Jumat, 02 Maret 2012
pengertian filsafat
FILSAFAT ILMU
FILSAFAT
ILMU PENGETAHUAN
Jika tidak bisa mendapatkan apa yang
disukai, sukai apa yang didapat
PENDAHULUAN
Kata falsafah atau filsafat dalam bahasa Indonesia
merupakan kata serapan dari bahasa Arab , yang juga
diambil dari bahasa Yunani; philosophia.
Philosophia, merupakan kata majemuk dan berasal dari
kata-kata (philia = persahabatan, cinta dsb.) dan (sophia
= “kebijaksanaan”).
Sehingga arti harafiahnya adalah seorang “pencinta
kebijaksanaan” atau “ilmu”.
Kata filosofi yang dipungut dari bahasa Belanda juga
dikenal di Indonesia.
Dalam bahasa Indonesia seseorang yang mendalami
bidang falsafah disebut “filsuf”
Paling tidak bisa dikatakan bahwa “filsafat” adalah studi
yang mempelajari seluruh fenomena kehidupan dan
pemikiran manusia secara kritis.
Dewasa ini, kita dapat melihat akan adanya
dominasi ”cara berpikir”yang dilakukan oleh para
pemikir barat.
Penguasaan tersebut telah menguasai hampir
seluruh dunia; karena barat telah berhasil
mengembangkan teknologi, kebudayaan sekaligus
peradabanya.
Bagi negara berkembang ketergantungan akan
dominasi barat sangat kentara sekali, apalagi dilihat
dari kacamata filsafa, barat berhasil dalam
mengembangkan dan menanamkan ”cara
berpikirnya”.
Sebetulnya pemeikiran-pemikiran barat pada
hakekatnya berupa tradisi pemikiran yang diambil
dan dilahirkan dizaman Yunani kuno
Dengan kata lain, bahwa filsafat Yunani Kuno
dimajukan sebagai pangkal sejarah filsafat
(pemikiran) Barat.
Para ahli pada zaman itu, mencoba membuat konsep
tentang asal muasal alam.
Corak dan sifat dari pemikiranya bersifat mitologik
(keteranganya didasarkan atas mitos dan
kepercayaan saja).
Setelah adanya demitologisasi oleh para pemikir
alam seperti Thales (624-548 SM), Anaximenes (590-
528 SM), Phitagoras (532 SM), herakliotos (535-475
SM), Parminides (540-475 SM) serta banyak lagi
pemikir lainya, maka pemikiran filsafat berkembang
secara cepat kearah kemegahanya.
Sejak abad 5 SM, pemikiran filsafat beralih kearah
manusia dengan kemampuan berpikirnya, masa ini
dikenal dengan masa antropologis.
Masa ini dokenal sederet ahli pemikir seperti Sokrates,
Plato, Aristoteles.
Pada ahirnya filsafat membentuk ruang lingkup yang
semakin luas serta dengan beraneka ragam
permasalahan.
Pemikiran filsafat pada masa itu diartikan sebagai
bermacam-macam ilmu pengetahuan. Hal ini dapat
dibuktikan dengan apa yang dikemukakan oleh
Aristoteles, bahwa filsafat adalah segala sesuatu yang
dapat dipertanggungjawabkan atas dasar akal pikiran,
dan membagi filsafat menjadi ilmu pengetahuan, poetis,
ilmu pengetahuan tang praktis, ilmu pengetahuan yang
teoritis.
Seorang filusuf dipandang cerdik dan pandai jika orang
tersebut cinta dan ingin selalu berteman dengan
kebijaksanaan (Koentowibisono, 1982:3)
Perkembangan filsafat hingga zaman
Neoplatonisme (abad sesudah masehi) mulai
mengarah pada Tuhan (Teosentris) dan
Tuhanlah yang menjadi dasar segal galanya.
Tuhan dan segala sesuatu menjadi hakekat
yang sama, lebih dikenal dengan ajaran
Phanteisme (serba Tuhan).
Mulai abad permulaan masehi,
perkembangan filsafat beralih ke Eropa.
Hal ini disebabkan kekuasaan kerajaan Roma
yang luas sekali.
Pemikiran filsafat didasarkan pada firman
Tuhan, hal ini disebabkan karena satusatunya
kebenaran dan kebijaksanaan ada
pada firman Tuhan.
Pada abad 12 perkembangan filsafat
mengalami peningkatan yang luar biasa, hal
ini ditandai dengan adanya Universitasuniversitas,
disamping ordo-ordo.
Ordo semacam sekumpulan orang dibawah
seorang imam guna hendak mencapai
kesempurnaan hidup, dengan meninggalkan
masyarakat ramai dan duniawi.
Perkembangan filsafat ditandai dengan
munculnya para ahli pikir seperti: Anselmus,
Alberadus, Albertus Manfus.
Pemikiran filsafatnya berkisar tentang
penyelesaian hubungan antara akal dan wahyu
dan juga tentang universalia.
Abad 14-17 pemikiran filsafat ditandai dengan
munculnya aliran-aliran filsafat. Ini adalah masa
dimana menuju pada filsafat modern.
Yang menjadi dasar timbulnya pemikiran
kefilsafatan ini adalah kesadaran individu yang
kongkrit.
Pada masa inipula di Eropa terjadi minat orang
terhadap filsafat Yunani senakin besar dan
berusaha mengembalikan pemikiran tersebut.
Masa ini dikenal dengan masa Renaisance.
Lanjutan…
Pada masa ini pemikiran filsafatnya mengarah pada
individu yang konkrit sekaligus menjadi subjek dan
objeknya.
Masing-masing manusia menjadi barometer dalam
menetapkan sebuah dan menentukan akan
kebenaran dan kenyataan.
Dalam situasi macam ini hubungan antara agama
dan filsafat menjadi cair, dalam artian agama
ditinggalkan oleh filsafat (Koentowibisono; 182;4).
Masing masing kembali pada dasarnya sendiri,
artinya agama mendasarkan diri pada imam dan
kepercayaan pada firman Tuhan dalam menghadapi
pelbagai permasalahan, sedangkan filsafat
mendasarkan diri pada akal dan pengalaman.
Lanjutan…
Perkembangan selanjutnya jaman pencerahan
pada abad ke 18, karena adanya Tasionalisme,
semakin lama kemampuan manusia akan
menjadi tumpahan harapan;
Perkembangan filsafat pada abad ke 19 yang
mengarah pada filsafat ilmu pengetahuan,
dimana persoalan filsafat diisi dengan usaha
manusia mengenai cara bagaimana caranya
dan apa sarana yang dipakai untuk mencari
kebenaran dan kenyataan.
Imanuel Kant (1724-1804) dikatakan sebagai
penyempurna pencerahan sebab pemikiran
filsafat memuat suatu gagasan baru yang akan
memberikan kepada segala arah dikemudian
hari.
Menginjak abad 19 keadaan dunia filsafat
terpecah belah, ada filsafat Amerika, filsafat
Inggris, filsafat Jerman, filsafat Prancis, dan
filsafat Islam.
Pada masa ini pemikiran filsafat mampu
membentuk kepribadian terhadap masingmasing
bangsa dengan pemikiran dan caranya
sendiri.
Secra perlahan-lahan filsafat kontemporer mulai
tumbuh.
Mulai saat ini tidak ada lagi aliran ataupun
tokoh yang mendominasi filsafat.
4/18/2011
7
Lanjutan…
Filsafat pragmatis di Amerika Serikat timbul
karena meragukan kemampuan akal dan ilmu
pengetahuan positif.
Filsafat hidup yang berkembang di seluruh
eropa tetapi mempunyai bentuk dan coraknya
sendiri di pelbagai negara.
Kecenderungan kearah secara praktis terhadap
filsafat dalam kaitanya dengan manusia secara
individu dan sosial. Dalam abad 20 inilah
dikatakan Van Peursen sebagai pemikiran
filsafat secara fungsional (Koentowibisono,
1982;4).
Pemikiran Pemikiran
Filsafat
4/18/2011
8
Humanisme
Humanisme berasal dari Barat dan mengalami
perkembangan dalam lingkungan pemikiran filsafat
Barat.
Humanisme menjadikan tabiat manusia beserta
batas-batas dan kecenderungan alamiah manusia
sebagai obyek.
Humanisme merupakan sebuah konsep monumental
yang menjadi aspek fundamental bagi
Renaisans, yaitu aspek yang di jadikan para pemikir
sebagai pegangan untuk mempelajari kesempurnaan
manusia di alam natural dan di dalam sejarah
sekaligus meriset interpretasi manusia tentang ini.
Pada zaman Yunani kuno pendidikan dilakukan
sebagai seni-seni bebas, dan ketentuan ini
dipandang layak hanya untuk manusia karena
manusia berbeda dengan semua binatang.
Lanjutan…
5. Penyerahan sepenuhnya kekuasaan dan
penentuan nasib, dan kekuasaan despotisme harus
ditolak mentah-mentah.
6. Manusia adalah sentral alam semesta.
7. Akal manusia sejajar dengan akal Tuhan.
8. Penolakan sistem-sistem tertutup filsafat, prinsip
dan keyakinan-keyakinan agama, serta
argumentasi-argumentasi ekstraktif mengenai nilainilai
kemanusiaan.
9. Penolakan terhadap praktik-praktik asketisme, dan
perhatian mesti dipusatkan kepada faktor jasmani
dan kenikmatan-kenikmatan fisik.
10. Akal manusia adalah pimpinan manusia, dan
status agama sebagai komando harus ditiadakan.
4/18/2011
9
Lanjutan…
11. Kenikmatan-kenikmatan jasmani adalah tujuan
final segala aktivitas manusia.
12. Manusia adalah binatang politik.
13. Dunia politik harus diceraikan dari segala
pandangan metafisik atau agama, dan
manusia adalah aktor yang memiliki
wewenang mutlak dalam dunia politik.
14. Dalam psikologi, setiap manusia diteliti
sebagai satu spesis tunggal, dan
bukan sebagai satu individu yang merupakan
bagian dari satu spesis manusia. Atas dasar
ini, manusia berwenang untuk semata-mata
mengikuti tatanan nilainya sendiri.
Prinsip-prinsip pemikiran
humanisme
1. Manusia adalah standar dan kriteria segala
sesuatu.
2. Penekanan terhadap urgensi kembali kepada
peradaban era klasik untuk menghidupkan
kembali dan mengembangkan potensi dan
kekuatan yang diyakini orang-orang terdahulu.
3. Penekanan secara berlebihan kepada kebebasan
dan ikhtiar manusia akibat kebencian kepada
intimidasi dan kediktatoran para penguasa abad
pertengahan.
4. Pengingkaran terhadap status para rohaniwan
sebagai perantara antara Tuhan dan manusia.
Lanjutan…
15. Aktualisasi diri, pemeliharan diri dan peningkatan diri
mesti dipelajari dalam setiap individu.
16. Manusia adalah pencipta lingkungannya dan bukanlah
hasil lingkungannya.
17. Manusia harus terkonsentrasi sepenuhnya kepada
dirinya.
18. Kelayakan kepribadian setiap individu bisa terbentuk
tanpa keimanan kepada Tuhan.
19. Keberadaan agama dipandang sebagai faktor
superfisial yang diperlukan demi popularitas nilai-nilai
kepribadian manusia dan perbaikan sosial, namun
agama ini bisa jadi merupakan agama produk manusia
ala August Comte.
20. Penekanan terhadap persatuan antar segenap agama,
baik agama yang berpangkal dari Nabi Ibrahim
maupun agama khurafat.
Rasionalisme
Aliran rasionalisme dipelopori oleh Rene Descartes
(1596-1650 M).
Descartes adalah pelopor kaum rasionalis, yaitu
mereka yang percaya bahwa dasar semua
pengetahuan ada dalam pikiran
Dalam buku Discourse de la Methode tahun 1637 ia
menegaskan perlunya ada metode yang jitu sebagai
dasar kokoh bagi semua pengetahuan, yaitu dengan
menyangsikan segalanya, secara metodis.
Kalau suatu kebenaran tahan terhadap ujian
kesangsian yang radikal ini, maka kebenaran itu
100% pasti dan menjadi landasan bagi seluruh
pengetahuan. Tetapi dalam rangka kesangsian yang
metodis ini ternyata hanya ada satu hal yang tidak
dapat diragukan, yaitu “saya ragu-ragu”.
4/18/2011
11
Ini bukan khayalan, tetapi kenyataan, bahwa “aku
ragu-ragu”.
Jika aku menyangsikan sesuatu, aku menyadari
bahwa aku menyangsikan adanya.
Dengan lain kata kesangsian itu langsung
menyatakan adanya aku. Itulah “cogito ergo sum”,
aku berpikir (= menyadari) maka aku ada.
Itulah kebenaran yang tidak dapat disangkal
lagi. Mengapa kebenaran itu pasti? Sebab aku
mengerti itu dengan “jelas, dan terpilah-pilah”
“clearly and distinctly”, “clara et distincta”.
Artinya, yang jelas dan terpilah-pilah itulah yang
harus diterima sebagai benar.
Descartes dalam menentukan
kebenaran
1. realitas pikiran (res cogitan),
2. realitas perluasan (res extensa,
“extention”) atau materi, dan
3. Tuhan (sebagai Wujud yang
seluruhnya sempurna, penyebab
sempurna dari kedua realitas itu).
4/18/2011
12
Pikiran sesungguhnya adalah kesadaran, tidak
mengambil ruang dan tak dapat dibagi-bagi
menjadi bagian yang lebih kecil.
Materi adalah keluasan, mengambil tempat dan
dapat dibagi-bagi, dan tak memiliki kesadaran.
Kedua substansi berasal dari Tuhan, sebab
hanya Tuhan sajalah yang ada tanpa tergantung
pada apapun juga.
FILSAFAT ILMu
FILSAFAT
ILMU PENGETAHUAN
Jika tidak bisa mendapatkan apa yang
disukai, sukai apa yang didapatkan
PENDAHULUAN
Kata falsafah atau filsafat dalam bahasa Indonesia
merupakan kata serapan dari bahasa Arab , yang juga
diambil dari bahasa Yunani; philosophia.
Philosophia, merupakan kata majemuk dan berasal dari
kata-kata (philia = persahabatan, cinta dsb.) dan (sophia
= “kebijaksanaan”).
Sehingga arti harafiahnya adalah seorang “pencinta
kebijaksanaan” atau “ilmu”.
Kata filosofi yang dipungut dari bahasa Belanda juga
dikenal di Indonesia.
Dalam bahasa Indonesia seseorang yang mendalami
bidang falsafah disebut “filsuf”
Paling tidak bisa dikatakan bahwa “filsafat” adalah studi
yang mempelajari seluruh fenomena kehidupan dan
pemikiran manusia secara kritis.
Dewasa ini, kita dapat melihat akan adanya
dominasi ”cara berpikir”yang dilakukan oleh para
pemikir barat.
Penguasaan tersebut telah menguasai hampir
seluruh dunia; karena barat telah berhasil
mengembangkan teknologi, kebudayaan sekaligus
peradabanya.
Bagi negara berkembang ketergantungan akan
dominasi barat sangat kentara sekali, apalagi dilihat
dari kacamata filsafa, barat berhasil dalam
mengembangkan dan menanamkan ”cara
berpikirnya”.
Sebetulnya pemeikiran-pemikiran barat pada
hakekatnya berupa tradisi pemikiran yang diambil
dan dilahirkan dizaman Yunani kuno.
Dengan kata lain, bahwa filsafat Yunani Kuno
dimajukan sebagai pangkal sejarah filsafat
(pemikiran) Barat.
Para ahli pada zaman itu, mencoba membuat konsep
tentang asal muasal alam.
Corak dan sifat dari pemikiranya bersifat mitologik
(keteranganya didasarkan atas mitos dan
kepercayaan saja).
Setelah adanya demitologisasi oleh para pemikir
alam seperti Thales (624-548 SM), Anaximenes (590-
528 SM), Phitagoras (532 SM), herakliotos (535-475
SM), Parminides (540-475 SM) serta banyak lagi
pemikir lainya, maka pemikiran filsafat berkembang
secara cepat kearah kemegahanya.
Sejak abad 5 SM, pemikiran filsafat beralih kearah
manusia dengan kemampuan berpikirnya, masa ini
dikenal dengan masa antropologis.
Masa ini dokenal sederet ahli pemikir seperti Sokrates,
Plato, Aristoteles.
Pada ahirnya filsafat membentuk ruang lingkup yang
semakin luas serta dengan beraneka ragam
permasalahan.
Pemikiran filsafat pada masa itu diartikan sebagai
bermacam-macam ilmu pengetahuan. Hal ini dapat
dibuktikan dengan apa yang dikemukakan oleh
Aristoteles, bahwa filsafat adalah segala sesuatu yang
dapat dipertanggungjawabkan atas dasar akal pikiran,
dan membagi filsafat menjadi ilmu pengetahuan, poetis,
ilmu pengetahuan tang praktis, ilmu pengetahuan yang
teoritis.
Seorang filusuf dipandang cerdik dan pandai jika orang
tersebut cinta dan ingin selalu berteman dengan
kebijaksanaan (Koentowibisono, 1982:3)
Perkembangan filsafat hingga zaman
Neoplatonisme (abad sesudah masehi) mulai
mengarah pada Tuhan (Teosentris) dan
Tuhanlah yang menjadi dasar segal galanya.
Tuhan dan segala sesuatu menjadi hakekat
yang sama, lebih dikenal dengan ajaran
Phanteisme (serba Tuhan).
Mulai abad permulaan masehi,
perkembangan filsafat beralih ke Eropa.
Hal ini disebabkan kekuasaan kerajaan Roma
yang luas sekali.
Pemikiran filsafat didasarkan pada firman
Tuhan, hal ini disebabkan karena satusatunya
kebenaran dan kebijaksanaan ada
pada firman Tuhan.
Pada abad 12 perkembangan filsafat
mengalami peningkatan yang luar biasa, hal
ini ditandai dengan adanya Universitasuniversitas,
disamping ordo-ordo.
Ordo semacam sekumpulan orang dibawah
seorang imam guna hendak mencapai
kesempurnaan hidup, dengan meninggalkan
masyarakat ramai dan duniawi.
Perkembangan filsafat ditandai dengan
munculnya para ahli pikir seperti: Anselmus,
Alberadus, Albertus Manfus.
Pemikiran filsafatnya berkisar tentang
penyelesaian hubungan antara akal dan wahyu
dan juga tentang universalia.
Abad 14-17 pemikiran filsafat ditandai dengan
munculnya aliran-aliran filsafat. Ini adalah masa
dimana menuju pada filsafat modern.
Yang menjadi dasar timbulnya pemikiran
kefilsafatan ini adalah kesadaran individu yang
kongkrit.
Pada masa inipula di Eropa terjadi minat orang
terhadap filsafat Yunani senakin besar dan
berusaha mengembalikan pemikiran tersebut.
Masa ini dikenal dengan masa Renaisance.
Lanjutan…
Pada masa ini pemikiran filsafatnya mengarah pada
individu yang konkrit sekaligus menjadi subjek dan
objeknya.
Masing-masing manusia menjadi barometer dalam
menetapkan sebuah dan menentukan akan
kebenaran dan kenyataan.
Dalam situasi macam ini hubungan antara agama
dan filsafat menjadi cair, dalam artian agama
ditinggalkan oleh filsafat (Koentowibisono; 182;4).
Masing masing kembali pada dasarnya sendiri,
artinya agama mendasarkan diri pada imam dan
kepercayaan pada firman Tuhan dalam menghadapi
pelbagai permasalahan, sedangkan filsafat
mendasarkan diri pada akal dan pengalaman.
Perkembangan selanjutnya jaman pencerahan
pada abad ke 18, karena adanya Tasionalisme,
semakin lama kemampuan manusia akan
menjadi tumpahan harapan;
Perkembangan filsafat pada abad ke 19 yang
mengarah pada filsafat ilmu pengetahuan,
dimana persoalan filsafat diisi dengan usaha
manusia mengenai cara bagaimana caranya
dan apa sarana yang dipakai untuk mencari
kebenaran dan kenyataan.
Imanuel Kant (1724-1804) dikatakan sebagai
penyempurna pencerahan sebab pemikiran
filsafat memuat suatu gagasan baru yang akan
memberikan kepada segala arah dikemudian
hari.
