Tampilkan postingan dengan label materi kuliah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label materi kuliah. Tampilkan semua postingan
Minggu, 27 Oktober 2013
kuliah
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS WAHID HASYIM SEMARANG
HANDOUT
RENCANA PERKULIAHAN SEMESTER
Nama Matakuliah : Supervisi Pendidikan
Jumlah SKS : 3 sks
Dosen : Dr. Karwanto, M.Pd
Tahun : 2012
Deskripsi Mata Kuliah
Melakukan kajian mengenai berbagai pendekatan dan teknik dalam penyelenggaraan supervisi, prinsip, fungsi dan peranan supervisi dianalisis dari sudut tinjauan latar dan teori yang mendasari berbagai pendekatan dan teknik tersebut.
Tujuan Perkuliahan
Perkuliahan bertujuan untuk memahamkan dan mentrampilkan mahasiswa untuk:
1. Memiliki wawasan mengenai konsep dasar supervisi pendidikan.
2. Menguasai pendekatan supervisi pengajaran
3. Menguasai perspektif psikologi supervisi pengajaran
4. Menguasai implementasi supervisi pendidikan dan pengajaran.
5. Menguasai evaluasi dalam kegiatan supervisi pendidikan
6. Membuat perencanaan, praktek melaksanakan supervisi pendidikan dan mengevaluasi pelaksanaan supervisi pendidikan.
7. Mampu menganalisis permasalahan-permasalahan supervisi pendidikan dan menentukan alternatif pemecahannya.
Kegiatan Perkuliahan
1. Metode Pembelajaran
a. Ceramah Dosen Pembina (20%)
b. Presentasi individu/kelompok mahasiswa (pertopik diskusi) (40%)
c. Observasi ke lapangan/ Instansi terkait dan representatif dalam konteks supervisi pendidikan (30%)
d. Ujian (10%)
2. Bentuk Kegiatan
a. Tatap muka: 16 kali.
b. Tugas Terstruktur:
(1) Studi observasi ke lapangan
(2) Laporan tugas individu atau kelompok.
3. Pelaksanaan Evaluasi
a. Ujian Tengah Semester : 1 kali.
b. Ujian Akhir Semester : 1 kali.
c. Penilaian Tugas Terstruktur : 3 kali.
Penilaian
Aspek yang dinilai sebagai standar keberhasilan mengikuti mata kuliah ini meliputi:
1. Kehadiran dan partisipasi selama mengikuti kegiatan perkuliahan (15%)
2. Penyajian dan Penguasaan materi diskusi/presentasi (15%)
3. Tugas individu atau terstruktur (20%)
4. Hasil Observasi Lapang (20%)
5. Middle dan Final Test (30%)
Kewajiban Setiap Mahasiswa
1. Hadir dan berpartisipasi serta mengerjakan tugas-tugas perkuliahan.
2. Menyiapkan makalah diskusi dan mempresentasikan serta membuat rangkuman diskusi dengan ketentuan:
b. Menyerahkan makalah diskusi kepada dosen pembina.
c. Menyerahkan makalah laporan hasil diskusi dan rangkuman pada dosen.
3. Melakukan dan melaporkan hasil observasi lapang.
4. Mengikuti Middle dan Final Test sesuai jadwal.
Daftar Topik/Kegiatan
No Perte-
muan ke- Topik/Kegiatan Kuliah Keterangan
1 Ke-1 Kontrak Perkuliahan Penjelasan Dosen Pembina
2 Ke-2 Konsep Dasar Supervisi Pendidikan Dosen Pembina
3 Ke-3 Pendekatan Ilmiah Supervisi Pengajaran Sobirin,fadholi,qurotul
4 Ke-4 Pendekatan Artistik Supervisi Pengajaran Nursidik, nurul zulfa, kholik
5 Ke-5 Supervisi Klinis dan Non-Klinis Lukman,safi’i,rusdiono
6 Ke-6 Tipe, Sikap dan Peranan Supervisor Pendidikan Hakim,Drs. slamet, rihaniyah
7 Ke-7 Perilaku Directive Supervisi Pengajaran sri murahati,siti aisah,irham,
8 Ke-8 Perilaku Non-Directive Supervisi Pengajaran Agus M, H.sujud, slamet S.Ag,
9 Ke-9 Tes Tengah Semester Tugas
10 Ke-10 Perilaku Collaborative Supervisi Pengajaran Rina mulyani,pujianah,kiswati
11 Ke-11 Supervisi dalam Rangka Pembinaan Profesional Jumari, arif R, budiyanto
No Perte-
muan ke- Topik/Kegiatan Kuliah Keterangan
12 Ke-12 Program Pembinaan dan Supervisi Pendidikan di Sekolah Zaenal A, nurwahid, sonif
13 Ke-13 Teknik-teknik Supervisi dalam rangka Pembinaan Profesional Kuswandi, bambang,mufid
14 Ke-14 Evaluasi Program Supervisi Pendidikan Mahali,fauzan, fauziyah
15 Ke-15 Permasalahan Pelaksanaan Supervisi Pendidikan dan Alternatif Pemecahannya. Soghir,
16 Ke-16 Tes Akhir Semester -
DAFTAR PUSTAKA
Ametembun, N.A. 1981. Supervisi Pendidikan. Bandung: Suri.
Darma, A. 2000. Manajemen Supervisi. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Glickman, C.D., dkk. 1991. Supervision and Instructional Leadership A Developmental Approach. Massachussetts: Allyn and Bacon.
Imron, A. 1995. Pembinaan Guru di Indonesia. Cet. I. Jakarta: Pustaka Jaya.
Naegley, R.L., & Evans, D.N. 1980. Handbook for Effective Supervision of Instruction. Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice-Hall, Inc.
Nurtain. 1989. Supervisi Pengajaran. Jakarta: Depdikbud Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan.
Oliva, P.F. 1984. Supervision for Today’s Schools. New York and London:Longman.
Pidarta, M. 1999. Pemikiran Tentang Supervisi Pendidikan. Cet. II. Jakarta: Bumi Aksara.
Pidarta, M. 2009. Supervisi Pendidikan Kontekstual. Jakarta: Rineka Cipta.
Sagala, S. 2010. Supervisi Pembelajaran dalam Profesi Pendidikan. Bandung: Alfabeta
Sahertian, P.A., 2008. Konsep Dasar & Teknik Supervisi Pendidikan Dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta: Rineka Cipta.
Sergiovanni, T.J., & Starrat, R.J. 1983. Supervision: Human Perspective. London: McGraw-Hill, Inc.
Suhardan, D. 2010. Supervisi Profesional: Layanan dalam Meningkatkan Mutu Pembelajaran di Era Otonomi Daerah. Bandung: Alfabeta.
Semarang, 18 November 2012
Dosen Pembina
Dr. Karwanto, M.Pd
NIP. 197705162010121002
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS WAHID HASYIM SEMARANG
HANDOUT
RENCANA PERKULIAHAN SEMESTER
Nama Matakuliah : Supervisi Pendidikan
Jumlah SKS : 3 sks
Dosen : Dr. Karwanto, M.Pd
Tahun : 2012
Deskripsi Mata Kuliah
Melakukan kajian mengenai berbagai pendekatan dan teknik dalam penyelenggaraan supervisi, prinsip, fungsi dan peranan supervisi dianalisis dari sudut tinjauan latar dan teori yang mendasari berbagai pendekatan dan teknik tersebut.
Tujuan Perkuliahan
Perkuliahan bertujuan untuk memahamkan dan mentrampilkan mahasiswa untuk:
1. Memiliki wawasan mengenai konsep dasar supervisi pendidikan.
2. Menguasai pendekatan supervisi pengajaran
3. Menguasai perspektif psikologi supervisi pengajaran
4. Menguasai implementasi supervisi pendidikan dan pengajaran.
5. Menguasai evaluasi dalam kegiatan supervisi pendidikan
6. Membuat perencanaan, praktek melaksanakan supervisi pendidikan dan mengevaluasi pelaksanaan supervisi pendidikan.
7. Mampu menganalisis permasalahan-permasalahan supervisi pendidikan dan menentukan alternatif pemecahannya.
Kegiatan Perkuliahan
1. Metode Pembelajaran
a. Ceramah Dosen Pembina (20%)
b. Presentasi individu/kelompok mahasiswa (pertopik diskusi) (40%)
c. Observasi ke lapangan/ Instansi terkait dan representatif dalam konteks supervisi pendidikan (30%)
d. Ujian (10%)
2. Bentuk Kegiatan
a. Tatap muka: 16 kali.
b. Tugas Terstruktur:
(1) Studi observasi ke lapangan
(2) Laporan tugas individu atau kelompok.
3. Pelaksanaan Evaluasi
a. Ujian Tengah Semester : 1 kali.
b. Ujian Akhir Semester : 1 kali.
c. Penilaian Tugas Terstruktur : 3 kali.
Penilaian
Aspek yang dinilai sebagai standar keberhasilan mengikuti mata kuliah ini meliputi:
1. Kehadiran dan partisipasi selama mengikuti kegiatan perkuliahan (15%)
2. Penyajian dan Penguasaan materi diskusi/presentasi (15%)
3. Tugas individu atau terstruktur (20%)
4. Hasil Observasi Lapang (20%)
5. Middle dan Final Test (30%)
Kewajiban Setiap Mahasiswa
1. Hadir dan berpartisipasi serta mengerjakan tugas-tugas perkuliahan.
2. Menyiapkan makalah diskusi dan mempresentasikan serta membuat rangkuman diskusi dengan ketentuan:
b. Menyerahkan makalah diskusi kepada dosen pembina.
c. Menyerahkan makalah laporan hasil diskusi dan rangkuman pada dosen.
3. Melakukan dan melaporkan hasil observasi lapang.
4. Mengikuti Middle dan Final Test sesuai jadwal.
Daftar Topik/Kegiatan
No Perte-
muan ke- Topik/Kegiatan Kuliah Keterangan
1 Ke-1 Kontrak Perkuliahan Penjelasan Dosen Pembina
2 Ke-2 Konsep Dasar Supervisi Pendidikan Dosen Pembina
3 Ke-3 Pendekatan Ilmiah Supervisi Pengajaran Sobirin,fadholi,qurotul
4 Ke-4 Pendekatan Artistik Supervisi Pengajaran Nursidik, nurul zulfa, kholik
5 Ke-5 Supervisi Klinis dan Non-Klinis Lukman,safi’i,rusdiono
6 Ke-6 Tipe, Sikap dan Peranan Supervisor Pendidikan Hakim,Drs. slamet, rihaniyah
7 Ke-7 Perilaku Directive Supervisi Pengajaran sri murahati,siti aisah,irham,
8 Ke-8 Perilaku Non-Directive Supervisi Pengajaran Agus M, H.sujud, slamet S.Ag,
9 Ke-9 Tes Tengah Semester Tugas
10 Ke-10 Perilaku Collaborative Supervisi Pengajaran Rina mulyani,pujianah,kiswati
11 Ke-11 Supervisi dalam Rangka Pembinaan Profesional Jumari, arif R, budiyanto
No Perte-
muan ke- Topik/Kegiatan Kuliah Keterangan
12 Ke-12 Program Pembinaan dan Supervisi Pendidikan di Sekolah Zaenal A, nurwahid, sonif
13 Ke-13 Teknik-teknik Supervisi dalam rangka Pembinaan Profesional Kuswandi, bambang,mufid
14 Ke-14 Evaluasi Program Supervisi Pendidikan Mahali,fauzan, fauziyah
15 Ke-15 Permasalahan Pelaksanaan Supervisi Pendidikan dan Alternatif Pemecahannya. Soghir,
16 Ke-16 Tes Akhir Semester -
DAFTAR PUSTAKA
Ametembun, N.A. 1981. Supervisi Pendidikan. Bandung: Suri.
Darma, A. 2000. Manajemen Supervisi. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Glickman, C.D., dkk. 1991. Supervision and Instructional Leadership A Developmental Approach. Massachussetts: Allyn and Bacon.
Imron, A. 1995. Pembinaan Guru di Indonesia. Cet. I. Jakarta: Pustaka Jaya.
Naegley, R.L., & Evans, D.N. 1980. Handbook for Effective Supervision of Instruction. Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice-Hall, Inc.
Nurtain. 1989. Supervisi Pengajaran. Jakarta: Depdikbud Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan.
Oliva, P.F. 1984. Supervision for Today’s Schools. New York and London:Longman.
Pidarta, M. 1999. Pemikiran Tentang Supervisi Pendidikan. Cet. II. Jakarta: Bumi Aksara.
Pidarta, M. 2009. Supervisi Pendidikan Kontekstual. Jakarta: Rineka Cipta.
Sagala, S. 2010. Supervisi Pembelajaran dalam Profesi Pendidikan. Bandung: Alfabeta
Sahertian, P.A., 2008. Konsep Dasar & Teknik Supervisi Pendidikan Dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta: Rineka Cipta.
Sergiovanni, T.J., & Starrat, R.J. 1983. Supervision: Human Perspective. London: McGraw-Hill, Inc.
Suhardan, D. 2010. Supervisi Profesional: Layanan dalam Meningkatkan Mutu Pembelajaran di Era Otonomi Daerah. Bandung: Alfabeta.
Semarang, 18 November 2012
Dosen Pembina
Dr. Karwanto, M.Pd
NIP. 197705162010121002
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS WAHID HASYIM SEMARANG
HANDOUT
RENCANA PERKULIAHAN SEMESTER
Nama Matakuliah : Supervisi Pendidikan
Jumlah SKS : 3 sks
Dosen : Dr. Karwanto, M.Pd
Tahun : 2012
Deskripsi Mata Kuliah
Melakukan kajian mengenai berbagai pendekatan dan teknik dalam penyelenggaraan supervisi, prinsip, fungsi dan peranan supervisi dianalisis dari sudut tinjauan latar dan teori yang mendasari berbagai pendekatan dan teknik tersebut.
Tujuan Perkuliahan
Perkuliahan bertujuan untuk memahamkan dan mentrampilkan mahasiswa untuk:
1. Memiliki wawasan mengenai konsep dasar supervisi pendidikan.
2. Menguasai pendekatan supervisi pengajaran
3. Menguasai perspektif psikologi supervisi pengajaran
4. Menguasai implementasi supervisi pendidikan dan pengajaran.
5. Menguasai evaluasi dalam kegiatan supervisi pendidikan
6. Membuat perencanaan, praktek melaksanakan supervisi pendidikan dan mengevaluasi pelaksanaan supervisi pendidikan.
7. Mampu menganalisis permasalahan-permasalahan supervisi pendidikan dan menentukan alternatif pemecahannya.
Kegiatan Perkuliahan
1. Metode Pembelajaran
a. Ceramah Dosen Pembina (20%)
b. Presentasi individu/kelompok mahasiswa (pertopik diskusi) (40%)
c. Observasi ke lapangan/ Instansi terkait dan representatif dalam konteks supervisi pendidikan (30%)
d. Ujian (10%)
2. Bentuk Kegiatan
a. Tatap muka: 16 kali.
b. Tugas Terstruktur:
(1) Studi observasi ke lapangan
(2) Laporan tugas individu atau kelompok.
3. Pelaksanaan Evaluasi
a. Ujian Tengah Semester : 1 kali.
b. Ujian Akhir Semester : 1 kali.
c. Penilaian Tugas Terstruktur : 3 kali.
Penilaian
Aspek yang dinilai sebagai standar keberhasilan mengikuti mata kuliah ini meliputi:
1. Kehadiran dan partisipasi selama mengikuti kegiatan perkuliahan (15%)
2. Penyajian dan Penguasaan materi diskusi/presentasi (15%)
3. Tugas individu atau terstruktur (20%)
4. Hasil Observasi Lapang (20%)
5. Middle dan Final Test (30%)
Kewajiban Setiap Mahasiswa
1. Hadir dan berpartisipasi serta mengerjakan tugas-tugas perkuliahan.
2. Menyiapkan makalah diskusi dan mempresentasikan serta membuat rangkuman diskusi dengan ketentuan:
b. Menyerahkan makalah diskusi kepada dosen pembina.
c. Menyerahkan makalah laporan hasil diskusi dan rangkuman pada dosen.
3. Melakukan dan melaporkan hasil observasi lapang.
4. Mengikuti Middle dan Final Test sesuai jadwal.
Daftar Topik/Kegiatan
No Perte-
muan ke- Topik/Kegiatan Kuliah Keterangan
1 Ke-1 Kontrak Perkuliahan Penjelasan Dosen Pembina
2 Ke-2 Konsep Dasar Supervisi Pendidikan Dosen Pembina
3 Ke-3 Pendekatan Ilmiah Supervisi Pengajaran Sobirin,fadholi,qurotul
4 Ke-4 Pendekatan Artistik Supervisi Pengajaran Nursidik, nurul zulfa, kholik
5 Ke-5 Supervisi Klinis dan Non-Klinis Lukman,safi’i,rusdiono
6 Ke-6 Tipe, Sikap dan Peranan Supervisor Pendidikan Hakim,Drs. slamet, rihaniyah
7 Ke-7 Perilaku Directive Supervisi Pengajaran sri murahati,siti aisah,irham,
8 Ke-8 Perilaku Non-Directive Supervisi Pengajaran Agus M, H.sujud, slamet S.Ag,
9 Ke-9 Tes Tengah Semester Tugas
10 Ke-10 Perilaku Collaborative Supervisi Pengajaran Rina mulyani,pujianah,kiswati
11 Ke-11 Supervisi dalam Rangka Pembinaan Profesional Jumari, arif R, budiyanto
No Perte-
muan ke- Topik/Kegiatan Kuliah Keterangan
12 Ke-12 Program Pembinaan dan Supervisi Pendidikan di Sekolah Zaenal A, nurwahid, sonif
13 Ke-13 Teknik-teknik Supervisi dalam rangka Pembinaan Profesional Kuswandi, bambang,mufid
14 Ke-14 Evaluasi Program Supervisi Pendidikan Mahali,fauzan, fauziyah
15 Ke-15 Permasalahan Pelaksanaan Supervisi Pendidikan dan Alternatif Pemecahannya. Soghir,
16 Ke-16 Tes Akhir Semester -
DAFTAR PUSTAKA
Ametembun, N.A. 1981. Supervisi Pendidikan. Bandung: Suri.
Darma, A. 2000. Manajemen Supervisi. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Glickman, C.D., dkk. 1991. Supervision and Instructional Leadership A Developmental Approach. Massachussetts: Allyn and Bacon.
Imron, A. 1995. Pembinaan Guru di Indonesia. Cet. I. Jakarta: Pustaka Jaya.
Naegley, R.L., & Evans, D.N. 1980. Handbook for Effective Supervision of Instruction. Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice-Hall, Inc.
Nurtain. 1989. Supervisi Pengajaran. Jakarta: Depdikbud Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan.
Oliva, P.F. 1984. Supervision for Today’s Schools. New York and London:Longman.
Pidarta, M. 1999. Pemikiran Tentang Supervisi Pendidikan. Cet. II. Jakarta: Bumi Aksara.
Pidarta, M. 2009. Supervisi Pendidikan Kontekstual. Jakarta: Rineka Cipta.
Sagala, S. 2010. Supervisi Pembelajaran dalam Profesi Pendidikan. Bandung: Alfabeta
Sahertian, P.A., 2008. Konsep Dasar & Teknik Supervisi Pendidikan Dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta: Rineka Cipta.
Sergiovanni, T.J., & Starrat, R.J. 1983. Supervision: Human Perspective. London: McGraw-Hill, Inc.
Suhardan, D. 2010. Supervisi Profesional: Layanan dalam Meningkatkan Mutu Pembelajaran di Era Otonomi Daerah. Bandung: Alfabeta.
Semarang, 18 November 2012
Dosen Pembina
Dr. Karwanto, M.Pd
NIP. 197705162010121002
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS WAHID HASYIM SEMARANG
HANDOUT
RENCANA PERKULIAHAN SEMESTER
Nama Matakuliah : Supervisi Pendidikan
Jumlah SKS : 3 sks
Dosen : Dr. Karwanto, M.Pd
Tahun : 2012
Deskripsi Mata Kuliah
Melakukan kajian mengenai berbagai pendekatan dan teknik dalam penyelenggaraan supervisi, prinsip, fungsi dan peranan supervisi dianalisis dari sudut tinjauan latar dan teori yang mendasari berbagai pendekatan dan teknik tersebut.
Tujuan Perkuliahan
Perkuliahan bertujuan untuk memahamkan dan mentrampilkan mahasiswa untuk:
1. Memiliki wawasan mengenai konsep dasar supervisi pendidikan.
2. Menguasai pendekatan supervisi pengajaran
3. Menguasai perspektif psikologi supervisi pengajaran
4. Menguasai implementasi supervisi pendidikan dan pengajaran.
5. Menguasai evaluasi dalam kegiatan supervisi pendidikan
6. Membuat perencanaan, praktek melaksanakan supervisi pendidikan dan mengevaluasi pelaksanaan supervisi pendidikan.
7. Mampu menganalisis permasalahan-permasalahan supervisi pendidikan dan menentukan alternatif pemecahannya.
Kegiatan Perkuliahan
1. Metode Pembelajaran
a. Ceramah Dosen Pembina (20%)
b. Presentasi individu/kelompok mahasiswa (pertopik diskusi) (40%)
c. Observasi ke lapangan/ Instansi terkait dan representatif dalam konteks supervisi pendidikan (30%)
d. Ujian (10%)
2. Bentuk Kegiatan
a. Tatap muka: 16 kali.
b. Tugas Terstruktur:
(1) Studi observasi ke lapangan
(2) Laporan tugas individu atau kelompok.
3. Pelaksanaan Evaluasi
a. Ujian Tengah Semester : 1 kali.
b. Ujian Akhir Semester : 1 kali.
c. Penilaian Tugas Terstruktur : 3 kali.
Penilaian
Aspek yang dinilai sebagai standar keberhasilan mengikuti mata kuliah ini meliputi:
1. Kehadiran dan partisipasi selama mengikuti kegiatan perkuliahan (15%)
2. Penyajian dan Penguasaan materi diskusi/presentasi (15%)
3. Tugas individu atau terstruktur (20%)
4. Hasil Observasi Lapang (20%)
5. Middle dan Final Test (30%)
Kewajiban Setiap Mahasiswa
1. Hadir dan berpartisipasi serta mengerjakan tugas-tugas perkuliahan.
2. Menyiapkan makalah diskusi dan mempresentasikan serta membuat rangkuman diskusi dengan ketentuan:
b. Menyerahkan makalah diskusi kepada dosen pembina.
c. Menyerahkan makalah laporan hasil diskusi dan rangkuman pada dosen.
3. Melakukan dan melaporkan hasil observasi lapang.
4. Mengikuti Middle dan Final Test sesuai jadwal.
Daftar Topik/Kegiatan
No Perte-
muan ke- Topik/Kegiatan Kuliah Keterangan
1 Ke-1 Kontrak Perkuliahan Penjelasan Dosen Pembina
2 Ke-2 Konsep Dasar Supervisi Pendidikan Dosen Pembina
3 Ke-3 Pendekatan Ilmiah Supervisi Pengajaran Sobirin,fadholi,qurotul
4 Ke-4 Pendekatan Artistik Supervisi Pengajaran Nursidik, nurul zulfa, kholik
5 Ke-5 Supervisi Klinis dan Non-Klinis Lukman,safi’i,rusdiono
6 Ke-6 Tipe, Sikap dan Peranan Supervisor Pendidikan Hakim,Drs. slamet, rihaniyah
7 Ke-7 Perilaku Directive Supervisi Pengajaran sri murahati,siti aisah,irham,
8 Ke-8 Perilaku Non-Directive Supervisi Pengajaran Agus M, H.sujud, slamet S.Ag,
9 Ke-9 Tes Tengah Semester Tugas
10 Ke-10 Perilaku Collaborative Supervisi Pengajaran Rina mulyani,pujianah,kiswati
11 Ke-11 Supervisi dalam Rangka Pembinaan Profesional Jumari, arif R, budiyanto
No Perte-
muan ke- Topik/Kegiatan Kuliah Keterangan
12 Ke-12 Program Pembinaan dan Supervisi Pendidikan di Sekolah Zaenal A, nurwahid, sonif
13 Ke-13 Teknik-teknik Supervisi dalam rangka Pembinaan Profesional Kuswandi, bambang,mufid
14 Ke-14 Evaluasi Program Supervisi Pendidikan Mahali,fauzan, fauziyah
15 Ke-15 Permasalahan Pelaksanaan Supervisi Pendidikan dan Alternatif Pemecahannya. Soghir,
16 Ke-16 Tes Akhir Semester -
DAFTAR PUSTAKA
Ametembun, N.A. 1981. Supervisi Pendidikan. Bandung: Suri.
Darma, A. 2000. Manajemen Supervisi. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Glickman, C.D., dkk. 1991. Supervision and Instructional Leadership A Developmental Approach. Massachussetts: Allyn and Bacon.
Imron, A. 1995. Pembinaan Guru di Indonesia. Cet. I. Jakarta: Pustaka Jaya.
Naegley, R.L., & Evans, D.N. 1980. Handbook for Effective Supervision of Instruction. Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice-Hall, Inc.
Nurtain. 1989. Supervisi Pengajaran. Jakarta: Depdikbud Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan.
Oliva, P.F. 1984. Supervision for Today’s Schools. New York and London:Longman.
Pidarta, M. 1999. Pemikiran Tentang Supervisi Pendidikan. Cet. II. Jakarta: Bumi Aksara.
Pidarta, M. 2009. Supervisi Pendidikan Kontekstual. Jakarta: Rineka Cipta.
Sagala, S. 2010. Supervisi Pembelajaran dalam Profesi Pendidikan. Bandung: Alfabeta
Sahertian, P.A., 2008. Konsep Dasar & Teknik Supervisi Pendidikan Dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta: Rineka Cipta.
Sergiovanni, T.J., & Starrat, R.J. 1983. Supervision: Human Perspective. London: McGraw-Hill, Inc.
Suhardan, D. 2010. Supervisi Profesional: Layanan dalam Meningkatkan Mutu Pembelajaran di Era Otonomi Daerah. Bandung: Alfabeta.
Semarang, 18 November 2012
Dosen Pembina
Dr. Karwanto, M.Pd
NIP. 197705162010121002
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS WAHID HASYIM SEMARANG
HANDOUT
RENCANA PERKULIAHAN SEMESTER
Nama Matakuliah : Supervisi Pendidikan
Jumlah SKS : 3 sks
Dosen : Dr. Karwanto, M.Pd
Tahun : 2012
Deskripsi Mata Kuliah
Melakukan kajian mengenai berbagai pendekatan dan teknik dalam penyelenggaraan supervisi, prinsip, fungsi dan peranan supervisi dianalisis dari sudut tinjauan latar dan teori yang mendasari berbagai pendekatan dan teknik tersebut.
Tujuan Perkuliahan
Perkuliahan bertujuan untuk memahamkan dan mentrampilkan mahasiswa untuk:
1. Memiliki wawasan mengenai konsep dasar supervisi pendidikan.
2. Menguasai pendekatan supervisi pengajaran
3. Menguasai perspektif psikologi supervisi pengajaran
4. Menguasai implementasi supervisi pendidikan dan pengajaran.
5. Menguasai evaluasi dalam kegiatan supervisi pendidikan
6. Membuat perencanaan, praktek melaksanakan supervisi pendidikan dan mengevaluasi pelaksanaan supervisi pendidikan.
7. Mampu menganalisis permasalahan-permasalahan supervisi pendidikan dan menentukan alternatif pemecahannya.
Kegiatan Perkuliahan
1. Metode Pembelajaran
a. Ceramah Dosen Pembina (20%)
b. Presentasi individu/kelompok mahasiswa (pertopik diskusi) (40%)
c. Observasi ke lapangan/ Instansi terkait dan representatif dalam konteks supervisi pendidikan (30%)
d. Ujian (10%)
2. Bentuk Kegiatan
a. Tatap muka: 16 kali.
b. Tugas Terstruktur:
(1) Studi observasi ke lapangan
(2) Laporan tugas individu atau kelompok.
3. Pelaksanaan Evaluasi
a. Ujian Tengah Semester : 1 kali.
b. Ujian Akhir Semester : 1 kali.
c. Penilaian Tugas Terstruktur : 3 kali.
Penilaian
Aspek yang dinilai sebagai standar keberhasilan mengikuti mata kuliah ini meliputi:
1. Kehadiran dan partisipasi selama mengikuti kegiatan perkuliahan (15%)
2. Penyajian dan Penguasaan materi diskusi/presentasi (15%)
3. Tugas individu atau terstruktur (20%)
4. Hasil Observasi Lapang (20%)
5. Middle dan Final Test (30%)
Kewajiban Setiap Mahasiswa
1. Hadir dan berpartisipasi serta mengerjakan tugas-tugas perkuliahan.
2. Menyiapkan makalah diskusi dan mempresentasikan serta membuat rangkuman diskusi dengan ketentuan:
b. Menyerahkan makalah diskusi kepada dosen pembina.
c. Menyerahkan makalah laporan hasil diskusi dan rangkuman pada dosen.
3. Melakukan dan melaporkan hasil observasi lapang.
4. Mengikuti Middle dan Final Test sesuai jadwal.
Daftar Topik/Kegiatan
No Perte-
muan ke- Topik/Kegiatan Kuliah Keterangan
1 Ke-1 Kontrak Perkuliahan Penjelasan Dosen Pembina
2 Ke-2 Konsep Dasar Supervisi Pendidikan Dosen Pembina
3 Ke-3 Pendekatan Ilmiah Supervisi Pengajaran Sobirin,fadholi,qurotul
4 Ke-4 Pendekatan Artistik Supervisi Pengajaran Nursidik, nurul zulfa, kholik
5 Ke-5 Supervisi Klinis dan Non-Klinis Lukman,safi’i,rusdiono
6 Ke-6 Tipe, Sikap dan Peranan Supervisor Pendidikan Hakim,Drs. slamet, rihaniyah
7 Ke-7 Perilaku Directive Supervisi Pengajaran sri murahati,siti aisah,irham,
8 Ke-8 Perilaku Non-Directive Supervisi Pengajaran Agus M, H.sujud, slamet S.Ag,
9 Ke-9 Tes Tengah Semester Tugas
10 Ke-10 Perilaku Collaborative Supervisi Pengajaran Rina mulyani,pujianah,kiswati
11 Ke-11 Supervisi dalam Rangka Pembinaan Profesional Jumari, arif R, budiyanto
No Perte-
muan ke- Topik/Kegiatan Kuliah Keterangan
12 Ke-12 Program Pembinaan dan Supervisi Pendidikan di Sekolah Zaenal A, nurwahid, sonif
13 Ke-13 Teknik-teknik Supervisi dalam rangka Pembinaan Profesional Kuswandi, bambang,mufid
14 Ke-14 Evaluasi Program Supervisi Pendidikan Mahali,fauzan, fauziyah
15 Ke-15 Permasalahan Pelaksanaan Supervisi Pendidikan dan Alternatif Pemecahannya. Soghir,
16 Ke-16 Tes Akhir Semester -
DAFTAR PUSTAKA
Ametembun, N.A. 1981. Supervisi Pendidikan. Bandung: Suri.
Darma, A. 2000. Manajemen Supervisi. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Glickman, C.D., dkk. 1991. Supervision and Instructional Leadership A Developmental Approach. Massachussetts: Allyn and Bacon.
Imron, A. 1995. Pembinaan Guru di Indonesia. Cet. I. Jakarta: Pustaka Jaya.
Naegley, R.L., & Evans, D.N. 1980. Handbook for Effective Supervision of Instruction. Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice-Hall, Inc.
Nurtain. 1989. Supervisi Pengajaran. Jakarta: Depdikbud Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan.
Oliva, P.F. 1984. Supervision for Today’s Schools. New York and London:Longman.
Pidarta, M. 1999. Pemikiran Tentang Supervisi Pendidikan. Cet. II. Jakarta: Bumi Aksara.
Pidarta, M. 2009. Supervisi Pendidikan Kontekstual. Jakarta: Rineka Cipta.
Sagala, S. 2010. Supervisi Pembelajaran dalam Profesi Pendidikan. Bandung: Alfabeta
Sahertian, P.A., 2008. Konsep Dasar & Teknik Supervisi Pendidikan Dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta: Rineka Cipta.
Sergiovanni, T.J., & Starrat, R.J. 1983. Supervision: Human Perspective. London: McGraw-Hill, Inc.
Suhardan, D. 2010. Supervisi Profesional: Layanan dalam Meningkatkan Mutu Pembelajaran di Era Otonomi Daerah. Bandung: Alfabeta.
Semarang, 18 November 2012
Dosen Pembina
Dr. Karwanto, M.Pd
NIP. 197705162010121002
Jumat, 02 Maret 2012
dasar ilmu pengetahuan
1
FILSAFAT ILMU
Dasar-dasar Pengetahuan
Sumber Ilmu: AL 'ALAQ (1-5)
1. Bacalah dengan (menyebut)
nama Tuhanmu Yang
menciptakan
2. Dia telah menciptakan manusia
dari segumpal darah
3. Bacalah, dan Tuhanmulah
Yang Maha Pemurah
4. Yang mengajar (manusia)
dengan perantaraan kalam
(tulis)
5. Dia mengajarkan kepada
manusia apa yang tidak
diketahuinya.
2
Pendahuluan
Penelitian pada dasarnya adalah suatu
usaha manusia untuk memenuhi rasa ingin
tahunya dalam taraf keilmuan
Sifat dan sikap ilmiah merupakan ciri utama
dari aktivitas penelitian, baik aktivitas dalam
pemikiran maupun aktivitas atau tindakan
nyata di lapangan
Kegiatan penelitian hanya menarik dan
membenarkan suatu kesimpulan jika telah
dilengkapi dengan bukti-bukti empirik yang
benar yang dikumpulkan melalui prosedur
yang jelas, sistematis, dan terkontrol.
Pendahuluan (lanjutan…)
Meneliti merupakan kegiatan yang dapat
memperluas pemahaman tentang dunia
sekitar kita, oleh karena itu penelitian
harus dilaksanakan dengan teliti dan
direncanakan dengan baik.
Di dalam penelitian terlibat data, alat
analisis (teknik), teori. Setiap peneliti
harus terbuka, rasional, teliti dan jujur.
3
Hakekat Terjadinya Penelitian
Salah satu ciri khas manusia adalah rasa ingin tahu
Tidak pernah mencapai kepuasan mutlak untuk
menerima kenyataan yang dihadapinya
Penelitian adalah penyaluran hasrat rasa ingin tahu
manusia dalam taraf keilmuan
Manusia selalu mencari tahu sebab-musabab dari
serentetan akibat
Hasrat ingin tahu manusia mendorong kegiatan
penelitian dan akan mendorong pada
pengembangan ilmu
Penelitian yang berhasil harus berakhir dengan
terjawabnya pertanyaan-pertanyaan yang diajukan
pada saat dimulainya penelitian
Peranan penelitian
Membantu manusia memperoleh
pengetahuan baru
Memperoleh jawaban atas suatu
pertanyaan
Memberikan pemecahan atas suatu
masalah
4
Ciri iri khas penelitian
Merupakan proses yang berjalan
secara terus-menerus
Suatu penelitian tidak akan pernah
merupakan hasil yang bersifat final
yang tak dapat diganggu gugat lagi
Hasil penelitian seseorang harus
tunduk pada penelitian orang lain
yang datang belakangan apabila data
yang baru mampu membantah
kebenaran data sebelumnya.
Persyaratan Untuk Menjadi
Peneliti
1. Intelligence (kecerdasan): Merupakan
faktor yang sensial
2. Interest (perhatian): Keinginan tahu yang
sepesifik dan mendalam atas bidang
penelitian
3. Imagination (daya hayal): Jadilah pemikir
yang orisinil dan penghayal
4. Initiative (inisiatif): Mulai dari sekarang
jangan menunggu orang lain atau
mencari-cari alasan untuk memulai
sesuatu
5
Persyaratan Menjadi Peneliti (lanjutan…)
5. Information (informasi) : Kumpulkan
keterangan dan hasil penelitian terdahulu
6. Inventive (daya cipta) : Peralatan yang
tepat belum tentu tersedia, usahakan untuk
menciptakannya sendiri bila perlu
7. Industrious : Berusaha dan
jangan segan-segan untuk menggunakan
kedua tangan atau bagian fisik lainnya
8. Intense observation (pengamatan yang
intensif): Hiduplah dengan penelitian
saudara, kerjakan pengamatan harian dan
waspadalah terhadap hal-hal yang tidak
wajar.
Persyaratan Menjadi Peneliti (lanjutan…)
9. Integrity (kejujuran): Diperlukan secara
mutlak, janganlah membohong diri
sendiri
10. Infectious enthusiasm (entusiesme yang
meluap-luap): Ceritakan penelitian saudara
kepada yang lain dengan cara yang
menarik
11. Indefatigable write (penulisan yang tidak
mudah putus asa): Penelitian baru menjadi
ilmu pengetahuan jika hasilnya sudah
dipublikasikan
Incentive (pahala)
Cintai dan nikmati penelitian saudara
6
Persyaratan Menjadi Peneliti (lanjutan…)
Jika ke 11 "I" di atas dijalankan dengan
baik, saudara dengan sendirinya akan
mendapatkan pahala dalam bentuk
tambahan biaya penelitian, kenaikan gaji,
pangkat, dan sebagainya.
Pada akhir karier saudara dapat
meninjau kembali dengan perasaan puas
dan bangga atas hasil yang telah
saudara capai.
Sifat Penelitian Ilmiah
Seorang peneliti ilmiah harus bisa berfikir
secara skeptik, analitik, dan kritik
Cara berfikir demikian itu sangat berguna
dalam merumuskan pertanyaan secara
tepat dan tajam.
Perumusan pertanyaan yang demikian itu
pada hakekatnya merupakan keterampilan
dasar yang harus dikuasai oleh setiap
peneliti dan calon peneliti
Hanya dengan pertanyaan-pertanya yang
tepat dan tajam peneliti akan mendapat
jawaban-jawan yang tepat dari setiap data
yang ditemukan atau responden yang
diwawancarai
7
Kadar ilmiah adar suatu penelitian
Kemampuannya untuk memberikan
pengertian (understanding) tentang
masalah yang diteliti, sehingga masalah
dan persoalan menjadi lebih jelas.
Kemampuannya untuk meramalkan
(predictive power), artinya sampai
dimana kesimpulan yang sama dapat
dicapai bila data yang sama ditemukan
ditempat lain atau diwaktu lain.
8
Sumber Bacaan (masalah)
Bacaan, terutama bacaan yang berisi
laporan hasil penelitian
Seminar, diskusi, dan lain-lain
pertemuan ilmiah
Pernyataan pemegang otoritas
Pengamatan sepintas
Pengalaman pribadi
Perasaan intuitif
Bagaimana caranya mendapatkan
pengetahuan yang benar ?
Mendasarkan diri
pada rasio
Mendasarkan diri
pada pengalaman
rasionalisme
empirisme
9
Hakikat Penalaran
Penalaran merupakan suatu proses berpikir dalam
menarik sesuatu ke-simpulan yang berupa pengetahuan.
Manusia pada hakikatnya merupakan makhluk yang
berpikir, merasa, bersikap, dan bertindak.
Sikap dan tindakannya yang bersumber pada
pengetahuan yang didapatkan lewat kegiatan merasa
atau berpirir.
Penalaran menghasilkan pengetahuan yang dikaitkan
dengan kegiatan berpikir dan bukan dengan perasaan,
meskipun seperti dikatakan Pascal, hati pun mempunyai
logika tersendiri.
Meskipun demikian patut kita sadari bahwa tidak semua
kegiatan berpikir menyandarkan diri pada penalaran.
Jadi penalaran merupakan kegiatan berpikir yang
mempunyai karakteristik tertentu dalam menemukan
kebenaran.
Penalaran
Penalaran merupakan suatu proses berpikir
yang membuahkan pengetahuan.
Agar pengetahuan yang dihasilkan penalaran itu
mempunyai dasar kebenaran maka proses
berpikir itu harus dilakukan suatu cara tertentu.
Suatu penarikan kesimpulan baru dianggap
sahih (valid) kalau proses penarikan kesimpulan
tersebut dilakukan menurut cara tertentu
tersebut.
Cara penarikan kesimpulan ini disebut logika, di
mana logika secara luas dapat didefinisikan
sebagai "pengkajian untuk berpikir secara sahih.
10
Penalaran
Ada dua macam cara penarikan kesimpulan:
– logika induktif
– logika deduktif
Logika induktif erat hubungannya dengan
penarikan kesimpulan dari kasus-kasus
individual nyata menjadi kesimpulan yang
bersifat umum.
logika deduktif, yang membantu kita dalam
menarik kesimpulan dari hal yang bersifat umum
menjadi kasus yang bersifat individual (khusus )
logika induktif
Induksi merupakan cara berpikir di mana ditarik suatu
kesimpulan yang bersifat umum dari berbagai kasus
yang bersifat individual.
Penalaran secara induktif dimulai dengan
mengemukakan pernyataan-pernyataan yang
mempunyai ruang lingkup yang khas dan terbatas dalam
menyusun argumentasi yang diakhiri dengan pernyataan
yang bersifat umum.
Katakanlah umpamanya kita mempunyai fakta bahwa
kambing mempunyai mata, gajah mempunyai mata,
demikian juga dengan singa, kucing, dan berbagai
binatang lainnya.
Dari kenyataan-kenyataan ini kita dapat menarik
kesimpulan yang bersifat umum yakni semua binatang
mempunyai mata.
11
Kesimpulan yang bersifat umum ini penting artinya
sebab mempunyai dua keuntungan.
– Keuntungan yang pertama ialah bahwa pernyataan yang bersifat
umum ini bersifat ekonomis.
– Keuntungan yang kedua adalah dimungkinkan proses penalaran
selanjutnya baik secara induktif maupun secara deduktif.
Secara induktif maka dari berbagai pernyataan yang
bersifat umum dapat disimpulkan pernyataan yang
bersifat lebih umum lagi.
Umpamanya melanjutkan contoh kita terdahulu, dari
kenyataan bahwa semua binatang mempunyai mata dan
semua manusia mempunyai mata, dapat ditarik
kesimpulan bahwa semua makhluk mempunyai mata.
Penalaran seperti ini memungkinkan disusunnya
pengetahuan secara sistematis yang mengarah kepada
pernyataan-per-nyataan yang makin lama makin bersifat
fundamental.
logika deduktif
Penalaran deduktif adalah kegiatan berpikir yang
sebaliknya dari penalaran induktif.
Deduksi adala cara berpikir di mana dari pernyataan
yang bersifat umum ditarik kesimpulan yang bersifat
khusus.
Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya
mempergunakan pola berpikir yang dinamakan
silogismus.
Silogismus disusun dari dua buah pernyataan dan
sebuah kesimpulan. Pernyataan yang mendukung
silogismus ini disebut premis yang kemudian dapat
dibedakan sebagai premis mayor dan premis minor.
Kesimpulan merupakan pengetahuan yang didapat dari
penalaran deduktif berdasarkan kedua premis tersebut.
12
Selesai…!
FILSAFAT ILMU
Dasar-dasar Pengetahuan
Sumber Ilmu: AL 'ALAQ (1-5)
1. Bacalah dengan (menyebut)
nama Tuhanmu Yang
menciptakan
2. Dia telah menciptakan manusia
dari segumpal darah
3. Bacalah, dan Tuhanmulah
Yang Maha Pemurah
4. Yang mengajar (manusia)
dengan perantaraan kalam
(tulis)
5. Dia mengajarkan kepada
manusia apa yang tidak
diketahuinya.
2
Pendahuluan
Penelitian pada dasarnya adalah suatu
usaha manusia untuk memenuhi rasa ingin
tahunya dalam taraf keilmuan
Sifat dan sikap ilmiah merupakan ciri utama
dari aktivitas penelitian, baik aktivitas dalam
pemikiran maupun aktivitas atau tindakan
nyata di lapangan
Kegiatan penelitian hanya menarik dan
membenarkan suatu kesimpulan jika telah
dilengkapi dengan bukti-bukti empirik yang
benar yang dikumpulkan melalui prosedur
yang jelas, sistematis, dan terkontrol.
Pendahuluan (lanjutan…)
Meneliti merupakan kegiatan yang dapat
memperluas pemahaman tentang dunia
sekitar kita, oleh karena itu penelitian
harus dilaksanakan dengan teliti dan
direncanakan dengan baik.
Di dalam penelitian terlibat data, alat
analisis (teknik), teori. Setiap peneliti
harus terbuka, rasional, teliti dan jujur.
3
Hakekat Terjadinya Penelitian
Salah satu ciri khas manusia adalah rasa ingin tahu
Tidak pernah mencapai kepuasan mutlak untuk
menerima kenyataan yang dihadapinya
Penelitian adalah penyaluran hasrat rasa ingin tahu
manusia dalam taraf keilmuan
Manusia selalu mencari tahu sebab-musabab dari
serentetan akibat
Hasrat ingin tahu manusia mendorong kegiatan
penelitian dan akan mendorong pada
pengembangan ilmu
Penelitian yang berhasil harus berakhir dengan
terjawabnya pertanyaan-pertanyaan yang diajukan
pada saat dimulainya penelitian
Peranan penelitian
Membantu manusia memperoleh
pengetahuan baru
Memperoleh jawaban atas suatu
pertanyaan
Memberikan pemecahan atas suatu
masalah
4
Ciri iri khas penelitian
Merupakan proses yang berjalan
secara terus-menerus
Suatu penelitian tidak akan pernah
merupakan hasil yang bersifat final
yang tak dapat diganggu gugat lagi
Hasil penelitian seseorang harus
tunduk pada penelitian orang lain
yang datang belakangan apabila data
yang baru mampu membantah
kebenaran data sebelumnya.
Persyaratan Untuk Menjadi
Peneliti
1. Intelligence (kecerdasan): Merupakan
faktor yang sensial
2. Interest (perhatian): Keinginan tahu yang
sepesifik dan mendalam atas bidang
penelitian
3. Imagination (daya hayal): Jadilah pemikir
yang orisinil dan penghayal
4. Initiative (inisiatif): Mulai dari sekarang
jangan menunggu orang lain atau
mencari-cari alasan untuk memulai
sesuatu
5
Persyaratan Menjadi Peneliti (lanjutan…)
5. Information (informasi) : Kumpulkan
keterangan dan hasil penelitian terdahulu
6. Inventive (daya cipta) : Peralatan yang
tepat belum tentu tersedia, usahakan untuk
menciptakannya sendiri bila perlu
7. Industrious : Berusaha dan
jangan segan-segan untuk menggunakan
kedua tangan atau bagian fisik lainnya
8. Intense observation (pengamatan yang
intensif): Hiduplah dengan penelitian
saudara, kerjakan pengamatan harian dan
waspadalah terhadap hal-hal yang tidak
wajar.
Persyaratan Menjadi Peneliti (lanjutan…)
9. Integrity (kejujuran): Diperlukan secara
mutlak, janganlah membohong diri
sendiri
10. Infectious enthusiasm (entusiesme yang
meluap-luap): Ceritakan penelitian saudara
kepada yang lain dengan cara yang
menarik
11. Indefatigable write (penulisan yang tidak
mudah putus asa): Penelitian baru menjadi
ilmu pengetahuan jika hasilnya sudah
dipublikasikan
Incentive (pahala)
Cintai dan nikmati penelitian saudara
6
Persyaratan Menjadi Peneliti (lanjutan…)
Jika ke 11 "I" di atas dijalankan dengan
baik, saudara dengan sendirinya akan
mendapatkan pahala dalam bentuk
tambahan biaya penelitian, kenaikan gaji,
pangkat, dan sebagainya.
Pada akhir karier saudara dapat
meninjau kembali dengan perasaan puas
dan bangga atas hasil yang telah
saudara capai.
Sifat Penelitian Ilmiah
Seorang peneliti ilmiah harus bisa berfikir
secara skeptik, analitik, dan kritik
Cara berfikir demikian itu sangat berguna
dalam merumuskan pertanyaan secara
tepat dan tajam.
Perumusan pertanyaan yang demikian itu
pada hakekatnya merupakan keterampilan
dasar yang harus dikuasai oleh setiap
peneliti dan calon peneliti
Hanya dengan pertanyaan-pertanya yang
tepat dan tajam peneliti akan mendapat
jawaban-jawan yang tepat dari setiap data
yang ditemukan atau responden yang
diwawancarai
7
Kadar ilmiah adar suatu penelitian
Kemampuannya untuk memberikan
pengertian (understanding) tentang
masalah yang diteliti, sehingga masalah
dan persoalan menjadi lebih jelas.
Kemampuannya untuk meramalkan
(predictive power), artinya sampai
dimana kesimpulan yang sama dapat
dicapai bila data yang sama ditemukan
ditempat lain atau diwaktu lain.
8
Sumber Bacaan (masalah)
Bacaan, terutama bacaan yang berisi
laporan hasil penelitian
Seminar, diskusi, dan lain-lain
pertemuan ilmiah
Pernyataan pemegang otoritas
Pengamatan sepintas
Pengalaman pribadi
Perasaan intuitif
Bagaimana caranya mendapatkan
pengetahuan yang benar ?
Mendasarkan diri
pada rasio
Mendasarkan diri
pada pengalaman
rasionalisme
empirisme
9
Hakikat Penalaran
Penalaran merupakan suatu proses berpikir dalam
menarik sesuatu ke-simpulan yang berupa pengetahuan.
Manusia pada hakikatnya merupakan makhluk yang
berpikir, merasa, bersikap, dan bertindak.
Sikap dan tindakannya yang bersumber pada
pengetahuan yang didapatkan lewat kegiatan merasa
atau berpirir.
Penalaran menghasilkan pengetahuan yang dikaitkan
dengan kegiatan berpikir dan bukan dengan perasaan,
meskipun seperti dikatakan Pascal, hati pun mempunyai
logika tersendiri.
Meskipun demikian patut kita sadari bahwa tidak semua
kegiatan berpikir menyandarkan diri pada penalaran.
Jadi penalaran merupakan kegiatan berpikir yang
mempunyai karakteristik tertentu dalam menemukan
kebenaran.
Penalaran
Penalaran merupakan suatu proses berpikir
yang membuahkan pengetahuan.
Agar pengetahuan yang dihasilkan penalaran itu
mempunyai dasar kebenaran maka proses
berpikir itu harus dilakukan suatu cara tertentu.
Suatu penarikan kesimpulan baru dianggap
sahih (valid) kalau proses penarikan kesimpulan
tersebut dilakukan menurut cara tertentu
tersebut.
Cara penarikan kesimpulan ini disebut logika, di
mana logika secara luas dapat didefinisikan
sebagai "pengkajian untuk berpikir secara sahih.
10
Penalaran
Ada dua macam cara penarikan kesimpulan:
– logika induktif
– logika deduktif
Logika induktif erat hubungannya dengan
penarikan kesimpulan dari kasus-kasus
individual nyata menjadi kesimpulan yang
bersifat umum.
logika deduktif, yang membantu kita dalam
menarik kesimpulan dari hal yang bersifat umum
menjadi kasus yang bersifat individual (khusus )
logika induktif
Induksi merupakan cara berpikir di mana ditarik suatu
kesimpulan yang bersifat umum dari berbagai kasus
yang bersifat individual.
Penalaran secara induktif dimulai dengan
mengemukakan pernyataan-pernyataan yang
mempunyai ruang lingkup yang khas dan terbatas dalam
menyusun argumentasi yang diakhiri dengan pernyataan
yang bersifat umum.
Katakanlah umpamanya kita mempunyai fakta bahwa
kambing mempunyai mata, gajah mempunyai mata,
demikian juga dengan singa, kucing, dan berbagai
binatang lainnya.
Dari kenyataan-kenyataan ini kita dapat menarik
kesimpulan yang bersifat umum yakni semua binatang
mempunyai mata.
11
Kesimpulan yang bersifat umum ini penting artinya
sebab mempunyai dua keuntungan.
– Keuntungan yang pertama ialah bahwa pernyataan yang bersifat
umum ini bersifat ekonomis.
– Keuntungan yang kedua adalah dimungkinkan proses penalaran
selanjutnya baik secara induktif maupun secara deduktif.
Secara induktif maka dari berbagai pernyataan yang
bersifat umum dapat disimpulkan pernyataan yang
bersifat lebih umum lagi.
Umpamanya melanjutkan contoh kita terdahulu, dari
kenyataan bahwa semua binatang mempunyai mata dan
semua manusia mempunyai mata, dapat ditarik
kesimpulan bahwa semua makhluk mempunyai mata.
Penalaran seperti ini memungkinkan disusunnya
pengetahuan secara sistematis yang mengarah kepada
pernyataan-per-nyataan yang makin lama makin bersifat
fundamental.
logika deduktif
Penalaran deduktif adalah kegiatan berpikir yang
sebaliknya dari penalaran induktif.
Deduksi adala cara berpikir di mana dari pernyataan
yang bersifat umum ditarik kesimpulan yang bersifat
khusus.
Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya
mempergunakan pola berpikir yang dinamakan
silogismus.
Silogismus disusun dari dua buah pernyataan dan
sebuah kesimpulan. Pernyataan yang mendukung
silogismus ini disebut premis yang kemudian dapat
dibedakan sebagai premis mayor dan premis minor.
Kesimpulan merupakan pengetahuan yang didapat dari
penalaran deduktif berdasarkan kedua premis tersebut.
12
Selesai…!
pemikiran fisafat
bawang , lorgunung prau
1
FILSAFAT ILMU
Filsafat (philosophy)
Filsafat (philosophy) dari Yunani (philosophia)
yang artinya suka/cinta kearifan; yakni renungan
untuk menyusun suatu sistem pengetahuan
yang rasional dalam memahami mikro dan
makrokosmos untuk menegakkan kebenaran,
Philosophia, merupakan kata majemuk dan
berasal dari kata-kata (philia = persahabatan,
cinta dsb.) dan (sophia = “kebijaksanaan”).
merupakan mata rantai yang menghubungkan
semua ilmu pengetahuan yang khusus dengan
sifat pemikiran menyeluruh, mendasar (radikal)
dan spekulatif yang berakhir pada suatu
tindakan.
2
Lanjutan…
Menyeluruh, menyimak sesuatu
permasalahan/ilmu dari segi hakikat dalam
konstelasi pengetahuan lain, kaitan dengan
moral dan agama dsb. Mendasar, berarti
membongkar tempat berpikir secara
fundamental (tidak mudah percaya). Spekulatif,
menentukan kebenaran secara spekulatif yang
benar dan salah secara tegas.
Dengan demikian tujuan utama filsafat adalah
menetapkan dasar-dasar kuat tentang; logika,
kebenaran, keabsahan/sahih, keteraturan alam,
tujuan hidup dan hukum-hukum yang mengatur
alam seluruh kehidupannya
Tujuan utama filsafat
menetapkan dasar-dasar kuat tentang;
Logika
Kebenaran
keabsahan/sahih
keteraturan alam
tujuan hidup dan hukum-hukum yang
mengatur alam seluruh kehidupannya
3
Bidang telaah filsafat
setiap masalah yang mungkin
dapat difikirkan manusia (sesuai
dasar spekulasi);
mempermasalahkan hal pokok;
terjawab satu masalah, akan
menambah masalah/pertanyaan
lain (sesuai fungsinya sebagai
perintis).
Pokok masalah yang
dikaji filsafat
apa itu benar dan salah (logika)
manakah yang baik dan buruk (etika)
apa itu indah dan jelek (estetika)
Sehubungan dengan ilmu, filsafat berfungsi sebagai
penelaras pengetahuan/peletak dasar ilmu. Filsafat
ilmu adalah ilmu kontemplasi dengan tanpa dibarengi
observasi secara empirik
4
Tipe Manusia Berdasarkan
Pengetahuaannya
Ada orang yang tahu di tahunya
Ada orang yang tahu di tidak
tahunya
Ada orang yang tidak tahu di
tahunya
Ada orang yang tidak tahu di
tidak tahunya
Bagaimana cara
mendapatkan pengetahuan
yang benar ?
Ketahuilah apa yang kau tahu
dan ketahuilah apa yang kau
tidak tahu
5
Pengetahuan dimulai dengan rasa
ingin tahu
Kepastian dimulai dengan rasa
ragu-ragu
Filsafat dimulai dengan kedua-
duanya
Jadi berfilsafat didorong untuk
mengetahui apa yang telah kita
tahu dan apa yang belum kita tahu
Memulai Penelitian
Ilmiah
Penelitian adalah upaya (kegiatan)
membangun ilmu
Dilakukan tidak semena-mena
Melalui prosedur-prosedur dan
menggunakan metode-metode tertentu
Dilakukan secara sistematis
Prosedur-prosedur sistematis itu menunjuk
pada filsafat ilmu, sedangkan metode-
metode tertentu yang sistematis menunjuk
kepada metodologi
6
Pengertian Ilmu dan
Pengetahuan
Pengetahuan (knowledge) adalah pembentukan
pemikiran asosiatif yang menghubungkan atau
menjalin sebuah pikiran dengan kenyataan atau dengan
pikiran lain berdasarkan pengalaman yang berulangulang
tanpa pemahaman mengenai sebab-akibat
(kausalitas) yang hakiki dan universal
Ilmu (science) adalah akumulasi pengetahuan yang
menjelaskan hubungan sebab akibat (kausalitas) yang
dan universal, dari suatu objek menurut metodemetode
tertentu yang merupakan satu kesatuan
sistematis.
Ilmu adalah kumpulan pengetahuan secara holistik
yang tersusun secara sistematis yang teruji secara
rasional dan terbukti empiris
Pengetahuan
Pengetahuan yg bersifat khusus, konkrit, tidak
universal dan tidak memahami kausalitas hakiki,
melainkan menunjukkan gambaran/deskripsi dari
kenyataan tertentu pada sikon tertentu,
Pengetahuan yg bersifat umum, abstrak, universal,
tidak memahami kausalitas hakiki, melainkan
menunjukkan gambaran deskripsi umum dari sejumlah
kenyataan pada sejumlah variasi sikon,
Pengetahuan yg bersifat umum, abstrak, memahami
kausalitas hakiki dan universal, menunjukkan
eksplanasi mengapa kenyataan itu terjadi atau bakal
terjadi ® disebut ilmu,
Pengetahuan tentang metode untuk mencapai
kebutuhan hidup tertentu sebagai hasil rekayasa suatu
ilmu ® disebut teknologi,
Pengetahuan-pengetahuan itu kebenarannya tidak
mutlak
7
Sifat-sifat Ilmu
Ilmu menjelajah dunia empirik tanpa
batas, sejauh dapat ditangkap oleh
dunia manusia
Tingkat kebenaran yang dicapai adalah
relatif atau tidak sampai kepada tingkat
kebenaran yang mutlak
Ilmu menemukan proposisi-proposisi
(ungkapan yang terdiri dari dua variabel
atau lebih yang menyatakan kausalitas)
yang teruji secara empirik
Asumsi Dasar Ilmu
Dunia ada
Percaya kepada kemampuan
indera manusia yang
menangkap fenomena-
fenomena itu
Fenomena-fenomena yang
terjadi di dunia itu
berhubungan satu sama lain
8
ANATOMI
(Komponen Ilmu)
FENOMENA
KONSEP
VARIABEL
PROPOSISI
FAKTA
TEORI
Adalah kejadian atau gejala-gejala yang ditangkap oleh
indera manusia dan dijadikan masalah karena belum
diketahui (apa, mengapa, bagaimana) adanya.
Adalah istilah atau simbol yang mengandung pengertian
singkat dari fenomena, atau abstraksi dari fenomena.
Adalah variable sifat, jumlah atau besaran yang mempunyai
nilai kategori (bertingkat) baik kualitatif maupun kuntitatif,
sebagai hasil penelaahan mendasar dari konsep.
Adalah kalimat ungkapan yang terdiri dua variable atau
lebih, yang menyatakan hubungan sebab akibat (kausalitas).
Adalah proposisi yang telah teruji secara empiris (hubungan
yang ditunjang oleh data empiris).
Adalah jalinan fakta menurut kerangka bermakna
(meaningful contruct).
Selesai……
1
FILSAFAT ILMU
Filsafat (philosophy)
Filsafat (philosophy) dari Yunani (philosophia)
yang artinya suka/cinta kearifan; yakni renungan
untuk menyusun suatu sistem pengetahuan
yang rasional dalam memahami mikro dan
makrokosmos untuk menegakkan kebenaran,
Philosophia, merupakan kata majemuk dan
berasal dari kata-kata (philia = persahabatan,
cinta dsb.) dan (sophia = “kebijaksanaan”).
merupakan mata rantai yang menghubungkan
semua ilmu pengetahuan yang khusus dengan
sifat pemikiran menyeluruh, mendasar (radikal)
dan spekulatif yang berakhir pada suatu
tindakan.
2
Lanjutan…
Menyeluruh, menyimak sesuatu
permasalahan/ilmu dari segi hakikat dalam
konstelasi pengetahuan lain, kaitan dengan
moral dan agama dsb. Mendasar, berarti
membongkar tempat berpikir secara
fundamental (tidak mudah percaya). Spekulatif,
menentukan kebenaran secara spekulatif yang
benar dan salah secara tegas.
Dengan demikian tujuan utama filsafat adalah
menetapkan dasar-dasar kuat tentang; logika,
kebenaran, keabsahan/sahih, keteraturan alam,
tujuan hidup dan hukum-hukum yang mengatur
alam seluruh kehidupannya
Tujuan utama filsafat
menetapkan dasar-dasar kuat tentang;
Logika
Kebenaran
keabsahan/sahih
keteraturan alam
tujuan hidup dan hukum-hukum yang
mengatur alam seluruh kehidupannya
3
Bidang telaah filsafat
setiap masalah yang mungkin
dapat difikirkan manusia (sesuai
dasar spekulasi);
mempermasalahkan hal pokok;
terjawab satu masalah, akan
menambah masalah/pertanyaan
lain (sesuai fungsinya sebagai
perintis).
Pokok masalah yang
dikaji filsafat
apa itu benar dan salah (logika)
manakah yang baik dan buruk (etika)
apa itu indah dan jelek (estetika)
Sehubungan dengan ilmu, filsafat berfungsi sebagai
penelaras pengetahuan/peletak dasar ilmu. Filsafat
ilmu adalah ilmu kontemplasi dengan tanpa dibarengi
observasi secara empirik
4
Tipe Manusia Berdasarkan
Pengetahuaannya
Ada orang yang tahu di tahunya
Ada orang yang tahu di tidak
tahunya
Ada orang yang tidak tahu di
tahunya
Ada orang yang tidak tahu di
tidak tahunya
Bagaimana cara
mendapatkan pengetahuan
yang benar ?
Ketahuilah apa yang kau tahu
dan ketahuilah apa yang kau
tidak tahu
5
Pengetahuan dimulai dengan rasa
ingin tahu
Kepastian dimulai dengan rasa
ragu-ragu
Filsafat dimulai dengan kedua-
duanya
Jadi berfilsafat didorong untuk
mengetahui apa yang telah kita
tahu dan apa yang belum kita tahu
Memulai Penelitian
Ilmiah
Penelitian adalah upaya (kegiatan)
membangun ilmu
Dilakukan tidak semena-mena
Melalui prosedur-prosedur dan
menggunakan metode-metode tertentu
Dilakukan secara sistematis
Prosedur-prosedur sistematis itu menunjuk
pada filsafat ilmu, sedangkan metode-
metode tertentu yang sistematis menunjuk
kepada metodologi
6
Pengertian Ilmu dan
Pengetahuan
Pengetahuan (knowledge) adalah pembentukan
pemikiran asosiatif yang menghubungkan atau
menjalin sebuah pikiran dengan kenyataan atau dengan
pikiran lain berdasarkan pengalaman yang berulangulang
tanpa pemahaman mengenai sebab-akibat
(kausalitas) yang hakiki dan universal
Ilmu (science) adalah akumulasi pengetahuan yang
menjelaskan hubungan sebab akibat (kausalitas) yang
dan universal, dari suatu objek menurut metodemetode
tertentu yang merupakan satu kesatuan
sistematis.
Ilmu adalah kumpulan pengetahuan secara holistik
yang tersusun secara sistematis yang teruji secara
rasional dan terbukti empiris
Pengetahuan
Pengetahuan yg bersifat khusus, konkrit, tidak
universal dan tidak memahami kausalitas hakiki,
melainkan menunjukkan gambaran/deskripsi dari
kenyataan tertentu pada sikon tertentu,
Pengetahuan yg bersifat umum, abstrak, universal,
tidak memahami kausalitas hakiki, melainkan
menunjukkan gambaran deskripsi umum dari sejumlah
kenyataan pada sejumlah variasi sikon,
Pengetahuan yg bersifat umum, abstrak, memahami
kausalitas hakiki dan universal, menunjukkan
eksplanasi mengapa kenyataan itu terjadi atau bakal
terjadi ® disebut ilmu,
Pengetahuan tentang metode untuk mencapai
kebutuhan hidup tertentu sebagai hasil rekayasa suatu
ilmu ® disebut teknologi,
Pengetahuan-pengetahuan itu kebenarannya tidak
mutlak
7
Sifat-sifat Ilmu
Ilmu menjelajah dunia empirik tanpa
batas, sejauh dapat ditangkap oleh
dunia manusia
Tingkat kebenaran yang dicapai adalah
relatif atau tidak sampai kepada tingkat
kebenaran yang mutlak
Ilmu menemukan proposisi-proposisi
(ungkapan yang terdiri dari dua variabel
atau lebih yang menyatakan kausalitas)
yang teruji secara empirik
Asumsi Dasar Ilmu
Dunia ada
Percaya kepada kemampuan
indera manusia yang
menangkap fenomena-
fenomena itu
Fenomena-fenomena yang
terjadi di dunia itu
berhubungan satu sama lain
8
ANATOMI
(Komponen Ilmu)
FENOMENA
KONSEP
VARIABEL
PROPOSISI
FAKTA
TEORI
Adalah kejadian atau gejala-gejala yang ditangkap oleh
indera manusia dan dijadikan masalah karena belum
diketahui (apa, mengapa, bagaimana) adanya.
Adalah istilah atau simbol yang mengandung pengertian
singkat dari fenomena, atau abstraksi dari fenomena.
Adalah variable sifat, jumlah atau besaran yang mempunyai
nilai kategori (bertingkat) baik kualitatif maupun kuntitatif,
sebagai hasil penelaahan mendasar dari konsep.
Adalah kalimat ungkapan yang terdiri dua variable atau
lebih, yang menyatakan hubungan sebab akibat (kausalitas).
Adalah proposisi yang telah teruji secara empiris (hubungan
yang ditunjang oleh data empiris).
Adalah jalinan fakta menurut kerangka bermakna
(meaningful contruct).
Selesai……
pengertian filsafat
FILSAFAT ILMU
FILSAFAT
ILMU PENGETAHUAN
Jika tidak bisa mendapatkan apa yang
disukai, sukai apa yang didapat
PENDAHULUAN
Kata falsafah atau filsafat dalam bahasa Indonesia
merupakan kata serapan dari bahasa Arab , yang juga
diambil dari bahasa Yunani; philosophia.
Philosophia, merupakan kata majemuk dan berasal dari
kata-kata (philia = persahabatan, cinta dsb.) dan (sophia
= “kebijaksanaan”).
Sehingga arti harafiahnya adalah seorang “pencinta
kebijaksanaan” atau “ilmu”.
Kata filosofi yang dipungut dari bahasa Belanda juga
dikenal di Indonesia.
Dalam bahasa Indonesia seseorang yang mendalami
bidang falsafah disebut “filsuf”
Paling tidak bisa dikatakan bahwa “filsafat” adalah studi
yang mempelajari seluruh fenomena kehidupan dan
pemikiran manusia secara kritis.
Dewasa ini, kita dapat melihat akan adanya
dominasi ”cara berpikir”yang dilakukan oleh para
pemikir barat.
Penguasaan tersebut telah menguasai hampir
seluruh dunia; karena barat telah berhasil
mengembangkan teknologi, kebudayaan sekaligus
peradabanya.
Bagi negara berkembang ketergantungan akan
dominasi barat sangat kentara sekali, apalagi dilihat
dari kacamata filsafa, barat berhasil dalam
mengembangkan dan menanamkan ”cara
berpikirnya”.
Sebetulnya pemeikiran-pemikiran barat pada
hakekatnya berupa tradisi pemikiran yang diambil
dan dilahirkan dizaman Yunani kuno
Dengan kata lain, bahwa filsafat Yunani Kuno
dimajukan sebagai pangkal sejarah filsafat
(pemikiran) Barat.
Para ahli pada zaman itu, mencoba membuat konsep
tentang asal muasal alam.
Corak dan sifat dari pemikiranya bersifat mitologik
(keteranganya didasarkan atas mitos dan
kepercayaan saja).
Setelah adanya demitologisasi oleh para pemikir
alam seperti Thales (624-548 SM), Anaximenes (590-
528 SM), Phitagoras (532 SM), herakliotos (535-475
SM), Parminides (540-475 SM) serta banyak lagi
pemikir lainya, maka pemikiran filsafat berkembang
secara cepat kearah kemegahanya.
Sejak abad 5 SM, pemikiran filsafat beralih kearah
manusia dengan kemampuan berpikirnya, masa ini
dikenal dengan masa antropologis.
Masa ini dokenal sederet ahli pemikir seperti Sokrates,
Plato, Aristoteles.
Pada ahirnya filsafat membentuk ruang lingkup yang
semakin luas serta dengan beraneka ragam
permasalahan.
Pemikiran filsafat pada masa itu diartikan sebagai
bermacam-macam ilmu pengetahuan. Hal ini dapat
dibuktikan dengan apa yang dikemukakan oleh
Aristoteles, bahwa filsafat adalah segala sesuatu yang
dapat dipertanggungjawabkan atas dasar akal pikiran,
dan membagi filsafat menjadi ilmu pengetahuan, poetis,
ilmu pengetahuan tang praktis, ilmu pengetahuan yang
teoritis.
Seorang filusuf dipandang cerdik dan pandai jika orang
tersebut cinta dan ingin selalu berteman dengan
kebijaksanaan (Koentowibisono, 1982:3)
Perkembangan filsafat hingga zaman
Neoplatonisme (abad sesudah masehi) mulai
mengarah pada Tuhan (Teosentris) dan
Tuhanlah yang menjadi dasar segal galanya.
Tuhan dan segala sesuatu menjadi hakekat
yang sama, lebih dikenal dengan ajaran
Phanteisme (serba Tuhan).
Mulai abad permulaan masehi,
perkembangan filsafat beralih ke Eropa.
Hal ini disebabkan kekuasaan kerajaan Roma
yang luas sekali.
Pemikiran filsafat didasarkan pada firman
Tuhan, hal ini disebabkan karena satusatunya
kebenaran dan kebijaksanaan ada
pada firman Tuhan.
Pada abad 12 perkembangan filsafat
mengalami peningkatan yang luar biasa, hal
ini ditandai dengan adanya Universitasuniversitas,
disamping ordo-ordo.
Ordo semacam sekumpulan orang dibawah
seorang imam guna hendak mencapai
kesempurnaan hidup, dengan meninggalkan
masyarakat ramai dan duniawi.
Perkembangan filsafat ditandai dengan
munculnya para ahli pikir seperti: Anselmus,
Alberadus, Albertus Manfus.
Pemikiran filsafatnya berkisar tentang
penyelesaian hubungan antara akal dan wahyu
dan juga tentang universalia.
Abad 14-17 pemikiran filsafat ditandai dengan
munculnya aliran-aliran filsafat. Ini adalah masa
dimana menuju pada filsafat modern.
Yang menjadi dasar timbulnya pemikiran
kefilsafatan ini adalah kesadaran individu yang
kongkrit.
Pada masa inipula di Eropa terjadi minat orang
terhadap filsafat Yunani senakin besar dan
berusaha mengembalikan pemikiran tersebut.
Masa ini dikenal dengan masa Renaisance.
Lanjutan…
Pada masa ini pemikiran filsafatnya mengarah pada
individu yang konkrit sekaligus menjadi subjek dan
objeknya.
Masing-masing manusia menjadi barometer dalam
menetapkan sebuah dan menentukan akan
kebenaran dan kenyataan.
Dalam situasi macam ini hubungan antara agama
dan filsafat menjadi cair, dalam artian agama
ditinggalkan oleh filsafat (Koentowibisono; 182;4).
Masing masing kembali pada dasarnya sendiri,
artinya agama mendasarkan diri pada imam dan
kepercayaan pada firman Tuhan dalam menghadapi
pelbagai permasalahan, sedangkan filsafat
mendasarkan diri pada akal dan pengalaman.
Lanjutan…
Perkembangan selanjutnya jaman pencerahan
pada abad ke 18, karena adanya Tasionalisme,
semakin lama kemampuan manusia akan
menjadi tumpahan harapan;
Perkembangan filsafat pada abad ke 19 yang
mengarah pada filsafat ilmu pengetahuan,
dimana persoalan filsafat diisi dengan usaha
manusia mengenai cara bagaimana caranya
dan apa sarana yang dipakai untuk mencari
kebenaran dan kenyataan.
Imanuel Kant (1724-1804) dikatakan sebagai
penyempurna pencerahan sebab pemikiran
filsafat memuat suatu gagasan baru yang akan
memberikan kepada segala arah dikemudian
hari.
Menginjak abad 19 keadaan dunia filsafat
terpecah belah, ada filsafat Amerika, filsafat
Inggris, filsafat Jerman, filsafat Prancis, dan
filsafat Islam.
Pada masa ini pemikiran filsafat mampu
membentuk kepribadian terhadap masingmasing
bangsa dengan pemikiran dan caranya
sendiri.
Secra perlahan-lahan filsafat kontemporer mulai
tumbuh.
Mulai saat ini tidak ada lagi aliran ataupun
tokoh yang mendominasi filsafat.
4/18/2011
7
Lanjutan…
Filsafat pragmatis di Amerika Serikat timbul
karena meragukan kemampuan akal dan ilmu
pengetahuan positif.
Filsafat hidup yang berkembang di seluruh
eropa tetapi mempunyai bentuk dan coraknya
sendiri di pelbagai negara.
Kecenderungan kearah secara praktis terhadap
filsafat dalam kaitanya dengan manusia secara
individu dan sosial. Dalam abad 20 inilah
dikatakan Van Peursen sebagai pemikiran
filsafat secara fungsional (Koentowibisono,
1982;4).
Pemikiran Pemikiran
Filsafat
4/18/2011
8
Humanisme
Humanisme berasal dari Barat dan mengalami
perkembangan dalam lingkungan pemikiran filsafat
Barat.
Humanisme menjadikan tabiat manusia beserta
batas-batas dan kecenderungan alamiah manusia
sebagai obyek.
Humanisme merupakan sebuah konsep monumental
yang menjadi aspek fundamental bagi
Renaisans, yaitu aspek yang di jadikan para pemikir
sebagai pegangan untuk mempelajari kesempurnaan
manusia di alam natural dan di dalam sejarah
sekaligus meriset interpretasi manusia tentang ini.
Pada zaman Yunani kuno pendidikan dilakukan
sebagai seni-seni bebas, dan ketentuan ini
dipandang layak hanya untuk manusia karena
manusia berbeda dengan semua binatang.
Lanjutan…
5. Penyerahan sepenuhnya kekuasaan dan
penentuan nasib, dan kekuasaan despotisme harus
ditolak mentah-mentah.
6. Manusia adalah sentral alam semesta.
7. Akal manusia sejajar dengan akal Tuhan.
8. Penolakan sistem-sistem tertutup filsafat, prinsip
dan keyakinan-keyakinan agama, serta
argumentasi-argumentasi ekstraktif mengenai nilainilai
kemanusiaan.
9. Penolakan terhadap praktik-praktik asketisme, dan
perhatian mesti dipusatkan kepada faktor jasmani
dan kenikmatan-kenikmatan fisik.
10. Akal manusia adalah pimpinan manusia, dan
status agama sebagai komando harus ditiadakan.
4/18/2011
9
Lanjutan…
11. Kenikmatan-kenikmatan jasmani adalah tujuan
final segala aktivitas manusia.
12. Manusia adalah binatang politik.
13. Dunia politik harus diceraikan dari segala
pandangan metafisik atau agama, dan
manusia adalah aktor yang memiliki
wewenang mutlak dalam dunia politik.
14. Dalam psikologi, setiap manusia diteliti
sebagai satu spesis tunggal, dan
bukan sebagai satu individu yang merupakan
bagian dari satu spesis manusia. Atas dasar
ini, manusia berwenang untuk semata-mata
mengikuti tatanan nilainya sendiri.
Prinsip-prinsip pemikiran
humanisme
1. Manusia adalah standar dan kriteria segala
sesuatu.
2. Penekanan terhadap urgensi kembali kepada
peradaban era klasik untuk menghidupkan
kembali dan mengembangkan potensi dan
kekuatan yang diyakini orang-orang terdahulu.
3. Penekanan secara berlebihan kepada kebebasan
dan ikhtiar manusia akibat kebencian kepada
intimidasi dan kediktatoran para penguasa abad
pertengahan.
4. Pengingkaran terhadap status para rohaniwan
sebagai perantara antara Tuhan dan manusia.
Lanjutan…
15. Aktualisasi diri, pemeliharan diri dan peningkatan diri
mesti dipelajari dalam setiap individu.
16. Manusia adalah pencipta lingkungannya dan bukanlah
hasil lingkungannya.
17. Manusia harus terkonsentrasi sepenuhnya kepada
dirinya.
18. Kelayakan kepribadian setiap individu bisa terbentuk
tanpa keimanan kepada Tuhan.
19. Keberadaan agama dipandang sebagai faktor
superfisial yang diperlukan demi popularitas nilai-nilai
kepribadian manusia dan perbaikan sosial, namun
agama ini bisa jadi merupakan agama produk manusia
ala August Comte.
20. Penekanan terhadap persatuan antar segenap agama,
baik agama yang berpangkal dari Nabi Ibrahim
maupun agama khurafat.
Rasionalisme
Aliran rasionalisme dipelopori oleh Rene Descartes
(1596-1650 M).
Descartes adalah pelopor kaum rasionalis, yaitu
mereka yang percaya bahwa dasar semua
pengetahuan ada dalam pikiran
Dalam buku Discourse de la Methode tahun 1637 ia
menegaskan perlunya ada metode yang jitu sebagai
dasar kokoh bagi semua pengetahuan, yaitu dengan
menyangsikan segalanya, secara metodis.
Kalau suatu kebenaran tahan terhadap ujian
kesangsian yang radikal ini, maka kebenaran itu
100% pasti dan menjadi landasan bagi seluruh
pengetahuan. Tetapi dalam rangka kesangsian yang
metodis ini ternyata hanya ada satu hal yang tidak
dapat diragukan, yaitu “saya ragu-ragu”.
4/18/2011
11
Ini bukan khayalan, tetapi kenyataan, bahwa “aku
ragu-ragu”.
Jika aku menyangsikan sesuatu, aku menyadari
bahwa aku menyangsikan adanya.
Dengan lain kata kesangsian itu langsung
menyatakan adanya aku. Itulah “cogito ergo sum”,
aku berpikir (= menyadari) maka aku ada.
Itulah kebenaran yang tidak dapat disangkal
lagi. Mengapa kebenaran itu pasti? Sebab aku
mengerti itu dengan “jelas, dan terpilah-pilah”
“clearly and distinctly”, “clara et distincta”.
Artinya, yang jelas dan terpilah-pilah itulah yang
harus diterima sebagai benar.
Descartes dalam menentukan
kebenaran
1. realitas pikiran (res cogitan),
2. realitas perluasan (res extensa,
“extention”) atau materi, dan
3. Tuhan (sebagai Wujud yang
seluruhnya sempurna, penyebab
sempurna dari kedua realitas itu).
4/18/2011
12
Pikiran sesungguhnya adalah kesadaran, tidak
mengambil ruang dan tak dapat dibagi-bagi
menjadi bagian yang lebih kecil.
Materi adalah keluasan, mengambil tempat dan
dapat dibagi-bagi, dan tak memiliki kesadaran.
Kedua substansi berasal dari Tuhan, sebab
hanya Tuhan sajalah yang ada tanpa tergantung
pada apapun juga.
FILSAFAT ILMu
FILSAFAT
ILMU PENGETAHUAN
Jika tidak bisa mendapatkan apa yang
disukai, sukai apa yang didapatkan
PENDAHULUAN
Kata falsafah atau filsafat dalam bahasa Indonesia
merupakan kata serapan dari bahasa Arab , yang juga
diambil dari bahasa Yunani; philosophia.
Philosophia, merupakan kata majemuk dan berasal dari
kata-kata (philia = persahabatan, cinta dsb.) dan (sophia
= “kebijaksanaan”).
Sehingga arti harafiahnya adalah seorang “pencinta
kebijaksanaan” atau “ilmu”.
Kata filosofi yang dipungut dari bahasa Belanda juga
dikenal di Indonesia.
Dalam bahasa Indonesia seseorang yang mendalami
bidang falsafah disebut “filsuf”
Paling tidak bisa dikatakan bahwa “filsafat” adalah studi
yang mempelajari seluruh fenomena kehidupan dan
pemikiran manusia secara kritis.
Dewasa ini, kita dapat melihat akan adanya
dominasi ”cara berpikir”yang dilakukan oleh para
pemikir barat.
Penguasaan tersebut telah menguasai hampir
seluruh dunia; karena barat telah berhasil
mengembangkan teknologi, kebudayaan sekaligus
peradabanya.
Bagi negara berkembang ketergantungan akan
dominasi barat sangat kentara sekali, apalagi dilihat
dari kacamata filsafa, barat berhasil dalam
mengembangkan dan menanamkan ”cara
berpikirnya”.
Sebetulnya pemeikiran-pemikiran barat pada
hakekatnya berupa tradisi pemikiran yang diambil
dan dilahirkan dizaman Yunani kuno.
Dengan kata lain, bahwa filsafat Yunani Kuno
dimajukan sebagai pangkal sejarah filsafat
(pemikiran) Barat.
Para ahli pada zaman itu, mencoba membuat konsep
tentang asal muasal alam.
Corak dan sifat dari pemikiranya bersifat mitologik
(keteranganya didasarkan atas mitos dan
kepercayaan saja).
Setelah adanya demitologisasi oleh para pemikir
alam seperti Thales (624-548 SM), Anaximenes (590-
528 SM), Phitagoras (532 SM), herakliotos (535-475
SM), Parminides (540-475 SM) serta banyak lagi
pemikir lainya, maka pemikiran filsafat berkembang
secara cepat kearah kemegahanya.
Sejak abad 5 SM, pemikiran filsafat beralih kearah
manusia dengan kemampuan berpikirnya, masa ini
dikenal dengan masa antropologis.
Masa ini dokenal sederet ahli pemikir seperti Sokrates,
Plato, Aristoteles.
Pada ahirnya filsafat membentuk ruang lingkup yang
semakin luas serta dengan beraneka ragam
permasalahan.
Pemikiran filsafat pada masa itu diartikan sebagai
bermacam-macam ilmu pengetahuan. Hal ini dapat
dibuktikan dengan apa yang dikemukakan oleh
Aristoteles, bahwa filsafat adalah segala sesuatu yang
dapat dipertanggungjawabkan atas dasar akal pikiran,
dan membagi filsafat menjadi ilmu pengetahuan, poetis,
ilmu pengetahuan tang praktis, ilmu pengetahuan yang
teoritis.
Seorang filusuf dipandang cerdik dan pandai jika orang
tersebut cinta dan ingin selalu berteman dengan
kebijaksanaan (Koentowibisono, 1982:3)
Perkembangan filsafat hingga zaman
Neoplatonisme (abad sesudah masehi) mulai
mengarah pada Tuhan (Teosentris) dan
Tuhanlah yang menjadi dasar segal galanya.
Tuhan dan segala sesuatu menjadi hakekat
yang sama, lebih dikenal dengan ajaran
Phanteisme (serba Tuhan).
Mulai abad permulaan masehi,
perkembangan filsafat beralih ke Eropa.
Hal ini disebabkan kekuasaan kerajaan Roma
yang luas sekali.
Pemikiran filsafat didasarkan pada firman
Tuhan, hal ini disebabkan karena satusatunya
kebenaran dan kebijaksanaan ada
pada firman Tuhan.
Pada abad 12 perkembangan filsafat
mengalami peningkatan yang luar biasa, hal
ini ditandai dengan adanya Universitasuniversitas,
disamping ordo-ordo.
Ordo semacam sekumpulan orang dibawah
seorang imam guna hendak mencapai
kesempurnaan hidup, dengan meninggalkan
masyarakat ramai dan duniawi.
Perkembangan filsafat ditandai dengan
munculnya para ahli pikir seperti: Anselmus,
Alberadus, Albertus Manfus.
Pemikiran filsafatnya berkisar tentang
penyelesaian hubungan antara akal dan wahyu
dan juga tentang universalia.
Abad 14-17 pemikiran filsafat ditandai dengan
munculnya aliran-aliran filsafat. Ini adalah masa
dimana menuju pada filsafat modern.
Yang menjadi dasar timbulnya pemikiran
kefilsafatan ini adalah kesadaran individu yang
kongkrit.
Pada masa inipula di Eropa terjadi minat orang
terhadap filsafat Yunani senakin besar dan
berusaha mengembalikan pemikiran tersebut.
Masa ini dikenal dengan masa Renaisance.
Lanjutan…
Pada masa ini pemikiran filsafatnya mengarah pada
individu yang konkrit sekaligus menjadi subjek dan
objeknya.
Masing-masing manusia menjadi barometer dalam
menetapkan sebuah dan menentukan akan
kebenaran dan kenyataan.
Dalam situasi macam ini hubungan antara agama
dan filsafat menjadi cair, dalam artian agama
ditinggalkan oleh filsafat (Koentowibisono; 182;4).
Masing masing kembali pada dasarnya sendiri,
artinya agama mendasarkan diri pada imam dan
kepercayaan pada firman Tuhan dalam menghadapi
pelbagai permasalahan, sedangkan filsafat
mendasarkan diri pada akal dan pengalaman.
Perkembangan selanjutnya jaman pencerahan
pada abad ke 18, karena adanya Tasionalisme,
semakin lama kemampuan manusia akan
menjadi tumpahan harapan;
Perkembangan filsafat pada abad ke 19 yang
mengarah pada filsafat ilmu pengetahuan,
dimana persoalan filsafat diisi dengan usaha
manusia mengenai cara bagaimana caranya
dan apa sarana yang dipakai untuk mencari
kebenaran dan kenyataan.
Imanuel Kant (1724-1804) dikatakan sebagai
penyempurna pencerahan sebab pemikiran
filsafat memuat suatu gagasan baru yang akan
memberikan kepada segala arah dikemudian
hari.
Lanjutan…
Menginjak abad 19 keadaan dunia filsafat
terpecah belah, ada filsafat Amerika, filsafat
Inggris, filsafat Jerman, filsafat Prancis, dan
filsafat Islam.
Pada masa ini pemikiran filsafat mampu
membentuk kepribadian terhadap masingmasing
bangsa dengan pemikiran dan caranya
sendiri.
Secra perlahan-lahan filsafat kontemporer mulai
tumbuh.
Mulai saat ini tidak ada lagi aliran ataupun
tokoh yang mendominasi filsafat.
4/18/2011
7
Lanjutan…
Filsafat pragmatis di Amerika Serikat timbul
karena meragukan kemampuan akal dan ilmu
pengetahuan positif.
Filsafat hidup yang berkembang di seluruh
eropa tetapi mempunyai bentuk dan coraknya
sendiri di pelbagai negara.
Kecenderungan kearah secara praktis terhadap
filsafat dalam kaitanya dengan manusia secara
individu dan sosial. Dalam abad 20 inilah
dikatakan Van Peursen sebagai pemikiran
filsafat secara fungsional (Koentowibisono,
1982;4).
Pemikiran Pemikiran
Filsafat
Humanisme
Humanisme berasal dari Barat dan mengalami
perkembangan dalam lingkungan pemikiran filsafat
Barat.
Humanisme menjadikan tabiat manusia beserta
batas-batas dan kecenderungan alamiah manusia
sebagai obyek.
Humanisme merupakan sebuah konsep monumental
yang menjadi aspek fundamental bagi
Renaisans, yaitu aspek yang di jadikan para pemikir
sebagai pegangan untuk mempelajari kesempurnaan
manusia di alam natural dan di dalam sejarah
sekaligus meriset interpretasi manusia tentang ini.
Pada zaman Yunani kuno pendidikan dilakukan
sebagai seni-seni bebas, dan ketentuan ini
dipandang layak hanya untuk manusia karena
manusia berbeda dengan semua binatang.
Lanjutan…
5. Penyerahan sepenuhnya kekuasaan dan
penentuan nasib, dan kekuasaan despotisme harus
ditolak mentah-mentah.
6. Manusia adalah sentral alam semesta.
7. Akal manusia sejajar dengan akal Tuhan.
8. Penolakan sistem-sistem tertutup filsafat, prinsip
dan keyakinan-keyakinan agama, serta
argumentasi-argumentasi ekstraktif mengenai nilainilai
kemanusiaan.
9. Penolakan terhadap praktik-praktik asketisme, dan
perhatian mesti dipusatkan kepada faktor jasmani
dan kenikmatan-kenikmatan fisik.
10. Akal manusia adalah pimpinan manusia, dan
status agama sebagai komando harus ditiadakan.…
11. Kenikmatan-kenikmatan jasmani adalah tujuan
final segala aktivitas manusia.
12. Manusia adalah binatang politik.
13. Dunia politik harus diceraikan dari segala
pandangan metafisik atau agama, dan
manusia adalah aktor yang memiliki
wewenang mutlak dalam dunia politik.
14. Dalam psikologi, setiap manusia diteliti
sebagai satu spesis tunggal, dan
bukan sebagai satu individu yang merupakan
bagian dari satu spesis manusia. Atas dasar
ini, manusia berwenang untuk semata-mata
mengikuti tatanan nilainya sendiri.
Prinsip-prinsip pemikiran
humanisme
1. Manusia adalah standar dan kriteria segala
sesuatu.
2. Penekanan terhadap urgensi kembali kepada
peradaban era klasik untuk menghidupkan
kembali dan mengembangkan potensi dan
kekuatan yang diyakini orang-orang terdahulu.
3. Penekanan secara berlebihan kepada kebebasan
dan ikhtiar manusia akibat kebencian kepada
intimidasi dan kediktatoran para penguasa abad
pertengahan.
4. Pengingkaran terhadap status para rohaniwan
sebagai perantara antara Tuhan dan manusia.
Lanjutan…
15. Aktualisasi diri, pemeliharan diri dan peningkatan diri
mesti dipelajari dalam setiap individu.
16. Manusia adalah pencipta lingkungannya dan bukanlah
hasil lingkungannya.
17. Manusia harus terkonsentrasi sepenuhnya kepada
dirinya.
18. Kelayakan kepribadian setiap individu bisa terbentuk
tanpa keimanan kepada Tuhan.
19. Keberadaan agama dipandang sebagai faktor
superfisial yang diperlukan demi popularitas nilai-nilai
kepribadian manusia dan perbaikan sosial, namun
agama ini bisa jadi merupakan agama produk manusia
ala August Comte.
20. Penekanan terhadap persatuan antar segenap agama,
baik agama yang berpangkal dari Nabi Ibrahim
maupun agama khurafat.
Rasionalisme
Aliran rasionalisme dipelopori oleh Rene Descartes
(1596-1650 M).
Descartes adalah pelopor kaum rasionalis, yaitu
mereka yang percaya bahwa dasar semua
pengetahuan ada dalam pikiran
Dalam buku Discourse de la Methode tahun 1637 ia
menegaskan perlunya ada metode yang jitu sebagai
dasar kokoh bagi semua pengetahuan, yaitu dengan
menyangsikan segalanya, secara metodis.
Kalau suatu kebenaran tahan terhadap ujian
kesangsian yang radikal ini, maka kebenaran itu
100% pasti dan menjadi landasan bagi seluruh
pengetahuan. Tetapi dalam rangka kesangsian yang
metodis ini ternyata hanya ada satu hal yang tidak
dapat diragukan, yaitu “saya ragu-ragu”.
Ini bukan khayalan, tetapi kenyataan, bahwa “aku
ragu-ragu”.
Jika aku menyangsikan sesuatu, aku menyadari
bahwa aku menyangsikan adanya.
Dengan lain kata kesangsian itu langsung
menyatakan adanya aku. Itulah “cogito ergo sum”,
aku berpikir (= menyadari) maka aku ada.
Itulah kebenaran yang tidak dapat disangkal
lagi. Mengapa kebenaran itu pasti? Sebab aku
mengerti itu dengan “jelas, dan terpilah-pilah”
“clearly and distinctly”, “clara et distincta”.
Artinya, yang jelas dan terpilah-pilah itulah yang
harus diterima sebagai benar.
Descartes dalam menentukan
kebenaran
1. realitas pikiran (res cogitan),
2. realitas perluasan (res extensa,
“extention”) atau materi, dan
3. Tuhan (sebagai Wujud yang
seluruhnya sempurna, penyebab
sempurna dari kedua realitas itu).
Pikiran sesungguhnya adalah kesadaran, tidak
mengambil ruang dan tak dapat dibagi-bagi
menjadi bagian yang lebih kecil.
Materi adalah keluasan, mengambil tempat dan
dapat dibagi-bagi, dan tak memiliki kesadaran.
Kedua substansi berasal dari Tuhan, sebab
hanya Tuhan sajalah yang ada tanpa tergantung
pada apapun juga.
FILSAFAT ILMU
Prof. Dr. H. Almasdi Syahza, SE., MP
Email: asyahza@yahoo.co.id
Website: http://almasdi.unri.ac.id
FILSAFAT
ILMU PENGETAHUAN
Jika tidak bisa mendapatkan apa yang
disukai, sukai apa yang didapatkan
PENDAHULUAN
Kata falsafah atau filsafat dalam bahasa Indonesia
merupakan kata serapan dari bahasa Arab , yang juga
diambil dari bahasa Yunani; philosophia.
Philosophia, merupakan kata majemuk dan berasal dari
kata-kata (philia = persahabatan, cinta dsb.) dan (sophia
= “kebijaksanaan”).
Sehingga arti harafiahnya adalah seorang “pencinta
kebijaksanaan” atau “ilmu”.
Kata filosofi yang dipungut dari bahasa Belanda juga
dikenal di Indonesia.
Dalam bahasa Indonesia seseorang yang mendalami
bidang falsafah disebut “filsuf”
Paling tidak bisa dikatakan bahwa “filsafat” adalah studi
yang mempelajari seluruh fenomena kehidupan dan
pemikiran manusia secara kritis.
Dewasa ini, kita dapat melihat akan adanya
dominasi ”cara berpikir”yang dilakukan oleh para
pemikir barat.
Penguasaan tersebut telah menguasai hampir
seluruh dunia; karena barat telah berhasil
mengembangkan teknologi, kebudayaan sekaligus
peradabanya.
Bagi negara berkembang ketergantungan akan
dominasi barat sangat kentara sekali, apalagi dilihat
dari kacamata filsafa, barat berhasil dalam
mengembangkan dan menanamkan ”cara
berpikirnya”.
Sebetulnya pemeikiran-pemikiran barat pada
hakekatnya berupa tradisi pemikiran yang diambil
dan dilahirkan dizaman Yunani kuno.
Dengan kata lain, bahwa filsafat Yunani Kuno
dimajukan sebagai pangkal sejarah filsafat
(pemikiran) Barat.
Para ahli pada zaman itu, mencoba membuat konsep
tentang asal muasal alam.
Corak dan sifat dari pemikiranya bersifat mitologik
(keteranganya didasarkan atas mitos dan
kepercayaan saja).
Setelah adanya demitologisasi oleh para pemikir
alam seperti Thales (624-548 SM), Anaximenes (590-
528 SM), Phitagoras (532 SM), herakliotos (535-475
SM), Parminides (540-475 SM) serta banyak lagi
pemikir lainya, maka pemikiran filsafat berkembang
secara cepat kearah kemegahanya.
Sejak abad 5 SM, pemikiran filsafat beralih kearah
manusia dengan kemampuan berpikirnya, masa ini
dikenal dengan masa antropologis.
Masa ini dokenal sederet ahli pemikir seperti Sokrates,
Plato, Aristoteles.
Pada ahirnya filsafat membentuk ruang lingkup yang
semakin luas serta dengan beraneka ragam
permasalahan.
Pemikiran filsafat pada masa itu diartikan sebagai
bermacam-macam ilmu pengetahuan. Hal ini dapat
dibuktikan dengan apa yang dikemukakan oleh
Aristoteles, bahwa filsafat adalah segala sesuatu yang
dapat dipertanggungjawabkan atas dasar akal pikiran,
dan membagi filsafat menjadi ilmu pengetahuan, poetis,
ilmu pengetahuan tang praktis, ilmu pengetahuan yang
teoritis.
Seorang filusuf dipandang cerdik dan pandai jika orang
tersebut cinta dan ingin selalu berteman dengan
kebijaksanaan (Koentowibisono, 1982:3)
Perkembangan filsafat hingga zaman
Neoplatonisme (abad sesudah masehi) mulai
mengarah pada Tuhan (Teosentris) dan
Tuhanlah yang menjadi dasar segal galanya.
Tuhan dan segala sesuatu menjadi hakekat
yang sama, lebih dikenal dengan ajaran
Phanteisme (serba Tuhan).
Mulai abad permulaan masehi,
perkembangan filsafat beralih ke Eropa.
Hal ini disebabkan kekuasaan kerajaan Roma
yang luas sekali.
Pemikiran filsafat didasarkan pada firman
Tuhan, hal ini disebabkan karena satusatunya
kebenaran dan kebijaksanaan ada
pada firman Tuhan.
Pada abad 12 perkembangan filsafat
mengalami peningkatan yang luar biasa, hal
ini ditandai dengan adanya Universitasuniversitas,
disamping ordo-ordo.
Ordo semacam sekumpulan orang dibawah
seorang imam guna hendak mencapai
kesempurnaan hidup, dengan meninggalkan
masyarakat ramai dan duniawi.
Perkembangan filsafat ditandai dengan
munculnya para ahli pikir seperti: Anselmus,
Alberadus, Albertus Manfus.
Pemikiran filsafatnya berkisar tentang
penyelesaian hubungan antara akal dan wahyu
dan juga tentang universalia.
Abad 14-17 pemikiran filsafat ditandai dengan
munculnya aliran-aliran filsafat. Ini adalah masa
dimana menuju pada filsafat modern.
Yang menjadi dasar timbulnya pemikiran
kefilsafatan ini adalah kesadaran individu yang
kongkrit.
Pada masa inipula di Eropa terjadi minat orang
terhadap filsafat Yunani senakin besar dan
berusaha mengembalikan pemikiran tersebut.
Masa ini dikenal dengan masa Renaisance.
Lanjutan…
Pada masa ini pemikiran filsafatnya mengarah pada
individu yang konkrit sekaligus menjadi subjek dan
objeknya.
Masing-masing manusia menjadi barometer dalam
menetapkan sebuah dan menentukan akan
kebenaran dan kenyataan.
Dalam situasi macam ini hubungan antara agama
dan filsafat menjadi cair, dalam artian agama
ditinggalkan oleh filsafat (Koentowibisono; 182;4).
Masing masing kembali pada dasarnya sendiri,
artinya agama mendasarkan diri pada imam dan
kepercayaan pada firman Tuhan dalam menghadapi
pelbagai permasalahan, sedangkan filsafat
mendasarkan diri pada akal dan pengalaman.…
Perkembangan selanjutnya jaman pencerahan
pada abad ke 18, karena adanya Tasionalisme,
semakin lama kemampuan manusia akan
menjadi tumpahan harapan;
Perkembangan filsafat pada abad ke 19 yang
mengarah pada filsafat ilmu pengetahuan,
dimana persoalan filsafat diisi dengan usaha
manusia mengenai cara bagaimana caranya
dan apa sarana yang dipakai untuk mencari
kebenaran dan kenyataan.
Imanuel Kant (1724-1804) dikatakan sebagai
penyempurna pencerahan sebab pemikiran
filsafat memuat suatu gagasan baru yang akan
memberikan kepada segala arah dikemudian
hari.
Lanjutan…
Menginjak abad 19 keadaan dunia filsafat
terpecah belah, ada filsafat Amerika, filsafat
Inggris, filsafat Jerman, filsafat Prancis, dan
filsafat Islam.
Pada masa ini pemikiran filsafat mampu
membentuk kepribadian terhadap masingmasing
bangsa dengan pemikiran dan caranya
sendiri.
Secra perlahan-lahan filsafat kontemporer mulai
tumbuh.
Mulai saat ini tidak ada lagi aliran ataupun
tokoh yang mendominasi filsafat.
Filsafat pragmatis di Amerika Serikat timbul
karena meragukan kemampuan akal dan ilmu
pengetahuan positif.
Filsafat hidup yang berkembang di seluruh
eropa tetapi mempunyai bentuk dan coraknya
sendiri di pelbagai negara.
Kecenderungan kearah secara praktis terhadap
filsafat dalam kaitanya dengan manusia secara
individu dan sosial. Dalam abad 20 inilah
dikatakan Van Peursen sebagai pemikiran
filsafat secara fungsional (Koentowibisono,
1982;4).
Pemikiran Pemikiran
Filsafat
Humanisme
Humanisme berasal dari Barat dan mengalami
perkembangan dalam lingkungan pemikiran filsafat
Barat.
Humanisme menjadikan tabiat manusia beserta
batas-batas dan kecenderungan alamiah manusia
sebagai obyek.
Humanisme merupakan sebuah konsep monumental
yang menjadi aspek fundamental bagi
Renaisans, yaitu aspek yang di jadikan para pemikir
sebagai pegangan untuk mempelajari kesempurnaan
manusia di alam natural dan di dalam sejarah
sekaligus meriset interpretasi manusia tentang ini.
Pada zaman Yunani kuno pendidikan dilakukan
sebagai seni-seni bebas, dan ketentuan ini
dipandang layak hanya untuk manusia karena
manusia berbeda dengan semua binatang.
Lanjutan…
5. Penyerahan sepenuhnya kekuasaan dan
penentuan nasib, dan kekuasaan despotisme harus
ditolak mentah-mentah.
6. Manusia adalah sentral alam semesta.
7. Akal manusia sejajar dengan akal Tuhan.
8. Penolakan sistem-sistem tertutup filsafat, prinsip
dan keyakinan-keyakinan agama, serta
argumentasi-argumentasi ekstraktif mengenai nilainilai
kemanusiaan.
9. Penolakan terhadap praktik-praktik asketisme, dan
perhatian mesti dipusatkan kepada faktor jasmani
dan kenikmatan-kenikmatan fisik.
10. Akal manusia adalah pimpinan manusia, dan
status agama sebagai komando harus ditiadakan.
11. Kenikmatan-kenikmatan jasmani adalah tujuan
final segala aktivitas manusia.
12. Manusia adalah binatang politik.
13. Dunia politik harus diceraikan dari segala
pandangan metafisik atau agama, dan
manusia adalah aktor yang memiliki
wewenang mutlak dalam dunia politik.
14. Dalam psikologi, setiap manusia diteliti
sebagai satu spesis tunggal, dan
bukan sebagai satu individu yang merupakan
bagian dari satu spesis manusia. Atas dasar
ini, manusia berwenang untuk semata-mata
mengikuti tatanan nilainya sendiri.
Prinsip-prinsip pemikiran
humanisme
1. Manusia adalah standar dan kriteria segala
sesuatu.
2. Penekanan terhadap urgensi kembali kepada
peradaban era klasik untuk menghidupkan
kembali dan mengembangkan potensi dan
kekuatan yang diyakini orang-orang terdahulu.
3. Penekanan secara berlebihan kepada kebebasan
dan ikhtiar manusia akibat kebencian kepada
intimidasi dan kediktatoran para penguasa abad
pertengahan.
4. Pengingkaran terhadap status para rohaniwan
sebagai perantara antara Tuhan dan manusia.…
15. Aktualisasi diri, pemeliharan diri dan peningkatan diri
mesti dipelajari dalam setiap individu.
16. Manusia adalah pencipta lingkungannya dan bukanlah
hasil lingkungannya.
17. Manusia harus terkonsentrasi sepenuhnya kepada
dirinya.
18. Kelayakan kepribadian setiap individu bisa terbentuk
tanpa keimanan kepada Tuhan.
19. Keberadaan agama dipandang sebagai faktor
superfisial yang diperlukan demi popularitas nilai-nilai
kepribadian manusia dan perbaikan sosial, namun
agama ini bisa jadi merupakan agama produk manusia
ala August Comte.
20. Penekanan terhadap persatuan antar segenap agama,
baik agama yang berpangkal dari Nabi Ibrahim
maupun agama khurafat.
Rasionalisme
Aliran rasionalisme dipelopori oleh Rene Descartes
(1596-1650 M).
Descartes adalah pelopor kaum rasionalis, yaitu
mereka yang percaya bahwa dasar semua
pengetahuan ada dalam pikiran
Dalam buku Discourse de la Methode tahun 1637 ia
menegaskan perlunya ada metode yang jitu sebagai
dasar kokoh bagi semua pengetahuan, yaitu dengan
menyangsikan segalanya, secara metodis.
Kalau suatu kebenaran tahan terhadap ujian
kesangsian yang radikal ini, maka kebenaran itu
100% pasti dan menjadi landasan bagi seluruh
pengetahuan. Tetapi dalam rangka kesangsian yang
metodis ini ternyata hanya ada satu hal yang tidak
dapat diragukan, yaitu “saya ragu-ragu”.
Ini bukan khayalan, tetapi kenyataan, bahwa “aku
ragu-ragu”.
Jika aku menyangsikan sesuatu, aku menyadari
bahwa aku menyangsikan adanya.
Dengan lain kata kesangsian itu langsung
menyatakan adanya aku. Itulah “cogito ergo sum”,
aku berpikir (= menyadari) maka aku ada.
Itulah kebenaran yang tidak dapat disangkal
lagi. Mengapa kebenaran itu pasti? Sebab aku
mengerti itu dengan “jelas, dan terpilah-pilah”
“clearly and distinctly”, “clara et distincta”.
Artinya, yang jelas dan terpilah-pilah itulah yang
harus diterima sebagai benar.
Descartes dalam menentukan
kebenaran
1. realitas pikiran (res cogitan),
2. realitas perluasan (res extensa,
“extention”) atau materi, dan
3. Tuhan (sebagai Wujud yang
seluruhnya sempurna, penyebab
sempurna dari kedua realitas itu).
Pikiran sesungguhnya adalah kesadaran, tidak
mengambil ruang dan tak dapat dibagi-bagi
menjadi bagian yang lebih kecil.
Materi adalah keluasan, mengambil tempat dan
dapat dibagi-bagi, dan tak memiliki kesadaran.
Kedua substansi berasal dari Tuhan, sebab
hanya Tuhan sajalah yang ada tanpa tergantung
pada apapun juga.
FILSAFAT ILMU
FILSAFAT
ILMU PENGETAHUAN
Jika tidak bisa mendapatkan apa yang
disukai, sukai apa yang didapatkan
PENDAHULUAN
Kata falsafah atau filsafat dalam bahasa Indonesia
merupakan kata serapan dari bahasa Arab , yang juga
diambil dari bahasa Yunani; philosophia.
Philosophia, merupakan kata majemuk dan berasal dari
kata-kata (philia = persahabatan, cinta dsb.) dan (sophia
= “kebijaksanaan”).
Sehingga arti harafiahnya adalah seorang “pencinta
kebijaksanaan” atau “ilmu”.
Kata filosofi yang dipungut dari bahasa Belanda juga
dikenal di Indonesia.
Dalam bahasa Indonesia seseorang yang mendalami
bidang falsafah disebut “filsuf”
Paling tidak bisa dikatakan bahwa “filsafat” adalah studi
yang mempelajari seluruh fenomena kehidupan dan
pemikiran manusia secara kritis.
Dewasa ini, kita dapat melihat akan adanya
dominasi ”cara berpikir”yang dilakukan oleh para
pemikir barat.
Penguasaan tersebut telah menguasai hampir
seluruh dunia; karena barat telah berhasil
mengembangkan teknologi, kebudayaan sekaligus
peradabanya.
Bagi negara berkembang ketergantungan akan
dominasi barat sangat kentara sekali, apalagi dilihat
dari kacamata filsafa, barat berhasil dalam
mengembangkan dan menanamkan ”cara
berpikirnya”.
Sebetulnya pemeikiran-pemikiran barat pada
hakekatnya berupa tradisi pemikiran yang diambil
dan dilahirkan dizaman Yunani kuno.
Dengan kata lain, bahwa filsafat Yunani Kuno
dimajukan sebagai pangkal sejarah filsafat
(pemikiran) Barat.
Para ahli pada zaman itu, mencoba membuat konsep
tentang asal muasal alam.
Corak dan sifat dari pemikiranya bersifat mitologik
(keteranganya didasarkan atas mitos dan
kepercayaan saja).
Setelah adanya demitologisasi oleh para pemikir
alam seperti Thales (624-548 SM), Anaximenes (590-
528 SM), Phitagoras (532 SM), herakliotos (535-475
SM), Parminides (540-475 SM) serta banyak lagi
pemikir lainya, maka pemikiran filsafat berkembang
secara cepat kearah kemegahanya.
Sejak abad 5 SM, pemikiran filsafat beralih kearah
manusia dengan kemampuan berpikirnya, masa ini
dikenal dengan masa antropologis.
Masa ini dokenal sederet ahli pemikir seperti Sokrates,
Plato, Aristoteles.
Pada ahirnya filsafat membentuk ruang lingkup yang
semakin luas serta dengan beraneka ragam
permasalahan.
Pemikiran filsafat pada masa itu diartikan sebagai
bermacam-macam ilmu pengetahuan. Hal ini dapat
dibuktikan dengan apa yang dikemukakan oleh
Aristoteles, bahwa filsafat adalah segala sesuatu yang
dapat dipertanggungjawabkan atas dasar akal pikiran,
dan membagi filsafat menjadi ilmu pengetahuan, poetis,
ilmu pengetahuan tang praktis, ilmu pengetahuan yang
teoritis.
Seorang filusuf dipandang cerdik dan pandai jika orang
tersebut cinta dan ingin selalu berteman dengan
kebijaksanaan (Koentowibisono, 1982:3)
Perkembangan filsafat hingga zaman
Neoplatonisme (abad sesudah masehi) mulai
mengarah pada Tuhan (Teosentris) dan
Tuhanlah yang menjadi dasar segal galanya.
Tuhan dan segala sesuatu menjadi hakekat
yang sama, lebih dikenal dengan ajaran
Phanteisme (serba Tuhan).
Mulai abad permulaan masehi,
perkembangan filsafat beralih ke Eropa.
Hal ini disebabkan kekuasaan kerajaan Roma
yang luas sekali.
Pemikiran filsafat didasarkan pada firman
Tuhan, hal ini disebabkan karena satusatunya
kebenaran dan kebijaksanaan ada
pada firman Tuhan.
Pada abad 12 perkembangan filsafat
mengalami peningkatan yang luar biasa, hal
ini ditandai dengan adanya Universitasuniversitas,
disamping ordo-ordo.
Ordo semacam sekumpulan orang dibawah
seorang imam guna hendak mencapai
kesempurnaan hidup, dengan meninggalkan
masyarakat ramai dan duniawi.
Perkembangan filsafat ditandai dengan
munculnya para ahli pikir seperti: Anselmus,
Alberadus, Albertus Manfus.
Pemikiran filsafatnya berkisar tentang
penyelesaian hubungan antara akal dan wahyu
dan juga tentang universalia.
Abad 14-17 pemikiran filsafat ditandai dengan
munculnya aliran-aliran filsafat. Ini adalah masa
dimana menuju pada filsafat modern.
Yang menjadi dasar timbulnya pemikiran
kefilsafatan ini adalah kesadaran individu yang
kongkrit.
Pada masa inipula di Eropa terjadi minat orang
terhadap filsafat Yunani senakin besar dan
berusaha mengembalikan pemikiran tersebut.
Masa ini dikenal dengan masa Renaisance.
Lanjutan…
Pada masa ini pemikiran filsafatnya mengarah pada
individu yang konkrit sekaligus menjadi subjek dan
objeknya.
Masing-masing manusia menjadi barometer dalam
menetapkan sebuah dan menentukan akan
kebenaran dan kenyataan.
Dalam situasi macam ini hubungan antara agama
dan filsafat menjadi cair, dalam artian agama
ditinggalkan oleh filsafat (Koentowibisono; 182;4).
Masing masing kembali pada dasarnya sendiri,
artinya agama mendasarkan diri pada imam dan
kepercayaan pada firman Tuhan dalam menghadapi
pelbagai permasalahan, sedangkan filsafat
mendasarkan diri pada akal dan pengalaman.…
Perkembangan selanjutnya jaman pencerahan
pada abad ke 18, karena adanya Tasionalisme,
semakin lama kemampuan manusia akan
menjadi tumpahan harapan;
Perkembangan filsafat pada abad ke 19 yang
mengarah pada filsafat ilmu pengetahuan,
dimana persoalan filsafat diisi dengan usaha
manusia mengenai cara bagaimana caranya
dan apa sarana yang dipakai untuk mencari
kebenaran dan kenyataan.
Imanuel Kant (1724-1804) dikatakan sebagai
penyempurna pencerahan sebab pemikiran
filsafat memuat suatu gagasan baru yang akan
memberikan kepada segala arah dikemudian
hari.
Lanjutan…
Menginjak abad 19 keadaan dunia filsafat
terpecah belah, ada filsafat Amerika, filsafat
Inggris, filsafat Jerman, filsafat Prancis, dan
filsafat Islam.
Pada masa ini pemikiran filsafat mampu
membentuk kepribadian terhadap masingmasing
bangsa dengan pemikiran dan caranya
sendiri.
Secra perlahan-lahan filsafat kontemporer mulai
tumbuh.
Mulai saat ini tidak ada lagi aliran ataupun
tokoh yang mendominasi filsafat.…
Filsafat pragmatis di Amerika Serikat timbul
karena meragukan kemampuan akal dan ilmu
pengetahuan positif.
Filsafat hidup yang berkembang di seluruh
eropa tetapi mempunyai bentuk dan coraknya
sendiri di pelbagai negara.
Kecenderungan kearah secara praktis terhadap
filsafat dalam kaitanya dengan manusia secara
individu dan sosial. Dalam abad 20 inilah
dikatakan Van Peursen sebagai pemikiran
filsafat secara fungsional (Koentowibisono,
1982;4).
Pemikiran Pemikiran
Filsafat
Humanisme
Humanisme berasal dari Barat dan mengalami
perkembangan dalam lingkungan pemikiran filsafat
Barat.
Humanisme menjadikan tabiat manusia beserta
batas-batas dan kecenderungan alamiah manusia
sebagai obyek.
Humanisme merupakan sebuah konsep monumental
yang menjadi aspek fundamental bagi
Renaisans, yaitu aspek yang di jadikan para pemikir
sebagai pegangan untuk mempelajari kesempurnaan
manusia di alam natural dan di dalam sejarah
sekaligus meriset interpretasi manusia tentang ini.
Pada zaman Yunani kuno pendidikan dilakukan
sebagai seni-seni bebas, dan ketentuan ini
dipandang layak hanya untuk manusia karena
manusia berbeda dengan semua binatang.
Lanjutan…
5. Penyerahan sepenuhnya kekuasaan dan
penentuan nasib, dan kekuasaan despotisme harus
ditolak mentah-mentah.
6. Manusia adalah sentral alam semesta.
7. Akal manusia sejajar dengan akal Tuhan.
8. Penolakan sistem-sistem tertutup filsafat, prinsip
dan keyakinan-keyakinan agama, serta
argumentasi-argumentasi ekstraktif mengenai nilainilai
kemanusiaan.
9. Penolakan terhadap praktik-praktik asketisme, dan
perhatian mesti dipusatkan kepada faktor jasmani
dan kenikmatan-kenikmatan fisik.
10. Akal manusia adalah pimpinan manusia, dan
status agama sebagai komando harus ditiadakan.
4/18/2011
9
Lanjutan…
11. Kenikmatan-kenikmatan jasmani adalah tujuan
final segala aktivitas manusia.
12. Manusia adalah binatang politik.
13. Dunia politik harus diceraikan dari segala
pandangan metafisik atau agama, dan
manusia adalah aktor yang memiliki
wewenang mutlak dalam dunia politik.
14. Dalam psikologi, setiap manusia diteliti
sebagai satu spesis tunggal, dan
bukan sebagai satu individu yang merupakan
bagian dari satu spesis manusia. Atas dasar
ini, manusia berwenang untuk semata-mata
mengikuti tatanan nilainya sendiri.
Prinsip-prinsip pemikiran
humanisme
1. Manusia adalah standar dan kriteria segala
sesuatu.
2. Penekanan terhadap urgensi kembali kepada
peradaban era klasik untuk menghidupkan
kembali dan mengembangkan potensi dan
kekuatan yang diyakini orang-orang terdahulu.
3. Penekanan secara berlebihan kepada kebebasan
dan ikhtiar manusia akibat kebencian kepada
intimidasi dan kediktatoran para penguasa abad
pertengahan.
4. Pengingkaran terhadap status para rohaniwan
sebagai perantara antara Tuhan dan manusia.…
15. Aktualisasi diri, pemeliharan diri dan peningkatan diri
mesti dipelajari dalam setiap individu.
16. Manusia adalah pencipta lingkungannya dan bukanlah
hasil lingkungannya.
17. Manusia harus terkonsentrasi sepenuhnya kepada
dirinya.
18. Kelayakan kepribadian setiap individu bisa terbentuk
tanpa keimanan kepada Tuhan.
19. Keberadaan agama dipandang sebagai faktor
superfisial yang diperlukan demi popularitas nilai-nilai
kepribadian manusia dan perbaikan sosial, namun
agama ini bisa jadi merupakan agama produk manusia
ala August Comte.
20. Penekanan terhadap persatuan antar segenap agama,
baik agama yang berpangkal dari Nabi Ibrahim
maupun agama khurafat.
Rasionalisme
Aliran rasionalisme dipelopori oleh Rene Descartes
(1596-1650 M).
Descartes adalah pelopor kaum rasionalis, yaitu
mereka yang percaya bahwa dasar semua
pengetahuan ada dalam pikiran
Dalam buku Discourse de la Methode tahun 1637 ia
menegaskan perlunya ada metode yang jitu sebagai
dasar kokoh bagi semua pengetahuan, yaitu dengan
menyangsikan segalanya, secara metodis.
Kalau suatu kebenaran tahan terhadap ujian
kesangsian yang radikal ini, maka kebenaran itu
100% pasti dan menjadi landasan bagi seluruh
pengetahuan. Tetapi dalam rangka kesangsian yang
metodis ini ternyata hanya ada satu hal yang tidak
dapat diragukan, yaitu “saya ragu-ragu”.
Ini bukan khayalan, tetapi kenyataan, bahwa “aku
ragu-ragu”.
Jika aku menyangsikan sesuatu, aku menyadari
bahwa aku menyangsikan adanya.
Dengan lain kata kesangsian itu langsung
menyatakan adanya aku. Itulah “cogito ergo sum”,
aku berpikir (= menyadari) maka aku ada.
Itulah kebenaran yang tidak dapat disangkal
lagi. Mengapa kebenaran itu pasti? Sebab aku
mengerti itu dengan “jelas, dan terpilah-pilah”
“clearly and distinctly”, “clara et distincta”.
Artinya, yang jelas dan terpilah-pilah itulah yang
harus diterima sebagai benar.
Descartes dalam menentukan
kebenaran
1. realitas pikiran (res cogitan),
2. realitas perluasan (res extensa,
“extention”) atau materi, dan
3. Tuhan (sebagai Wujud yang
seluruhnya sempurna, penyebab
sempurna dari kedua realitas itu).
Pikiran sesungguhnya adalah kesadaran, tidak
mengambil ruang dan tak dapat dibagi-bagi
menjadi bagian yang lebih kecil.
Materi adalah keluasan, mengambil tempat dan
dapat dibagi-bagi, dan tak memiliki kesadaran.
Kedua substansi berasal dari Tuhan, sebab
hanya Tuhan sajalah yang ada tanpa tergantung
pada apapun juga.
.........!
Langganan:
Postingan (Atom)