Khutbah Hari Raya
Idul Adha 1430 H
NABI ISMAIL SEBAGAI
PROTOTIPE ANAK YANG SHOLEH
1.
Allahu Akbar 3x, Walillahil Hamd
Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
kenikmatan kepada kita dalam jumlah yang begitu banyak sehingga kita sendiri
tidak akan mampu menghitung secara rinci tentang kenikmatan-kenikmatan itu.
Karenanya dalam konteks nikmat, Allah SWT tidak memerintahkan kita untuk
menghitung, tapi mensyukurinya. Kehadiran kita pada pagi ini dalam pelaksanaan
shalat Idul Adha bersamaan dengan kehadiran sekitar tiga sampai empat juta
jamaah haji dari seluruh dunia yang sedang menyelesaikan pelaksanaan ibadah
haji di tanah suci merupakan salah satu dari tanda syukur kita kepada Allah
SWT. Ujud kesyukuran itu, adalah peningkatan rasa taqwa kita kepada Allah SWT.
Marilah kita terus menerus berupaya meningkatkan taqwa ini, sehingga kelak kita
mendapatkan derajat muttaqin, suatu derajat kemuliaan di sisi Allah SWT.
Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad SAW,
beserta keluarga, sahabat dan para pengikut setia serta para penerus dakwahnya
hingga hari kiamat nanti.
2.
Saudara-saudara kaum muslimin dan muslimat rahimakumullah
Pada kesempatan yang berbahagia ini, marilah bersama-sama, kita merenungi
firman Allah SWT sebagaimana yang tersebut di dalam Surat As-Shaffat: 100-102,
tentang kisah Nabi Ibrahim AS bersama anaknya, Nabi Ismail AS. Banyak pelajaran
yang bisa kita ambil dari kisah beliau, untuk kemudian kita jadikan bekal di dalam
mengarungi kehidupan ini. Sungguh sangat benar apa yang difirmankan Allah SWT:

Artinya: “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang
baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya” (QS. Ali
Mumtanah: 4)
Bunyi QS.
As-Shaffat:

Artinya: “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang
anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh. Maka Kami beri dia kabar gembira
dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur
sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam
mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu! Ia menjawab:
“Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu
akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS. As-Shaffat: 100-102)
Ada beberapa pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah ini, antara lain:
-
Pelajaran pertama
Ibrahim memberikan contoh kepada kita, agar memperhatikan generasi penerus,
berupa anak yang shaleh. Ibrahim tiada henti-hentinya berdoa.

Ya Allah, anugerahkan untukku (seorang anak) yang shaleh.
Memang, setiap muslim, siapapun orangnya, tentu mendambakan memiliki anak
yang shaleh. Karena anak yang shaleh, sebagaimana dikatakan oleh hadits Nabi,
merupakan salah satu dari 3 yang akan mendatangkan pahala terus menerus bagi
orang tuanya. Artinya, walaupun orang tuanya tadi telah meninggal dunia, pahala
buat dia akan terus mengalir bila ia berhasil dalam mengantarkan dan mendidik
anak-anaknya menjadi shaleh.
Rasulullah SAW bersabda:
“Apabila manusia telah meninggal
dunia, maka semua amalnya terputus kecuali dari 3 perkara, yaitu (1) sodaqoh
jariyah, (2) ilmu yang bermanfaat, dan (3) anak shaleh yang mau mendoakannya”.
(HR. Bukhori-Muslim)
Jadi, menurut hadits di atas, anak shaleh adalah merupakan investasi amal
bagi orang tuanya. Untuk itu, sungguh beruntung bagi setiap muslim yang
memiliki anak-anak yang shaleh ini.
Yang menjadi persoalan adalah, Siapakah yang dimaksud anak shaleh itu?
Bagaimana ciri-cirinya? Dari kisah Nabi Ismail AS inilah kita dapat mengetahui
ciri-ciri anak shaleh ini.
-
Pelajaran kedua:
Ismail telah memberikan contoh kepada kita, sebagai prototipe atau figur dari anak shaleh ini. Ismail, putra Ibrahim
yang kelahirannya sangat ditunggu-tunggu oleh ayahnya itu, langsung merelakan
dirinya untuk disembelih ayahnya demi mengikuti perintah Allah SWT. Artinya
salah satu ciri anak shaleh ialah anak yang lebih mengutamakan kepentingan
Allah di atas segala-galanya, termasuk jiwa dan raganya sendiri. Ia sangat
tabah dan sabar dalam menjalankan perintah Allah. Dan ia pun siap untuk mati
demi kepentingan agama Allah.
Mari kita perhatikan sekali lagi jawaban Ismail sewaktu akan disembelih
oleh ayahnya:

Artinya: ”Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang
diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang
yang sabar”. (QS. As-Shaffat: 102)
Tentu hal yang demikian ini tidak mungkin bisa dilakukan oleh Ismail, bila
andaikan Ismail tidak memiliki aqidah yang kokoh. Untuk itu, bila kita ingin
memiliki anak yang shaleh, tentu harus memperhatikan masalah pendidikan aqidah
anak-anak kita. Kita pilihkan sekolah dan lembaga-lembaga pendidikan mereka,
yang menjamin berseminya aqidah keislamannya. Tidak kita masukkan ke
sekolah-sekolah atau lembaga-lembaga pendidikan yang justru akan merusak atau
mendangkalkan aqidah keislamannya. Jangan sampai karena alasan kedekatan jarak,
biaya yang murah, jaminan mutu yang belum pasti, atau iming-iming yang lain,
kemudian kita korbankan aqidah keislamannya.
-
Pelajaran ketiga:
Ibrahim, bersama istrinya, Siti Hajar telah memberikan contoh kepada kita
bagaimana cara mendidik anak agar menjadi anak yang shaleh.
a.
Ibrahim, walaupun dia yakin bahwa
perintah menyembelih Ismail itu datang dari Allah SWT, tidak serta merta
mengambil parang buat menebas leher Ismail. Dia tidak bersikap otoriter. Tetapi
ia panggil dulu Ismail, ia tanyai Ismail, bagaimana pendapatnya.
Artinya: “Berkata Ibrahim: “Wahai anakku, sesungguhnya
aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana
pendapatmu?” (QS. As-Shaffat: 102)
Sebagai orang tua atau pimpinan, Ibrahim tidak bertindak otoriter
sewenang-wenang. Orang tua yang baik adalah orang tua yang mendidik anaknya
dengan penuh demokratis, mau mendengarkan aspirasi dan pendapat anak-anaknya.
Dia lebih mengedepankan pemberian contoh dan keteladanan, daripada
mengedepankan instruksi-instruksi dan perintah. Demikian pula hendaknya para
pemimpin masyarakat hendaknya juga mengedepankan contoh keteladanan ini.
Seorang pemimpin yang baik akan ditiru oleh rakyatnya jika ia memberikan contoh
prilaku. Seorang pemimpin akan diikuti ucapannya, bila perilaku atau tindak
tanduknya juga sesuai. Seorang pemimpin juga harus menjunjung nilai-nilai
demokratis, tidak selalu memberikan perintah-perintah, tetapi juga harus
mendengarkan aspirasi rakyatnya. Sekali lagi, keteladanan itu sangat penting.
Bagaimana anak akan rajin shalat bila orang tuanya lebih mengutamakan nonton TV
daripada pergi berjama’ah di masjid? Bagaimana anak akan tidak merokok bila
setiap saat menyaksikan bapaknya di rumah dan gurunya di sekolah tidak
berhenti-hentinya merokok?
b.
Siti Hajar, sebagai sang ibu, juga
sangat besar perannya dalam mengantarkan Ismail menjadi anak yang shaleh.
Betapa Siti Hajar, yang waktu itu sedang hamil, ditinggalkan sendirian di
padang tandus kering kerontang. Namun dengan ketabahan dan kesabarannya serta
keyakinan penuh bahwa hijrahnya dia ke tempat itu atas perintah Allah, maka ia
pun mampu melahirkan dan merawat anaknya dengan baik. Kasih sayangnya yang luar
biasa, telah menyebabkan Allah menghadiahkan sebuah sumur abadi, yang sampai
sekarang airnya terus mengalir, yaitu sumur “Zam-Zam”.
Memang, dalam ilmu pendidikan, dikatakan bahwa peran ibu dalam pendidikan
anaknya adalah sangat besar. Ki Hajar Dewantara misalnya, menegaskan bahwa
salah satu pusat pendidikan dari tri pusat pendidikan, adalah keluarga. Dan
diantara ayah dan ibu, ibulah yang memegang peran penting. Hal ini relevan
dengan sabda Nabi SAW, bahwa surga itu terletak di bawah telapak kaki ibu.
Maksudnya, surga anak tergantung sepak terjang kakinya ibu. Bila kaki sang ibu
menuju ke surga, maka anak pun menuju surga. Dan sebaliknya, bila kaki sang ibu
menuju ke neraka, maka anak pun menuju neraka. Di sinilah arti pentingnya, kita
perlu menyiapkan kaum wanita dengan pendidikan yang sebaik-baiknya, agar pada
akhirnya nanti mereka akan menjadi barisan kaum ibu yang tangguh dalam mendidik
anak-anak mereka.
Hafidz Ibrahim berkata: “Ibu adalah ibarat lembaga sekolah. Bila engkau
mempersiapkannya dengan baik, berarti engkau telah menyiapkan generasi yang
kuat dan kokoh”. Demikian pula Rasulullah SAW telah berpesan agar dalam memilih
calon ibu untuk anak-anak kita nanti, hendaknya mengedepankan faktor agama.
-
Pelajaran keempat:
Ibrahim, Siti Hajar dan Ismail, tiga serangkai dalam satu kesatuan telah
memberikan contoh kepada kita akan nilai-nilai pengorbanan.
Sungguh sebuah pengorbanan yang luar biasa. Betapa tidak. Putra yang sudah
dinantikan dan didambakan kelahirannya, yang diharapkan menjadi penerus
keturunan dan perjuangannya, yang baru tumbuh menjadi pemuda yang cerdas,
tampan dan menawan, justru diperintahkan oleh Allah SWT untuk disembelih.
Inilah bentuk pengorbanan yang luar biasa dari diri Nabi Ibrahim AS, bersama
isteri tercintanya, Siti Hajar. Juga pengorbanan yang sungguh luar biasa dari
diri Nabi Ismail AS, yang telah rela menyerahkan jiwa dan raganya untuk
mengabdi kepada Allah.
Pengorbanan tersebut, Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah sesungguhnya
merupakan kesan dari kecintaan dan ketaatan yang sempurna dari seorang hamba
kepada Allah SWT, Sang Maha Pencipta, sebagaimana firman Allah:

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada
kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu memberikan (mengorbankan) apa yang kamu
cintai.” (QS. Ali Imran [03]: 92)
Kecintaan dan ketaatan adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan. Imam
Al-Baidhawi berkata, “Cinta adalah keinginan untuk taat”, sementara al-Zujaj
berkata, “Cinta manusia kepada Allah dan Rasul-Nya adalah mentaati keduanya dan
ridha kepada semua perintah Allah dan ajaran yang dibawa oleh Rasul-Nya.” Lebih
lanjut, kecintaan dan ketaatan kepada Allah tidak mungkin boleh diwujudkan
tanpa pengorbanan. Jadi, tak ada cinta tanpa ketaatan, dan tak ada ketaatan
tanpa pengorbanan.
Pengorbanan yang telah dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS, Siti Hajar dan
Ismail AS, merupakan teladan bagi kita akan wujud kecintaan dan ketaatan yang
sesungguuhnya kepada Allah SWT. Karena itu, jika kaum muslim ingin mewujudkan
kecintaan dan ketaatan yang sebenarnya kepada Allah SWT, maka perlu siap untuk
berkorban. Berkorban dalam hal ini, tentu tidak sekedar menyembelih hewan
korban, tapi berkorban dalam arti yang luas. Allah SWT berfirman:

“Katakanlah, jika bapak-bapak,
anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang
kamu khawatiri kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai,
adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di
jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah
tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik”. (QS. At-Taubah [9] : 24)
Dalam ayat ini, kita diperintahkan untuk menempatkan kecintaan kita kepada
Allah dan Rasul-Nya di atas kecintaan kepada yang lain. Artinya, di saat Allah
SWT memerintahkan sesuatu yang menuntut pengorbanan baik berupa harta,
keluarga, maupun perniagaan yang kita cintai, kita perlu siap melakukannya.
Pengorbanan inilah yang akan mendatangkan balasan dari Allah berupa keridhaan,
ampunan, pertolongan, kemenangan dan kemuliaan. Allah SWT berfirman:
“Kemuliaan itu hanyalah bagi Allah,
bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin” (QS. Al-Munaafiquun [63] : 8)
3.
Saudara-saudara, sidang jama’ah Shalat Iedul Adha yang
dirahmati Allah.
Kalau kita lihat keadaan bangsa Indonesia saat ini, jujur saja sungguh
amatlah jauh dari harapan. Bangsa sangat membutuhkan lahirnya generasi baru,
generasi yang bermentalkan Ismail ini. Betapa tidak.
Umat yang semestinya hidup sejahtera di bumi yang kaya raya ini, faktanya
justru hidup sengsara dalam kemiskinan dan kemelaratan. Keterbelakangan di
bidang pengetahuan dan ekonomi dijumpai di berbagai tempat. Angka pengangguran
terus meningkat. Beban hutang luar negeri makin menjerat, dan beban cost hidup pun terus meningkat.
Sementara itu, angka korupsi terus membumbung tinggi. Simak saja kasus yang
sekarang sedang hangat-hangatnya, Bank Century, uang rakyat sejumlah Rp 6,7
trilyun, lenyap entah kemana. Andaikan uang itu dibelikan bakso dengan harga Rp
5.000,-/mangkuk, maka akan tersedia 13.400.000 mangkuk, suatu jumlah yang cukup
membuat banjir kali code. Yang aneh tetapi tidak lucu, lembaga-lembaga yang
mestinya kita harapkan berada di baris terdepan dalam pemberantasan korupsi,
justru sedang sibuk dililit pertengkaran. Entah sampai kapan kita akan
menyaksikan perseteruan antara KPK, Kejaksaan Agung dan Kepolisian RI.
4.
Allahu Akbar 3x, walillahil hamd
Buat kita, sebagai rakyat kecil, tentu tidak boleh tinggal diam melihat “semrawut”-nya
bangsa ini. Kita wajib mengambil peran untuk mengatasi masalah ini. Tentu
sesuai dengan kemampuan optimal yang bisa kita berikan. Paling tidak, mulai
sekarang segera kita mengambil peran untuk menyiapkan generasi-generasi mendatang,
generasi-generasi yang berkualitas Ismail. Generasi yang memiliki aqidah yang
kokoh (quwwatul aqidah), moral yang
handal (quwwatul khuluqi), ilmu
pengetahuan dan teknologi yang tinggi (quwwatul ilmi), ekonomi yang kuat (quwwatul iqtishadi), persatuan dan
kesatuan yang tangguh (quwwatul ijtima’i)
dan badan yang sehat (quwwatul jismi)
Ingat, sekecil apapun kita, pasti mampu ikut andil untuk memperbaiki bangsa
ini. Ada seorang bijak berkata:
·
Sewaktu aku usia kanak-kanak, aku
bercita-cita untuk memperbaiki dunia.
·
Sewaktu aku usia remaja, kusadari bahwa
memperbaiki dunia itu sulit, maka aku bercita-cita untuk memperbaiki negeri
tempat aku berpijak.
·
Sewaktu aku usia
pemuda, kusadari bahwa memperbaiki negeri ini sulit, maka aku bercita-cita
untuk memperbaiki kampung tempat aku tinggal.
·
Sewaktu aku usia
dewasa, kusadari bahwa memperbaiki kampung ini sulit, maka aku bercita-cita
untuk memperbaiki keluargaku.
·
Sewaktu aku usia
menjelang tua, kusadari bahwa memperbaiki keluarga ini sulit, maka aku bercita-cita
untuk memperbaiki diriku sendiri.
·
Dengan memperbaiki
diri, aku berharap bisa memperbaiki keluarga.
·
Dengan memperbaiki
keluarga, aku berharap bisa memperbaiki kampung.
·
Dengan memperbaiki
kampung, aku berharap bisa memperbaiki negeri.
·
Dengan memperbaiki negeri, aku berharap
bisa memperbaiki dunia.
Dari itu, marilah perbaiki dari diri kita masing-masing. Insya Allah dunia
akan menjadi baik lantaran masing-masing kita sudah menjadi baik.
5.
Allahu Akbar 3x,
Walillahilhamd
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Akhirnya, kita berharap semoga para jama’ah haji berhasil meraih haji
mabrur. Di tempat yang mustajab, mereka berdoa untuk dirinya, keluarganya, dan
seluruh kaum muslimin agar segera mendapatkan pertolongan Allah SWT dan
dimenangkan atas musuh-musuh Allah dan musuh-musuh mereka. Semoga para pemimpin
mereka juga tersadar, baik pemimpin keluarga, masyarakat, organisasi, maupun
negara, termasuk semua pemuka umat; bahwa mereka semua wajib berkorban untuk
meraih kemuliaan Islam.
Semoga kita dijadikan sebagai bagian dari barisan orang-orang yang rela
memberi pengorbanan demi kecintaan dan ketaatan kepada Allah SWT dalam rangka
menyebarkan Islam menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Ya Allah, sesungguhnya kami memohon perlindungan kepada-Mu, memohon
ampunan-Mu, sungguh kami tidak berani mengkufuri-Mu, kami benar-benar
mengimani-Mu dan melepaskan diri dari siapapun yang durhaka kepada-Mu.
Ya Allah, ampunilah orang-orang Mukmin (lelaki dan perempuan) juga
orang-orang muslim (lelaki dan perempuan). Perbaikilah urusan mereka, satukan
hati-hati mereka, serta jadikanlah iman dan hikmah dalam hati mereka.
Tebarkanlah kepada mereka pemenuhan janji yang telah Engkau janjikan kepada
mereka, menangkanlah mereka atas musuh-musuh-Mu dan musuh-musuh mereka. Duhai
Tuhan segala kebenaran, jadikanlah kami diantara mereka.
Amin, amin, ya, munjibas sa’ili -
-
-
Khutbah Hari Raya
Idul Adha 1430 H
NABI ISMAIL SEBAGAI
PROTOTIPE ANAK YANG SHOLEH
1.
Allahu Akbar 3x, Walillahil Hamd
Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
kenikmatan kepada kita dalam jumlah yang begitu banyak sehingga kita sendiri
tidak akan mampu menghitung secara rinci tentang kenikmatan-kenikmatan itu.
Karenanya dalam konteks nikmat, Allah SWT tidak memerintahkan kita untuk
menghitung, tapi mensyukurinya. Kehadiran kita pada pagi ini dalam pelaksanaan
shalat Idul Adha bersamaan dengan kehadiran sekitar tiga sampai empat juta
jamaah haji dari seluruh dunia yang sedang menyelesaikan pelaksanaan ibadah
haji di tanah suci merupakan salah satu dari tanda syukur kita kepada Allah
SWT. Ujud kesyukuran itu, adalah peningkatan rasa taqwa kita kepada Allah SWT.
Marilah kita terus menerus berupaya meningkatkan taqwa ini, sehingga kelak kita
mendapatkan derajat muttaqin, suatu derajat kemuliaan di sisi Allah SWT.
Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad SAW,
beserta keluarga, sahabat dan para pengikut setia serta para penerus dakwahnya
hingga hari kiamat nanti.
2.
Saudara-saudara kaum muslimin dan muslimat rahimakumullah
Pada kesempatan yang berbahagia ini, marilah bersama-sama, kita merenungi
firman Allah SWT sebagaimana yang tersebut di dalam Surat As-Shaffat: 100-102,
tentang kisah Nabi Ibrahim AS bersama anaknya, Nabi Ismail AS. Banyak pelajaran
yang bisa kita ambil dari kisah beliau, untuk kemudian kita jadikan bekal di dalam
mengarungi kehidupan ini. Sungguh sangat benar apa yang difirmankan Allah SWT:

Artinya: “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang
baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya” (QS. Ali
Mumtanah: 4)
Bunyi QS.
As-Shaffat:

Artinya: “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang
anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh. Maka Kami beri dia kabar gembira
dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur
sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam
mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu! Ia menjawab:
“Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu
akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS. As-Shaffat: 100-102)
Ada beberapa pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah ini, antara lain:
-
Pelajaran pertama
Ibrahim memberikan contoh kepada kita, agar memperhatikan generasi penerus,
berupa anak yang shaleh. Ibrahim tiada henti-hentinya berdoa.

Ya Allah, anugerahkan untukku (seorang anak) yang shaleh.
Memang, setiap muslim, siapapun orangnya, tentu mendambakan memiliki anak
yang shaleh. Karena anak yang shaleh, sebagaimana dikatakan oleh hadits Nabi,
merupakan salah satu dari 3 yang akan mendatangkan pahala terus menerus bagi
orang tuanya. Artinya, walaupun orang tuanya tadi telah meninggal dunia, pahala
buat dia akan terus mengalir bila ia berhasil dalam mengantarkan dan mendidik
anak-anaknya menjadi shaleh.
Rasulullah SAW bersabda:
“Apabila manusia telah meninggal
dunia, maka semua amalnya terputus kecuali dari 3 perkara, yaitu (1) sodaqoh
jariyah, (2) ilmu yang bermanfaat, dan (3) anak shaleh yang mau mendoakannya”.
(HR. Bukhori-Muslim)
Jadi, menurut hadits di atas, anak shaleh adalah merupakan investasi amal
bagi orang tuanya. Untuk itu, sungguh beruntung bagi setiap muslim yang
memiliki anak-anak yang shaleh ini.
Yang menjadi persoalan adalah, Siapakah yang dimaksud anak shaleh itu?
Bagaimana ciri-cirinya? Dari kisah Nabi Ismail AS inilah kita dapat mengetahui
ciri-ciri anak shaleh ini.
-
Pelajaran kedua:
Ismail telah memberikan contoh kepada kita, sebagai prototipe atau figur dari anak shaleh ini. Ismail, putra Ibrahim
yang kelahirannya sangat ditunggu-tunggu oleh ayahnya itu, langsung merelakan
dirinya untuk disembelih ayahnya demi mengikuti perintah Allah SWT. Artinya
salah satu ciri anak shaleh ialah anak yang lebih mengutamakan kepentingan
Allah di atas segala-galanya, termasuk jiwa dan raganya sendiri. Ia sangat
tabah dan sabar dalam menjalankan perintah Allah. Dan ia pun siap untuk mati
demi kepentingan agama Allah.
Mari kita perhatikan sekali lagi jawaban Ismail sewaktu akan disembelih
oleh ayahnya:

Artinya: ”Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang
diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang
yang sabar”. (QS. As-Shaffat: 102)
Tentu hal yang demikian ini tidak mungkin bisa dilakukan oleh Ismail, bila
andaikan Ismail tidak memiliki aqidah yang kokoh. Untuk itu, bila kita ingin
memiliki anak yang shaleh, tentu harus memperhatikan masalah pendidikan aqidah
anak-anak kita. Kita pilihkan sekolah dan lembaga-lembaga pendidikan mereka,
yang menjamin berseminya aqidah keislamannya. Tidak kita masukkan ke
sekolah-sekolah atau lembaga-lembaga pendidikan yang justru akan merusak atau
mendangkalkan aqidah keislamannya. Jangan sampai karena alasan kedekatan jarak,
biaya yang murah, jaminan mutu yang belum pasti, atau iming-iming yang lain,
kemudian kita korbankan aqidah keislamannya.
-
Pelajaran ketiga:
Ibrahim, bersama istrinya, Siti Hajar telah memberikan contoh kepada kita
bagaimana cara mendidik anak agar menjadi anak yang shaleh.
a.
Ibrahim, walaupun dia yakin bahwa
perintah menyembelih Ismail itu datang dari Allah SWT, tidak serta merta
mengambil parang buat menebas leher Ismail. Dia tidak bersikap otoriter. Tetapi
ia panggil dulu Ismail, ia tanyai Ismail, bagaimana pendapatnya.
Artinya: “Berkata Ibrahim: “Wahai anakku, sesungguhnya
aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana
pendapatmu?” (QS. As-Shaffat: 102)
Sebagai orang tua atau pimpinan, Ibrahim tidak bertindak otoriter
sewenang-wenang. Orang tua yang baik adalah orang tua yang mendidik anaknya
dengan penuh demokratis, mau mendengarkan aspirasi dan pendapat anak-anaknya.
Dia lebih mengedepankan pemberian contoh dan keteladanan, daripada
mengedepankan instruksi-instruksi dan perintah. Demikian pula hendaknya para
pemimpin masyarakat hendaknya juga mengedepankan contoh keteladanan ini.
Seorang pemimpin yang baik akan ditiru oleh rakyatnya jika ia memberikan contoh
prilaku. Seorang pemimpin akan diikuti ucapannya, bila perilaku atau tindak
tanduknya juga sesuai. Seorang pemimpin juga harus menjunjung nilai-nilai
demokratis, tidak selalu memberikan perintah-perintah, tetapi juga harus
mendengarkan aspirasi rakyatnya. Sekali lagi, keteladanan itu sangat penting.
Bagaimana anak akan rajin shalat bila orang tuanya lebih mengutamakan nonton TV
daripada pergi berjama’ah di masjid? Bagaimana anak akan tidak merokok bila
setiap saat menyaksikan bapaknya di rumah dan gurunya di sekolah tidak
berhenti-hentinya merokok?
b.
Siti Hajar, sebagai sang ibu, juga
sangat besar perannya dalam mengantarkan Ismail menjadi anak yang shaleh.
Betapa Siti Hajar, yang waktu itu sedang hamil, ditinggalkan sendirian di
padang tandus kering kerontang. Namun dengan ketabahan dan kesabarannya serta
keyakinan penuh bahwa hijrahnya dia ke tempat itu atas perintah Allah, maka ia
pun mampu melahirkan dan merawat anaknya dengan baik. Kasih sayangnya yang luar
biasa, telah menyebabkan Allah menghadiahkan sebuah sumur abadi, yang sampai
sekarang airnya terus mengalir, yaitu sumur “Zam-Zam”.
Memang, dalam ilmu pendidikan, dikatakan bahwa peran ibu dalam pendidikan
anaknya adalah sangat besar. Ki Hajar Dewantara misalnya, menegaskan bahwa
salah satu pusat pendidikan dari tri pusat pendidikan, adalah keluarga. Dan
diantara ayah dan ibu, ibulah yang memegang peran penting. Hal ini relevan
dengan sabda Nabi SAW, bahwa surga itu terletak di bawah telapak kaki ibu.
Maksudnya, surga anak tergantung sepak terjang kakinya ibu. Bila kaki sang ibu
menuju ke surga, maka anak pun menuju surga. Dan sebaliknya, bila kaki sang ibu
menuju ke neraka, maka anak pun menuju neraka. Di sinilah arti pentingnya, kita
perlu menyiapkan kaum wanita dengan pendidikan yang sebaik-baiknya, agar pada
akhirnya nanti mereka akan menjadi barisan kaum ibu yang tangguh dalam mendidik
anak-anak mereka.
Hafidz Ibrahim berkata: “Ibu adalah ibarat lembaga sekolah. Bila engkau
mempersiapkannya dengan baik, berarti engkau telah menyiapkan generasi yang
kuat dan kokoh”. Demikian pula Rasulullah SAW telah berpesan agar dalam memilih
calon ibu untuk anak-anak kita nanti, hendaknya mengedepankan faktor agama.
-
Pelajaran keempat:
Ibrahim, Siti Hajar dan Ismail, tiga serangkai dalam satu kesatuan telah
memberikan contoh kepada kita akan nilai-nilai pengorbanan.
Sungguh sebuah pengorbanan yang luar biasa. Betapa tidak. Putra yang sudah
dinantikan dan didambakan kelahirannya, yang diharapkan menjadi penerus
keturunan dan perjuangannya, yang baru tumbuh menjadi pemuda yang cerdas,
tampan dan menawan, justru diperintahkan oleh Allah SWT untuk disembelih.
Inilah bentuk pengorbanan yang luar biasa dari diri Nabi Ibrahim AS, bersama
isteri tercintanya, Siti Hajar. Juga pengorbanan yang sungguh luar biasa dari
diri Nabi Ismail AS, yang telah rela menyerahkan jiwa dan raganya untuk
mengabdi kepada Allah.
Pengorbanan tersebut, Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah sesungguhnya
merupakan kesan dari kecintaan dan ketaatan yang sempurna dari seorang hamba
kepada Allah SWT, Sang Maha Pencipta, sebagaimana firman Allah:

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada
kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu memberikan (mengorbankan) apa yang kamu
cintai.” (QS. Ali Imran [03]: 92)
Kecintaan dan ketaatan adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan. Imam
Al-Baidhawi berkata, “Cinta adalah keinginan untuk taat”, sementara al-Zujaj
berkata, “Cinta manusia kepada Allah dan Rasul-Nya adalah mentaati keduanya dan
ridha kepada semua perintah Allah dan ajaran yang dibawa oleh Rasul-Nya.” Lebih
lanjut, kecintaan dan ketaatan kepada Allah tidak mungkin boleh diwujudkan
tanpa pengorbanan. Jadi, tak ada cinta tanpa ketaatan, dan tak ada ketaatan
tanpa pengorbanan.
Pengorbanan yang telah dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS, Siti Hajar dan
Ismail AS, merupakan teladan bagi kita akan wujud kecintaan dan ketaatan yang
sesungguuhnya kepada Allah SWT. Karena itu, jika kaum muslim ingin mewujudkan
kecintaan dan ketaatan yang sebenarnya kepada Allah SWT, maka perlu siap untuk
berkorban. Berkorban dalam hal ini, tentu tidak sekedar menyembelih hewan
korban, tapi berkorban dalam arti yang luas. Allah SWT berfirman:

“Katakanlah, jika bapak-bapak,
anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang
kamu khawatiri kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai,
adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di
jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah
tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik”. (QS. At-Taubah [9] : 24)
Dalam ayat ini, kita diperintahkan untuk menempatkan kecintaan kita kepada
Allah dan Rasul-Nya di atas kecintaan kepada yang lain. Artinya, di saat Allah
SWT memerintahkan sesuatu yang menuntut pengorbanan baik berupa harta,
keluarga, maupun perniagaan yang kita cintai, kita perlu siap melakukannya.
Pengorbanan inilah yang akan mendatangkan balasan dari Allah berupa keridhaan,
ampunan, pertolongan, kemenangan dan kemuliaan. Allah SWT berfirman:
“Kemuliaan itu hanyalah bagi Allah,
bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin” (QS. Al-Munaafiquun [63] : 8)
3.
Saudara-saudara, sidang jama’ah Shalat Iedul Adha yang
dirahmati Allah.
Kalau kita lihat keadaan bangsa Indonesia saat ini, jujur saja sungguh
amatlah jauh dari harapan. Bangsa sangat membutuhkan lahirnya generasi baru,
generasi yang bermentalkan Ismail ini. Betapa tidak.
Umat yang semestinya hidup sejahtera di bumi yang kaya raya ini, faktanya
justru hidup sengsara dalam kemiskinan dan kemelaratan. Keterbelakangan di
bidang pengetahuan dan ekonomi dijumpai di berbagai tempat. Angka pengangguran
terus meningkat. Beban hutang luar negeri makin menjerat, dan beban cost hidup pun terus meningkat.
Sementara itu, angka korupsi terus membumbung tinggi. Simak saja kasus yang
sekarang sedang hangat-hangatnya, Bank Century, uang rakyat sejumlah Rp 6,7
trilyun, lenyap entah kemana. Andaikan uang itu dibelikan bakso dengan harga Rp
5.000,-/mangkuk, maka akan tersedia 13.400.000 mangkuk, suatu jumlah yang cukup
membuat banjir kali code. Yang aneh tetapi tidak lucu, lembaga-lembaga yang
mestinya kita harapkan berada di baris terdepan dalam pemberantasan korupsi,
justru sedang sibuk dililit pertengkaran. Entah sampai kapan kita akan
menyaksikan perseteruan antara KPK, Kejaksaan Agung dan Kepolisian RI.
4.
Allahu Akbar 3x, walillahil hamd
Buat kita, sebagai rakyat kecil, tentu tidak boleh tinggal diam melihat “semrawut”-nya
bangsa ini. Kita wajib mengambil peran untuk mengatasi masalah ini. Tentu
sesuai dengan kemampuan optimal yang bisa kita berikan. Paling tidak, mulai
sekarang segera kita mengambil peran untuk menyiapkan generasi-generasi mendatang,
generasi-generasi yang berkualitas Ismail. Generasi yang memiliki aqidah yang
kokoh (quwwatul aqidah), moral yang
handal (quwwatul khuluqi), ilmu
pengetahuan dan teknologi yang tinggi (quwwatul ilmi), ekonomi yang kuat (quwwatul iqtishadi), persatuan dan
kesatuan yang tangguh (quwwatul ijtima’i)
dan badan yang sehat (quwwatul jismi)
Ingat, sekecil apapun kita, pasti mampu ikut andil untuk memperbaiki bangsa
ini. Ada seorang bijak berkata:
·
Sewaktu aku usia kanak-kanak, aku
bercita-cita untuk memperbaiki dunia.
·
Sewaktu aku usia remaja, kusadari bahwa
memperbaiki dunia itu sulit, maka aku bercita-cita untuk memperbaiki negeri
tempat aku berpijak.
·
Sewaktu aku usia
pemuda, kusadari bahwa memperbaiki negeri ini sulit, maka aku bercita-cita
untuk memperbaiki kampung tempat aku tinggal.
·
Sewaktu aku usia
dewasa, kusadari bahwa memperbaiki kampung ini sulit, maka aku bercita-cita
untuk memperbaiki keluargaku.
·
Sewaktu aku usia
menjelang tua, kusadari bahwa memperbaiki keluarga ini sulit, maka aku bercita-cita
untuk memperbaiki diriku sendiri.
·
Dengan memperbaiki
diri, aku berharap bisa memperbaiki keluarga.
·
Dengan memperbaiki
keluarga, aku berharap bisa memperbaiki kampung.
·
Dengan memperbaiki
kampung, aku berharap bisa memperbaiki negeri.
·
Dengan memperbaiki negeri, aku berharap
bisa memperbaiki dunia.
Dari itu, marilah perbaiki dari diri kita masing-masing. Insya Allah dunia
akan menjadi baik lantaran masing-masing kita sudah menjadi baik.
5.
Allahu Akbar 3x,
Walillahilhamd
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Akhirnya, kita berharap semoga para jama’ah haji berhasil meraih haji
mabrur. Di tempat yang mustajab, mereka berdoa untuk dirinya, keluarganya, dan
seluruh kaum muslimin agar segera mendapatkan pertolongan Allah SWT dan
dimenangkan atas musuh-musuh Allah dan musuh-musuh mereka. Semoga para pemimpin
mereka juga tersadar, baik pemimpin keluarga, masyarakat, organisasi, maupun
negara, termasuk semua pemuka umat; bahwa mereka semua wajib berkorban untuk
meraih kemuliaan Islam.
Semoga kita dijadikan sebagai bagian dari barisan orang-orang yang rela
memberi pengorbanan demi kecintaan dan ketaatan kepada Allah SWT dalam rangka
menyebarkan Islam menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Ya Allah, sesungguhnya kami memohon perlindungan kepada-Mu, memohon
ampunan-Mu, sungguh kami tidak berani mengkufuri-Mu, kami benar-benar
mengimani-Mu dan melepaskan diri dari siapapun yang durhaka kepada-Mu.
Ya Allah, ampunilah orang-orang Mukmin (lelaki dan perempuan) juga
orang-orang muslim (lelaki dan perempuan). Perbaikilah urusan mereka, satukan
hati-hati mereka, serta jadikanlah iman dan hikmah dalam hati mereka.
Tebarkanlah kepada mereka pemenuhan janji yang telah Engkau janjikan kepada
mereka, menangkanlah mereka atas musuh-musuh-Mu dan musuh-musuh mereka. Duhai
Tuhan segala kebenaran, jadikanlah kami diantara mereka.
Amin, amin, ya, munjibas sa’ili -
-
-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar