|
|
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan sering kurang diperhatikan oleh
semua pihak di lingkungan sekolah, baik guru maupun siswa. Mata pelajaran PKn
dianggap terlalu banyak menghafal, banyak membaca. Sehingga banyak siswa yang
merasa jenuh dengan materi mata pelajaran ini.
Kondisi tersebut sering diperparah oleh keadaan bahwa siswa merasa kurang
tertarik, menganggap mudah, dan menganggap pelajaran yang menjemukan.
Keberadaan mata pelajaran PKn sering dianggap kurang bermanfaat bagi siswa.
Sejak mata pelajaran PKn tidak termasuk mata pelajaran yang diujikan dalam
Ujian Akhir Nasional, maka semakin dianggap tidak berarti bagi siswa.
Metode mengajar menjadi salah satu bagian yang ikut memperburuk
pan-dangan berbagai pihak tentang mata pelajaran PKn. Terlebih lagi jika mata
pelajaran ini disampaikan dengan cara-cara yang kurang menarik. Penggunaan
metode menga-jar yang monoton, kurang variasi akan semakin memperparah keadaan.
Kejenuhan siswa akan lebih cepat muncul dalam kondisi seperti ini.
|
Hamalik (1992:173) menyebutkan tentang motivasi bahwa “Suatu masalah di dalam kelas, motivasi
adalah proses membangkitkan, mempertahankan, dan mengontrol minat-minat”. Minat belajar anak harus dapat ditumbuhkan
dalam setiap proses belajar mengajar. Minat belajar yang tinggi akan sangat
berpengaruh terhadap peran serta atau aktifitas anak dalam mengikuti kegiatan
belajar mengajar. Proses membangkitkan
minat belajar, mempertahankan minat belajar dan mengon-trol minat belajar menjadi
bagian yang sangat penting dalam proses belajar mengajar. Jadi tanpa motivasi belajar yang memadai,
sangat sulit bagi pihak-pihak yang terkait dengan pembelajaran untuk dapat
mencapai tujuan yang diharapkan.
Motivasi belajar siswa dapat
berasal dari dalam dirinya maupun dari luar dirinya. Kecerdasan, cita-cita atau
harapan, kesenangan merupakan faktor yang berasal dari dalam diri siswa yang
dapat menumbuhkan minat belajar yang tinggi.
Kondisi lingkungan, metode mengajar, waktu belajar merupakan faktor-faktor
yang berasal dari luar diri siswa yang dapat mempengaruhi minat belajar. Jika
faktor-faktor yang mempengaruhi tersebut dalam kondisi baik, maka minat belajar
siswa juga semakin tinggi. Namun jika faktor-faktor yang mempengaruhi tersebut
kondi-sinya kurang kondusif, maka motivasi belajar siswa juga akan rendah.
Keadaan tersebut juga terjadi pada siswa kelas 1 SDN o1 kelas V,
Kecamatan Bawang Kota Batang. Motivasi
belajar siswa sangat rendah. Kondisi ini
disebabkan oleh beberapa hal, antara lain: (1) mata pelajaran PKni diberikan
pada jam pelajaran terakhir; (2) siswa merasa kurang tertarik pada pelajaran PKn;
(3) siswa sulit untuk menguasai materi pelajaran; (4) kondisi in-put
siswa relatif rendah; penggunaan metode yang kurang tepat.
SDN01 Bawang merupakan salah satu
sekolah yang berada di pinggiran kota. Siswa banyak yang kurang berminat
terhadap mata pelajaran PKn. Pada siswa
kelas v mata pelajaran PKn diberikan pada jam pelajaran terakhir. Kondisi siswa yang sudah merasa lelah,
mengantuk, lapar, jenuh selalu muncul setiap kali menerima pelajaran. Sikap
siswa terhadap mata pelajaran PKn masih relatif kurang. Sehingga siswa semakin
sulit untuk dapat menguasai materi pada mata pelajaran PKn.
Kondisi tersebut merupakan tantangan bagi guru. Bagimana agar siswa dapat
memiliki motivasi yang lebih besar terhadap mata pelajaran PKn. Salah satu
untuk meningkatkan motivasi belajar siswa adalah dengan menggunakan meto-de
‘Tatas’. Metode ‘Tatas’ merupakan kombinasi dari metode ‘Tanya jawab’ dan
metode ‘Penugasan/Pemberian tugas’ yang dikemas secara terpadu dengan
membe-rikan berbagai tambahan yang berupa ‘sangsi’ yang dapat mendorong siswa
untuk dapat lebih menguasai materi pelajaran. Dengan penggunaan metode ‘Tatas’
yang dirancang secara matang dan dilaksanakan secara tepat diharapkan dapat
mendo-rong siswa lebih dapat meningkatkan persiapan dalam menerima pelajaran.
Pening-katan motivasi belajar siswa juga diharapkan membawa dampak positif
yaitu pening-katan prestasi belajar pelajaran PKn.
Terkait dengan permasalahan tersebut di atas, maka untuk mengkaji lebih
mendalam tentang peningkatan motivasi belajar siswa, peneliti ingin melakukan
penelitian tindakan kelas dengan judul “Peningkatan Motivasi Belajar PKn Dengan
Menggunakan Metode ‘Tatas’ Siswa Kelas v
SDN 01 bawang Kecamatan Bawang, Kota Batang”.
B. Fokus Penelitian
Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah tersebut di atas, maka
fokus penelitian dalam PTK ini adalah “Apakah
motivasi belajar PKn dapat meningkat dengan penerapan metode ‘Tatas’ pada siswa
kelas I SDN01 bawang, Kecamatan bawang, Kota kabupaten batang”.
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui deskripsi meningkatnya motivasi
belajar pelajaran PKn pada siswa kelas I SDN 01
Kecamatan bawang, Kota batang dengan penerapan metode ‘Tatas’ dalam
pembelajaran mata pelajaran PKn. Dengan peningkatan motivasi belajar pada
siswa, diharapkan juga membawa dampak positif yaitu peningkatan prestasi
belajar pada pelajaran PKn.
D. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan latar belakang masalah, fokus penelitian dan tujuan
penelitian tersebut di atas, hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah “jika metode ‘Tatas’ diterapkan dalam pembelajaran pelajaran PKn, maka
motivasi belajar siswa kelas I SDN 01 Kecamatan bawang, Kota batang, akan
meningkat”.
E. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian dapat dikemukakan
sebagai berikut:
1.
Bagi guru, hasil penelitian ini
dapat dijadikan referensi dan pedoman dalam melakukan kegiatan pembelajaran
pada siswa yang berbeda tetapi memiliki kon-disi permasalahan yang sama.
2.
Bagi peneliti, hasil penelitian
ini dapat digunakan sebagai acuan untuk melaku-kan kegiatan penelitian yang
sejenis.
3.
Bagi Kepala Sekolah, hasil
penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar untuk merumuskan berbagai
kebijakan tentang kegiatan pembelajaran yang dapat dila-kukan oleh guru yang
berkaitan dengan peningkatan motivasi belajar siswa dan peningkatan prestasi
belajar.
|
|
KAJIAN PUSTAKA
Yang diuraikan dalam kajian pustaka ini adalah meliputi: (1) motivasi
belajar; (2) metode mengajar; (3) Pelajaran PKn; dan (4) pengaruh metode
‘Tatas’ terhadap motivasi belajar.
A. Motivasi Belajar
1. Pengertian Motivasi
Motivasi sering disebut motif. Banyak para ahli memberikan pengertian
yang berbeda tentang motivasi. Perbedaan pandangan dapat dipahami sebagai
kera-gaman pola berfikir, sudut pandang, situasi dan kondisi serta berbagai
perbedaan se-cara khusus pada pribadi setiap manusia. Namun perbedaan yang ada
justru semakin memperkaya wawasan berbagai pihak tentang motivasi.
McDonald dalam Hamalik (1992:173)
menyatakan, “motivation is an energy
change within the person characterized by effective arousal and anticipa-tory
goal reaction”. (Motivasi merupakan suatu perubahan energi dalam diri
se-seorang yang dikarakteristiki oleh pemacu yang efektif dan reaksi-reaksi
tujuan awalnya).
|
a.
Motivasi dimulai dari perubahan
energi dalam diri pribadi, yaitu adanya peru-bahan-perubahan tertentu dalam
organisme manusia. Dengan berbagai peru-bahan-perubahan yang terjadi akan
mendorong manusia untuk selalu mengada-kan penyesuaian.
b. Motivasi ditandai
dengan timbulnya perasaan. Perasaan ini dapat muncul setiap saat dan dapat
menekan emosinya sehingga dapat menimbulkan perilaku yang bermotif.
c. Motivasi ditandai
dengan reaksi-reaksi untuk mencapai tujuan.
Reaksi ini berupa respon yang wajar dari akibat adanya perubahan energi
dan munculnya perasaan yang mendorong manusia memiliki berbagai tujuan yang
harus dipenuhi.
Perubahan kebutuhan motivasi menurut Festinger dalam Toha (1996: 188) dikemukakan bahwa perbedaan
dalam kognisi mendorong seseorang untuk berbuat sesuatu. Perbedaan itu meliputi ketidakserasian dan adanya
kontradiksi antara dua hal. Hubungan perbedaan ini muncul, bila dua hal
tersebut tidak dapat muncul secara bersama-sama.
Dorongan motivasi berkembang
untuk memenuhi kebutuhan organisme, sekaligus merupakan system yang
memungkinkan organisme dapat memelihara ke-langsungan hidupnya.
Kebutuhan-kebutuhan organisme merupakan penyebab mun-culnya dorongan akan
mengaktifkan tingkah laku yang dapat mengembalikan kese-imbangan fisiologis organisme. Dorongan menjadi motivasi penggerak utama
ting-kah laku.
Tujuan merupakan pemberi arah
pada tingkah laku. Jika tujuan sudah tercapai, maka kebutuhan juga sudah
terpenuhi untuk sementara. Dengan demikian orang akan menjadi puas. Sedangkan
dorongan terhadap mental untuk berbuat se-suatu akan berhenti untuk sementara.
Motivasi tujuan dapat digambarkan situasinya sebagai berikut ( Toha, 1996: 189)
:
Gambar 2.1
: Situasi yang termotivasi
![]() |
Dorongan yang ada dalam diri
seseorang mengarahkan ketercapaiannya tujuan.
Dorongan yang paling kuat menghasilkan adanya perilaku, baik yang berupa
aktivitas terarah ke tujuan atau aktivitas tujuan.
Hamalik (1992:173) menyebutkan tentang
motivasi bahwa “Suatu masalah di dalam kelas, motivasi adalah proses
membangkitkan, mempertahankan, dan mengontrol minat-minat”. Membangkitkan atau
menumbuhkan minat pada seseorang untuk melakukan suatu kegiatan sangat
diperlukan. Mempertahankan berarti memelihara minat yang sudah tumbuh secara
baik dan selalu mengontrol agar minat tersebut tidak padam dari diri seseorang.
Berdasarkan uraian tersebut
dapat dirumuskan bahwa motivasi merupa-kan segala sesuatu yang dapat
menumbuhkan keinginan seseorang untuk melakukan kegiatan. Motif juga dapat
diartikan sebagai daya penggerak dari dalam dan di dalam subyek untuk melakukan
berbagai aktifitas dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan. Motif juga
dapat diartikan suatu kondisi intern (kesiapsiagaan).
Motivasi sering dikaitkan
dengan prestasi. Keberhasilan seseorang
dalam mencapai tujuan yang diharapkan akan menjadi prestasi yang membanggakan
dirinya. Prestasi yang tinggi merupakan
harapan semua orang. Secara umum prestasi yang tinggi hanya dapat dicapai
apabila seseorang memiliki motivasi yang tinggi pula.
Menurut Moekijat (1999: 192)
bahwa “… motivasi yang tinggi mengaki-batkan moril yang tinggi - suatu sikap dan persamaan yang positif
terhadap peru-sahaan, pekerjaan, atasan, teman-teman sekerja, dan orang-orang
bawahan – dan moril yang tinggi mempunyai hubungan positif terhadap hasil yang
tinggi”. Jadi motivasi dapat mempengaruhi moril yang dapat diwujudkan dalam
kinerja dan selan-jutnya mempengaruhi hasil yaitu meningkatkan produktifitas,
baik kualitas maupun kuantitasnya.
Motivasi untuk berprestasi
juga dikemukakan oleh Mangkunegara
(2001: 103), “Motivasi berprestasi dapat diartikan sebagai suatu dorongan dalam
diri seseorang untuk melakukan atau mengerjakan suatu kegiatan atau tugas
dengan sebaik-baiknya guna mencapai prestasi dengan predikat terpuji”. Dengan demikian setiap orang yang mempunyai
motivasi yang tinggi akan cende-rung bekerja dengan giat dan rajin guna
mencapai prestasi yang diharapkan.
Menurut Clelland dalam Mangkunegara (2001: 102) menyatakan ada 6
karakteristik orang yang mempunyai motif berprestasi tinggi, yaitu:
a.
Memiliki tingkat tanggung jawab
yang tinggi, setiap kegiatan selalu dikerjakan dengan serius.
b.
Berani mengambil dan memikul
resiko.
c.
Memiliki tujuan yang realistik,
dapat diukur dengan jelas dan nyata.
d.
Memiliki rencana kerja yang
menyeluruh dan berjuang untuk merealisasi tujuan.
e.
Memanfaatkan umpan balik yang
konkrit dalam semua kegiatan yang dilakukan.
f.
Memberi kesempatan untuk
merealisasikan rencana yang telah diprogram.
Berdasarkan uraian tersebut dapat dinyatakan bahwa motivasi berprestasi
merupakan keinginan seseorang untuk memperoleh prestasi tertentu sehingga dapat mendorong dirinya melakukan
kegiatan-kegiatan yang terarah pada prestasi yang diharapkan. Prestasi yang
tinggi merupakan harapan bagi setiap orang, sehingga akan selalu berusaha untuk
dapat mewujudkannya.
2. Macam-macam Motivasi
Setiap orang memiliki motivasi yang berbeda dalam melakukan
kegiatan. Perbedaan ini dapat disebabkan
oleh faktor umur, lingkungan tujuan hidup, dan kebutuhan. Hamalik (1992: 174 – 175) menjelaskan tentang
macam-macam motivasi, dapat dirumuskan sebagai berikut:
a.
