiritualkeagamaan,pengendaliandiri,kepribadian,kecerdasan,akhlakmulia,sertaketerampilanyangdiperlukandirinya,masyarakat,bangsadanNegara”.Dalamusahapelaksanaankegiatanpendidikanguruyangmemilikiperantersenut,seringkalibanyakmengalamimasalahdalamprosesbelajarmengajar.Untukmembantugurudalammengatasikesulitan–kesulitantersebut,makadilaksanakansuatukegiatanyangdikenaldenganistilahSupervisi.Istilahsupervisibarumunculkuranglebihtigadasawarsaterakhirini(SuharsimiArikunto,2004).KegiatanserupayangdahulubanyakdilakukanadalahInspeksi,pemeriksaan,pengawasanataupenilikan.Dalamkontekssekolahsebagaisebuahorganisasipendidikan,supervisimerupakabagian dari proses administrasi dan manajemen.Kegiaansupervisimelengkapifungsi-fungsiadministrasiyangadadisekolahsebagaifungsiterakhir,yaitupenilaianterhadapsemuakegiatandalammencapaitujuan.Dengansupervisi,akanmemberikaninspirasiuntukbersama-samamenyelesaikanpekerjaan-pekerjaandenganjumlahlebihbanyak,waktulebihcepat,caralebihmudah,danhasilyanglebihbaikdaripadajikadikerjakansendiri.Supervisimempunyaiperanmengoptimalkantanggungjawabdarisemuaprogram.Supervisibersangkutpautdengansemuaupayapenelitianyangtertujupadasemuaaspekyangmerupakanfactorpenentukeberhasilan.Denganmengetahuikondisiaspek-aspektersebutsecararincidanakurat,dapatdiketahuidengantepatpulaapayangdiperlukanuntukmeningkatkankualitasorganisasiyangbersangkutan.Supervisiyangmerupakansalahsatustrategiuntukmemastikanbahwaseluruhlangkahpadaprosespenyelenggaraandansemuakomponenhasilyangdicapaimemenuhitarget.Supervisiadalahstrategimanajemenyangterdiriatasserangkaiankegiatanuntukmemastikanbahwamutuyangdiharapkandalamprosesperencanaan,pelaksanaankegiatan,danevaluasimemenuhistandaryangtelahditentukan.Prakteksupervisiselaluberubahseiringdengantumbuhnyakesadaranparapemangkukepentinganuntukmeningkatkanpenjaminanmutu.Kesadaranakanpentingnyameningkatkanmututerkaitpadaperan,fungsi,danpembagiantugasdalamorganisasi.Pelaksanaannyaselaluterkaitpadakonsistensi ‹ › Supervisi pendidikan • 1. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang UU Sistem Pendidikan Nasional, UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang dikutip oleh Engkoswara (2010 : 6) memberikan arti “Pendidikan adalah usaha sadar danterencana untuk mewujudkan suasana belajar dan prosespembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensidirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yangdiperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara”. Dalam usahapelaksanaan kegiatan pendidikan guru yang memiliki peran tersenut ,seringkali banyak mengalami masalah dalam proses belajar mengajar.Untuk membantu guru dalam mengatasi kesulitan – kesulitan tersebut,maka dilaksanakan suatu kegiatan yang dikenal dengan istilahSupervisi. Istilah supervisi baru muncul kurang lebih tiga dasawarsaterakhir ini (Suharsimi Arikunto,2004). Kegiatan serupa yang dahulubanyak dilakukan adalah Inspeksi, pemeriksaan, pengawasan ataupenilikan. Dalam konteks sekolah sebagai sebuah organisasipendidikan, supervisi merupaka bagian dari proses administrasi dan • 2. manajemen. Kegiaan supervisi melengkapi fungsi- fungsi administrasiyang ada di sekolah sebagai fungsi terakhir, yaitu penilaian terhadapsemua kegiatan dalam mencapai tujuan. Dengan supervisi, akanmemberikan inspirasi untuk bersama-sama menyelesaikan pekerjaan -pekerjaan dengan jumlah lebih banyak, waktu lebih cepat, cara lebihmudah, dan hasil yang lebih baik daripada jika dikerjakan sendiri.Supervisi mempunyai peran mengoptimalkan tanggung jawab darisemua program. Supervisi bersangkut paut dengan semua upayapenelitian yang tertuju pada semua aspek yang merupakan factorpenentu keberhasilan. Dengan mengetahui kondisi aspek-aspektersebut secara rinci dan akurat, dapat diketahui dengan tepat pula apayang diperlukan untuk meningkatkan kualitas organisasi yangbersangkutan.Supervisi yang merupakan salah satu strategi untukmemastikan bahwa seluruh langkah pada proses penyelenggaraandan semua komponen hasil yang dicapai memenuhi target. Supervisiadalah strategi manajemen yang terdiri atas serangkaian kegiatanuntuk memastikan bahwa mutu yang diharapkan dalam prosesperencanaan, pelaksanaan kegiatan, dan evaluasi memenuhi standaryang telah ditentukan. Praktek supervisi selalu berubah seiring dengantumbuhnya kesadaran para pemangku kepentingan untukmeningkatkan penjaminan mutu. Kesadaran akan pentingnyameningkatkan mutu terkait pada peran, fungsi, dan pembagian tugasdalam organisasi. Pelaksanaannya selalu terkait pada konsistensi • 3. lembaga, kegiatan akademik, profesionalisme, dan kesungguhan penyelenggara pendidikan akan pentingnya memastikan bahwa mutu yang diharapkan dapat terus terjaga sejak langkah perencanaan, pelaksanaan, dan pemantauannya. Konsep supervisi modern dirumuskan oleh Kimball Wiles (1967) sebagai berikut : “Supervision is assistance in the devolepment of a better teaching learning situation”. Supervisi adalah bantuan dalam pengembangan situasi pembelajaran yang lebih baik. Rumusan ini mengisyaratkan bahwa layanan supervisi meliputi keseluruhan situasi belajar mengajar (goal, material, technique, method, teacher, student, an envirovment). Situasi belajar inilah yang seharusnya diperbaiki dan ditingkatkan melalui layanan kegiatan supervisi. Dengan demikian layanan supervisi tersebut mencakup seluruh aspek dari penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran. Konsep supervisi tidak bisa disamakan dengan inspeksi, inspeksi lebih menekankan kepada kekuasaan dan bersifat otoriter, sedangkan supervisi lebih menekankan kepada persahabatan yang dilandasi oleh pemberian pelayanan dan kerjasama yang lebih baik diantara guru – guru, karena bersifat demokratis.B. Rumusan Penulisan Untuk mengetahui tentang teori – teori tentang Superbisi Pendidikan dan pelaksanaannya untuk meningkatkan Mutu Pendidikan? • 4. C. Manfaat 1. Bagi Penulis, mengetahui tentang teori - teori Supervisi Pendidikan dan aplikasinya dalam kehidupan nyata tentang supervisi Pendidikan. 2. Bagi Supervisor, memperoleh gambaran dan informasi mengenai Supervisi Pendidikan. 3. Bagi petugas kesehatan, sebagai bahan masukan dalam menyusun perencanaan program perbaikan Gizi di puskesmas. 4. Bagi pemerintah, sebagai bahan masukan untuk menentukan kebijakan dalam dunia pendidikan guna meningkatkan Mutu Pendidikan. 5. Bagi dunia pendidikan, sebagai bahan masukan untuk menambah bahan pustaka serta meningkatkan pengetahuan dan wawasan mahasiswa serta pembaca pada umumnya tentang Supervisi Pendidikan. • 5. BAB II PEMBAHASANA. Pengertian Supervisi 1. Pengertian supervisi Menurut Beberapa hal : Arti Supervisi menurut asal usul (etimologi), bentuk perkataannya (morfologi), maupun isi yang terkandung dalam perkataan itu ( semantik). a. Secara morfologis, Supervisi berasal dari dua kata bahasa Inggris, yaitu super dan vision. Super berarti diatas dan vision berarti melihat, masih serumpun dengan inspeksi, pemeriksaan dan pengawasan, dan penilikan, dalam arti kegiatan yang dilakukan oleh atasan – orang yang berposisi diatas, pimpinan – terhadap hal-hal yang ada dibawahnya. Supervisi juga merupakan kegiatan pengawasan tetapi sifatnya lebih human, manusiawi. Kegiatan supervise bukan mencari-cari kesalahan tetapi lebih banyak mengandung unsur pembinnaan, agar kondisi pekerjaan yang sedang disupervisi dapat diketahui kekurangannya (bukan semata - mata kesalahannya) untuk dapat diberitahu bagian yang perlu diperbaiki. b. Secara sematik, Supervisi pendidikan adalah pembinaan yang berupa bimbingan atau tuntunan ke arah perbaikan situasi • 6. pendidikan pada umumnya dan peningkatan mutu mengajar dan belajar dan belajar pada khususnya. c. Secara Etimologi, supervisi diambil dalam perkataan bahasa Inggris “ Supervision” artinya pengawasan di bidang pendidikan. Orang yang melakukan supervisi disebut supervisor.2. Pengertian Supervisi Menurut Pendapat Para Ahli : a. Good Carter, Memberi pengertian supervisi adalah usaha dari petugas- petugas sekolah dalam memimpin guru-guru dan petugas lainnya, dalam memperbaiki pengajaran, termasuk menstimulir, menyeleksi pertumbuhan jabatan dan perkembangan guru-guru dan merevisi tujuan-tujuan pendidikan, bahan-bahan pengajaran, dan metode mengajar dan evaluasi pengajaran. God Carter melihatnya sebagai usaha memimpin guru-guru dalam jabatan mengajar, b. Boardman. Menyebutkan Supervisi adalah salah satu usaha menstimulir, mengkoordinir dan membimbing secarr kontinyu pertumbuhan guru-guru di sekolah baik secara individual maupun secara kolektif, agar lebih mengerti dan lebih efektif dalam mewujudkan seluruh fungsi pengajaran dengan demikian mereka dapat menstmulir dan membimbing pertumbuan tiap-tiap murid secara kontinyu, serta mampu dan lebih cakap berpartsipasi dlm • 7. masyarakat demokrasi modern. Boardman. Melihat supervisi sebagai lebih sanggup berpartisipasi dlm masyarakat modern.c. Wilem Mantja (2007) Mengatakan bahwa, supervisi diartikan sebagai kegiatan supervisor (jabatan resmi) yang dilakukan untuk perbaikan proses belajar mengajar (PBM). Ada dua tujuan (tujuan ganda) yang harus diwujudkan oleh supervisi, yaitu; perbaikan (guru murid) dan peningkatan mutu pendidikan. Willem Mantja memandang supervisi sebagai kegiatan untuk perbaikan (guru murid) dan peningkatan mutu pendidikand. Kimball Wiles (1967) Konsep supervisi modern dirumuskan sebagai berikut : “Supervision is assistance in the development of a better teaching learning situation”. Kimball Wiles beranggapan bahwa faktor manusia yg memiliki kecakapan (skill) sangat penting untuk menciptakan suasana belajar mengajar yg lebih baik.e. Mulyasa (2006) supervisi sesungguhnya dapat dilaksanakan oleh kepala sekolah yang berperan sebagai supervisor, tetapi dalam sistem organisasi modern diperlukan supervisor khusus yang lebih independent, dan dapat meningkatkan obyektivitas dalam pembinaan dan pelaksanaan tugas. • 8. f. Ross L (1980), mendefinisikan bahwa supervisi adalah pelayanan kapada guru- guru yang bertujuan menghasilkan perbaikan pengajaran, pembelajaran dan kurikulum. Ross L memandang supervisi sebagai pelayanan kapada guru – guru yang bertujuan menghasilkan perbaikan. g. Purwanto (1987), supervisi ialah suatu aktivitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu para guru dan pegawai sekolah dalam melakukan pekerjaan secara efektif. Kegiatan supervisi dahulu banyak dilakukan adalah Inspeksi,pemeriksaan, pengawasan atau penilikan. Supervisi masih serumpundengan inspeksi, pemeriksaan dan pengawasan, dan penilikan, dalamarti kegiatan yang dilakukan oleh atasan –orang yang berposisi diatas,pimpinan-- terhadap hal-hal yang ada dibawahnya. Inspeksi : inspectie(belanda) yang artinya memeriksa dalam arti melihat untuk mencarikesalahan. Orang yang menginsipeksi disebut inspektur. Inspekturdalam hal ini mengadakan :1. Controlling : memeriksa apakah semuanya dijalankan sebagaimana mestinya2. Correcting : memeriksa apakah semuanya sesuai dengan apa yang telah ditetapkan/digariskan • 9. 3. Judging : mengandili dalam arti memberikan penilaian atau keputusan sepihak4. Directing : pengarahan, menentukan ketetapan/garis5. Demonstration : memperlihatkan bagaimana mengajar yang baik Pemeriksaan artinya melihat apa yg terjadi dlm kegiatansedangkan Pengawasan adalah Melihat apa yg positif & negatif.Adapun Supervisi juga merupakan kegiatan pengawasan tetapisifatnya lebih human, manusiawi. Kegiatan supervisi bukan mencari -cari kesalahan tetapi lebih banyak mengandung unsur pembinnaan,agar kondisi pekerjaan yang sedang disupervisi dapat diketahuikekurangannya (bukan semata-mata kesalahannya) untuk dapatdiberitahu bagian yang perlu diperbaiki. Supervisi dilakukan untukmelihat bagian mana dari kegiatan sekolah yg masih negatif untukdiupayakan menjadi positif, & melihat mana yang sudah positif untukditingkatkan menjadi lebih positif lagi dan yang terpenting adalahpembinaannya Orang yang melakukan supervise disebut supervisor. Dibidangpendidikan disebut supervisor pendidikan. Menurut keputusan menteripendidikan dan kebudayaan nomor 0134/0/1977, temasuk kategorisupervisor dalam pendidikan adalah kepala sekolah, penelik sekolah,dan para pengawas ditingkatkan kabupaten/kotamadya, serta staf dikantor bidang yang ada di tiap provinsi. • 10. Jika supervisi dilaksanakan oleh kepala sekolah, maka ia harus mampu melakukan berbagai pengawasan dan pengendalian untuk meningkatkan kinerja tenaga kependidikan. Pengawasan dan pengendalian ini merupakan kontrol agar kegiatan pendidikan di sekolah terarah pada tujuan yang telah ditetapkan. Pengawasan dan pengendalian juga merupakan tindakan preventif untuk mencegah agar para tenaga kependidikan tidak melakukan penyimpangan dan lebih berhati-hati dalam melaksanakan pekerjaannya.B. Tujuan dan sasaran Supervisi a. Tujuan Supervisi Tujuan utama supervisi adalah memperbaiki pengajaran (Neagly & Evans, 1980; Oliva, 1984; Hoy & Forsyth, 1986; Wiles dan Bondi, 1986; Glickman, 1990). Tujuan umum Supervisi adalah memberikan bantuan teknis dan bimbingan kepada guru dan staf agar personil tersebut mampu meningkatkan kwalitas kinerjanya, dalam melaksanakan tugas dan melaksanakan proses belajar mengajar . secara operasional dapat dikemukakan beberapa tujuan konkrit dari supervisi pendidikan yaitu : 1. Meningkatkan mutu kinerja guru Membantu guru dalam memahami tujuan pendidikan dan apa peran sekolah dalam mencapai tujuan tersebut • 11. Membantu guru dalam melihat secara lebih jelas dalam memahami keadaan dan kebutuhan siswanya. Membentuk moral kelompok yang kuat dan mempersatukan guru dalam satu tim yang efektif, bekerjasama secara akrab dan bersahabat serta saling menghargai satu dengan lainnya. Meningkatkan kualitas pembelajaran yang pada akhirnya meningkatkan prestasi belajar siswa. Meningkatkan kualitas pengajaran guru baik itu dari segi strategi, keahlian dan alat pengajaran. Menyediakan sebuah sistim yang berupa penggunaan teknologi yang dapat membantu guru dalam pengajaran. Sebagai salah satu dasar pengambilan keputusan bagi kepala sekolah untuk reposisi guru.2. Meningkatkan keefektifan kurikulum sehingga berdaya guna dan terlaksana dengan baik3. Meningkatkan keefektifan dan keefesiensian sarana dan prasarana yang ada untuk dikelola dan dimanfaatkan dengan baik sehingga mampu mengoptimalkan keberhasilan siswa4. Meningkatkan kualitas pengelolaan sekolah khususnya dalam mendukung terciptanya suasana kerja yang optimal yang selanjutnya siswa dapat mencapai prestasi belajar sebagaimana yang diharapkan. • 12. 5. Meningkatkan kualitas situasi umum sekolah sehingga tercipta situasi yang tenang dan tentram serta kondusif yang akan meningkatkan kualitas pembelajaran yang menunjukkan keberhasilan lulusan.b. Sasaran Supervisi Adapun sasaran utama dari pelaksanaan kegiatan supervisi tersebut adalah peningkatan kemampuan profesional guru (Depdiknas, 1986; 1994 & 1995). Sasaran Supervisi Ditinjau dari objek yang disupervisi, ada 3 macam bentuk supervisi : 1. Supervisi Akademik Menitikberatkan pengamatan supervisor pada masalah-masalah akademik, yaitu hal-hal yang berlangsung berada dalam lingkungan kegiatan pembelajaran pada waktu siswa sedang dalam proses mempelajari sesuatu 2. Supervisi Administrasi Menitikberatkan pengamatan supervisor pada aspek-aspek administrasi yang berfungsi sebagai pendukung dan pelancar terlaksananya pembelajaran. 3. Supervisi Lembaga Menyebarkan objek pengamatan supervisor pada aspek-aspek yang berada di sekolah. Supervisi ini dimaksudskan untuk meningkatkan nama baik sekolah atau kinerja sekolah secara • 13. keseluruhan. Misalnya: Ruang UKS (Unit Kesehatan Sekolah), Perpustakaan dan lain-lain.C. Prinsip-prinsip Supervisi Secara sederhana prinsip-prinsip Supervisi adalah sebagai berikut : Supervisi hendaknya memberikan rasa aman kepada pihak yang disupervisi. Supervisi hendaknya bersifat Kontrukstif dan Kreatif Supervisi hendaknya realistis didasarkan pada keadaan dan kenyataan sebenarnya. Kegiatan supervisi hendaknya terlaksana dengan sederhana. Dalam pelaksanaan supervisi hendaknya terjalin hubungan profesional, bukan didasarkan atas hubungan pribadi. Supervisi hendaknya didasarkan pada kemampuan, kesanggupan, kondisi dan sikap pihak yang disupervisi. Supervisi harus menolong guru agar senantiasa tumbuh sendiri tidak tergantung pada kepala sekolah Pendapat lain mengenai Prinsip-prinsip Supervisi adalah : 1. Supervisi bersifat memberikan bimbingan dan memberikan bantuan kepada guru dan staf sekolah lain untuk mengatasi masalah dan mengatasi kesulitan dan bukan mencari-cari kesalahan. 2. Pemberian bantuan dan bimbingan dilakukan secara langsung, artinya bahwa pihak yang mendapat bantuan dan bimbingan • 14. tersebut tanpa dipaksa atau dibukakan hatinya dapat merasa sendiri serta sepadan dengan kemampuan untuk dapat mengatasi sendiri.3. Apabila supervisor merencanakan akan memberikan saran atau umpan balik, sebaiknya disampaikan sesegera mungkin agar tidak lupa. Sebaiknya supervisor memberikan kesempatan kepada pihak yang disupervisi untuk mengajukan pertanyaan atau tanggapan.4. Kegiatan supervisi sebaiknya dilakukan secara berkala misalnya 3 bulan sekali, bukan menurut minat dan kesempatan yang dimiliki oleh supervisor.5. Suasana yang terjadi selama supervisi berlangsung hendaknya mencerminkan adanya hubungan yang baik antara supervisor dan yang disupervisi tercipta suasana kemitraan yang akrab. Hal ini bertujuan agar pihak yang disupervisi tidak akan segan-segan mengemukakan pendapat tentang kesulitan yang dihadapi atau kekurangan yang dimiliki.6. Untuk menjaga agar apa yang dilakukan dan yang ditemukan tidak hilang atau terlupakan, sebaiknya supervisor membuat catatan singkat, berisi hal – hal penting yang diperlukan untuk membuat laporan. Sedangkan menurut Tahalele dan Indrafachrudi (1975) prinsip-prinsip supervisi sebagai berikut :(a) supervisi harus dilaksanakan secara demokratis dan kooperatif, • 15. (b) supervisi harus kreatif dan konstruktif, (c) supervisi harus ”scientific” dan efektif, (d) supervisi harus dapat memberi perasaan aman pada guru-guru, (e) supervisi harus berdasarkan kenyataan, (f) supervisi harus memberi kesempatan kepada supervisor dan guru- guru untuk mengadakan “self evaluation” Karena prinsip-prinsip supervisi di atas merupakan kaidah-kaidah yang harus dipedomani atau dijadikan landasan di dalam melakukan supervisi, maka hal itu mendapat perhatian yang sungguh - sungguh dari para supervisor, baik dalam konteks hubungan supervisor - guru, maupun di dalam proses pelaksanaan supervisi.D. Fungsi Supervisi 1. Fungsi Meningkatkan Mutu Pembelajaran Ruang lingkupnya sempit, hanya tertuju pada aspek akademik, khususnya yang terjadi di ruang kelas ketika guru sedang memberikan bantuan dan arahan kepada siswa. 2. Fungsi Memicu Unsur yang Terkait dengan PembelajaranLebih dikenal dengan nama Supervisi Administrasi 3. Fungsi Membina dan MemimpinE. Tipe-tipe Supervisi 1. Tipe Inspeksi • 16. Tipe seperti ini biasanya terjadi dalam administrasi dan model kepemimpinan yang otokratis, mengutamakan pada upaya mencari kesalahan orang lain, bertindak sebagai “Inspektur” yang bertugas mengawasi pekerjaan guru. Supervisi ini dijalankan terutama untuk mengawasi, meneliti dan mencermati apakah guru dan petugas di sekolah sudah melaksanakan seluruh tugas yang diperintahkan serta ditentukan oleh atasannya.2. Tipe Laisses Faire Tipe ini kebalikan dari tipe sebelumnya. Kalau dalam supervisi inspeksi bawahan diawasi secara ketat dan harus menurut perintah atasan, pada supervisi Laisses Faire para pegawai dibiarkan saja bekerja sekehendaknya tanpa diberi petunjuk yang benar. Misalnya: guru boleh mengajar sebagaimana yang mereka inginkan baik pengembangan materi, pemilihan metode ataupun alat pelajaran.3. Tipe Coersive Tipe ini tidak jauh berbeda dengan tipe inspeksi. Sifatnya memaksakan kehendaknya. Apa yang diperkirakannya sebagai sesuatu yang baik, meskipun tidak cocok dengan kondisi atau kemampuan pihak yang disupervisi tetap saja dipaksakan berlakunya. Guru sama sekali tidak diberi kesempatan untuk bertanya mengapa harus demikian. Supervisi ini mungkin masih bisa diterapkan secara tepat untuk hal-hal yang bersifat awal. Contoh supervisi yang dilakukan kepada guru yang baru mulai • 17. mengajar. Dalam keadaan demikian, apabila supervisor tidak bertindak tegas, yang disupervisi mungkin menjadi ragu-ragu dan bahkan kehilangan arah yang pasti. 4. Tipe Training dan Guidance Tipe ini diartikan sebagai memberikan latihan dan bimbingan. Hal yang positif dari supervisi ini yaitu guru dan staf tata usaha selalu mendapatkan latihan dan bimbingan dari kepala sekolah. Sedangkan dari sisi negatifnya kurang adanya kepercayaan pada guru dan karyawan bahwa mereka mampu mengembangkan diri tanpa selalu diawasi, dilatih dan dibimbing oleh atasannya. 5. Tipe Demokratis Selain kepemimpinan yang bersifat demokratis, tipe ini juga memerlukan kondisi dan situasi yang khusus. Tanggung jawab bukan hanya seorang pemimpin saja yang memegangnya, tetapi didistribusikan atau didelegasikan kepada para anggota atau warga sekolah sesuai dengan kemampuan dan keahlian masing-masing.F. TEKNIK – TEKNIK YANG DIGUNAKAN DALAM PELAKSANAAN SUPERVISI Teknik supervisi Pendidikan adalah atat yang digunakan oleh supervisor untuk mencapai tujuan supervisi itu sendiri yang pada akhir dapat melakukan perbaikan pengajaran yang sesuai dengan situasi dan kondisi. Dalam pelaksanaan supervisi pendidikan, sebagai • 18. supervisor harus mengetahui dan memahami serta melaksanakanteknik – teknik dalam supervisi. Berbagai macam teknik dapatdigunakan oleh supervisor dalam membantu guru meningkatkan situasibelajar mengajar, baik secara kelompok maupun secara peroranganataupun dengan cara langsung bertatap muka dan cara tak langsungbertatap muka atau melalui media komunikasi (Sagala 2010 : 210).Adapun teknik – teknik Supervisi adalah sebagai berikut :1. Teknik Supervisi yang bersifat kelompok Teknik Supervisi yang bersifat kelompok ialah teknik supervisi yang dilaksanakan dalam pembinaan guru secara bersama – sama oleh supervisor dengan sejumlah guru dalam satu kelompok (Sahertian 2008 : 86). Teknik Supervisi yang bersifat kelompok antara lain : (Sagala 2010 : 210 - 227) a. Pertemuan Orientasi bagi guru baru. Pertmuan orientasi adalah pertemuan anatar supervisor dengan supervisee (Terutama guru baru) yang bertujuan menghantar supervisee memasuki suasana kerja yang baru dikutip menurut pendapat Sagala (2010 : 210) dan Sahertian (2008 : 86). Pada pertemuan Orientasi supervisor diharapkan dapat menyampaikan atau menguraikan kepada supervisee hal – hal sebagai berikut (Sahertian 2008 : 86) : Sistem kerja yang berlaku di sekolah itu. Proses dan mekanisme administrasi dan organisasi sekolah. • 19. Biasanya diiringi dengan tanya jawab dan penyajian seluruh kegiatan dan situasi sekolah. Sering juga pertemuan orientasi ini juga diikuti dengan tindak lanjut dalam bentuk diskusi kelompok dan lokakarya. Ada juga melalui perkunjungan ke tempat – tempat tertentu yang berkaitan atau berhubungan dengan sumber belajar. Salah satu ciri yang sangat berkesan bagi pembinaan segi sosial dalam orientasi ini adalah makan bersama. Aspek lain yang membantu terciptanya suasana kerja ialah bahwa guru baru tidak merasa asing tetapi guru baru merasa diterima dalam kelompok guru lain.b. Rapat guru Rapat Guru adalah teknik supervisi kelompok melalui rapat guru yang dilakukan untuk membicarakan proses pembelajaan, dan upaya atau cara meningkatkan profesi guru. (Pidarta 2009 : 71). Tujuan teknik supervisi rapat guru yang dikutip menurut pendapat Sagala (2010 : 212) dan Pidarta (2009 : 171) adalah sebagai berikut : Menyatukan pandangan – pandangan guru tentang masalah – masalah dalam mencapai makna dan tujuan pendidikan. • 20. Memberikan motivasi kepada guru untuk menerima dan melaksanakan tugas – tugasnya dengan baik serta dapat mengembangkan diri dan jabatan mereka secara maksimal. Menyatukan pendapat tentang metode kerja yang baik guna pencapaian pengajaran yang maksimal. Membicarakan sesuatu melalui rapat guru yang bertalian dengan proses pembelajaran. Menyampaikan informasi baru seputar belajar dan pembelajaran, kesulitan – kesulitan mengajar, dan cara mengatasi kesulitan mengajar secara bersama dengan semua guru disekolah. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam suaturapat guru yang dikutip menurut pendapat Sagala (2010 : 211),antara lain :1) Tujuan – tujuan yang hendak dicapai harus jelas dan konkrit.2) Masalah – masalah yang akan menjadi bahan rapat harus merupakan masalah yang timbul dari guru – guru yang dianggap penting dan sesuai dengan kebutuhan mereka.3) Masalah pribadi yang menyangkut guru di lembaga pendidikan tersebut perlu mendapat perhatian.4) Pengalaman – pengalaman baru yang diperoleh dalam rapat tersebut harus membawa mereka pada peningkatan pembelajaran terhadap siswa. • 21. 5) Partisipasi guru pada pelaksanaan rapat hendaknya dipikirkan dengan sebaik – baiknya. 6) Persoalan kondisi setempa, waktu, dan tempat rapat menjadi bahan pertimbangan dalam perencanaan rapat guru.c. Studi kelompok antar guru Studi kelompok antara guru adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh sejumlah guru yang memiliki keahlian dibidang studi tertentu, seperti MIPA, Bahasa, IPS dan sebagainya, dan dikontrol oleh supervisor agar kegiatan dimaksud tidak berubah menjadi ngobrol hal – hal yang tidak ada kaitannya dengan materi. Topik yang akan dibahas dalam kegiatan ini telah dirumuskan dan disepakati terlebih dahulu. Tujuan pelaksanaan teknik supervisi ini adalah sebagai berikut : Meningkatkan kualitas penguasaan materi dan kualitas dalam memberi layanan belajar. Memberi kemudahan bagi guru – guru untuk mendapatkan bantuan pemechan masalah pada materi pengajaran. Bertukar pikiran dan berbicara dengan sesama guru pada satu bidang studi atau bidang – bidang studi yang serumpun. • 22. d. Diskusi Diskusi adalah pertukaran pikiran atau pendapat melalui suatu percakapan tentang suatu masalah untuk mencari alternatif pemecahannya. Diskusi merupakan salah satu teknik supervisi kelompok yang digunakan supervisor untuk mengembangkan berbagai ketrampilan pada diri para guru dalam mengatasi berbagai masalah atau kesulitan dengan cara melakukan tukar pikiran antara satu dengan yang lain. Melalui teknik ini supervisor dapat membantu para guru untuk saling mengetahui, memahami, atau mendalami suatu permasalahan, sehingga secara bersama – sama akan berusaha mencari alternatif pemecahan masalah tersebut (Sagala 2010 : 213). Tujuan pelaksanaan supervisi diskusi adalah untuk memecahkan masalah – masalah yang dihadapi guru dalam pekerjaannya sehari – hari dan upaya meningkatkan profesi melaluii diskusi. Hal – hal yang harus diperhatikan supervisor sebagai pemimpin diskusi sehingga setiap anggota mau berpartisipasi selama diskusi berlangsung supervisor harus mampu : Menentukan tema perbincangan yang lebih spesifik ; Melihat bahwa setiap anggota diskusi senang dengan keadaan dan topik yang dibahas dalam diskusi. • 23. Melihat bahwa masalah yang dibahas dapat dimengerti oleh semua anggota dan dapat memecahkan masalah dalam pengajaran. Melihat bahwa kelompok merasa diperlukan dan diikutsertakan untuk mencapai hasil bersama. Mengakui pentingnya peranan setiap anggota yang dipimpinnya.e. Workshop Workshop adalah suatu kegiatan belajar kelompok yang terjadi dari sejumlah pendidik yang sedang memecahkan masalah melalui percakapan dan bekerja secara kelompok. Hal – hal yang perlu diperhatikan pada waktu pelaksanaan workshop antara lain : 1) Masalah yang dibahas bersifat “Life cntred” dan muncul dari guru tersebut, 2) Selalu menggunakan secara maksimal aktivitas mental dan fisik dalam kegiatan sehingga tercapai perubahan profesi yang lebih tinggi dan lebih baik.f. Tukar menukar pengalaman Tukar menukar pengalaman “Sharing of Experince” suatu teknik perjumpaan dimana guru menyampaikan pengalaman masing-masing dalam mengajar • 24. terhadap topik-topik yang sudah diajarkan, saling memberi dan menerima tanggapan dan saling belajar satu dengan yang lain. Langkah – langkah melakukang sharing antara lain : Menentukan tujuan yang akan dicapai. Menentukan pokok masalah yang akan dibahas. Memberikan kesempatan pada setiap peserta untuk menyumbangkan pendapat pendapat mereka Merumuskan kesimpulan.2. Teknik Individual dalam Supervisi Teknik Individual Menurut Sahertian yang dikutip oleh Sagala (2010 : 216) adalah teknik pelaksanaan supervisi yang digunakan supervisor kepada pribadi – pribadi guru guna peningkatan kualitas pengajaran disekolah. Teknik – teknik individual dalam pelaksanaan supervisi antara lain : a. Teknik Kunjungan kelas. Teknik kunjungan kelas adalah suatu teknik kunjungan yang dilakukan supervisor ke dalam satu kelas pada saat guru sedang mengajar dengan tujuan untuk membantu guru menghadapi masalah/kesulitan mengajar selama melaksanakan kegiatan pembelajaran. Kunjungan kelas dilakukan dalam upaya supervisor memperoleh data tentang keadaan sebenarnya mengenai kemampuan dan ketrampilan guru mengajar. • 25. Kemudian dengan yang ada kemudian melakukan perbincangan untuk mencari pemecahan atas kesulitan – kesulitan yang dihadapi oleh guru. Sehingga kegiatan pembelajaran dapat ditingkatkan. Kunjungan kelas dapat dilakukan dengan 3 cara, yatiu : Kunjungan kelas tanpa diberitahu, Kunjungan kelas dengan pemberitahuan, Kunjungan kelas atas undangan guru, Saling mengunjungi kelas.b. Teknik Observasi Kelas Teknik observasi kelas dilakukan pada saat guru mengajar. Supervisor mengobservasi kelas dengan tujuan untuk memperoleh data tentang segala sesuatu yang terjadi proses belajar mengajar. Data ini sebagai dasar bagi supervisor melakukan pembinaan terhadap guru yang diobservasi. Tentang waktu supervisor mengobservasi kelas ada yang diberitahu dan ada juga tidak diberi tahu sebelumnya, tetapi setelah melalui izin supaya tidak mengganggu proses belajar mengajar. Selama berada dikelas supervisor melakukan pengamatan dengan teliti, dan menggunakan instrumen yang ada terhada lingkungan kelas yang diciptakan oleh guru selama jam pelajaran. • 26. c. Percakapan Pribadi Percakapan pribadi merupakan Dialog yang dilakukan oleh guru dan supervisornya, yang membahas tentang keluhan – keluhan atau kekurangan yang dikeluarkan oleh guru dalam bidang mengajar, di mana di sini supervisor dapat memberikan jalan keluarnya. Dalam percakapan ini supervisor berusaha menyadarkan guru akan kelebihan dan kekurangannya. mendorong agar yang sudah baik lebih di tingkatkan dan yang masih kurang atau keliru agar diupayakan untuk memperbaikinya.d. Intervisitasi (mengunjungi sekolah lain) Teknik ini dilakukan oleh sekolah-sekolah yang masih kurang maju dengan menyuruh beberapa orang guru untuk mengunjungi sekolah – sekolah yang ternama dan maju dalam pengelolaannya untuk mengetahui kiat – kiat yang telah diambil sampai seekolah tersebut maju. Manfaat yang dapat diperoleh dari teknik supervisi ini adalah dapat saling membandingkan dan belajar atas kelebihan dan kekurangan berdasarkan pengalaman masing – masing. Sehingga masing – masing guru dapat memperbaiki kualitasnya dalam memberi layanan belajar kepada peserta didiknya. • 27. e. Penyeleksi berbagai sumber materi untuk mengajar. Teknik pelaksanaan supervisi ini berkaitan dengan aspek – aspek belajar mengajar. Dalam usaha memberikan pelayanan profesional kepada guru, supervisor pendidikan akan menaruh perhatian terhadap aspek – aspek proses belajar mengajar sehingga diperoleh hasil yang efektif. supervisor harus mempunyai kemampuan menyeleksi berbagai sumber materi yang digunakan guru untuk mengajar. Adapun cara untuk mengikuti perkembangan keguruan kita, ialah dengan berusaha mengikuti perkembangan itu melalui kepustakaan profesional, dengan mengadakan "profesional reading ". Ini digunakan untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan situasi belajar mengajar yang lebih baik. Hal ini menyatakan bahwa teknik penyeleksian berbagai suber materi untuk mengajar memiliki arti bahwa Teknik ini yang menitik beratkan kepada kemampuan Supervisor dalam menyeleksi buku – buku yang dimiliki oleh guru pada saat mengajar yang sesuai dengan kebutuhan kegiatan belajar mengajar.f. Menilai diri sendiri Guru dan supervisor melihat kekurangan masing-masing yang mana ini dapat memberikan nilai tambah pada hubungan guru dan supervisor tersebut,yang akhirnya akan memberikan • 28. nilai positif bagi kegiatan belajar mengajar yang baik. Menilai diri sendiri merupakan tugas yang tidak mudah bagi guru, karena suatu pengukuran terbalik karena selama ini guru hanya menilai murid-muridnya. Ada beberapa cara atau alat yang dapat digunakan untuk menilai diri sendiri, antara lain membuat daftar pandangan atau pendapat yang disampaikan kepada murid- murid untuk menilai pekerjaan atau suatu aktivitas guru di muka kelas. Yaitu dengan menyususun pertanyaan yang tertutup maupun terbuka, tanpa perlu menyebutkan nama siswa.3. Diskusi Panel Teknik ini dilakukan dihadapan guru oleh para pakar dari bermacam sudut ilmu dan pengalaman terhadap suatu masalah yang telah ditetapkan. Mereka akan melihat suatu masalah itu sesuai dengan pandangan ilmu dan pengalaman masing-masing sehingga guru dapat masukan yang sangat lengkap dalam menghadapi atau memecahkan suatu masalah. Manfaat dari kegiatan ini adalah lahirnya sifat cekatan dalam memecahkan masalah dari berbagai sudut pandang ahli.4. Seminar Seminar adalah suatu rangkaian kajian yang diikuti oleh suatu kelompok untuk mendiskusikan, membahas dan memperdebatkan suatu masalah yang berhubungan dengan topik. Berkaitan dengan • 29. pelaksanaan supervisi, dalam seminar ini dapat dibahas seperti bagaimana menyusun silabus sesuai standar isi, bagaimana mengatasi masalah disiplin sebagai aspek moral sekolah, bagaimana mengatasi anak – anak yang selalu membuat keributan dikelas, dll. Pada waktu pelaksanaan seminar kelompok mendengarkan laporan atau ide – ide menyangkut permasalahan pendidikan dari salah seorang anggotanya.5. Simposium Kegiatan mendatangkan seorang ahli pendidikan untuk membahas masalah pendidikan. Simposium menyuguhkan pidato- pidato pendek yang meninjau suatu topik dari aspek-aspek yang berbeda. Penyuguh pidato biasanya tiga orang dimana guru sebagai pengikut diharapkan dapat mengambil bekal dengan mendengarkan pidato-pidato tersebut.6. Demonstrasi mengajar Usaha peningkatan belajar mengajar dengan cara mendemonstrasikan cara mengajar dihadapan guru dalam mengenalkan berbagai aspek dalam mengajar di kelas oleh supervisor.7. Buletin supervisi Suatu media yang bersifat cetak dimana disana didapati peristiwaperistiwa pendidikan yang berkaitan dengan cara-cara • 30. mengajar,tingkah laku siswa,dan sebagainnuya.Diharapkan ini dapat membantu guru untuk menjadi lebih baik.G. KELEMAHAN DAN KELEBIHAN TEKNIK – TEKNIK DALAM PELAKSANAAN SUPERVISI 1. Kelemahan Teknik – Teknik Dalam Pelaksanaan Supervisi Perlu biaya yang banyak, waktu yang tepat, sekolah jadi kurang efektif. Perlu penyediaan waktu yang tepat Tidak mencerminkan keadaan sehari-hari Kurang demokratis Mengganggu kelas lain dalam KBM, kelas sendiri ditinggalkan Agak sulit menentukan dan cukup menyita waktu Agak sulit menemukan waktu Guru merasa canggung dan kurang bebas 2. Kelebihan Teknik – Teknik Dalam Pelaksanaan Supervisi Dapat mengetahui kelebihan yang dapat dikembangkan, mengetahui kelemahan untuk perbaikan, memberikan saran sesuai dengan kebutuhan Bantuan diberikan kepada seluruh guru dalam satu kali pertemuan, pertukaran pikiran secara umum Hal-hal yang baik dapat dijadikan contoh, hal yang kurang dapat didiskusikan • 31. Dapat memberikan bimbingan aktual Guru dapat menunjukan hasil usahanya Dapat melayani kebutuhan khusus setempat Dapat mengetahui kelebihan yang dapat dikembangkan, mengetahui kelemahan untuk perbaikan, memberikan saran sesuai dengan kebutuhan.H. PERANGKAT SUPERVISI Salah satu perangkat yang digunakan dalam melaksankan supervisi ialah instrument observasi pembelajaran/check list terutama untuk supervisi kelas, supervisi klinis, dengan demikian diharapkan indicator yang diamati untuk setiap unsure yang diamati, antara lain : 1. Persiapan dan aperisepsi 2. Relevansi materi dengan tujuan instruksional 3. Penguasaan materi 4. Strategi 5. Metode 6. Manajemen kelas 7. Pemberian metivasi kepada siswa 8. Nada dan suara 9. Penggunaan bahasa 10.Gaya dan sikap perilaku.

Selasa, 11 Desember 2012

supervisi klinis

Makalah Supervisi Klinis BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan kebutuhan akan pendidikan membutuhkan beberapa literature tertentu untuk mMakalah Supervisi Klinis eningkatkan kualitas pemberdayaan SDM dan sarana prasarana. Pendidikan pada era sekarang sudah mampu bergerak mendekati garis kebutuhan yang harus ditempuh, dibanding sebelumnya ketika kedudukan pendidikan hanya sebagai formalitas global. Menindak semakin luasnya cakupan kebutuhan pendidikan, maka sekolah perlu memperhatikan beberapa aspek yang berhubungan dengan kualitas kinerja guru sebagai pencetak output sekolah yakni siswa. Guru perlu mendapatkan referensi tentang pengembangan pengajaran agar mencapai keberhasilan dalam melaksanakan kurikulum yang berlaku. Supervisi perlu sekali dilakukan sebagai alat untuk mengetahui proporsi kualitas guru dalam menjalankan kegiatan belajar mengajar. Aspek yang diberikan dalam supervisi yang ada biasanya hanya bersifat umum, karena guru tidak dilibatkan dalam perencanaan pembuatan supervisi padahal nantinya guru mendapatkan follow up dari supervisi yang sudah dilakukan.[1] B. Permasalahan 1. Pengertian Supervisi Klinis 2. Perbedaan Supervisi Klinis dan Supervisi Pendidikan 3. Karakteristik Supervisi Klinis 4. Tujuan Supervisi Klinis 5. Prinsip-prinsip Supervisi Klinis BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Supervisi Klinis Secara umum supervisi klinis diartikan sebagai bentuk bimbingan profesional yang diberikan kepada guru berdasarkan kebutuhannnya melalui siklus yang sistematis. Siklus sistematis ini meliputi: perencanaan, observasi yang cermat atas pelaksanaan dan pengkajian hasil observasi dengan segera dan obyektif tentang penampilan mengajarnya yang nyata. Jika dikaji berdasarkan istilah dalam “klinis”, mengandung makna: (1) Pengobatan (klinis) dan (2) Siklus, yaitu serangkaian kegiatan yang merupakan daur ulang. Oleh karena itu makna yang terkandung dalam istilah klinis merujuk pada unsur-unsur khusus, sebagai berikut: o Adanya hubungan tatap muka antara pengawas dan guru didalam proses supervisi. o Terfokus pada tingkah laku yang sebenarnya didalam kelas. o Adanya observasi secara cermat. o Deskripsi pada observassi secara rinci. o Pengawas dan guru bersama-sama menilai penampilan guru. o Fokus observasi sesuai dengan permintaan kebutuhan guru.[2] B. Perbedaan Supervisi Klinis dan Supervisi Pendidikan Ada perbedaan yang diulas dari dua macam supervisi ini yaitu untuk supervisi pendidikan sifatnya lebih umum dan kompleks sehingga format supervisi yang ada lebih luas tidak hanya menyangkut pengajaran saja. Sedangkan untuk supervisi klinis sifatnya lebih kearah yang khusus dan terbatas pada aspek tertentu yang dibutuhkan dalam pengajaran guru. Supervisi klinis adalah bentuk bantuan profesioanl yang diberikan pada guru berdasarkan kebutuhan dengan beberapa siklus tertentu. Siklus yang ada pada desain supervisi ini melibatkan guru sebagai target utama, tetapi sesuai dengan kebutuhan yang guru rasakan masih sangat kurang. Ada tiga siklus dalam pelaksanaan supervisi klinis, meliputi pertemuan awal, observasi, dan pertemuan balikan. Aplikasi ini dilakukan dengan beberapa langkah pendekatan oleh guru untuk pelaksanaan supervisi dilapangan. Seorang supervisor untuk hal ini perlu melakukan kajian ulang tentang segala hal yang dialami guru atau karakteristik guru itu sendiri. Dalam supervisi klinis ada tiga prinsip yang harus diketahui supervisor, yaitu interaktif, demokratif, dan terpusat pada guru (Acheson dan Gall, 1987). Prinsip ini berbeda dengan siklus, dimana prinsip ini menjadi dasar pengetahuan sebelum melakukan supervisi sedangkan siklus hanya dilakukan ketika pelaksanaan supervisi menyangkut format dll. Selain prinsip itu, kepala sekolah perlu memperhatikan prisnsip tambahan seperti hubungan antara guru dan supervisor sifatnya interaktif daripada direktif, penentuan tindakan dilakukan secara demokratik, terpusat pada guru (pelaksanaa supervisi), pemberian balikan dengan rekaman yang cermat, supervisi bukan instruksi tapi bantuan, supervisi dilakukan sesuai kontrak. Dari perencanaan tersebut, maka supervisi yang akan dilaksanakan supervisor dapat dikatakan sesuai prosedur atau tingkat efektifitasnya tinggi. Jika disimak dari beberapa fungsi serta tahapan tersebut, maka supervisi yang cocok untuk dilakukan pada guru adalah supervisi klinis bukan supervisi pendidikan, hal ini sesuai dengan kajian proporsi supervisi yang dibutuhkan. Seperti dikatakan Sergivanni dan Starrat dalam buku supervisi klinis Dra. Maisyaroh, M. Pd bahwa supervisi klinis memang berbeda dengan supervisi pendidikan (supervisi non klinis). Terdapat beberapa perbedaan signifikan antara lain seperti tabel dibawah, No Aspek Supervisi Klinis Supervisi Non Klinis 1 Prakarsa dan tanggung jawab guru supervisor 2 Hubungan supervisor dengan guru Kolegial sederajat dan interaktif Hubungan atasan bawahan yang birokratis 3 Sifat Bantuan demokratis Otoriter 4 sasaran Diajukan guru dengan kajian dan kontrak bersama Sesuai keinginan supervisor 5 Ruang lingkup terbatas luas 6 Tujuan Bimbingan analitik dan deskriptif evaluatif 7 Peran supervisor Banyak bertanya pada guru Banyak memberi tahu dan mengarahkan Dari penjabaran tabel diatas akan memudahkan referensi kepala sekolah dalam menjalankan supervisi. Kajian-kajian tersebut membuka pemikiran desain supervisi yang perlu dilakukan pada guru untuk keperluan sekolah. Dalam pelaksanaan di sekolah, kebanyakan supervisi yang dilakukan adalah supervisi klinis, ini dikarenakan fungsi utama supervisi klinis lebih mengarah pada kinerja pengajaran guru dibanding dengan konten supervisi pendidikan / non klinis yang cenderung meluas. Kepala sekolah memang diharapkan dapat membantu kualitas pengajaran guru dengan baik, sehingga peranannya sangat penting sebagai seorang supervisor, terlebih lagi keharusan kepala sekolah untuk memahami konsep supervisi yang akan dijalankan. Secara garis besar, kepala sekolah harus bisa meletakkan bagian mana untuk supervsi klinis dan mana untuk non klinis, serta memahami pula supervisi mana yang akan dilakukan, supervisi klinis atau pendidikan. Dari hal tersebut akan didapat hasil supervisi yang isinya lebih efektif untuk pengembangan sekolah atau peningkatan kualitas pendidik. Desain supervisi ini menjadi referensi kepala sekolah dalam menentukan kemajuan pendidikan, substansi pendidikan yang menjadi pengembangan metode pendidikan, dan nantinya lebih menuju ke arah hasil output yang berhasil.[3] C. Karakteristik Supervisi Klinis Merujuk pada pengertian yang telah dipaparkan, terdapat beberapa karakteristik supervisi klinis, yaitu: 1. Perbaikan dalam mengajar mengharuskan guru mempelajari keterampilan intelektual dan bertingkah laku berdasarkan keterampilan tersebut. 2. Fungsi utama supervisor adalah mengajar keterampilan-keterampilan kepada guru. 3. Fokus supervisi klinis adalah:  Perbaikan cara mengajar dan bukan mengubah kepribadian guru.  Dalam perencanaan pengajaran dan analisisnya merupakan pegangan supervisor dalam memperkirakan perilaku mengajar guru.  Pada sejumlah keterampilan mengajar yang mempunyai arti penting bagi pendidikan dan berada dalam jangkauan guru.  Pada analisis yang konstruktif dan memberi penguatan (reinforcement) pada pola-pola atau tingkah laku yang berhasil daripada “mencela” dan “menghukum” pola-pola tingkah laku yang belum sukses.  Didasarkan pada bukti pengamatan dan bukan atas keputusan penilaian yang tidak didukung oleh bukti nyata. 4. Siklus dalam merencanakan, mengajar dan menganalisis merupakn suatu komunitas dan dibangun atas dasar pengalaman masa lampau. 5. Supervisi klinis merupakan suatu proses memberi dan menerima informasi yang dinamis dimana supervisor dan guru merupakan teman sejawat didalam mencari pengertian bersama mengenai proses pendidikan. 6. Proses supervisi klinis terutama berpusat pada interaksi verbal mengenai analisis jalannya pelajaran. 7. Setiap guru mempunyai kebebasan maupun tanggung jawab untuk mengemukakan pokok-pokok persoalan, menganalisis cara mengajarnya sendiri dan mengembangkan gaya mengajarnya. 8. Supervisor mempunyai kebebasan dan tanggung jawab untuk menganalisis dan mengevaluasi cara supervisi yang dilakukannya dengan cara yang sama seperti ketika ia menganalisis dan mengevaluasi cara mengajar guru. D. Tujuan Supervisi Klinis 1. Tujuan umum Secara umum Supervisi klinis bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan keterampilan mengajar guru di kelas. Hubungan ini supervisi klinis merupakan kunci untuk meningkatkan kemampuan professional guru. 2. Tujuan khusus Secara khusus Supervisi klinis bertujuan untuk: a) Menyediakan suatu balikan yang objektif dalam kegiatan mengajar yang dilakuakan guru dengan berfokus terhadap: o Kesadaran dan kepercayaan diri dalam mengajar. o Keterampilan-keterampilan dasar mengajar yang diperlukan. o Mendiagnosis dan membantu memecahkan masalah-masalah pembelajaran. b) Membantu guru mengembangkan keterampilan dalam menggunakan strategi-strategi pembelajaran. c) Membantu guru mengembangkan diri secara terus menerus dalam karir dan profesi mereka secara mandiri. E. Prinsip-prinsip Supervisi Klinis Dalam supervisi klinis terdapat sejumlah prinsip umum yang menjadi landasan praktek, antara lain: 1. Hubungan antara supervisor dengan guru adalah hubungan kolegial yang sederajat dan bersifat interaktif. Hubungan semacam ini lebih dikenal sebagai hubungan antara tenaga professional berpengalaman dengan yang kurang berpengalaman, sehingga terjalin dialog professional yang interaktif dalam suasana yang intim dan terbuka. Isi dialog bukan pengarahan atau instruksi dari supervisor/pengawas melainkan pemecahan masalah pembelajaran. 2. Diskusi antara supervisor dan guru bersifat demokratis, baik pada perencanaan pengajaran maupun pada pengkajian balikan dan tindak lanjut. Suasana demokratis itu dapat terwujud jika kedua pihak dengan bebas mengemukakan pendapat dan tidak mendominasi pembicaraan serta memiliki sifat keterbukaan untuk mengkaji semua pendapat yang dikemukakan didalam pertemuan tersebut dan pada akhirnya keputusan ditetapkan atas persetujuan bersama. 3. Sasaran supervisi terpusat pada kebutuhan dan aspirasi guru serta tetap berada didalam kawasan (ruang lingkup) tingkah laku gurudalam mengajar secara aktual. Dengan prinsip ini guru didorong untuk menganalisis kebutuhan dan aspirasinya didalam usaha mengembangkan dirinya. 4. Pengkajian balikan dilakukan berdasarkan data observasi yang cermat yang didasarkan atas kontrak serta dilaksanakan dengan segera. Dari hasil analisis balikan itulah ditetapkan rencana selanjutnya. 5. Mengutamakan prakarsa dan tanggung jawab guru baik pada tahap perencanaan, pengkajian balikan bahkan pengambilan keputusan dan tindak lanjut. Dengan mengalihkan sedini mungkin prakarsa dan tanggung jawab itu ke tangan guru diharapkan pada gilirannya kelak guru akan tetap mengambil prakarsa untuk mengembangkan dirinya. Prinsip-prinsip supervisi klinis diatas membawa implikasi bagi kedua belah pihak (supervisor dan guru). a. Implikasi bagi supervisor antara lain: o Memiliki keyakinan akan kemampuan guru untuk mengembangkan dirinya serta memecahkan masalah yang dihadapinya. o Memiliki sikap terbuka dan tanggap terhadap setiap pendapat guru. o Mau dan mampu memperlakukan guru sebagai kolega yang memerlukan bantuannya. b. Implikasi bagi guru antara lain: o Perubahan sikap dari guru sebagai seseorang yang mampu mengambil prakarsa untuk menganalisis dan mengembangkan dirinya. o Bersikap terbuka dan obyektif dalam menganalisis dirinya. F. Prosedur Supervisi Klinis Prosedur supervisi klinis berlangsung dalam suatu proses berbentuk siklus, terdiri dari tiga tahap yaitu: tahap pertemuan pendahuluan, tahap pengamatan dan tahap pertemuan balikan. Dua dari tiga tahap tersebut memerlukan pertemuan antara guru dan supervisor, yaitu pertemuan pendahuluan dan pertemuan lanjutan. 1. Tahap Pertemuan Pendahuluan Dalam tahap ini supervisor dan guru bersama-sama membicarakan rencana tentang materi observasi yang akan dilaksanakan. Tahap ini memberikan kesempatan kepada guru dan supervisor untuk mengidentifikasi perhatian utama guru, kemudian menterjemahkannya kedalam bentuk tingkah laku yang dapat diamati. Pada tahap ini dibicarakan dan ditentukan pula jenis data mengajar yang akan diobservasi dan dicatat selama pelajaran berlangsung. Suatu komunikasi yang efektif dan terbuka diperlukan dalam tahap ini guna mengikat supervisor dan guru sebagai mitra didalam suasana kerja sama yang harmonis. Secara teknis diperlukan lima langkah utama bagi terlaksananya pertemuan pendahuluan dengan baik, yaitu: 1) Menciptakan suasana intim antara supervisor dengan guru sebelum langkah-langkah selanjutnya dibicarakan. 2) Mengkaji ulang rencana pelajaran serta tujuan pelajaran. 3) Mengkaji ulang komponen keterampilan yang akan dilatihkan dan diamati. 4) Memilih atau mengembangkan suatu instrumen observasi yang akan dipakai untuk merekam tingkah laku guru yang akan menjadi perhatian utamanya. 5) Instrumen observasi yang dipilih atau yang dikembangkan dibicarakan bersama antara guru dan supervisor. 2. Tahap Pengamatan/Observasi Mengajar Pada tahap ini guru melatih tingkah laku mengajar berdasarkan komponen keterampilan yang telah disepakati dalam pertemuan pendahuluan. Di pihak lain supervisor mengamati dan mencatat atau merekam tingkah laku guru ketika mengajar berdasarkan komponen keterampilan yang diminta oleh guru untuk direkam. Supervisor dapat juga mengadakan observasi dan mencatat tingkah laku siswa di kelas serta interaksi antara guru dan siswa. Kunjungan dan observasi yang dilaksanakan supervisor bermanfaat untuk mengetahui pelaksanaan pembelajaran sebenarnya. Manfaat observasi tersebut antara lain dapat: o Menemukan kelebihan atau kekurangan guru dalam melaksanakan pembelajaran guna pengembangan dan pembinaan lebih lanjut; o Mengidentifikasi kendala yang dihadapi dalam melaksanakan suatu gagasan pembaharuan pengajaran; o Secara langsung mengetahui keperluan dan kebutuhan masing-masing guru dalam melaksanakan proses belajar-mengajar; o Memperoleh data atau informasi yang dapat digunakan dalam penyusunan program pembinaan profesinal secara terinci; o Menumbuhkan kepercayaan diri pada guru untuk berbuat lebih baik; serta o Mengetahui secara lengkap dan komprehensif tentang hal-hal pendukung kelancaran proses belajar-mengajar. Dalam proses pelaksanaannya, supervisor seharusnya memperhatikan hal-hal sebagai berikut: o Menciptakan situasi yang wajar, mengambil tempat didalam kelas yang tidak menjadi pusat perhatian anak-anak, tidak mencampuri guru yang sedang mengajar, sikap waktu mencatat tidak akan menimbulkan prasangka dari pihak guru. o Harus dapat membedakan mana yang penting untuk dicatat dan mana yang kurang penting. o Bukan melihat kelemahan, melainkan melihat bagaimana memperbaikinya. o Harus diperhatikan kegiatan atau reaksi murid-murid tentang proses belajar. 3. Tahap Pertemuan Lanjutan Sebelum pertemuan lanjutan dilaksanakan supervisor mengadakan analisis pendahuluan tentang rekaman observasi yang dibuat sebagai bahan dalam pembicaraan tahap ini. Dalam hal ini supervisor harus mengusahakan data yang obyektif, menganalisis dan menginterpretsikan secara koperatif dengan guru tentang apa yang telah berlangsung dalam mengajar. Setelah melakukan kunjuangan dan observasi kelas, maka supervisor seharusnya dapat menganalisis data-data yang diperolehnya tersebut untuk diolah dan dikaji yang dapat dijadikan pedoman dan rujukan pembinaan dan peningkatan guru-guru selanjutnya. Masalah-masalah professional yang berhasil diidentifikasi selanjutnya perlu dikaji lebih lanjut dengan maksud untuk memahami esensi masalah yang sesungguhnya dan faktor-faktor penyebabnya, selanjutnya masalah-masalah tersebut diklasifikasi dengan maksud untuk menemukan masalah yang mana yang dihadapi oleh kebanyakan guru di sekolah atau di wilayah itu. Ketepatan dan kehati-hatian supervisor dalam menimbang suatu masalah akan berpengaruh terhadap keberhasilan proses pembinaan professional guru yang bersangkutan selanjutnya. Dalam proses pengkajian terhadap berbagai cara pemecahan yang mungkin dilakukan, setiap alternatif pemecahan masalah dipelajari kemungkinan keterlaksanaannya dengan cara mempertimbangkan factor-faktor peluang yang dimiliki, seperti fasilitas dan kendala-kendala yang mungkin dihadapi. Alternatif pemecahan masalah yang terbaik adalah alternatif yang paling mungkin dilakukan, dalam arti lebih banyak faktor-faktor pendukungnya dibandingkan dengan kendala yang dihadapi. Disamping itu, alternatif pemecahan yang terbaik memiliki nilai tambah yang paling besar bagi peningkatan mutu proses dan hasil belajar siswa. Langkah-langkah utama pada tahap pertemuan lanjutan adalah: 1) Menanyakan perasaan guru secara umum atau kesan umum guru ketika ia mengajar serta memberi penguatan. 2) Mengkaji ulang tujuan pelajaran. 3) Mengkaji ulang target keterampilan serta perhatian utama guru. 4) Menanyakan perasaan guru tentang jalannya pelajaran berdasarkan target dan perhatian utamanya. 5) Menunjukan serta mengkaji bersama guru hasil observasi (Rekaman data). 6) Menanyakan perasaan guru setelah melihat rekaman data tersebut. 7) Menyimpulkan hasil dengan melihat apa yang sebenarnya merupakan keinginan atau target guru dan apa yang sebenarnya terjadi atau tercapai. 8) Menentukan bersama-sama dan mendorong guru untuk merencanakan hal-hal yang perlu dilatih atau diperhatikan pada kesempatan berikutnya.[4]

Rabu, 05 Desember 2012

bahasa arab



1. Pendahuluan

1.1. Latar Belakang Masalah
ILMU BALAGHAH SEBAGAI CABANG
ILMU BAHSA ARAB

Program Study Bahasa Arab
Fakultas Sastra
Universitas Sumatera Utara
Bahasa Arab pertama sekali dikenal sebagai bahasa-bahasa orang-orang dizajirah
Semenanjung Arabia, kemudian setelah datangnya agama Islam dikenal pula sebagai bahasa
Al-Quran sebagai pedoman hidup kaum muslimin itu dituliskan dalam bahasa Arab yang sangat
indah susunannya dan rangkaian kalimatnya.
Bahasa Arab dikenal juga sebagai Ilmu Pengetahuan sebab begitu banyak ilmu
pengetahuan dimasa perkembangan Islam yang dituliskan dalam bahasa ini, lelau ditahapan
perkembangan selanjutnya bahasa Arab telah menjadi bahasa Dunia, karena tidak hanya
digunakan oleh sekelompok masyarakat Arab atau pemeluk Islam saja, tetapi telah diakui
sebagai bahasa kumunikasi di PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa).
Dilihat dari segi penggunaannya maka bahasa Arab ini terbagi dua yaitu : Bahasa
Ammiyah (bahasa yang dipakai untuk berkomunikasi), berasal dari bahasa daerah di Jazirah
Arabiya tidak terikat pada tata bahasa.
Kedua bahasa Fushah yaitu bahasa Resmi, contohnya bahasa Al-Quran dan Hadist,
untuk karangan ilmiah kitab-kitab, surat-menyurat dan komunikasi resmi lainnya. Bahasa
fushah (resmi) ini mempunyai tingkat kesulitan tersendiri karena terikat erat dengan peraturan
kebahasaan diantaranya ilmu nahwu (Qawaid) dan Ilmu Balaghah Semantik Arab.
Ilmu Balaghah tetap dianggap sebagai ilmu yang tersulit untuk dicerna, sebab ilmu ini
akan menterkaitkan antara komponen-komponen ilmu bahasa Arab yang ainnya. Namun jika
dipelajari dengan penghayatan yang tinggi serta dihubungkan pula kepada kegunaannya dari
sisi ilmu-ilmu agama jelas akan mendatangkan kenikmatan tersendiri dan dapat memperkaya
dan mempertajam mata bathin manusia, sehingga menimbulkan dampak kehidupan yang baik
secta dapat mengusir kejenuhan untuk mempelajarinya.

1.2. Masalah
Pelajaran ilmu Balaghah (semantik Arab) ini sangat berat untuk dipahami, terutama
sekali bagi orang-orang yang tidak mempunyai ilmu-ilmu dasar bahasa Arab, seperti ilmu Sari
dan Nahwu serta leksikologi (Dirasat Mu'jamiyat). Hal seperti ini tampak jelas dikalangan
mahasiswa di Jurusan bahasa Arab Universitas Sumatera Utara Medan.
Pada buku-buku Balaghah yang ada saat ini, kebanyakan contoh-contoh kalimat dikutip
dari nukilan-nukilan, syair-syair Arab serta contoh Ayat-Ayat Suci AI-Quran dan Hadist maupun
AI-Hikam (kata-kata yang mengandung pesan hikmah).
Kalimat-kalimat tersebut tidak selalu dijumpai dalam kalimat percakapan sehari-hari,
mempunyai perbedaan jauh dari kalimat yang dibahas pada pelajaran Nahwu dan Sarf, namun
tetap mempunyai hubungan dengan peraturan tata bahasa. Sebagai salah seorang tenaga
pengajar yang mengasuh mata kuliah Balaghah ini, penulis merasa sangat penting untuk
membuat solusi, sehingga mahasiswa termotivasi untuk mengembangkan ilmunya.

aPembatasan masalah balaghah sangat luas dan sukar jika diuraikan secara terperinci
dan mendetail sekali. Ilmu balaghah ini tida bisa terlepas dari ilmu tata bahasa Arab dan
pertalian dengan ilmu-ilmu agama. Diantara ilmu fikih, Usul Fikih, Ilmu Hadist, Ilmu Tafsir,
Ilmu Tasauf, Ilmu Ahklaq dan sebagainya.
Dari sekian banyak masalah yang dapat diulas itu penulis membatasinya pada
keberadaan ilmu balaghah sebagai salah satu sisi Ilmu bahasa Arab. Keterkaitannya dengan
ilmu Nahwu dan manfaatnya dalam memterjemahkan bahasa Arab terutama sekali ayat-ayat
© 2004 Digitized by USU digital library
1
AI-Quran yang pada akhirnya berguna sekali dalam menetapkan hukum-hukum Islam.

1.4. Tujuan Pembahasan
Adapun tujuan penulisan karya ilmiyah ini adalah :
1. Mengungkapkan keterkaitan ilmu Balaghah
2. Memperkenalkan Ilmu Balaghah secara umum
3. Memperlihatkan keurgensian ilmu Balaghah dan keterkaitannya dengan ilmu Nahwu
4. Menambah hazanah ilmu pengetahuan Mahasiswa program studi Bahasa Arab
khususnya dan para pencinta bahasa Arab umumnya tentang ilmu Semantik Arab.

1.5. Metode Pembahasan
Metode yang penulis gunakan dalam penulisan ini adalah metode Desktiptif analisis,
yaitu mengkaji beberapa referensi yang berkaitan dengan judul makalah ini, baik dari sumber
bacaan berbahasa Arab dan sumber yang berbahasa Indonesia, kemudian disusun ulang
berdasarkan analisis yang cermat sehingga berbentuk makalah.
Penulis mengadakan pembahasan bertahap dari uraian keterangan secara umum
meningkat pada penjelasan khusus (deduktif) 
Untuk menterjemahkan kalimat bahasa Arab penulis menggunakan sistem terjemahan
bebas dengan tetap mempertahankan nilai-nilai estetis terkandung didalamnya.

2. BAHASA ARAB

2.1. Sejarah Singkat Bahasa Arab
Bahasa Arab berasal dari bahasa Smit, yakni bahasa yang dipergunakan kabilah-kabilah
Arab purba yang mendiami daerah Asia Barat. Semula Bahasa Arab ni berpangkal dari putra
Sam bin Nuh, namun kelompok ini  telah musnah mereka dikenal dengan Arab Ba'idah daD
peraturan tata bahasanya sudah tidak dikenal lagi.
Dari berbagai sumber bacaan yang penulis talaah, maka dijumpai keterangan yang
sama yaitu menyatakan bahwa . Bahasa Arab adalah satu bahasa dengan aslinya, terutama
sekali terutama sekali bagi penduduk di daerah pegunungan. 
Faktor-faktor penunjang terselamatkannya Bahasa Arab dari pengaruh asing adalah
antara lain, bangsa Arab adalah bangsa rang tidak pemah dijajah, bangsa ini tidak banyak
bergaul disebabkan keadaan daerah mereka.
Kemajuan bangsa Arab mempengaruhi perkembangan bahasa Arab. Semula bahasa
Arab tidak mengenal bentuk huruf seperti sekarang tidak kenal titik dan baris, berkembang
menjadi huruf-huruf yang bersahaja lengkap dengan titik dan baris atas prakarsa para ulama
Arab masa lampau. Namun bagaimana bentuk tulisan masa lampau itu belum pernah penulis
jumpai sampai sekarang ini. Kecuali hanya berita-berita dari sejarah yang dituliskan dalam
buku-buku.
Perbedaan tulisan dan Lahzah (dialeg) disebabkan perbedaan geografis tetap ada, tetapi
setelah datangnya Islam maka bahasa Arab pun bertambah tinggi kedudukannya dan jadilah
bahasa Al-Quran menjadi bahasa standart.
Perkembangan bahasa Arab dapat diperhatikan dari catatan sejarah perkembangan
agama Islam. Tahapan demi tahapan Agama Islam dan kerajaan Islam berkembang pesat
sehingga kaum muslimin Arab dapat menaklukkan kerajaan di luar semenanjung Arabiya
sampai ke Codowa dan Spanyol, sehingga mencapai puncak kejayaan di zaman Khalifah
Abbasyiyah. Maka demikian pula halnya bahasa Arab bertambah masyhur.
Bahasa Arab tidak hanya dipergunakan oleh bangsa Arab saja, tetapi mulai
dipergunakan oleh bangsa lain yang telah takluk dibawah kekuasaan Islam.  Kekhalifahan Islam
menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa resmi kenegaraan. Dipergunakan dalam segala bentuk
kegiatan pemerintahan.
Kebanggaan terhadap agama Islam (Fahkrul Islami). Membuat mereka (bangsa Arab)
semakin bersemangat mengembangkan bahasanya dengan baik dan memasyhurkannya
keseluruh pelosok dunia. 
Ruhul Islami atau semangat keislaman mereka pada gilirannya membuat mereka
terlebih-lebih ulama dan fakar muslim berinisiatif menulis berbagai macam disiplin ilmu dalam
© 2004 Digitized by USU digital library
2
bahasa Arab, mulai dari ilmu Filsafat, kedokteran, matematika, Ilmu Politik, llmu Astrologi dan
Astronomi, Ilmu Geografi, disamping ilmu-ilmu agama (Fikh, Tafsir, Hadist, Usul Fikh, Ahkalq,
tarbiyah atau pendidikan, ilmu bahasa dan sastra).
Karya para fakar yang tersebut di atas ini di terjemahkan ke dalam berbagai bahasa di
dunia kemudian menjadi buku-buku rujukan dan pegangan bagi para intelektual dan ilmuan.
Satu catatan dari (AI-Badaawi, Bairut. Tanpa tahun) menyatakan: IImu hisab (matematika)
Arab masuk ke Eropa pada abad ke 13 rang dibawa oleh Leonardo de Pisa adalah perhitungan
rang praktis karena mempunyai bilangan desimal (Al-Ghubar). Orang Arab juga menemukan
angka 0 (nol) pertama sekali. Demikianlah secara ringkasnya sejarah bahasa arab.

2.2. Pentingnya Bahasa Arab
Jika ditinjau dari asfek sejarah kepentingan pada tata bahasa Arab,(Motgomery watt,
1990) berpendapat :"Dua kebutuhan praktis memaksa orang untuk mempelajari tata bahasa
Arab: pertama dibutuhkan semacam kesepakatan mengenai asas-asas umum tata bahasa jika
orang ingin memperoleh hasil dari bahasan-bahasan mengenai penafsiran dari ayat-ayat AlQuran,
dan
kedua
kesepakatan
mengenai makna
kata-kata
rang tidak
diketahui
artinya".

Masalah ini menjadi mendesak sebab Al-Quran telah menjadi dasar dari Agama Islam
dan menjadi dasar dari negara Islam saat itu bahkan sampai sekarang ini. Dalam pemahaman
Ayat-ayat Al-Quran penulis Barat mengakui bahwa bahasa Arab memberikan lebih banyak
cakupan makna yang memungkinkan dibanding dengan bahasa Inggris.
Selain itu para sekretaris yang non Arab pertama sekali dihadapkan kepada penulisan
berbahasa Arab menjadi kebanggan profisional pada zaman Khulafaurrasyidin terlebih-lebih
dimasa khalifah Umar bin Khattab berlajut sampai ke masa keemasan Islam pada Dinasti Bani
Abbasiyah.
Tingginya kebanggaan profesional ini membuat mereka terpacu untuk mempelajari tata
bahasa Arab agar terhindar dari "Solecisme" kekacauan tata bahasa ketika mereka menulis.
Setelah perkembangan kekuasaan negara Islam dan juga perkembangan agama Islam
ke berbagai pelosok dunia maka bangsa Arab berbaur dengan bangsa-bangsa lain seperti
bangsa Romawi, Paris, Eropa. Penuturan bahasa Arab pun mulai bercampur baur dengan
bahasa-bahasa daerah penaklukan tadi oleh karena itu khalifah Ali Bin Ali Thalib merasa sangat
khawatir bahasa tersebut akan terlepas dari struktur bahasa semula.
Khalifah Ali Bin Thalib memprakarsai terciptanya ilmu tata bahasa Arab (llmu Nahwu).
Pada awalnya beliau mengumpulkan bahan mengenai ن |/inna/kemudian قإ(idhafat/lalu
mempeluasnya lagi kepada masalah Atf dan Ta'ajjub. (keterangan lebih lanjut dari ini dapat
diperhatikan dari buku Nahwu karangan Zama) syari dari buku pengantar sastra Arab karangan
Fuad Said).
Orang-orang yang meneruskan pembahasan Ali ini adalah Abu I-Aswad As Dualiy (wafat
19 H). Nasar Bin 'Asim (wafat 86 H), dan Adurrahman Bin Hurmuz (wafat 117 H).
Kebebasan mencurahkan buah pikiran dari para ulama yang masyhur itu akhirnya
melahirkan dua kelompok ulama Nahwu yaitu ulama Kuffah dan Ulama Basyrah.

2.3. llmu-ilmu Bahasa Arab
setelah mengemukakan beberapa urgensi tata bahasa arab dan kemajuanya secara
ringkas, berikut ini penulis mengetengahkan penjelasan tentang ilmu-ilmu bahasa Arab selain
llmu Nahwu.
Bahasa Arab adalah bahasa yang terjaya dari bahasa-bahasa lainnya, terbanyak
pramasastranya, hingga ia dapat melayani kemajuan-kemajuan ilmu pengetahuan disegala
bidang.
Untuk mengetahui seluk beluk bahasa Arab yang masyhur itu lebih jauh dan untuk
menilai keindahan kalimat baik prosa maupun puisi, maka satrawan-sastrawan arab telah
menetapkan 13 cabang ilmu yang bertalian dengan bahasa yang disebut dengan "Ulumul
Arabiyah"
"Ulumul Arabiyah" bisa disebut linguistik Arab itu terdiri dari :
1. Ilmu L-ughah  : llmu pengetahuan yang menguraikan kata-kata (lafaz) Arab besamaan
dengan maknanya. Dengan pengetahuan ini, orang akan dapat mengetahui asal kata
dan seluk beluk kata. Tujuan ilmu ini untuk memberikan pedoman dalam percakapan,
© 2004 Digitized by USU digital library
3
pidato, surat-menyurat, sehingga seseorang dapat berkata-kata dengan baik dan
menulis dengan baik' pula.
2. Ilmu Nahwu : Ilmu pengetahuan yang membahas prihal kata-kata Arab, baik ketika
sendiri (satu kata) maupun ketika terangkai dalam kalimat. Dengan kaidah-kaidah ini
orang dapat mengatahui Arab baris akhir kata (kasus), kata-kata yang tetap barisnya
(mabni), kata yang dapat berubah ( mu'rab).
Tujuanya adalah untuk menjaga kesalahan-kesalahan dalam mempergunakan
bahasa , untuk menghindarkan kesalahan makna dalam rangka memahami AI-Quran
dan Hadist, dan tulisan-tulisan ilmiah atau karangan. 
Alam tata bahasa/ sintaksis Arab, dikenal istilah  Fi'iil dan Harf, jumlah Islamiyah
dan Fi'liyah serta Syibhu jumlah. Dalam ilmu Nahwu banyak lagi istilah dan persoalan
yang dihadapi dapat diteliti dari buku-buku bahwa yang banyak tersebar. Yang dikenal
memprakarsai Nahwu adalah Ali bin Ali Thalib beserta sahabatnya.
Peristilahan Nahwu yang berpengaruh kepada bahasa Indonesia adalah yang
dikarang oleh Abul Aswat Adduali dan Sibawaihi yang terlebih dahulu  dikenal orang
Barat. (keterangan lanjutan dapat dilihat dari buku Sejarah Studi bahasa Indonesia oleh
Drs. Ahmad Samin 1982. Diktat Fakultas Sastra USU).
3. Ilmu Sarf(morfologi Arab). Ilmu pengetahuan yang menguraikan tentang bentuk asal
kata, maka dengan ilmu ini dapat dikenal kata dasar dan kata bentukan, dikenal pula
afiks, Sufiks dan infiks, kata kerja yang sesuai dengan masa. Penciptaan llmu Sari ini
adalah Muaz bin Muslim.
4. Ilmu Isytiqaq : Ilmu pengetahuan tentang asal kata dan pemecahannya, tentang
imbuhan pada kata (hampir sama dengan ilmu Sarf)
5. Ilmu L-'arudh : Yang membahas hal-hal yang bersangkutan dengan karya sastra syair
dan puisi. llmu Arudh memberitahukan tentang wazan-wazan (timbangan) syair dan
tujuanya adalah untuk membedakan proses dalam puisi membedakan syair dan bukan
syair .Dengan ilmu arudh ini dikenal bahar syair seperti berikut ini : bahar thawi, bahar
madid, bahar basith, bahar wafir, bahar kamil, bahar hijaz, bahar rozaz, bahar sari'
bahar munsarih, bahar khafif, bahar mudhari, bahar muqradmib, bahar mujtas, bahar
mutaqarib, bahar Romawi dan bahar mutadarik.
6. Ilmu Qawafi : yang membahas suku terakhir kata dari bait-bait syair sehingga diketahui
keindahan syair. Yang memprakarsai adanya Qawafi ialah Muhallil bin Rabi'ah paman
Amruul Qaisy.
7. llmu Qardhus Syi'ri yaitu sejenis ilmu pengetahuan tentang karangan yang berirama
(lirik), dengan tekanan suara yang tertentu. Gunanya untuk membantu menghafalkan
syair dan mempertajam ingatan pembaca syair.
8. Ilmu hkat yaitu pengetahuan tentang huruf dan cara merangkaikannya, termasuk
bentuk halus kasarnya dan seni menulis dengan indah dapat dibedakan dalam beberapa
bentuk mulai dari khat tsulus, Diwan, Parsi dan khat nasakh. Penemu pertama ilmu khat
adalah nabi Idris karena beliaulah yang pertama kali menulis dengan kalam.
9. Ilmu Insyak yaitu ilmu pengetahuan tentang karang mengarang surat, buku, pidato,
cerita artikel, features dan sebagainya. Gunanya untuk menjaga jangan sampai salah
dalam dunia karang-mengarang.
10. Ilmu Mukhodarat yaitu pengetahuan tentang cara-cara memperdalam suatu persoalan,
untuk diperdebatkan didepan majlis, untu menambah keterampilan berargumentasi,
mahir bertutur dan terampil mengungkapkan cerita.
11.
Ilmu Badi' yaitu pengetahuan, tentang seni sastra, Penemu imu ini adalah Abdullah bin
Mu'taz. llmu ini ditujukan untuk menguasai seluk beluk sastra sehingga memudahkan
seseorang dalam meletakkan kata- sesuai tempatnya sehingga kata-kata tadi berlin
bertelindan dengan indah, sedap didengar dan mudah diucapkan.
12. Ilmu Bayan ialah ilmu yang menetapkan beberapa peraturan dan kaedah untuk
mengetahui makna yang terkandung dalam kalimat penemunya adalah Abu Ubaidah
yang menyusun pengetahuan ini dalam "Mujazu Al-Quran" kemudian berkembang pada
imam Ahu T ,qahir disempurnakan oleh pujangga-pujangga Arab lainnya seperti AIJahiz,
.lbnu
Mu'taz,
Qaddamah
dan
Abu
Hilal
Al-
Asikari.
Dengan
ilmu
ini
akan diketahui

rahasia
bahasa arab dalam prosa
dan puisi,
keindahan
sastra Al-Quran
dan
Hadist
4
Tanpa mengetahui ilmu ini seseorang tidak akan dapat menilai apalagi memahami isi AJQuran
dan
Sabda nabi
dengan sesungguhnya.

13. Ilmu Ma'ani ialah pengetahuan untuk menentukan beberapa kaedah untuk pemakaian
kata sesuai dengan keadaan (situasi dan kondisi) dalam istilah disebutkan "Muthabiq Lil
/muqtadhal Hali" tujuannya untuk mengetahui I'jaz Al-Quran, keindahan sastra Al-Quran
yang tiada taranya. Demikian pembagian ilmu L-Arabiyah yang disadur dari (pengantar
Sastra Arab(Food Said 1985, 98-106).

Jika ditinjau dari segj perbidangan linguistik maka pembagian ilmu bahasa Arab tersebut
diatas termasuk bidang interdisiplioner linguistik yang saling terkait satu dan lainnya.
Bidang ilmu Balghah (semantik Arab) terangkum dalam komponen ilmu bayan, Ma'ani
dan Badi'.
Maka apabila dilihat dari keterkaitan ilmu-ilmu yang telah disebutkan itu, tak satupun
ilmu bahasa Arab itu diabaikan, namun yang terlebih masyhur dikalangan masyarakat
Indonesia yang harus benar-benar dipelajari adalah Ilmu Nahwu saja, ini merupakan anggapan
yang keliru.
Maka untuk mengetahui kebenarannya , penulis mencoba untuk menguraikan sisi
keterkaitanya, pada bab- bab berikut ini.

3. ILMU BALAGHAH

3.1. Pengetian Ilmu Balaghah

Untuk lebih mengetahui tentang ilmu Balaghah, maka hendaklah diketahui pengertian
dari Balaghah. Meskipun pengertian singkat dari komponen ilmu balaghah itu secara singkat
dipandang perlu pula untuk mengetengahkan uraian tentang iImu balaghah agar tampak jelas
keurgensian (keberadaan) ilmu Balaghah tersebut.
Adapun pengertian dari segi etimologi adalah sampai atau berkesudahan atau sampai.
Menurut pengertian dari sisi kesusastraan ialah "Penonjokan makna dan pengertian kalimat
yang jelas, sampai tertanam pada hati pembaca dan pendengarnya (diungkapkan oleh Syaid
Ahrnad Aal-Hasymy).
Al-Mukaffa menyatakan bahwa Balaghah adalah beberapa makan yang terpancar dari
suatu kalimat melalui beberapa cam, sebagian dengan isayarat , berbicara, berpidato, diskusi,
surat-menyurat, karangan yang umumnya merupakan "wahyu" pada kalimat indah, ringkas
tepat dan lugas.
Jika kita perhatikan dari keterangan-keterangan fakar ilmu balaghah dari beberapa
regenerasi dapat disimpulkan bahwa :
llmu Balaghah adalah ilmu yang mengungkapkan metode untuk mengungkapkan bahasa
yang indah, mempunyai nilai estetis (keindahan seni), memberikan makna sesuai dengan
muktadhal hat (situasi dan kondisi), serta memberikan kesan sangat mendalam bagi pendengar
dan pembacanya.
Ungkapan yang mempunyai nilai sastra tinggi telah lama dimiliki oleh orang orang Arab,
babkan sebelum tersebarnya agama Islam, tidak mengherankan dari keindahan bahasa
membuat mereka terkesima mendengarkan ayat-ayat suci AI-Quran dan bahasa Hadist.








Alam tarakaifa dharaba L-Lahu masalan kalimatin Thayyibatin kasyajaratin ashluha a-sabitun
wa far'uha fi s-sa,a'I.
Apakah engkau tidak melihat Allah memberikan suatu perumpamaan dengan kalimat yang baik
seperti sebatang pohon yang baik akarnya kokoh dan cabangnya menjulang kelangit.
© 2004 Digitized by USU digital library
5
lnilah suatu ayat yang menyatakan kebaradaan dari keindahan dari suatu bahasa.Bila
dipandang dari peristilahan linguistik ilmu balaghah ini disebut Ilmu Sematik bahasa Arab.
Penamaan sebagai ilmu semantik ini adalah merupakan suatu peristilahan setelah meneliti dan
membandingkan disiplin ilmu semantik dan  ruang lingkup bahasanya dari segi semantik
bahasa Indonesia.
Namun jika diperhatikan dari pendapat para fakar yang lebih dominan menyatakan
balaghah sebagai bagian dari pembahasan sastra, mereka juga mempunyai alasan yaitu yang
diulas dalam balaghah adalah kebanyakan hasil karya sastra atau bahasa yang mengandung
nilai-nilai sastra tinggi (bahasa al-Quran dan Hadist).

3.2. Pembabagian llmu Balaghah
Ilmu balaghah sebagaimana diketahui terdiri dari bahagian yaitu : ilmu Bayan, Ilmu
Ma'ani dan ilmu Badi'. Untuk lebih jelasnya pembahagian dari ilmu Balaghah ini akan dijelaskan
dalam sub-sub pembahasan ini.

3.2.1.Ilmu Bayan
Ilmu Bayan adalah ilmu yang menjelaskan seluk beluk bahasa Arab dimulai dari
mengetahui uslub (ragam bahasa) puisi dan prosa.
Pembagian ilmu Bayan meliputi :
 Tasybih, rukun tasbih. Pembahagian Tasybih dan kegunaan ungkapan Tasybih .
 Balaghah dan pengaruhnya bagi orang Arab dan bahasa Arab bagi para pembicara dan
lawan bicara
 Pembahasan tentang Majaz serta pembahagiannya
 Isti'ara (kata pinjaman) beserta pembahagiannya.
 Kinayah dan pembahagiannya.
Keterangan ringkas mengenai pembahasan ilmu Bayan :
a. Tasybih
Jika dilihat dari asal kata, tasybih berasal dari kata ٩بش/Syabbaha, mengingat masamuda,
mensifatkan kecantikan gadis. (Muhammad Yunus, 1973:188). Dari segi ilmu Balaghah adalah
menyempakan sesuatu kepada sesuatu yang lain dalam bahasa arab disebut :


    
            Itu ditujukan
supaya dapat menggambarkan hal rang tersembunyi, hal yang jauh, dan yang dekat,
menambah ketinggian derajat, memuji keindahan, kelebihan seseorang atau kelompok,
sehingga menyentuh perasaan orang.
Arkanutasybih yaitu:
Musyabbah  : yaitu suatu yang dipersamakan
Musyabbah bih : yaitu yang diumpamakan
Adat Tasybih  : yaitu lapaz yang dipergunakan untuk membuat suatu perumpamaan
Wajah syabah  : suatu sisi yang dipersamakan.



 Al-'Ilmu ka n-nuri fi' l-hidayati


Musyabbah : Musyabbah bih : Adat tasybih : Wajah Syabah :
Dilihat dari struktur arkanu t – tasybih : Wajah Syabah :
1. Tasybih Mursal
Musyabah : musyabah bih : Adat tasybih : Wajah Syabah



2. Muakkad
© 2004 Digitized by USU digital library
6












Muasyabbah : musyabah bih : Adat tasybih : Wajah Syabah

3. Mujmal
Musyabbah : musyabah bih : Adat tasybih : Wajah Syabah

4. Mufassal
Musyabah : musyawarah bih : Adat tasybih : Wajah Syabah

5. Baligh






Musaybbah : musyabah bih : Adat tasybih : Wajah Syabah

6. Tamtsil (wajah syabah bersjfat majemuk serta memerlukan pemikiran dan
Hayalan :


Musyabbah: musyabah bili: Adat tasybili: Wajah Syabah

7. Ghairu t-tamtsil (wajah syabah yang lugas, tidak memerlukan banyak hayalan dan 
Penafasiran).



Musyabbah: musyabah bili: Adat tasybili: Wajah Syabah






Tasybih jika dilihat dari sudut linguistik dapat dipadankan dengan istilah gaya bahasa
Metafora





© 2004 Digitized by USU digital library
7
b. Majaz
Majaz juga dikenal dalam bahasa Indonesia yang berarti makna kiasan atau figuratif meaning
(pemakian kata – kata yang bukan pada arti yang sebenarnya)
Contoh



Artinya : seorang pemberani berpidato di depan kita
Ditinjau dari padanan peristilahan semantik bahasa Indonesia majaz ini termasuk gaya bahsa
Hiperbola dalam kelompok gaya bahsa pertentangan.

c. Isti’arah
Ist’arah merupakan kata pinjaman yaitu penggunaan kata dengan tujuan memperkuat makna
yang terkandungdalam kata tersebut (makna tersirat) (Hasymy 303).
Isti’arah terbagi dua :


a. Tasyrihiyah : dipadankan dengan anti klimaks yakni penitik makna pada lapaz
musyabbah bih.
Contoh :




Kitabun anzalnahu ilayka li tu hkrija n-nasu mina z-zulumati ila n-nuri
Kitab (AI-Qur'an) ini diturunkan adalah untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada
bahaya.

b. Makniyah: Dari peristilahan semantik indonesia di sebut gaya bahasa klimaks, pada isti'arah
makniyah ini lafaz musyabbah bih dibuang dan digantikan dengan kata yang lazin
dipergunakan sebagai rangkaian kata tadi.
Contoh :






/Inni la ara ra'usan qad ainaat wa hana qitafuha wa ini lashabuha./
Aku telah melihat kepala-kepala yang siap dipetik akulah empunyanya.

d.Kinayah
Kinayah (gaya bahasa Antonomasia) adalah gaya bahasa yang mengandung makna kiasan dan
sindiran.
Kinayah ini dibagi kepada dua bahagian yakni :
1. Kinayah Sifat  :  suatu sindiran yang ditujukan untuk menyatakan sifat seseorang.
   Contoh :




/Thawilu n-najadi rafi'u l-imadi kastiru r-ramadi iza ma syata/
Banyak pertolongan ringan pekerjaan banyak api unggun di musim dingin.



© 2004 Digitized by USU digital library
8
Tujuan sindiran ini menyatakan sifat tolong menolong itu diperlukan di setiap keadaan.

2. Kinayah Mausuf sindiran yang ditujukan kepada seseorang
Contoh :




/Qara' a fulanun sinnuhu /
Sipulan telah menggerakan giginya, sindiran kepada seseorang yang sudah benar-benar
marah.

3.2.2. Ilmu Ma'ani
ilmu ma' ani adalah ilmu untuk mengetahui kejelasan ucapan Arab sesuai dengan situasi
kondosinya (amin Hakri 1979:53).
Ilmu Ma'ani merupakan pengetahuan untuk menentukan beberapa kaedah untuk
pemakaian kata sesuai muqtadal hal. Jelasnya Ilmu Ma'ani itu adalah suatu peraturan tentang
pemberian makna yang tepat sesuai dengan redaksi kalimat.
Dalam kelompok ilmu Ma' ani ini akan dibahas mengenai :
 Kalam khabari dan insya
 Zikru dan Hazfu
 Taqdim dan ta'hir
 Qashar
 Washal dan fashal
 Ijaz dan Musawah
Untuk mempermudah pemahaman pembaca pemula maka akan dijelaskan di sini
tentang kalam khabari dan insya'i.
Menceritakan tentang kalam tidak dapat terlepas dari Musnad dan Musnad ilyhi juga
Mutakallim, mukhatab dan kalam itu sendiri (isi dan manfaat kalam)
Kalam khabari yaitu kalam (kalimat ) yang mengandung pengertian (arti) benar atau
dusta sedangkan kalam insya'I suatu kalimat yang tidak mengandung pengertian benar dan
dusta.
Setiap kalam baik berbentuk khabari atau insyai mempunyai dua rukun (komponen)
yakni Mahkum Alayhi dan Mabkum bib, disebut juga dengan Musnad ilayhi dan musnad .
Contoh:





/yabunayya ta'allam husna l-istima'l kama tatallam husna l-hadis/
hai anakku perhatikanlah pelajaranmu sebagaimana engkau mempelajari kata-kata yang baik'

Contoh 2:
Nukilan sajak Abu Nawas (penyair seribu satu malam)




'Ar- rizqu wa l-hirmanu majrahuma bima qadha L-Lahu wa ma Qaddaral/ Rezki dan kehormatan
itu sama-sama dilimpahkan sesuai dengan ketentuan Allah dan sesuai dengan ukurannya.





© 2004 Digitized by USU digital library
9
Penganalisaan dari kedua contoh diatas sebagai berikut :
Jumlah (kalimat) : jenis : Musnad ilayhi : Musnad
















dari segi bahasa Indonesia, Musnad ilayhi ini bisa disebut subjek dan musnad adalah predikat.
a. Kalam Khabari
Kelompok kalam khabari, yang lebih dekat pengertiannya adalah kalimat yang
mengandung makna berita. Berita yang diungkapkan oleh si pembicara mempunyai tujuan
tertentu demikian pula bagi sipendengar/pembaca berita.
 Fakar ilmu balaghah menentukan keadaan ini dan menamakan pokok bahasan tentang

                           Al-ghardu mill ilqai I-hkabari/.
,.
Tujuan dari ungkapan dari berita
Hal ini dibagi menjadi dua kategori yaitu :
1. Bila kalimat tersebut sudah sama-sama diketahui oleh si pembicara dan dipendengar
(pembaca) maka kaliInat khabari itu disebut


Lazim Fa' i dah/

2. Bila kalimat itu sebelum diketahui oleh sipendengar/pembaca atau offing ke dua maka
disebut
 '/

Selanjutnya khabari inipun dilihat dari kegunaannya sesuai dengan konteks kalimat
serta situasi dan kondisi kalimat itu disampaikan atau / al-ghardhu tufhamu mill siyaqi l-kalam/
Dilihat dari konteks klaimatnya ini hkabari dibagi kepada :

  
1.     /istirhamu/penghormatan
 l /C h/_"_
2.                                 _    / Izharu tahassuri/ keluhan
        
3.                                       /Izharu dha-dha'fi/mengungkapkan kelemahan
4.                                      /al-fihkri/Bangga




© 2004 Digitized by USU digital library
10
5.                                     / Al-Hassu ‘ala s-sa'yi wa I-jiddi /Memotivasi untuk menimbulkan
semangat dan kesungguhan.

(contoh dari masing-masing hal ini dapat diperhatikan dalam buku Al-Balaghatu l-wadhihah
144-147, Mustafa amin, tanpa tahun) khabari ditinjau dari kepentingan si lawan bicara terbagi
kepada tiga bahagian yaitu :







1. Bila orang kedua sama sekali belum mengetahui barita, maka khabar tidak perlu
mengunakan huruf tawkid (tanda penguat berita). Disebut khabar Ibtida'i.
2. Bila orang ke dua ragu akan berita yang disampaikan padahal dia belum mengetahuinya
maka dikemukakan kbahar dengan penambahan huruf taukid (tanda penguat).
3. Bila orang kedua tetap tidak percaya (munkir) atas berita yang disampaikan meskipun
ada dalil yang telah ditentukan, maka wajib diberikan huruf taukid, satu taukid atau
lebih. Konteks ini disebut khabar Inkari.
Huruf-huruf taukid (ada waktu -t-taukidi) sebagai berikut ini :
Inna, anna, waw qasam, lam ibtida', nun taukid, ahrufu t-tanbih, hurufu z-zaidah, qad, amma
syarthiyah.

b. Kalam Khabar huruju an muqthada -zahir
Kalak khabari khuruju an muqthada z-zahir adalah kalam khabari yang keluar dari konteks
semula, pada kaidah ilmu balaghah dibagi kepada tiga bahagian yaitu:
1. Khabar yang diungkapkan tanpa buruf taukid tetapi lawan bicara masih terus bertanya
dan ragu atas berita yang diceritakan hal ini menyalahi konteks berita biasa disebabkan
lawan bicara khuruju an muqthada z-zahir. Lawan bicara dalam hal ini dianggap sebagi
orang yang tidak ingkar.
2. Khabar yang diberikan tanpa huruf taukid, tetapi lawan bicara tidak lagi bertanya. Disini
ia digolongkan sebagai orang yang inkar.
3. Khabar yang dikemukakan tanpa huruf taukid, disini pembicara menempatkan lawan
bicaranya sebagai seorang yang tidak mungkar, dengan tujuan untuk menjinakkan hati
lawan bicaranya. Ini kerap kali digunakan dalam berpolitik (Ali Jarim tanpa tahun. Hal
165).

c. Kalam lnsya'I
Kalam insya'I terbagi kepada dua kelompok yaitu:
Insya' Thalaby dan insya' Gbayru Thalaby.
 lnsya' Thalaby   : yaitu menuntut sesuatu yang tidak berhasil pada waktu
  kata - kata itu  diungkapkan  yakni bentuk amar, Nahyi,
  Tamanny dan Nida'i.
 lnsya' Gbayru Thalaby  : yaitu tidak ada tuntutan sesuatu terdiri dari bentuk,
  Ta'ajjub, Madah , Zam, Qasam Af'alu, r-raja dan
   bentuk-bentuk lain selain insya' thalaby.

Untuk melihat keterkaitan ilmu Balaghah dengan tata bahasa Arab maka penulis hanya
menerangkan tentang beberapa sisi dari Insya' Thalaby saja.

c. 1. Pembagian Insya' Thalaby
Amar
Adapun Qaidah Amar yaitu menuntut suatu pekerjaan dari orang rang lebih tinggi
(kedudukan atau umur). Bentuk Amar dalam balaghah sama dengan bentuk amar dalam tata
bahasa Arab.
© 2004 Digitized by USU digital library
11
Fakar-dakar ilmu balaghah menyebutkan :"Bentuk Amar ada empat :
 Fi'il Amar
 Mudhari' yang diketahui oleh Ei'lam Amar
 Ism Fi'il amar
 Masdar sebagai ganti dari Fi'il Amar
Selain makna perintah dari segi balaghah Amar mempunyai makna lain yakni apabila diteliti
dari konteks kalimat (siyaqul kalam) mendatangkan makna sebagai berikut

/Irsyad/' memberi petunjuk'

/ Do'a/Do’a
  
   /lltimas/menyuruh orang sebaya'
  
   /amanny/'bercita-cita'
  
  
   /Takhyir/'memilih'

   /Taswiyah/'Mempersamakan'
    
   / Ta'jizl' Melemahkan'



/Tahdid/Ancaman'

/bahah/’ membolehkan'



contoh Amar :
1.

 .

Amma ba'du fa aqin linasi l-hajji/' Seteleh itu maka peritahkanlah hajji kepada manusia' .

2.



I... Wa l-yatawaffu bi l-bayti l...'atiq/' dan tawaflah kamudi rumah suci'

3.





I' Alaykum andusakum la yadhurrukum man dhalla iza h-tadaytum/'
Perliharalah dirimu janganlah membuat dirimu mudharat dengan kesesatan setelah engkau
memperoleh petunjuk.



© 2004 Digitized by USU digital library
12

4.


/Wa bi l-walidayni ihsanan/ ' Berbuat baiklan kepada kedua orang tuamu'

- Nahyi

Nahyi adalah menurut memberhentikan perbuatan dari orang yang lebih tinggi. Bentuk bahyi
berasal dari fi'il mudhari' didahului oleh la nahiyyah.
Contoh :






/Wa La taqrabu mala l-yatimi ilia billati hiya ahsanu/ Dan janganlah kamu mendekati harta
anak yatim kecuali untuk kebaikan.
Ahli ilmu Balaghah mengkategorikan arti nahyi dilihat dari (Siyaqu l-kalam kepada :
  
/ Do'a/Doa'

/ lltimas/ melarang orang sebaya'

/ Tamanny/'Cita-cita'

/ Taubih/'Menjelaskan'

/ Tay'is/Menyesal'

/ Tahdid/' Ancaman'

/ Tahqir/'Hinaan'


Menganalisis analisis makna Nahyi dri konteks kalimat itu memerlukan perhatian yang
jeli, sehingga nampak keistimewaan artinya. Ini merupakan hal yang penting bagi
penterjemah, sehingga terjemahan tidak terjebak pada kesalahan arti, terutama sekali bagi
penterjemahan ayat-ayat Al Quran dan Hadist Rasul.

- Istifham
Istilah adalah bentuk kalimat rang dipergunakan untuk mendaptkan informasi yang jelas
tentang sesuatu masalah, yang belum diketahui sebelumnya.
Cara pembentukan Istifham adalah dengan mempergunakan ada watu istifham.
Adawa tu l-istifham adalah :
نﻣ/min/’dari/,لﺤ/hal/’adalah’, ﻣﮐ/kam/’berapa,ﺎﻣ/ma/’apa’,
ت ﺎﻣ /mata/’bila أ/’a/’apa, تأ/anna/’bagaimana,
نﻳ أ/aina/’dimana’,ﻲا /ay/’apa’/ﺂنﺁﻳ ﺁ/ayyana/’bagaimana, kapan’.

- Tamanny
Tamanny adalah menuntut sesuatu urusan rang sangat disukai tetap adakalanya hal yang
mustahil tercapai dapat juga disebut sebagai angan-angan. Tamanny ini dibentuk dengan
menggunakan huruf tamanny : لﺤ/hal/’, تﻳﻟ/layta/’sekiranya’,وﻟ/lau/ ‘kalu sekiranya’,
ﻞﻌﻟ/la’alla/’mudah-mudahan’
© 2004 Digitized by USU digital library
13
Contoh Istifbam :
1.


'fa hat Lana min sufa'a u fa yasfa'u lana/      
'Masih adakah yang mau menolong kami, maka berilah pertolongan kepaa kami'

2.


flaw La kana 'indi shadiqin yaji'u bi khamsati atafin rubiyyatin/
kalau ada temanku yang memberikan aku lima ribu rupiah saja'


3.

/Layta s-sabab ya'udu ghadan/
"Semoga masa muda dapat terulang besok"

An-nida
An-nida adalah panggilan kepada seseorang pada mulanya annida' ini ditujukan hanya
untuk memanggil seseorang saja, namun pada tahapan selanjutnya An- nida' ini ditujukan pula
untuk menyeru ;
An-nida' (seruan) menggunakan huruf Nida' yaitu:
/hamzah/’hai', يﺁ/ay/'hai' ,mari, ﺂﻳ/ya/'hai,mari, ي/ya /و/wa/ ي׀/ayya/ﺂﻳ ﺎﺤ/hayya/. Semua ini
digunakan untuk menyeru orang yang dekat. أ/hamzah, digunakan untuk menyeru orang yang
dekat
 يأ/Ay/menyeru kepada yang dekat dihati dan selalu hadir dalam benaknya. Adakalanya
diperuntukkan يأ/ /Ay/ dan أ/hamzah/untuk memanggil orang yang tinggi martabatnya, dengan
penuh kesopanan.
  ﺎﻳ/ya/digunakan untuk yang dekat meskipun tidak nampak, atau pada tempat yang jauh.
Contoh:  بﺮ ﺎﻳ/Ya rabbi/'Ya Tuhanku.

4. KEBERADAAN ILMU BALAGHAH SEBAGAI CABANG ILMU BAHASA

Ilmu Balaghah yang sekilas berbeda dengan ilmu-ilmu babasa yang lain seperti ilmu
Nahwu dan Sarf, Qira'ah dan muthala'ah, berbeda dengan Dirasatu 1-mu'jamiyah dan ilmu asashaut,
namun
bila
dianalisis
secara seksama maka
dapat diperincikan
keterangan mengenai

keterkaitan
ilmu
Al-Balaghah
dengan
ilmu-ilmu
bahasa
yang
lain.

Keberadaan ilmu Balaghah sebagai salah satu dari cabang ilmu bahasa akan tampak
jelas jika diperbandingkan antara ilmu-ilmu tersebut.
Keberadaan ilmu Balaghah sebagai ilmu Bahasa Arab tahapan awal terlihat pada
kelompok llmu Bayan.
Dalam ilmu Bayan terdapat kalam (kalimat yang sempurna) yang terdapat juga dalam
ilmu Nahwu yang disebut dengan al-jumlatu I-mufidatu (kalimat yang sempurna)

4.1. Keberadaan llmu Balaghah Dari Segi Uslub.
Uslub adalah gaya bahasa atau susunan kalimat yang dituturkan dengan baik, sehingga
membuat pembaca atau pendengar terkesima.
Uslub dalam ilmu Balaghah dapat dipadankan dengan Ragam Bahasa Indonesia dari sisi
Linguistik/ tata bahasa Indonesia.


Ragam bahasa yang tercermin dari ilmu Balaghah itu terdiri dari :
- Ragam Bahasa ilmiah
- Ragam Bahasa Sastra
© 2004 Digitized by USU digital library
14
- Ragam Bahasa Retorik (Pidato)
Ragam bahasa Ilmiyah adalah ragam bahasa yang dipergunakan untuk menjelaskan
sesuatu secara ilmiyah, ragam bahasa ini digunakan dikalangan pendidik, ilmuwan,
cendikiawan, dalam berbagai disiplin ilmu.
Ragam bahasa sastra adalah ragam bahasa yang digunakan untuk mengungkapkan
bahasa yang indah mempunyai nilai estetik tinggi, ada kalanya mempunyai penyimpangan dari
peraturan Nahwu dan Sarf.
Ali Jarim menyebutkan bahwa : "Uslub Adabi adalah Ragam bahasa yang sulit yang
sangat memerlukan keterampilan dan pemikiran yang khusus dan memerlukan hayalan
sipenterjemah untuk mengekspresikannya. (Ali Jarim. Tanpa taboo, hal 16).
Ragam bahasa Retorik adalah ragam bahasa yang dipergunakan oleh para Da'I, ahli
pidato (orator), ditujukan untuk terampil berargumentasi. 
Ragam bahasa Retorik ini di bahas pada ilmu Balaghah dalam kelompok ilmu Badi'. (Alhasymy
dalam Muqaddimah
jawahiri
1- Balaghah)
Berpidato merupakan suatu keterampilan yang sangat berharga didalam khalifahkhalifah
masyarakat Arab
bahkan
sebelum
datangnya Islam.
Untuk menyusun kalimat dengan berbagai uslub yang telah disebutkan tadi diperlukan
llmu Tata Bahasa Arab sintaksis Arab ini akan memberikan satu rumusan tentang bentuk
kalimat Islamiyah, bentuk kalimat Fi'liyah dan bentuk Syibhu Jumlah.
 Dari struktur Fi’liyah dikenal adanya subjek dan predikat atau dari balaghah yang
disebut mahkum ‘alayhi dan Mahkum Fih.
 Demikian juga struktur jumlah islamiyah akan terdiri dari mahkum alayhi dan mahkum
fih.

































© 2004 Digitized by USU digital library
15
4.2. Keberadaan Balaghah dari Segi Struktur
llmu Balaghah memperkenalkan banyak struktur kalimat dan dari segi isi (makna
kalimat). Struktur kalimat dalam ilmu Balaghah adakalanya terdiri dari ismiyah dan adakalanya
jumlah fi'liyah.
Struktur jumlah ismiyah sama dengan struktur yang ada pada jumlah al kahabari.
Pengenalan tentang mubtad' dan khabar (jumlah ismiyah) yang terdiri dari jumlah musnad dan
musnad ilayhi.
Struktur yang terbalik dapat saja dalam ilmu balaghah jika kalimat tersebut hasil karya
sastra. Hal seperti ini menandakan adanaya satu kebebasan memilih struktur bagi para
sastrawan.
Kesamaan struktur Amar antara ilmu Nahwu dan ilmu Balaghah terlihat jelas dari cara
pembentukan amar, yaitu :
- Dibentuk dari fi'il amar asli dengan makna perintah secara hakiki (sebenarnya).
- Bentuk fi'il Mudhari' didahului lam Amar
- Bentuk Ism Fi'il Amar
- Bentuk masdar sebagai ganti fi'il Amar
Untuk kesamaan struktur ini para ahli balaghah menuliskan sama dalam buku buku
mereka, tidak ada yang menuliskan adanya satu perbedaan struktur.
Struktur nahyi pads ilmu Balaghah juga "mempunyai kesamaan dengan ilmu Nahwu
demikian juga dengan struktur Istifham, struktur Tamanny.
Urgensi illmu Balaghah akan sangat terasa apabila diperhatikan kegunaannya ketika
menterjamahkan kalimat. Karena dalam Balaghah ada arti leksikal dan ada arti gramatikal.
Suatu contoh dapat diperhatikan :



/la takullahuma uffun' /"janganlah kau katakan ah, pada kedua orang tua mu".
Kalau seseorang tidak menggunakan ilmu balaghah maka ia tidak akan sampai kepada
arti sebenarnya yang terkandung dalam kalimat itu. Makna sebenarnya jauh lebih dalam dari
apa yang diterjemahkan ini.
Makna tersirat (tersembunyi) dari kalimat diatas adalah sedangkan mengucapkan ah
saja dilarang dalam Islam apa lagi berbuat kasar dan tidak baik terhadap orang tua.
Sindiran-sindiran halus dari bahasa Al-Quran akan terasa membekas di dalam benak
seseorang, apabila ia telah mengetahui balaghah dan dasar-dasar ilmu terjemah.

5. KESIMPULAN

Sebagai kesimpulan dari makalah ilmiyah ini adalah :
llmu balaghah yang semula oleh sementara orang dikategorikan kepada ilmu sastra,
tetapi ilmu balaghah itu adalah sintaksis Arab.
Sebagai ilmu semantik tentu ia berkaitan erat dengan ilmu Sintaksis ilmu Nahwu dan
ilmu sarf.
Keberadaan ilmu balaghah sebagai ilmu bahasa Arab akan terlihat dengan jelas jika
dipergunakan kaca mata balaghah, dengan demikian akan mudah pula untuk mengerti pesan
yang terkandung dalam serangkaian kalimat, baik berbentuk sastra ataupun yang bukan
sastra.

5.1. Saran

Setiap orang akan merasa kesukaran apabila menggunakan bahasa yang bukan bahasa
ibunya.
Kendala untuk mengerti ilmu Balaghah atau bahasan mengenai sastra akan lebih sulit
dimengerti apabila tidak mempunyai dasar pengetahuan awal. Sebagai staf pengajar penulis
menyarankan agar setiap, mahasiswa mempelajari tentang ilmu nahwu dan Morfologi Arab
dengan baik agar lebih mudah menyerap, terutama ilmu balaghah yang dianggap sulit itu akan
lenyap sendiri.
© 2004 Digitized by USU digital library
16
DAFTAR PUSTAKA

Abu Zayid Zayad, Abdu al-Roziy, Siria 1992. Tatawuru Mafhum Al-Balaghah.

 AminAhmad. Fairu I-Islam. Kairo, 1955

Ash-shabuny, Muhammad Ali. Rawai'I-Bayani Tafsiru I-ayati I-ahkami mina I-Ourani. Makkah
Al-Mukarramah, 1979

Ash-shabuny, Muhammad Ali. 'Ijazu l-Bayani fi suwari I-Qurani. Maktabah Al-Ghazali Makkah,
1979.

Al- Hasyimi, Saleh Muhammad AI-Balaghahtu, l-wadhihatu King Ibnu Suud Riyadh, 1987.

Basyir Hasan Kamal, DR Binau s-surati I-fanniyah fibayani I-arabi. Damaskus Bairut. 1987.

Jama' Syari, Balaghah. Bairot. Tanpa Tahun.

George. M. Abdul Masih. Dictionarv of Arabic Grammar Libanon. 1985.

Ridwan Muhammad Mustafa, dkk. At-tamhidu fi n-nahwi wa s-sarfi. Jami'ah kari YunusLibanon,
1973.

Said Fuad. Pengantar Sastra Arab. Pustaka Babussalam Medan, 1984.

Siregar Said Ahmad. Fakultas Sastra USU. Sejarah Study Bahasa Indonesia. Fakultas Sastra
USU 1982.

Watt Mentegomerry. Kejavaan Islam. Tiara Wacana Yogya 1990.


© 2004 Digitized by USU digital library
17