PTK Fiqih MA Kelas XI IPS
BAB I PENDAHULUBAB I PENDAHULUA
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan
adalah salah satu faktor yang menentukan kualitas kehidupan bangsa. Penataan
pendidikan yang baik mempengaruhi kemajuan suatu bangsa. Untuk mencapai hal itu
pendidikan harus adaptif terhadap perkembangan zaman. Salah satu usaha yang
dilakukan pemerintah untuk memperbaiki mutu pendidikan nasional adalah dengan
penyempurnaan kurikulum, yang istilahnya sudah tidak asing lagi di telinga kita
yakni Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
Selama ini hasil pendidikan hanya tampak dari kemampuan siswa dalam menghafal fakta-fakta, sehingga mereka seringkali tidak memahami substansi materi yang diperolehnya. Siswa belum mampu menghubungkan antara apa yang mereka pelajari dengan bagaimana pengetahuan itu dipergunakan. Siswa masih kesulitan untuk memahami dan menggunakan sesuatu yang abstrak dan metode ceramah. Mereka sangat butuh konsep-konsep yang berhubungan dengan tempat dan masyarakat umumnya dimana mereka akan hidup dan bekerja
Selama ini hasil pendidikan hanya tampak dari kemampuan siswa dalam menghafal fakta-fakta, sehingga mereka seringkali tidak memahami substansi materi yang diperolehnya. Siswa belum mampu menghubungkan antara apa yang mereka pelajari dengan bagaimana pengetahuan itu dipergunakan. Siswa masih kesulitan untuk memahami dan menggunakan sesuatu yang abstrak dan metode ceramah. Mereka sangat butuh konsep-konsep yang berhubungan dengan tempat dan masyarakat umumnya dimana mereka akan hidup dan bekerja
. Ada
kecenderungan dalam dunia pendidikan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran
bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan secara alamiah.
Belajar akan lebih bermakna jika anak
“mengalami” sendiri apa yang di pelajarinya, bukan “mengetahui”nya.
Pembelajaran yang berorientasi target
penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi “mengingat” jangka pendek,
tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka
panjang.
Dan itulah yang terjadi di kelas-kelas sekolah
kita! Termasuk siswa kelas XI IPs MA suka
bawang kabupaten batang . Metode belajar
mereka masih kental dengan teknik menghafal daripada memahami substansi
materinya.
Strategi kontekstual (contextual teaching and
learning / CTL) adalah suatu Strategi pengajaran yang dari karakteristiknya
memenuhi harapan itu. Sekarang ini pembelajaran dan pengajaran konstektual
menjadi tumpuan harapan para ahli pendidikan dan pengajaran dalam upaya “menghidupkan”
kelas secara maksimal. Kelas yang “hidup” diharapkan dapat mengimbangi
perubahan yang terjadi di luar sekolah yang demikian cepat
. Ada sejumlah alasan mengapa pembelajaran konstektual dikembangkan sekarang ini. Sejumlah alasan tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut:
1. Penerapan konteks budaya dalam pengembangan silabus,
penyusunan buku pedoman guru, dan buku teks akan
mendorong sebagian besar siswa untuk tetap tertarik dan
terlibat dalam kegiatan pendidikan.
2. Penerapan konteks sosial dalam pengembangan silabus,
penyusunan buku pedoman, dan buku teks yang dapat
meningkatkan kekuatan masyarakat memungkinkan banyak
anggota masyarakat untuk mendiskusikan berbagai isu yang
dapat berpengaruh terhadap perkembangan masyarakat.
3. Penerapan konteks personal yang dapat meningkatkan
ketrampilan komunikasi, akan membantu lebih banyak siswa
untuk secara penuh terlibat dalam kegiatan pendidikan dan
masyarakat.
4. Penerapan konteks ekonomi akan berpengaruh terhadap
peningkatan kesejahteraan social.
5. Penerapan konteks politik dapat meningkatkan pemahaman
siswa tentang berbagai isu yang dapat berpengaruh terhadap
masyarakat (Abdurrahman & Bintoro, 2000: 73).
Oleh karena itu peneliti mencoba untuk meminimalisir problem di atas dengan menerapkan strategi CTL (contextual teaching and learning) dengan metode cooperative learning dengan harapan keaktifan siswa kelas XI IPs MA sunan kalijaga bawang kabupaten batang , terhadap mata pelajaran fiqih semakin meningkat.
B. Rumusan Masalah
Guna mempermudah dalam memahami penerapan strategi CTL (contextual teaching and learning) dengan metode cooperative learning, maka penelitian difokuskan pada pertanyaan sebagai berikut:
1. Apa yang akan dilakukan untuk mengatasi siswa yang
masih kental dengan teknik menghafal dan ceramah
dalam memahami mata pelajaran fiqih ?
2. Apakah penerapan strategi CTL (contextual teaching
and learning) dengan metode cooperative learning dapat
meningkatkan keaktifan siswa kelas XI IPs MA
SUNAN KALI JOGO bawang-batang terhadap
mata pelajaran fiqih ?
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah penerapan strategi CTL (contextual teaching and learning) dengan metode cooperarive learning dapat meningkatkan keaktifan siswa kelas XI IPs MA SUNAN KALIJAGA bawang-batang terhadap mata pelajaran fiqih.
D. Hipotesis Penelitian
1.Jika siswa di kelas dibiasakan belajar dengan metode
cooperarive learning, maka siswa akan lebih mudah untuk
memahami mata pelajaran fiqih.
2.Jika pendekatan CTL dengan metode cooperarive learning
diterapkan, maka keaktifan siswa kelas XI IPs MA
SUNAN KALIJOGO bawang-batangterhadap mata
pelajaran fiqih dapat meningkat.
E. Manfaat Penelitian
1. Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi seluruh praktisi
pendidikan, khususnya bagi: Lembaga MA bawang-
batang, sebagai bahan evaluasi dan dapat dijadikan
pedoman dalam meningkatkan mutu pendidikan.
2. Peneliti, sebagai penambah khazanah keilmuan bagi
peneliti khususnya dan pembaca pada umumnya,
sehingga dapat mengembangkan pengetahuan dengan
wawasan yang lebih luas baik secara teoritis maupun
secara praktis.
3.Peneliti lanjutan, sebagai bahan acuan dan tolak ukur jika
akan diadakan penelitian.
4. Siswa, diharapkan dengan penelitian ini siswa lebih
mudah memahami, menghayati dan mengamalkan
pelajaran yang sudah dipelajarinya
. 5. Guru, diharapkan penelitian ini dapat lebih
memudahkan guru dalam mengajar, khususnya mata
pelajaran fiqih
. F. Batasan Masalah
Mata pelajaran fiqih kelas XI IPs Madrasah Aliyah mencakup banyak kompetensi dasar yang harus dikuasai oleh peserta didik, maka dalam penelitian ini hanya akan dikaji kompetensi dasar yang berhubungan dengan ibadah, waris dan wasiat dsb, dengan menggunakan strategi CTL (contextual teaching and learning) dengan metode cooperarive learning, sehingga diharapkan hasil belajar menjadi semakin meningkat
BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Contextual Teaching And Learning
1. Latar belakang contextual teaching and learning ( CTL )
Ada kecenderungan dalam dunia pendidikan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan secara alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak “mengalami” sendiri apa yang di pelajarinya, bukan “mengetahui”nya. Pembelajaran yang berorientasi target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi “mengingat” jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang. Dan itulah yang terjadi di kelas-kelas sekolah kita
. Strategi Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
. Ada sejumlah alasan mengapa pembelajaran konstektual dikembangkan sekarang ini. Sejumlah alasan tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut:
1. Penerapan konteks budaya dalam pengembangan silabus,
penyusunan buku pedoman guru, dan buku teks akan
mendorong sebagian besar siswa untuk tetap tertarik dan
terlibat dalam kegiatan pendidikan.
2. Penerapan konteks sosial dalam pengembangan silabus,
penyusunan buku pedoman, dan buku teks yang dapat
meningkatkan kekuatan masyarakat memungkinkan banyak
anggota masyarakat untuk mendiskusikan berbagai isu yang
dapat berpengaruh terhadap perkembangan masyarakat.
3. Penerapan konteks personal yang dapat meningkatkan
ketrampilan komunikasi, akan membantu lebih banyak siswa
untuk secara penuh terlibat dalam kegiatan pendidikan dan
masyarakat.
4. Penerapan konteks ekonomi akan berpengaruh terhadap
peningkatan kesejahteraan social.
5. Penerapan konteks politik dapat meningkatkan pemahaman
siswa tentang berbagai isu yang dapat berpengaruh terhadap
masyarakat (Abdurrahman & Bintoro, 2000: 73).
Oleh karena itu peneliti mencoba untuk meminimalisir problem di atas dengan menerapkan strategi CTL (contextual teaching and learning) dengan metode cooperative learning dengan harapan keaktifan siswa kelas XI IPs MA sunan kalijaga bawang kabupaten batang , terhadap mata pelajaran fiqih semakin meningkat.
B. Rumusan Masalah
Guna mempermudah dalam memahami penerapan strategi CTL (contextual teaching and learning) dengan metode cooperative learning, maka penelitian difokuskan pada pertanyaan sebagai berikut:
1. Apa yang akan dilakukan untuk mengatasi siswa yang
masih kental dengan teknik menghafal dan ceramah
dalam memahami mata pelajaran fiqih ?
2. Apakah penerapan strategi CTL (contextual teaching
and learning) dengan metode cooperative learning dapat
meningkatkan keaktifan siswa kelas XI IPs MA
SUNAN KALI JOGO bawang-batang terhadap
mata pelajaran fiqih ?
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah penerapan strategi CTL (contextual teaching and learning) dengan metode cooperarive learning dapat meningkatkan keaktifan siswa kelas XI IPs MA SUNAN KALIJAGA bawang-batang terhadap mata pelajaran fiqih.
D. Hipotesis Penelitian
1.Jika siswa di kelas dibiasakan belajar dengan metode
cooperarive learning, maka siswa akan lebih mudah untuk
memahami mata pelajaran fiqih.
2.Jika pendekatan CTL dengan metode cooperarive learning
diterapkan, maka keaktifan siswa kelas XI IPs MA
SUNAN KALIJOGO bawang-batangterhadap mata
pelajaran fiqih dapat meningkat.
E. Manfaat Penelitian
1. Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi seluruh praktisi
pendidikan, khususnya bagi: Lembaga MA bawang-
batang, sebagai bahan evaluasi dan dapat dijadikan
pedoman dalam meningkatkan mutu pendidikan.
2. Peneliti, sebagai penambah khazanah keilmuan bagi
peneliti khususnya dan pembaca pada umumnya,
sehingga dapat mengembangkan pengetahuan dengan
wawasan yang lebih luas baik secara teoritis maupun
secara praktis.
3.Peneliti lanjutan, sebagai bahan acuan dan tolak ukur jika
akan diadakan penelitian.
4. Siswa, diharapkan dengan penelitian ini siswa lebih
mudah memahami, menghayati dan mengamalkan
pelajaran yang sudah dipelajarinya
. 5. Guru, diharapkan penelitian ini dapat lebih
memudahkan guru dalam mengajar, khususnya mata
pelajaran fiqih
. F. Batasan Masalah
Mata pelajaran fiqih kelas XI IPs Madrasah Aliyah mencakup banyak kompetensi dasar yang harus dikuasai oleh peserta didik, maka dalam penelitian ini hanya akan dikaji kompetensi dasar yang berhubungan dengan ibadah, waris dan wasiat dsb, dengan menggunakan strategi CTL (contextual teaching and learning) dengan metode cooperarive learning, sehingga diharapkan hasil belajar menjadi semakin meningkat
BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Contextual Teaching And Learning
1. Latar belakang contextual teaching and learning ( CTL )
Ada kecenderungan dalam dunia pendidikan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan secara alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak “mengalami” sendiri apa yang di pelajarinya, bukan “mengetahui”nya. Pembelajaran yang berorientasi target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi “mengingat” jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang. Dan itulah yang terjadi di kelas-kelas sekolah kita
. Strategi Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
Dengan konsep itu, hasil pembelajaran
diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah
dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan
dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan dari pada hasil.
(Depdiknas, 2002:1)
2. Hakekat contextual teaching and learning (CTL)
Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni: konstruktivisme (construktivisme), bertanya (questioning), menemukan (inquiry), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection) dan penilaian sebenarnya (authentic assessment). (Depdiknas 2002:5)
Dalam buku lain disebutkan bahwa strategi konstektual adalah salah satu strategi pembelajaran yang menekankan pentingnya lingkungan alamiah itu diciptakan dalam proses belajar agar kelas lebih “hidup” dan lebih bermakna karena siswa mengalami sendiri apa yang dipelajarinya.
2. Hakekat contextual teaching and learning (CTL)
Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni: konstruktivisme (construktivisme), bertanya (questioning), menemukan (inquiry), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection) dan penilaian sebenarnya (authentic assessment). (Depdiknas 2002:5)
Dalam buku lain disebutkan bahwa strategi konstektual adalah salah satu strategi pembelajaran yang menekankan pentingnya lingkungan alamiah itu diciptakan dalam proses belajar agar kelas lebih “hidup” dan lebih bermakna karena siswa mengalami sendiri apa yang dipelajarinya.
Strategi konstektual merupakan strategi yang
memungkinkan siswa untuk menguatkan, memperluas, dan menerapkan pengetahuan dan
ketrampilan akademik mereka dalam berbagai macam tatanan hidup baik di sekolah
maupun di luar sekolah. Selain itu, siswa dilatih untuk dapat memecahkan
masalah yang dihadapi dalam suatu situasi, misalnya dalam bentuk simulasi dan
masalah yang memang ada di dunia nyata. (Nurhadi dkk, 2003:5)
3. Landasan filosofis contextual teaching and learning (CTL)
Landasan filosofis CTL adalah konstruktivisme, yaitu filosofi belajar yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar menghafal. Siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan dibenak mereka sendiri, bahwa pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta atau proposisi yang terpisah, tetapi mencerminkan ketrampilan yang dapat diterapkan. Konstruktivisme berakar pada filsafat pragmatis yang digagas oleh John Dewey pada awal abad 20 yang lalu.
Ciri kelas yang menggunakan pembelajaran CTL adalah sebuah kelas jika telah menerapkan ketujuh komponen CTL, yaitu jika filosofi belajarnya adalah konstruktivisme, selalu ada unsur bertanya, pengetahuan dan pengalaman diperoleh dari kegiatan menemukan, terbentuknya masyarakat belajar, ada modeling yang ditiru dan dilaksanakan penilaian yang sebenarnya. (Depdiknas, 2002:27).
3. Landasan filosofis contextual teaching and learning (CTL)
Landasan filosofis CTL adalah konstruktivisme, yaitu filosofi belajar yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar menghafal. Siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan dibenak mereka sendiri, bahwa pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta atau proposisi yang terpisah, tetapi mencerminkan ketrampilan yang dapat diterapkan. Konstruktivisme berakar pada filsafat pragmatis yang digagas oleh John Dewey pada awal abad 20 yang lalu.
Ciri kelas yang menggunakan pembelajaran CTL adalah sebuah kelas jika telah menerapkan ketujuh komponen CTL, yaitu jika filosofi belajarnya adalah konstruktivisme, selalu ada unsur bertanya, pengetahuan dan pengalaman diperoleh dari kegiatan menemukan, terbentuknya masyarakat belajar, ada modeling yang ditiru dan dilaksanakan penilaian yang sebenarnya. (Depdiknas, 2002:27).
inilah
harapan penulis mengenai ptk ,mudah-mudahan bermanfaat dalam peningkatan
mutu pembelajaran fiqih.di Madrasah tingkat atas terutama madrasah
aliyah sunan kali jaga tempat penulis mengajar .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar