Minggu, 25 Maret 2012

tugas kuliah/ makalah hadist mauduq


ILMU HADITS : DEFINISI HADITS MAUDLU

 i

 Maudlu’ [Tadribur-Rawi halaman 178, Al-Ba'tsul-Hatsits halaman 78, dan Taisir Musthalah Hadits halaman 89]

Apabila sebab kecacatan pada perawi itu disebabkan oleh kedustaan atas Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, maka haditsnya dinamakan Maudlu’.



Pengertiannya

Maudlu’ secara bahasa artinya sesuatu yang diletakkan.
Sedangkan menurut istilah adalah : “Sesuatu yang diciptakan dan dibuat-buat lalu dinisbatkan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam secara dusta”.

Hadits ini adalah tingkatan hadits yang paling buruk dan jelek di antara hadits-hadits dla’if lainnya.  Sebagian ulama membagi hadits menjadi empat bagian : shahih, hasan, dla’if, dan maudlu’.  Maka maudlu’ menjadi satu bagian tersendiri.

Hukum Meriwayatkannya

Para ulama sepakat bahwasannya diharamkan meriwayatkan hadits maudlu’ dari orang yang mengetahui kepalsuannya dalam bentuk apapun, kecuali disertai penjelasan akan ke-maudlu’annya, berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam : “Barangsiapa yang menceritakan hadits dariku sedangkan dia mengetahui bahwa itu dusta, maka dia termasuk para pendusta (HR. Muslim).



Bagaimana Mengetahui Hadits Maudlu’

Hadits maudlu’dapat diketahui dengan beberapa hal, antara lain :
  • Pengakuan dari orang yang memalsukan hadits. Seperti pengakuan Abi ‘Ishmat Nuh bin Abi Maryam, yang digelari dengan Nuh Al-Jaami’, bahwasannya ia telah memalsukan hadits-hadits atas Ibnu ‘Abbas tentang keutamaan-keutamaan Al-Qur’an surat per surat; dan seperti juga pengakuan Maisarah bin Abd Rabbih Al-Farisi bahwasannya ia telah memalsukan hadits tentang keutamaan Ali sebanyak tujuh puluh hadits.
  • Apa yang diposisikan sama dengan pengakuannya. Seperti bila seseorang menyampaikan hadits dari seorang syaikh, dan hadits itu tidak diketahui kecuali dari syaikh tersebut, ketika si perawi itu ditanya tentang kelahirannya lalu menyebutkan tanggal tertentu. Setelah diteliti dari perbandingan tanggal tanggal kelahiran perawi dengan tanggal kematian sang syaikh yang diriwayatkan darinya, ternyata perawi dilahirkan sesudah kematian syaikh, atau pada saat syaikh itu meninggal dia masih kecil dan tidak mendapatkan periwayatan.
  • Adanya indikasi pada perawi yang menunjukkan akan kepalsuannya, misalnya seorang perawi Rafidlah dan haditsnya berisi tentang keutamaan ahlul-bait.
  • Adanya indikasi pada isi hadits, seperti : Isinya bertentangan dengan akal sehat, atau bertentangan dengan indera dan kenyataan, atau berlawanan dengan ketetapan agama yang kuat dan terang, atau susunan lafadhnya lemah dan kacau.
Misalnya apa yang diriwayatkan Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dari bapaknya dari kakeknya secara marfu’,“Bahwasannya kapal Nabi Nuh thawaf mengelilingi Ka’bah tujuh kali dan shalat dua raka’at di maqam Ibrahim”.
Motivasi-Motivasi yang Mendorong Melakukan Pemalsuan
  • Cerita-Cerita dan Nasihat
Para tukang cerita ingin menarik perhatian orang awam untuk mengajak mereka kepada kebaikan dan menghindari kemunkaran. Untuk maksud itu mereka memalsukan hadits yang dinisbatkan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dengan tujuan mencari penghidupan dan mendekatkan orang-orang awam dengan riwayat yang aneh. Misalnya : “Barangsiapa yang mengucapkan kalimat Laa ilaaha illallaah, maka Allah menciptakan dari setiap kata itu seekor burung yang paruhnya dari emas dan bulunya dari marjan”. Di antara mereka adalah Maisarah bin Abdir-Rabbih. Ketika ditanya,”Dari mana Anda dapatkan hadits-hadits ini?”. Dia menjawab,”Aku memalsukannya untuk menggembirakan orang”.
  • Membela Suatu Madzhab
Khususnya madzhab kelompok politik pasca terjadinya fitnah. Dan yang paling banyak melakukan kebohongan adalah kelompok Syi’ah Rafidlah. Imam Malik ketika ditanya tentang mereka, beliau mengucapkan,”Jangan mengajak bicara mereka dan jangan meriwayatkan dari mereka, karena mereka para pendusta”. Contoh hadits buatan mereka adalah : “Aku (Muhammad) adalah timbangan ilmu, dan ‘Ali sebagai piringan timbangannya, Hasan dan Husain sebagai benang-benangnya, Fathimah pengaitnya, dan para imam sebagai tiang penimbang amalan orang-orang yang mencintai kami dan orang-orang yang membenci kami”.
Dan kelompok yang paling jauh dari tindakan pemalsuan adalah Khawarij, karena mereka mengkafirkan orang yang melakukan dosa besar, sedangkan dusta termasuk dosa besar. Apalagi dusta terhadap Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.
  • Zindiq
Para pemimpin dan penguasa negeri yang ditaklukan telah tunduk pada kekuasaan Islam, akan tetapi mereka masih memendam rasa kedengkian di dalam hati, namun mereka tidak mampu secara terang-terangan memusuhinya. Akhirnya mereka memalsukan hadits yang berisi kelemahan dan ejekan yang tujuannya merusak agama. Contohnya seperti : “Allah telah menciptakan malaikat dari kedua bulu siku dan dada-Nya”. Dan : “Melihat wajah yang cantik adalah ibadah”.
Dan di antara orang-orang zindiq tersebut adalah Abdul-Karim bin Abi Al-Auja’, yang dibunuh oleh Muhammad bin Sulaiman Al-‘Abbasi gubernur Bashrah. Ketika akan dibunuh Abdul-Karim berkata,”Aku telah memalsukan atas kalian empat ribu hadits, aku haramkan yang halal dan aku halalkan yang haram”. Dan Bayan bin Sam’an Al-Hindi yang dibunuh oleh Khalid bin Abdillah Al-Qusari, kemudian Muhammad bin Sa’id Al-Mashlub yang dibunuh oleh Abu Ja’far Al-Manshur.
  • Mendekatkan Diri kepada Para Penguasa Demi Menuruti Hawa Nafsu Mereka
Seperti kisah Ghiyats bin Ibrahim An-Nakha’I bersama Amirul-Mukminin Al-Mahdi, ketika dating kepadanya dan dia (Al-Mahdi) sedang bermain merpati. Lalu dia (Ghiyats) menyebut hadits dengan sanadnya secara berturut-turut sampai kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bahwasannya beliau bersabda,“Tidak ada perlombaan kecuali anak panah, ketangkasan, atau menunggang kuda atau sayap”. Maka dia menambahkan kata : “atau burung”. Itu dilakukannya untuk menyenangkan Al-Mahdi, lalu Al-Mahdi memberinya sepuluh ribu dirham. Setelah ia berpaling, sang Amir berkata,”Aku bersaksi bahwa tengkukmu adalah tengkuk pendusta atas nama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Lalu beliau (Al-Mahdi) memerintahkan untuk menyembelih merpati tersebut.
Kesalahan Sebagian Ahli Tafsir dalam Menyebutkan Hadits-Hadits Palsu

Sebagian ulama’ tafsir melakukan kesalahan dengan menyebutkan hadits-hadits palsu dalam tafsir mereka tanpa menjelaskan kepalsuanya, khususnya riwayat tentang fadlilah Al-Qur’an surat per surat. Di antara mereka adlah : Ats-Tsa’labi, Al-Wahidi, Az-Zamakhsyari, dan Al-Baidlawi.



Karya-Karya dalam Hadits Maudlu’
  • Al-Maudlu’aat, karangan Ibnul-Jauzi – beliau paling awal menuliskan ilmu ini.
  • Al-La’ali Al-Mashnu’ah fil-Ahaadits Al-Maudluu’ah, karya As-Suyuthi – merupakan ringkasan kitab Ibnul-Jauzi dengan beberapa tambahan.
  • Tanzihusy-Syar’iyyah Al-Marfu’ah ‘anil-Ahaadits Asy-Syani’ah Al-Maudluu’ah, karya Ibnu ‘Iraq Al-Kittani – yang merupakan ringkasan dari kedua kitab tersebut di atas.
  • Silsilah Al-Ahaadits Adl-Dla’iifah wal-Maudluu’ah, karya Al-Albani
Sumber :
Ditulis oleh sahabat baik Abu Al Jauzaa
http://pixel.quantserve.com/pixel/p-18-mFEk4J448M.gif?labels=%2Clanguage.id%2Ctype.wpcom%2Cas

Hadits Maudlu’
by Kolom Hukum on Monday, July 25, 2011 at 2:52pm

Definisi
مَا كَانَ رُوَاتُهُ كَذَّابًا أَوْ مَتَنَهُ مُخَالَفًا لِلْقَوَاعِدِ
Apabila rawinya pendusta atau matannya menyelisihi qaidah [agama].
Penjelasan Definisi;
Rawinya pendusta, maksudnya salah satu rawinya, atau sebagian di antara rawinya dianggap dusta dalam meriwayatkan hadits.
Menyelisihi qaidah maksudnya qaidah syara’ yang telah ditetapkan di dalam kitabullah dan sunnah yang sahih.
Misalnya; hadits yang dikeluarkan oleh al-Khathib al-Baghdadi di dalam Tarikh al-Baghdad, (5/297) dari jalan
مُحَمَّدٌ بْنُ سَلْمَانَ بْنِ هِشَامٍ، حَدَّثَنَا وَكِيْعٌ، عَنِ ابْنِ أَبِي ذِئْبٍ، عَنْ نَافِعٍ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَمَّا أَسْرَى بِي إِلَى السَّمَاءِ: فَصُرْتُ إِلَى السَّمَاءِ الرَّابِعَةِ سَقَطَ فِي حُجْرِي تُفَّاحَةٌ، فَأَخَذْتُهَا بِيَدِيْ، فَانْفَلَقَتْ فَخَرَجَ مِنْهَا حَوْرَاءَ تَقَهْقَهَ، فَقُلْتُ لَهَا: تَكَلَّمِيْ، لِمَنْ أَنْتَ؟ قَالَتْ لِلْمَقْتُوْلِ شَهِيْدًا عُثْمَانَ
Muhammad bin Sulaiman bin Hisyam, Waki’ mengajarkan hadits kepada kami, dari Ibnu Abi Dzi’b, dari Nafi’, dari Abdullah bin Umar ra, ia berkata, Rasulullah saw bersabda, ketika Allah mengisra’kan aku ke langit, aku memasuki langit keempat, punggungku kejatuhan buah apel, lalu ia kuambil dengan tanganku, lalu merekah, dari buah itu keluar bidadari tertawa terbahak-bahak lalu aku tanya ia, “Jawablah, untuk siapakah kamu diciptakan?” bidadari itu berkata; “Untuk yang terbunuh sebagai syahid, yaitu Usman”.
Hadits ini maudlu’, di dalam sanadnya terdapat Muhammad bin Sulaiman bin Hisyam, al-Khathib al-Baghdadi menyatakan bahwa ia telah memalsukan hadits, dan adz-Dzahabi mendustakannya di dalam Mizan al-I’tidal (3/57). Ibnu Adi berkata, “Dia menyambungkan hadits dan mencurinya”.
Contoh lain, Hadits yang dikeluarkan oleh al-Khilal di dalam Fadla-il Syahr Rajab (no. 2) dari jalan sebagai berikut
عَنْ زِيَادُ بْنُ مَيْمُوْنَ، عَنْ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: قِيْلَ يَا رَسُوْلَ اللهِ، لِمَا سُمِّيَ رَجَب؟ لأَنَّهُ بَتَرَجَّبَ فِيْهِ خَيْرٌ كَثِيْرٌ لِشَعْبَانَ وَرَمَضَانَ
Ziyad bin Maimun, dari Anas bin Malik, ia berkata, Wahai Rasulullah, mengapa dinamakan Rajab? Beliau menjawab, “Karena sebagai penghormatan, pada bulan itu merupakan kebaikan yang banyak untuk bulan Sya’ban dan Ramadhan”
Di dalam hadits ini terdapat rawi yang bernama Ziyad bin Maimun al-Fakihi, ia pendusta dan telah mengakui pemalsuannya terhadap hadits Rasulullah saw
Yazid bin Harun berkata, “Dia pendusta”. Abu Dawud berkata, “Aku men-datanginya, lalu ia berkata, Astaghfirullah, aku telah memalsukan hadits-hadits ini.

Hukum meriwayatkan hadits maudlu’
Meriwayatkan hadits maudlu’ hukumnya haram, kecuali untuk memberi contoh. Kalaupun mengeluarkannya, harus disertai illahnya dan penjelasan tentang kepalsuannya, karena dikhawatirkan akan diamalkan oleh orang yang tidak tidak mengetahui kepalsuannya.
Hadits maudlu’ banyak terdapat dalam kitab ar-Raqaiq (kehalusan hati), at-Tarhib wa at-Targhib. Mengamalkan hadits maudlu’ tidak diperbolehkan meskipun sebatas untuk fadha-il al-A’mal. Boleh mengamalkan kandungan hadits maudlu’ apabila bersesuaian dengan salah satu dasar syari’ah. Apabila ada kesesuaian, maka mengamalkannya harus dilandaskan pada dasar syari’ah itu, bukan karena hadits maudlu’. Mengamalkan hadits maudlu’ akan membuka peluang bagi munculnya bid’ah, baik dalam aqidah maupun dalam hukum-hukum fiqh.
http://external.ak.fbcdn.net/safe_image.php?d=AQBixXN6W4Qo2rCk&url=https%3A%2F%2Fblogger.googleusercontent.com%2Ftracker%2F4698017441293881816-7206629245676304732%3Fl%3Dkolom-hukum.blogspot.com
Top of Form
Judul postingan : Makalah tentang hadits maudlu’ / hadis  dusta
Bidang  postingan  : makalah ilmu hadis
……
berikut makalah  tentang ilmu  hadits , yaitu tentang hadits maudlu sebagaimana makalah-makalah keislaman yang diposting dalam blog ini, yang tujuanya untuk sharing ilmiah idep-idep berbagai ilmu biar manfaat kata abah..biara kagak planktonis..hahah..malah ngawur! ayo simak aja ni ni makalah tentang hadistnya.ni juga dari koleksi kuliahan, n lpa sumber tulisanya, kalau berkenan mhon  masukan
………………………..
what  is Hadis Maudlu`??
nih dari penjelasannya gini
Pengertiannya adalah :  Hadis yang dibuat dan dinisbatkan/disandarkan kepada Nabi Muhammad saw. secara dusta.
Kapan mulai ada?
Menurut al-siba`i, bahwa hadis maudlu` pertama kali dibuat oleh kalangan Syi`ah (khususnya gol. Rafidlah)untuk mengkultuskan Ali RA dan keluarganya.
Menurut Ahmad Amin, Ada kemungkinan  hadis ,maudlu` sudah ada sejak masa Nabi sendiri.
Sebab-sebab yang menimbulkannya
- Politik
- Musuh-musuh Islam(Gol. Zindiq)
- Perbedaan kepentingan, serta fanatik terhadap Qabilah, Negara, dan Imam.
- Para Ahli/tukang cerita.
- Cinta kebaikan, tetapi bodoh dalam agama.
- Perbedaan  madzhab dan ilmu kalam.
- Mendekatkan diri kepada penguasa dll.
Sebab politik, terjadi terutama oleh pada Syi`ah, terutama kaum Rafidlah, seperti contoh:

من أراد أن ينظر إلى ادم فى علمه وإلى نوح فى تقواه وإلى إبراهيم فىحلمه وإلى موسى فى هيبته وإلى عيسى فى عبادته فلينظر إلى علي
Sebab musuh-musuh Islam, terutama orang Zindiq, seperti:
•        إن الله إذا اراد أن يخلق نفسه خلق الخيل وأجراها فعرقت فخلق نفسه منها
•        النظر إلى الوجه الجميل عبادة
•        الباذنجان شفاء من كل داء
Sebab fanatik kesukuan., seperti orang Persi mengatakan:
إن الله إذا غضب أنزل الوحي بالعربية وإذا رضي أنزل الوحي بالفارسية
Demikian juga orang Arab membalasnya dengan:
إن الله إذا غضب أنزل الوحي بالفارسية وإذا رضي أنزل الوحي بالعربية
Sebab fanatik kepada imam, misalnya:

سيكون رجل فى أمتي يقال له أبو حنيفة النعمان هو سراج أمتي
سيكون رجل فى أمتي يقال له محمد بن إدريس هو أضر على أمتي من إبليس
Sebab dari tukang cerita, misalnya:

من قال لاإله إلا الله خلق الله من كل كلمة طيرا منقاره من ذهب وريشه من مرجان
Sebab perbedaan madzhab dan ilmu kalam, seperti:
من رفع يديه فى الصلاة فلا صلاة له
أمني جبريل عند الكعبة فجهر ببسم الله الرحمن الرحيم
من قال القران مخلوق فقد كفر
Sebab cinta kebaikan, tetapi bodoh dalam agama, seperti:
حديث فضائل القران سورة سورة
Sebab ingin dekat denngan penguasa, seperti: yang diriwayatkan oleh Ghayats bin Ibrahim kepada khalifah al-Mahdi:
لاسبق إلا فىنصل أوخف أو حافر وزاد فيه أو جناح
Tanda-tanda hadis Maudlu`
Secara garis besar ada dua, yakni
- di dalam sanad
- di dalam matan
Tanda di dalam sanad meliputi:
-        Pengakuan perawi tentang kebohongannya
-         Adanya indikasi yang jelas, seperti pengakuan seorang perawi yang menerima riwayat dari orang tertentu, yang ternyata  dia tidak pernah ketemu.
-         hadis hanya diriwayatkan oleh seorang yang terkenal sebagai pembohong
-         Keadaan perawi ketika meriwayatkan
Tanda hadis Maudlu` di dalam matan, meliputi:
•        Rusaknya matan, dan tidak layak keluar dari lisan Nabi
•        Rusaknya makna
•        Bertentangan dengan Alquran, sunnah mutawatirah dan ijma`.
•        Menceritakan tentang shahabat yang menyembunyikan kenyataan
•        Menyalahi hakekat sejarah yang terjadi pada masa Nabi
•        Sesuai dengan madzhab perawi
•        Memuat tentang amalan sedikit dengan pahala yang terlalu besar
Kerusakan makna  krn bertentangan dengan akal sehat:
ان سفينة نوح طافت بالبيت سبعا وصلت عند المقام ركعتين
Karena bertentangan dengan kaidah umum dalam hukum dan akhlak:
: جور الترك ولا عدل العرب
Karena mengajak kepada syahwat dan kerusakan:
النظر إلى الوجه الحسن يجلي البصر
Karena bertentangan dengan perasaan dan  yang kasat mata:
لا يولد بعد المائة مولود لله فيه حاجة
Karena bertentangan dengan kaidah kedokteran:
الباذنجان شفاء من كل داء
Karena bertentangan dengan akal ttg kemahasucian Allah:
إن الله إذا اراد أن يخلق نفسه خلق الخيل وأجراهافعرقت فخلق نفسه منها
  
Karena bertentangan dengan  sejarah dan sunnatullah:
حديث عوج بن عنق وأن طوله ثلاثة الاف ذراع وان نوحا لما خوفه الغرق قال احملني على قصعتك هذه وان الطوفان لم يصل الى كعبه وأنه كان يدخل يده فى البحر فيلتقط السمكة من قاعه ويشويها قرب الشمس
Karena bertentangan dengan al-Qur’an:
ولد الزنا لايدخل الجنة إلى سبعة أبناء
Bertengan dengan ayat
لاتزر وازرة وزر أخرى
Karena bertentangan dengan hadis mutawatir:
إذا حدثتم عني بحديث يوافق الحق فخذوا به حدثت به ام لم أحدث
ini bertentangan dengan hadis
من كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار
Bertentangan dengan kaidah umum al-Qur’an dan hadis:
من ولد له ولد فسماه محمدا كان هو ومولوده فى الجنة
Karena bertentangan dengan  hakekat sejarah pada masa Nabi:
أن النبي صلعم وضع الجزية  على أهل خيبر ورفع عنهم الكلفة والسحرة بشهادة سعد بن معاذ  وكتابة معاوية بن أبي سفيان
Karena sesuai dengan madzhab perawi:
موافقة لمذهب الراوى: ما قال حبة بن جوين: سمعت عليا قال: عبدت الله مع رسوله قبل أن يعبده أحد من هذه الأمة خمس سنين او سبع سنين
Karena mengandung makna yang kalau benar pasti  diriwayatkan banyak orang:
حديث غذير خم:
ان النبي صلعم فى رجوعه من حجة الوداع جمع الصحبة فى مكان يقال له غذير خم وأخذ بيد علي رض. ووقف به على الصحابة جميعا وهم يشهدون وقال: هذا وصيي وأخي والخليفة من بعدى فاسمعواله واطيعوا
Karena  menjelaskan amalan ringan dengan janji pahala yang terlalu besar:

من صلى الضحى كذا وكذا ركعة اعطي ثواب سبعين نبيا
من قال لااله الا الله خلق الله تعالى طائرا له سبعون الف لسان لكل لسان سبعون الف لغة يستغفرون له


Usaha para ulama dalam menanggulangi hadis maudlu`
•        Mengisnadkan hadis
•        Meneliti hadis dan dengan mengembalikan kepada  sahabat, tabi`in, dan imam-imam hadis.
•        Mengkritisi para perawi
•        Membuat kaidah-kaidah  umum  untuk membedakan hadis dan pembagiannya
Usaha kita sekarang dalam menanggulangi hadis maudlu`
•        Disamping melaksanakan apayng di lakukan ulama’, yakni:
•        Mengisnadkan hadis
•        Meneliti hadis dan dengan mengembalikan kepada  sahabat, tabi`in, dan imam-imam hadis.
•        Mengkritisi para perawi
•        Membuat kaidah-kaidah  umum  untuk membedakan hadis dan pembagiannya
Usaha kita sekarang dalam menanggulangi hadis maudlu`
Kita juga harus melakukan hal-hal sbb.:
-        Harus melakukan sosialisasi kepada masyarakat
-        Menggiatkan penelitian hadis dan sosialisasi hasilnya
-        Berupaya untuk memberikan teguran kepada orang yang menggunakan hadis palsu
-        Mengupayakan regulasi pemberian sanksi kepada penyebar hadis palsu
..jadi kesimpulanya bahwa hadits maudlu merupakan hadits palsu,,alias tidak valid. padahal dizaman sekarang banyak sekali hadits maudlu’ yang di pake untuk menghukumi / dijadikan landasan hukum. kan bahaya..ya gak?






















1
First Page
Previous Page
Next Page

penelitian tindakan kelas fiqih


PTK Fiqih MA Kelas XI IPS


                                     BAB I PENDAHULUBAB I PENDAHULUA
 A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan adalah salah satu faktor yang menentukan kualitas kehidupan bangsa. Penataan pendidikan yang baik mempengaruhi kemajuan suatu bangsa. Untuk mencapai hal itu pendidikan harus adaptif terhadap perkembangan zaman. Salah satu usaha yang dilakukan pemerintah untuk memperbaiki mutu pendidikan nasional adalah dengan penyempurnaan kurikulum, yang istilahnya sudah tidak asing lagi di telinga kita yakni Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

 
Selama ini hasil pendidikan hanya tampak dari kemampuan siswa dalam menghafal fakta-fakta, sehingga mereka seringkali tidak memahami substansi materi yang diperolehnya. Siswa belum mampu menghubungkan antara apa yang mereka pelajari dengan bagaimana pengetahuan itu dipergunakan. Siswa masih kesulitan untuk memahami dan menggunakan sesuatu yang abstrak dan metode ceramah. Mereka sangat butuh konsep-konsep yang berhubungan dengan tempat dan masyarakat umumnya dimana mereka akan hidup dan bekerja


. Ada kecenderungan dalam dunia pendidikan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan secara alamiah.
 Belajar akan lebih bermakna jika anak “mengalami” sendiri apa yang di pelajarinya, bukan “mengetahui”nya.
 Pembelajaran yang berorientasi target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi “mengingat” jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang.
 Dan itulah yang terjadi di kelas-kelas sekolah kita! Termasuk siswa kelas XI IPs MA   suka bawang  kabupaten batang . Metode belajar mereka masih kental dengan teknik menghafal daripada memahami substansi materinya.
 Strategi kontekstual (contextual teaching and learning / CTL) adalah suatu Strategi pengajaran yang dari karakteristiknya memenuhi harapan itu. Sekarang ini pembelajaran dan pengajaran konstektual menjadi tumpuan harapan para ahli pendidikan dan pengajaran dalam upaya “menghidupkan” kelas secara maksimal. Kelas yang “hidup” diharapkan dapat mengimbangi perubahan yang terjadi di luar sekolah yang demikian cepat

. Ada sejumlah alasan mengapa pembelajaran konstektual dikembangkan sekarang ini. Sejumlah alasan tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut:

 1. Penerapan konteks budaya dalam pengembangan silabus,    
     penyusunan buku pedoman guru, dan buku teks akan
     mendorong sebagian besar siswa untuk tetap tertarik dan
     terlibat dalam kegiatan pendidikan.
 2. Penerapan konteks sosial dalam pengembangan silabus,
     penyusunan buku pedoman, dan buku teks yang dapat
     meningkatkan kekuatan masyarakat memungkinkan banyak
     anggota masyarakat untuk mendiskusikan berbagai isu yang
     dapat berpengaruh terhadap perkembangan masyarakat.
 3. Penerapan konteks personal yang dapat meningkatkan
     ketrampilan komunikasi, akan membantu lebih banyak siswa
     untuk secara penuh terlibat dalam kegiatan pendidikan dan
     masyarakat.
 4. Penerapan konteks ekonomi akan berpengaruh terhadap
     peningkatan kesejahteraan social.
 5. Penerapan konteks politik dapat meningkatkan pemahaman
     siswa tentang berbagai isu yang dapat berpengaruh terhadap
     masyarakat (Abdurrahman & Bintoro, 2000: 73).


Oleh karena itu peneliti mencoba untuk meminimalisir problem di atas dengan menerapkan strategi CTL (contextual teaching and learning) dengan metode cooperative learning dengan harapan keaktifan siswa kelas XI IPs MA sunan kalijaga bawang kabupaten batang , terhadap mata pelajaran fiqih semakin meningkat.

 B. Rumusan Masalah

 Guna mempermudah dalam memahami penerapan strategi CTL (contextual teaching and learning) dengan metode cooperative learning, maka penelitian difokuskan pada pertanyaan sebagai berikut:

         1.  Apa yang akan dilakukan untuk mengatasi siswa yang
              masih kental dengan teknik menghafal dan ceramah
              dalam memahami mata pelajaran fiqih ?
         2.  Apakah penerapan strategi CTL (contextual teaching
              and learning) dengan metode cooperative learning dapat
              meningkatkan keaktifan siswa kelas XI IPs MA 
              SUNAN KALI JOGO bawang-batang terhadap
               mata pelajaran fiqih ?

 C. Tujuan Penelitian

  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah penerapan strategi CTL (contextual teaching and learning) dengan metode cooperarive learning dapat meningkatkan keaktifan siswa kelas XI IPs MA SUNAN KALIJAGA bawang-batang terhadap mata pelajaran fiqih.

 D. Hipotesis Penelitian

      1.Jika siswa di kelas dibiasakan belajar dengan metode
         cooperarive learning, maka siswa akan lebih mudah untuk
         memahami mata pelajaran fiqih.
      2.Jika pendekatan CTL dengan metode cooperarive learning
         diterapkan, maka keaktifan siswa kelas XI IPs MA
         SUNAN KALIJOGO bawang-batangterhadap mata
         pelajaran fiqih dapat meningkat.

 E. Manfaat Penelitian

      1. Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi seluruh praktisi
          pendidikan, khususnya bagi: Lembaga MA bawang-
          batang, sebagai bahan evaluasi dan dapat dijadikan
          pedoman dalam meningkatkan mutu pendidikan.
       2. Peneliti, sebagai penambah khazanah keilmuan bagi
           peneliti khususnya dan pembaca pada umumnya,
           sehingga dapat mengembangkan pengetahuan dengan
           wawasan yang lebih luas baik secara teoritis maupun
           secara praktis.
        3.Peneliti lanjutan, sebagai bahan acuan dan tolak ukur jika
           akan diadakan penelitian.
        4. Siswa, diharapkan dengan penelitian ini siswa lebih
            mudah memahami, menghayati dan mengamalkan
            pelajaran yang sudah dipelajarinya
.        5. Guru, diharapkan penelitian ini dapat lebih
             memudahkan guru dalam mengajar, khususnya mata
             pelajaran fiqih

. F. Batasan Masalah

 Mata pelajaran fiqih kelas XI IPs Madrasah Aliyah mencakup banyak kompetensi dasar yang harus dikuasai oleh peserta didik, maka dalam penelitian ini hanya akan dikaji kompetensi dasar yang berhubungan dengan ibadah, waris dan wasiat dsb, dengan menggunakan strategi CTL (contextual teaching and learning) dengan metode cooperarive learning, sehingga diharapkan hasil belajar menjadi semakin meningkat

                         BAB II KAJIAN PUSTAKA
 A. Contextual Teaching And Learning
 1. Latar belakang contextual teaching and learning ( CTL )

 Ada kecenderungan dalam dunia pendidikan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan secara alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak “mengalami” sendiri apa yang di pelajarinya, bukan “mengetahui”nya. Pembelajaran yang berorientasi target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi “mengingat” jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang. Dan itulah yang terjadi di kelas-kelas sekolah kita

. Strategi Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
 Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan dari pada hasil. (Depdiknas, 2002:1)

  2. Hakekat contextual teaching and learning (CTL)

 Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni: konstruktivisme (construktivisme), bertanya (questioning), menemukan (inquiry), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection) dan penilaian sebenarnya (authentic assessment). (Depdiknas 2002:5)
 
 Dalam buku lain disebutkan bahwa strategi konstektual adalah salah satu strategi pembelajaran yang menekankan pentingnya lingkungan alamiah itu diciptakan dalam proses belajar agar kelas lebih “hidup” dan lebih bermakna karena siswa mengalami sendiri apa yang dipelajarinya.
 Strategi konstektual merupakan strategi yang memungkinkan siswa untuk menguatkan, memperluas, dan menerapkan pengetahuan dan ketrampilan akademik mereka dalam berbagai macam tatanan hidup baik di sekolah maupun di luar sekolah. Selain itu, siswa dilatih untuk dapat memecahkan masalah yang dihadapi dalam suatu situasi, misalnya dalam bentuk simulasi dan masalah yang memang ada di dunia nyata. (Nurhadi dkk, 2003:5)

 3. Landasan filosofis contextual teaching and learning (CTL)

 Landasan filosofis CTL adalah konstruktivisme, yaitu filosofi belajar yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar menghafal. Siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan dibenak mereka sendiri, bahwa pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta atau proposisi yang terpisah, tetapi mencerminkan ketrampilan yang dapat diterapkan. Konstruktivisme berakar pada filsafat pragmatis yang digagas oleh John Dewey pada awal abad 20 yang lalu.

 Ciri kelas yang menggunakan pembelajaran CTL adalah sebuah kelas jika telah menerapkan ketujuh komponen CTL, yaitu jika filosofi belajarnya adalah konstruktivisme, selalu ada unsur bertanya, pengetahuan dan pengalaman diperoleh dari kegiatan menemukan, terbentuknya masyarakat belajar, ada modeling yang ditiru dan dilaksanakan penilaian yang sebenarnya. (Depdiknas, 2002:27).

  inilah harapan penulis mengenai ptk ,mudah-mudahan bermanfaat dalam  peningkatan  mutu pembelajaran fiqih.di Madrasah tingkat atas terutama madrasah aliyah sunan kali jaga tempat penulis mengajar .

Rabu, 21 Maret 2012

supervisi clinis


 

 

                                                 Makalah Supervisi Klinis


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang

Perkembangan kebutuhan akan pendidikan membutuhkan beberapa literature tertentu untuk mMakalah Supervisi Klinis

eningkatkan kualitas pemberdayaan SDM dan sarana prasarana. Pendidikan pada era sekarang sudah mampu bergerak mendekati garis kebutuhan yang harus ditempuh, dibanding sebelumnya ketika kedudukan pendidikan hanya sebagai formalitas global.
Menindak semakin luasnya cakupan kebutuhan pendidikan, maka sekolah perlu memperhatikan beberapa aspek yang berhubungan dengan kualitas kinerja guru sebagai pencetak output sekolah yakni siswa. Guru perlu mendapatkan referensi tentang pengembangan pengajaran agar mencapai keberhasilan dalam melaksanakan kurikulum yang berlaku.
Supervisi perlu sekali dilakukan sebagai alat untuk mengetahui proporsi kualitas guru dalam menjalankan kegiatan belajar mengajar. Aspek yang diberikan dalam supervisi yang ada biasanya hanya bersifat umum, karena guru tidak dilibatkan dalam perencanaan pembuatan supervisi padahal nantinya guru mendapatkan follow up dari supervisi yang sudah dilakukan.[1]

B.       Permasalahan
1.      Pengertian Supervisi Klinis
2.      Perbedaan Supervisi Klinis dan Supervisi Pendidikan
3.      Karakteristik Supervisi Klinis
4.      Tujuan Supervisi Klinis
5.      Prinsip-prinsip Supervisi Klinis
BAB II
PEMBAHASAN

A.      Pengertian Supervisi Klinis
Secara umum supervisi klinis diartikan sebagai bentuk bimbingan profesional yang diberikan kepada guru berdasarkan kebutuhannnya melalui siklus yang sistematis. Siklus sistematis ini   meliputi: perencanaan, observasi yang cermat atas pelaksanaan dan pengkajian hasil observasi dengan segera dan obyektif tentang penampilan mengajarnya yang nyata.
Jika dikaji berdasarkan istilah dalam “klinis”, mengandung makna: (1) Pengobatan (klinis) dan (2) Siklus, yaitu serangkaian kegiatan yang merupakan daur ulang. Oleh karena itu makna yang terkandung dalam istilah klinis merujuk pada unsur-unsur khusus, sebagai berikut:
o  Adanya hubungan tatap muka antara pengawas dan guru didalam proses supervisi.
o  Terfokus pada tingkah laku yang sebenarnya didalam kelas.
o  Adanya observasi secara cermat.
o  Deskripsi pada observassi secara rinci.
o  Pengawas dan guru bersama-sama menilai penampilan guru.
o  Fokus observasi sesuai dengan permintaan kebutuhan guru.[2]

B.       Perbedaan Supervisi Klinis dan Supervisi Pendidikan
Ada perbedaan yang diulas dari dua macam supervisi ini yaitu untuk supervisi pendidikan sifatnya lebih umum dan kompleks sehingga format supervisi yang ada lebih luas tidak hanya menyangkut pengajaran saja.
Sedangkan untuk supervisi klinis sifatnya lebih kearah yang khusus dan terbatas pada aspek tertentu yang dibutuhkan dalam pengajaran guru. Supervisi klinis adalah bentuk bantuan profesioanl yang diberikan pada guru berdasarkan kebutuhan dengan beberapa siklus tertentu.
Siklus yang ada pada desain supervisi ini melibatkan guru sebagai target utama, tetapi sesuai dengan kebutuhan yang guru rasakan masih sangat kurang. Ada tiga siklus dalam pelaksanaan supervisi klinis, meliputi pertemuan awal, observasi, dan pertemuan balikan. Aplikasi ini dilakukan dengan beberapa langkah pendekatan oleh guru untuk pelaksanaan supervisi dilapangan.
Seorang supervisor untuk hal ini perlu melakukan kajian ulang tentang segala hal yang dialami guru atau karakteristik guru itu sendiri. Dalam supervisi klinis ada tiga prinsip yang harus diketahui supervisor, yaitu interaktif, demokratif, dan terpusat pada guru (Acheson dan Gall, 1987). Prinsip ini berbeda dengan siklus, dimana prinsip ini menjadi dasar pengetahuan sebelum melakukan supervisi sedangkan siklus hanya dilakukan ketika pelaksanaan supervisi menyangkut format dll.
Selain prinsip itu, kepala sekolah perlu memperhatikan prisnsip tambahan seperti hubungan antara guru dan supervisor sifatnya interaktif daripada direktif, penentuan tindakan dilakukan secara demokratik, terpusat pada guru (pelaksanaa supervisi), pemberian balikan dengan rekaman yang cermat, supervisi bukan instruksi tapi bantuan, supervisi dilakukan sesuai kontrak. Dari perencanaan tersebut, maka supervisi yang akan dilaksanakan supervisor dapat dikatakan sesuai prosedur atau tingkat efektifitasnya tinggi.
Jika disimak dari beberapa fungsi serta tahapan tersebut, maka supervisi yang cocok untuk dilakukan pada guru adalah supervisi klinis bukan supervisi pendidikan, hal ini sesuai dengan kajian proporsi supervisi yang dibutuhkan. Seperti dikatakan Sergivanni dan Starrat dalam buku supervisi klinis Dra. Maisyaroh, M. Pd bahwa supervisi klinis memang berbeda dengan supervisi pendidikan (supervisi non klinis).
Terdapat beberapa perbedaan signifikan antara lain seperti tabel dibawah, No Aspek Supervisi Klinis Supervisi Non Klinis 1 Prakarsa dan tanggung jawab guru supervisor 2 Hubungan supervisor dengan guru Kolegial sederajat dan interaktif Hubungan atasan bawahan yang birokratis 3 Sifat Bantuan demokratis Otoriter 4 sasaran Diajukan guru dengan kajian dan kontrak bersama Sesuai keinginan supervisor 5 Ruang lingkup terbatas luas 6 Tujuan Bimbingan analitik dan deskriptif evaluatif 7 Peran supervisor Banyak bertanya pada guru Banyak memberi tahu dan mengarahkan Dari penjabaran tabel diatas akan memudahkan referensi kepala sekolah dalam menjalankan supervisi.
Kajian-kajian tersebut membuka pemikiran desain supervisi yang perlu dilakukan pada guru untuk keperluan sekolah. Dalam pelaksanaan di sekolah, kebanyakan supervisi yang dilakukan adalah supervisi klinis, ini dikarenakan fungsi utama supervisi klinis lebih mengarah pada kinerja pengajaran guru dibanding dengan konten supervisi pendidikan / non klinis yang cenderung meluas.
Kepala sekolah memang diharapkan dapat membantu kualitas pengajaran guru dengan baik, sehingga peranannya sangat penting sebagai seorang supervisor, terlebih lagi keharusan kepala sekolah untuk memahami konsep supervisi yang akan dijalankan. Secara garis besar, kepala sekolah harus bisa meletakkan bagian mana untuk supervsi klinis dan mana untuk non klinis, serta memahami pula supervisi mana yang akan dilakukan, supervisi klinis atau pendidikan.
Dari hal tersebut akan didapat hasil supervisi yang isinya lebih efektif untuk pengembangan sekolah atau peningkatan kualitas pendidik. Desain supervisi ini menjadi referensi kepala sekolah dalam menentukan kemajuan pendidikan, substansi pendidikan yang menjadi pengembangan metode pendidikan, dan nantinya lebih menuju ke arah hasil output yang berhasil.[3]




C.      Karakteristik Supervisi Klinis
Merujuk pada pengertian yang telah dipaparkan, terdapat beberapa karakteristik supervisi klinis, yaitu:
1.        Perbaikan dalam mengajar mengharuskan guru mempelajari keterampilan intelektual dan bertingkah laku berdasarkan keterampilan tersebut.
2.        Fungsi utama supervisor adalah mengajar keterampilan-keterampilan kepada guru.
3.        Fokus supervisi klinis adalah:
§  Perbaikan cara mengajar dan bukan mengubah kepribadian guru.
§  Dalam perencanaan pengajaran dan analisisnya merupakan pegangan supervisor dalam memperkirakan perilaku mengajar guru.
§  Pada sejumlah keterampilan mengajar yang mempunyai arti penting bagi pendidikan dan berada dalam jangkauan guru.
§  Pada analisis yang konstruktif dan memberi penguatan (reinforcement) pada pola-pola atau tingkah laku yang berhasil daripada “mencela” dan “menghukum” pola-pola tingkah laku yang belum sukses.
§  Didasarkan pada bukti pengamatan dan bukan atas keputusan penilaian yang tidak didukung oleh bukti nyata.
4.        Siklus dalam merencanakan, mengajar dan menganalisis merupakn suatu komunitas dan dibangun atas dasar pengalaman masa lampau.
5.        Supervisi klinis merupakan suatu proses memberi dan menerima informasi yang dinamis dimana supervisor dan guru merupakan teman sejawat didalam mencari pengertian bersama mengenai proses pendidikan.
6.        Proses supervisi klinis terutama berpusat pada interaksi verbal mengenai analisis jalannya pelajaran.
7.        Setiap guru mempunyai kebebasan maupun tanggung jawab untuk mengemukakan pokok-pokok persoalan, menganalisis cara mengajarnya sendiri dan mengembangkan gaya mengajarnya.
8.        Supervisor mempunyai kebebasan dan tanggung jawab untuk menganalisis dan mengevaluasi cara supervisi yang dilakukannya dengan cara yang sama seperti ketika ia menganalisis dan mengevaluasi cara mengajar guru.

D.      Tujuan Supervisi Klinis
1.        Tujuan umum
          Secara umum Supervisi klinis bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan keterampilan mengajar guru di kelas. Hubungan ini supervisi klinis merupakan kunci untuk meningkatkan kemampuan professional guru.
2.        Tujuan khusus
Secara khusus Supervisi klinis bertujuan untuk:
a)        Menyediakan suatu balikan yang objektif dalam kegiatan mengajar yang dilakuakan guru dengan berfokus terhadap:
o  Kesadaran dan kepercayaan diri dalam mengajar.
o  Keterampilan-keterampilan dasar mengajar yang diperlukan.
o  Mendiagnosis dan membantu memecahkan masalah-masalah pembelajaran.
b)        Membantu guru mengembangkan keterampilan dalam menggunakan strategi-strategi pembelajaran.
c)        Membantu guru mengembangkan diri secara terus menerus dalam karir dan profesi mereka secara mandiri.

E.       Prinsip-prinsip Supervisi Klinis
Dalam supervisi klinis terdapat sejumlah prinsip umum yang menjadi landasan praktek, antara lain:
1.        Hubungan antara supervisor dengan guru adalah hubungan kolegial yang sederajat dan bersifat interaktif. Hubungan semacam ini lebih dikenal sebagai hubungan antara tenaga professional berpengalaman dengan yang kurang berpengalaman, sehingga terjalin dialog professional yang interaktif dalam suasana yang intim dan terbuka. Isi dialog bukan pengarahan atau instruksi dari supervisor/pengawas melainkan pemecahan masalah pembelajaran.
2.        Diskusi antara supervisor dan guru bersifat demokratis, baik pada perencanaan pengajaran maupun pada pengkajian balikan dan tindak lanjut. Suasana demokratis itu dapat terwujud jika kedua pihak dengan bebas mengemukakan pendapat dan tidak mendominasi pembicaraan serta memiliki sifat keterbukaan untuk mengkaji semua pendapat yang dikemukakan didalam pertemuan tersebut dan pada akhirnya keputusan ditetapkan atas persetujuan bersama.
3.        Sasaran supervisi terpusat pada kebutuhan dan aspirasi guru serta tetap berada didalam kawasan (ruang lingkup) tingkah laku gurudalam mengajar secara aktual. Dengan prinsip ini guru didorong untuk menganalisis kebutuhan dan aspirasinya didalam usaha mengembangkan dirinya.
4.        Pengkajian balikan dilakukan berdasarkan data observasi yang cermat yang didasarkan atas kontrak serta dilaksanakan dengan segera. Dari hasil analisis balikan itulah ditetapkan rencana selanjutnya.
5.        Mengutamakan prakarsa dan tanggung jawab guru baik pada tahap perencanaan, pengkajian balikan bahkan pengambilan keputusan dan tindak lanjut. Dengan mengalihkan sedini mungkin prakarsa dan tanggung jawab itu ke tangan guru diharapkan pada gilirannya kelak guru akan tetap mengambil prakarsa untuk mengembangkan dirinya.

Prinsip-prinsip supervisi klinis diatas membawa implikasi bagi kedua belah pihak (supervisor dan guru).
a.         Implikasi bagi supervisor antara lain:
o  Memiliki keyakinan akan kemampuan guru untuk mengembangkan dirinya serta memecahkan masalah yang dihadapinya.
o  Memiliki sikap terbuka dan tanggap terhadap setiap pendapat guru.
o  Mau dan mampu memperlakukan guru sebagai kolega yang memerlukan bantuannya.
b.        Implikasi bagi guru antara lain:
o  Perubahan sikap dari guru sebagai seseorang yang mampu mengambil prakarsa untuk menganalisis dan mengembangkan dirinya.
o  Bersikap terbuka dan obyektif dalam menganalisis dirinya.

F.       Prosedur Supervisi Klinis
Prosedur supervisi klinis berlangsung dalam suatu proses berbentuk siklus, terdiri dari tiga tahap yaitu: tahap pertemuan pendahuluan, tahap pengamatan dan tahap pertemuan balikan. Dua dari tiga tahap tersebut memerlukan pertemuan antara guru dan supervisor, yaitu pertemuan pendahuluan dan pertemuan lanjutan.
1.        Tahap Pertemuan Pendahuluan
Dalam tahap ini supervisor dan guru bersama-sama membicarakan rencana tentang materi observasi yang akan dilaksanakan. Tahap ini memberikan kesempatan kepada guru dan supervisor untuk mengidentifikasi perhatian utama guru, kemudian menterjemahkannya kedalam bentuk tingkah laku yang dapat diamati. Pada tahap ini dibicarakan dan ditentukan pula jenis data mengajar yang akan diobservasi dan dicatat selama pelajaran berlangsung. Suatu komunikasi yang efektif dan terbuka diperlukan dalam tahap ini guna mengikat supervisor dan guru sebagai mitra didalam suasana kerja sama yang harmonis.
Secara teknis diperlukan lima langkah utama bagi terlaksananya pertemuan pendahuluan dengan baik, yaitu:
1)        Menciptakan suasana intim antara supervisor dengan guru sebelum langkah-langkah selanjutnya dibicarakan.
2)        Mengkaji ulang rencana pelajaran serta tujuan pelajaran.
3)        Mengkaji ulang komponen keterampilan yang akan dilatihkan dan diamati.
4)        Memilih atau mengembangkan suatu instrumen observasi yang akan dipakai untuk merekam tingkah laku guru yang akan menjadi perhatian utamanya.
5)        Instrumen observasi yang dipilih atau yang dikembangkan dibicarakan bersama antara guru dan supervisor.
2.        Tahap Pengamatan/Observasi Mengajar
Pada tahap ini guru melatih tingkah laku mengajar berdasarkan komponen keterampilan yang telah disepakati dalam pertemuan pendahuluan. Di pihak lain supervisor mengamati dan mencatat atau merekam tingkah laku guru ketika mengajar berdasarkan komponen keterampilan yang diminta oleh guru untuk direkam. Supervisor dapat juga mengadakan observasi dan mencatat tingkah laku siswa di kelas serta interaksi antara guru dan siswa.
Kunjungan dan observasi yang dilaksanakan supervisor bermanfaat untuk mengetahui pelaksanaan pembelajaran sebenarnya. Manfaat observasi tersebut antara lain dapat:
o    Menemukan kelebihan atau kekurangan guru dalam melaksanakan pembelajaran guna pengembangan dan pembinaan lebih lanjut;
o    Mengidentifikasi kendala yang dihadapi dalam melaksanakan suatu gagasan pembaharuan pengajaran;
o    Secara langsung mengetahui keperluan dan kebutuhan masing-masing guru dalam melaksanakan proses belajar-mengajar;
o    Memperoleh data atau informasi yang dapat digunakan dalam penyusunan program pembinaan profesinal secara terinci;
o    Menumbuhkan kepercayaan diri pada guru untuk berbuat lebih baik; serta
o    Mengetahui secara lengkap dan komprehensif tentang hal-hal pendukung kelancaran proses belajar-mengajar.
Dalam proses pelaksanaannya, supervisor seharusnya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
o    Menciptakan situasi yang wajar, mengambil tempat didalam kelas yang tidak menjadi pusat perhatian anak-anak, tidak mencampuri guru yang sedang mengajar, sikap waktu mencatat tidak akan menimbulkan prasangka dari pihak guru.
o    Harus dapat membedakan mana yang penting untuk dicatat dan mana yang kurang penting.
o    Bukan melihat kelemahan, melainkan melihat bagaimana memperbaikinya.
o    Harus diperhatikan kegiatan atau reaksi murid-murid tentang proses belajar.
3.        Tahap Pertemuan Lanjutan
Sebelum pertemuan lanjutan dilaksanakan supervisor mengadakan analisis pendahuluan tentang rekaman observasi yang dibuat sebagai bahan dalam pembicaraan tahap ini. Dalam hal ini supervisor harus mengusahakan data yang obyektif, menganalisis dan menginterpretsikan secara koperatif dengan guru tentang apa yang telah berlangsung dalam mengajar.
Setelah melakukan kunjuangan dan observasi kelas, maka supervisor seharusnya dapat menganalisis data-data yang diperolehnya tersebut untuk diolah dan dikaji yang dapat dijadikan pedoman dan rujukan pembinaan dan peningkatan guru-guru selanjutnya. Masalah-masalah professional yang berhasil diidentifikasi selanjutnya perlu dikaji lebih lanjut dengan maksud untuk memahami esensi masalah yang sesungguhnya dan faktor-faktor penyebabnya, selanjutnya masalah-masalah tersebut diklasifikasi dengan maksud untuk menemukan masalah yang mana yang dihadapi oleh kebanyakan guru di sekolah atau di wilayah itu. Ketepatan dan kehati-hatian supervisor dalam menimbang suatu masalah akan berpengaruh terhadap keberhasilan proses pembinaan professional guru yang bersangkutan selanjutnya.
Dalam proses pengkajian terhadap berbagai cara pemecahan yang mungkin dilakukan, setiap alternatif pemecahan masalah dipelajari kemungkinan keterlaksanaannya dengan cara mempertimbangkan factor-faktor peluang yang dimiliki, seperti fasilitas dan kendala-kendala yang mungkin dihadapi. Alternatif pemecahan masalah yang terbaik adalah alternatif yang paling mungkin dilakukan, dalam arti lebih banyak faktor-faktor pendukungnya dibandingkan dengan kendala yang dihadapi. Disamping itu, alternatif pemecahan yang terbaik memiliki nilai tambah yang paling besar bagi peningkatan mutu proses dan hasil belajar siswa.
Langkah-langkah utama pada tahap pertemuan lanjutan adalah:
1)        Menanyakan perasaan guru secara umum atau kesan umum guru ketika ia mengajar serta memberi penguatan.
2)        Mengkaji ulang tujuan pelajaran.
3)        Mengkaji ulang target keterampilan serta perhatian utama guru.
4)        Menanyakan perasaan guru tentang jalannya pelajaran berdasarkan target dan perhatian utamanya.
5)        Menunjukan serta mengkaji bersama guru hasil observasi (Rekaman data).
6)        Menanyakan perasaan guru setelah melihat rekaman data tersebut.
7)        Menyimpulkan hasil dengan melihat apa yang sebenarnya merupakan keinginan atau target guru dan apa yang sebenarnya terjadi atau tercapai.
8)        Menentukan bersama-sama dan mendorong guru untuk merencanakan hal-hal yang perlu dilatih atau diperhatikan pada kesempatan berikutnya.[4]








 

 

                                                 Makalah Supervisi Klinis


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang

Perkembangan kebutuhan akan pendidikan membutuhkan beberapa literature tertentu untuk mMakalah Supervisi Klinis

eningkatkan kualitas pemberdayaan SDM dan sarana prasarana. Pendidikan pada era sekarang sudah mampu bergerak mendekati garis kebutuhan yang harus ditempuh, dibanding sebelumnya ketika kedudukan pendidikan hanya sebagai formalitas global.
Menindak semakin luasnya cakupan kebutuhan pendidikan, maka sekolah perlu memperhatikan beberapa aspek yang berhubungan dengan kualitas kinerja guru sebagai pencetak output sekolah yakni siswa. Guru perlu mendapatkan referensi tentang pengembangan pengajaran agar mencapai keberhasilan dalam melaksanakan kurikulum yang berlaku.
Supervisi perlu sekali dilakukan sebagai alat untuk mengetahui proporsi kualitas guru dalam menjalankan kegiatan belajar mengajar. Aspek yang diberikan dalam supervisi yang ada biasanya hanya bersifat umum, karena guru tidak dilibatkan dalam perencanaan pembuatan supervisi padahal nantinya guru mendapatkan follow up dari supervisi yang sudah dilakukan.[1]

B.       Permasalahan
1.      Pengertian Supervisi Klinis
2.      Perbedaan Supervisi Klinis dan Supervisi Pendidikan
3.      Karakteristik Supervisi Klinis
4.      Tujuan Supervisi Klinis
5.      Prinsip-prinsip Supervisi Klinis
BAB II
PEMBAHASAN

A.      Pengertian Supervisi Klinis
Secara umum supervisi klinis diartikan sebagai bentuk bimbingan profesional yang diberikan kepada guru berdasarkan kebutuhannnya melalui siklus yang sistematis. Siklus sistematis ini   meliputi: perencanaan, observasi yang cermat atas pelaksanaan dan pengkajian hasil observasi dengan segera dan obyektif tentang penampilan mengajarnya yang nyata.
Jika dikaji berdasarkan istilah dalam “klinis”, mengandung makna: (1) Pengobatan (klinis) dan (2) Siklus, yaitu serangkaian kegiatan yang merupakan daur ulang. Oleh karena itu makna yang terkandung dalam istilah klinis merujuk pada unsur-unsur khusus, sebagai berikut:
o  Adanya hubungan tatap muka antara pengawas dan guru didalam proses supervisi.
o  Terfokus pada tingkah laku yang sebenarnya didalam kelas.
o  Adanya observasi secara cermat.
o  Deskripsi pada observassi secara rinci.
o  Pengawas dan guru bersama-sama menilai penampilan guru.
o  Fokus observasi sesuai dengan permintaan kebutuhan guru.[2]

B.       Perbedaan Supervisi Klinis dan Supervisi Pendidikan
Ada perbedaan yang diulas dari dua macam supervisi ini yaitu untuk supervisi pendidikan sifatnya lebih umum dan kompleks sehingga format supervisi yang ada lebih luas tidak hanya menyangkut pengajaran saja.
Sedangkan untuk supervisi klinis sifatnya lebih kearah yang khusus dan terbatas pada aspek tertentu yang dibutuhkan dalam pengajaran guru. Supervisi klinis adalah bentuk bantuan profesioanl yang diberikan pada guru berdasarkan kebutuhan dengan beberapa siklus tertentu.
Siklus yang ada pada desain supervisi ini melibatkan guru sebagai target utama, tetapi sesuai dengan kebutuhan yang guru rasakan masih sangat kurang. Ada tiga siklus dalam pelaksanaan supervisi klinis, meliputi pertemuan awal, observasi, dan pertemuan balikan. Aplikasi ini dilakukan dengan beberapa langkah pendekatan oleh guru untuk pelaksanaan supervisi dilapangan.
Seorang supervisor untuk hal ini perlu melakukan kajian ulang tentang segala hal yang dialami guru atau karakteristik guru itu sendiri. Dalam supervisi klinis ada tiga prinsip yang harus diketahui supervisor, yaitu interaktif, demokratif, dan terpusat pada guru (Acheson dan Gall, 1987). Prinsip ini berbeda dengan siklus, dimana prinsip ini menjadi dasar pengetahuan sebelum melakukan supervisi sedangkan siklus hanya dilakukan ketika pelaksanaan supervisi menyangkut format dll.
Selain prinsip itu, kepala sekolah perlu memperhatikan prisnsip tambahan seperti hubungan antara guru dan supervisor sifatnya interaktif daripada direktif, penentuan tindakan dilakukan secara demokratik, terpusat pada guru (pelaksanaa supervisi), pemberian balikan dengan rekaman yang cermat, supervisi bukan instruksi tapi bantuan, supervisi dilakukan sesuai kontrak. Dari perencanaan tersebut, maka supervisi yang akan dilaksanakan supervisor dapat dikatakan sesuai prosedur atau tingkat efektifitasnya tinggi.
Jika disimak dari beberapa fungsi serta tahapan tersebut, maka supervisi yang cocok untuk dilakukan pada guru adalah supervisi klinis bukan supervisi pendidikan, hal ini sesuai dengan kajian proporsi supervisi yang dibutuhkan. Seperti dikatakan Sergivanni dan Starrat dalam buku supervisi klinis Dra. Maisyaroh, M. Pd bahwa supervisi klinis memang berbeda dengan supervisi pendidikan (supervisi non klinis).
Terdapat beberapa perbedaan signifikan antara lain seperti tabel dibawah, No Aspek Supervisi Klinis Supervisi Non Klinis 1 Prakarsa dan tanggung jawab guru supervisor 2 Hubungan supervisor dengan guru Kolegial sederajat dan interaktif Hubungan atasan bawahan yang birokratis 3 Sifat Bantuan demokratis Otoriter 4 sasaran Diajukan guru dengan kajian dan kontrak bersama Sesuai keinginan supervisor 5 Ruang lingkup terbatas luas 6 Tujuan Bimbingan analitik dan deskriptif evaluatif 7 Peran supervisor Banyak bertanya pada guru Banyak memberi tahu dan mengarahkan Dari penjabaran tabel diatas akan memudahkan referensi kepala sekolah dalam menjalankan supervisi.
Kajian-kajian tersebut membuka pemikiran desain supervisi yang perlu dilakukan pada guru untuk keperluan sekolah. Dalam pelaksanaan di sekolah, kebanyakan supervisi yang dilakukan adalah supervisi klinis, ini dikarenakan fungsi utama supervisi klinis lebih mengarah pada kinerja pengajaran guru dibanding dengan konten supervisi pendidikan / non klinis yang cenderung meluas.
Kepala sekolah memang diharapkan dapat membantu kualitas pengajaran guru dengan baik, sehingga peranannya sangat penting sebagai seorang supervisor, terlebih lagi keharusan kepala sekolah untuk memahami konsep supervisi yang akan dijalankan. Secara garis besar, kepala sekolah harus bisa meletakkan bagian mana untuk supervsi klinis dan mana untuk non klinis, serta memahami pula supervisi mana yang akan dilakukan, supervisi klinis atau pendidikan.
Dari hal tersebut akan didapat hasil supervisi yang isinya lebih efektif untuk pengembangan sekolah atau peningkatan kualitas pendidik. Desain supervisi ini menjadi referensi kepala sekolah dalam menentukan kemajuan pendidikan, substansi pendidikan yang menjadi pengembangan metode pendidikan, dan nantinya lebih menuju ke arah hasil output yang berhasil.[3]




C.      Karakteristik Supervisi Klinis
Merujuk pada pengertian yang telah dipaparkan, terdapat beberapa karakteristik supervisi klinis, yaitu:
1.        Perbaikan dalam mengajar mengharuskan guru mempelajari keterampilan intelektual dan bertingkah laku berdasarkan keterampilan tersebut.
2.        Fungsi utama supervisor adalah mengajar keterampilan-keterampilan kepada guru.
3.        Fokus supervisi klinis adalah:
§  Perbaikan cara mengajar dan bukan mengubah kepribadian guru.
§  Dalam perencanaan pengajaran dan analisisnya merupakan pegangan supervisor dalam memperkirakan perilaku mengajar guru.
§  Pada sejumlah keterampilan mengajar yang mempunyai arti penting bagi pendidikan dan berada dalam jangkauan guru.
§  Pada analisis yang konstruktif dan memberi penguatan (reinforcement) pada pola-pola atau tingkah laku yang berhasil daripada “mencela” dan “menghukum” pola-pola tingkah laku yang belum sukses.
§  Didasarkan pada bukti pengamatan dan bukan atas keputusan penilaian yang tidak didukung oleh bukti nyata.
4.        Siklus dalam merencanakan, mengajar dan menganalisis merupakn suatu komunitas dan dibangun atas dasar pengalaman masa lampau.
5.        Supervisi klinis merupakan suatu proses memberi dan menerima informasi yang dinamis dimana supervisor dan guru merupakan teman sejawat didalam mencari pengertian bersama mengenai proses pendidikan.
6.        Proses supervisi klinis terutama berpusat pada interaksi verbal mengenai analisis jalannya pelajaran.
7.        Setiap guru mempunyai kebebasan maupun tanggung jawab untuk mengemukakan pokok-pokok persoalan, menganalisis cara mengajarnya sendiri dan mengembangkan gaya mengajarnya.
8.        Supervisor mempunyai kebebasan dan tanggung jawab untuk menganalisis dan mengevaluasi cara supervisi yang dilakukannya dengan cara yang sama seperti ketika ia menganalisis dan mengevaluasi cara mengajar guru.

D.      Tujuan Supervisi Klinis
1.        Tujuan umum
          Secara umum Supervisi klinis bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan keterampilan mengajar guru di kelas. Hubungan ini supervisi klinis merupakan kunci untuk meningkatkan kemampuan professional guru.
2.        Tujuan khusus
Secara khusus Supervisi klinis bertujuan untuk:
a)        Menyediakan suatu balikan yang objektif dalam kegiatan mengajar yang dilakuakan guru dengan berfokus terhadap:
o  Kesadaran dan kepercayaan diri dalam mengajar.
o  Keterampilan-keterampilan dasar mengajar yang diperlukan.
o  Mendiagnosis dan membantu memecahkan masalah-masalah pembelajaran.
b)        Membantu guru mengembangkan keterampilan dalam menggunakan strategi-strategi pembelajaran.
c)        Membantu guru mengembangkan diri secara terus menerus dalam karir dan profesi mereka secara mandiri.

E.       Prinsip-prinsip Supervisi Klinis
Dalam supervisi klinis terdapat sejumlah prinsip umum yang menjadi landasan praktek, antara lain:
1.        Hubungan antara supervisor dengan guru adalah hubungan kolegial yang sederajat dan bersifat interaktif. Hubungan semacam ini lebih dikenal sebagai hubungan antara tenaga professional berpengalaman dengan yang kurang berpengalaman, sehingga terjalin dialog professional yang interaktif dalam suasana yang intim dan terbuka. Isi dialog bukan pengarahan atau instruksi dari supervisor/pengawas melainkan pemecahan masalah pembelajaran.
2.        Diskusi antara supervisor dan guru bersifat demokratis, baik pada perencanaan pengajaran maupun pada pengkajian balikan dan tindak lanjut. Suasana demokratis itu dapat terwujud jika kedua pihak dengan bebas mengemukakan pendapat dan tidak mendominasi pembicaraan serta memiliki sifat keterbukaan untuk mengkaji semua pendapat yang dikemukakan didalam pertemuan tersebut dan pada akhirnya keputusan ditetapkan atas persetujuan bersama.
3.        Sasaran supervisi terpusat pada kebutuhan dan aspirasi guru serta tetap berada didalam kawasan (ruang lingkup) tingkah laku gurudalam mengajar secara aktual. Dengan prinsip ini guru didorong untuk menganalisis kebutuhan dan aspirasinya didalam usaha mengembangkan dirinya.
4.        Pengkajian balikan dilakukan berdasarkan data observasi yang cermat yang didasarkan atas kontrak serta dilaksanakan dengan segera. Dari hasil analisis balikan itulah ditetapkan rencana selanjutnya.
5.        Mengutamakan prakarsa dan tanggung jawab guru baik pada tahap perencanaan, pengkajian balikan bahkan pengambilan keputusan dan tindak lanjut. Dengan mengalihkan sedini mungkin prakarsa dan tanggung jawab itu ke tangan guru diharapkan pada gilirannya kelak guru akan tetap mengambil prakarsa untuk mengembangkan dirinya.

Prinsip-prinsip supervisi klinis diatas membawa implikasi bagi kedua belah pihak (supervisor dan guru).
a.         Implikasi bagi supervisor antara lain:
o  Memiliki keyakinan akan kemampuan guru untuk mengembangkan dirinya serta memecahkan masalah yang dihadapinya.
o  Memiliki sikap terbuka dan tanggap terhadap setiap pendapat guru.
o  Mau dan mampu memperlakukan guru sebagai kolega yang memerlukan bantuannya.
b.        Implikasi bagi guru antara lain:
o  Perubahan sikap dari guru sebagai seseorang yang mampu mengambil prakarsa untuk menganalisis dan mengembangkan dirinya.
o  Bersikap terbuka dan obyektif dalam menganalisis dirinya.

F.       Prosedur Supervisi Klinis
Prosedur supervisi klinis berlangsung dalam suatu proses berbentuk siklus, terdiri dari tiga tahap yaitu: tahap pertemuan pendahuluan, tahap pengamatan dan tahap pertemuan balikan. Dua dari tiga tahap tersebut memerlukan pertemuan antara guru dan supervisor, yaitu pertemuan pendahuluan dan pertemuan lanjutan.
1.        Tahap Pertemuan Pendahuluan
Dalam tahap ini supervisor dan guru bersama-sama membicarakan rencana tentang materi observasi yang akan dilaksanakan. Tahap ini memberikan kesempatan kepada guru dan supervisor untuk mengidentifikasi perhatian utama guru, kemudian menterjemahkannya kedalam bentuk tingkah laku yang dapat diamati. Pada tahap ini dibicarakan dan ditentukan pula jenis data mengajar yang akan diobservasi dan dicatat selama pelajaran berlangsung. Suatu komunikasi yang efektif dan terbuka diperlukan dalam tahap ini guna mengikat supervisor dan guru sebagai mitra didalam suasana kerja sama yang harmonis.
Secara teknis diperlukan lima langkah utama bagi terlaksananya pertemuan pendahuluan dengan baik, yaitu:
1)        Menciptakan suasana intim antara supervisor dengan guru sebelum langkah-langkah selanjutnya dibicarakan.
2)        Mengkaji ulang rencana pelajaran serta tujuan pelajaran.
3)        Mengkaji ulang komponen keterampilan yang akan dilatihkan dan diamati.
4)        Memilih atau mengembangkan suatu instrumen observasi yang akan dipakai untuk merekam tingkah laku guru yang akan menjadi perhatian utamanya.
5)        Instrumen observasi yang dipilih atau yang dikembangkan dibicarakan bersama antara guru dan supervisor.
2.        Tahap Pengamatan/Observasi Mengajar
Pada tahap ini guru melatih tingkah laku mengajar berdasarkan komponen keterampilan yang telah disepakati dalam pertemuan pendahuluan. Di pihak lain supervisor mengamati dan mencatat atau merekam tingkah laku guru ketika mengajar berdasarkan komponen keterampilan yang diminta oleh guru untuk direkam. Supervisor dapat juga mengadakan observasi dan mencatat tingkah laku siswa di kelas serta interaksi antara guru dan siswa.
Kunjungan dan observasi yang dilaksanakan supervisor bermanfaat untuk mengetahui pelaksanaan pembelajaran sebenarnya. Manfaat observasi tersebut antara lain dapat:
o    Menemukan kelebihan atau kekurangan guru dalam melaksanakan pembelajaran guna pengembangan dan pembinaan lebih lanjut;
o    Mengidentifikasi kendala yang dihadapi dalam melaksanakan suatu gagasan pembaharuan pengajaran;
o    Secara langsung mengetahui keperluan dan kebutuhan masing-masing guru dalam melaksanakan proses belajar-mengajar;
o    Memperoleh data atau informasi yang dapat digunakan dalam penyusunan program pembinaan profesinal secara terinci;
o    Menumbuhkan kepercayaan diri pada guru untuk berbuat lebih baik; serta
o    Mengetahui secara lengkap dan komprehensif tentang hal-hal pendukung kelancaran proses belajar-mengajar.
Dalam proses pelaksanaannya, supervisor seharusnya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
o    Menciptakan situasi yang wajar, mengambil tempat didalam kelas yang tidak menjadi pusat perhatian anak-anak, tidak mencampuri guru yang sedang mengajar, sikap waktu mencatat tidak akan menimbulkan prasangka dari pihak guru.
o    Harus dapat membedakan mana yang penting untuk dicatat dan mana yang kurang penting.
o    Bukan melihat kelemahan, melainkan melihat bagaimana memperbaikinya.
o    Harus diperhatikan kegiatan atau reaksi murid-murid tentang proses belajar.
3.        Tahap Pertemuan Lanjutan
Sebelum pertemuan lanjutan dilaksanakan supervisor mengadakan analisis pendahuluan tentang rekaman observasi yang dibuat sebagai bahan dalam pembicaraan tahap ini. Dalam hal ini supervisor harus mengusahakan data yang obyektif, menganalisis dan menginterpretsikan secara koperatif dengan guru tentang apa yang telah berlangsung dalam mengajar.
Setelah melakukan kunjuangan dan observasi kelas, maka supervisor seharusnya dapat menganalisis data-data yang diperolehnya tersebut untuk diolah dan dikaji yang dapat dijadikan pedoman dan rujukan pembinaan dan peningkatan guru-guru selanjutnya. Masalah-masalah professional yang berhasil diidentifikasi selanjutnya perlu dikaji lebih lanjut dengan maksud untuk memahami esensi masalah yang sesungguhnya dan faktor-faktor penyebabnya, selanjutnya masalah-masalah tersebut diklasifikasi dengan maksud untuk menemukan masalah yang mana yang dihadapi oleh kebanyakan guru di sekolah atau di wilayah itu. Ketepatan dan kehati-hatian supervisor dalam menimbang suatu masalah akan berpengaruh terhadap keberhasilan proses pembinaan professional guru yang bersangkutan selanjutnya.
Dalam proses pengkajian terhadap berbagai cara pemecahan yang mungkin dilakukan, setiap alternatif pemecahan masalah dipelajari kemungkinan keterlaksanaannya dengan cara mempertimbangkan factor-faktor peluang yang dimiliki, seperti fasilitas dan kendala-kendala yang mungkin dihadapi. Alternatif pemecahan masalah yang terbaik adalah alternatif yang paling mungkin dilakukan, dalam arti lebih banyak faktor-faktor pendukungnya dibandingkan dengan kendala yang dihadapi. Disamping itu, alternatif pemecahan yang terbaik memiliki nilai tambah yang paling besar bagi peningkatan mutu proses dan hasil belajar siswa.
Langkah-langkah utama pada tahap pertemuan lanjutan adalah:
1)        Menanyakan perasaan guru secara umum atau kesan umum guru ketika ia mengajar serta memberi penguatan.
2)        Mengkaji ulang tujuan pelajaran.
3)        Mengkaji ulang target keterampilan serta perhatian utama guru.
4)        Menanyakan perasaan guru tentang jalannya pelajaran berdasarkan target dan perhatian utamanya.
5)        Menunjukan serta mengkaji bersama guru hasil observasi (Rekaman data).
6)        Menanyakan perasaan guru setelah melihat rekaman data tersebut.
7)        Menyimpulkan hasil dengan melihat apa yang sebenarnya merupakan keinginan atau target guru dan apa yang sebenarnya terjadi atau tercapai.
8)        Menentukan bersama-sama dan mendorong guru untuk merencanakan hal-hal yang perlu dilatih atau diperhatikan pada kesempatan berikutnya.[4]