Makalah Supervisi Klinis
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Perkembangan kebutuhan akan pendidikan
membutuhkan beberapa literature tertentu untuk mMakalah Supervisi Klinis
eningkatkan kualitas pemberdayaan
SDM dan sarana prasarana. Pendidikan pada era sekarang sudah mampu bergerak
mendekati garis kebutuhan yang harus ditempuh, dibanding sebelumnya ketika
kedudukan pendidikan hanya sebagai formalitas global.
Menindak
semakin luasnya cakupan kebutuhan pendidikan, maka sekolah perlu memperhatikan
beberapa aspek yang berhubungan dengan kualitas kinerja guru sebagai pencetak
output sekolah yakni siswa. Guru perlu mendapatkan referensi tentang
pengembangan pengajaran agar mencapai keberhasilan dalam melaksanakan kurikulum
yang berlaku.
Supervisi
perlu sekali dilakukan sebagai alat untuk mengetahui proporsi kualitas guru
dalam menjalankan kegiatan belajar mengajar. Aspek yang diberikan dalam
supervisi yang ada biasanya hanya bersifat umum, karena guru tidak dilibatkan
dalam perencanaan pembuatan supervisi padahal nantinya guru mendapatkan follow
up dari supervisi yang sudah dilakukan.[1]
B.
Permasalahan
1. Pengertian Supervisi Klinis
2. Perbedaan Supervisi Klinis dan
Supervisi Pendidikan
3. Karakteristik Supervisi Klinis
4. Tujuan Supervisi Klinis
5. Prinsip-prinsip Supervisi Klinis
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Supervisi Klinis
Secara
umum supervisi klinis diartikan sebagai bentuk bimbingan profesional yang
diberikan kepada guru berdasarkan kebutuhannnya melalui siklus yang sistematis.
Siklus sistematis ini meliputi: perencanaan, observasi yang cermat
atas pelaksanaan dan pengkajian hasil observasi dengan segera dan obyektif
tentang penampilan mengajarnya yang nyata.
Jika
dikaji berdasarkan istilah dalam “klinis”, mengandung makna: (1) Pengobatan
(klinis) dan (2) Siklus, yaitu serangkaian kegiatan yang merupakan daur ulang.
Oleh karena itu makna yang terkandung dalam istilah klinis merujuk pada
unsur-unsur khusus, sebagai berikut:
o
Adanya hubungan tatap muka antara
pengawas dan guru didalam proses supervisi.
o
Terfokus pada tingkah laku yang
sebenarnya didalam kelas.
o
Adanya observasi secara cermat.
o
Deskripsi pada observassi secara
rinci.
o
Pengawas dan guru bersama-sama
menilai penampilan guru.
o
Fokus observasi sesuai dengan
permintaan kebutuhan guru.[2]
B.
Perbedaan Supervisi Klinis dan Supervisi Pendidikan
Ada
perbedaan yang diulas dari dua macam supervisi ini yaitu untuk supervisi
pendidikan sifatnya lebih umum dan kompleks sehingga format supervisi yang ada
lebih luas tidak hanya menyangkut pengajaran saja.
Sedangkan
untuk supervisi klinis sifatnya lebih kearah yang khusus dan terbatas pada
aspek tertentu yang dibutuhkan dalam pengajaran guru. Supervisi klinis adalah
bentuk bantuan profesioanl yang diberikan pada guru berdasarkan kebutuhan
dengan beberapa siklus tertentu.
Siklus
yang ada pada desain supervisi ini melibatkan guru sebagai target utama, tetapi
sesuai dengan kebutuhan yang guru rasakan masih sangat kurang. Ada tiga siklus
dalam pelaksanaan supervisi klinis, meliputi pertemuan awal, observasi, dan
pertemuan balikan. Aplikasi ini dilakukan dengan beberapa langkah pendekatan
oleh guru untuk pelaksanaan supervisi dilapangan.
Seorang
supervisor untuk hal ini perlu melakukan kajian ulang tentang segala hal yang
dialami guru atau karakteristik guru itu sendiri. Dalam supervisi klinis ada
tiga prinsip yang harus diketahui supervisor, yaitu interaktif, demokratif, dan
terpusat pada guru (Acheson dan Gall, 1987). Prinsip ini berbeda dengan siklus,
dimana prinsip ini menjadi dasar pengetahuan sebelum melakukan supervisi
sedangkan siklus hanya dilakukan ketika pelaksanaan supervisi menyangkut format
dll.
Selain
prinsip itu, kepala sekolah perlu memperhatikan prisnsip tambahan seperti
hubungan antara guru dan supervisor sifatnya interaktif daripada direktif,
penentuan tindakan dilakukan secara demokratik, terpusat pada guru (pelaksanaa
supervisi), pemberian balikan dengan rekaman yang cermat, supervisi bukan
instruksi tapi bantuan, supervisi dilakukan sesuai kontrak. Dari perencanaan
tersebut, maka supervisi yang akan dilaksanakan supervisor dapat dikatakan
sesuai prosedur atau tingkat efektifitasnya tinggi.
Jika
disimak dari beberapa fungsi serta tahapan tersebut, maka supervisi yang cocok
untuk dilakukan pada guru adalah supervisi klinis bukan supervisi pendidikan,
hal ini sesuai dengan kajian proporsi supervisi yang dibutuhkan. Seperti
dikatakan Sergivanni dan Starrat dalam buku supervisi klinis Dra. Maisyaroh, M.
Pd bahwa supervisi klinis memang berbeda dengan supervisi pendidikan (supervisi
non klinis).
Terdapat
beberapa perbedaan signifikan antara lain seperti tabel dibawah, No Aspek
Supervisi Klinis Supervisi Non Klinis 1 Prakarsa dan tanggung jawab guru
supervisor 2 Hubungan supervisor dengan guru Kolegial sederajat dan interaktif
Hubungan atasan bawahan yang birokratis 3 Sifat Bantuan demokratis Otoriter 4
sasaran Diajukan guru dengan kajian dan kontrak bersama Sesuai keinginan
supervisor 5 Ruang lingkup terbatas luas 6 Tujuan Bimbingan analitik dan
deskriptif evaluatif 7 Peran supervisor Banyak bertanya pada guru Banyak
memberi tahu dan mengarahkan Dari penjabaran tabel diatas akan memudahkan
referensi kepala sekolah dalam menjalankan supervisi.
Kajian-kajian
tersebut membuka pemikiran desain supervisi yang perlu dilakukan pada guru
untuk keperluan sekolah. Dalam pelaksanaan di sekolah, kebanyakan supervisi
yang dilakukan adalah supervisi klinis, ini dikarenakan fungsi utama supervisi
klinis lebih mengarah pada kinerja pengajaran guru dibanding dengan konten
supervisi pendidikan / non klinis yang cenderung meluas.
Kepala
sekolah memang diharapkan dapat membantu kualitas pengajaran guru dengan baik,
sehingga peranannya sangat penting sebagai seorang supervisor, terlebih lagi
keharusan kepala sekolah untuk memahami konsep supervisi yang akan dijalankan.
Secara garis besar, kepala sekolah harus bisa meletakkan bagian mana untuk
supervsi klinis dan mana untuk non klinis, serta memahami pula supervisi mana
yang akan dilakukan, supervisi klinis atau pendidikan.
Dari
hal tersebut akan didapat hasil supervisi yang isinya lebih efektif untuk
pengembangan sekolah atau peningkatan kualitas pendidik. Desain supervisi ini
menjadi referensi kepala sekolah dalam menentukan kemajuan pendidikan,
substansi pendidikan yang menjadi pengembangan metode pendidikan, dan nantinya
lebih menuju ke arah hasil output yang berhasil.[3]
C. Karakteristik
Supervisi Klinis
Merujuk
pada pengertian yang telah dipaparkan, terdapat beberapa karakteristik
supervisi klinis, yaitu:
1. Perbaikan dalam mengajar
mengharuskan guru mempelajari keterampilan intelektual dan bertingkah laku
berdasarkan keterampilan tersebut.
2. Fungsi utama supervisor adalah
mengajar keterampilan-keterampilan kepada guru.
3. Fokus supervisi klinis adalah:
§ Perbaikan cara mengajar dan bukan
mengubah kepribadian guru.
§ Dalam perencanaan pengajaran dan
analisisnya merupakan pegangan supervisor dalam memperkirakan perilaku mengajar
guru.
§ Pada sejumlah keterampilan mengajar
yang mempunyai arti penting bagi pendidikan dan berada dalam jangkauan guru.
§ Pada analisis yang konstruktif dan
memberi penguatan (reinforcement) pada pola-pola atau tingkah laku yang
berhasil daripada “mencela” dan “menghukum” pola-pola tingkah laku yang belum
sukses.
§ Didasarkan pada bukti pengamatan dan
bukan atas keputusan penilaian yang tidak didukung oleh bukti nyata.
4. Siklus dalam merencanakan, mengajar
dan menganalisis merupakn suatu komunitas dan dibangun atas dasar pengalaman
masa lampau.
5. Supervisi klinis merupakan suatu
proses memberi dan menerima informasi yang dinamis dimana supervisor dan guru
merupakan teman sejawat didalam mencari pengertian bersama mengenai proses
pendidikan.
6. Proses supervisi klinis terutama
berpusat pada interaksi verbal mengenai analisis jalannya pelajaran.
7. Setiap guru mempunyai kebebasan
maupun tanggung jawab untuk mengemukakan pokok-pokok persoalan, menganalisis
cara mengajarnya sendiri dan mengembangkan gaya mengajarnya.
8. Supervisor mempunyai kebebasan dan
tanggung jawab untuk menganalisis dan mengevaluasi cara supervisi yang
dilakukannya dengan cara yang sama seperti ketika ia menganalisis dan
mengevaluasi cara mengajar guru.
D. Tujuan
Supervisi Klinis
1. Tujuan umum
Secara umum Supervisi klinis bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan
keterampilan mengajar guru di kelas. Hubungan ini supervisi klinis merupakan
kunci untuk meningkatkan kemampuan professional guru.
2. Tujuan khusus
Secara
khusus Supervisi klinis bertujuan untuk:
a) Menyediakan suatu balikan yang
objektif dalam kegiatan mengajar yang dilakuakan guru dengan berfokus terhadap:
o
Kesadaran dan kepercayaan diri dalam
mengajar.
o
Keterampilan-keterampilan dasar
mengajar yang diperlukan.
o
Mendiagnosis dan membantu memecahkan
masalah-masalah pembelajaran.
b) Membantu guru mengembangkan
keterampilan dalam menggunakan strategi-strategi pembelajaran.
c) Membantu guru mengembangkan diri
secara terus menerus dalam karir dan profesi mereka secara mandiri.
E.
Prinsip-prinsip Supervisi Klinis
Dalam
supervisi klinis terdapat sejumlah prinsip umum yang menjadi landasan praktek,
antara lain:
1. Hubungan antara supervisor dengan
guru adalah hubungan kolegial yang sederajat dan bersifat interaktif. Hubungan
semacam ini lebih dikenal sebagai hubungan antara tenaga professional
berpengalaman dengan yang kurang berpengalaman, sehingga terjalin dialog
professional yang interaktif dalam suasana yang intim dan terbuka. Isi dialog
bukan pengarahan atau instruksi dari supervisor/pengawas melainkan pemecahan
masalah pembelajaran.
2. Diskusi antara supervisor dan guru
bersifat demokratis, baik pada perencanaan pengajaran maupun pada pengkajian
balikan dan tindak lanjut. Suasana demokratis itu dapat terwujud jika kedua
pihak dengan bebas mengemukakan pendapat dan tidak mendominasi pembicaraan
serta memiliki sifat keterbukaan untuk mengkaji semua pendapat yang dikemukakan
didalam pertemuan tersebut dan pada akhirnya keputusan ditetapkan atas
persetujuan bersama.
3. Sasaran supervisi terpusat pada
kebutuhan dan aspirasi guru serta tetap berada didalam kawasan (ruang lingkup)
tingkah laku gurudalam mengajar secara aktual. Dengan prinsip ini guru didorong
untuk menganalisis kebutuhan dan aspirasinya didalam usaha mengembangkan
dirinya.
4. Pengkajian balikan dilakukan
berdasarkan data observasi yang cermat yang didasarkan atas kontrak serta
dilaksanakan dengan segera. Dari hasil analisis balikan itulah ditetapkan
rencana selanjutnya.
5. Mengutamakan prakarsa dan tanggung
jawab guru baik pada tahap perencanaan, pengkajian balikan bahkan pengambilan
keputusan dan tindak lanjut. Dengan mengalihkan sedini mungkin prakarsa dan
tanggung jawab itu ke tangan guru diharapkan pada gilirannya kelak guru akan
tetap mengambil prakarsa untuk mengembangkan dirinya.
Prinsip-prinsip
supervisi klinis diatas membawa implikasi bagi kedua belah pihak (supervisor
dan guru).
a. Implikasi bagi supervisor antara
lain:
o
Memiliki keyakinan akan kemampuan
guru untuk mengembangkan dirinya serta memecahkan masalah yang dihadapinya.
o
Memiliki sikap terbuka dan tanggap
terhadap setiap pendapat guru.
o
Mau dan mampu memperlakukan guru
sebagai kolega yang memerlukan bantuannya.
b. Implikasi bagi guru antara lain:
o
Perubahan sikap dari guru sebagai
seseorang yang mampu mengambil prakarsa untuk menganalisis dan mengembangkan
dirinya.
o
Bersikap terbuka dan obyektif dalam
menganalisis dirinya.
F.
Prosedur Supervisi Klinis
Prosedur
supervisi klinis berlangsung dalam suatu proses berbentuk siklus, terdiri dari
tiga tahap yaitu: tahap pertemuan pendahuluan, tahap pengamatan dan tahap
pertemuan balikan. Dua dari tiga tahap tersebut memerlukan pertemuan antara
guru dan supervisor, yaitu pertemuan pendahuluan dan pertemuan lanjutan.
1. Tahap Pertemuan Pendahuluan
Dalam
tahap ini supervisor dan guru bersama-sama membicarakan rencana tentang materi
observasi yang akan dilaksanakan. Tahap ini memberikan kesempatan kepada guru
dan supervisor untuk mengidentifikasi perhatian utama guru, kemudian
menterjemahkannya kedalam bentuk tingkah laku yang dapat diamati. Pada tahap
ini dibicarakan dan ditentukan pula jenis data mengajar yang akan diobservasi
dan dicatat selama pelajaran berlangsung. Suatu komunikasi yang efektif dan
terbuka diperlukan dalam tahap ini guna mengikat supervisor dan guru sebagai
mitra didalam suasana kerja sama yang harmonis.
Secara
teknis diperlukan lima langkah utama bagi terlaksananya pertemuan pendahuluan
dengan baik, yaitu:
1) Menciptakan suasana intim antara
supervisor dengan guru sebelum langkah-langkah selanjutnya dibicarakan.
2) Mengkaji ulang rencana pelajaran
serta tujuan pelajaran.
3) Mengkaji ulang komponen keterampilan
yang akan dilatihkan dan diamati.
4) Memilih atau mengembangkan suatu
instrumen observasi yang akan dipakai untuk merekam tingkah laku guru yang akan
menjadi perhatian utamanya.
5) Instrumen observasi yang dipilih
atau yang dikembangkan dibicarakan bersama antara guru dan supervisor.
2. Tahap Pengamatan/Observasi Mengajar
Pada
tahap ini guru melatih tingkah laku mengajar berdasarkan komponen keterampilan
yang telah disepakati dalam pertemuan pendahuluan. Di pihak lain supervisor
mengamati dan mencatat atau merekam tingkah laku guru ketika mengajar
berdasarkan komponen keterampilan yang diminta oleh guru untuk direkam.
Supervisor dapat juga mengadakan observasi dan mencatat tingkah laku siswa di
kelas serta interaksi antara guru dan siswa.
Kunjungan
dan observasi yang dilaksanakan supervisor bermanfaat untuk mengetahui
pelaksanaan pembelajaran sebenarnya. Manfaat observasi tersebut antara lain
dapat:
o
Menemukan kelebihan atau kekurangan
guru dalam melaksanakan pembelajaran guna pengembangan dan pembinaan lebih
lanjut;
o
Mengidentifikasi kendala yang
dihadapi dalam melaksanakan suatu gagasan pembaharuan pengajaran;
o
Secara langsung mengetahui keperluan
dan kebutuhan masing-masing guru dalam melaksanakan proses belajar-mengajar;
o
Memperoleh data atau informasi yang
dapat digunakan dalam penyusunan program pembinaan profesinal secara terinci;
o
Menumbuhkan kepercayaan diri pada
guru untuk berbuat lebih baik; serta
o
Mengetahui secara lengkap dan
komprehensif tentang hal-hal pendukung kelancaran proses belajar-mengajar.
Dalam
proses pelaksanaannya, supervisor seharusnya memperhatikan hal-hal sebagai
berikut:
o
Menciptakan situasi yang wajar,
mengambil tempat didalam kelas yang tidak menjadi pusat perhatian anak-anak,
tidak mencampuri guru yang sedang mengajar, sikap waktu mencatat tidak akan
menimbulkan prasangka dari pihak guru.
o
Harus dapat membedakan mana yang
penting untuk dicatat dan mana yang kurang penting.
o
Bukan melihat kelemahan, melainkan
melihat bagaimana memperbaikinya.
o
Harus diperhatikan kegiatan atau
reaksi murid-murid tentang proses belajar.
3. Tahap Pertemuan Lanjutan
Sebelum
pertemuan lanjutan dilaksanakan supervisor mengadakan analisis pendahuluan
tentang rekaman observasi yang dibuat sebagai bahan dalam pembicaraan tahap
ini. Dalam hal ini supervisor harus mengusahakan data yang obyektif,
menganalisis dan menginterpretsikan secara koperatif dengan guru tentang apa
yang telah berlangsung dalam mengajar.
Setelah
melakukan kunjuangan dan observasi kelas, maka supervisor seharusnya dapat
menganalisis data-data yang diperolehnya tersebut untuk diolah dan dikaji yang
dapat dijadikan pedoman dan rujukan pembinaan dan peningkatan guru-guru
selanjutnya. Masalah-masalah professional yang berhasil diidentifikasi
selanjutnya perlu dikaji lebih lanjut dengan maksud untuk memahami esensi
masalah yang sesungguhnya dan faktor-faktor penyebabnya, selanjutnya
masalah-masalah tersebut diklasifikasi dengan maksud untuk menemukan masalah
yang mana yang dihadapi oleh kebanyakan guru di sekolah atau di wilayah itu.
Ketepatan dan kehati-hatian supervisor dalam menimbang suatu masalah akan
berpengaruh terhadap keberhasilan proses pembinaan professional guru yang
bersangkutan selanjutnya.
Dalam
proses pengkajian terhadap berbagai cara pemecahan yang mungkin dilakukan,
setiap alternatif pemecahan masalah dipelajari kemungkinan keterlaksanaannya
dengan cara mempertimbangkan factor-faktor peluang yang dimiliki, seperti
fasilitas dan kendala-kendala yang mungkin dihadapi. Alternatif pemecahan
masalah yang terbaik adalah alternatif yang paling mungkin dilakukan, dalam
arti lebih banyak faktor-faktor pendukungnya dibandingkan dengan kendala yang
dihadapi. Disamping itu, alternatif pemecahan yang terbaik memiliki nilai
tambah yang paling besar bagi peningkatan mutu proses dan hasil belajar siswa.
Langkah-langkah
utama pada tahap pertemuan lanjutan adalah:
1) Menanyakan perasaan guru secara umum
atau kesan umum guru ketika ia mengajar serta memberi penguatan.
2) Mengkaji ulang tujuan pelajaran.
3) Mengkaji ulang target keterampilan
serta perhatian utama guru.
4) Menanyakan perasaan guru tentang
jalannya pelajaran berdasarkan target dan perhatian utamanya.
5) Menunjukan serta mengkaji bersama
guru hasil observasi (Rekaman data).
6) Menanyakan perasaan guru setelah
melihat rekaman data tersebut.
7) Menyimpulkan hasil dengan melihat
apa yang sebenarnya merupakan keinginan atau target guru dan apa yang
sebenarnya terjadi atau tercapai.
8) Menentukan bersama-sama dan
mendorong guru untuk merencanakan hal-hal yang perlu dilatih atau diperhatikan
pada kesempatan berikutnya.[4]
Makalah Supervisi Klinis
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Perkembangan kebutuhan akan pendidikan
membutuhkan beberapa literature tertentu untuk mMakalah Supervisi Klinis
eningkatkan kualitas pemberdayaan
SDM dan sarana prasarana. Pendidikan pada era sekarang sudah mampu bergerak
mendekati garis kebutuhan yang harus ditempuh, dibanding sebelumnya ketika
kedudukan pendidikan hanya sebagai formalitas global.
Menindak
semakin luasnya cakupan kebutuhan pendidikan, maka sekolah perlu memperhatikan
beberapa aspek yang berhubungan dengan kualitas kinerja guru sebagai pencetak
output sekolah yakni siswa. Guru perlu mendapatkan referensi tentang
pengembangan pengajaran agar mencapai keberhasilan dalam melaksanakan kurikulum
yang berlaku.
Supervisi
perlu sekali dilakukan sebagai alat untuk mengetahui proporsi kualitas guru
dalam menjalankan kegiatan belajar mengajar. Aspek yang diberikan dalam
supervisi yang ada biasanya hanya bersifat umum, karena guru tidak dilibatkan
dalam perencanaan pembuatan supervisi padahal nantinya guru mendapatkan follow
up dari supervisi yang sudah dilakukan.[1]
B.
Permasalahan
1. Pengertian Supervisi Klinis
2. Perbedaan Supervisi Klinis dan
Supervisi Pendidikan
3. Karakteristik Supervisi Klinis
4. Tujuan Supervisi Klinis
5. Prinsip-prinsip Supervisi Klinis
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Supervisi Klinis
Secara
umum supervisi klinis diartikan sebagai bentuk bimbingan profesional yang
diberikan kepada guru berdasarkan kebutuhannnya melalui siklus yang sistematis.
Siklus sistematis ini meliputi: perencanaan, observasi yang cermat
atas pelaksanaan dan pengkajian hasil observasi dengan segera dan obyektif
tentang penampilan mengajarnya yang nyata.
Jika
dikaji berdasarkan istilah dalam “klinis”, mengandung makna: (1) Pengobatan
(klinis) dan (2) Siklus, yaitu serangkaian kegiatan yang merupakan daur ulang.
Oleh karena itu makna yang terkandung dalam istilah klinis merujuk pada
unsur-unsur khusus, sebagai berikut:
o
Adanya hubungan tatap muka antara
pengawas dan guru didalam proses supervisi.
o
Terfokus pada tingkah laku yang
sebenarnya didalam kelas.
o
Adanya observasi secara cermat.
o
Deskripsi pada observassi secara
rinci.
o
Pengawas dan guru bersama-sama
menilai penampilan guru.
o
Fokus observasi sesuai dengan
permintaan kebutuhan guru.[2]
B.
Perbedaan Supervisi Klinis dan Supervisi Pendidikan
Ada
perbedaan yang diulas dari dua macam supervisi ini yaitu untuk supervisi
pendidikan sifatnya lebih umum dan kompleks sehingga format supervisi yang ada
lebih luas tidak hanya menyangkut pengajaran saja.
Sedangkan
untuk supervisi klinis sifatnya lebih kearah yang khusus dan terbatas pada
aspek tertentu yang dibutuhkan dalam pengajaran guru. Supervisi klinis adalah
bentuk bantuan profesioanl yang diberikan pada guru berdasarkan kebutuhan
dengan beberapa siklus tertentu.
Siklus
yang ada pada desain supervisi ini melibatkan guru sebagai target utama, tetapi
sesuai dengan kebutuhan yang guru rasakan masih sangat kurang. Ada tiga siklus
dalam pelaksanaan supervisi klinis, meliputi pertemuan awal, observasi, dan
pertemuan balikan. Aplikasi ini dilakukan dengan beberapa langkah pendekatan
oleh guru untuk pelaksanaan supervisi dilapangan.
Seorang
supervisor untuk hal ini perlu melakukan kajian ulang tentang segala hal yang
dialami guru atau karakteristik guru itu sendiri. Dalam supervisi klinis ada
tiga prinsip yang harus diketahui supervisor, yaitu interaktif, demokratif, dan
terpusat pada guru (Acheson dan Gall, 1987). Prinsip ini berbeda dengan siklus,
dimana prinsip ini menjadi dasar pengetahuan sebelum melakukan supervisi
sedangkan siklus hanya dilakukan ketika pelaksanaan supervisi menyangkut format
dll.
Selain
prinsip itu, kepala sekolah perlu memperhatikan prisnsip tambahan seperti
hubungan antara guru dan supervisor sifatnya interaktif daripada direktif,
penentuan tindakan dilakukan secara demokratik, terpusat pada guru (pelaksanaa
supervisi), pemberian balikan dengan rekaman yang cermat, supervisi bukan
instruksi tapi bantuan, supervisi dilakukan sesuai kontrak. Dari perencanaan
tersebut, maka supervisi yang akan dilaksanakan supervisor dapat dikatakan
sesuai prosedur atau tingkat efektifitasnya tinggi.
Jika
disimak dari beberapa fungsi serta tahapan tersebut, maka supervisi yang cocok
untuk dilakukan pada guru adalah supervisi klinis bukan supervisi pendidikan,
hal ini sesuai dengan kajian proporsi supervisi yang dibutuhkan. Seperti
dikatakan Sergivanni dan Starrat dalam buku supervisi klinis Dra. Maisyaroh, M.
Pd bahwa supervisi klinis memang berbeda dengan supervisi pendidikan (supervisi
non klinis).
Terdapat
beberapa perbedaan signifikan antara lain seperti tabel dibawah, No Aspek
Supervisi Klinis Supervisi Non Klinis 1 Prakarsa dan tanggung jawab guru
supervisor 2 Hubungan supervisor dengan guru Kolegial sederajat dan interaktif
Hubungan atasan bawahan yang birokratis 3 Sifat Bantuan demokratis Otoriter 4
sasaran Diajukan guru dengan kajian dan kontrak bersama Sesuai keinginan
supervisor 5 Ruang lingkup terbatas luas 6 Tujuan Bimbingan analitik dan
deskriptif evaluatif 7 Peran supervisor Banyak bertanya pada guru Banyak
memberi tahu dan mengarahkan Dari penjabaran tabel diatas akan memudahkan
referensi kepala sekolah dalam menjalankan supervisi.
Kajian-kajian
tersebut membuka pemikiran desain supervisi yang perlu dilakukan pada guru
untuk keperluan sekolah. Dalam pelaksanaan di sekolah, kebanyakan supervisi
yang dilakukan adalah supervisi klinis, ini dikarenakan fungsi utama supervisi
klinis lebih mengarah pada kinerja pengajaran guru dibanding dengan konten
supervisi pendidikan / non klinis yang cenderung meluas.
Kepala
sekolah memang diharapkan dapat membantu kualitas pengajaran guru dengan baik,
sehingga peranannya sangat penting sebagai seorang supervisor, terlebih lagi
keharusan kepala sekolah untuk memahami konsep supervisi yang akan dijalankan.
Secara garis besar, kepala sekolah harus bisa meletakkan bagian mana untuk
supervsi klinis dan mana untuk non klinis, serta memahami pula supervisi mana
yang akan dilakukan, supervisi klinis atau pendidikan.
Dari
hal tersebut akan didapat hasil supervisi yang isinya lebih efektif untuk
pengembangan sekolah atau peningkatan kualitas pendidik. Desain supervisi ini
menjadi referensi kepala sekolah dalam menentukan kemajuan pendidikan,
substansi pendidikan yang menjadi pengembangan metode pendidikan, dan nantinya
lebih menuju ke arah hasil output yang berhasil.[3]
C. Karakteristik
Supervisi Klinis
Merujuk
pada pengertian yang telah dipaparkan, terdapat beberapa karakteristik
supervisi klinis, yaitu:
1. Perbaikan dalam mengajar
mengharuskan guru mempelajari keterampilan intelektual dan bertingkah laku
berdasarkan keterampilan tersebut.
2. Fungsi utama supervisor adalah
mengajar keterampilan-keterampilan kepada guru.
3. Fokus supervisi klinis adalah:
§ Perbaikan cara mengajar dan bukan
mengubah kepribadian guru.
§ Dalam perencanaan pengajaran dan
analisisnya merupakan pegangan supervisor dalam memperkirakan perilaku mengajar
guru.
§ Pada sejumlah keterampilan mengajar
yang mempunyai arti penting bagi pendidikan dan berada dalam jangkauan guru.
§ Pada analisis yang konstruktif dan
memberi penguatan (reinforcement) pada pola-pola atau tingkah laku yang
berhasil daripada “mencela” dan “menghukum” pola-pola tingkah laku yang belum
sukses.
§ Didasarkan pada bukti pengamatan dan
bukan atas keputusan penilaian yang tidak didukung oleh bukti nyata.
4. Siklus dalam merencanakan, mengajar
dan menganalisis merupakn suatu komunitas dan dibangun atas dasar pengalaman
masa lampau.
5. Supervisi klinis merupakan suatu
proses memberi dan menerima informasi yang dinamis dimana supervisor dan guru
merupakan teman sejawat didalam mencari pengertian bersama mengenai proses
pendidikan.
6. Proses supervisi klinis terutama
berpusat pada interaksi verbal mengenai analisis jalannya pelajaran.
7. Setiap guru mempunyai kebebasan
maupun tanggung jawab untuk mengemukakan pokok-pokok persoalan, menganalisis
cara mengajarnya sendiri dan mengembangkan gaya mengajarnya.
8. Supervisor mempunyai kebebasan dan
tanggung jawab untuk menganalisis dan mengevaluasi cara supervisi yang
dilakukannya dengan cara yang sama seperti ketika ia menganalisis dan
mengevaluasi cara mengajar guru.
D. Tujuan
Supervisi Klinis
1. Tujuan umum
Secara umum Supervisi klinis bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan
keterampilan mengajar guru di kelas. Hubungan ini supervisi klinis merupakan
kunci untuk meningkatkan kemampuan professional guru.
2. Tujuan khusus
Secara
khusus Supervisi klinis bertujuan untuk:
a) Menyediakan suatu balikan yang
objektif dalam kegiatan mengajar yang dilakuakan guru dengan berfokus terhadap:
o
Kesadaran dan kepercayaan diri dalam
mengajar.
o
Keterampilan-keterampilan dasar
mengajar yang diperlukan.
o
Mendiagnosis dan membantu memecahkan
masalah-masalah pembelajaran.
b) Membantu guru mengembangkan
keterampilan dalam menggunakan strategi-strategi pembelajaran.
c) Membantu guru mengembangkan diri
secara terus menerus dalam karir dan profesi mereka secara mandiri.
E.
Prinsip-prinsip Supervisi Klinis
Dalam
supervisi klinis terdapat sejumlah prinsip umum yang menjadi landasan praktek,
antara lain:
1. Hubungan antara supervisor dengan
guru adalah hubungan kolegial yang sederajat dan bersifat interaktif. Hubungan
semacam ini lebih dikenal sebagai hubungan antara tenaga professional
berpengalaman dengan yang kurang berpengalaman, sehingga terjalin dialog
professional yang interaktif dalam suasana yang intim dan terbuka. Isi dialog
bukan pengarahan atau instruksi dari supervisor/pengawas melainkan pemecahan
masalah pembelajaran.
2. Diskusi antara supervisor dan guru
bersifat demokratis, baik pada perencanaan pengajaran maupun pada pengkajian
balikan dan tindak lanjut. Suasana demokratis itu dapat terwujud jika kedua
pihak dengan bebas mengemukakan pendapat dan tidak mendominasi pembicaraan
serta memiliki sifat keterbukaan untuk mengkaji semua pendapat yang dikemukakan
didalam pertemuan tersebut dan pada akhirnya keputusan ditetapkan atas
persetujuan bersama.
3. Sasaran supervisi terpusat pada
kebutuhan dan aspirasi guru serta tetap berada didalam kawasan (ruang lingkup)
tingkah laku gurudalam mengajar secara aktual. Dengan prinsip ini guru didorong
untuk menganalisis kebutuhan dan aspirasinya didalam usaha mengembangkan
dirinya.
4. Pengkajian balikan dilakukan
berdasarkan data observasi yang cermat yang didasarkan atas kontrak serta
dilaksanakan dengan segera. Dari hasil analisis balikan itulah ditetapkan
rencana selanjutnya.
5. Mengutamakan prakarsa dan tanggung
jawab guru baik pada tahap perencanaan, pengkajian balikan bahkan pengambilan
keputusan dan tindak lanjut. Dengan mengalihkan sedini mungkin prakarsa dan
tanggung jawab itu ke tangan guru diharapkan pada gilirannya kelak guru akan
tetap mengambil prakarsa untuk mengembangkan dirinya.
Prinsip-prinsip
supervisi klinis diatas membawa implikasi bagi kedua belah pihak (supervisor
dan guru).
a. Implikasi bagi supervisor antara
lain:
o
Memiliki keyakinan akan kemampuan
guru untuk mengembangkan dirinya serta memecahkan masalah yang dihadapinya.
o
Memiliki sikap terbuka dan tanggap
terhadap setiap pendapat guru.
o
Mau dan mampu memperlakukan guru
sebagai kolega yang memerlukan bantuannya.
b. Implikasi bagi guru antara lain:
o
Perubahan sikap dari guru sebagai
seseorang yang mampu mengambil prakarsa untuk menganalisis dan mengembangkan
dirinya.
o
Bersikap terbuka dan obyektif dalam
menganalisis dirinya.
F.
Prosedur Supervisi Klinis
Prosedur
supervisi klinis berlangsung dalam suatu proses berbentuk siklus, terdiri dari
tiga tahap yaitu: tahap pertemuan pendahuluan, tahap pengamatan dan tahap
pertemuan balikan. Dua dari tiga tahap tersebut memerlukan pertemuan antara
guru dan supervisor, yaitu pertemuan pendahuluan dan pertemuan lanjutan.
1. Tahap Pertemuan Pendahuluan
Dalam
tahap ini supervisor dan guru bersama-sama membicarakan rencana tentang materi
observasi yang akan dilaksanakan. Tahap ini memberikan kesempatan kepada guru
dan supervisor untuk mengidentifikasi perhatian utama guru, kemudian
menterjemahkannya kedalam bentuk tingkah laku yang dapat diamati. Pada tahap
ini dibicarakan dan ditentukan pula jenis data mengajar yang akan diobservasi
dan dicatat selama pelajaran berlangsung. Suatu komunikasi yang efektif dan
terbuka diperlukan dalam tahap ini guna mengikat supervisor dan guru sebagai
mitra didalam suasana kerja sama yang harmonis.
Secara
teknis diperlukan lima langkah utama bagi terlaksananya pertemuan pendahuluan
dengan baik, yaitu:
1) Menciptakan suasana intim antara
supervisor dengan guru sebelum langkah-langkah selanjutnya dibicarakan.
2) Mengkaji ulang rencana pelajaran
serta tujuan pelajaran.
3) Mengkaji ulang komponen keterampilan
yang akan dilatihkan dan diamati.
4) Memilih atau mengembangkan suatu
instrumen observasi yang akan dipakai untuk merekam tingkah laku guru yang akan
menjadi perhatian utamanya.
5) Instrumen observasi yang dipilih
atau yang dikembangkan dibicarakan bersama antara guru dan supervisor.
2. Tahap Pengamatan/Observasi Mengajar
Pada
tahap ini guru melatih tingkah laku mengajar berdasarkan komponen keterampilan
yang telah disepakati dalam pertemuan pendahuluan. Di pihak lain supervisor
mengamati dan mencatat atau merekam tingkah laku guru ketika mengajar
berdasarkan komponen keterampilan yang diminta oleh guru untuk direkam.
Supervisor dapat juga mengadakan observasi dan mencatat tingkah laku siswa di
kelas serta interaksi antara guru dan siswa.
Kunjungan
dan observasi yang dilaksanakan supervisor bermanfaat untuk mengetahui
pelaksanaan pembelajaran sebenarnya. Manfaat observasi tersebut antara lain
dapat:
o
Menemukan kelebihan atau kekurangan
guru dalam melaksanakan pembelajaran guna pengembangan dan pembinaan lebih
lanjut;
o
Mengidentifikasi kendala yang
dihadapi dalam melaksanakan suatu gagasan pembaharuan pengajaran;
o
Secara langsung mengetahui keperluan
dan kebutuhan masing-masing guru dalam melaksanakan proses belajar-mengajar;
o
Memperoleh data atau informasi yang
dapat digunakan dalam penyusunan program pembinaan profesinal secara terinci;
o
Menumbuhkan kepercayaan diri pada
guru untuk berbuat lebih baik; serta
o
Mengetahui secara lengkap dan
komprehensif tentang hal-hal pendukung kelancaran proses belajar-mengajar.
Dalam
proses pelaksanaannya, supervisor seharusnya memperhatikan hal-hal sebagai
berikut:
o
Menciptakan situasi yang wajar,
mengambil tempat didalam kelas yang tidak menjadi pusat perhatian anak-anak,
tidak mencampuri guru yang sedang mengajar, sikap waktu mencatat tidak akan
menimbulkan prasangka dari pihak guru.
o
Harus dapat membedakan mana yang
penting untuk dicatat dan mana yang kurang penting.
o
Bukan melihat kelemahan, melainkan
melihat bagaimana memperbaikinya.
o
Harus diperhatikan kegiatan atau
reaksi murid-murid tentang proses belajar.
3. Tahap Pertemuan Lanjutan
Sebelum
pertemuan lanjutan dilaksanakan supervisor mengadakan analisis pendahuluan
tentang rekaman observasi yang dibuat sebagai bahan dalam pembicaraan tahap
ini. Dalam hal ini supervisor harus mengusahakan data yang obyektif,
menganalisis dan menginterpretsikan secara koperatif dengan guru tentang apa
yang telah berlangsung dalam mengajar.
Setelah
melakukan kunjuangan dan observasi kelas, maka supervisor seharusnya dapat
menganalisis data-data yang diperolehnya tersebut untuk diolah dan dikaji yang
dapat dijadikan pedoman dan rujukan pembinaan dan peningkatan guru-guru
selanjutnya. Masalah-masalah professional yang berhasil diidentifikasi
selanjutnya perlu dikaji lebih lanjut dengan maksud untuk memahami esensi
masalah yang sesungguhnya dan faktor-faktor penyebabnya, selanjutnya
masalah-masalah tersebut diklasifikasi dengan maksud untuk menemukan masalah
yang mana yang dihadapi oleh kebanyakan guru di sekolah atau di wilayah itu.
Ketepatan dan kehati-hatian supervisor dalam menimbang suatu masalah akan
berpengaruh terhadap keberhasilan proses pembinaan professional guru yang
bersangkutan selanjutnya.
Dalam
proses pengkajian terhadap berbagai cara pemecahan yang mungkin dilakukan,
setiap alternatif pemecahan masalah dipelajari kemungkinan keterlaksanaannya
dengan cara mempertimbangkan factor-faktor peluang yang dimiliki, seperti
fasilitas dan kendala-kendala yang mungkin dihadapi. Alternatif pemecahan
masalah yang terbaik adalah alternatif yang paling mungkin dilakukan, dalam
arti lebih banyak faktor-faktor pendukungnya dibandingkan dengan kendala yang
dihadapi. Disamping itu, alternatif pemecahan yang terbaik memiliki nilai
tambah yang paling besar bagi peningkatan mutu proses dan hasil belajar siswa.
Langkah-langkah
utama pada tahap pertemuan lanjutan adalah:
1) Menanyakan perasaan guru secara umum
atau kesan umum guru ketika ia mengajar serta memberi penguatan.
2) Mengkaji ulang tujuan pelajaran.
3) Mengkaji ulang target keterampilan
serta perhatian utama guru.
4) Menanyakan perasaan guru tentang
jalannya pelajaran berdasarkan target dan perhatian utamanya.
5) Menunjukan serta mengkaji bersama
guru hasil observasi (Rekaman data).
6) Menanyakan perasaan guru setelah
melihat rekaman data tersebut.
7) Menyimpulkan hasil dengan melihat
apa yang sebenarnya merupakan keinginan atau target guru dan apa yang
sebenarnya terjadi atau tercapai.
8) Menentukan bersama-sama dan
mendorong guru untuk merencanakan hal-hal yang perlu dilatih atau diperhatikan
pada kesempatan berikutnya.[4]