KONSEKUENSI IMAN KEPADA AL-QUR’AN
I.
DEFINISI AL-QUR'AN
Al-Qur'an adalah kalamullah, merupakan mukjizat yang
diturunkan ke hati Nabi Muhammad saw., diriwayatkan kepada kita secara
mutawatir, dan membacanya merupakan ibadah.
Lebih lanjut akan diuraikan
maksud dari definisi tersebut di atas.
-
Al-Qur'an adalah kalamullah
Hal
ini memberikan pengertian bahwa Al-Qur’an bukan merupakan ucapan maupun gubahan
Nabi Muhammad saw., malaikat, maupun manusia atau makhluk yang lain. Al-Qur’an
adalah firman Allah yang diturunkan melalui wahyu. Keberadaannya sebagai wahyu
memberikan jaminan kesempurnaan dan kebebasannya dari kekurangan sebagaimana
yang ada pada semua kitab selainnya. Kebenaran yang ada di dalamnya adalah mutlak.
-
Mukjizat
Mukjizat
adalah hal luar biasa yang diberikan kepada para nabi sebagai bukti
kenabiannya. Al-Qur’an
merupakan mukjizat Nabi Muhammad saw. yang terbesar dan abadi. Kemukjizatannya
dapat dilihat dari keorisinalannya. Belasan abad sudah kitab itu tidak berubah
hatta satu huruf pun, demikian hingga hari akhir. Allah telah menjamin untuk
menjaganya sehingga tidak akan pernah mengalami perubahan. Kemukjizatan lain dapat dilihat dari kesempurnaan bahasa
dan kandungannya.
-
Diturunkan ke dalam hati Muhammad saw.
Keberadaannya sebagai wahyu yang
diturunkan ke hati memberikan pengertian bahwa ia bukan sekedar dibaca atau
dihafal dengan lisan. Al-Qur’an akan efektif memberi manfaat kalau interaksi
dengannya merupakan interaksi qalbiyah (hati). Interaksi inilah yang
akan menggerakkan hingga menciptakan perubahan. Hubungan lisan akan
menghasilkan perubahan lisan, pun demikian bila hubungan hati. Hati yang berubah akan mampu menggerakkan seluruh sendi
kehidupan.
-
Diriwayatkan secara mutawatir
Informasi
agama dalam Islam harus melalui periwayatan yang dapat dipertanggungjawabkan
validitas dan reliabilitasnya. Mutawatir adalah riwayat yang disampaikan oleh
tiga orang atau lebih yang memiliki kualifikasi terbaik sebagai orang-orang
yang adil (kredibilitas moral), sempurna hafalannya (kapabilitas), dan tidak
mungkin sepakat berbohong. Seluruh ayat-ayat Al-Qur’an sampai kepada kita
dengan derajat periwayatan yang demikian.
-
Membacanya merupakan ibadah
Karena ia adalah kalamullah, maka
membacanya merupakan ibadah. Membacanya merupakan indikasi keimanan seseorang.
Semakin besar iman seseorang semakin intens membacanya, semakin intens
membacanya semakin meningkat imannya. Pahala besar akan diberikan Allah pada
mukmin yang membacanya. Satu huruf dibalas dengan sepuluh pahala. Alif laam
miim bukan satu huruf, tapi tiga huruf.. Subkanallah...
II.
KEDUDUKAN AL-QUR’AN
Kedudukan Al-Qur’an, antara lain sebagai:
-
Kitab
berita dan kabar tentang berbagai hal yang telah, sedang dan akan terjadi, baik
yang terjangkau oleh indera manusia maupun yang masih ghaib.
-
Kitab hukum dan syariat karena memuat hukum dan
perundang-undangan yang harus dipatuhi dan diterapkan dalam kehidupan.
-
Kitab jihad karena ia menggelorakan semangat jihad dan
menjadi panduan para mujahidin.
-
Kitab tarbiyah karena ia mendidik orang-orang yang beriman.
Mereka membaca, memahami, dan mengamalkannya agar menjadi mukrim yang baik.
-
Pedoman hidup karena orang-orang yang beriman
menjadikannya sebagai panduan dalam hidup mereka.
-
Kitab ilmu pengetahuan karena ia memuat berbagai
pengetahuan, mendorong, danmemberi dasar-dasar yang kokoh bagi pengembangan
berbagai cabang ilmu pengetahuan.
III.
KONSEKUENSI I MAN KEPADA
AL-QUR'AN
Iman kepada Al-Qur’an menuntut beberapa
hal yang harus dipenuhi oleh orang yang telah menyatakan beriman kepadanya. Keimanan itu tidak sempurna bahkan patut
dipertanyakan kebenarannya apabila ia belum memenuhinya. Di antara
konsekuensi-konsekuensi itu adalah:
1.
Akrab dengan Al-Qur’an
Seseorang dikatakan akrab dengan Al-Qur’an apabila ia
melakukan interaksi yang intens dengannya. Hal itu dilakukan dengan cara
mempelajari dan mengajarkan kepada orang lain. “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan
mengajarkannya!” (HR Bukhari).
Yang ia pelajari dan ajarkan itu meliputi
-
Bacaannya
Membaca Al-Qur’an dengan baik sesuai dengan makhraj-tajwidnya
merupakan indikasi keimanan seseorang. Untuk itu seorang mukmin harus mempelajari dan mengajarkannya kepada orang
lain dengan baik.
-
Pemahamannya
Hal ini dilakukan dengan mempelajari dan mengajarkan
maknanya secara baik, karena sebagian ayat-ayatnya harus dipahami secara
kontekstual. Pemahaman kontekstual harus didasarkan pada apa yang dipahami para
salafushalih melalui riwayat-riwayat yang sahih. Pemahaman kontekstual dapat
juga dengan penalaran akai, asal tidak menyimpang dari riwayaj karena Nabi saw.
dan para shahabat tentu lebih memahaminya. Merekalah
yang mengalami masa turunnya wahyu itu.
-
Penerapannya
Apa yang telah dipahami hendaknya diterapkan dalam
kehidupan. Di samping itu, ia mempelopori penerapannya dalam kehidupan dan
mengajak orang lain untuk melakukan hal yang sama.
-
Penghafalan
dan penjagaannya
Ia menghafalkan Al-Qur’an dan mengajarkan hafalan
Al-Qur’an kepada orang lain. Di samping itu ia senantiasa menjaga hafalannya
supaya tidak rusak, mengalami perubahan atau hilang.
2.
Mendidik diri dengannya
Al-Qur’an memuat
nilai-nilai dan ajaran yang ideal, sementara manusia dan kehidupan di
sekitarnya terkadang jauh dari nilai-nilai Al-Qur’an. Dalam kondisi ini, ia berusaha untuk mendidik diri
supaya sifat-sifat dan karakternya sesuai dengan Al-Qur’an. Bila berhasil, ia
akan menjadi seorang yang berkepribadian khas karena Al-Qur’an sebagai shibghah
mewarnai seluruh dirinya secara utuh.
3.
Tunduk menerima hukum-hukumnya
Al-Qur’an sebagai hukum dan perundang-undangan
tidak cukup dibaca dan dikaji. Al-Qur’an harus dipatuhi dengan segala
ketundukan dan lapang dada karena hukum-hukum yang ada di dalamnya dibuat oleh
Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Penolakan dan pembangkangan
terhadap Al-Qur’an merupakan kebodohan yang hanya akan menyebabkan kerusakan
dan kehancuran.
4.
Mengajak (menyeru) orang kepadanya
Karena ia yakin bahwa
Al-Qur’an adalah kebenaran hakiki yang menenteramkan maka ia pun mengajak orang
lain kepadanya dengan cinta dan penuh tanggung jawab. Di samping itu, karena sebagian nilai dan
hukum-hukumnya hanya dapat ditegakkan bersama dengan orang lain dalam wadah
jamaatul muslimin yang solid.
5.
Menegakkannya di bumi
Nilai dan hukum-hukum yang
menyangkut kehidupan pribadi ditegakkan dalam dirinya sebagai individu. Dalam
konteks kehidupan sosial politik ia tegakkan bersama dengan kaum mukminin
lainnya dalam wadah jamaah yang solid, tentunya dalam institusi sosial politik
dan kenegaraan.
IV.
BAHAYA MELUPAKAN AL-QUR’AN
Manfaat Al-Qur’an bagi umat manusia sangat
besar. Namun, kenyataan menunjukkan bahwa Al-Qur’an telah ditinggalkan
bahkan oleh kaum muslimin sendiri. Akibatnya, umat manusia menghadapi berbagai
problema yang tiada habis-habisnya. Dahulu yang melupakan dan meninggalkan
Al-Qur’an adalah orang-orang munafik dan ahli kitab, namun kini kaum muslimin
termasuk di dalamnya. Melupakan
Al-Qur’an sama dengan menjauhkan diri dari fungsi dan manfaatnya, bahkan tidak
meghormati kedudukannya. Akibatnya, akan mendatangkan berbagai bahaya yang
disebut dalam Al-Qur’an sendiri, di antaranya:
1.
Kesesatan yang nyata
Hukum yang ada dalam Al-Qur’an adalah petunjuk yang
mencerahkan. Siapa yang tidak menggunakan Al-Qur’an sebagai petunjuk berarti
menggunakan selainnya. Padahal petunjuk yang sebenarnya adalah petunjuk Allah.
2.
Kesempitan dan kesesakan
Barangsiapa yang Allah kehendaki untuk mendapat
petunjuk, Ia swt. melapangkan dadanya. Sebaliknya, yang tidak mendapat
petunjuk, dadanya akan terasa sempit menghimpit seakan naik ke ketinggian
langit.
3.
Kehidupan yang sempit
Siapa yang tidak mengikuti petunjuk Allah, maka
kehidupannya pasti penuh permasalahan. Mengikuti petunjuk buatan manusia sama
saja dengan menjerumuskan diri dalam kepentingan berbagai pihak sehingga akan
terombang-ambing di antara kepentingan-kepentingan itu.
4.
Kebutaan mata hati
Mereka tidak dapat melihat kebenaran Al-Qur’an bukan
karena mata mereka buta. Kebutaan yang lebih parah adalah apabila mengenai
hati. Orang yang mengalami kebutaan secara lahir mungkin saja mendapatkan
kehidupan yang baik selama hatinya tidak buta.
5.
Kekerasan hati
Di antara mukjizat Al-Qur’an adalah kekuatannya
meluluhkan hati sehingga orang yang kasar dan kaku pun menjadi lembut
karenanya. Contoh yang sangat ekstrim adalah Umar bin Khattab ra. Saat amarah,
kebencian, dan permusuhannya berkobar-kobar justru beliau tersentuh oleh Al-Qur’an
yang sedang dibacakan. Tidak
tersentuhnya hati oleh Al-Qur’an adalah akibat sekat yang menjadikannya keras. Padahal
bila sudah mengeras, hati lebih keras dibanding batu.
6.
Kezhaliman dan kehinaan
Meninggalkan hal yang bermanfaat dan menggantinya dengan
kesesatan merupakan tindak kezhaliman terhadap diri dan orang lain. Kezhaliman
semacam ini akan menyebabkan hilangnya kehormatan sehingga orang akan hina di
mata Allah dan di mata manusia.
7.
Menjadi teman setan
Setan akan sangat senang apabila manusia meninggalkan
kitab suci Tuhannya. Mengapa? Karena mereka akan menjadi teman yang loyal
kepadanya.
8.
Lupa diri
Akibat melupakan Allah, ia dilupakan Allah, padahal
kepentingannya sangat tergantung kepada-Nya. Melupakan Al-Qur’an sama dengan
melupakan diri sendiri. Hal ini akan menimbulnya bahaya yaitu kefasikan dan
kemunafikan. Semua itu mengakibatkan kesengsaraan di
dunia maupun di akhirat.
V.
SYARAT MENDAPAT MANFAAT
AL-QUR'AN
Imam Ibnu Qayyim ra. dalam Al-Fawaid
mengatakan bahwa kita akan mendapat manfaat dari Al-Qur’an apabila terpenuhi
hal-hal sebagai berikut: pemberi pengaruh (Al-Qur’an itu sendiri), tempat yang
menerimanya (hati yang hidup), dan tiada hal yang menghalangi.
Syarat-syarat itu secara rinci dapat
dijabarkan sebagai berikut:
1.
Bersikap sopan terhadap
Al-Qur’an.
Hal ini dapat diwujudkan dengan niat yang baik;
kebersihan hati dari penyakit-penyakit hati; mengosongkan hati dari hal-hal
yang menyibukkannya; kesucian jasmani dari najis; dan mengkhususkan pikiran
bersama Al-Qur’an.
2.
Talaqqi dengan sebaik-baiknya.
Hal ini dilakukan dengan hati yang khusyuk; ta’zhim (pengagungan); dan semangat
untuk melaksanakan apa yang diperintahkannya.
3.
Memperhatikan tujuan asasi
diturunkannya Al-Qur’an.
Yaitu sebagai petunjuk menuju ridha Allah; untuk
membentuk kepribadian yang Islami; memandu umat manusia; dan membentuk
masyarakat Islami.
4.
Mengikuti cara interaksi para
shahabat ra. dengan Al-Qur’an.
Merekalah generasi terbaik. Mereka mencapai predikat itu
karena interaksinya yang sangat baik bersama Al-Qur’an. Cara
mereka dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an itu adalah:
-
Pandangan
yang menyeluruh
Maksudnya bahwa mereka tidak memahami ayat-ayat
secara terpisah karena ayat satu dengan yang lain saling terkait. Pandangan
yang parsial terhadap Al-Qur’an akan memunculkan anggapan bahwa ada kontradiksi
di antara ayat-ayatnya. Ini menyebabkan orang mengimani sebagian ayat dan
mengkafiri sebagian yang lain. Padahal, mengimani sebagian ayat dan mengkafiri
sebagian lainnya merupakan kekafiran yang sebenarnya. Rasulullah saw. bahkan melarang kita mempertentangkan
satu ayat dengan ayat yang lain.
-
Memasuki Al-Qur'an tanpa membawa persepsi, pemahaman, dan
keyakinan-keyakinan masa lalu.
Sikap ini demikian dilakukan agar apa yang akan
dipahaminya dari Al-Qur’an tidak dibatasi oleh pemahaman dan persepsi-persepsi
lamanya.
-
Kepercayaan mutlak kepada Al-Qur'an.
Apa yang dikatakan Al-Qur’an sebagai haram, mereka
mengatakannya sebagai haram. Sebaliknya, apa yang Al-Qur’an katakan sebagai
halal mereka mengatakannya sebagai halal. Bahkan mereka pun percaya sepenuhnya
pada hal-hal yang kadang belum mereka ketahui atau bertentangan dengan logika
berpikir mereka. Logikalah yang harus menyesuaikan dengan Al-Qur’an, bukan
Al-Qur’an yang dipaksakan untuk selaras dengan logika mereka.
-
Merasakan bahwa ayatnya (yang dibaca/didengar)ditujukan
kepadanya
Imam Ahmad mengatakan bahwa siapa yang ingin berdialog
dengan Allah hendaklah ia membaca Al-Qur’an. Sayyid Qutub mengatakan bahwa
hendaklah ia merasakan seakan-akan wahyu itu sedang turun kepadanya secara
langsung.

5.
Tiada penghalang.
Hal yang menghalangi
terjadinya pengaruh Al-Qur’an secara efektif adalah kesibukan hati dengan
urusan lain; ketidakpahamannya terhadap makna dan pesan-pesan yang terkandung
di dalam ayat yang dibaca atau didengar; dan ketika ia berpaling kepada selain
Al-Qur'an.
Disarikan dari : Syarah
Rasmul Bayan Tarbiyah, oleh: Jasiman, Lc.