Lanjutan…
Menginjak abad 19 keadaan dunia filsafat
terpecah belah, ada filsafat Amerika, filsafat
Inggris, filsafat Jerman, filsafat Prancis, dan
filsafat Islam.
Pada masa ini pemikiran filsafat mampu
membentuk kepribadian terhadap masingmasing
bangsa dengan pemikiran dan caranya
sendiri.
Secra perlahan-lahan filsafat kontemporer mulai
tumbuh.
Mulai saat ini tidak ada lagi aliran ataupun
tokoh yang mendominasi filsafat.
4/18/2011
7
Lanjutan…
Filsafat pragmatis di Amerika Serikat timbul
karena meragukan kemampuan akal dan ilmu
pengetahuan positif.
Filsafat hidup yang berkembang di seluruh
eropa tetapi mempunyai bentuk dan coraknya
sendiri di pelbagai negara.
Kecenderungan kearah secara praktis terhadap
filsafat dalam kaitanya dengan manusia secara
individu dan sosial. Dalam abad 20 inilah
dikatakan Van Peursen sebagai pemikiran
filsafat secara fungsional (Koentowibisono,
1982;4).
Pemikiran Pemikiran
Filsafat
Humanisme
Humanisme berasal dari Barat dan mengalami
perkembangan dalam lingkungan pemikiran filsafat
Barat.
Humanisme menjadikan tabiat manusia beserta
batas-batas dan kecenderungan alamiah manusia
sebagai obyek.
Humanisme merupakan sebuah konsep monumental
yang menjadi aspek fundamental bagi
Renaisans, yaitu aspek yang di jadikan para pemikir
sebagai pegangan untuk mempelajari kesempurnaan
manusia di alam natural dan di dalam sejarah
sekaligus meriset interpretasi manusia tentang ini.
Pada zaman Yunani kuno pendidikan dilakukan
sebagai seni-seni bebas, dan ketentuan ini
dipandang layak hanya untuk manusia karena
manusia berbeda dengan semua binatang.
Lanjutan…
5. Penyerahan sepenuhnya kekuasaan dan
penentuan nasib, dan kekuasaan despotisme harus
ditolak mentah-mentah.
6. Manusia adalah sentral alam semesta.
7. Akal manusia sejajar dengan akal Tuhan.
8. Penolakan sistem-sistem tertutup filsafat, prinsip
dan keyakinan-keyakinan agama, serta
argumentasi-argumentasi ekstraktif mengenai nilainilai
kemanusiaan.
9. Penolakan terhadap praktik-praktik asketisme, dan
perhatian mesti dipusatkan kepada faktor jasmani
dan kenikmatan-kenikmatan fisik.
10. Akal manusia adalah pimpinan manusia, dan
status agama sebagai komando harus ditiadakan.…
11. Kenikmatan-kenikmatan jasmani adalah tujuan
final segala aktivitas manusia.
12. Manusia adalah binatang politik.
13. Dunia politik harus diceraikan dari segala
pandangan metafisik atau agama, dan
manusia adalah aktor yang memiliki
wewenang mutlak dalam dunia politik.
14. Dalam psikologi, setiap manusia diteliti
sebagai satu spesis tunggal, dan
bukan sebagai satu individu yang merupakan
bagian dari satu spesis manusia. Atas dasar
ini, manusia berwenang untuk semata-mata
mengikuti tatanan nilainya sendiri.
Prinsip-prinsip pemikiran
humanisme
1. Manusia adalah standar dan kriteria segala
sesuatu.
2. Penekanan terhadap urgensi kembali kepada
peradaban era klasik untuk menghidupkan
kembali dan mengembangkan potensi dan
kekuatan yang diyakini orang-orang terdahulu.
3. Penekanan secara berlebihan kepada kebebasan
dan ikhtiar manusia akibat kebencian kepada
intimidasi dan kediktatoran para penguasa abad
pertengahan.
4. Pengingkaran terhadap status para rohaniwan
sebagai perantara antara Tuhan dan manusia.
Lanjutan…
15. Aktualisasi diri, pemeliharan diri dan peningkatan diri
mesti dipelajari dalam setiap individu.
16. Manusia adalah pencipta lingkungannya dan bukanlah
hasil lingkungannya.
17. Manusia harus terkonsentrasi sepenuhnya kepada
dirinya.
18. Kelayakan kepribadian setiap individu bisa terbentuk
tanpa keimanan kepada Tuhan.
19. Keberadaan agama dipandang sebagai faktor
superfisial yang diperlukan demi popularitas nilai-nilai
kepribadian manusia dan perbaikan sosial, namun
agama ini bisa jadi merupakan agama produk manusia
ala August Comte.
20. Penekanan terhadap persatuan antar segenap agama,
baik agama yang berpangkal dari Nabi Ibrahim
maupun agama khurafat.
Rasionalisme
Aliran rasionalisme dipelopori oleh Rene Descartes
(1596-1650 M).
Descartes adalah pelopor kaum rasionalis, yaitu
mereka yang percaya bahwa dasar semua
pengetahuan ada dalam pikiran
Dalam buku Discourse de la Methode tahun 1637 ia
menegaskan perlunya ada metode yang jitu sebagai
dasar kokoh bagi semua pengetahuan, yaitu dengan
menyangsikan segalanya, secara metodis.
Kalau suatu kebenaran tahan terhadap ujian
kesangsian yang radikal ini, maka kebenaran itu
100% pasti dan menjadi landasan bagi seluruh
pengetahuan. Tetapi dalam rangka kesangsian yang
metodis ini ternyata hanya ada satu hal yang tidak
dapat diragukan, yaitu “saya ragu-ragu”.
Ini bukan khayalan, tetapi kenyataan, bahwa “aku
ragu-ragu”.
Jika aku menyangsikan sesuatu, aku menyadari
bahwa aku menyangsikan adanya.
Dengan lain kata kesangsian itu langsung
menyatakan adanya aku. Itulah “cogito ergo sum”,
aku berpikir (= menyadari) maka aku ada.
Itulah kebenaran yang tidak dapat disangkal
lagi. Mengapa kebenaran itu pasti? Sebab aku
mengerti itu dengan “jelas, dan terpilah-pilah”
“clearly and distinctly”, “clara et distincta”.
Artinya, yang jelas dan terpilah-pilah itulah yang
harus diterima sebagai benar.
Descartes dalam menentukan
kebenaran
1. realitas pikiran (res cogitan),
2. realitas perluasan (res extensa,
“extention”) atau materi, dan
3. Tuhan (sebagai Wujud yang
seluruhnya sempurna, penyebab
sempurna dari kedua realitas itu).
Pikiran sesungguhnya adalah kesadaran, tidak
mengambil ruang dan tak dapat dibagi-bagi
menjadi bagian yang lebih kecil.
Materi adalah keluasan, mengambil tempat dan
dapat dibagi-bagi, dan tak memiliki kesadaran.
Kedua substansi berasal dari Tuhan, sebab
hanya Tuhan sajalah yang ada tanpa tergantung
pada apapun juga.
FILSAFAT ILMU
Prof. Dr. H. Almasdi Syahza, SE., MP
Email: asyahza@yahoo.co.id
Website: http://almasdi.unri.ac.id
FILSAFAT
ILMU PENGETAHUAN
Jika tidak bisa mendapatkan apa yang
disukai, sukai apa yang didapatkan
PENDAHULUAN
Kata falsafah atau filsafat dalam bahasa Indonesia
merupakan kata serapan dari bahasa Arab , yang juga
diambil dari bahasa Yunani; philosophia.
Philosophia, merupakan kata majemuk dan berasal dari
kata-kata (philia = persahabatan, cinta dsb.) dan (sophia
= “kebijaksanaan”).
Sehingga arti harafiahnya adalah seorang “pencinta
kebijaksanaan” atau “ilmu”.
Kata filosofi yang dipungut dari bahasa Belanda juga
dikenal di Indonesia.
Dalam bahasa Indonesia seseorang yang mendalami
bidang falsafah disebut “filsuf”
Paling tidak bisa dikatakan bahwa “filsafat” adalah studi
yang mempelajari seluruh fenomena kehidupan dan
pemikiran manusia secara kritis.
Dewasa ini, kita dapat melihat akan adanya
dominasi ”cara berpikir”yang dilakukan oleh para
pemikir barat.
Penguasaan tersebut telah menguasai hampir
seluruh dunia; karena barat telah berhasil
mengembangkan teknologi, kebudayaan sekaligus
peradabanya.
Bagi negara berkembang ketergantungan akan
dominasi barat sangat kentara sekali, apalagi dilihat
dari kacamata filsafa, barat berhasil dalam
mengembangkan dan menanamkan ”cara
berpikirnya”.
Sebetulnya pemeikiran-pemikiran barat pada
hakekatnya berupa tradisi pemikiran yang diambil
dan dilahirkan dizaman Yunani kuno.
Dengan kata lain, bahwa filsafat Yunani Kuno
dimajukan sebagai pangkal sejarah filsafat
(pemikiran) Barat.
Para ahli pada zaman itu, mencoba membuat konsep
tentang asal muasal alam.
Corak dan sifat dari pemikiranya bersifat mitologik
(keteranganya didasarkan atas mitos dan
kepercayaan saja).
Setelah adanya demitologisasi oleh para pemikir
alam seperti Thales (624-548 SM), Anaximenes (590-
528 SM), Phitagoras (532 SM), herakliotos (535-475
SM), Parminides (540-475 SM) serta banyak lagi
pemikir lainya, maka pemikiran filsafat berkembang
secara cepat kearah kemegahanya.
Sejak abad 5 SM, pemikiran filsafat beralih kearah
manusia dengan kemampuan berpikirnya, masa ini
dikenal dengan masa antropologis.
Masa ini dokenal sederet ahli pemikir seperti Sokrates,
Plato, Aristoteles.
Pada ahirnya filsafat membentuk ruang lingkup yang
semakin luas serta dengan beraneka ragam
permasalahan.
Pemikiran filsafat pada masa itu diartikan sebagai
bermacam-macam ilmu pengetahuan. Hal ini dapat
dibuktikan dengan apa yang dikemukakan oleh
Aristoteles, bahwa filsafat adalah segala sesuatu yang
dapat dipertanggungjawabkan atas dasar akal pikiran,
dan membagi filsafat menjadi ilmu pengetahuan, poetis,
ilmu pengetahuan tang praktis, ilmu pengetahuan yang
teoritis.
Seorang filusuf dipandang cerdik dan pandai jika orang
tersebut cinta dan ingin selalu berteman dengan
kebijaksanaan (Koentowibisono, 1982:3)
Perkembangan filsafat hingga zaman
Neoplatonisme (abad sesudah masehi) mulai
mengarah pada Tuhan (Teosentris) dan
Tuhanlah yang menjadi dasar segal galanya.
Tuhan dan segala sesuatu menjadi hakekat
yang sama, lebih dikenal dengan ajaran
Phanteisme (serba Tuhan).
Mulai abad permulaan masehi,
perkembangan filsafat beralih ke Eropa.
Hal ini disebabkan kekuasaan kerajaan Roma
yang luas sekali.
Pemikiran filsafat didasarkan pada firman
Tuhan, hal ini disebabkan karena satusatunya
kebenaran dan kebijaksanaan ada
pada firman Tuhan.
Pada abad 12 perkembangan filsafat
mengalami peningkatan yang luar biasa, hal
ini ditandai dengan adanya Universitasuniversitas,
disamping ordo-ordo.
Ordo semacam sekumpulan orang dibawah
seorang imam guna hendak mencapai
kesempurnaan hidup, dengan meninggalkan
masyarakat ramai dan duniawi.
Perkembangan filsafat ditandai dengan
munculnya para ahli pikir seperti: Anselmus,
Alberadus, Albertus Manfus.
Pemikiran filsafatnya berkisar tentang
penyelesaian hubungan antara akal dan wahyu
dan juga tentang universalia.
Abad 14-17 pemikiran filsafat ditandai dengan
munculnya aliran-aliran filsafat. Ini adalah masa
dimana menuju pada filsafat modern.
Yang menjadi dasar timbulnya pemikiran
kefilsafatan ini adalah kesadaran individu yang
kongkrit.
Pada masa inipula di Eropa terjadi minat orang
terhadap filsafat Yunani senakin besar dan
berusaha mengembalikan pemikiran tersebut.
Masa ini dikenal dengan masa Renaisance.
Lanjutan…
Pada masa ini pemikiran filsafatnya mengarah pada
individu yang konkrit sekaligus menjadi subjek dan
objeknya.
Masing-masing manusia menjadi barometer dalam
menetapkan sebuah dan menentukan akan
kebenaran dan kenyataan.
Dalam situasi macam ini hubungan antara agama
dan filsafat menjadi cair, dalam artian agama
ditinggalkan oleh filsafat (Koentowibisono; 182;4).
Masing masing kembali pada dasarnya sendiri,
artinya agama mendasarkan diri pada imam dan
kepercayaan pada firman Tuhan dalam menghadapi
pelbagai permasalahan, sedangkan filsafat
mendasarkan diri pada akal dan pengalaman.…
Perkembangan selanjutnya jaman pencerahan
pada abad ke 18, karena adanya Tasionalisme,
semakin lama kemampuan manusia akan
menjadi tumpahan harapan;
Perkembangan filsafat pada abad ke 19 yang
mengarah pada filsafat ilmu pengetahuan,
dimana persoalan filsafat diisi dengan usaha
manusia mengenai cara bagaimana caranya
dan apa sarana yang dipakai untuk mencari
kebenaran dan kenyataan.
Imanuel Kant (1724-1804) dikatakan sebagai
penyempurna pencerahan sebab pemikiran
filsafat memuat suatu gagasan baru yang akan
memberikan kepada segala arah dikemudian
hari.
Lanjutan…
Menginjak abad 19 keadaan dunia filsafat
terpecah belah, ada filsafat Amerika, filsafat
Inggris, filsafat Jerman, filsafat Prancis, dan
filsafat Islam.
Pada masa ini pemikiran filsafat mampu
membentuk kepribadian terhadap masingmasing
bangsa dengan pemikiran dan caranya
sendiri.
Secra perlahan-lahan filsafat kontemporer mulai
tumbuh.
Mulai saat ini tidak ada lagi aliran ataupun
tokoh yang mendominasi filsafat.
Filsafat pragmatis di Amerika Serikat timbul
karena meragukan kemampuan akal dan ilmu
pengetahuan positif.
Filsafat hidup yang berkembang di seluruh
eropa tetapi mempunyai bentuk dan coraknya
sendiri di pelbagai negara.
Kecenderungan kearah secara praktis terhadap
filsafat dalam kaitanya dengan manusia secara
individu dan sosial. Dalam abad 20 inilah
dikatakan Van Peursen sebagai pemikiran
filsafat secara fungsional (Koentowibisono,
1982;4).
Pemikiran Pemikiran
Filsafat
Humanisme
Humanisme berasal dari Barat dan mengalami
perkembangan dalam lingkungan pemikiran filsafat
Barat.
Humanisme menjadikan tabiat manusia beserta
batas-batas dan kecenderungan alamiah manusia
sebagai obyek.
Humanisme merupakan sebuah konsep monumental
yang menjadi aspek fundamental bagi
Renaisans, yaitu aspek yang di jadikan para pemikir
sebagai pegangan untuk mempelajari kesempurnaan
manusia di alam natural dan di dalam sejarah
sekaligus meriset interpretasi manusia tentang ini.
Pada zaman Yunani kuno pendidikan dilakukan
sebagai seni-seni bebas, dan ketentuan ini
dipandang layak hanya untuk manusia karena
manusia berbeda dengan semua binatang.
Lanjutan…
5. Penyerahan sepenuhnya kekuasaan dan
penentuan nasib, dan kekuasaan despotisme harus
ditolak mentah-mentah.
6. Manusia adalah sentral alam semesta.
7. Akal manusia sejajar dengan akal Tuhan.
8. Penolakan sistem-sistem tertutup filsafat, prinsip
dan keyakinan-keyakinan agama, serta
argumentasi-argumentasi ekstraktif mengenai nilainilai
kemanusiaan.
9. Penolakan terhadap praktik-praktik asketisme, dan
perhatian mesti dipusatkan kepada faktor jasmani
dan kenikmatan-kenikmatan fisik.
10. Akal manusia adalah pimpinan manusia, dan
status agama sebagai komando harus ditiadakan.
11. Kenikmatan-kenikmatan jasmani adalah tujuan
final segala aktivitas manusia.
12. Manusia adalah binatang politik.
13. Dunia politik harus diceraikan dari segala
pandangan metafisik atau agama, dan
manusia adalah aktor yang memiliki
wewenang mutlak dalam dunia politik.
14. Dalam psikologi, setiap manusia diteliti
sebagai satu spesis tunggal, dan
bukan sebagai satu individu yang merupakan
bagian dari satu spesis manusia. Atas dasar
ini, manusia berwenang untuk semata-mata
mengikuti tatanan nilainya sendiri.
Prinsip-prinsip pemikiran
humanisme
1. Manusia adalah standar dan kriteria segala
sesuatu.
2. Penekanan terhadap urgensi kembali kepada
peradaban era klasik untuk menghidupkan
kembali dan mengembangkan potensi dan
kekuatan yang diyakini orang-orang terdahulu.
3. Penekanan secara berlebihan kepada kebebasan
dan ikhtiar manusia akibat kebencian kepada
intimidasi dan kediktatoran para penguasa abad
pertengahan.
4. Pengingkaran terhadap status para rohaniwan
sebagai perantara antara Tuhan dan manusia.…
15. Aktualisasi diri, pemeliharan diri dan peningkatan diri
mesti dipelajari dalam setiap individu.
16. Manusia adalah pencipta lingkungannya dan bukanlah
hasil lingkungannya.
17. Manusia harus terkonsentrasi sepenuhnya kepada
dirinya.
18. Kelayakan kepribadian setiap individu bisa terbentuk
tanpa keimanan kepada Tuhan.
19. Keberadaan agama dipandang sebagai faktor
superfisial yang diperlukan demi popularitas nilai-nilai
kepribadian manusia dan perbaikan sosial, namun
agama ini bisa jadi merupakan agama produk manusia
ala August Comte.
20. Penekanan terhadap persatuan antar segenap agama,
baik agama yang berpangkal dari Nabi Ibrahim
maupun agama khurafat.
Rasionalisme
Aliran rasionalisme dipelopori oleh Rene Descartes
(1596-1650 M).
Descartes adalah pelopor kaum rasionalis, yaitu
mereka yang percaya bahwa dasar semua
pengetahuan ada dalam pikiran
Dalam buku Discourse de la Methode tahun 1637 ia
menegaskan perlunya ada metode yang jitu sebagai
dasar kokoh bagi semua pengetahuan, yaitu dengan
menyangsikan segalanya, secara metodis.
Kalau suatu kebenaran tahan terhadap ujian
kesangsian yang radikal ini, maka kebenaran itu
100% pasti dan menjadi landasan bagi seluruh
pengetahuan. Tetapi dalam rangka kesangsian yang
metodis ini ternyata hanya ada satu hal yang tidak
dapat diragukan, yaitu “saya ragu-ragu”.
Ini bukan khayalan, tetapi kenyataan, bahwa “aku
ragu-ragu”.
Jika aku menyangsikan sesuatu, aku menyadari
bahwa aku menyangsikan adanya.
Dengan lain kata kesangsian itu langsung
menyatakan adanya aku. Itulah “cogito ergo sum”,
aku berpikir (= menyadari) maka aku ada.
Itulah kebenaran yang tidak dapat disangkal
lagi. Mengapa kebenaran itu pasti? Sebab aku
mengerti itu dengan “jelas, dan terpilah-pilah”
“clearly and distinctly”, “clara et distincta”.
Artinya, yang jelas dan terpilah-pilah itulah yang
harus diterima sebagai benar.
Descartes dalam menentukan
kebenaran
1. realitas pikiran (res cogitan),
2. realitas perluasan (res extensa,
“extention”) atau materi, dan
3. Tuhan (sebagai Wujud yang
seluruhnya sempurna, penyebab
sempurna dari kedua realitas itu).
Pikiran sesungguhnya adalah kesadaran, tidak
mengambil ruang dan tak dapat dibagi-bagi
menjadi bagian yang lebih kecil.
Materi adalah keluasan, mengambil tempat dan
dapat dibagi-bagi, dan tak memiliki kesadaran.
Kedua substansi berasal dari Tuhan, sebab
hanya Tuhan sajalah yang ada tanpa tergantung
pada apapun juga.
FILSAFAT ILMU
FILSAFAT
ILMU PENGETAHUAN
Jika tidak bisa mendapatkan apa yang
disukai, sukai apa yang didapatkan
PENDAHULUAN
Kata falsafah atau filsafat dalam bahasa Indonesia
merupakan kata serapan dari bahasa Arab , yang juga
diambil dari bahasa Yunani; philosophia.
Philosophia, merupakan kata majemuk dan berasal dari
kata-kata (philia = persahabatan, cinta dsb.) dan (sophia
= “kebijaksanaan”).
Sehingga arti harafiahnya adalah seorang “pencinta
kebijaksanaan” atau “ilmu”.
Kata filosofi yang dipungut dari bahasa Belanda juga
dikenal di Indonesia.
Dalam bahasa Indonesia seseorang yang mendalami
bidang falsafah disebut “filsuf”
Paling tidak bisa dikatakan bahwa “filsafat” adalah studi
yang mempelajari seluruh fenomena kehidupan dan
pemikiran manusia secara kritis.
Dewasa ini, kita dapat melihat akan adanya
dominasi ”cara berpikir”yang dilakukan oleh para
pemikir barat.
Penguasaan tersebut telah menguasai hampir
seluruh dunia; karena barat telah berhasil
mengembangkan teknologi, kebudayaan sekaligus
peradabanya.
Bagi negara berkembang ketergantungan akan
dominasi barat sangat kentara sekali, apalagi dilihat
dari kacamata filsafa, barat berhasil dalam
mengembangkan dan menanamkan ”cara
berpikirnya”.
Sebetulnya pemeikiran-pemikiran barat pada
hakekatnya berupa tradisi pemikiran yang diambil
dan dilahirkan dizaman Yunani kuno.
Dengan kata lain, bahwa filsafat Yunani Kuno
dimajukan sebagai pangkal sejarah filsafat
(pemikiran) Barat.
Para ahli pada zaman itu, mencoba membuat konsep
tentang asal muasal alam.
Corak dan sifat dari pemikiranya bersifat mitologik
(keteranganya didasarkan atas mitos dan
kepercayaan saja).
Setelah adanya demitologisasi oleh para pemikir
alam seperti Thales (624-548 SM), Anaximenes (590-
528 SM), Phitagoras (532 SM), herakliotos (535-475
SM), Parminides (540-475 SM) serta banyak lagi
pemikir lainya, maka pemikiran filsafat berkembang
secara cepat kearah kemegahanya.
Sejak abad 5 SM, pemikiran filsafat beralih kearah
manusia dengan kemampuan berpikirnya, masa ini
dikenal dengan masa antropologis.
Masa ini dokenal sederet ahli pemikir seperti Sokrates,
Plato, Aristoteles.
Pada ahirnya filsafat membentuk ruang lingkup yang
semakin luas serta dengan beraneka ragam
permasalahan.
Pemikiran filsafat pada masa itu diartikan sebagai
bermacam-macam ilmu pengetahuan. Hal ini dapat
dibuktikan dengan apa yang dikemukakan oleh
Aristoteles, bahwa filsafat adalah segala sesuatu yang
dapat dipertanggungjawabkan atas dasar akal pikiran,
dan membagi filsafat menjadi ilmu pengetahuan, poetis,
ilmu pengetahuan tang praktis, ilmu pengetahuan yang
teoritis.
Seorang filusuf dipandang cerdik dan pandai jika orang
tersebut cinta dan ingin selalu berteman dengan
kebijaksanaan (Koentowibisono, 1982:3)
Perkembangan filsafat hingga zaman
Neoplatonisme (abad sesudah masehi) mulai
mengarah pada Tuhan (Teosentris) dan
Tuhanlah yang menjadi dasar segal galanya.
Tuhan dan segala sesuatu menjadi hakekat
yang sama, lebih dikenal dengan ajaran
Phanteisme (serba Tuhan).
Mulai abad permulaan masehi,
perkembangan filsafat beralih ke Eropa.
Hal ini disebabkan kekuasaan kerajaan Roma
yang luas sekali.
Pemikiran filsafat didasarkan pada firman
Tuhan, hal ini disebabkan karena satusatunya
kebenaran dan kebijaksanaan ada
pada firman Tuhan.
Pada abad 12 perkembangan filsafat
mengalami peningkatan yang luar biasa, hal
ini ditandai dengan adanya Universitasuniversitas,
disamping ordo-ordo.
Ordo semacam sekumpulan orang dibawah
seorang imam guna hendak mencapai
kesempurnaan hidup, dengan meninggalkan
masyarakat ramai dan duniawi.
Perkembangan filsafat ditandai dengan
munculnya para ahli pikir seperti: Anselmus,
Alberadus, Albertus Manfus.
Pemikiran filsafatnya berkisar tentang
penyelesaian hubungan antara akal dan wahyu
dan juga tentang universalia.
Abad 14-17 pemikiran filsafat ditandai dengan
munculnya aliran-aliran filsafat. Ini adalah masa
dimana menuju pada filsafat modern.
Yang menjadi dasar timbulnya pemikiran
kefilsafatan ini adalah kesadaran individu yang
kongkrit.
Pada masa inipula di Eropa terjadi minat orang
terhadap filsafat Yunani senakin besar dan
berusaha mengembalikan pemikiran tersebut.
Masa ini dikenal dengan masa Renaisance.
Lanjutan…
Pada masa ini pemikiran filsafatnya mengarah pada
individu yang konkrit sekaligus menjadi subjek dan
objeknya.
Masing-masing manusia menjadi barometer dalam
menetapkan sebuah dan menentukan akan
kebenaran dan kenyataan.
Dalam situasi macam ini hubungan antara agama
dan filsafat menjadi cair, dalam artian agama
ditinggalkan oleh filsafat (Koentowibisono; 182;4).
Masing masing kembali pada dasarnya sendiri,
artinya agama mendasarkan diri pada imam dan
kepercayaan pada firman Tuhan dalam menghadapi
pelbagai permasalahan, sedangkan filsafat
mendasarkan diri pada akal dan pengalaman.…
Perkembangan selanjutnya jaman pencerahan
pada abad ke 18, karena adanya Tasionalisme,
semakin lama kemampuan manusia akan
menjadi tumpahan harapan;
Perkembangan filsafat pada abad ke 19 yang
mengarah pada filsafat ilmu pengetahuan,
dimana persoalan filsafat diisi dengan usaha
manusia mengenai cara bagaimana caranya
dan apa sarana yang dipakai untuk mencari
kebenaran dan kenyataan.
Imanuel Kant (1724-1804) dikatakan sebagai
penyempurna pencerahan sebab pemikiran
filsafat memuat suatu gagasan baru yang akan
memberikan kepada segala arah dikemudian
hari.
Lanjutan…
Menginjak abad 19 keadaan dunia filsafat
terpecah belah, ada filsafat Amerika, filsafat
Inggris, filsafat Jerman, filsafat Prancis, dan
filsafat Islam.
Pada masa ini pemikiran filsafat mampu
membentuk kepribadian terhadap masingmasing
bangsa dengan pemikiran dan caranya
sendiri.
Secra perlahan-lahan filsafat kontemporer mulai
tumbuh.
Mulai saat ini tidak ada lagi aliran ataupun
tokoh yang mendominasi filsafat.…
Filsafat pragmatis di Amerika Serikat timbul
karena meragukan kemampuan akal dan ilmu
pengetahuan positif.
Filsafat hidup yang berkembang di seluruh
eropa tetapi mempunyai bentuk dan coraknya
sendiri di pelbagai negara.
Kecenderungan kearah secara praktis terhadap
filsafat dalam kaitanya dengan manusia secara
individu dan sosial. Dalam abad 20 inilah
dikatakan Van Peursen sebagai pemikiran
filsafat secara fungsional (Koentowibisono,
1982;4).
Pemikiran Pemikiran
Filsafat
Humanisme
Humanisme berasal dari Barat dan mengalami
perkembangan dalam lingkungan pemikiran filsafat
Barat.
Humanisme menjadikan tabiat manusia beserta
batas-batas dan kecenderungan alamiah manusia
sebagai obyek.
Humanisme merupakan sebuah konsep monumental
yang menjadi aspek fundamental bagi
Renaisans, yaitu aspek yang di jadikan para pemikir
sebagai pegangan untuk mempelajari kesempurnaan
manusia di alam natural dan di dalam sejarah
sekaligus meriset interpretasi manusia tentang ini.
Pada zaman Yunani kuno pendidikan dilakukan
sebagai seni-seni bebas, dan ketentuan ini
dipandang layak hanya untuk manusia karena
manusia berbeda dengan semua binatang.
Lanjutan…
5. Penyerahan sepenuhnya kekuasaan dan
penentuan nasib, dan kekuasaan despotisme harus
ditolak mentah-mentah.
6. Manusia adalah sentral alam semesta.
7. Akal manusia sejajar dengan akal Tuhan.
8. Penolakan sistem-sistem tertutup filsafat, prinsip
dan keyakinan-keyakinan agama, serta
argumentasi-argumentasi ekstraktif mengenai nilainilai
kemanusiaan.
9. Penolakan terhadap praktik-praktik asketisme, dan
perhatian mesti dipusatkan kepada faktor jasmani
dan kenikmatan-kenikmatan fisik.
10. Akal manusia adalah pimpinan manusia, dan
status agama sebagai komando harus ditiadakan.
4/18/2011
9
Lanjutan…
11. Kenikmatan-kenikmatan jasmani adalah tujuan
final segala aktivitas manusia.
12. Manusia adalah binatang politik.
13. Dunia politik harus diceraikan dari segala
pandangan metafisik atau agama, dan
manusia adalah aktor yang memiliki
wewenang mutlak dalam dunia politik.
14. Dalam psikologi, setiap manusia diteliti
sebagai satu spesis tunggal, dan
bukan sebagai satu individu yang merupakan
bagian dari satu spesis manusia. Atas dasar
ini, manusia berwenang untuk semata-mata
mengikuti tatanan nilainya sendiri.
Prinsip-prinsip pemikiran
humanisme
1. Manusia adalah standar dan kriteria segala
sesuatu.
2. Penekanan terhadap urgensi kembali kepada
peradaban era klasik untuk menghidupkan
kembali dan mengembangkan potensi dan
kekuatan yang diyakini orang-orang terdahulu.
3. Penekanan secara berlebihan kepada kebebasan
dan ikhtiar manusia akibat kebencian kepada
intimidasi dan kediktatoran para penguasa abad
pertengahan.
4. Pengingkaran terhadap status para rohaniwan
sebagai perantara antara Tuhan dan manusia.…
15. Aktualisasi diri, pemeliharan diri dan peningkatan diri
mesti dipelajari dalam setiap individu.
16. Manusia adalah pencipta lingkungannya dan bukanlah
hasil lingkungannya.
17. Manusia harus terkonsentrasi sepenuhnya kepada
dirinya.
18. Kelayakan kepribadian setiap individu bisa terbentuk
tanpa keimanan kepada Tuhan.
19. Keberadaan agama dipandang sebagai faktor
superfisial yang diperlukan demi popularitas nilai-nilai
kepribadian manusia dan perbaikan sosial, namun
agama ini bisa jadi merupakan agama produk manusia
ala August Comte.
20. Penekanan terhadap persatuan antar segenap agama,
baik agama yang berpangkal dari Nabi Ibrahim
maupun agama khurafat.
Rasionalisme
Aliran rasionalisme dipelopori oleh Rene Descartes
(1596-1650 M).
Descartes adalah pelopor kaum rasionalis, yaitu
mereka yang percaya bahwa dasar semua
pengetahuan ada dalam pikiran
Dalam buku Discourse de la Methode tahun 1637 ia
menegaskan perlunya ada metode yang jitu sebagai
dasar kokoh bagi semua pengetahuan, yaitu dengan
menyangsikan segalanya, secara metodis.
Kalau suatu kebenaran tahan terhadap ujian
kesangsian yang radikal ini, maka kebenaran itu
100% pasti dan menjadi landasan bagi seluruh
pengetahuan. Tetapi dalam rangka kesangsian yang
metodis ini ternyata hanya ada satu hal yang tidak
dapat diragukan, yaitu “saya ragu-ragu”.
Ini bukan khayalan, tetapi kenyataan, bahwa “aku
ragu-ragu”.
Jika aku menyangsikan sesuatu, aku menyadari
bahwa aku menyangsikan adanya.
Dengan lain kata kesangsian itu langsung
menyatakan adanya aku. Itulah “cogito ergo sum”,
aku berpikir (= menyadari) maka aku ada.
Itulah kebenaran yang tidak dapat disangkal
lagi. Mengapa kebenaran itu pasti? Sebab aku
mengerti itu dengan “jelas, dan terpilah-pilah”
“clearly and distinctly”, “clara et distincta”.
Artinya, yang jelas dan terpilah-pilah itulah yang
harus diterima sebagai benar.
Descartes dalam menentukan
kebenaran
1. realitas pikiran (res cogitan),
2. realitas perluasan (res extensa,
“extention”) atau materi, dan
3. Tuhan (sebagai Wujud yang
seluruhnya sempurna, penyebab
sempurna dari kedua realitas itu).
Pikiran sesungguhnya adalah kesadaran, tidak
mengambil ruang dan tak dapat dibagi-bagi
menjadi bagian yang lebih kecil.
Materi adalah keluasan, mengambil tempat dan
dapat dibagi-bagi, dan tak memiliki kesadaran.
Kedua substansi berasal dari Tuhan, sebab
hanya Tuhan sajalah yang ada tanpa tergantung
pada apapun juga.
.........!
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar