Minggu, 25 Maret 2012

penelitian tindakan kelas fiqih


PTK Fiqih MA Kelas XI IPS


                                     BAB I PENDAHULUBAB I PENDAHULUA
 A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan adalah salah satu faktor yang menentukan kualitas kehidupan bangsa. Penataan pendidikan yang baik mempengaruhi kemajuan suatu bangsa. Untuk mencapai hal itu pendidikan harus adaptif terhadap perkembangan zaman. Salah satu usaha yang dilakukan pemerintah untuk memperbaiki mutu pendidikan nasional adalah dengan penyempurnaan kurikulum, yang istilahnya sudah tidak asing lagi di telinga kita yakni Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

 
Selama ini hasil pendidikan hanya tampak dari kemampuan siswa dalam menghafal fakta-fakta, sehingga mereka seringkali tidak memahami substansi materi yang diperolehnya. Siswa belum mampu menghubungkan antara apa yang mereka pelajari dengan bagaimana pengetahuan itu dipergunakan. Siswa masih kesulitan untuk memahami dan menggunakan sesuatu yang abstrak dan metode ceramah. Mereka sangat butuh konsep-konsep yang berhubungan dengan tempat dan masyarakat umumnya dimana mereka akan hidup dan bekerja


. Ada kecenderungan dalam dunia pendidikan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan secara alamiah.
 Belajar akan lebih bermakna jika anak “mengalami” sendiri apa yang di pelajarinya, bukan “mengetahui”nya.
 Pembelajaran yang berorientasi target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi “mengingat” jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang.
 Dan itulah yang terjadi di kelas-kelas sekolah kita! Termasuk siswa kelas XI IPs MA   suka bawang  kabupaten batang . Metode belajar mereka masih kental dengan teknik menghafal daripada memahami substansi materinya.
 Strategi kontekstual (contextual teaching and learning / CTL) adalah suatu Strategi pengajaran yang dari karakteristiknya memenuhi harapan itu. Sekarang ini pembelajaran dan pengajaran konstektual menjadi tumpuan harapan para ahli pendidikan dan pengajaran dalam upaya “menghidupkan” kelas secara maksimal. Kelas yang “hidup” diharapkan dapat mengimbangi perubahan yang terjadi di luar sekolah yang demikian cepat

. Ada sejumlah alasan mengapa pembelajaran konstektual dikembangkan sekarang ini. Sejumlah alasan tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut:

 1. Penerapan konteks budaya dalam pengembangan silabus,    
     penyusunan buku pedoman guru, dan buku teks akan
     mendorong sebagian besar siswa untuk tetap tertarik dan
     terlibat dalam kegiatan pendidikan.
 2. Penerapan konteks sosial dalam pengembangan silabus,
     penyusunan buku pedoman, dan buku teks yang dapat
     meningkatkan kekuatan masyarakat memungkinkan banyak
     anggota masyarakat untuk mendiskusikan berbagai isu yang
     dapat berpengaruh terhadap perkembangan masyarakat.
 3. Penerapan konteks personal yang dapat meningkatkan
     ketrampilan komunikasi, akan membantu lebih banyak siswa
     untuk secara penuh terlibat dalam kegiatan pendidikan dan
     masyarakat.
 4. Penerapan konteks ekonomi akan berpengaruh terhadap
     peningkatan kesejahteraan social.
 5. Penerapan konteks politik dapat meningkatkan pemahaman
     siswa tentang berbagai isu yang dapat berpengaruh terhadap
     masyarakat (Abdurrahman & Bintoro, 2000: 73).


Oleh karena itu peneliti mencoba untuk meminimalisir problem di atas dengan menerapkan strategi CTL (contextual teaching and learning) dengan metode cooperative learning dengan harapan keaktifan siswa kelas XI IPs MA sunan kalijaga bawang kabupaten batang , terhadap mata pelajaran fiqih semakin meningkat.

 B. Rumusan Masalah

 Guna mempermudah dalam memahami penerapan strategi CTL (contextual teaching and learning) dengan metode cooperative learning, maka penelitian difokuskan pada pertanyaan sebagai berikut:

         1.  Apa yang akan dilakukan untuk mengatasi siswa yang
              masih kental dengan teknik menghafal dan ceramah
              dalam memahami mata pelajaran fiqih ?
         2.  Apakah penerapan strategi CTL (contextual teaching
              and learning) dengan metode cooperative learning dapat
              meningkatkan keaktifan siswa kelas XI IPs MA 
              SUNAN KALI JOGO bawang-batang terhadap
               mata pelajaran fiqih ?

 C. Tujuan Penelitian

  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah penerapan strategi CTL (contextual teaching and learning) dengan metode cooperarive learning dapat meningkatkan keaktifan siswa kelas XI IPs MA SUNAN KALIJAGA bawang-batang terhadap mata pelajaran fiqih.

 D. Hipotesis Penelitian

      1.Jika siswa di kelas dibiasakan belajar dengan metode
         cooperarive learning, maka siswa akan lebih mudah untuk
         memahami mata pelajaran fiqih.
      2.Jika pendekatan CTL dengan metode cooperarive learning
         diterapkan, maka keaktifan siswa kelas XI IPs MA
         SUNAN KALIJOGO bawang-batangterhadap mata
         pelajaran fiqih dapat meningkat.

 E. Manfaat Penelitian

      1. Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi seluruh praktisi
          pendidikan, khususnya bagi: Lembaga MA bawang-
          batang, sebagai bahan evaluasi dan dapat dijadikan
          pedoman dalam meningkatkan mutu pendidikan.
       2. Peneliti, sebagai penambah khazanah keilmuan bagi
           peneliti khususnya dan pembaca pada umumnya,
           sehingga dapat mengembangkan pengetahuan dengan
           wawasan yang lebih luas baik secara teoritis maupun
           secara praktis.
        3.Peneliti lanjutan, sebagai bahan acuan dan tolak ukur jika
           akan diadakan penelitian.
        4. Siswa, diharapkan dengan penelitian ini siswa lebih
            mudah memahami, menghayati dan mengamalkan
            pelajaran yang sudah dipelajarinya
.        5. Guru, diharapkan penelitian ini dapat lebih
             memudahkan guru dalam mengajar, khususnya mata
             pelajaran fiqih

. F. Batasan Masalah

 Mata pelajaran fiqih kelas XI IPs Madrasah Aliyah mencakup banyak kompetensi dasar yang harus dikuasai oleh peserta didik, maka dalam penelitian ini hanya akan dikaji kompetensi dasar yang berhubungan dengan ibadah, waris dan wasiat dsb, dengan menggunakan strategi CTL (contextual teaching and learning) dengan metode cooperarive learning, sehingga diharapkan hasil belajar menjadi semakin meningkat

                         BAB II KAJIAN PUSTAKA
 A. Contextual Teaching And Learning
 1. Latar belakang contextual teaching and learning ( CTL )

 Ada kecenderungan dalam dunia pendidikan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan secara alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak “mengalami” sendiri apa yang di pelajarinya, bukan “mengetahui”nya. Pembelajaran yang berorientasi target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi “mengingat” jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang. Dan itulah yang terjadi di kelas-kelas sekolah kita

. Strategi Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
 Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan dari pada hasil. (Depdiknas, 2002:1)

  2. Hakekat contextual teaching and learning (CTL)

 Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni: konstruktivisme (construktivisme), bertanya (questioning), menemukan (inquiry), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection) dan penilaian sebenarnya (authentic assessment). (Depdiknas 2002:5)
 
 Dalam buku lain disebutkan bahwa strategi konstektual adalah salah satu strategi pembelajaran yang menekankan pentingnya lingkungan alamiah itu diciptakan dalam proses belajar agar kelas lebih “hidup” dan lebih bermakna karena siswa mengalami sendiri apa yang dipelajarinya.
 Strategi konstektual merupakan strategi yang memungkinkan siswa untuk menguatkan, memperluas, dan menerapkan pengetahuan dan ketrampilan akademik mereka dalam berbagai macam tatanan hidup baik di sekolah maupun di luar sekolah. Selain itu, siswa dilatih untuk dapat memecahkan masalah yang dihadapi dalam suatu situasi, misalnya dalam bentuk simulasi dan masalah yang memang ada di dunia nyata. (Nurhadi dkk, 2003:5)

 3. Landasan filosofis contextual teaching and learning (CTL)

 Landasan filosofis CTL adalah konstruktivisme, yaitu filosofi belajar yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar menghafal. Siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan dibenak mereka sendiri, bahwa pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta atau proposisi yang terpisah, tetapi mencerminkan ketrampilan yang dapat diterapkan. Konstruktivisme berakar pada filsafat pragmatis yang digagas oleh John Dewey pada awal abad 20 yang lalu.

 Ciri kelas yang menggunakan pembelajaran CTL adalah sebuah kelas jika telah menerapkan ketujuh komponen CTL, yaitu jika filosofi belajarnya adalah konstruktivisme, selalu ada unsur bertanya, pengetahuan dan pengalaman diperoleh dari kegiatan menemukan, terbentuknya masyarakat belajar, ada modeling yang ditiru dan dilaksanakan penilaian yang sebenarnya. (Depdiknas, 2002:27).

  inilah harapan penulis mengenai ptk ,mudah-mudahan bermanfaat dalam  peningkatan  mutu pembelajaran fiqih.di Madrasah tingkat atas terutama madrasah aliyah sunan kali jaga tempat penulis mengajar .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar