Kamis, 01 Maret 2012

hermenetika sebagai methode penafsiran



HERMENEUTIKA SEBAGAI
METODE PENAFSIRAN AL-QUR’AN

A. Pendahuluan
Dengan segala misteri dan kelebihannya, al-Qur’an menyimpan potensi yang begitu dahsyat. Sejarah mencatat pengaruh besarnya ketika ia melahirkan sebuah peradaban teks. Sebagai teks, al-Qur’an adalah korpus terbuka yang sangat potensial untuk menerima segala bentuk eksploitasi, baik berupa pembacaan, penerjemahan, penafsiran, hingga pengambilannya sebagai sumber rujukan.
Kehadiran teks al-Qur’an di tengah umat Islam telah melahirkan pusat pusaran wacana keislaman yang tak pernah berhenti dan menjadi pusat isnpirasi bagi manusia untuk melakukan penafsiran dan pengembangan makna atas ayat-ayatnya. Maka dapat dikatakan bahwa al-Qur’an hingga kini masih menjadi teks inti (core text) dalam peradaban Islam.
Al-Qur’an, sebagai kitab suci umat Islam, telah melahirkan sederetan teks turunan yang demikian luas dan mengagumkan. Teks-teks turunan itu merupakan teks kedua – bila al-Qur’an dipandang sebagai teks pertama – yang menjadi pengungkap dan penjelas makna-makna yang terkandung di dalamnya. Teks kedua ini lalu dikenal sebagai literatur tafsir al-Qur’an; ditulis oleh para ulama dengan kecenderungan dan karakteristik masing-masing.
Keragaman karya tafsir tentu tidak lepas dari masalah metode dan pendekatan yang digunakan. Dalam konteks analisis teks, persoalannya lebih terletak pada bagaimana bentuk bangunan metode dan pendekatan dalam menafsirkan teks al-Qur’an, dalam hal ini bagaimana bentuk hermeneutika al-Qur’an disusun.
Tulisan ini mengajak untuk mendiskusikan lebih lanjut pendekatan hermeneutika dimaksud, sebagai upaya dalam menafsirkan simbol-simbol bahasa agar dapat diterjemahkan secara lebih aktual dan memenuhi sasaran.

B. Pembahasan
1. Pengertian Hermeneutika
Kata hermeneutik berasal dari bahasa Yunani, hermeneueuen, yang berarti menginterpretasikan atau menafsirkan. Dalam mitologi Yunani, terdapat Dewa Hermes yang bertugas menyampaikan dan menerjemahkan pesan dari dewa-dewa gunung Olympus ke dalam bahasa yang bisa ditangkap manusia. Hermes ini adalah bentuk simbol dari sebuah misi atau tugas untuk menyampaikan pesan kepada manusia.
Sebagian pakar menganggap bahwa Hermes dalam Islam adalah Nabi Idris, sebagian lagi mengatakan sebagai Nabi Musa.
Terlepas dari itu, hermeneutik merupakan suatu metode interpretasi atas pesan Tuhan yang berupa bahasa atau teks yang dibawa oleh utusan (rasul) untuk diterjemahkan dan dipahami manusia.

2. Hermeneutika : Teks dan Konteks
Secara sederhana hermeneutika diasumsikan sebagai suatu metode dalam memahami suatu teks (bahasa). Teks ini dalam perkembangannya mengalami berbagai pemahaman yang boleh jadi berbeda, meski masih dalam bunyi teks yang sama. Kata-kata seperti “Awas, lubang lima meter“, dapat dipahami menjadi lebih dari satu pengertian. Hal itu dapat berarti pada jarak lima meter dari tulisan tersebut ada lubang, atau bisa juga berarti ada lubang dengan kedalaman lima meter. Inilah teks, dan untuk memahaminya dibutuhkan pengetahuan tentang konteks.
Suatu teks lahir karena ada konteks yang melatarbelakanginya. Keluarnya teks mensyaratkan adanya bahasa sebagai wujud dialogis antara teks dan konteks tersebut. Dengan demikian, untuk memahami sebuah teks perlu mengadakan pendekatan kebahasaan (linguistik; semantik, semiotik) dan juga konteksnya (kultur, sosiologis, psikologis) tersebut secara bersamaan.
Dalam bahasa agama, teks yang menjadi kajian hermeneutika biasa disebut dengan wahyu. Wahyu artinya “perkataan“ Tuhan. Dia mewahyukan melalui bahasa bukan dalam bahasa non-manusia yang misterius, namun dengan bahasa manusia yang jelas dan dapat dimengerti. Kumpulan wahyu ini kemudian disebut dengan kitab suci.
Kitab suci, apabila diteliti dengan seksama, adalah hasil dari dialog yang mengalami simbolisasi atas bahasa antara manusia dengan Tuhannya. Karena itu, bentuk bahasanya adalah bahasa lokal pendengarnya. Sebab tugas utama kitab suci adalah merespon problem dan memecahkan persoalan yang berkembang di masyarakat masa itu. Apapun bahasanya, kitab suci tetaplah mengharuskan bahasa sebagai metode dan cara untuk menunjukkan bahwa ia adalah bukti otentik dialog saat itu yang dapat diselidiki, dipelajari dan diuji kebenarannya.
Bagi seluruh umat beragama, kitab suci dan figur pembawanya (rasul) sama sekali tidak dilihat sekedar sebagai fakta dan figur historis belaka. Ia adalah narasi dan figur simbolik kehadiran Tuhan untuk menyapa manusia. Dengan kitab suci, manusia dapat berkomunikasi dengan Tuhannya.
3. Cara Kerja Hermeneutika
Teks agama tersebut sejatiya tidak terpisah dari struktur budaya tempat ia terbentuk. Sumber ilahi teks tidak mengesampingkan sama sekali hakikat keberadaannya sebagai teks linguistik dengan segala implikasi kebahasaannya. Teks terkait dengan ruang dan waktu dalam pengertian historis dan sosiologis. Maka untuk memahaminya, diperlukan pendekatan historis dan fenomenologis.
Di samping itu, aspek kultural mengandaikan aspek sosial karena yang terakhir ini mendasari yang pertama, sekalipun yang pertama tetap memiliki kadar kemandirian tertentu dan konteks serta norma-norma yang relatif independen darinya. Yang dimaksud dengan konteks kultural dari teks-teks linguistik adalah segala hal yang merupakan kerangka epistemologis bagi terjadinya komunikasi kebahasaan.
Maka hermeneutika dalam penerapannya mensyaratkan dua hal sebagai titik tolak. Pertama, variabel sosio-kultural di mana teks itu muncul pertama kali. Dalam hal ini meliputi persoalan geografis, psikologis, budaya, dan tradisi masyarakat yang menjadi audiens pertama dari teks. Kedua, struktur linguistik teks. Pada bagian ini meliputi analisis semantik dan semiotik. Semantik adalah ilmu tentang asal usul kata, sedangkan semiotik adalah ilmu tentang tanda atau simbol.
Untuk menganalisa teks, digunakanlah apa yang disebut hermeneutika psychohistoris, yakni sebuah teks (selain kita suci) mesti terpengaruh oleh konteks dan kondisi psikologis penulisnya. Cara kerja metode ini adalah sebagai berikut :
a. Memahami teks tidak hanya dari kandungan teksnya, tetapi mengikutsertakan konteks, sehingga kecenderungan mufassir bisa diketahui.
b. Mencari konteks historis dari masing-masing kecenderungan penafsiran.
c. Menggunakan counter prejudice, yakni pembaca perlu merasa ”curiga“ atau kritis terhadap diri sendiri dan terhadap teks dan tidak boleh taklid. Hal ini dimaksudkan agar terjadi wacana yang cerdas dan seobyektif mungkin.
Dengan memahami ini, arah penafsiran terhadap teks akan menjadi lebih terukur dan mendekati obyektifitas secara metodologis.
4. Teks, Konteks, dan Kontekstual
Dalam kaitannya dengan instrumen penafsiran teks, tampaknya produk klasik kurang memperhatikan relevansi dan keterkaitan antara tiga dimensi hermeneutik, yaitu teks, konteks, dan kontekstual. Padahal al-Qur’an merupakan sebuah teks yang pada sebagian proses turunnya dipengaruhi oleh kebutuhan menjawab atau menyelesaikan persoalan yang timbul di masyarakat (konteks).
Jika kondisi sosio-kultural atau ruang dan waktunya berlainan, sedangkan teksnya tetap sama, maka logika pemahamannya menyatakan bahwa penafsiran dan aplikasinya harus berbeda (kontekstual). Namun yang perlu diingat, tidak semua asbab al-nuzul ayat al-Qur’an dilatarbelakangi oleh kondisi sosio-kultural. Amin Abdullah menulis :
“Suatu hal yang tidak dapat dihindari oleh siapapun adalah suatu kenyataan bahwa perintah-perintah Tuhan (Devin instruction) selalu bertumpu pada ’teks’ (kitabullah, qauliyah), sedang teks itu sendiri sepenuhnya bersandar pada alat perantara ’bahasa’ (lughah). Bahasa inilah yang menjadi sumber silang pendapat sepanjang masa, karena ia tidak lain dan tidak bukan adalah hasil kesepakatan komunitas dan ciptaan budaya manusia. Jadi pemahaman suatu teks seharusnya merupakan produk interaksi yang hidup antara pengarang (author), teks itu sendiri, dan pembaca (reader), yang terkait dengan tiga variabel hermeneutik, yaitu teks, konteks, dan kontekstual.“
Pada periode Nabi, ketiga faktor di atas, baik secara sadar atau tidak sadar senantiasa saling berkomunikasi secara harmonis. Teks al-Qur’an secara langsung berdialog dengan komunitas masyarakat Makkah dan Madinah, ketika masalah sosial muncul. Teks al-Qur’an yang berbahasa Arab itu berarti sesuai dengan bahasa kultur masyarakat penerimanya. Rasulullah SAW sebagai mediator dan penafsir utamanya juga bangsa Arab, berbahasa Arab, sehingga diskursus antara teks, konteks dan kontekstual tidak menjadi problem.
Namun setelah Rasulullah wafat, muncul berbagai persoalan yang kompleks. Pertama, bisakah teks kitab suci mampu berbicara dengan generasi yang jauh dari turunnya wahyu. Kedua, bagaimana pesan teks yang berbahasa Arab itu dapat diterjemahkan secara persis ke dalam bahasa lain yang berbeda kulturnya. Ketiga, bisakah pesan teksitu disampaikan kepada pembaca tanpa adanya distorsi dan penyimpangan makna. Apakah syaratnya agar makna orisinil teks selamat dari distorsi-distorsi tersebut dan lain-lain.
5. Teks (Text), Pengarang (Author) dan Pembaca (Reader / Audience)
Teks al-Qur’an di samping merupakan teks yang terbuka (open text), juga bersifat sakral dan universal. Dikatakan open text karena turun dan wurudnya sangat historis dan diabadikan dengan bahasa Arab yang sosio-kulturis. Dikatakan sakral karena ia Kalam Allah SWT yang memiliki nilai universal dan eternal.
Selanjutnya pada pihak penafsir (author), ketika menafsirkan al-Qur’an sangat dipengaruhi oleh konteks, baik geografi, kultur, historis, politik, bahasa, dan lain sebagainya, di samping interest pribadi penafsir ketika berhadapan dengan teks (subyektifitas). Begitu pula pembaca (reader/ audience), juga tidak bisa lepas dari konteks di atas. Mencermati tiga komponen itu, ternyata masing-masing dipengaruhi konteks-nya sendiri-sendiri. Maka agar upaya penemuan makna teks sesuai dengan dikehendaki, ketiga komponen di atas (text, author, dan reader / audience), hendaknya dapat berjalan secara interconnected, saling berdialog, berkomunikasi, sehingga dapat ditemukan struktur fundamental dari makna di balik yang tersurat (kontekstual).
Gadamer dalam memahami teks masa lampau menggunakan bentuk pemahaman affective history. Time (waktu), menurut Gadamer, setidaknya terdiri atas tiga bagian. Pertama, past (masa lampau), tempat dimana teks itu dilahirkan atau dipublikasikan. Dari teks masa lampau ini, teks bukan milik si penyusun lagi, melainkan milik setiap orang. Mereka bebas untuk dapat menginterpretasikannya. Kedua, present yang di dalamnya berisi sekumpulan interpreter (penafsir) yang penuh dengan prejudice. Prasangka-prasangka semacam ini akan menghasilkan dialog dengan masa sebelumnya sehingga akan muncul penafsiran yang sesuai dengan konteks interpreter. Adapun letak dari affective history adalah pada tataran ketiga, yaitu future. Di dalamnya terdapat nuansa segar dan baru yang sifatnya produktif. Atau dalam bahasa text ada keterkaitan antara the world of text dengan the world of author dan the world of audience. The Circle of Hermeneutics

6. Hermeneutika al-Qur’an
Kajian terhadap al-Qur’an, setidaknya mengambil tiga bentuk : (1) kajian apologia deposee, (2) kajian kronologis-historis-filologis (hermeneutika), (3) kajian holistik-mondial-dimensif.
Dalam bentuknya yang kedua, yakni kajian al-Qur’an dalam bentuk hermeneutika, setidaknya terbagi menjadi dua: (1) hermeneutika al-Qur’an tradisional, dan (2) hermeneutika al-Qur’an kontemporer. Dalam hermeneutika al-Qur’an tradisional, perangkat metodologi yang digunakan sebatas pada linguistik dan riwayah. Jadi, belum ada rajutan sistemik antara teks, penafsir, dan audiens sasaran teks, meskipun ketiga unsur tersebut telah ada pada zamannya. Sedangkan hermeneutika al-Qur’an kontemporer telah melakukan perumusan sistematis ketiga unsur di atas. Di dalamnya, suatu proses penafsiran tidak lagi berpusat pada teks, tetapi penafsir di satu sisi dan audiens di sisi yang lain, yang secara metodologis merupakan bagian yang mandiri.
Harus disadari bahwa al-Qur’an, dalam konteks bahasa, sepenuhnya tidak lepas dari wilayah budaya dan sejarah – disamping bahasa itu sendiri memang sebagai bagian dari budaya manusia. Dalam metode tafsir, penafsir berusaha menjelaskan pengertian dan maksud suatu ayat berdasarkan hasil dari proses intelektualisasi dengan langkah epistemologis yang mempunyai dasar pijak pada teks dengan konteks-konteksnya.
Proses yang bersifat ijtihadi ini, bisa berupa penafsiran teks al-Qur’an dalam konteks internalnya dan atau meletakkan teks al-Qur’an dalam konteks sosio-kulturalnya. Untuk kepentingan inilah diperlukan suatu kajian atas medan bahasa dalam konteks semiotik dan semantiknya yang membawa ide-ide dalam historitas masyarakatnya sebagai audiens. Teks al-Qur’an dengan wacana yang dikembangkan di dalamnya, juga dikaji sebagai bagian penting dalam proses perumusan dan penarikan kesimpulan dari gagasan-gagasan yang disampaikan al-Qur’an. Dan teks al-Qur’an dengan historisitasnya mengharuskan adanya analisis terhadap bangunan budaya yang ada pada saat teks itu muncul.
Artinya, yang dibangun dalam metode tafsir ini adalah aspek teoretis penafsiran, bahwa memahami teks al-Qur’an, sejatinya tidak lepas dari kesadaran pengetahuan ilmiah untuk meletakkannya pada strukturnya sebagai bahasa yang mempunyai struktur historis dengan wacana-wacana yang dipakai dan budaya masyarakat yang menjadi audiensnya. Sebab teks al-Qur’an, dalam konteks bahasa, merupakan bentuk representasi dan keterwakilan budaya masyarakat dimana teks itu diproduksi.
Dengan kerangka teori yang demikian, bukan hanya bahasa dengan strukturnya yang menentukan sebuah pemahaman atas gagasan yang ada dalam teks al-Qur’an. Lebih dari itu, struktur wacana dan budaya yang melingkupi kemunculan teks juga menjadi medan analisis yang sangat penting. Dari situ akan dapat diungkap hal-hal implisit dan yang tak terkatakan dalam al-Qur’an. Dan dari situ pula akan dapat ditemukan gagasan yang disampaikan al-Qur’an secara utuh. Jadi, pokok dasar dari metode ini terletak pada bangunan epistemologi tafsir yang didasarkan bukan semata-mata pada riwayat, tetapi pada proses intelektualisasi yang secara epistemologis dapat dipertanggung-jawabkan.
Dalam hal ini dapat dicontohkan tentang hukum potong tangan dalam al-Qur’an. Meski secara tegas dalam al-Qur’an tertulis kewajiban hukum potong tangan bagi pencuri, namun hal tersebut dapat dipahami secara berbeda. Dalam kacamata hermeneutik, pesan yang tidak terkatakan adalah adanya keadilan dalam pemenuhan hak dan kewajiban. Hak untuk memiliki suatu benda tidak boleh dicapai dengan cara-cara yang mengesampingkan aturan-aturan yang ada. Pada masa teks tersebut turun, keadaan sosial budaya masyarakat Arab ketika itu memang meniscayakan adanya hukum potong tangan. Suatu konstruk budaya Arab memang menghendaki adanya hukum potong tangan bagi pencuri. Namun, karena kondisi sosial budaya masyarakat yang tidak sama, maka substansi dari hukum potong tangan lebih dikedepankan. Di Indonesia, hukum potong tangan diganti dengan hukum penjara, suatu upaya yang secara substantif sama dalam mencegah pengulangan kejahatan yang sama.
7. Implikasi Pendekatan Hermeneutika al-Qur’an
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pendekatan hermeneutik terhadap al-Qur’an antara lain sebagai berikut :
a. Bahwa memahami teks al-Qur’an hanya dari segi gramatika, asal usul kata, aspek sastra, dan aspek lingusitik lainnya tidak cukup untuk menjawab kebutuhan pemahaman atas teks. Sangat mungkin terdapat beberapa terma atau kosa kata yang baru dapat dipahami belakangan setelah munculnya teks kauniyah (ayat kauniyah) maupun humaniora. Ini mengindikasikan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan memiliki peran penting dalam upaya memahami teks-teks al-Qur’an.
b. Dalam kasus metode penafsiran tematik (maudhu’i), meski hal tersebut merupakan metode yang menarik, namun perlu pula diperhatikan asbabun nuzul serta kronologis turunnya ayat. Hal ini dimaksudkan karena terkadang asbabun nuzul dalam al-Qur’an terkadang merespon secara langsung terhadap suatu kasus yang sedang terjadi.
c. Pentingnya mencari munasabah ayat-ayat yang sedang dibahas satu sama lain, atau ayat sebelum dan sesudahnya.
d. Memahami konfigurasi budaya yang melingkupi turunnya ayat-ayat al-Qur’an. Gambaran tentang potret masyarakat ketika ayat diturunkan sangat membantu dalam memahami pesan al-Qur’an secara utuh. Untuk itu, perlu mencari informasi tentang sejarah kondisi sosio-kultural masyarakat ketika itu, disamping ilmu-ilmu bantu yang lain, seperti sosiologi, antropologi, psikologi, politik, ekonomi, dan sebagainya.
e. Pendekatan hermeneutik dalam al-Qur’an bertujuan untuk menghayati dunia teks yang bernuansa tempo dulu dengan dunia empiris kekinian. Hal ini dimaksudkan untuk mendekatkan keduanya agar dapat memenuhi, menjawab, dan menyelesaikan problem masyarakat yang bersifat aktual kekinian.
8. Kritik atas Metode Hermeneutik
Pendekatan hermeneutik yang terbilang suatu cabang ilmu penafsiran baru ternyata menyisakan persoalan. Konsep asbabun nuzul yang menjadi pijakan dasar menjadi rapuh ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa tidak semua ayat al-Qur’an memiliki sebab-sebab turun. Oleh karena itu, sebagian ulama mempertanyakan epistemologi yang dipakai dalam menjawab persoalan tersebut.
Hal-hal yang menjadi perbedaan adalah sebagai berikut :
a. Dalam hermeneutika, teks tidak akan bermakna, tidak berharga, dan tidak bisa berbicara apa-apa tanpa adanya konteks. Sementara pendapat lainnya mengatakan bahwa makna yang sebenarnya adalah apa yang dimaksud oleh Allah.
b. Hermeneutika memberikan otoritas kepada manusia sebagai mediator yang menghasilkan makna secara sistematis dan metodis. Sementara yang lain berpendapat bahwa Allah bisa saja memberikan anugrah pemahaman (laduni) yang benar kepada siapa saja yang dikehendaki.
c. Tradisi hermeneutika memberikan kebebasan penafsiran seiring dengan perubahan kondisi sosio-kultural, sedangkan pendapat sebaliknya beranggapan bahwa tidak mungkin mengkompromikan antara produk manusia (interpretasi) dengan al-Qur’an.
C. Penutup
Dari uraian mengenai hermeneutika dalam pendekatan studi Islam dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Bahwa untuk menyampaikan pesan Tuhan ke dalam bahasa manusia, diperlukan perantara/penerjemah untuk menjembatani keduanya. Hal tersebut dapat dilakukan dengan pendekatan hermeneutika.
2. Dalam hermeneutika, perhatian terhadap konteks dalam memahami sebuah teks adalah sangat penting. Hal ini bersandar pada anggapan bahwa tidak mungkin sebuah teks akan memiliki makna tanpa adanya konteks.
3. Hermeneutika dalam cara kerjanya mensyaratkan dua hal, yakni bahasa dan kondisi sosio-kultural serta asbabun nuzul masyarakat ketika teks itu muncul. Bahasa berfungsi sebagai media penyampaian pesan, sedangkan kondisi sosio-kultural serta asbabun nuzul berguna untuk melacak makna yang sesuai dengan substansi pesan dimaksud.
4. Penerapan hermeneutika dalam al-Qur’an sangat berguna dalam mengambil makna dasar atau “ide moral“ dari ayat-ayat al-Qur’an. Hukum potong tangan, sebagai contoh, dapat diganti dengan hukuman penjara karena kedua bentuk hukuman tersebut memiliki ide moral yang sama.
5. Disadari bahwa pendekatan hermeneutika ini tidak sepenuhnya diterima umat Islam. Hal ini bersandar dari asumsi bahwa manusia tidak memiliki otoritas dalam menghasilkan makna dan bahwa Allah sajalah yang paling mengetahui makna sesungguhnya.

Footnotes :

M. Nur Ichwan, “Hermeneutika al-Qur’an: Analisis Peta Perkembangan Metodologi Tafsir al-Qur’an Kontemporer“, Skripsi, Fak. Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 1995, hlm. 2.
2Dr. Ir. Muhammad Shahrur, Prinsip dan Dasar Hermeneutika Al-Qur’an Kontemporer, Terj. Sahiron Syamsuddin, dkk, eLSAQ Press, Cet. I, Yogyakarta, 2004, hlm. xvi.
3Prof. Dr. H. M. Amin Abdullah, “Arah Baru Metode Penelitian Tafsir di Indonesia“, (Pengantar), dalam Islah Gusmian, Khazanah Tafsir Indonesia dari Hermeneutika hingga Ideologi, Teraju, Jakarta, Cet. I, 2003, hlm. 17.
3E. Sumaryono, Hermeneutik, Sebuah Metode Filsafat, Kanisius, Yogyakarta, 1999, hlm. 23.
5Toshihiko Izutsu, Relasi Tuhan dan Manusia, Pendekatan Semantik terhadap Al-Qur’an, Terj. Agus Fahri Husein, dkk, PT Tiara Wacana Yogya, Cet. II, Yogyakarta, 2003, hlm. 166.
6M. Yudhie R. Haryono, Bahasa Politik Al-Qur’an, Mencurigai Makna Tersembunyi di Balik Teks, PT. Gugus Press, Cet. I, Bekasi, 2002, hlm. 18.
7Nasr Hamid Abu Zaid, Teks Otoritas Kebenaran, Terj. Sunarwoto Dema, LkiS, Cet. I, Yogyakarta, 2003, hlm. 112-113.
8Ursula King, “Debat Metodologis Pasca Perang Dunia II”, Terj. Ahmad Norma Permata, dalam Metodologi Studi Agama, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2000, hlm. 299.
9Nasr Hamid Abu Zaid, op. cit., hlm. 118-119.
10Islah Gusmian, Khazanah Tafsir Indonesia dari Hermeneutika hingga Ideologi, Teraju, Jakarta, Cet. I, 2003, hlm. 203.
11Komaruddin Hidayat, Memahami Bahasa Agama : Sebuah Kajian Hermeneutik, Paramadina, Jakarta, 1996, hlm. 139.
12Prof. Dr. Amin Abdullah, Islamic Studies di Perguruan Tinggi, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2006, hlm. 277.
13Komaruddin Hidayat, op. cit., hlm. 13-14.
14Fathul Mufid, dkk, “Hermeneutik sebagai Instrumen Penafsiran Teks”, Makalah, PPs IAIN Walisongo Semarang, 2007, hlm. 8. (td).
15Muzairi, “Hermeneutik dalam Pemikiran Islam” dalam Hermeneutik Al-Qur’an Mazhab Yogya, Penerbit Islamika, Yogyakarta, 2003, Cet. I, hlm. 59.
16Istilah apologia deposee adalah keterangan pembelaan yang ditujukan oleh para mufassir dalam memaknai dan menerjemahkan makna-makna luar (asing) secara paksa sehingga berakibat parsial dan arbiter. (Lihat M. Yudhie R. Haryono, op. cit., hlm. 11).
17Islah Gusmian, op. cit., hlm. 196.
18Ibid, hlm. 202.
19Ibid, hlm. 203.
20Lihat M. Zuhri, “Hermeneutika Al-Qur’an”, Makalah Pelatihan Metodologi, Fakultas Ushuluddin STAIN Kudus, 2000, hlm. 6 – 9.
21Farid Essach sebagaimana dikutip Fathul Mufid, dkk, op. cit., hlm. 10.

Bibliografi :

Abdullah, Amin, Islamic Studies di Perguruan Tinggi, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2006.
Gusmian, Islah, Khazanah Tafsir Indonesia dari Hermeneutika hingga Ideologi, Teraju, Jakarta, Cet. I, 2003.
Haryono, M. Yudhie R., Bahasa Politik Al-Qur’an, Mencurigai Makna Tersembunyi di Balik Teks, PT. Gugus Press, Cet. I, Bekasi, 2002.
Hidayat, Komaruddin, Memahami Bahasa Agama : Sebuah Kajian Hermeneutik, Paramadina, Jakarta, 1996.
Ichwan, M. Nur, “Hermeneutika al-Qur’an: Analisis Peta Perkembangan Metodologi Tafsir al-Qur’an Kontemporer“, Skripsi, Fak. Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 1995.
Izutsu, Toshihiko, Relasi Tuhan dan Manusia, Pendekatan Semantik terhadap Al-Qur’an, Terj. Agus Fahri Husein, dkk, PT Tiara Wacana Yogya, Cet. II, Yogyakarta, 2003.
King, Ursula, “Debat Metodologis Pasca Perang Dunia II“, Terj. Ahmad Norma Permata, dalam Metodologi Studi Agama, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2000.
Fathul Mufid, dkk, “Hermeneutik sebagai Instrumen Penafsiran Teks”, Makalah, PPs IAIN Walisongo Semarang, 2007, (td).
Syamsuddin, Sahiron, dkk, Hermeneutik Al-Qur’an Mazhab Yogya, Penerbit Islamika, Yogyakarta, 2003, Cet. I
Shahrur, Muhammad, Dr. Ir., Prinsip dan Dasar Hermeneutika Al-Qur’an Kontemporer, Terj. Sahiron Syamsuddin, dkk, eLSAQ Press, Cet. I, Yogyakarta, 2004.
Sumaryono, E., Hermeneutik, Sebuah Metode Filsafat, Kanisius, Yogyakarta, 1999.
Zaid, Nasr Hamid Abu, Teks Otoritas Kebenaran, Terj. Sunarwoto Dema, LkiS, Cet. I, Yogyakarta, 2003.
Zuhri, M., “Hermeneutika Al-Qur’an,” Makalah Pelatihan Metodologi, Fakultas Ushuluddin STAIN Kudus, 2000. (td.)

nabi ismail sebagai prototipe anak sholeh


Khutbah Hari Raya Idul Adha 1430 H

NABI ISMAIL SEBAGAI
PROTOTIPE ANAK YANG SHOLEH



1.       Allahu Akbar 3x, Walillahil Hamd
Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kenikmatan kepada kita dalam jumlah yang begitu banyak sehingga kita sendiri tidak akan mampu menghitung secara rinci tentang kenikmatan-kenikmatan itu. Karenanya dalam konteks nikmat, Allah SWT tidak memerintahkan kita untuk menghitung, tapi mensyukurinya. Kehadiran kita pada pagi ini dalam pelaksanaan shalat Idul Adha bersamaan dengan kehadiran sekitar tiga sampai empat juta jamaah haji dari seluruh dunia yang sedang menyelesaikan pelaksanaan ibadah haji di tanah suci merupakan salah satu dari tanda syukur kita kepada Allah SWT. Ujud kesyukuran itu, adalah peningkatan rasa taqwa kita kepada Allah SWT. Marilah kita terus menerus berupaya meningkatkan taqwa ini, sehingga kelak kita mendapatkan derajat muttaqin, suatu derajat kemuliaan di sisi Allah SWT.
Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat dan para pengikut setia serta para penerus dakwahnya hingga hari kiamat nanti.

2.       Saudara-saudara kaum muslimin dan muslimat rahimakumullah
Pada kesempatan yang berbahagia ini, marilah bersama-sama, kita merenungi firman Allah SWT sebagaimana yang tersebut di dalam Surat As-Shaffat: 100-102, tentang kisah Nabi Ibrahim AS bersama anaknya, Nabi Ismail AS. Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah beliau, untuk kemudian kita jadikan bekal di dalam mengarungi kehidupan ini. Sungguh sangat benar apa yang difirmankan Allah SWT:

Artinya:  “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya” (QS. Ali Mumtanah: 4)

Bunyi QS. As-Shaffat:
Artinya:  “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu! Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS. As-Shaffat: 100-102)

Ada beberapa pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah ini, antara lain:
-          Pelajaran pertama
Ibrahim memberikan contoh kepada kita, agar memperhatikan generasi penerus, berupa anak yang shaleh. Ibrahim tiada henti-hentinya berdoa.
Ya Allah, anugerahkan untukku (seorang anak) yang shaleh.

Memang, setiap muslim, siapapun orangnya, tentu mendambakan memiliki anak yang shaleh. Karena anak yang shaleh, sebagaimana dikatakan oleh hadits Nabi, merupakan salah satu dari 3 yang akan mendatangkan pahala terus menerus bagi orang tuanya. Artinya, walaupun orang tuanya tadi telah meninggal dunia, pahala buat dia akan terus mengalir bila ia berhasil dalam mengantarkan dan mendidik anak-anaknya menjadi shaleh.
Rasulullah SAW bersabda:
Apabila manusia telah meninggal dunia, maka semua amalnya terputus kecuali dari 3 perkara, yaitu (1) sodaqoh jariyah, (2) ilmu yang bermanfaat, dan (3) anak shaleh yang mau mendoakannya”. (HR. Bukhori-Muslim)

Jadi, menurut hadits di atas, anak shaleh adalah merupakan investasi amal bagi orang tuanya. Untuk itu, sungguh beruntung bagi setiap muslim yang memiliki anak-anak yang shaleh ini.
Yang menjadi persoalan adalah, Siapakah yang dimaksud anak shaleh itu? Bagaimana ciri-cirinya? Dari kisah Nabi Ismail AS inilah kita dapat mengetahui ciri-ciri anak shaleh ini.

-          Pelajaran kedua:
Ismail telah memberikan contoh kepada kita, sebagai prototipe atau figur dari anak shaleh ini. Ismail, putra Ibrahim yang kelahirannya sangat ditunggu-tunggu oleh ayahnya itu, langsung merelakan dirinya untuk disembelih ayahnya demi mengikuti perintah Allah SWT. Artinya salah satu ciri anak shaleh ialah anak yang lebih mengutamakan kepentingan Allah di atas segala-galanya, termasuk jiwa dan raganya sendiri. Ia sangat tabah dan sabar dalam menjalankan perintah Allah. Dan ia pun siap untuk mati demi kepentingan agama Allah.
Mari kita perhatikan sekali lagi jawaban Ismail sewaktu akan disembelih oleh ayahnya:



Artinya:    ”Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (QS. As-Shaffat: 102)

Tentu hal yang demikian ini tidak mungkin bisa dilakukan oleh Ismail, bila andaikan Ismail tidak memiliki aqidah yang kokoh. Untuk itu, bila kita ingin memiliki anak yang shaleh, tentu harus memperhatikan masalah pendidikan aqidah anak-anak kita. Kita pilihkan sekolah dan lembaga-lembaga pendidikan mereka, yang menjamin berseminya aqidah keislamannya. Tidak kita masukkan ke sekolah-sekolah atau lembaga-lembaga pendidikan yang justru akan merusak atau mendangkalkan aqidah keislamannya. Jangan sampai karena alasan kedekatan jarak, biaya yang murah, jaminan mutu yang belum pasti, atau iming-iming yang lain, kemudian kita korbankan aqidah keislamannya.

-          Pelajaran ketiga:
Ibrahim, bersama istrinya, Siti Hajar telah memberikan contoh kepada kita bagaimana cara mendidik anak agar menjadi anak yang shaleh.
a.       Ibrahim, walaupun dia yakin bahwa perintah menyembelih Ismail itu datang dari Allah SWT, tidak serta merta mengambil parang buat menebas leher Ismail. Dia tidak bersikap otoriter. Tetapi ia panggil dulu Ismail, ia tanyai Ismail, bagaimana pendapatnya.
Artinya:  “Berkata Ibrahim: “Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu?” (QS. As-Shaffat: 102)

Sebagai orang tua atau pimpinan, Ibrahim tidak bertindak otoriter sewenang-wenang. Orang tua yang baik adalah orang tua yang mendidik anaknya dengan penuh demokratis, mau mendengarkan aspirasi dan pendapat anak-anaknya. Dia lebih mengedepankan pemberian contoh dan keteladanan, daripada mengedepankan instruksi-instruksi dan perintah. Demikian pula hendaknya para pemimpin masyarakat hendaknya juga mengedepankan contoh keteladanan ini. Seorang pemimpin yang baik akan ditiru oleh rakyatnya jika ia memberikan contoh prilaku. Seorang pemimpin akan diikuti ucapannya, bila perilaku atau tindak tanduknya juga sesuai. Seorang pemimpin juga harus menjunjung nilai-nilai demokratis, tidak selalu memberikan perintah-perintah, tetapi juga harus mendengarkan aspirasi rakyatnya. Sekali lagi, keteladanan itu sangat penting. Bagaimana anak akan rajin shalat bila orang tuanya lebih mengutamakan nonton TV daripada pergi berjama’ah di masjid? Bagaimana anak akan tidak merokok bila setiap saat menyaksikan bapaknya di rumah dan gurunya di sekolah tidak berhenti-hentinya merokok?
b.       Siti Hajar, sebagai sang ibu, juga sangat besar perannya dalam mengantarkan Ismail menjadi anak yang shaleh.
Betapa Siti Hajar, yang waktu itu sedang hamil, ditinggalkan sendirian di padang tandus kering kerontang. Namun dengan ketabahan dan kesabarannya serta keyakinan penuh bahwa hijrahnya dia ke tempat itu atas perintah Allah, maka ia pun mampu melahirkan dan merawat anaknya dengan baik. Kasih sayangnya yang luar biasa, telah menyebabkan Allah menghadiahkan sebuah sumur abadi, yang sampai sekarang airnya terus mengalir, yaitu sumur “Zam-Zam”.
Memang, dalam ilmu pendidikan, dikatakan bahwa peran ibu dalam pendidikan anaknya adalah sangat besar. Ki Hajar Dewantara misalnya, menegaskan bahwa salah satu pusat pendidikan dari tri pusat pendidikan, adalah keluarga. Dan diantara ayah dan ibu, ibulah yang memegang peran penting. Hal ini relevan dengan sabda Nabi SAW, bahwa surga itu terletak di bawah telapak kaki ibu. Maksudnya, surga anak tergantung sepak terjang kakinya ibu. Bila kaki sang ibu menuju ke surga, maka anak pun menuju surga. Dan sebaliknya, bila kaki sang ibu menuju ke neraka, maka anak pun menuju neraka. Di sinilah arti pentingnya, kita perlu menyiapkan kaum wanita dengan pendidikan yang sebaik-baiknya, agar pada akhirnya nanti mereka akan menjadi barisan kaum ibu yang tangguh dalam mendidik anak-anak mereka.
Hafidz Ibrahim berkata: “Ibu adalah ibarat lembaga sekolah. Bila engkau mempersiapkannya dengan baik, berarti engkau telah menyiapkan generasi yang kuat dan kokoh”. Demikian pula Rasulullah SAW telah berpesan agar dalam memilih calon ibu untuk anak-anak kita nanti, hendaknya mengedepankan faktor agama.

-          Pelajaran keempat:
Ibrahim, Siti Hajar dan Ismail, tiga serangkai dalam satu kesatuan telah memberikan contoh kepada kita akan nilai-nilai pengorbanan.
Sungguh sebuah pengorbanan yang luar biasa. Betapa tidak. Putra yang sudah dinantikan dan didambakan kelahirannya, yang diharapkan menjadi penerus keturunan dan perjuangannya, yang baru tumbuh menjadi pemuda yang cerdas, tampan dan menawan, justru diperintahkan oleh Allah SWT untuk disembelih. Inilah bentuk pengorbanan yang luar biasa dari diri Nabi Ibrahim AS, bersama isteri tercintanya, Siti Hajar. Juga pengorbanan yang sungguh luar biasa dari diri Nabi Ismail AS, yang telah rela menyerahkan jiwa dan raganya untuk mengabdi kepada Allah.
Pengorbanan tersebut, Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah sesungguhnya merupakan kesan dari kecintaan dan ketaatan yang sempurna dari seorang hamba kepada Allah SWT, Sang Maha Pencipta, sebagaimana firman Allah:
Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu memberikan (mengorbankan) apa yang kamu cintai.” (QS. Ali Imran [03]: 92)

Kecintaan dan ketaatan adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan. Imam Al-Baidhawi berkata, “Cinta adalah keinginan untuk taat”, sementara al-Zujaj berkata, “Cinta manusia kepada Allah dan Rasul-Nya adalah mentaati keduanya dan ridha kepada semua perintah Allah dan ajaran yang dibawa oleh Rasul-Nya.” Lebih lanjut, kecintaan dan ketaatan kepada Allah tidak mungkin boleh diwujudkan tanpa pengorbanan. Jadi, tak ada cinta tanpa ketaatan, dan tak ada ketaatan tanpa pengorbanan.
Pengorbanan yang telah dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS, Siti Hajar dan Ismail AS, merupakan teladan bagi kita akan wujud kecintaan dan ketaatan yang sesungguuhnya kepada Allah SWT. Karena itu, jika kaum muslim ingin mewujudkan kecintaan dan ketaatan yang sebenarnya kepada Allah SWT, maka perlu siap untuk berkorban. Berkorban dalam hal ini, tentu tidak sekedar menyembelih hewan korban, tapi berkorban dalam arti yang luas. Allah SWT berfirman:
Katakanlah, jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu khawatiri kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik”. (QS. At-Taubah [9] : 24)

Dalam ayat ini, kita diperintahkan untuk menempatkan kecintaan kita kepada Allah dan Rasul-Nya di atas kecintaan kepada yang lain. Artinya, di saat Allah SWT memerintahkan sesuatu yang menuntut pengorbanan baik berupa harta, keluarga, maupun perniagaan yang kita cintai, kita perlu siap melakukannya. Pengorbanan inilah yang akan mendatangkan balasan dari Allah berupa keridhaan, ampunan, pertolongan, kemenangan dan kemuliaan. Allah SWT berfirman:
Kemuliaan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin” (QS. Al-Munaafiquun [63] : 8)



3.       Saudara-saudara, sidang jama’ah Shalat Iedul Adha yang dirahmati Allah.
Kalau kita lihat keadaan bangsa Indonesia saat ini, jujur saja sungguh amatlah jauh dari harapan. Bangsa sangat membutuhkan lahirnya generasi baru, generasi yang bermentalkan Ismail ini. Betapa tidak.
Umat yang semestinya hidup sejahtera di bumi yang kaya raya ini, faktanya justru hidup sengsara dalam kemiskinan dan kemelaratan. Keterbelakangan di bidang pengetahuan dan ekonomi dijumpai di berbagai tempat. Angka pengangguran terus meningkat. Beban hutang luar negeri makin menjerat, dan beban cost hidup pun terus meningkat.
Sementara itu, angka korupsi terus membumbung tinggi. Simak saja kasus yang sekarang sedang hangat-hangatnya, Bank Century, uang rakyat sejumlah Rp 6,7 trilyun, lenyap entah kemana. Andaikan uang itu dibelikan bakso dengan harga Rp 5.000,-/mangkuk, maka akan tersedia 13.400.000 mangkuk, suatu jumlah yang cukup membuat banjir kali code. Yang aneh tetapi tidak lucu, lembaga-lembaga yang mestinya kita harapkan berada di baris terdepan dalam pemberantasan korupsi, justru sedang sibuk dililit pertengkaran. Entah sampai kapan kita akan menyaksikan perseteruan antara KPK, Kejaksaan Agung dan Kepolisian RI.

4.       Allahu Akbar 3x, walillahil hamd
Buat kita, sebagai rakyat kecil, tentu tidak boleh tinggal diam melihat “semrawut”-nya bangsa ini. Kita wajib mengambil peran untuk mengatasi masalah ini. Tentu sesuai dengan kemampuan optimal yang bisa kita berikan. Paling tidak, mulai sekarang segera kita mengambil peran untuk menyiapkan generasi-generasi mendatang, generasi-generasi yang berkualitas Ismail. Generasi yang memiliki aqidah yang kokoh (quwwatul aqidah), moral yang handal (quwwatul khuluqi), ilmu pengetahuan dan teknologi yang tinggi (quwwatul ilmi), ekonomi yang kuat (quwwatul iqtishadi), persatuan dan kesatuan yang tangguh (quwwatul ijtima’i) dan badan yang sehat (quwwatul jismi)


Ingat, sekecil apapun kita, pasti mampu ikut andil untuk memperbaiki bangsa ini. Ada seorang bijak berkata:
·         Sewaktu aku usia kanak-kanak, aku bercita-cita untuk memperbaiki dunia.
·         Sewaktu aku usia remaja, kusadari bahwa memperbaiki dunia itu sulit, maka aku bercita-cita untuk memperbaiki negeri tempat aku berpijak.
·         Sewaktu aku usia pemuda, kusadari bahwa memperbaiki negeri ini sulit, maka aku bercita-cita untuk memperbaiki kampung tempat aku tinggal.
·         Sewaktu aku usia dewasa, kusadari bahwa memperbaiki kampung ini sulit, maka aku bercita-cita untuk memperbaiki keluargaku.
·         Sewaktu aku usia menjelang tua, kusadari bahwa memperbaiki keluarga ini sulit, maka aku bercita-cita untuk memperbaiki diriku sendiri.
·         Dengan memperbaiki diri, aku berharap bisa memperbaiki keluarga.
·         Dengan memperbaiki keluarga, aku berharap bisa memperbaiki kampung.
·         Dengan memperbaiki kampung, aku berharap bisa memperbaiki negeri.
·         Dengan memperbaiki negeri, aku berharap bisa memperbaiki dunia.
Dari itu, marilah perbaiki dari diri kita masing-masing. Insya Allah dunia akan menjadi baik lantaran masing-masing kita sudah menjadi baik.

5.       Allahu Akbar 3x, Walillahilhamd
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Akhirnya, kita berharap semoga para jama’ah haji berhasil meraih haji mabrur. Di tempat yang mustajab, mereka berdoa untuk dirinya, keluarganya, dan seluruh kaum muslimin agar segera mendapatkan pertolongan Allah SWT dan dimenangkan atas musuh-musuh Allah dan musuh-musuh mereka. Semoga para pemimpin mereka juga tersadar, baik pemimpin keluarga, masyarakat, organisasi, maupun negara, termasuk semua pemuka umat; bahwa mereka semua wajib berkorban untuk meraih kemuliaan Islam.
Semoga kita dijadikan sebagai bagian dari barisan orang-orang yang rela memberi pengorbanan demi kecintaan dan ketaatan kepada Allah SWT dalam rangka menyebarkan Islam menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Ya Allah, sesungguhnya kami memohon perlindungan kepada-Mu, memohon ampunan-Mu, sungguh kami tidak berani mengkufuri-Mu, kami benar-benar mengimani-Mu dan melepaskan diri dari siapapun yang durhaka kepada-Mu.
Ya Allah, ampunilah orang-orang Mukmin (lelaki dan perempuan) juga orang-orang muslim (lelaki dan perempuan). Perbaikilah urusan mereka, satukan hati-hati mereka, serta jadikanlah iman dan hikmah dalam hati mereka. Tebarkanlah kepada mereka pemenuhan janji yang telah Engkau janjikan kepada mereka, menangkanlah mereka atas musuh-musuh-Mu dan musuh-musuh mereka. Duhai Tuhan segala kebenaran, jadikanlah kami diantara mereka.
Amin, amin, ya, munjibas sa’ili -
-
-

Khutbah Hari Raya Idul Adha 1430 H

NABI ISMAIL SEBAGAI
PROTOTIPE ANAK YANG SHOLEH



1.       Allahu Akbar 3x, Walillahil Hamd
Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kenikmatan kepada kita dalam jumlah yang begitu banyak sehingga kita sendiri tidak akan mampu menghitung secara rinci tentang kenikmatan-kenikmatan itu. Karenanya dalam konteks nikmat, Allah SWT tidak memerintahkan kita untuk menghitung, tapi mensyukurinya. Kehadiran kita pada pagi ini dalam pelaksanaan shalat Idul Adha bersamaan dengan kehadiran sekitar tiga sampai empat juta jamaah haji dari seluruh dunia yang sedang menyelesaikan pelaksanaan ibadah haji di tanah suci merupakan salah satu dari tanda syukur kita kepada Allah SWT. Ujud kesyukuran itu, adalah peningkatan rasa taqwa kita kepada Allah SWT. Marilah kita terus menerus berupaya meningkatkan taqwa ini, sehingga kelak kita mendapatkan derajat muttaqin, suatu derajat kemuliaan di sisi Allah SWT.
Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat dan para pengikut setia serta para penerus dakwahnya hingga hari kiamat nanti.

2.       Saudara-saudara kaum muslimin dan muslimat rahimakumullah
Pada kesempatan yang berbahagia ini, marilah bersama-sama, kita merenungi firman Allah SWT sebagaimana yang tersebut di dalam Surat As-Shaffat: 100-102, tentang kisah Nabi Ibrahim AS bersama anaknya, Nabi Ismail AS. Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah beliau, untuk kemudian kita jadikan bekal di dalam mengarungi kehidupan ini. Sungguh sangat benar apa yang difirmankan Allah SWT:

Artinya:  “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya” (QS. Ali Mumtanah: 4)

Bunyi QS. As-Shaffat:
Artinya:  “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu! Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS. As-Shaffat: 100-102)

Ada beberapa pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah ini, antara lain:
-          Pelajaran pertama
Ibrahim memberikan contoh kepada kita, agar memperhatikan generasi penerus, berupa anak yang shaleh. Ibrahim tiada henti-hentinya berdoa.
Ya Allah, anugerahkan untukku (seorang anak) yang shaleh.

Memang, setiap muslim, siapapun orangnya, tentu mendambakan memiliki anak yang shaleh. Karena anak yang shaleh, sebagaimana dikatakan oleh hadits Nabi, merupakan salah satu dari 3 yang akan mendatangkan pahala terus menerus bagi orang tuanya. Artinya, walaupun orang tuanya tadi telah meninggal dunia, pahala buat dia akan terus mengalir bila ia berhasil dalam mengantarkan dan mendidik anak-anaknya menjadi shaleh.
Rasulullah SAW bersabda:
Apabila manusia telah meninggal dunia, maka semua amalnya terputus kecuali dari 3 perkara, yaitu (1) sodaqoh jariyah, (2) ilmu yang bermanfaat, dan (3) anak shaleh yang mau mendoakannya”. (HR. Bukhori-Muslim)

Jadi, menurut hadits di atas, anak shaleh adalah merupakan investasi amal bagi orang tuanya. Untuk itu, sungguh beruntung bagi setiap muslim yang memiliki anak-anak yang shaleh ini.
Yang menjadi persoalan adalah, Siapakah yang dimaksud anak shaleh itu? Bagaimana ciri-cirinya? Dari kisah Nabi Ismail AS inilah kita dapat mengetahui ciri-ciri anak shaleh ini.

-          Pelajaran kedua:
Ismail telah memberikan contoh kepada kita, sebagai prototipe atau figur dari anak shaleh ini. Ismail, putra Ibrahim yang kelahirannya sangat ditunggu-tunggu oleh ayahnya itu, langsung merelakan dirinya untuk disembelih ayahnya demi mengikuti perintah Allah SWT. Artinya salah satu ciri anak shaleh ialah anak yang lebih mengutamakan kepentingan Allah di atas segala-galanya, termasuk jiwa dan raganya sendiri. Ia sangat tabah dan sabar dalam menjalankan perintah Allah. Dan ia pun siap untuk mati demi kepentingan agama Allah.
Mari kita perhatikan sekali lagi jawaban Ismail sewaktu akan disembelih oleh ayahnya:



Artinya:    ”Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (QS. As-Shaffat: 102)

Tentu hal yang demikian ini tidak mungkin bisa dilakukan oleh Ismail, bila andaikan Ismail tidak memiliki aqidah yang kokoh. Untuk itu, bila kita ingin memiliki anak yang shaleh, tentu harus memperhatikan masalah pendidikan aqidah anak-anak kita. Kita pilihkan sekolah dan lembaga-lembaga pendidikan mereka, yang menjamin berseminya aqidah keislamannya. Tidak kita masukkan ke sekolah-sekolah atau lembaga-lembaga pendidikan yang justru akan merusak atau mendangkalkan aqidah keislamannya. Jangan sampai karena alasan kedekatan jarak, biaya yang murah, jaminan mutu yang belum pasti, atau iming-iming yang lain, kemudian kita korbankan aqidah keislamannya.

-          Pelajaran ketiga:
Ibrahim, bersama istrinya, Siti Hajar telah memberikan contoh kepada kita bagaimana cara mendidik anak agar menjadi anak yang shaleh.
a.       Ibrahim, walaupun dia yakin bahwa perintah menyembelih Ismail itu datang dari Allah SWT, tidak serta merta mengambil parang buat menebas leher Ismail. Dia tidak bersikap otoriter. Tetapi ia panggil dulu Ismail, ia tanyai Ismail, bagaimana pendapatnya.
Artinya:  “Berkata Ibrahim: “Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu?” (QS. As-Shaffat: 102)

Sebagai orang tua atau pimpinan, Ibrahim tidak bertindak otoriter sewenang-wenang. Orang tua yang baik adalah orang tua yang mendidik anaknya dengan penuh demokratis, mau mendengarkan aspirasi dan pendapat anak-anaknya. Dia lebih mengedepankan pemberian contoh dan keteladanan, daripada mengedepankan instruksi-instruksi dan perintah. Demikian pula hendaknya para pemimpin masyarakat hendaknya juga mengedepankan contoh keteladanan ini. Seorang pemimpin yang baik akan ditiru oleh rakyatnya jika ia memberikan contoh prilaku. Seorang pemimpin akan diikuti ucapannya, bila perilaku atau tindak tanduknya juga sesuai. Seorang pemimpin juga harus menjunjung nilai-nilai demokratis, tidak selalu memberikan perintah-perintah, tetapi juga harus mendengarkan aspirasi rakyatnya. Sekali lagi, keteladanan itu sangat penting. Bagaimana anak akan rajin shalat bila orang tuanya lebih mengutamakan nonton TV daripada pergi berjama’ah di masjid? Bagaimana anak akan tidak merokok bila setiap saat menyaksikan bapaknya di rumah dan gurunya di sekolah tidak berhenti-hentinya merokok?
b.       Siti Hajar, sebagai sang ibu, juga sangat besar perannya dalam mengantarkan Ismail menjadi anak yang shaleh.
Betapa Siti Hajar, yang waktu itu sedang hamil, ditinggalkan sendirian di padang tandus kering kerontang. Namun dengan ketabahan dan kesabarannya serta keyakinan penuh bahwa hijrahnya dia ke tempat itu atas perintah Allah, maka ia pun mampu melahirkan dan merawat anaknya dengan baik. Kasih sayangnya yang luar biasa, telah menyebabkan Allah menghadiahkan sebuah sumur abadi, yang sampai sekarang airnya terus mengalir, yaitu sumur “Zam-Zam”.
Memang, dalam ilmu pendidikan, dikatakan bahwa peran ibu dalam pendidikan anaknya adalah sangat besar. Ki Hajar Dewantara misalnya, menegaskan bahwa salah satu pusat pendidikan dari tri pusat pendidikan, adalah keluarga. Dan diantara ayah dan ibu, ibulah yang memegang peran penting. Hal ini relevan dengan sabda Nabi SAW, bahwa surga itu terletak di bawah telapak kaki ibu. Maksudnya, surga anak tergantung sepak terjang kakinya ibu. Bila kaki sang ibu menuju ke surga, maka anak pun menuju surga. Dan sebaliknya, bila kaki sang ibu menuju ke neraka, maka anak pun menuju neraka. Di sinilah arti pentingnya, kita perlu menyiapkan kaum wanita dengan pendidikan yang sebaik-baiknya, agar pada akhirnya nanti mereka akan menjadi barisan kaum ibu yang tangguh dalam mendidik anak-anak mereka.
Hafidz Ibrahim berkata: “Ibu adalah ibarat lembaga sekolah. Bila engkau mempersiapkannya dengan baik, berarti engkau telah menyiapkan generasi yang kuat dan kokoh”. Demikian pula Rasulullah SAW telah berpesan agar dalam memilih calon ibu untuk anak-anak kita nanti, hendaknya mengedepankan faktor agama.

-          Pelajaran keempat:
Ibrahim, Siti Hajar dan Ismail, tiga serangkai dalam satu kesatuan telah memberikan contoh kepada kita akan nilai-nilai pengorbanan.
Sungguh sebuah pengorbanan yang luar biasa. Betapa tidak. Putra yang sudah dinantikan dan didambakan kelahirannya, yang diharapkan menjadi penerus keturunan dan perjuangannya, yang baru tumbuh menjadi pemuda yang cerdas, tampan dan menawan, justru diperintahkan oleh Allah SWT untuk disembelih. Inilah bentuk pengorbanan yang luar biasa dari diri Nabi Ibrahim AS, bersama isteri tercintanya, Siti Hajar. Juga pengorbanan yang sungguh luar biasa dari diri Nabi Ismail AS, yang telah rela menyerahkan jiwa dan raganya untuk mengabdi kepada Allah.
Pengorbanan tersebut, Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah sesungguhnya merupakan kesan dari kecintaan dan ketaatan yang sempurna dari seorang hamba kepada Allah SWT, Sang Maha Pencipta, sebagaimana firman Allah:
Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu memberikan (mengorbankan) apa yang kamu cintai.” (QS. Ali Imran [03]: 92)

Kecintaan dan ketaatan adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan. Imam Al-Baidhawi berkata, “Cinta adalah keinginan untuk taat”, sementara al-Zujaj berkata, “Cinta manusia kepada Allah dan Rasul-Nya adalah mentaati keduanya dan ridha kepada semua perintah Allah dan ajaran yang dibawa oleh Rasul-Nya.” Lebih lanjut, kecintaan dan ketaatan kepada Allah tidak mungkin boleh diwujudkan tanpa pengorbanan. Jadi, tak ada cinta tanpa ketaatan, dan tak ada ketaatan tanpa pengorbanan.
Pengorbanan yang telah dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS, Siti Hajar dan Ismail AS, merupakan teladan bagi kita akan wujud kecintaan dan ketaatan yang sesungguuhnya kepada Allah SWT. Karena itu, jika kaum muslim ingin mewujudkan kecintaan dan ketaatan yang sebenarnya kepada Allah SWT, maka perlu siap untuk berkorban. Berkorban dalam hal ini, tentu tidak sekedar menyembelih hewan korban, tapi berkorban dalam arti yang luas. Allah SWT berfirman:
Katakanlah, jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu khawatiri kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik”. (QS. At-Taubah [9] : 24)

Dalam ayat ini, kita diperintahkan untuk menempatkan kecintaan kita kepada Allah dan Rasul-Nya di atas kecintaan kepada yang lain. Artinya, di saat Allah SWT memerintahkan sesuatu yang menuntut pengorbanan baik berupa harta, keluarga, maupun perniagaan yang kita cintai, kita perlu siap melakukannya. Pengorbanan inilah yang akan mendatangkan balasan dari Allah berupa keridhaan, ampunan, pertolongan, kemenangan dan kemuliaan. Allah SWT berfirman:
Kemuliaan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin” (QS. Al-Munaafiquun [63] : 8)



3.       Saudara-saudara, sidang jama’ah Shalat Iedul Adha yang dirahmati Allah.
Kalau kita lihat keadaan bangsa Indonesia saat ini, jujur saja sungguh amatlah jauh dari harapan. Bangsa sangat membutuhkan lahirnya generasi baru, generasi yang bermentalkan Ismail ini. Betapa tidak.
Umat yang semestinya hidup sejahtera di bumi yang kaya raya ini, faktanya justru hidup sengsara dalam kemiskinan dan kemelaratan. Keterbelakangan di bidang pengetahuan dan ekonomi dijumpai di berbagai tempat. Angka pengangguran terus meningkat. Beban hutang luar negeri makin menjerat, dan beban cost hidup pun terus meningkat.
Sementara itu, angka korupsi terus membumbung tinggi. Simak saja kasus yang sekarang sedang hangat-hangatnya, Bank Century, uang rakyat sejumlah Rp 6,7 trilyun, lenyap entah kemana. Andaikan uang itu dibelikan bakso dengan harga Rp 5.000,-/mangkuk, maka akan tersedia 13.400.000 mangkuk, suatu jumlah yang cukup membuat banjir kali code. Yang aneh tetapi tidak lucu, lembaga-lembaga yang mestinya kita harapkan berada di baris terdepan dalam pemberantasan korupsi, justru sedang sibuk dililit pertengkaran. Entah sampai kapan kita akan menyaksikan perseteruan antara KPK, Kejaksaan Agung dan Kepolisian RI.

4.       Allahu Akbar 3x, walillahil hamd
Buat kita, sebagai rakyat kecil, tentu tidak boleh tinggal diam melihat “semrawut”-nya bangsa ini. Kita wajib mengambil peran untuk mengatasi masalah ini. Tentu sesuai dengan kemampuan optimal yang bisa kita berikan. Paling tidak, mulai sekarang segera kita mengambil peran untuk menyiapkan generasi-generasi mendatang, generasi-generasi yang berkualitas Ismail. Generasi yang memiliki aqidah yang kokoh (quwwatul aqidah), moral yang handal (quwwatul khuluqi), ilmu pengetahuan dan teknologi yang tinggi (quwwatul ilmi), ekonomi yang kuat (quwwatul iqtishadi), persatuan dan kesatuan yang tangguh (quwwatul ijtima’i) dan badan yang sehat (quwwatul jismi)


Ingat, sekecil apapun kita, pasti mampu ikut andil untuk memperbaiki bangsa ini. Ada seorang bijak berkata:
·         Sewaktu aku usia kanak-kanak, aku bercita-cita untuk memperbaiki dunia.
·         Sewaktu aku usia remaja, kusadari bahwa memperbaiki dunia itu sulit, maka aku bercita-cita untuk memperbaiki negeri tempat aku berpijak.
·         Sewaktu aku usia pemuda, kusadari bahwa memperbaiki negeri ini sulit, maka aku bercita-cita untuk memperbaiki kampung tempat aku tinggal.
·         Sewaktu aku usia dewasa, kusadari bahwa memperbaiki kampung ini sulit, maka aku bercita-cita untuk memperbaiki keluargaku.
·         Sewaktu aku usia menjelang tua, kusadari bahwa memperbaiki keluarga ini sulit, maka aku bercita-cita untuk memperbaiki diriku sendiri.
·         Dengan memperbaiki diri, aku berharap bisa memperbaiki keluarga.
·         Dengan memperbaiki keluarga, aku berharap bisa memperbaiki kampung.
·         Dengan memperbaiki kampung, aku berharap bisa memperbaiki negeri.
·         Dengan memperbaiki negeri, aku berharap bisa memperbaiki dunia.
Dari itu, marilah perbaiki dari diri kita masing-masing. Insya Allah dunia akan menjadi baik lantaran masing-masing kita sudah menjadi baik.

5.       Allahu Akbar 3x, Walillahilhamd
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Akhirnya, kita berharap semoga para jama’ah haji berhasil meraih haji mabrur. Di tempat yang mustajab, mereka berdoa untuk dirinya, keluarganya, dan seluruh kaum muslimin agar segera mendapatkan pertolongan Allah SWT dan dimenangkan atas musuh-musuh Allah dan musuh-musuh mereka. Semoga para pemimpin mereka juga tersadar, baik pemimpin keluarga, masyarakat, organisasi, maupun negara, termasuk semua pemuka umat; bahwa mereka semua wajib berkorban untuk meraih kemuliaan Islam.
Semoga kita dijadikan sebagai bagian dari barisan orang-orang yang rela memberi pengorbanan demi kecintaan dan ketaatan kepada Allah SWT dalam rangka menyebarkan Islam menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Ya Allah, sesungguhnya kami memohon perlindungan kepada-Mu, memohon ampunan-Mu, sungguh kami tidak berani mengkufuri-Mu, kami benar-benar mengimani-Mu dan melepaskan diri dari siapapun yang durhaka kepada-Mu.
Ya Allah, ampunilah orang-orang Mukmin (lelaki dan perempuan) juga orang-orang muslim (lelaki dan perempuan). Perbaikilah urusan mereka, satukan hati-hati mereka, serta jadikanlah iman dan hikmah dalam hati mereka. Tebarkanlah kepada mereka pemenuhan janji yang telah Engkau janjikan kepada mereka, menangkanlah mereka atas musuh-musuh-Mu dan musuh-musuh mereka. Duhai Tuhan segala kebenaran, jadikanlah kami diantara mereka.
Amin, amin, ya, munjibas sa’ili -
-
-