Motivasi memenuhi kebutuhan.
Kebutuhan yang dimaksud adalah adanya peru-bahan organisme dalam diri manusia.
Perubahan organisme ini akan menimbul-kan motivasi dan kelakukan untuk
memenuhinya.
b.
Motivasi memenuhi perubahan
neurofisiologis. Perubahan neurofisiologis atau disebut ‘drive’, yaitu
merupakan dasar organis perubahan energi dalam diri ma-nusia sehingga
menimbulkan motivasi untuk memenuhi.
c. Motivasi mencapai
tujuan. Tujuan merupakan segala sesuatu yang diinginkan. Keinginan yang sudah dirumuskan secara jelas
dapat menjadi pemacu lahirnya motivasi dalam diri seseorang agar tujuannya
dapat tercapai.
3. Motivasi Belajar
Motivasi dapat tejadi di dalam seluruh aspek kehidupan
manusia. Lingkungan, pendidikan, keluarga, budaya menjadi faktor penentu jenis
motivasi yang dimiliki oleh seseorang. Perbedaan kondisi dari berbagai faktor
tersebut akan menyebabkan motivasi yang berkembang dalam kehidupan masyarakat
juga berbeda satu dengan yang lain.
Perbedaan
usia juga mempengaruhi motivasi. Orang tua memilki motivasi yang berbeda dengan
anak-anak dalam kehidupannya. Anak dalam usia sekolah lebih mengedepankan
motivasi dalam belajar yang lebih dominan. Sedangkan motivasi yang lain
bersifat pelengkap.
Motivasi
belajar merupakan segala sesuatu yang dapat menumbuhkan ke-inginan seseorang
sehingga orang tersebut melakukan kegiatan belajar. Keinginan antara orang yang satu dengan yang
lain tidak selalu sama, meskipun kegiatan yang dilakukan bisa sama, yaitu
belajar. Motivasi untuk belajar dapat
berasal dari dalam diri sendiri maupun yang berasal dari luar diri
sendiri.
Motivasi
belajar akan menumbuhkan minat belajar. Minat belajar anak harus dapat
ditumbuhkan dalam setiap proses belajar mengajar. Minat belajar yang tinggi
akan sangat berpengaruh terhadap peran serta atau aktifitas anak dalam
mengikuti kegiatan belajar mengajar. Proses membangkitkan minat belajar,
mem-pertahankan minat belajar dan mengontrol minat belajar menjadi bagian yang
sangat penting dalam proses belajar mengajar. Jadi tanpa motivasi belajar yang memadai,
sangat sulit bagi pihak-pihak yang terkait dengan pembelajaran untuk dapat
men-capai tujuan yang diharapkan.
Minat
belajar anak dapat dibangkitkan atau ditumbuhkan dengan berbagai cara. Di rumah
peran orang tua sangat besar dalam membangkitkan minat belajar anak. Kepedulian
orang tua terhadap motivasi belajar anak dapat berupa penyediaan sarana belajar
yang memadai, penciptaan kondisi yang
kondusif, selalu bertanya tentang pelajaran di sekolah, dan sebagainya.
Minat
belajar anak juga dapat ditumbuhkan di lingkungan sekolah mela-lui kegiatan
belajar mengajar. Peran guru dan pihak sekolah sangat besar dalam me-numbuhkan
minat belajar pada anak. Dalam kegiatan belajar selalu ada interaksi antara
guru dengan anak didik. Anak didik harus
memiliki motivasi belajar yang tinggi agar kegiatan belajar mengajar dapat
berjalan dengan baik, sesuai dengan harapan bersama. Namun jika motivasi anak didik sangat rendah,
maka sangat sulit untuk dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Untuk itu
penyediaan sarana belajar yang memadai dan lingkungan sekolah yang kondusif
menjadi tugas pihak sekolah.
Dalam kondisi
motivasi belajar anak didik yang rendah, maka peran guru dan pihak lain yang
terkait baik langsung maupun tidak langsung, sangat diharapkan agar dapat
meningkatkan motivasi belajar anak didik.
Peran guru sangat besar dalam menumbuhkan mituvasi belajar pada anak
didik agar dalam menjalankan tugasnya dapat berhasil dengan baik. Disebutkan oleh Soetomo (1993: 141),
“Pengertian dan penggunaan yang tepat dari teknik-teknik motivasi akan
menimbulkan minat, moral yang baik, belajar yang efektif, sehingga dengan
demikian anak telah mencapai sesuatu yang realistis”.
Hamalik (1992: 181) menyebutkan bahwa ada 17
prinsip motivasi belajar yang dikembangkan berdasarkan pandangan demokratis,
yaitu:
a. Pujian lebih efektif
dari pada hukuman.
b. Semua siswa mempunyai
kebutuhan psikologis (yang bersifat dasar) yang harus mendapat pemuasan.
c. Motivasi yang berasal
dari dalam individu lebih efektif dari pada motivasi yang dipaksakan dari luar.
d.
Jawaban (perbuatan) yang serasi
(sesuai dengan keingingan) memerlukan usaha penguatan (reinforcement).
e.
Motivasi mudah menjalar dan
menyebar luas terhadap orang lain.
f.
Pemahaman yang jelas tentang
tujuan belajar akan merangsang motivasi.
g.
Tugas-tugas yang bersumber dari
diri sendiri akan menimbulkan minat yang lebih besar untuk mengerjakannya
ketimbang bila tugas-tugas itu dipaksakan oleh guru.
h.
Pujian-pujian yang datangnya dari
luar (external rewards) kadang-kadang
di-perlukan dan cukup efektif untuk merangsang minat yang sebenarnya.
i.
Teknik dan prosedur mengajar yang
bermacam-macam itu efektif untuk meme-lihara minat siswa.
j.
Minat khusus yang dimiliki oleh
siswa berdaya guna untuk mempelajari hal-hal lainnya.
k.
Kegiatan-kegiatan yang dapat
merangsang minat para siswa yang tergolong ku-rang tidak ada artinya bagi para
siswa yang tergolong pandai.
l.
Tekanan dari kelompok siswa
umumnya lebih efektif dalam memotivasi diban-dingkan dengan tekanan atau
paksaan dari orang dewasa.
m.
Motivasi yang tinggi erat
hubungannya dengan kreatifitas siswa.
n.
Kecemasan akan menimbulkan
kesulitan belajar.
o.
Kecemasan dan frustasi dapat
membantu siswa berbuat lebih baik.
p.
Tugas yang terlalu sukar dapat
mengakibatkan frustasi sehingga dapat menuju pada demoralisasi.
q.
Tiap siswa mempunyai tingkat
frustasi dan toleransi yang berlainan.
Jika prinsip-prinsip motivasi tersebut dapat
dilaksanakan dengan baik, maka hasil yang diharapkan juga lebih baik. Namun
perlu disadari bahwa prinsip-prinsip motivasi yang didasarkan pada pendekatan
pendekatan demokratis tidak se-lalu cocok untuk diterapkan dalam segala
situasi. Dalam kondisi tertentu penggunaan pendekatan yang lain juga perlu
diterapkan, yaitu pendekatan terpimpin maupun bebas. Di sini diperlukan
kemampuan untuk membaca situasi, baik situasi ling-kungan maupun situasi
kejiwaan anak didik.
Selanjutnya Hamalik (1992: 184) menjelaskan tentang
pemberian motivasi secara efektif akan dapat
memberikan dampak yang positif
terhadap moti-vasi belajar anak didik. Ada beberapa teknik dalam memberikan motivasi
belajar, yaitu:
a.
Pemberian penghargaan atau
ganjaran. Perlu disadari bahwa
penghargaan yang diberikan adalah bukan tujuan, tetapi merupakan alat yang
dapat mendorong minat belajar secara terus menerus.
b.
Pemberian angka atau grade. Dengan pemberian angka akan
mengukur tingkat keberhasilan anak didik. Namun perlu diperhatikan bahwa jangan
sampai pembe-rian angka justru menimbulkan masalah bagi anak didik.
c.
Pemberian pujian. Pujian harus
dilakukan secara tepat dan melihat situasi dan kondisi pada masing-masing anak
didik.
d.
Berorientasi pada keberhasilan pekerjaan yang mendahuluinya. Pemberian
peker-jaan kepada siswa hendaknya bertumpu pada pekerjaan-pekerjaan yang pernah
dilakukan oleh anak didik dan berhasil dengan baik. Sehingga dapat menum-buhkan minat
untuk mengerjakan lagi.
e. Pembentukan situasi
kompetisi dan kooperasi/kerja sama. Persaingan dapat di-tumbuhkan antar
individu atau personal, antar kelompok, dan persaingan dengan diri sendiri.
Sedangkan kerja sama merupakan dasar dari hubungan-hubungan antar kelompok.
f. Pemberian harapan,
yaitu mengacu pada keberhasilan di masa depan. Dengan harapan-harapan tertentu
akan dapat menumbuhkan minat belajar anak didik.
Dalam
penelitian ini, motivasi belajar siswa dibedakan dalam dua kelom-pok, yaitu
kemandirian belajar siswa dan sikap siswa dalam mengikuti kegiatan
pembelajaran.
a. Kemandirian Belajar
Untuk dapat memiliki kemandirian belajar, maka setiap siswa harus dapat
menciptakan minat belajar pada diri sendiri. DePorter (2005: 51) menyebutkan “Menciptakan
minat adalah cara yang sangat baik untuk memberikan motivasi pada diri anda
demi mencapai tujuan anda”. Apabila minat belajar sudah tumbuh dalam diri
siswa, maka kemandirian belajar akan dapat muncul dengan sendirinya.
Kemandirian belajar dalam penelitian ini meliputi tujuan belajar,
kebutuhan belajar, sumber belajar, strategi belajar, dan hasil belajar. Adapun
indikator tentang kemandirian belajar
siswa adalah sebagai berikut :
Ø
Merumuskan tujuan belajar
Ø
Menyiapkan tempat belajar
Ø
Menyiapkan kebutuhan
belajar
Ø
Mempelajari terlebih dahulu
materi yang akan dipelajari
Ø
Berusaha menyelesaikan
setiap kesulitan yang dihadapi
Ø
Bertanya setiap ada materi
yang belum dipahami
Ø
Selalu mengerjakan tugas
yang diberikan
Ø
Mengerjakan soal-soal
latihan secara mandiri
Ø Berusaha menemukan cara
belajar yang tepat
Ø
Mengevaluasi masteri yang
sudah dipelajari
b. Sikap Siswa
Sikap siswa merupakan tanggapan yang dilakukan oleh siswa terhadap
berbagai komponen yang terdapat dalam kegiatan belajar. Sikap siswa dalam
mengi-kuti kegiatan belajar mengajar dapat dirumuskan dengan indikator sebagai
berikut:
Ø
Materi yang disajikan
Ø
Penggunaan metode
pembelajaran
Ø
Suasana pada saat mengikuti
pelajaran
Ø
Minat saya mengikuti proses
pembelajaran
Ø
Terhadap tugas yang
diberikan
Ø
Cara guru mengajar
Ø
Kesan terhadap model pembelajaran
B. Metode Mengajar
Slameto (1991: 84) menyebutkan bahwa “Mengajar adalah kegiatan
mengorganisasi yang bertujuan untuk membantu dan menggairahkan siswa belajar”.
Mengajar dapat diartikan sebagai proses menyampaikan pengetahuan dan kecakapan
tertentu kepada anak didik. Yang lain menyebutkan bahwa mengajar adalah
mengor-ganisasi lingkungan secara kondusif
sehingga dapat menciptakan bagi siswa untuk melakukan proses belajar
secara efektif.
Mengajar merupakan aktifitas yang dilakukan oleh guru dalam melaku-kan
interaksi dengan siswa. Aktifitas guru dilakukan secara bertahap, diawali
dengan menyusun perencanaan secara menyeluruh tentang segala sesuatu yang akan
dila-kukan pada saat terjadi interaksi dengan siswa dan pemanfaatan
sumber-sumber yang ada untuk mendukung selama kegiatan interaksi dengan siswa
berlangsung. Pada tahap akhir guru masih harus melakukan berbagai kegiatan
yaitu melakukan eva-luasi, menganalisis, dan melakukan pencatatan-pencatatan
terhadap sesuatu yang ter-jadi pada saat interaksi berlangsung.
Pada saat terjadi interaksi dengan siswa, maka guru memilih dan
mela-kukan dengan cara-cara tertentu agar kegiatan interaksi dengan siswa dapat
berjalan dengan kondusif sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai.
Cara-cara yang dilakukan oleh guru dalam melakukan interaksi dengan siswa
tersebut disebut meto-de mengajar.
Metode mengajar memiliki peranan yang sangat penting dalam proses belajar
mengajar. Soetomo (1993: 144)
menyebutkan “ Metode mengajar sebagai suatu alat untuk mencapai tujuan
pengajaran yang ingin dicapai, sehingga semakin baik penggunaan metode mengajar
semakin berhasillah pencapaian tujuan, …”. Penggunaan metode mengajar secara
tepat dapat menumbuhkan minat siswa untuk dapat mengikuti kegiatan belajar
mengajar dengan baik, sehingga kreatifitas anak akan muncul dan berkembang
dengan baik pula. Namun sebaliknya, jika penggunaan metode mengajar ini kurang
tepat, maka akan menjadi tidak bermakna bahkan dapat mematikan kreatifitas
siswa.
Pemilihan metode mengajar sangat tergantung pada situasi
dan kondisi pada saat guru mengajar. Tidak semua metode mengajar selalu tepat
digunakan un-tuk menyampaikan materi pelajaran. Metode mengajar sangat banyak
ragamnya, antara lain: metode ceramah, metode tanya jawab, metode diskusi, metode
pembe-rian tugas, metode bermain peran, metode inkuiri, metode demontrasi,
metode pemecahan masalah. Berbagai
metode tersebut memiliki kelebihan dan keku-rangannya masing-masing.
Dalam Penelitian Tindakan Kelas ini metode yang
digunakan adalah me-tode ‘Tatas’, yaitu penggabungan metode tanya jawab dan
metode pemberian tugas.
1. Metode Tanya Jawab
Metode tanya jawab merupakan cara menyajikan bahan ajar dalam bentuk
pertanyaan-pertanyaan yang memerlukan
jawaban, baik dari guru maupun siswa un-
tuk mencapai
tujuan ( Mulyasa, 2005: 115). Pertanyaan-pertanyaan dapat muncul dari guru
maupun dari siswa. Sedangkan jawaban juga dapat yang berasal dari guru maupun
dari siswa. Masing-masing saling mengisi, baik memberikan pertanyaan maupun
jawaban. Penggunaan metode tanya jawab secara tepat dapat mendorong aktivitas
dan kreativitas berfikir peserta didik.
Dalam penggunaan metode tanya jawab, pertanyaan-pertanyaan yang akan
diajukan kepada anak didik harus sudah dipersiapkan sedemikian rupa, agar
kegiatan belajar mengajar tidak menyimpang dari materi pelajaran yang sedang
diba-has. Soetomo (1993: 151) menjelaskan langkah-langkah yang perlu disiapkan
oleh guru dalam pemberian pertanyaan adalah:
a.
Merumuskan tujuan secara jelas.
b. Mengemukakan alasan
tentang penggunaan metode tanya jawab.
c. Menetapkan
pertanyaan-pertanyaan yang akan diberikan.
d.
Membuat garis besar jawaban dari
setiap pertanyaan.
e. Memberikan kesempatan
kepada siswa untuk bertanya.
Metode tanya jawab akan dapat berhasil dengan baik
apabila dilaksana-kan pada situasi yang tepat dalam proses belajar mengajar.
Soetomo (1993: 151 – 152) menjelaskan bahwa metode tanya jawab tepat digunakan
apabila :
a.
Guru hendak meletakkan hubungan
antara pelajaran yang lalu dengan pelajaran yang baru.
b.
Guru hendak memberikan kesempatan
kepada anak didik menanyakan hal-hal yang belum dimengerti.
c.
Guru melihat keadaan siswa di
kelas semakin kurang tertarik terhadap materi yang disampaikan.
d.
Guru hendak mendorong aktivitas
dan partisipasi peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar.
e.
Guru hendak mengetahui sejauh mana
peserta didik menguasai materi yang telah disampaikan.
Sebagaimana metode mengajar yang lain, metode tanya jawab tidak selalu
baik untuk diterapkan dalam segala situasi.
Untuk itu guru diharapkan benar-benar dapat mengambil keputusan secara
tepat kapan metode tanya jawab digunakan dalam kegiatan belajar mengajar.
Pelaksanaan metode tanya jawab tidak terlepas dari kelebihan dan kekurangannya.
Soetomo (1993: 153) menjelaskan tentang kelebihan dan kelemahan metode tanya
jawab sebagai berikut:
Kelebihan metode
tanya jawab:
a.
Suasana belajar lebih aktif.
b.
Peserta didik memperoleh
kesempatan untuk bertanya tentang materi yang belum dipahami.
c.
Guru dapat mengetahui tingkat
penguasaan peserta didik secara langsung.
d.
Dapat melatih peserta didik untuk
mengemukakan pendapat secara lisan.
Kelemahan
metode tanya jawab antara lain :
a. Pertanyaan yang
disampaikan cenderung menghendaki jawaban yang bersifat hafalan.
b. Penggunaan secara terus menerus lebih mudah
menyimpang dari materi yang sedang dipelajari.
c. Guru sulit mengetahui
secara pasti tentang peserta didik yang tidak mengajukan pertanyaan, apakah
sudah menguasai atau belum.
Berdasarkan uraian tentang
kelebihan dan kelemahan tersebut maka setiap guru yang menggunakan metode Tanya
jawab harus mampu memaksimalkan kelebihan dan meminimalisasikan kekurangan,
sehingga penggunaan metode tanya jawab dapat berhasil sesuai dengan tujuan yang
harapkan.
2. Metode Penugasan/Pemberian
Tugas
Metode pemberian tugas juga
sering diartikan sebagai pekerjaan rumah. Namun sebenarnya metode ini memiliki ruang
lingkup yang lebih luas dari pada pekerjaan rumah. Soetomo (1993: 160)
menyebutkan bahwa “metode pemberian tugas adalah pemberian tugas dari guru
kepada anak-anak untuk diselesaikan dan dipertanggungjawabkan”. Tugas dapat
diberikan di rumah, maupun di sekolah pada saat kegiatan belajar mengajar
berlangsung.
Dalam Kurikulum Berbasis
Kompetensi, pemberian tugas dari guru akan dapat memupuk peserta didik dalam
mengembangkan penalarannya dan melatih siswa untuk belajar secara mandiri,
serta dapat melatih siswa dalam bekerja secara kelompok. Sehingga peranan guru
semakin berkurang, bahkan hanya sebatas sebagai motivator peserta didik dalam
belajar.
Pemberian tugas secara tepat
juga dapat memupuk rasa tanggung jawab peserta didik dalam berbagai kehidupan
yang dialaminya. Setiap tugas selalu menun-tut penyelesaian yang baik, untuk
selanjutnya dipertanggungjawabkan hasilnya kepa-da guru. Kebiasaan seperti ini akan dapat membawa
dampak positif terhadap pola kehidupan
peserta didik di luar kegiatan belajar mengajar maupun di luar sekolah.
Tidak semua situasi selalu
sesuai dengan penggunaan metode pemberian tugas. Metode pemberian tugas ini tepat
digunakan apabila :
a.
Materi yang disampaikan memiliki
keterkaitan yang besar terhadap kehidupan sehari-hari, sehingga melibatkan
beberapa sumber belajar.
b.
Materi pelajaran sangat luas,
sedangkan waktu yang tersedia sangat terbatas.
c. Guru ingin mencari
suatu keterkaitan antara meteri yang disajikan dengan materi-materi yang lain.
Mulyasa (2005: 113) menjelaskan agar
pelaksanaan metode pemberian tugas ini dapat berlangsung secara efektif, maka
guru perlu memperhatikan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Tugas harus
direncanakan secara jelas dan sistematis.
b. Tugas yang diberikan
harus benar-benar sudah dipahami oleh peserta didik.
c. Jika berupa tugas
kelompok, diharapkan bahwa setiap anggota kelompok dapat terlibat secara aktif.
d. Jika memungkinkan,
guru hendaknya mengontrol proses penyelesaian tugas yang diberikan.
e. Guru hendaknya
memberikan penilaian yang proporsional terhadap tugas-tugas yang telah
dikerjakan oleh peserta didik.
Soetomo (1993:161 – 162)
menjelaskan tentang kelebihan dan kelemahan penggunaan metode pemberian tugas
dalam kegiatan belajar mengajar, yaitu sebagai berikut:
Kelebihan metode
pemberian tugas:
Ø Dapat membangkitkan
minat belajar anak.
Ø Dapat memupuk rasa
tanggung jawab.
Ø
Dapat memupuk rasa percaya
diri.
Ø
Dapat mengembangkan
kreatifitas anak didik.
Kelemahan
metode pemberian tugas:
Ø
Guru sulit mengontrol tugas
yang diberikan.
Ø
Sulit mencari tugas yang
dapat menampung perbedaan individu siswa.
Ø
Tugas yang terlalu sulit
akan dapat menurunkan minat belajar siswa.
Agar penggunaan metode pemberian tugas dapat berjalan secara efektif,
maka guru harus mampu menemukan solusi untuk mengatasi kelemahan tersebut,
misalnya: mengontrol tugas yang diberikan secara cermat, memberikan tugas yang berbeda kepada masing-masing
individu atau mengelompokkan siswa yang yang memiliki potensi tertentu untuk
diberikan tugas yang sama. Sehingga tugas tidak me-nyulitkan bagi siswa, tetapi
justru dapat menumbuhkan kesenangan bagi siswa untuk menyelesaikan.
3. Metode ‘Tatas’
Berdasarkan uraian di atas, jika kedua metode tanya jawab dan metode
pemberian tugas dilaksanakan dengan saling mengisi, maka akan dapat digunakan
untuk menyampaikan materi pelajaran secara tepat dan baik. Namun juga perlu
diperhatikan bahwa tidak semua situasi dan kondisi cocok menggunakan kombinasi
kedua metode tersebut. Dalam konteks
ini, penulis berusaha untuk menyusun formula penggabungan kedua metode tersebut
dengan nama metode ‘Tatas’.
Metode ‘Tatas’ adalah metode tanya jawab dan metode pemberian tugas yang
dikemas secara terpadu untuk dapat dilaksanakan dalam kegiatan belajar
me-ngajar dengan situasi dan kondisi tertentu. Metode ‘Tatas’ dapat
dilaksanakan de-ngan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Guru menyusun tujuan
pembelajarn secara rinci.
b. Guru menyusun
pertanyaan beserta dengan jawabannya. Pertanyaan dapat ber-asal dari guru
sendiri maupun yang dijaring dari siswa melalui pemberian tugas. Pertanyaan
yang berasal dari siswa dikemas ulang sedemikian rupa dengan baha-sa yang dapat
dipahami oleh siswa yang lain.
c. Setiap pertanyaan
yang disampaikan harus dijawab minimal oleh dua siswa yang ditunjuk oleh guru.
d. Siswa yang tidak
dapat menjawab dengan benar diberi sangsi secara langsung berupa
mengerjakan/menuliskan jawaban dari pertanyaan tersebut pada lembaran kertas,
minimal dua kali jawaban.
e. Jika jam pelajaran
sudah habis, maka tugas dapat dikerjakan di rumah.
Sedangkan yang dimaksud dengan
situasi dan kondisi tertentu antara lain:
a. Pelajaran diberikan
pada jam pelajaran terakhir.
b.
Kondisi siswa mengantuk, lelah
sehingga kurang bergairah dalam mengikuti ke-giatan belajar mengajar.
c. Siswa sulit untuk
memahami materi pelajaran.
d. Tingkat kecerdasan siswa
relatif rendah.
e. Siswa menganggap
pelajaran tersebut kurang berarti dalam kehidupannya.
Situasi dan
kondisi seperti tersebut di atas dapat dinyatakan sebagai moti-vasi belajar
peserta didik yang rendah. Dengan motivasi belajar yang rendah sangat sulit bagi
siswa untuk dapat menyerap materi pelajaran yang sedang diajarkan, se-hingga
prestasi belajar siswa juga akan rendah.
C. Pelajaran PKn
Pendidikan Kewarganegaraan merupakan salah satu mata pelajaran yang wajib
bagi siswa SD. Lebih lanjut tentang
mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Pengertian, Visi, dan Misi
Pendidikan Kewarganegaraan (PKn)
Pendidikan Kewarganegaraan (Civic
Education) adalah merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada
pembentukan diri yang beragam dari segi agama, sosio – kultural, bahasa, usia, dan
suku bangsa untuk menjadi warga negara Indonesia yang cerdas, terampil, dan
berkarakter yang dilandasi oleh Pancasila dan UUD 1945.
Berdasarkan pengertian
tersebut, maka Pendidikan Kewarganegaraan mempunyai visi yaitu mewujudkan
proses pendidikan yang terarah pada pengem-bangan kemampuan individu sehingga
menjadi warganegara yang cerdas, parti-sipatif, dan bertanggung jawab, yang
pada gilirannya mampu mendukung berkem-bangnya kehidupan masyarakat bangsa dan
negara Indonesia yang cerdas.
Sedangkan untuk dapat
mewujudkan visi tersebut, Pendidikan Kewarga-negaraan mempunyai misi sebagai
berikut :
a. Memanfaatkan
kenyataan dan kecenderungan dalam masyarakat yang semakin transparan, tuntutan
kendali mutu yang semakin mendesak, dan proses demokrasi yang semakin inten dan
meluas sebagai konteks dan orientasi dalam pendidikan demokrasi.
b. Memanfaatkan
substansi berbagai disiplin ilmu yang relevan sebagai wahana pedagogis untuk
menghasilkan dampak instruksional dan pengiringnya berupa wawasan, sikap, dan
ketrampilan kewarganegaraan, sehingga bisa dihasilkan desain kurikulum yang
bersifat interdisipliner.
c. Memanfaatkan berbagai
konsep, prinsip, dan prosedur pembelajaran yang memungkinkan para peserta didik
mampu belajar demokrasi, dalam situasi yang demokratis, dan untuk meningkatkan
mutu kehidupan masyarakat yang lebih demokratis.
2. Tujuan Pembelajaran Pendidikan
Kewarganegaraan
Pelaksanaan pembelajaran untuk
setiap materi pelajaran memiliki karakteristik sendiri-sendiri. Pokok bahasan, siswa, tujuan, dan materi yang
akan disajikan merupakan komponen yang berpengaruh dalam kegiatan
pembelajaran. Agar kegiatan pembelajaran
dapat berjalan secara optimal, maka setiap guru harus dapat memahami
komponen-komponen tersebut secara mendalam. Berdasarkan komponen-komponen
tersebut, guru dapat memilih strategi pembelajaran yang tepat.
Strategi pembelajaran yang
dipilih oleh guru haruslah dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien
sehingga mampu memberikan pengalaman belajar dan memberikan fasilitas kepada
siswa untuk dapat mencapai tujuan
pembelajaran. Dengan strategi pembelajaran yang tepat akan memungkinkan
tercapainya tujuan pembelajaran oleh sebanyak mungkin siswa sesuai dengan
standar yang telah ditentukan.
Strategi pembelajaran
merupakan setiap kegiatan yang dipilih, yang dapat memberikan fasilitas atau
bantuan kepada siswa dalam menuju tercapainya tujuan pembelajaran. Dengan
demikian strategi memiliki makna yang lebih luas dari pada metode mengajar.
Jadi strategi mengandung makna berbagai alternatif kegiatan dan pendekatan yang
dapat dipilih untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Dalam pembelajaran Pendidikan
Kewarganegaraan juga menuntut keca-kapan guru untuk dapat memilih strategi
pembelajaran yang tepat sehingga tujuan pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan
dapat tercapai dengan baik. Secara umum pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan
bertujuan untuk mengembangkan potensi individu warga negara Indonesia sehingga
memiliki wawasan, sikap, dan ketrampilan kewarganegaraan yang memadai, yang
memungkinkan untuk berpar-tisipasi secara cerdas dan bertanggung jawab dalam
berbagai dimensi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara Indonesia.
Berdasarkan tujuan tersebut,
maka pembelajaran Pendidikan Kewargane-garaan diharapkan mampu mengembangkan
kemampuan-kemampuan yang telah di-tetapkan, yaitu sebagai berikut:
a. Berfikir secara
kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isu kewargane-garaan.
b. Berpartisipasi secara
cerdas dan bertanggung jawab, serta bertindak secara sadar dalam kegiatan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
c. Berkembang secara
positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan pada karakter-karakter
masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa-bangsa lain.
d.
Berinteraksi dengan bangsa-bangsa
lain dalam percaturan dunia secara langsung atau tidak langsung dengan
memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.
D. Pengaruh Metode
‘Tatas’ Terhadap Motivasi Belajar
Kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan metode ‘Tatas’ yang disertai
dengan ‘sangsi’ yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi, menuntut persiapan
belajar yang memadai baik oleh guru
maupun siswa. Setiap guru harus sudah siap terhadap materi yang diajarkan,
termasuk juga pengembangan materi jika diperlukan. Kesiapan guru akan sangat
membantu dalam penggunaan metode ‘Tatas’ dalam proses pembelajaran.
Kesiapan guru tidak banyak berarti jika tidak diimbangi dengan kesiapan
siswa dalam melakukan kegiatan belajar mengajar. Dengan pertanyaan-pertanyaan
yang diberikan secara terus menerus, akan memaksa siswa untuk ikut serta secara
aktif dalam proses pembelajaran. Agar siswa secara aktif dan kreatif dalam
mengi-kuti proses pembelajaran, maka setiap siswa dituntut untuk mempersiapkan
diri sebaik-baiknya.
Jika setiap siswa selalu mempersiapkan diri dengan baik dalam mengikuti
kegiatan belajar mengajar, hal ini merupakan bukti bahwa motivasi belajar siswa
semakin meningkat. Diharapkan peningkatan motivasi selalu diikuti dengan
pening-katan minat belajar siswa, baik secara mandiri maupun dalam kegiatan
belajar di sekolah, sehingga dapat membawa dampak pada peningkatan prestasi
belajarnya. Peningkatan prestasi belajar ditandai dengan meningkatnya jumlah
nilai yang di-peroleh oleh siswa pada saat dilakukan evaluasi.
|
|
METODE PENELITIAN
A. Latar Penelitian
Penelitian tindakan
kelas ini dilaksanakan di SDN o1 Kecamatan bawang, Kota bawang, pada kelas I, dalam mata pelajaran
Pendidikan Kewarganegaraan. Penelitian
tindakan kelas ini dilaksanakan dalam tahun pelajaran 2006/2007, semester
genap, bulan Pebruari 2007 sampai dengan
April 2007. Jumlah siswa kelas I sebanyak 38 anak, jumlah siswa kelas I sampai
dengan kelas VI ada 197 anak.
Kelas I merupakan input dari Taman Kanak-kanak, yang
memiliki karakter yang beragam, yaitu berbasis agama dan umum. SDNo1 bawang V ini berada di kawasan
Perumahan, yaitu Perumahan Joyo Grand Malang, tetapi siswanya tidak hanya dari
kawasan Perumahan saja, namun juga berasal dari kampung sekitar,yaitu dono wodho, klawen, dan lain lain.
B. Persiapan Penelitian
Dalam pelaksanaan penelitian
tindakan kelas ini, peneliti melakukan berbagai persiapan dengan
langkah-langkah sebagai berikut:
1. Refleksi awal, peneliti mengidentifikasi
permasalahan motivasi belajar pada siswa
kelas I.
2.
Peneliti merumuskan permasalahan
secara operasional yang relevan dengan rumusan masalah penelitian.
3.
Peneliti merumuskan hipotesis
tindakan. Hipotesis tindakan ini bersifat tentatif, sehingga sangat mungkin
akan mengalami perubahan sesuai dengan keadaan di lapangan.
4.
|
a.
Menetapkan indikator-indikator
desain pembelajaran dengan metode
’Tatas’.
b.
Menyusun rancangan strategi
belajar mengajar dengan metode ’Tatas’.
c.
Menyusun metode dan alat perekam
data yang berupa angket, catatan di lapangan, pedoman analisis, dokumen, dan
catatan harian.
d.
Menyusun rancangan pengolahan
data, baik yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif.
e.
Mempersiapkan penyusunan laporan
hasil dari penelitian tindakan kelas yang dilakukan.
C.
Pelaksanaan Tindakan dan Pengamatan
Pelaksanaan tindakan dan pengamatan dalam penelitian ini
dibagi dalam 2 siklus. Setiap siklus dibagi dalam tiga kali pertemuan. Kegiatan
pelaksanaan tindakan dalam setiap siklus, dibarengi dengan pengamatan yang
dapat dilakukan sebagai berikut:
1.
Guru melaksanakan desain
pembelajaran dengan metode ’Tatas’ yang telah direncanakan.
2. Guru melakukan pembelajaran
dengan metode ‘Tatas’.
3. Guru memberikan
sangsi berupa tugas kepada masing-masing siswa yang belum dapat menjawab
pertanyaan yang diajukan.
4.
Guru mengamati kegiatan siswa
dengan menggunakan alat perekam, pedoman pengamatan serta catatan
lapangan.
5.
Setiap akhir siklus, guru
memberikan kuesioner kepada siswa tentang kemandirian belajar dan kuesioner
tentang sikap siswa terhadap kegiatan pembelajaran.
D. Refleksi
Peneliti mengadakan telaah terhadap data-data hasil penelitian yang telah
dilakukan, melalui: analisis, sintesis, pemaknaan, penjelasan, dan
menyimpulkan. Hasil yang diperoleh
berupa temuan tingkat efektifitas desain pembelajaran dengan metode ‘Tatas’ yang
telah dirancang, dan menginventarisir daftar permasalahan yang muncul di
lapangan, untuk selanjutnya dapat digunakan sebagai dasar untuk melakukan
perencanaan pada kegiatan berikutnya.
E. Instrumen
Penelitian
Dalam penelitian ini ada beberapa instrumen yang digunakan untuk menjaring
data penelitian, yaitu: kuesioner, dokumen, dan catatan lapangan. Instrument
penelitian disusun secara fleksibel dengan harapan agar segala bentuk
permasalahan yang mungkin timbul dapat dieliminir dan dapat dicarikan solusinya
dengan cepat dan tepat.
Instrumen penelitian dalam penelitian tindakan kelas ini berupa:
Instrumen Penelitian
Kuesioner diberikan kepada siswa setelah setiap siklus kegiatan selesai
dilaksanakan. Kuesioner yang diberikan untuk menjaring data tentang motivasi
belajar, dapat berupa kemandirian siswa dan sikap siswa dalam mengikuti
kegiatan belajar mengajar.
Kemandirian siswa dalam belajar dapat dirumuskan dengan indikator sebagai
berikut:
Ø
Merumuskan tujuan belajar
Ø
Menyiapkan tempat belajar
Ø
Menyiapkan kebutuhan
belajar
Ø
Mempelajari terlebih dahulu
materi yang akan dipelajari
Ø
Berusaha menyelesaikan
setiap kesulitan yang dihadapi
Ø
Bertanya setiap ada materi
yang belum dipahami
Ø
Selalu mengerjakan tugas
yang diberikan
Ø
Mengerjakan soal-soal
latihan secara mandiri
Ø Berusaha menemukan
cara belajar yang tepat
Ø
Mengevaluasi materi yang
sudah dipelajari
Kemandirian belajar tersebut diuraikan dalam bentuk pernyataan yang
dituangkan dalam angket kemandirian siswa. Skala penilaian dengan menggunakan
empat (4) titik, yaitu : 1 = tidak pernah;
2 = jarang; 3 = sering; 4 = selalu (lihat lampiran 1).
Untuk mengetahui tingkat kemandirian belajar siswa dalam
kegiatan be-lajar mengajar menggunakan kriteria sebagai berikut:
Tabel 3.1 : Klasifikasi Penilaian Kemandirian Belajar
Siswa
No
|
Prosentase
|
Klasifikasi
|
1
|
0
– 50
|
Tidak mandiri
|
2
|
51
– 65
|
Kurang mandiri
|
3
|
66
– 85
|
Mandiri
|
4
|
86
– 100
|
Sangat mandiri
|
Angket juga digunakan untuk menjaring data yang berupa sikap siswa. Sikap
siswa dalam kegiatan belajar mengajar dapat dirumuskan dengan indikator
pernyataan sebagai berikut:
a.
Materi yang disajikan
b.
Penggunaan metode pembelajaran
c.
Suasana pada saat mengikuti
pelajaran
d.
Minat saya mengikuti proses
pembelajaran
e.
Terhadap tugas yang diberikan
f.
Cara guru mengajar
g.
Kesan terhadap model pembelajaran
Sedangkan
skala penilaian yang digunakan adalah: skor 1 = tidak senang; skor 2 = kurang
senang; skor 3 = senang; skor 4 = sangat senang (lihat lampiran 2).
Untuk
mengetahui sikap siswa dalam kegiatan belajar mengajar menggu-nakan kriteria
sebagai berikut:
Tabel
3.2 : Klasifikasi Penilaian Sikap Siswa
No
|
Prosentase
|
Klasifikasi
|
1
|
0
– 50
|
Tidak senang
|
2
|
51
– 65
|
Kurang senang
|
3
|
66
– 85
|
Senang
|
4
|
86
– 100
|
Sangat senang
|
2. Dokumentasi
Dokumentasi dilakukan untuk memperoleh data yang berupa nilai hasil
belajar siswa. Hasil belajar ini hanya digunakan sebagai pelengkap dan
sekaligus untuk mengetahui kemajuan hasil belajar siswa. Nilai hasil belajar
selanjutnya disebut sebagai prestasi belajar siswa. Prestasi belajar siswa
dijaring melalui evaluasi pada saat sebelum pelaksanaan tindakan, setelah
siklus I, dan setelah siklus II.
Siswa disebut memiliki prestasi belajar atau berhasil dalam proses
kegiatan belajar mengajar apabila masing-masing siswa telah memperoleh nilai
minimal 75. Sedangkan secara klasikal disebut berhasil atau tuntas belajar
apabila minimal 85 % dari siwa telah memperoleh nilai minimal 75.
3. Wawancara
Untuk melengkapi informasi tentang pelaksanaan pembelajaran, parti-sipasi
siswa, perlu dilakukan wawancara. Kegiatan wawancara digunakan sebagai
triangulasi data, biasa disebut ‘cross
check,’ apabila terdapat hal-hal yang kurang jelas dalam proses pengamatan
maupun dalam pengisian angket.
4. Catatan Lapangan
Pencatatan lapangan dilakukan dengan jalan mencatat berbagai kejadian
yang dianggap penting pada saat kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung,
dan data tersebut belum terekam oleh instrumen yang lain. Dengan demikian diharapkan tidak ada data
penting yang terlewatkan dalam kegiatan penelitian ini.
F. Teknik
Analisis Data
Teknik analisis data menggunakan teknik analisis data interaktif. Secara garis besar kegiatan analisis data
dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1.
Menelaah seluruh data yang
dikumpulkan. Penelaahan dilakukan dengan
cara menganalisis, mensintesis, memaknai, menerangkan, dan membuat
kesimpulan. Kegiatan penelaahan pada
prinsipnya dilaksanakan sejak awal penjaringan data.
2.
Mereduksi data yang didalamnya
melibatkan kegiatan pengkategorian dan pengklasifikasian. Hasil yang diperoleh
dapat berupa pola-pola dan kecenderungan-kecenderungan yang terjadi dalam
pelaksanaan pembelajaran dengan metode ‘Tatas’.
3.
Menyusun keterkaitan atau pengaruh
dari metode ‘Tatas’ dengan motivasi belajar siswa.
4.
Menyusun kesimpulan dari
keterkaitan atau pengaruh yang ada.
G. Penyiapan
Partisipan
Agar pelaksanaan kegiatan pembelajaran dapat berjalan dengan lancar, maka
perlu ada penyiapan terhadap partisipan. Metode ‘Tatas’ tidak akan dapat
dilakukan secara efektif bila tidak melalui persiapan yang matang. Konsep dan
kondisi siswa harus benar-benar sudah siap. Penjelasan tentang tugas
masing-masing siswa dalam kegiatan belajar mengajar harus jelas.
Dengan kondisi yang benar-benar sudah siap, diharapkan kegiatan belajar
mengajar dapat secara efektif mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan,
yaitu dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Peningkatan motivasi belajar
juga diharapkan dapat membawa dampak pada peningkatan prestasi atau hasil
belajarnya.
|
|
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.
Hasil Penelitian
Hasil penelitian dalam penelitian tindakan kelas ini dibedakan dalam tiga
kegiatan, yaitu (1) pra tindakan, (2) siklus I, dan (3) siklus II
1.
Pra Tindakan
Kegiatan pra tindakan yang dilakukan pada siswa kelas I SDN Merjosari V
menemukan permasalahan yaitu motivasi belajar siswa rendah, sebagaimana
ditunjukkan dalam rekapitulasi hasil kuesioner kemandirian belajar siswa
berikut ini (lihat lampiran 3) :
Tabel 4.1 Rekapitulasi
Angket Kemandirian Belajar Pada Pra Tindakan
Skor
|
Keterangan
|
Jumlah
|
%
|
Skor Mean
|
1
|
Tidak mandiri
|
0
|
0
|
0
|
2
|
Kurang mandiri
|
15
|
39,47
|
0,81
|
3
|
Mandiri
|
19
|
50
|
1,59
|
4
|
Sangat mandiri
|
4
|
10,53
|
0,25
|
Jumlah
|
38
|
2,66
|
|
Sedangkan sikap siswa terhadap kegiatan pembelajaran juga kurang baik,
sebagaimana ditunjukkkan oleh table rekapitulasi hasil angket sikap siswa
berikut ini (lihat lampiran 4) :
Tabel 4.2 Rekapitulasi
Angket Sikap Siswa Pada Pra Tindakan
Skor
|
Keterangan
|
Jumlah
|
%
|
Skor Mean
|
1
|
Tidak senang
|
6
|
15,79
|
0.2
|
2
|
Kurang senang
|
15
|
39,47
|
0.8
|
3
|
Senang
|
14
|
36,85
|
1.1
|
4
|
Sangat senang
|
3
|
7,89
|
0.3
|
Jumlah
|
38
|
100
|
2.4
|
Berdasarkan perhitungan dalam rekapitulasi angket sikap siswa tersebut
dapat diketahui bahwa sebagian besar siswa bersikap kurang senang terhadap
ke-giatan belajar mengajar sebagaimana ditunjukkan oleh jumlah skor mean
sebesar 2,4.
Selain berdasarkan hasil analisis data tersebut juga diketahui dari hasil
tes siswa pada pra tindakan (lihat
lampiran 5), bahwa siswa yang sudah tuntas belajar sebesar 17 siswa (44,74%),
dan yang belum tuntas belajar sebesar 21 siswa (55,26 %).
2. Pelaksanaan Tindakan
Siklus I
Pelaksanaan tindakan yang
dilakukan pada siklus I terdiri dari tiga (3) kali pertemuan, yang
masing-masing pertemuan menggunakan
waktu 70 menit. Jadi siklus I
menggunakan waktu 210 menit.
a. Perencanaan
Secara garis besar, rencana tindakan yang akan disajikan dalam siklus I
sebagai berikut:
Tabel
4.3 Rangkuman
Rencana Pelaksanaan Siklus I
No
|
Komponen
|
Waktu
|
Kegiatan
|
1
|
Kegiatan awal
|
15 menit
|
Ø
Guru mengadakan presensi
kelas
Ø
Guru menjelaskan tujuan
pembelajaran
Ø
Guru menjelaskan metode
mengajar yang digunakan
Ø
Guru memotivasi siswa
|
2
|
Kegiatan inti
|
150 menit
|
Ø
Guru memberikan
pertanyaan-pertanyaan yang sudah dipersiapkan.
Ø
Siswa menjawab pertanyaan
setelah ditun-juk oleh guru.
Ø
Guru memberikan tugas
secara langsung maupun tidak langsung terhadap siswa yang belum mampu
menjawab pertanyaan yang diajukan.
Ø
Guru memberikan pertanyan
yang bersifat membimbing.
|
3
|
Kegiatan akhir
|
15 menit
|
Ø
Guru membuat kesimpulan
bersama siswa
|
4
|
Evaluasi
|
30 menit
|
Ø
Guru melaksanakan
evaluasi
|
b. Pelaksanaan/Implementasi
Pelaksanaan tindakan dalam siklus
I dapat diuraikan sebagai berikut:
1) Kegiatan awal (15 menit)
Ø
Guru mengadakan presensi
kelas pada setiap pertemuan dalam siklus
I.
Ø
Guru menjelaskan tujuan
pembelajaran.
Ø
Guru menjelaskan metode
yang digunakan.
Ø
Guru memberikan motivasi
kepada siswa dalam mengikuti kegiatan belajar pada setiap pertemuan.
2) Kegiatan Inti (150 menit)
Ø
Guru menyampaikan
pertanyaan-pertanyaan kepada siswa.
Ø
Setelah ditunjuk oleh guru,
siswa menjawab pertanyaan.
Ø
Setiap pertanyaan dijawab
oleh lebih dari dua siswa.
Ø
Guru memberikan pertanyaan
yang bersifat membimbing kepada siswa yang belum bisa menjawab.
Ø
Guru memberikan tugas
kepada siswa yang belum dapat menjawab perta-nyaan dengan jalan menuliskan
jawaban dari pertanyaan yang diberikan dalam lembaran kertas sebanyak tiga
kali. Menuliskan jawaban tiga kali se-bagai bentuk sangsi bagi siswa.
3) Kegiatan akhir (15 menit)
Ø
Bersama-sama dengan siswa,
guru membuat kesimpulan dari kegiatan yang telah dilakukan.
4) Evaluasi (30 menit)
Ø
Guru mengadakan evaluasi
untuk mengetahui kemajuan belajar siswa pada akhir siklus I.
c.
Pengamatan
Kegiatan pengamatan pada siklus I secara rinci dapat diuraikan sebagai
berikut :
Ø
Pada pertemuan pertama,
pada saat guru menyampaikan tentang penggunaan metode ‘Tatas’ dan ketentuannya,
siswa masih terlihat tegang.
Ø
Pertama kali guru
menyampaikan pertanyaan, sebagian besar siswa juga masih terlihat tegang.
Ø
Setelah beberapa pertanyaan
sudah disampaikan, kondisi siswa sudah mulai terbiasa.
Ø
Pada pertemuan pertama, ada
tujuh siswa yang mendapat sangsi karena belum dapat menjawab pertanyaan dengan
benar.
Ø
Pada pertemuan kedua ada
empat siswa yang mendapat tugas tambahan.
Ø
Pada pertemuan ketiga ada
tiga siswa yang mendapat tugas tambahan.
Ø
Pada pertemuan pertama guru
sering memberikan pertanyaan membimbing, namun dalam pertemuan berikutnya sudah
semakin berkurang.
Ø
Pada pertemuan pertama, pengambilan
kesimpulan masih didominasi oleh guru. Namun pada pertemuan selanjutnya sudah
banyak didominasi oleh siswa.
Selain kondisi-kondisi sebagaimana diuraikan di atas, pada pertemuan
ketiga siklus I juga dilakukan penjaringan data sebagai akumulasi dari
pertemuan pertama sampai dengan pertemuan ketiga, dengan hasil sebagai berikut
:
1) Kemandirian Belajar
Berdasarkan rekapitulasi hasil kuesioner kemandirian belajar siswa, dapat
dilihat dalam tabel berikut ini (lihat lampiran 6) :
Tabel 4.4 Rekapitulasi Angket Kemandirian Belajar
Pada Siklus I
Skor
|
Keterangan
|
Jumlah
|
%
|
Skor Mean
|
1
|
Tidak mandiri
|
0
|
0
|
0
|
2
|
Kurang mandiri
|
11
|
28,95
|
0,56
|
3
|
Mandiri
|
21
|
55,26
|
1,78
|
4
|
Sangat mandiri
|
6
|
15,79
|
0,50
|
Jumlah
|
38
|
2,84
|
Berdasarkan
hasil tersebut, sebagian besar siswa sudah mandiri dalam belajar, yaitu sebesar
55,26% dan 15,79%. Sedangkan skor mean
sudah menunjukkan angka 2,84.
2) Sikap Siswa
Sikap siswa terhadap kegiatan pembelajaran, sebagaimana ditunjukkan oleh
table rekapitulasi hasil angket sikap siswa berikut ini (lihat lampiran 7) :
Tabel 4.5 Rekapitulasi
Angket Sikap Siswa Pada Siklus I
Skor
|
Keterangan
|
Jumlah
|
%
|
Skor Mean
|
1
|
Tidak senang
|
0
|
0
|
0
|
2
|
Kurang senang
|
12
|
31,58
|
0,63
|
3
|
Senang
|
17
|
44,74
|
1,41
|
4
|
Sangat senang
|
9
|
23,68
|
0,88
|
Jumlah
|
38
|
100
|
2.91
|
Berdasarkan perhitungan dalam rekapitulasi angket sikap siswa tersebut
dapat diketahui bahwa sebagian besar siswa sudah merasa senang terhadap
kegiatan belajar mengajar sebagaimana ditunjukkan oleh jumlah skor mean sebesar
2,91.
3) Hasil Belajar
Selain berdasarkan hasil analisis data tersebut juga diketahui dari hasil
tes siswa pada siklus I (lihat lampiran
8), bahwa siswa yang sudah tuntas belajar sebesar 22 siswa (68,75%), dan yang
belum tuntas belajar sebesar 10 siswa (31,25 %). Jadi hasil belajar siswa ada peningkatan
dibandingkan dengan hasil belajar pada pra tindakan.
d. Refleksi
Berdasarkan hasil pengamatan, pengisian angket, dan
hasil evaluasi da-lam siklus I, maka kegiatan pembelajaran dapat direfleksikan
sebagai berikut:
Ø
Kondisi kelas sudah
kondusif, sehingga perlu terus dijaga bahkan diting-katkan lebih baik lagi.
Ø
Sangsi yang diberikan
sering dianggap ringan oleh siswa, sehingga perlu di-pertimbangkan sangsi yang
lebih berat sesuai dengan tingkat kesalahannya.
Ø
Pertanyaan yang bersifat
membimbing sudah baik, sehingga perlu terus diper-tahankan bahkan ditingkatkan.
Ø
Pembuatan rangkuman sudah
didominasi oleh siswa, sehingga guru cukup menjadi fasilitator.
Ø
Kemandirian belajar siswa
cukup baik, yaitu memperoleh skor mean 2,84.
Ø
Sikap siswa semakin baik,
yaitu memperoleh skor mean 2,91.
Ø
Secara klasikal kegiatan
pembelajaran belum tuntas, karena hanya 22 siswa (68,75 %) yang telah
memperoleh nilai 65 atau lebih. Namun sudah ada peningkatan jika dibandingkan
dengan hasil evaluasi pada pra tindakan.
3. Pelaksanaan Tindakan
Siklus II
Pelaksanaan tindakan yang
dilakukan pada siklus II terdiri dari tiga (3) kali pertemuan, yang
masing-masing pertemuan menggunakan
waktu 90 menit. Jadi siklus I
menggunakan waktu 270 menit.
a. Perencanaan
Secara garis besar, rencana tindakan yang akan disajikan dalam siklus II
sebagai berikut:
Tabel
4.6 Rangkuman
Rencana Pelaksanaan Siklus II
No
|
Komponen
|
Waktu
|
Kegiatan
|
1
|
Kegiatan awal
|
15 menit
|
Ø
Guru mengadakan presensi
kelas
Ø
Guru menjelaskan tujuan
pembelajaran
Ø
Guru menjelaskan metode
mengajar yang digunakan
Ø
Guru memotivasi siswa
|
2
|
Kegiatan inti
|
150 menit
|
Ø
Guru memberikan
pertanyaan-pertanyaan yang sudah dipersiapkan.
Ø
Siswa menjawab pertanyaan
setelah ditun-juk oleh guru.
Ø
Guru memberikan tugas
secara langsung maupun tidak langsung terhadap siswa yang belum mampu
menjawab pertanyaan yang diajukan.
Ø
Guru memberikan pertanyan
yang bersifat membimbing.
|
3
|
Kegiatan akhir
|
15 menit
|
Ø
Guru membuat kesimpulan
bersama siswa
|
4
|
Evaluasi
|
30 menit
|
Ø
Guru melaksanakan
evaluasi
|
b. Pelaksanaan/Implementasi
Pelaksanaan tindakan dalam
siklus II dapat diuraikan sebagai berikut:
1) Kegiatan awal (15 menit)
Ø
Guru mengadakan presensi
kelas pada setiap pertemuan dalam siklus
II.
Ø
Guru menjelaskan tujuan
pembelajaran.
Ø
Guru menjelaskan metode
yang digunakan.
Ø
Guru memberikan motivasi
kepada siswa dalam mengikuti kegiatan belajar pada setiap pertemuan.
2) Kegiatan Inti (150 menit)
Ø
Guru menyampaikan
pertanyaan-pertanyaan kepada siswa.
Ø
Setelah ditunjuk oleh guru,
siswa menjawab pertanyaan.
Ø
Setiap pertanyaan dijawab
oleh lebih dari dua siswa.
Ø
Guru memberikan pertanyaan
yang bersifat membimbing kepada siswa yang belum bisa menjawab.
Ø
Guru memberikan tugas
kepada siswa yang belum dapat menjawab perta-nyaan dengan jalan menuliskan
jawaban dari pertanyaan yang diberikan dalam lembaran kertas sebanyak tiga
kali. Menuliskan jawaban tiga kali se-bagai bentuk sangsi bagi siswa.
Ø
Guru memberikan tugas
secara kelompok untuk dikerjakan di rumah.
3) Kegiatan akhir (15 menit)
Ø
Bersama-sama dengan siswa,
guru membuat kesimpulan dari kegiatan yang telah dilakukan.
4) Evaluasi (30 menit)
Ø
Guru mengadakan evaluasi
untuk mengetahui kemajuan belajar siswa pada akhir siklus II.
c.
Pengamatan
Kegiatan pengamatan pada siklus I secara rinci dapat diuraikan sebagai
berikut :
Ø
Kegiatan pembelajaran semakin
kondusif.
Ø
Siswa merasa senang dengan
metode pembelajaran yang digunakan.
Ø
Pada pertemuan pertama, ada
empat siswa yang mendapat sangsi karena belum dapat menjawab pertanyaan dengan
benar.
Ø
Pada pertemuan kedua ada
dua siswa yang mendapat tugas tambahan.
Ø
Pada pertemuan ketiga ada
tiga siswa yang mendapat tugas tambahan.
Ø
Pertenyaan membimbing
semakin efektif digunakan oleh guru.
Ø
Guru sering melontarkan
pertanyaan yang bersifat menggali.
Ø
Pengambilan kesimpulan
sudah didominasi oleh siswa.
Selain kondisi-kondisi sebagaimana diuraikan di atas, pada pertemuan
ketiga siklus II juga dilakukan penjaringan data sebagai akumulasi dari
pertemuan pertama sampai dengan pertemuan ketiga, dengan hasil sebagai berikut
:
1) Kemandirian Belajar
Berdasarkan rekapitulasi hasil kuesioner kemandirian belajar siswa, dapat
dilihat dalam tabel berikut ini (lihat lampiran 9) :
Tabel 4.7 Rekapitulasi Angket Kemandirian Belajar
Pada Siklus II
Skor
|
Keterangan
|
Jumlah
|
%
|
Skor Mean
|
1
|
Tidak mandiri
|
0
|
0
|
0
|
2
|
Kurang mandiri
|
7
|
18,42
|
0,31
|
3
|
Mandiri
|
20
|
52,63
|
1,69
|
4
|
Sangat mandiri
|
11
|
28,95
|
1,13
|
Jumlah
|
38
|
3,13
|
Berdasarkan
hasil tersebut, sebagian besar siswa sudah mandiri dalam belajar, yaitu sebesar
52,63% mandiri dan 28,95% sangat mandiri.
Sedangkan skor mean sudah menunjukkan angka 3,13.
2) Sikap Siswa
Sikap siswa terhadap kegiatan pembelajaran, sebagaimana ditunjukkan oleh
table rekapitulasi hasil angket sikap siswa berikut ini (lihat lampiran 10) :
Tabel 4.8 Rekapitulasi
Angket Sikap Siswa Pada Siklus II
Skor
|
Keterangan
|
Jumlah
|
%
|
Skor Mean
|
1
|
Tidak senang
|
0
|
0
|
0
|
2
|
Kurang senang
|
5
|
13,15
|
0,19
|
3
|
Senang
|
19
|
50
|
1,59
|
4
|
Sangat senang
|
14
|
36,85
|
1,50
|
Jumlah
|
38
|
100
|
3,28
|
Berdasarkan perhitungan dalam rekapitulasi angket sikap siswa tersebut
dapat diketahui bahwa sebagian besar siswa sudah merasa senang terhadap
kegiatan belajar mengajar, yaitu 50 % senang dan 36,85 % sangat senang.
Sedangkan jumlah skor mean sebesar 3,28.
3) Hasil Belajar
Selain berdasarkan hasil analisis data tersebut juga diketahui dari hasil
tes siswa pada siklus II (lihat lampiran
11), bahwa siswa yang sudah tuntas belajar sebesar 28 siswa (87,50%), dan yang
belum tuntas belajar sebesar 4 siswa (12,5 %).
Secara klasikal kegiatan belajar mengajar sudah tuntas belajar, karena
yang memperoleh nilai 65 atau lebih telah mencapai jumlah lebih dari 85 %.
d. Refleksi
Berdasarkan hasil pengamatan, pengisian angket, dan
hasil evaluasi da-lam siklus II, maka kegiatan pembelajaran dapat direfleksikan
sebagai berikut:
Ø
Kondisi siswa sudah dapat
menyesuaikan dengan metode yang digunakan.
Ø
Guru dapat melakukan
kegiatan lebih baik.
Ø
Pembuatan rangkuman sudah
didominasi siswa.
Ø
Kemandirian belajar siswa
sudah baik, yaitu memperoleh skor mean 3,13.
Ø
Sikap siswa juga sudah
baik, yaitu memperoleh skor mean 3,28.
Ø
Secara klasikal kegiatan
pembelajaran sudah tuntas, karena 28 siswa (87,50%) telah memperoleh nilai 65 atau lebih.
B. Pembahasan
Keseluruhan
Berdasarkan hasil observasi, pengisian angket oleh siswa, dan hasil tes
yang dilakukan pada pra tindakan, siklus I dan siklus II, maka dapat diuraikan
sebagai berikut:
1. Kemandirian Belajar Siswa
Berdasarkan hasil angket tentang kemandirian siswa yang dilakukan pada
pra tindakan, siklus I dan siklus
II (lihat lampiran 3, lampiran 6 dan
lampiran 9), maka dapat diketahui
sebagaimana dalam tabel berikut ini:
Tabel
4.9 Perbandingan
Kemandirian Siswa Pra Tindakan, Siklus I dan Siklus II
Skor
|
Kualifikasi
|
Pra
Tindakan
|
Siklus
I
|
Siklus II
|
||||||
Jml
|
%
|
Mean
|
Jml
|
%
|
Mean
|
Jml
|
%
|
Mean
|
||
1
|
Tidak mandiri
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
2
|
Kurang mandiri
|
15
|
39,47
|
1,02
|
11
|
28,95
|
0,56
|
7
|
18,42
|
0,31
|
3
|
Mandiri
|
19
|
50
|
1,33
|
21
|
55,26
|
1,78
|
20
|
52,64
|
1,69
|
4
|
Sangat mandiri
|
4
|
10,53
|
0,16
|
6
|
15,79
|
0,50
|
11
|
28,94
|
1,13
|
Jumlah
|
38
|
2,50
|
38
|
2,84
|
38
|
3,13
|
||||
Kemandirian siswa berdasarkan tabel di atas dapat diuraikan bahwa yang
menyebutkan siswa kurang mandiri mengalami penurunan dari 13 siswa (40,63%)
pada pra tindakan, menjadi 9 siswa (28,13 %) pada siklus I, dan menjadi 5 siswa
(15,63%) pada siklus II. Kualifikasi
yang menyebutkan siswa mandiri mengalami kenaikan dari 17 siswa (53,13%) pada
pra tindakan, menjadi 19 siswa (59,38%) pada siklus I, dan menjadi 18 siswa
(56,25%) pada siklus II. Kualifikasi
yang menyebutkan siswa sangat mandiri mengalami kenaikan dari 2 siswa (6,25%)
pada pra tindakan, menjadi 4 siswa (12,50%) pada siklus I, dan menjadi 9 siswa (28,13%) pada siklus II. Sedangkan jumlah mean menunjukkan peningkatan
dari 2,50 pada pra tindakan, menjadi 2,84 pada siklus I, dan menjadi 3,13 pada
siklus II.
2. Sikap
Siswa
Berdasarkan hasil angket tentang sikap siswa yang dilakukan pada pra
tidakan, siklus I, dan siklus II (lihat lampiran 4, lampiran 7 dan lampiran
10), maka dapat diketahui sebagaimana dalam tabel berikut ini:
Tabel 4.10 Perbandingan
Hasil Angket Sikap Siswa Pada Pra Tindakan, Siklus I, dan Siklus II
Skor
|
Kualifikasi
|
Pra
Tindakan
|
Siklus
I
|
Siklus
II
|
||||||
Jml
|
%
|
Mean
|
Jml
|
%
|
Mean
|
Jml
|
%
|
Mean
|
||
1
|
Tidak senang
|
6
|
15,79
|
0,16
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
2
|
Kurang senang
|
15
|
39,47
|
0,81
|
12
|
31,58
|
0,63
|
5
|
9,37
|
0,19
|
3
|
Senang
|
14
|
36,85
|
1,13
|
17
|
44,74
|
1,41
|
19
|
53,13
|
1,59
|
4
|
Sangat senang
|
3
|
7,89
|
0,24
|
9
|
23,68
|
0,88
|
14
|
37,50
|
1,50
|
Jumlah
|
38
|
2,34
|
38
|
2,91
|
38
|
3,28
|
||||
Sikap siswa yang diperoleh dari angket menunjukkan bahwa kualifikasi yang
menyatakan tidak senang mengalami penurunan dari 5 siswa (15,63%) pada pra
tindakan menjadi tidak ada (0) pada siklus I dan siklus II. Kualifikasi yang
menun-jukkan kurang senang menunjukkan penurunan dari 13 siswa (40,63%) pada
pra tindakan menjadi 10 siswa (31,25%) pada siklus I dan menjadi 3 siswa (9,38%)
pada siklus II. Kualifikasi yang
menyatakan senang mengalami kenaikan dari 12 siswa (37,50%) pada pra tindakan
menjadi 15 siswa (46,88%) pada siklus I, dan menjadi 17 siswa (53,13%) pada
siklus II. Kualifikasi yang menyatakan sangat
senang mengalami kenaikan dari 2 siswa (6,25%) pada pra tindakan menjadi 7
siswa (21,88%) pada siklus I, dan menjadi 12 siswa (37,50%) pada siklus
II. Sedangkan jumlah mean menunjukkan
kenaikkan dari 2,34 pada pra tindakan menjadi 2,91pada siklus I, dan menjadi 3,28
pada siklus II.
3. Hasil
Evaluasi
Berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan pada pra tindakan, siklus I, dan
siklus II (lihat lampiran 5, lampiran 8, lampiran 11), maka dapat diketahui
sebagaimana dalam tabel berikut ini:
Tabel
4.11 Perbandingan Hasil Evaluasi
No
|
Kegiatan
|
Tuntas
|
Belum Tuntas
|
||
Jml
|
%
|
Jml
|
%
|
||
1
|
Pra Tindakan
|
23
|
60,52
|
15
|
39,48
|
2
|
Siklus I
|
30
|
78,94
|
8
|
21,05
|
3
|
Siklus II
|
34
|
89,47
|
4
|
10,53
|
Hasil evaluasi menunjukkan terdapat kenaikkan yang tuntas belajar dari 23
siswa (60,52%) pada pra tindakan menjadi 30 siswa (78,94%) pada siklus I, dan
menjadi 34 siswa (89,47%) pada siklus II.
Sedangkan yang belum tuntas belajar mengalami penurunan dari 15 siswa
(39,48%) pada pra tindakan menjadi 8 siswa (21,05%) pada siklus I, dan menjadi
4 siswa (10,53%) pada siklus II.
4. Pembuktian
Hipotesis
Dengan demikian hipotesis tindakan dalam penelitian tindakan kelas ini,
yang menyatakan bahwa “jika metode ‘Tatas’ diterapkan dalam pembelajaran
pelajaran PKn, maka motivasi belajar siswa kelas I SDN 01, Kecamatan bawang
Kota bawang akan meningkat” dapat diterima.
Berdasarkan uraian tersebut dia atas dapat disimpulkan bahwa dengan
pelaksanaan metode ‘Tatas’ dalam kegiatan pembelajaran PKn dapat meningkatkan
kemandirian belajar siswa dan sikap siswa terhadap kegiatan pembelajaran PKn.
Kemandirian belajar dan sikap siswa tersebut merupakan variable dari motivasi
belajar siswa. Jadi dengan penggunaan metode ‘Tatas’ dapat meningkatkan
motivasi belajar pelajaran PKn, khususnya pada siswa kelas I SDN 01 bawang.
Peningkatan motivasi belajar juga dapat membawa dampak positif yaitu meningkatnya
hasil belajar siswa
|
|
PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan hasil penelitian dalam bab
terdahulu dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar PKn pada siswa kelas I SDN
01 bawang, Kecamatan bawang Kota batang, dapat meningkat dengan penerapan
metode ‘Tatas’. Peningkatan motivasi belajar siswa, yang terdiri atas
kemandirian belajar siswa dan sikap siswa, dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Kemandirian Belajar Siswa
Kemandirian belajar siswa berdasarkan hasil penelitian ini dapat
diurai-kan sebagai berikut:
a.
Siswa kurang mandiri mengalami
penurunan dari 15 siswa (39,47%) pada pra tindakan, menjadi 11 siswa (28,95%)
pada siklus I, dan menjadi 7 siswa (18,42%) pada siklus II.
b.
Siswa mandiri mengalami kenaikan
dari 19 siswa (50%) pada pra tindakan, menjadi 21 siswa (55,26%) pada siklus I,
dan menjadi 20 siswa (52,63%) pada siklus II.
c.
|
d.
Jumlah rata-rata atau mean menunjukkan
peningkatan dari 2,50 pada pra tindakan, menjadi 2,84 pada siklus I, dan
menjadi 3,13 pada siklus II.
2. Sikap Siswa
Sikap siswa yang diperoleh dari hasil pengisian angket dapat diuraikan
sebagai berikut:
a.
Kualifikasi yang menyatakan tidak
senang mengalami penurunan dari 6 siswa (15,79%) pada pra tindakan, menjadi
tidak ada (0) pada siklus I dan siklus II.
b.
Kualifikasi yang menunjukkan
kurang senang ada penurunan dari 15 siswa (39,47%) pada pra tindakan, menjadi
12 siswa (31,58%) pada siklus I dan menjadi 5 siswa (13,15%) pada siklus
II.
c.
Kualifikasi yang menyatakan senang
mengalami kenaikan dari 14 siswa (36,85%) pada pra tindakan, menjadi 17 siswa
(44,74%) pada siklus I, dan menjadi 19 siswa (50%) pada siklus II.
d.
Kualifikasi yang menyatakan sangat
senang mengalami kenaikan dari 3 siswa (7,89%) pada pra tindakan, menjadi 9 siswa
(23,68%) pada siklus I, dan menjadi 14 siswa (36,85%) pada siklus II.
e.
Jumlah rata-rata atau mean
menunjukkan kenaikkan dari 2,34 pada pra tindakan menjadi 2,91 pada siklus I,
dan menjadi 3,28 (82%) pada siklus II.
3. Hasil
Evaluasi
Hasil evaluasi menunjukkan terdapat kenaikkan yang tuntas belajar dari 23
siswa (60,52%) pada pra tindakan, menjadi 30 siswa (78,94%) pada siklus I, dan
menjadi 34 siswa (89,47%) pada siklus II.
Sedangkan yang belum tuntas belajar mengalami penurunan dari 15 siswa (39,48%)
pada pra tindakan menjadi 8 siswa (21,05%) pada siklus I, dan menjadi 4 siswa
(10,53%) pada siklus II.
4. Uji
Hipotesis
Berdasarkan hasil analisis penelitian sebagaimana dijelaskan di atas,
maka hipotesis tindakan yang menyatakan bahwa “jika metode ‘Tatas’ diterapkan
dalam pembelajaran pelajaran PKn, maka motivasi belajar siswa kelas I SDN
01bawang kecamatan bawang, Kabupaten batang, akan meningkat” dapat diterima.
B. Saran-saran
Berdasarkan hasil kesimpulan di atas, dapat disampaikan saran-saran
se-bagai berikut :
1. Bagi Guru
Dengan kondisi tertentu, maka penggunan metode ‘Tatas’ dapat
mening-katkan motivasi belajar siswa. Kepada para guru diharapkan memiliki
kemauan dalam mengembangkan kegiatan belajar mengajar agar dapat menumbuhkan
motivasi belajar siswa.
2. Bagi Sekolah dan Kepala
Sekolah
Kepala Sekolah hendaknya dapat mengambil kebijakan ten-tang perlunya
melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) bagi setiap guru, agar prestasi
belajar siswa semakin meningkat. Selain itu Kepala Sekolah hendaknya dapat
mengusahakan agar ketersediaan sarana bagi para guru dalam melaksanakan PTK
terus ditingkatkan.
3. Bagi Siswa
Dengan melaksanakan penelitian tindakan kelas (PTK), dapat mendorong
siswa dalam kegiatan belajar. Sehingga hasil yang diperoleh juga semakin
me-ningkat. Kepada peserta didik hendaknya selalu mempersiapkan diri dalam
mengi-kuti kegiatan belajar mengajar agar prestasi belajarnya semakin
meningkat.
|
|
DePorter, B. & Hernacki, M.
1992. Quantum Learning: unleashing the Genius in You. Diterjemahkan oleh
Alwiyah Abdurrahman. 1999. Bandung:
Kaifa.
Hisyam Zaini, Bermawy Munthe, Sekar Ayu Aryani. 2004. Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta: CTSD.
Mangkunegara, AA. Anwar Prabu. 2001.
Manajemen Sumber Daya Perusahaan.
Bandung: PT
Remaja Rosdakarya Offset.
Miarsa, Yusufhadi. 1995. Peningkatan
Mutu Pendidikan, Jurnal Teknologi Pembelajaran. Malang: IPTPI.
Miftah Toha. 1996. Perilaku
Organisasi, Konsep Dasar dan Aplikasinya. Jakarta: P.T. Raja Grafindo Persada.
Moekijat. 1999. Manajemen
Sumber Daya Manusia, Manajemen Kepegawaian. Bandung: Mandar Maju.
Mulyasa, E.. 2005. Menjadi Guru
Profesional, Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya Offset.
Nazir, Moh. 1988. Metode Penelitian. Jakarta:
Ghalia Indonesia.
Oemar Hamalik. 1992. Psikologi
Belajar dan Mengajar. Bandung:
Sinar Baru.
Saiful Rachman, Yoto, Syarif Suhartadi, Suparti. 2006. Penelitian Tindakan Kelas dan Penulisan
Karya Ilmiah. Surabaya:
SIC Bekerjasama Dengan Dinas P dan K Provinsi Jawa Timur.
Slameto. 1991. Proses Belajar
Mengajar Dalam Sistem Kredit Semester (SKS). Jakarta: Bumi Aksara.
Soetomo. 1993. Dasar-dasar
Interaksi Belajar Mengajar. Surabaya:
Usaha Nasional.
|
|
|
ANGKET KEMANDIRIAN BELAJAR SISWA
Nama :
Nomor :
Tanggal :
Petunjuk : Berilah tanda cek (v) pada kolom skala penilaian sesuai
dengan
keadaan anda.
Keterangan : 1
= tidak pernah 3
= sering
2
= jarang 4
= selalu
No
|
Pernyataan
|
Skala Penilaian
|
|||
1
|
2
|
3
|
4
|
||
1
|
Saya mengetahui tujuan belajar saya
|
||||
2
|
Saya selalu menyusun jadwal belajar
|
||||
3
|
Saya menyiapkan tempat untuk belajar
|
||||
4
|
Saya menyiapkan kebutuhan untuk belajar
|
||||
5
|
Saya selalu mempelajari materi yang akan diajarkan
|
||||
6
|
Saya berusaha menyelesaikan setiap kesulitan belajar
|
||||
7
|
Saya selalu bertanya setiap ada materi yang belum dipahami
|
||||
8
|
Saya selalu mengerjakan tugas yang diberikan
|
||||
9
|
Saya mengerjakan soal-soal latihan secara mandiri
|
||||
10
|
Saya berusaha menemukan cara belajar yang baik bagi saya
|
||||
11
|
Saya selalu mengevaluasi materi yang telah saya pelajari
|
||||
Jumlah
|
|||||
Prosentase
|
|||||
|
|
|
ANGKET SIKAP SISWA
Nama :
Nomor :
Tanggal :
Petunjuk : Berilah tanda cek
(v) pada kolom skala penilaian sesuai dengan keadaan anda.
Keterangan : 1
= tidak senang
2
= kurang senang
3
= senang
4
= sangat senang
No
|
Pernyataan
|
Skala
Penilaian
|
|||
1
|
2
|
3
|
4
|
||
1
|
Saya merasa senang terhadap materi yang diajarkan
|
||||
2
|
Saya merasa senang dengan metode pembelajaran yang digunakan
|
||||
3
|
Suasana pada saat mengikuti pelajaran
|
||||
4
|
Minat saya mengikuti kegiatan belajar
|
||||
5
|
Saya senang terhadap tugas yang diberikan
|
||||
6
|
Saya senang dengan cara guru mengajar
|
||||
7
|
Kesan terhadap model pembelajaran
|
||||
Jumlah
|
|||||
Prosentase
|
|||||
|
LEMBAR PENGAMATAN KEGIATAN GURU
DENGAN METODE ‘TATAS’
Kelas :
Tanggal :
Petunjuk : Berilah tanda cek (v) pada kolom
sesuai dengan hasil pengamatan
Keterangan : 1 = tidak baik 3 = baik
2 = kurang
baik 4 = sangat baik
No
|
Kegiatan Guru
|
Hasil Pengamatan
|
||||
1
|
2
|
3
|
4
|
|||
1
|
Perencanaan Pembelajaran
|
|||||
a. Kesesuaian materi pelajaran dengan kurikulum
|
||||||
b. Guru menyusun pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban
|
||||||
c. Guru menyusun langkah-langkah
pelaksanaan
tindakan
|
||||||
d. Guru menyiapkan sanksi atau
tugas
tambahan terhadap siswa yang
tidak
dapat menjawab pertanyaan
|
||||||
e. Guru menyusun alat penilaian
|
||||||
Jumlah
|
||||||
|
||||||
2
|
Pelaksanaan Pembelajaran
|
|||||
a. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran
|
||||||
b. Guru
menjelaskan penggunaan metode
pembelajaran
|
||||||
c. Guru
memberikan apersepsi
pembelajaran
|
||||||
d. Guru
menggunakan teknik bertanya
dengan tepat
|
||||||
e. Guru
menjawab pertanyaan dengan
benar
|
||||||
f. Guru menggunakan
pertanyaan
membimbing
|
||||||
g. Guru memberikan evaluasi
|
||||||
Jumlah
|
||||||
Prosentase
|
||||||
Bawang, 2007
Observer,
_______________________
|
|
LEMBAR PENGAMATAN SIKAP SISWA
DENGAN METODE ‘TATAS’
Kelas :
Tanggal :
Petunjuk : Berilah tanda cek (v) pada kolom
sesuai dengan hasil pengamatan
Keterangan : 1 = tidak senang 3 = senang
2 = kurang
senang 4 = sangat senang
No
|
Kegiatan Siswa
|
Hasil Pengamatan
|
|||
1
|
2
|
3
|
4
|
||
1
|
Siswa merasa
senang terhadap materi yang diajarkan
|
||||
2
|
Siswa merasa
senang dengan metode pembelajaran yang digunakan
|
||||
3
|
Siswa senang
dengan suasana pada saat mengikuti pelajaran
|
||||
4
|
Minat siswa
mengikuti kegiatan belajar lebih baik
|
||||
5
|
Siswa selalu mengerjakan tugas
yang diberikan
|
||||
6
|
Siswa senang
dengan cara guru mengajar
|
||||
7
|
Siswa memiliki kesan yang baik
terhadap model pembelajaran
|
||||
Jumlah
|
|||||
Prosentase
|
|||||
Rejotangan, 2007
Observer,
|
|
|
|
|
|
|
|
|
REKAPITULASI HASIL ANGKET SIKAP SISWA
PADA PRA TINDAKAN

|
|
|
HASIL PENGAMATAN KEGIATAN GURU SIKLUS I
Kelas :
Tanggal :
Petunjuk : Berilah tanda cek (v) pada kolom sesuai dengan hasil
pengamatan
Keterangan : 1 = tidak baik 3 = baik
2
= kurang baik 4 =
sangat baik
No
|
Kegiatan Guru
|
Hasil Pengamatan
|
|||||
1
|
2
|
3
|
4
|
||||
1
|
Perencanaan Pembelajaran
|
||||||
a. Kesesuaian
materi pelajaran dengan kurikulum
|
Ö
|
||||||
b. Guru
menyusun pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban
|
Ö
|
||||||
c. Guru menyusun langkah-langkah
pelaksanaan tindakan
|
Ö
|
||||||
d. Guru menyiapkan sanksi atau tugas
tambahan terhadap siswa yang tidak
dapat menjawab pertanyaan
|
Ö
|
||||||
e. Guru menyusun alat penilaian
|
Ö
|
||||||
Jumlah
|
19
|
||||||
Prosentase
|
95
|
||||||
2
|
Pelaksanaan Pembelajaran
|
||||||
a. Guru menjelaskan tujuan
pembelajaran
|
Ö
|
||||||
b. Guru menjelaskan penggunaan
metode
pembelajaran
|
Ö
|
||||||
c. Guru memberikan apersepsi
pembelajaran
|
Ö
|
||||||
d. Guru menggunakan teknik
bertanya
dengan tepat
|
Ö
|
||||||
e. Guru menjawab pertanyaan
dengan
benar
|
Ö
|
||||||
f. Guru menggunakan pertanyaan
membimbing
|
Ö
|
||||||
g. Guru memberikan evaluasi
|
Ö
|
||||||
Jumlah
|
23
|
||||||
|
82,14
|
||||||
|
|
HASIL PENGAMATAN SIKAP SISWA SIKLUS I
Kelas :
Tanggal :
Petunjuk : Berilah tanda cek (v) pada kolom sesuai dengan hasil
pengamatan
Keterangan : 1 = tidak senang
2
= kurang senang
3
= senang
4
= sangat senang
No
|
Kegiatan Siswa
|
Hasil
Pengamatan
|
|||
1
|
2
|
3
|
4
|
||
1
|
Siswa merasa
senang terhadap materi yang diajarkan
|
Ö
|
|||
2
|
Siswa merasa
senang dengan metode pembelajaran yang digunakan
|
Ö
|
|||
3
|
Siswa senang
dengan suasana pada saat mengikuti pelajaran
|
Ö
|
|||
4
|
Minat siswa
mengikuti kegiatan belajar lebih baik
|
Ö
|
|||
5
|
Siswa selalu
mengerjakan tugas yang diberikan
|
Ö
|
|||
6
|
Siswa senang
dengan cara guru mengajar
|
Ö
|
|||
7
|
Siswa memiliki
kesan yang baik terhadap model pembelajaran
|
Ö
|
|||
Jumlah
|
20
|
||||
Prosentase
|
71,43
|
||||
|
|
|
REKAPITULASI HASIL ANGKET KEMANDIRIAN SISWA
SIKLUS I

|
|
|
REKAPITULASI HASIL ANGKET SIKAP SISWA
SIKLUS I

|
|
|
HASIL PENGAMATAN KEGIATAN GURU SIKLUS II
Kelas :
Tanggal :
Petunjuk : Berilah tanda cek (v) pada kolom sesuai dengan hasil
pengamatan
Keterangan : 1 = tidak baik 3 = baik
2
= kurang baik 4 =
sangat baik
No
|
Kegiatan Guru
|
Hasil Pengamatan
|
|||||
1
|
2
|
3
|
4
|
||||
1
|
Perencanaan Pembelajaran
|
||||||
a. Kesesuaian
materi pelajaran dengan kurikulum
|
Ö
|
||||||
b. Guru
menyusun pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban
|
Ö
|
||||||
c. Guru menyusun langkah-langkah
pelaksanaan tindakan
|
Ö
|
||||||
d. Guru menyiapkan sanksi atau tugas
tambahan terhadap siswa yang tidak
dapat menjawab pertanyaan
|
Ö
|
||||||
e. Guru menyusun alat penilaian
|
Ö
|
||||||
Jumlah
|
20
|
||||||
Prosentase
|
100
|
||||||
2
|
Pelaksanaan Pembelajaran
|
||||||
a. Guru menjelaskan tujuan
pembelajaran
|
Ö
|
||||||
b. Guru menjelaskan penggunaan
metode
pembelajaran
|
Ö
|
||||||
c. Guru memberikan apersepsi
pembelajaran
|
Ö
|
||||||
d. Guru menggunakan teknik
bertanya
dengan tepat
|
Ö
|
||||||
e. Guru menjawab pertanyaan dengan
benar
|
Ö
|
||||||
f. Guru menggunakan pertanyaan
membimbing
|
Ö
|
||||||
g. Guru memberikan evaluasi
|
Ö
|
||||||
Jumlah
|
26
|
||||||
|
96,29
|
||||||
|
|
HASIL PENGAMATAN SIKAP SISWA SIKLUS II
Kelas :
Tanggal :
Petunjuk : Berilah tanda cek (v) pada kolom sesuai dengan hasil
pengamatan
Keterangan : 1 = tidak senang
2
= kurang senang
3
= senang
4
= sangat senang
No
|
Kegiatan Siswa
|
Hasil
Pengamatan
|
|||
1
|
2
|
3
|
4
|
||
1
|
Siswa merasa senang terhadap materi yang diajarkan
|
Ö
|
|||
2
|
Siswa merasa senang dengan metode pembelajaran yang digunakan
|
Ö
|
|||
3
|
Siswa senang dengan suasana pada saat mengikuti pelajaran
|
Ö
|
|||
4
|
Minat siswa mengikuti kegiatan belajar lebih baik
|
Ö
|
|||
5
|
Siswa selalu mengerjakan tugas yang diberikan
|
Ö
|
|||
6
|
Siswa senang dengan cara guru mengajar
|
Ö
|
|||
7
|
Siswa memiliki kesan yang baik terhadap model pembelajaran
|
Ö
|
|||
Jumlah
|
25
|
||||
Prosentase
|
89,28
|
||||
|
|
|
REKAPITULASI HASIL ANGKET KEMANDIRIAN SISWA
SIKLUS II
|
|
|
REKAPITULASI HASIL ANGKET SIKAP SISWA
SIKLUS II

|
|
|
HASIL EVALUASI PADA PRA TINDAKAN
Catatan :
Ø
Siswa dinyatakan tuntas
belajar apabila memperoleh nilai minimal 65.
Ø
|
|
|
HASIL EVALUASI SIKLUS I

Catatan :
Ø
Siswa dinyatakan tuntas
belajar apabila memperoleh nilai minimal 65.
Ø
|
|
|
HASIL EVALUASI SIKLUS II

Catatan :
Ø
Siswa dinyatakan tuntas
belajar apabila memperoleh nilai minimal 65.
Ø
|
|
|
Soal Tes Siklus I
Petunjuk : Berilah tanda silang
pada salah satu jawaban yang paling benar !
1.
Sistem perekonomian yang menjamin
kebebasan individu secara mutlak melakukan tindakan ekonomi disebut sistem …
a. ekonomi
terpusat c. demokrasi
ekonomi
b. ekonomi
sosial d.
ekonomi kapitalis
2.
Salah satu kebaikan ekonomi
liberal yang paling menonjol adalah …
a. orang
tertantang untuk maju c. menjamin
pendapatan secara merata
b. hak untuk
perorangan diakui d. perusahaan besar
menang bersaing
3.
Kelemahan dalam sistem ekonomi
terpusat adalah …
a. ada campur
tangan pemerintah
b. mematikan
potensi, inisiatif, dan daya kreasi warga negara
c. tidak ada
pengakuan hak milik
d. mendahulukan
kepentingan bersama
4.
Produksi dikerjakan oleh semua
untuk kesejahteraan bersama adalah pengertian dari …
a. demokrasi
ekonomi c. demokrasi
liberal
b. demokrasi
terpimpin d. demokrasi
campuran
5.
Sistem ekonomi yang diterapkan di
era reformasi adalah …
a. kapitalis
b. campuran c. sosialis d. sistem demokrasi kerakyatan
6.
Pemusatan kekuatan ekonomi pada
satu kelompok dapat merugikan masyarakat disebut …
a. monopoli b. etatisme c. liberalisme d. campuran
7.
Salah satu kelemahan sistem ekonoi
sosial adalah …
- kegiatan ekonomi dilakukan oleh masyarakat
- setiap orang tidak diberikan kebebasan berusaha
-
pemerintah memberi kebebasan penuh
106 - pendapatan masyarakat tidak merata
8.
Sistem ekonomi campuran banyak
digunakan di negara-negara …
a. sosialis b.
berkembang c. kapitalis d. terbelakang
9.
Dalam sistem ekonomi kerakyatan,
hak milik perseorangan diakui, akan tetapi pemanfaatan hak milik perseorangan
itu harus …
a. tidak boleh
secara berlebihan c. dalam semangat
kebersamaan
b. dalam jiwa
kekeluargaan d. tidak
bertentangan dengan masyarakat
10. Free fight liberalism tidak boleh muncul dalam sistem demokrasi
ekonomi yang dianut oleh negara kita, karena faham ini akan melahirkan …
a.
kehancuran sistem ekonomi
b.
pemusatan pendapatan
c.
berbagai bentuk pemborosan sumber
ekonomi
d.
bentuk-bentuk eksploitasi terhadap
manusia dan bangsa lain
Soal Tes Siklus II
Petunjuk : Berilah tanda silang
pada salah satu jawaban yang paling benar !
1.
Tiga pilar kekuatan ekonomi Indonesia
yang merupakan sektor usaha formal yaitu ….
a. koperasi b. BUMN c. BUMS d. a, b,
c benar
2.
Di bawah ini merupakan ciri sektor
usaha informal, kecuali …
a.
Proses pembentukannya sangat mudah
b.
Jenis pekerjaannya sangat
bervariasi
c.
Peralatan yang diperlukan sangat
sederhana
d.
Membutuhkan modal cukup besar
3.
Bentuk badan usaha yang memiliki
sekutu aktif dan sekutu pasif adalah …
a. koperasi c, Persekutuan
firma
b. Perseroan
Terbatas d. Persekutuan
Komanditer
4.
Kegiatan produksi, distribusi, dan
konsumsi yang dilakukan oleh pemerintah merupakan peran pemerintah sebagai …
a. pengatur
ekonomi c.
pemungut pajak
b. pelaku
ekonomi d.
pengendali stabilitas
5.
Bentuk badan usaha yang sesuai
dengan pasal 33 ayat 1 UUD 1945 adalah …
a. koperasi b. BUMN c. BUMS d.
Perseroan
6.
Kegiatan pemerintah dalam rangka
melaksanakan distribusi adalah …
a. Bulog
mengatur beras c.
memproduksi semen
b. membeli bahan
bangunan d. membangun jalan dan
jembatan
7.
Di bawah ini merupakan tujuan
distribusi yang dilakukan oleh pemerintah, kecuali …
a. mempercepat
penyaluran barang c.
mengendalikan harga
b. membeli
peralatan kantor d.
memenuhi kebutuhan masyarakat
8.
Suatu usaha mengambil barang yang
telah disediakan oleh alam disebut badan usaha …
a. ekstraktif b. agraris c. industri d.
perdagangan
9.
Di bawah ini merupakan tujuan
pemerintah dalam mengatur kegiatan ekonomi, kecuali …
a. hasil
produksi meningkat c.
kegiatan ekonomi stabil
b. pendapatan
masyarakat meningkat d. kegiatan
ekonomi berjalan baik
10. Pengatur perekonomian secara tidak langsung yang dilakukan oleh
pemerintah melalui …
a. pemberian
insentif c. mengeluarkan berbagai
peraturan
b. regulasi
d. mempekerjakan para pegawai negeri ke berbagai perusahaan
|
|
PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR PKN
DENGAN MENGGUNAKAN METODE ‘TATAS’
PADA SISWA KELAS v
KABUPATEN BATANG
Laporan Penelitian Tindakan Kelas ini
![]() |
PEMERINTAH KABUPATEN TULUNGAGUNG
DINAS PENDIDIKAN
SMP NEGERI 3 NGUNUT
MEI 2007
|
|
PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR PKN
DENGAN MENGGUNAKAN METODE ‘TATAS’
PADA SISWA KELAS IX-A SMPN 3 NGUNUT
KABUPATEN TULUNGAGUNG
Laporan Penelitian Tindakan Kelas ini
disusun sebagai persyaratan dalam
pengusulan Angka Kredit
Oleh :
Drs Izul Haq
NIP. ............................................
PEMERINTAH KABUPATENBATANG
DINAS PENDIDIKAN
SD O1 Bawang
MEI 2007
|
|
1. Judul : Peningkatan Motivasi
Belajar PKn Dengan Menggunakan Metode ‘Tatas’ Pada Siswa Kelas v sd 01 bawang, Kabupaten batang.
2. Identitas Peneliti :
Nama : Drs izul haq.
NIP. :
Jabatan / Gol. : Pembina / IV a
Unit Kerja : Sd 0i , bawang Kabupaten batang
Disetujui dan
disahkan :
Tanggal : 20 Agustus
200
Kepala
Peneliti,
Drs. Dra.
NIP. NIP.
Kepala
Dinas Pendidikan Pengurus
PGRI Kab batang
Kabupate batang Ketua,
Drs. Drs.
NIP. 0986544435566
|
|
|
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah
melimpahkan rahmat, taufik dan hidayah-Nya kepada kami sehingga kami dapat
menyelesaikan penelitian yang berupa penelitian tindakan kelas ini dengan judul
“Peningkatan Motivasi Belajar PKn Dengan Menggunakan Metode ‘Tatas’ Pada Siswa
Kelas v sd 01 bawang, Kabupaten batang”.
Dalam kegiatan penelitian tindakan kelas ini kami memperoleh bantuan,
bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu
kami mengucapkan banyak terima kasih kepada :
1.
Bapak Drs............. , selaku Kepala
Sekolah .......Kabupaten Batang, yang telah memberikan ijin untuk
melakukan kegiatan penelitian.
2.
Semua pihak yang telah membantu
baik secara langsung maupun tidak langsung.
Kami telah berusaha dengan segenap kemampuan untuk dapat melakukan
penelitian tindakan kelas ini sebaik-baiknya.
Namun hasil yang kami capai masih banyak kekurangannya. Untuk itu kami sangat berharap berbagai
tanggapan, kritik, dan saran-saran yang bersifat membangun dari berbagai pihak
demi penyempurnaan hasil penelitian ini.
Semoga hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi semua pihak, terutama
seluruh keluarga besar Sd o1 bawang, Kabupaten batang dan para pembaca
pada umumnya.
batang ,
Mei 2007
Peneliti,
|
|
|
Insiyatun, 2007 “Peningkatan
Motivasi Belajar PKn Dengan Menggunakan Metode ‘Tatas’ Pada Siswa Kelas v sd 01 Bawang Kabupaten Batang”.
Kata Kunci : Motivasi
Belajar, Pelajaran PKn, Metode ‘Tatas’
Tujuan
penelitian tindakan kelas ini adalah untuk meningkatkan motivasi belajar Pendidikan Kewarganegaraan pada siswa
kelas v bawang Kabupaten batang dengan menggunakan Metode
‘Tatas’.
Penelitian
tindakan kelas ini dilaksanakan di sd 01 bawang Kabupaten batang
pada siswa kelas v pada semester genap tahun pelajaran 20062007 Jumlah siswa ada 32 siswa.
Penelitian
tindakan kelas ini dilaksanakan dengan menggunakan dua siklus, sedangkan
masing-masing siklus terdiri dari tiga kali pertemuan.
Data dalam
penelitian ini berupa kemandirian belajar siswa, aktifitas belajar siswa, dan
hasil evaluasi belajar. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan
observasi/pengamatan, angket, dan dokumentasi.
Berdasarkan
hasil analisis menunjukkan bahwa kemandirian belajar siswa, yang menyatakan
kurang mandiri mengalami penurunan dari 13 siswa (40,63%) pada pra tindakan,
menjadi 9 siswa (28,13) pada siklus I, dan menjadi 5 siswa (15,63%) pada siklus
II. Siswa mandiri mengalami kenaikan
dari 17 siswa (53,13%) pada pra tindakan, menjadi19 siswa (59,38%) pada siklus
I, dan menjadi 18 siswa (56,25%) pada siklus II. Siswa sangat mandiri mengalami kenaikan dari
2 siswa (6,25%) pada pra tindakan, menjadi 4 siswa (12,50%) pada siklus I, dan
menjadi 9 siswa (28,13%) pada siklus
II. Sedangkan jumlah rata-rata atau mean
menunjukkan peningkatan dari 2,50 pada pra tindakan, menjadi 2,84 pada siklus
I, dan menjadi 3,13 pada siklus II.
Sedangkan
sikap siswa yang diperoleh dari hasil pengisian angket yang menyatakan tidak
senang mengalami penurunan dari 5 siswa (15,63%) pada pra tindakan menjadi
tidak ada (0) pada siklus I dan siklus II.
Siswa yang menunjukkan kurang senang ada penurunan dari 13 siswa
(40,63%) pada pra tindakan menjadi 10 siswa (31,25%) pada siklus I dan menjadi
3 siswa (9,38%) pada siklus II. Siswa yang menyatakan senang mengalami kenaikan
dari 12 siswa (37,50%) pada pra tindakan menjadi 15 siswa (46,88%) pada siklus
I, dan menjadi 17 siswa (53,23%) pada siklus II. Siswa yang menyatakan sangat senang mengalami
kenaikan dari 2 siswa (6,25%) pada pra tindakan menjadi 7 siswa (21,88%) pada
siklus I, dan menjadi 12 siswa (37,50%) pada siklus II. Jumlah rata-rata atau mean menunjukkan
kenaikkan dari 2,34 pada pra tindakan menjadi 2,91 pada siklus I, dan menjadi
3,28 (82%) pada siklus II.
|
|
|
|
|
|
|
HALAMAN JUDUL ………………………………………………………..
LEMBAR PERSETUJUAN ……… ……………………………………….
KATA PENGANTAR ………………………………………………………
ABSTRAK ……………………………………………………………………..
DAFTAR ISI …………………………………………………………………
DAFTAR TABEL ……………………………………………………………
DAFTAR GAMBAR ………………………………………………………..
DAFTAR LAMPIRAN ……………………………………………………..
BAB
I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah …………………………………………
B. Rumusan Masalah ……………………………………………
C. Tujuan Penelitian ……………………………………………..
D. Hipotesis Penelitian …………………………………………….
E. Manfaat Penelitian …………………………………………….
BAB
II KAJIAN PUSTAKA
A. Motivasi Belajar ……………………………………………….
B. Metode Mengajar ………………………………………..
C. Pelajaran PKn ……………………………………………
D. Pengaruh Metode ‘Tatas’
Terhadap Motivasi Belajar ………….
|
|
|
|
A.
Latar Penelitian …………………………………………
B.
Persiapan Penelitian ………………………………………
C.
Pelaksanaan Tindakan dan
Pengamatan …………………
D.
Refleksi …….. ……………………………………………
E.
Instrumen Penelitian ……………………………………….
F.
Teknik Analisis Data …………………………………………
G.
Penyiapan Partisipan ….…………………………………
BAB
IV HASIL PENELITIAN DAN
PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian ………………………………………………….
B. Pembahasan
Keseluruhan …………………………………….
BAB
V PENUTUP
A. Simpulan
………………………………………………………..
B. Saran-saran
……………………………………………………….
DAFTAR RUJUKAN ……………………………………………………………
|
|
|
Tabel 3.1 : Klasifikasi Penilaian
Kemandirian Belajar Siswa ………………………
Tabel 3.2 : Klasifikasi Penilaian
Sikap Siswa …………………………………..
Tabel 4.1 : Rekapitulasi Angket
Kemandirian Belajar Pada Pra Tindakan ….
Tabel 4.2 : Rekapitulasi Hasil
Angket Sikap Siswa Pada Pra Tindakan ………
Tabel 4.3 : Rangkumann Rencana Pelaksanaan
Siklus I …………………..
Tabel 4.4 : Rekapitulasi Angket
Kemandirian Belajar Siklus I …………….
Tabel 4.5 : Rekapitulasi Hasil
Angket Sikap Siswa Siklus I ……………….
Tabel 4.6 : Rangkumann Rencana
Pelaksanaan Siklus II …..…..………………..
Tabel 4.7 : Rekapitulasi Angket
Kemandirian Belajar Siklus II ……………………..
Tabel 4.8 : Rekapitulasi Hasil
Angket Sikap Siswa Siklus II …………………..
Tabel 4.9 : Perbandingan
Kemandirian Belajar Siswa ………………………
Tabel 4.10 : Perbandingan Hasil
Angket Sikap Siswa ……………………..
Tabel 4.11: Perbandingan Hasil
Evaluasi ………………………………….
|
|
|
|
Gambar 2.1 : Situasi Yang
Termotivasi …………………………………….
|
|
|
|
Lampiran 2 : Angket Sikap
Siswa …………………………………………..
Lampiran 3 : Rekapitulasi Hasil
Kuesioner Kemandirian Belajar ……………………
Lampiran 4 : Rekapitulasi Hasil Angket
Sikap Siswa …………………………
Lampiran 5 : Hasil Evaluasi Pada
Pra Tindakan ………………………….…..
Lampiran 6 : Rekapitulasi Kuesioner
Kemandirian Belajar Siklus I ……………….
Lampiran 7 : Rekapitulasi Hasil
Angket Sikap Siswa Siklus I …………………..
Lampiran 8: Hasil Evaluasi Siklus
I …………………………………………..
Lampiran 9 : Rekapitulasi Kuesioner
Kemandirian Belajar Siklus II ……………….
Lampiran 10 : Rekapitulasi Hasil
Angket Sikap Siswa Siklus II ……………
Lampiran 11 : Hasil Evaluasi Siklus
II ………………..…………………….
|


Tidak ada komentar:
Posting Komentar