KONSEKUENSI IMAN KEPADA AL-QUR’AN
Oleh: HM. Budiyanto
I.
DEFINISI AL-QUR'AN
Al-Qur'an adalah kalamullah, merupakan mukjizat yang
diturunkan ke hati Nabi Muhammad saw., diriwayatkan kepada kita secara
mutawatir, dan membacanya merupakan ibadah.
Lebih lanjut akan diuraikan
maksud dari definisi tersebut di atas.
-
Al-Qur'an adalah kalamullah
Hal
ini memberikan pengertian bahwa Al-Qur’an bukan merupakan ucapan maupun gubahan
Nabi Muhammad saw., malaikat, maupun manusia atau makhluk yang lain. Al-Qur’an
adalah firman Allah yang diturunkan melalui wahyu. Keberadaannya sebagai wahyu
memberikan jaminan kesempurnaan dan kebebasannya dari kekurangan sebagaimana
yang ada pada semua kitab selainnya. Kebenaran yang ada di dalamnya adalah mutlak.
-
Mukjizat
Mukjizat
adalah hal luar biasa yang diberikan kepada para nabi sebagai bukti
kenabiannya. Al-Qur’an
merupakan mukjizat Nabi Muhammad saw. yang terbesar dan abadi. Kemukjizatannya
dapat dilihat dari keorisinalannya. Belasan abad sudah kitab itu tidak berubah
hatta satu huruf pun, demikian hingga hari akhir. Allah telah menjamin untuk
menjaganya sehingga tidak akan pernah mengalami perubahan. Kemukjizatan lain dapat dilihat dari kesempurnaan bahasa
dan kandungannya.
-
Diturunkan ke dalam hati Muhammad saw.
Keberadaannya sebagai wahyu yang
diturunkan ke hati memberikan pengertian bahwa ia bukan sekedar dibaca atau
dihafal dengan lisan. Al-Qur’an akan efektif memberi manfaat kalau interaksi
dengannya merupakan interaksi qalbiyah (hati). Interaksi inilah yang
akan menggerakkan hingga menciptakan perubahan. Hubungan lisan akan
menghasilkan perubahan lisan, pun demikian bila hubungan hati. Hati yang berubah akan mampu menggerakkan seluruh sendi
kehidupan.
-
Diriwayatkan secara mutawatir
Informasi
agama dalam Islam harus melalui periwayatan yang dapat dipertanggungjawabkan
validitas dan reliabilitasnya. Mutawatir adalah riwayat yang disampaikan oleh
tiga orang atau lebih yang memiliki kualifikasi terbaik sebagai orang-orang
yang adil (kredibilitas moral), sempurna hafalannya (kapabilitas), dan tidak
mungkin sepakat berbohong. Seluruh ayat-ayat Al-Qur’an sampai kepada kita
dengan derajat periwayatan yang demikian.
-
Membacanya merupakan ibadah
Karena ia adalah kalamullah, maka
membacanya merupakan ibadah. Membacanya merupakan indikasi keimanan seseorang.
Semakin besar iman seseorang semakin intens membacanya, semakin intens
membacanya semakin meningkat imannya. Pahala besar akan diberikan Allah pada
mukmin yang membacanya. Satu huruf dibalas dengan sepuluh pahala. Alif laam
miim bukan satu huruf, tapi tiga huruf.. Subkanallah...
II.
KEDUDUKAN AL-QUR’AN
Kedudukan Al-Qur’an, antara lain sebagai:
-
Kitab
berita dan kabar tentang berbagai hal yang telah, sedang dan akan terjadi, baik
yang terjangkau oleh indera manusia maupun yang masih ghaib.
-
Kitab hukum dan syariat karena memuat hukum dan
perundang-undangan yang harus dipatuhi dan diterapkan dalam kehidupan.
-
Kitab jihad karena ia menggelorakan semangat jihad dan
menjadi panduan para mujahidin.
-
Kitab tarbiyah karena ia mendidik orang-orang yang beriman.
Mereka membaca, memahami, dan mengamalkannya agar menjadi mukrim yang baik.
-
Pedoman hidup karena orang-orang yang beriman
menjadikannya sebagai panduan dalam hidup mereka.
-
Kitab ilmu pengetahuan karena ia memuat berbagai
pengetahuan, mendorong, danmemberi dasar-dasar yang kokoh bagi pengembangan
berbagai cabang ilmu pengetahuan.
III.
KONSEKUENSI I MAN KEPADA
AL-QUR'AN
Iman kepada Al-Qur’an menuntut beberapa
hal yang harus dipenuhi oleh orang yang telah menyatakan beriman kepadanya. Keimanan itu tidak sempurna bahkan patut
dipertanyakan kebenarannya apabila ia belum memenuhinya. Di antara
konsekuensi-konsekuensi itu adalah:
1.
Akrab dengan Al-Qur’an
Seseorang dikatakan akrab dengan Al-Qur’an apabila ia
melakukan interaksi yang intens dengannya. Hal itu dilakukan dengan cara
mempelajari dan mengajarkan kepada orang lain. “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan
mengajarkannya!” (HR Bukhari).
Yang ia pelajari dan ajarkan itu meliputi
-
Bacaannya
Membaca Al-Qur’an dengan baik sesuai dengan makhraj-tajwidnya
merupakan indikasi keimanan seseorang. Untuk itu seorang mukmin harus mempelajari dan mengajarkannya kepada orang
lain dengan baik.
-
Pemahamannya
Hal ini dilakukan dengan mempelajari dan mengajarkan
maknanya secara baik, karena sebagian ayat-ayatnya harus dipahami secara
kontekstual. Pemahaman kontekstual harus didasarkan pada apa yang dipahami para
salafushalih melalui riwayat-riwayat yang sahih. Pemahaman kontekstual dapat
juga dengan penalaran akai, asal tidak menyimpang dari riwayaj karena Nabi saw.
dan para shahabat tentu lebih memahaminya. Merekalah
yang mengalami masa turunnya wahyu itu.
-
Penerapannya
Apa yang telah dipahami hendaknya diterapkan dalam
kehidupan. Di samping itu, ia mempelopori penerapannya dalam kehidupan dan
mengajak orang lain untuk melakukan hal yang sama.
-
Penghafalan
dan penjagaannya
Ia menghafalkan Al-Qur’an dan mengajarkan hafalan
Al-Qur’an kepada orang lain. Di samping itu ia senantiasa menjaga hafalannya
supaya tidak rusak, mengalami perubahan atau hilang.
2.
Mendidik diri dengannya
Al-Qur’an memuat
nilai-nilai dan ajaran yang ideal, sementara manusia dan kehidupan di
sekitarnya terkadang jauh dari nilai-nilai Al-Qur’an. Dalam kondisi ini, ia berusaha untuk mendidik diri
supaya sifat-sifat dan karakternya sesuai dengan Al-Qur’an. Bila berhasil, ia
akan menjadi seorang yang berkepribadian khas karena Al-Qur’an sebagai shibghah
mewarnai seluruh dirinya secara utuh.
3.
Tunduk menerima hukum-hukumnya
Al-Qur’an sebagai hukum dan perundang-undangan
tidak cukup dibaca dan dikaji. Al-Qur’an harus dipatuhi dengan segala
ketundukan dan lapang dada karena hukum-hukum yang ada di dalamnya dibuat oleh
Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Penolakan dan pembangkangan
terhadap Al-Qur’an merupakan kebodohan yang hanya akan menyebabkan kerusakan
dan kehancuran.
4.
Mengajak (menyeru) orang kepadanya
Karena ia yakin bahwa
Al-Qur’an adalah kebenaran hakiki yang menenteramkan maka ia pun mengajak orang
lain kepadanya dengan cinta dan penuh tanggung jawab. Di samping itu, karena sebagian nilai dan
hukum-hukumnya hanya dapat ditegakkan bersama dengan orang lain dalam wadah
jamaatul muslimin yang solid.
5.
Menegakkannya di bumi
Nilai dan hukum-hukum yang
menyangkut kehidupan pribadi ditegakkan dalam dirinya sebagai individu. Dalam
konteks kehidupan sosial politik ia tegakkan bersama dengan kaum mukminin
lainnya dalam wadah jamaah yang solid, tentunya dalam institusi sosial politik
dan kenegaraan.
IV.
BAHAYA MELUPAKAN AL-QUR’AN
Manfaat Al-Qur’an bagi umat manusia sangat
besar. Namun, kenyataan menunjukkan bahwa Al-Qur’an telah ditinggalkan
bahkan oleh kaum muslimin sendiri. Akibatnya, umat manusia menghadapi berbagai
problema yang tiada habis-habisnya. Dahulu yang melupakan dan meninggalkan
Al-Qur’an adalah orang-orang munafik dan ahli kitab, namun kini kaum muslimin
termasuk di dalamnya. Melupakan
Al-Qur’an sama dengan menjauhkan diri dari fungsi dan manfaatnya, bahkan tidak
meghormati kedudukannya. Akibatnya, akan mendatangkan berbagai bahaya yang
disebut dalam Al-Qur’an sendiri, di antaranya:
1.
Kesesatan yang nyata
Hukum yang ada dalam Al-Qur’an adalah petunjuk yang
mencerahkan. Siapa yang tidak menggunakan Al-Qur’an sebagai petunjuk berarti
menggunakan selainnya. Padahal petunjuk yang sebenarnya adalah petunjuk Allah.
2.
Kesempitan dan kesesakan
Barangsiapa yang Allah kehendaki untuk mendapat
petunjuk, Ia swt. melapangkan dadanya. Sebaliknya, yang tidak mendapat
petunjuk, dadanya akan terasa sempit menghimpit seakan naik ke ketinggian
langit.
3.
Kehidupan yang sempit
Siapa yang tidak mengikuti petunjuk Allah, maka
kehidupannya pasti penuh permasalahan. Mengikuti petunjuk buatan manusia sama
saja dengan menjerumuskan diri dalam kepentingan berbagai pihak sehingga akan
terombang-ambing di antara kepentingan-kepentingan itu.
4.
Kebutaan mata hati
Mereka tidak dapat melihat kebenaran Al-Qur’an bukan
karena mata mereka buta. Kebutaan yang lebih parah adalah apabila mengenai
hati. Orang yang mengalami kebutaan secara lahir mungkin saja mendapatkan
kehidupan yang baik selama hatinya tidak buta.
5.
Kekerasan hati
Di antara mukjizat Al-Qur’an adalah kekuatannya
meluluhkan hati sehingga orang yang kasar dan kaku pun menjadi lembut
karenanya. Contoh yang sangat ekstrim adalah Umar bin Khattab ra. Saat amarah,
kebencian, dan permusuhannya berkobar-kobar justru beliau tersentuh oleh Al-Qur’an
yang sedang dibacakan. Tidak
tersentuhnya hati oleh Al-Qur’an adalah akibat sekat yang menjadikannya keras. Padahal
bila sudah mengeras, hati lebih keras dibanding batu.
6.
Kezhaliman dan kehinaan
Meninggalkan hal yang bermanfaat dan menggantinya dengan
kesesatan merupakan tindak kezhaliman terhadap diri dan orang lain. Kezhaliman
semacam ini akan menyebabkan hilangnya kehormatan sehingga orang akan hina di
mata Allah dan di mata manusia.
7.
Menjadi teman setan
Setan akan sangat senang apabila manusia meninggalkan
kitab suci Tuhannya. Mengapa? Karena mereka akan menjadi teman yang loyal
kepadanya.
8.
Lupa diri
Akibat melupakan Allah, ia dilupakan Allah, padahal
kepentingannya sangat tergantung kepada-Nya. Melupakan Al-Qur’an sama dengan
melupakan diri sendiri. Hal ini akan menimbulnya bahaya yaitu kefasikan dan
kemunafikan. Semua itu mengakibatkan kesengsaraan di
dunia maupun di akhirat.
V.
SYARAT MENDAPAT MANFAAT
AL-QUR'AN
Imam Ibnu Qayyim ra. dalam Al-Fawaid
mengatakan bahwa kita akan mendapat manfaat dari Al-Qur’an apabila terpenuhi
hal-hal sebagai berikut: pemberi pengaruh (Al-Qur’an itu sendiri), tempat yang
menerimanya (hati yang hidup), dan tiada hal yang menghalangi.
Syarat-syarat itu secara rinci dapat
dijabarkan sebagai berikut:
1.
Bersikap sopan terhadap
Al-Qur’an.
Hal ini dapat diwujudkan dengan niat yang baik;
kebersihan hati dari penyakit-penyakit hati; mengosongkan hati dari hal-hal
yang menyibukkannya; kesucian jasmani dari najis; dan mengkhususkan pikiran
bersama Al-Qur’an.
2.
Talaqqi dengan sebaik-baiknya.
Hal ini dilakukan dengan hati yang khusyuk; ta’zhim (pengagungan); dan semangat
untuk melaksanakan apa yang diperintahkannya.
3.
Memperhatikan tujuan asasi
diturunkannya Al-Qur’an.
Yaitu sebagai petunjuk menuju ridha Allah; untuk
membentuk kepribadian yang Islami; memandu umat manusia; dan membentuk
masyarakat Islami.
4.
Mengikuti cara interaksi para
shahabat ra. dengan Al-Qur’an.
Merekalah generasi terbaik. Mereka mencapai predikat itu
karena interaksinya yang sangat baik bersama Al-Qur’an. Cara
mereka dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an itu adalah:
-
Pandangan
yang menyeluruh
Maksudnya bahwa mereka tidak memahami ayat-ayat
secara terpisah karena ayat satu dengan yang lain saling terkait. Pandangan
yang parsial terhadap Al-Qur’an akan memunculkan anggapan bahwa ada kontradiksi
di antara ayat-ayatnya. Ini menyebabkan orang mengimani sebagian ayat dan
mengkafiri sebagian yang lain. Padahal, mengimani sebagian ayat dan mengkafiri
sebagian lainnya merupakan kekafiran yang sebenarnya. Rasulullah saw. bahkan melarang kita mempertentangkan
satu ayat dengan ayat yang lain.
-
Memasuki Al-Qur'an tanpa membawa persepsi, pemahaman, dan
keyakinan-keyakinan masa lalu.
Sikap ini demikian dilakukan agar apa yang akan
dipahaminya dari Al-Qur’an tidak dibatasi oleh pemahaman dan persepsi-persepsi
lamanya.
-
Kepercayaan mutlak kepada Al-Qur'an.
Apa yang dikatakan Al-Qur’an sebagai haram, mereka
mengatakannya sebagai haram. Sebaliknya, apa yang Al-Qur’an katakan sebagai
halal mereka mengatakannya sebagai halal. Bahkan mereka pun percaya sepenuhnya
pada hal-hal yang kadang belum mereka ketahui atau bertentangan dengan logika
berpikir mereka. Logikalah yang harus menyesuaikan dengan Al-Qur’an, bukan
Al-Qur’an yang dipaksakan untuk selaras dengan logika mereka.
-
Merasakan bahwa ayatnya (yang dibaca/didengar)ditujukan
kepadanya
Imam Ahmad mengatakan bahwa siapa yang ingin berdialog
dengan Allah hendaklah ia membaca Al-Qur’an. Sayyid Qutub mengatakan bahwa
hendaklah ia merasakan seakan-akan wahyu itu sedang turun kepadanya secara
langsung.

5.
Tiada penghalang.
Hal yang menghalangi
terjadinya pengaruh Al-Qur’an secara efektif adalah kesibukan hati dengan
urusan lain; ketidakpahamannya terhadap makna dan pesan-pesan yang terkandung
di dalam ayat yang dibaca atau didengar; dan ketika ia berpaling kepada selain
Al-Qur'an.
Disarikan dari : Syarah
Rasmul Bayan Tarbiyah, oleh: Jasiman, Lc.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar