Sabtu, 22 Maret 2014
prof tesis
Proposal Tesis
Nama
NIM
Prodi
Judul :Qurrotul Aeni
: A. 11.10646
: Pendidikan Agama Islam
: TIPOLOGI PONDOK PESANTREN DALAM KONSTELASI PEMBAHARUAN PENDIDIKAN ISLAM (Studi pada Pesantren-Pesantren di Kecamatan Bawang Kabupaten Batang)
1. Latar Belakang Masalah
Isu utama pesantren saat ini, sebagaimana pernyataan Abdul Djamil pada dasawarsa terakhir nampak sedang memasuki babak baru di tengah-tengah dinamika sosio-kultural masyarakat Indonesia. Fenomena menguatnya kembali peran pesantren dalam membentuk kebudayaan bangsa Indonesia menurutnya semakin signifikan. Babak baru tersebut setidaknya dapat dilacak melalui visi pesantren yang di samping sebagai lembaga pengemban intelektual, juga sebagai pembinaan moral masyarakat. Tidak heran pesantren memiliki posisi nilai tawar tinggi karena berbagai macam pemikiran mencoba berdialektika tarik ulur antara idealitas dan realitas dalam memenuhi kebutuhan mereka.
Di zaman yang multikompleks ini tentunya pendidikan ideal menjadi sebuah keniscayaan. Namun, tantangan globalisasi kini semakin tak terkendalikan. Ketegangan antara aspek teoritis dan praktis atau subjektifitas dan objektifitas pesantren pun muncul. Akibatnya pendidikan Islam dengan paksa termarginalkan secara tragis ditengah kemelut krisis globalisme. Oleh karenanya pembaharuan pesantren sebagai jendela pembaharuan pendidikan Islam diharapkan mampu menjadi pendidkan alternatif bagi masyarakat.
Sejak awalnya, pesantren merupakan institusi keagamaan yang tidak bisa lepas dari masyarakat. Secara normatif, lembaga ini berusaha meletakkan visi dan kiprahnya dalam rangka transformasi sosial dalam bentuk pengabdian untuk membentuk moral keagamaan dan dikembangkan pada rintisan-rintisan pengembangan yang lebih sistematis dan terpadu. Rintisan ini secara substansial berikhtiar memenuhi kebutuhan riil masyarakat dalam menyesuaikan era globalisasi, seperti pengembangan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan penggunaan teknologi alternatif. Upaya yang dilakukan merupakan bentuk manifestasi pengabdian pada masyarakat oleh pesantren yang meyakini bahwa seluruh kehidupan ini adalah sebagai ibadah.
Lembaga ini konon disebut sebagai lembaga pendidikan Islam tertua, bahkan sempat dikatakan sudah mapan di zaman para wali. Meskipun demikian, produk pesantren uniknya mampu berkompetitif dalam merespons tantangan zaman. Sebenarnya faktor apa yang mempengaruhi pesantren tetap berkembang dinamis meskipun nilai-nilai pesantren secara bersamaan dipertaruhkan? Bisa jadi pesantren mulai menyadari bahwa penggiatan diri yang hanya berorientasi pada wilayah keagamaan tidak lagi memadai. Maka sewajarnya pihak pesantren lebih proaktif dengan memberikan ruang untuk pembenahan. Sehingga pembaharuan pendidikan pesantren dengan senantiasa harus selalu apresiatif sekaligus selektif dalam menyikapi dan merespons perkembangan yang ada.
Berdasar pembaharuan di atas, Sahal Mahfudz, sebagaimana dikutip oleh M. Nadjib Hassan, sangat tegas menyatakan eksistensi pesantren dengan berbagai perkembangan saat ini masih tetap tetap dipertahankan, meski perubahan atau modernisasi pendidikan Islam diberbagai kawasan dunia muslim terus dilancarkan. Bahkan pesantren sempat mengalami kejayaan dan kokoh sejak era 1980-an dengan banyak menarik minat masyarakat dan mendapatkan perhatian yang signifikan, khususnya di Jawa. Padahal tidak banyak lembaga pendidikan tradisional Islam seperti pesantren yang mampu bertahan. Bahkan kebanyakan punah setelah tergusur oleh ekspansi sistem pendidikan umum.
Namun, bukan berarti pembaharuan ini tanpa masalah. Fenomena menunjukkan modernitas pesantren ternyata membawa berbagai persoalan yang cukup ruwet baik ditinjau secara nilai maupun secara institutif. Institusi pesantren modern contohnya memberikan peluang sepenuhnya kepada negara untuk campur tangan sehingga dominasi negara dalam hal ini terasa cukup kuat. Dampaknya orientasi pesantren bukan tertuju pada nilai melainkan pada capaian yang bersifat formalistik. Akhirnya sebagian pendidikan pesantren menunjukkan mulai mengarah pada orientasi ijazah semata.
Pesantren dan pembaharuan, jika dihadapkan dengan dinamika perkembangan pendidikan Islam merupakan dua term yang saat ini sangat menarik untuk dipelajari. Di samping pembaharuan merupakan kajian yang sangat relevan bila dikaitkan dengan konteks keindonesiaan yang sedang dihujani arus modernisasi, pendidikan pesantren saat ini tengah disinyalir merupakan propotipe model pendidikan yang ideal bagi bangsa indonesia. Perlunya mengadakan pembaharuan karena pada akhir-akhir ini pesantren dinilai tidak responsif terhadap perkembangan zaman, artinya sulit atau bahkan tidak mau menerima perubahan. Pesantren tetap merasa kokoh dengan mempertahankan pola pendidikannya yang tradisional (salafiyah).
Oleh karena itu, klaim di atas menjadikan pesantren sebagai institusi yang cenderung ekslusif dan isolatif dari kehidupan sosial umumnya. Bahkan lebih sinis lagi ada yang beranggapan pendidikan pesantren tergantung selera kyai. Masih banyak orang yang memandang sebelah mata terhadap pesantren. Namun, menurut Ismail SM, justru dengan tradisionalitas pesantren tersebut, tidak bisa dipungkiri, semakin survive di tengah masyarakat yang mampu bertahan berabad-abad. Bahkan menurutnya pesantren dianggap sebagai alternatif dalam glamouritas dan hegemoni modernisme yang pada saat bersamaan mencatat tradisi sebagai masalah.
Setelah melalui beberapa kurun waktu, pesantren tumbuh dan berkembang secara subur dengan tetap menyandang ciri-ciri tradisionalnya. Sebagai lembaga pendidikan indigenous, pesantren memiliki akar sosio-historis yang cukup kuat sehingga membuatnya mampu menduduki posisi yang relatif sentral dalam dunia keilmuan masyarakatnya dan sekaligus bertahan di tengah berbagai gelombang perubahan.
Jika diadakan pengamatan lebih lanjut, pembaharuan yang dilaksanakan di pesantren memiliki karakteristik bila dibandingkan dengan pembaharuan lainnya. Bahkan tidak salah jika dikatakan punya keunikan tersendiri, yakni unik pada kealotan dan kuatnya proses tarik ulur antara sifat dasar pesantren yang tradisional dengan potensi dasar modernisasi yang progesif dan berubah-ubah. Sehingga ditinjau dari segi komponen pembentuknya, pesantren mempunyai ragam jenis, mulai dari jenis pesantren besar yang mempunyai program baik formal maupun non-formal, bahkan memiliki universitas, sampai jenis pesantren pengajian kitab yang banyak memiliki pondok dan masjid
Pertumbuhan pesantren yang semula rural based institution, meminjam istilahnya Azyumardi, menjadi juga lembaga pendidikan urban yang bermunculan juga di Kabupaten-kabupaten besar. Bahkan tidak sedikit pesantren melakukan sumbangsih pembaharuan untuk masyarakat luas sehingga lulusan pesantren tetap marketable. Di antara Kabupaten yang terdapat banyak pesantren adalah di Kabupaten Batang. Salah satu kecamatan yang terdapat banyak pesantrennya adalah Kecamatan Bawang. Ada hamper 20an pondok pesantren di Kecamatan Bawang. Dari banyaknya pesantren yang tercatat di atas, tentu memiliki karakteristik tersendiri jika dilihat dari visi, misi, dan orientasi keilmuwan pesantren menjadi varian menarik untuk diteliti lebih mendalam. Fenomena semakin digandrunginya pesantren di tengah kemelut bangsa ini tentu tidak lepas dari spesifikasi pesantren. Oleh karena itu, spesifikasi pesantren menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat.
Terlebih jika penelitian ini dikaitkan dengan agenda pembaharuan pendidikan Islam yang sedang di gadang-gadang oleh para pembaharunya. Oleh karena itu, penelitian ini nantinya akan berikhtiar mengumpulkan semua pesantren yang ada di Kecamatan Bawang, kemudian dikategorisasikan menurut karakternya masing-masing. Selanjutnya, ditipologikan menurut teori tipologi pembaharuan pesantren yang digunakan dalam penelitian ini.
Meskipun demikian, dari banyaknya pondok pesantren tersebut dalam berbagai aspek setidaknya dapat ditemukan kesamaan-kesamaan umum. Jika ditelusuri lebih lanjut, maka akan ditemukan variabel-variabel struktural seperti bentuk kepemimpinan, orientasi pesantren, organisasi pengurus, susunan rencana pelajaran (kurikulum), karakteristik keilmuwan, dan variabel-variabel lain yang apabila dibandingkan dengan antara satu pesantren dengan pesantren lainnya, dari satu daerah ke daerah lainnya, maka akan ditemukan tipologi pondok pesantren. Di mana dalam penelitian ini diharapkan akan menemukan kontribusi format pendidikan pesantren ideal sehingga dengan ini dapat merumuskan bagaimana tipologi pesantren masa depan yang berpotensi menjadi pilihan bagi masyarakat.
Fenomena pondok pesantren di Kecamatan Bawang menunjukkan muncul sejumlah pesantren yang mempunyai keunikan tersendiri. Banyak juga pesantren yang mempunyai pondokan (asrama), masjid yang besar dan disediakan berbagai ketrampilan di dalamnya, bahkan banyak juga yang mengembangkan sistem modern. Merekapun juga tetap eksis menyelenggarakan pengajian kitab kuning. Namun uniknya di Kecamatan Bawang juga muncul pesantren yang tidak mempunyai pondokan, akan tetapi memiliki ratusan santri yang berjubel-jubel.
Hal di atas menunjukkan bahwa realitas tersebut menjadi fenomena tersendiri bagi khasanah pesantren Batang. Ini artinya, respon pesantren Batang tunjukkkan dengan berada ditengah-tengah antara menolak dan mengikuti pola-pola terbaru. Demikian, jenis pesantren yang menerapkan pola semacam ini dinamakan jenis pesantren berjargon al-muhafadzah ‘ala al-qadim al-shalih wal-akhdzu bi al-jadid al-ashlah. Pesantren tersebut pada pola pembaharuannya sangat selektif mengadaptasi pola-pola modern yang bisa mendukung kelanggengan pendidikan pesantren yang sudah terbina sejak dulu.
Oleh karena itu, sangat penting jika pola dan corak pembaharuannya, serta arah pendidikan tersebut dicermati lebih seksama dalam sebuah penelitian yang tujuannya membingkai pola pembaharuan pesantren tersebut. Fenomena kyai banyak santri tanpa pondok pesantren merupakan realitas variabel menarik yang layak untuk diteliti. Terlebih diklasifikasikan tipologi masing-masing dengan harapan agar dapat mempermudah cara pemahaman dalam mengkajinya.
Dengan mempertimbangkan uraian di atas beserta berbagai permasalahan yang melatar belakanginya, maka penelitian yang studi pada pesantren-pesantren di Kecamatan Bawang ini secara tegas dengan judul, “Tipologi Pondok Pesantren dalam Konstelasi Pembaharuan Pendidikan Islam (Studi pada Pesantren-Pesantren di Kecamatan Bawang Kabupaten Batang)”.
2. Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah di atas, secara eksplisit penelitian ini bertujuan untuk menjawab,” bagaimana tipologi pondok pesantren dan pembaharuan pendidikan Islam di Kec. Bawang Kab. Batang?” dan secara implisit rumusan tersebut mengandung pertanyaan-pertanyaan :
a. Bagaimana kondisi objektif pesantren-pesantren di Kecamatan Bawang Kab.Batang?
b. Bagaimana eksistensi pembaharuan pendidikan Islam di Kecamatan Bawang Kab.Batang?
c. Bagaimana tipologi pondok pesantren dalam konstelasi pembaharuan pendidikan Islam di Kecamatan Bawang Kab.Batang?
3. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
a. Tujuan
Dari rumusan masalah di atas, maka tujuan yang hendak dicapai dari penelitian ini adalah:
1) Mendeskripsikan tipologi dan karakter pondok pesantren di Kec. Bawang Kab. batang sebagai pemberdayaan potensi pesantren dengan menjadikannya sebagai model pendidikan Islam alternatif..
2) Mencari format tipologi pendidikan ideal di kalangan pesantren yang memang sistem pendidikan dan tradisi keilmuwannya benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat sebagai sarana untuk membangun jiwa-jiwa kemandirian yang mempunyai mentalitas ikhlas limardlotillah.
3) Mengkategorisasikan pesantren-pesantren di Kec. Bawang Kab. Batang dengan berbagai variannya sesuai dengan tipologi, maupun dengan visi yang dibawa dalam menegakkan tujuan pendidikan Islam sehingga dapat mempermudah masyarakat untuk menilai keunggulan dan kekurangannya.
b. Kegunaan
Dengan memperhatikan hasil penelitian ini secara menyeluruh, maka diharapkan akan memperoleh manfaat sebagai berikut :
1) Memberikan kontribusi pada khasanah keilmuan Islam dalam studi pendidikan Islam, khususnya tentang sejarah dan perkembangan lembaga pendidikan Islam tradisional, yaitu pesantren.
2) Memberikan kontribusi pemikiran kepada praktisi dan atau institusi-institusi yang berkompeten terhadap dunia pendidikan, khususnya pendidikan Islam.
3) Mempermudah masyarakat dalam usaha untuk memperoleh informasi tentang tipe-tipe pesantren yang ada di Kec. Bawang Kab. Batang sehingga lahir amal kebaikan bagi peneliti sendiri terutama secara khusus, dan secara umumnya semua pihak yang telah membantu, baik dari kalangan pesantren sendiri maupun sumber-sumber dari luar pesantren.
4. Kajian Pustaka
Di antara alasan kenapa pesantren selalu menarik untuk diteliti yaitu : Pertama, pesantren dinilai tetap eksis sejak ratusan tahun di Indonesia meskipun tergerus oleh arus modernisme. Kedua, pesantren mempunyai keunikan tersendiri dimana antara satu pesantren dengan pesantren yang lain mempunyai kekhasan masing-masing serta sama-sama dapat mempertahankan karakter khasnya. Ketiga, definisi tentang tradisional dan modern yang ditujukan pada pesantren kurang komprehensf sehigga menarik untuk terus diteliti. Keempat, perkembangan pesantren semakin kompleks dan multidimensi.
Alasan di atas menunjukkan bahwa penelitian yang dimaksud merupakan tantangan tersendiri karena bahan kajiannya selalu berkembang dinamis mengikuti deras laju kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu, studi yang peneliti lakukan ini tak lepas dari jasa-jasa peneliti terdahulu yang telah memberikan berbagai informasi yang dibutuhkan. Berkaitan dengan fokus kajian penelitian ini, maka berikut ini peneliti paparkan hasil studi tentang pesantren secara umum dan pesantren Batang secara khususnya sebagai acuan dalam penelitian ini, antara lain :
1. Zamachsjari Dhofier dalam disertasinya yang berjudul The Pesantren Tradition : A Study the Role of the Kyai in Maintenance of the Traditional Idiologi of Islam in Java (1980) yang telah di terbitkan oleh LP3ES pada tahun 1982 dengan judul Tradisi Pesantren : Sudi tentang Pandamgan Hidup Kyai. Dalam bukunya tersebut, Dhofier sengaja melakukan penelitian tentang dua pesantren, yakni pesantren Tegalsari di Kabupaten Semarang Jawa Tengah dan pesantren Tebu Ireng di Jombang Jawa Timur. Di mana kedua pesantren tersebut memang berbeda sistem dan kelembagaannya. Sehingga dalam proses penelitiannya itu sedikit banyak ditemukan berbagai fenomena khususnya strategi kyai dalam memelihara tradisi keilmuwan pesantrennya. Indikasi adanya sebuah network, menurut Dhofier menyatakan penjagaan tradisi bisa melalui transmisi pengetahuan yang bisa membentuk genealogi intelektual maupun perkawinan yang endogamous.
2. Mastuhu, Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren (1994) yang diterbitkan oleh INIS di Jakarta. Dalam salah satu pemikirannya, Mastuhu berusaha ingin menjelaskan fenomena dari banyaknya pesantren yang ada di Indonesia di lihat dari tujuan pendidikannya. Antara satu pesantren dengan pesantren lainnya terdapat perbedaan dalam tujuan, meskipun semangatnya sama, yakni untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat serta meningkatkan ibadah kepada Allah SWT. Dengan perbedaan ini, ia menilai terdapat keunikan masing-masing pesantren dan sekaligus menjadi karakteristik kemandirian dan independensinya. Dengan meneliti 6 pesantren, ia menggunakan pendekatan sosiologis-antropologis dan fenomenologis dengan harapan dapat menembus tabir rahasia nilai-nilai kehidupan pesantren sehingga dapat mengembangkannya dalam sistem pendidikan nasional.
3. Miftahudin (2010) dalam tesisnya yang berjudul Pesantren dan Pendidikan modern di Indonesia. Di dalam tesis ini dijelaskan mengenai berbagai macam jenis pesantren dan juga bentuk-bentuk pendidikan modern yang ada di Indonesia. Pesantren sebagai produk pendidikan Islam dan pendidikan modern sebagai produk pendidikan barat. Namun perkembangan selanjutnya dua model pendidikan ini melebur menadi satu dalam wadah lembaga pendidikan.
5. Kerangka Teori
a. Pondok pesantren
Zamachsjari Dhofier mendefinisikan pondok berasal dari bahasa Arab “funduq” yang berarti hotel atau asrama. Dengan maksud yang sama, Haidar Putra Daulay mengartikan sebagai hotel, tempat bermalam. Baik Dhofier maupun Haidar menyengaja menggunakan kata hotel karena pondok bagi santri merupakan tempat tinggal sewaktu tholabul ‘ilmi. Sebuah pesantren idealnya memiliki tempat tinggal sebagai ajang komunikasi antara santri dan kyai.
Sedangkan pesantren, Dhofier mengatakan berasal dari kata santri yang diawali dengan awalan pe dan akhiran an yang berarti sebagai tempat tinggal para santri. Sementara Manfred Ziemek, sebagaimana di kutip oleh Haidar Putra Daulay menguatkan dengan menyatakan secara etimologi pesantren adalah pesantrian yang berarti tempat santri. Begitu juga Abdurrahman Wahid, yang di kutip oleh Isma’il SM secara teknis pesantren dinyatakan sebagai, “a place where santri (student) live”. Hampir ada kesepakatan mengenai terminologi pesantren ini jika istilah pesantren digunakan setelah datangnya Islam. Namun, jika memandang kata tersebut sebelum datangnya Islam, maka Prof. Johns berpendapat santri berasal dari bahasa Tamil, yang berarti guru mengaji. Begitu juga C.C Berg menyatakan kata santri berasal dari istilah shastri yang merupakan bahasa India yang berarti orang yang tahu buku-buku suci agama Hindu, atau seorang sarjana ahli kitab suci agama Hindu. Sehingga pondok pesantren berdasar pada pendapat-pendapat di atas bisa diartikan sebagai tempat tinggal sementara para santri yang jauh dari asalnya. Ahmad Syafi’i Noer menguatkan tempat tinggal tersebut merupakan tempat di mana kyai dan santri dapat melakukan pengajian sesuai jadwal yang sudah ditetapkan oleh kyai. pondok santri biasanya tidak jauh dengan ndalem kyainya. Hal ini bertujuan untuk lebih mempermudah mengontrol kehidupan
Sehari-hari para santri terutama mengenai pendidikan moral. Sehingga titik sentral kyai ini jika dianalisis lebih lanjut masih sepaham dengan pendapat Dawam Raharjo yang mengartikan secara institusi pesantren bukanlah sekolah atau madrasah, meskipun dalam lingkungan pesantren sekarang ini banyak didirikan unit-unit pendidikan klasikal dan kursus-kursus. Ketradisionalan pesantren yang bukan sekolah ataupun madrasah ini menjadikannya sebagai lembaga pendidikan yang mempunyai karakteristik tersendiri. Untuk mengenai pendapat mengenai asal usul dan latar belakang berdirinya, ada beberapa pendapat yang mengatakan : Pertama, transformasi sistem pesantren yang diadakan oleh orang-orang Hindu di Nusantara. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa jauh sebelum datangnya Islam di Indonesia, lembaga pesantren sudah ada di negeri ini. Kedua, pendapat yang menyebutkan bahwa pondok pesantren berakar pada tradisi Islam sendiri yaitu tradisi tarekat. Pesantren mempunyai kaitan yang erat dengan tempat pendidikan yang khas bagi kaum sufi. Pendapat ini berdasarkan fakta bahwa penyiaran Islam di Indonesia pada awalnya lebih banyak dikenal dalam bentuk kegiatan tarekat. Hal ini ditandai oleh terbentuknya kelompok-kelompok organisasi tarekat yang melaksanakan amalan-amalan dzikir dan wirid-wirid tertentu yang dipimpin oleh seorang kyai. Oleh sebab itu, tujuan umum terbentuknya pondok pesantren adalah membimbing anak didik untuk menjadi manusia yang berkepribadian Islam yang dengan ilmu agamanya ia sanggup menjadi mubaligh Islam dalam masyarakat sekitar melalui ilmu dan amalnya mencetak ulama-ulama yang menguasai ilmu-ilmu agama. Sedangkan tujuan khususnya adalah mempersiapkan para santri untuk menjadi orang alim dalam ilmu agama yang diajarkan oleh kiai yang bersangkutan serta mengamalkannya dalam masyarakat, dan mendidik muslim yang dapat melaksanakan syariat agama.
b. Tipologi pondok pesantren
Berbagai pola pesantren telah diklasifikasikan, baik dari sudut pandang kurikulum, sistem pendidikan, maupun dari pola pembelajaran yang dilaksanakan oleh pesantren. Tujuannya tidak lain untuk mempermudah memahami dinamika perkembangan pesantren secara umum. Dengan pertimbangan efektivitas kondisi pesantren yang ada di obyek penelitian (Kec. Bawang), maka peneliti menggunakan tipologi dari Kemenag RI. Maka, untuk lebih jelasnya, di bawah ini akan dipaparkan pola-pola tersebut.
1) Tipologi Pesantren Menurut Kemenag RI
Secara umum jenis pesantren dapat dideskripsikan menjadi 3 (tiga) tipe, yaitu sebagai berikut :
(a) Pesantren Tipe A
(1) Para santri belajar dan menetap di pesantren
(2) Kurikulum tidak tertulis secara eksplisit melainkan memakai hidden curriculum (benak kyai)
(3) Pola pembelajaran menggunakan metode pembelajaran asli milik pesantren (sorogan, bandongan, dan lain sebagainya)
(4) Tidak menyelenggarakan pendidikan dengan sistem madrasah
(b) Pesantren Tipe B
(1) Para santri tinggal dalam pondok/asrama
(2) Pembelajaran menggunakan perpaduan pola pembelajaran asli pesantren dengan sistem madrasah
(3) Terdapatnya kurikulum yang jelas
(4) Memiliki tempat khusus yang berfungsi sebagai sekolah (madrasah)
(c) Pesantren Tipe C
(1) Pesantren hanya semata-mata tempat tinggal (asrama) bagi para santri
(2) Para santri belajar di madrasah/sekolah yang letaknya tidak jauh dengan pesantren
(3) Waktu belajar di pesantren biasanya malam/siang hari jika para santri tidak belajar di sekolah/madrasah (ketika mereka di pesantren)
(4) Pada umumnya tidak terprogram dalam kurikulum yang jelas dan baku.
Menurut Zamachsjari Dhofier, tipologi pesantren dipandang dari segi fisik terbagi menjadi lima pola, yaitu :
(i) Pesantren yang terdiri hanya masjid dan rumah kyai. Pesantren ini masih sangat sederhana dimana kyai menggunakan masjid atau rumahnya sendiri untuk tempat mengajar. Santri berasal dari daerah sekitar pesantren tersebut.
(ii) Pesantren yang terdiri dari masjid, rumah kyai, pondok atau asrama. Pola ini telah dilengkapi dengan pondok yang disediakan bagi para santri yang datang dari daerah lain.
(iii) Pesantren yang terdiri dari masjid, rumah kyai, pondok atau asrama, dan madrasah. Berbeda dengan yang pertama dan kedua, pola ini telah memakai sistem klasikal, santri mendapat pengajaran di madrasah. Di samping itu, belajar mengaji, mengikuti pengajaran yang diberikan oleh kyai pondok.
(iv) Pesantren yang telah berubah kelembagaannya yang terdiri dari masjid, rumah kyai, pondok atau asrama, madrasah, dan tempat ketrampilan. Pola ini dilengkapi dengan tempat-tempat ketrampilan agar santri trampil dengan pekerjaan yang sesuai dengan sosial kemasyarakatannya, seperti pertanian, peternakan, jahit menjahit, dan lain sebagainya.
Pesantren modern yang tidak hanya terdiri dari masjid, rumah kyai, pondok atau asrama, madrasah, dan tempat keterampilan, melainkan ditambah adanya universitas, gedung pertemuan, tempat olahraga, dan sekolah umum. Pesantren semacam inilah yang dinamakan oleh Zamachsjari Dhofier sebagai pesantren khalafi yang telah memasukkan pelajaran-pelajaran umum, atau membuka tipe sekolah umum di lingkungan pesantren.
6. Metode Penelitian
a. Pendekatan
Jenis penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah jenis penelitian lapangan dengan pendekatan kualitatif. Dalam pendekatan ini, penulis menggunakan pendekatan kualitatif yaitu suatu penelitian yang dilakukan terhadap data primer dan sekunder dalam memberikan gambaran secara umum mengenai pembelajaran PAI.
b. Metode pengumpulan data
Metode pengumpulan data yang peneliti terapkan antara lain :
1) Metode observasi
Maksud dari metode observasi ini adalah untuk mengetahui bentuk pembaharuan yang dilakukan pesantren melalui observasi secara langsung. Bentuk observasi yang dilakukan dengan cara partisipasi pasif karena peneliti bukan termasuk komunitas dari pesantren. Oleh karena itu, peneliti termasuk jenis peneliti pemeranserta sebagai pengamat. Artinya, peranan peneliti tidak sepenuhnya sebagai pengamat yang melakukan fungsi pengamatan. Peneliti menjadi anggota pura pura, jadi tidak melebur dalam arti sesungguhnya. Meskipun demikian, tidak mengurangi semangat peneliti untuk mengkaji lebih dalam mengenai tujuan dari penelitian ini.
Secara umum, observasi yang dilakukan peneliti adalah observasi deskripsi yang bertujuan untuk mengetahui gambaran umum tentang varian pondok pesantren di Bawang yang meliputi sejarah berdiri, visi dan misi pesantren, dan aspek pengembangan pendidikan pesantren. Bukan hanya itu, peneliti juga akan melakukan observasi mengenai pelaksanaan kurikulum, metode pembelajaran, dan lain sebagainya dengan tujuan untuk mengetahui karakteristik masing-masing pesantren.Sehubungan dengan peristiwa yang diobservasi, peneliti menggunakan strategi mengarahkan perhatian dengan fokus pada kepekaan perasaan. Menurut Patton (1980), konsep demikian dinamakan dengan sentizising consepts (konsep yang dirasakan). sentizising consepts berjasa menjadi kerangka dasar untuk menarik yang penting dari suatu peristiwa, kegiatan, atau perilaku tertentu.
2) Metode interview
Interview (wawancara) adalah percakapan dengan maksud tertentu yang dilakukan oleh dua pihak, yaitu interviuwer (pewawancara) sebagai pengaju pertanyaan dan interviewee (terwawancara) sebagai pemberi jawaban. Tujuan dari metode interview ini adalah mengkonstruksi mengenai orang, kejadian, organisasi, perasaan, motivasi, tuntutan, kepedulian, dan lain sebagainya. Dalam penelitian ini interview dilakukan agar mendapatkan data dari sumbernya secara langsung untuk kepentingan validitas data. Interview peneliti lakukan kepada para pengasuh pondok pesantren, terhadap para pengurus pondok pesantren yang peneliti rasa kapabel dan kompeten, maupun terhadap masyarakat sekitar sebagai penunjang data yang peneliti ketahui sebelumnya.
Interview yang dilakukan dengan menggunakan teknik secara terstruktur maupun tak terstruktur. Secara terstruktur dimaksudkan untuk mengetahui persamaan antar masing-masing pondok pesantren. Dengan begitu, peneliti dapat menemukan keunggulan satu pesantren dibanding pesantren yang lain, dan kelemahan satu pesantren dibanding pesantren yang lain. Sehingga jika data sudah terkumpul semua, peneliti dapat melakukan kategorisasi menurut tipologi masing-masing pesantren. Terstruktur artinya peneliti menegaskan berbagai pertanyaan dan berusaha memunculkan masalah sendiri yang akan diajukan. Bukan hanya demikian, interview tak terstruktur pun juga peneliti lakukan untuk mengetahui data-data tunggal yang sebelumnya peneliti belum mendapatkannya.
3) Metode dokumentasi
Dokumentasi dalam penelitian dimaksudkan untuk mengetahui dokumen-dokumen penting tentang pondok pesantren yang bersangkutan, baik mengenai jumlah santri, profil pesantren, bentuk kegiatan, struktur kepengurusan pondok pesantren, staf pengajar, tradisi keilmuwan yang dipelajari, dan lain sebagainya. Pengumpulan dokumen penting ini tidak semata-mata mengumpulkan semua data yang peneliti peroleh, namun dalam tahap ini dilakukan seleksi data agar akurasi data bisa dipertanggung jawabkan secara legal-formal.
Maka, dokumen yang dimaksud mencakup dokumen pribadi dan dokumen resmi. Dokumen pribadi digunakan untuk melacak catatan atau karangan seseorang secara tertulis tentang tindakan, pengalaman, dan kepercayaannya. Tujuannya itu untuk memperoleh kejadian nyata tentang situasi soaial dan arti berbagai faktor di sekitar subjek penelitian. Sedangkan dokumen resmi digunakan untuk melacak berbagai macam bentuk instruksi, aturan lembaga yang terkait, pengumuman, keputusan pemimpin (kyai, kepala madrasah), majalah, buletin, dan berbagai macam dokumen lainnya. Tujuannya adalah untuk memberikan petunjuk tentang gaya kepemimpinan dan menelaah konteks sosial.
c. Metode analisis data
Analisis data dalam penelitian kualitatif ini merupakan rangkaian proses pengorganisasian dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja. Secara umum, proses analisis ini dijalankan sesuai dengan prosedur sebagai berikut :
1) Mencatat hasil yang diperoleh dari lapangan kemudian diberi kode supaya sumber data tetap bisa ditelusuri,
2) Mengkategorisasikan : Mengumpulkan, memilah-milah, dan klasifikasi data,
3) Mensintesiskan : Membuat ikhtisar (ringkasan), dan membuat indeksnya,
4) Melakukan pemikiran dengan jalan membuat kategori data itu mempunyai makna, mencari dan menemukan pola dan hubungan-hubungan, dan membuat temuan-temuan umum. Sehingga berbagai data yang diperoleh dari lapangan, baik dari observasi, interview, dan dokumentasi selanjutnya teknik analisis datanya dilakukan dengan menggunakan analisis kualitatif yang berjenis analisis deskriptif-hermeneutis. Inti dari analisis jenis ini adalah terletak pada tiga proses yang berkaitan, yaitu :
1) Mendeskripsikan fenomena,
2) Mengklasifikasikannya,
3) Melihat bagaimana konsep-konsep yang muncul itu satu dengan yang lainnya berkaitan.
Namun, penelitian ini bukan hanya mendeskripsikan data, melainkan dilengkapi dengan analisis kritis hermeneutis sosial. Analisis hermeneutis ini diterapkan sebagai alat untuk menafsirkan proses dialektika pemahaman dan reinterpretasi terus menerus untuk menyingkap tabir makna-makna teks sosial. Setelah mendapatkan deskripsi utuh sesuai dengan cara kerja analisis di atas, maka analisis selanjutnya adalah analisis tipologi pesantren. Dalam analisis tipologi ini disertai dengan melakukan representasi karena mengingat waktu penelitian relatif singkat. Analisis ini bertugas melacak sistem pendidikan yang diterapkan oleh pesantren, bagaimana kurikulum yang digunakan, bagaimana juga pola pembelajarannya dan penyelenggaraan pendidikannya. Tujuan dari analisis tipologi yang dimaksud adalah memberikan arti yang signifikan terhadap hasil analisis, menjelaskan pola atau tipologi, dan mencari hubungan di antara dimensi-dimensi uraian.
Namun secara sederhana langkah-langkah di atas dapat dirinci sesuai dengan analisisnya masing-masing sesuai dengan teknik kerjanya. Rincian tersebut sebagai berikut :
(a) Analisis deskriptif
Secara umum pada analisis ini yang termasuk adalah tahap deskripsi data.
(b) Analisis proses
Pada analisis ini, garapan peneliti mencakup tahap mereduksi data, mengklasifikasikan, dan mengkategorisasikan.
(c) Analisis hermeneutik
Pada analisis ini, peneliti membagi membagi empat tahapan, yakni tahap mensintesiskan data, memberikan tipologi, merepresentasikan, dan menafsirkan data melalui prosedur gerak lingkar hermeneutis.
Dengan langkah-langkah dan analisis di atas peneliti berharap dapat menggambarkan konstelasi pembaharuan pendidikan Islam menurut kategorisasi yang sudah ditetapkan. Kategorisasi yang pada akhirnya dengan hermeneutika sosial ini peneliti dapat merumuskan kontribusi tipologi pesantren di Bawang terhadap masyarakat. Di samping itu juga dalam analisis akan diurai bagaimana format pesantren ideal dan tipologi pesantren yang mampu dijadikan sebagai pendidikan alternatif pesantren.
7. Sistematika Pembahasan
Untuk memudahkan pembahasan tesis ini, penulis bermaksud memaparkan bentuk sistematika pembahasan. Sedangkan bentuk sistematika pembahasan penelitian ini penulis bagi menjadi tiga bagian, yakni:
1. Bagian Awal
Bagian awal tesis ini terdiri dari halaman sampul, halaman judul, halaman pernyataan keaslian, halaman nota pembimbing, halaman pengesahan, abstrak, halaman transliterasi, kata pengantar, daftar isi serta daftar tabel.
2. Bagian Isi
Sedangkan pada bagian isi penulis kategorikan menjadi lima bab, yakni:
Bab I Pendahuluan. Pada bagian ini terdiri dari (a) latar belakang masalah, (b) rumusan masalah, (c) tujuan dan manfaat penelitian, (d) kajian pustaka, (e) kerangka teori, (f) metode penelitian, dan (g) sistematika penulisan.
Bab II Tipologi pondok pesantren dalam konstelasi pembaharuan pendidikan Islam. Pada bagian ini terdiri dari tiga sub bab, yakni sub bab pertama, pengertian pondok pesantren, jenis-jenis atau bentuk pondok pesantren, kegiatan pembelajaran pondok pesantren. Kedua, pembaharuan pendidikan Islam, yang terdiri dari pengertian pendidikan Islam, bentuk-bentuk pendidikan Islam, serta pembaharuan pendidikan Islam. Ketiga, tipologi pondok pesantren dalam konstelasi pembaharuan pendidikan Islam.
Bab III Paparan Data dan Temuan Penelitian. Pada bab ini terdiri dari tiga sub bab antara lain: (A) Gambaran Umum pondok pesantren meliputi: (1) letak geografis, (2) latar belakang pendirian pesantren, (3) visi, misi dan tujuan pesantren, (4) struktur organisasi, (5) profil, kyai, guru dan siswa, santri, serta (6) sarana dan prasarana,. (B) Paparan Data, yaitu terdiri dari : (1) tipologi pondok pesantren (C) Temuan Penelitian, terdiri dari: (1) tipologi pondok pesantren di Kecamatan Bawang (2) kegiatan pendidikan yang dilaksanakan pondok pesantren di Kecamatan Bawang.
Bab IV Pembahasan, meliputi (A) Pelaksanaan pendidikan di pesantren se Kecamatan Bawang, (B) tipologi pesantern se Kecamatan Bawang kab. Batang
Bab V Penutup. Pada bagian ini terdiri dari kesimpulan serta saran-saran.
3. Bagian Akhir
Bagian akhir tesis ini memuat daftar pustaka, lampiran-lampiran, dan daftar riwayat penulis.
DAFTAR PUSTAKA SEMENTARA
A’la, Abdul, Pembaharuan Pesantren, Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2006
Aunurrafiq, Pesantren dan Pembaharuan: arah dan Implikasi, Jakarta: Grassindo, 2001
Daulay, haidar Putra, Sejarah Pertumbuhan dan Pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Kencana Prenada, 2007
Dhofir, Zamahsari, Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai, Jakarta: LP3S, 1982
Djamil, Abdul, Pesantren: Jati Diri dan Perannya dalam Kebudayaan, Batang: Central Manajemen, 2005
Hasan, Najib M, Profil Pesantren Batang, Batang: Central Riset, 2005
Ismail SM, Signifikansi Peran Pesantren dalam Perkembangan Masyarakat Madani, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000
Moeloeng, Lexy J, Metodologi Penelitian, Jakarta: Rieneka Cipta
Munthohar, Ahmad, Ideologi Pendidikan Pesantren; Pesantren ditengah Arus Ideologi Pendidikan, Semarang: Pustaka Rizki, 2007
Noer Akhmad Syafi’i, Pesantren: Asal-Usul dan Perkembangan Lembaga-lembaga Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Grasindo, 2001
Raharjo, M Dawam, Dunia Pesantren dalam Peta Pembaharuan, Jakarta: LP3S, 1988
Tim Depag RI, Pola Pembelajaran di Pesantren, Jakarta: direktorat Jendral Kelembagaan Agama Islam, 2003
PANDUAN WAWANCARA
No Fokus Penelitian/
Rumusan Masalah Pertanyaan Informan
1
1.
2
3
4
5
6
7
8
9
2 1
2
3
4
5
6
7
8
9
3 1
2
3
4
5
6
7
8
9
PANDUAN OBSERVASI
No Hal-hal yang diobservasi Keterangan
1
2
3
4
PANDUAN STUDI DOKUMENTASI
Dokumen yang diperlukan:
No Jenis Dokumen Keterangan
1 Sejarah
2 Lokasi/Letak Geografis
3 Visi, misi, tujuan
4 Struktur organisasi dan uraian tugas
5 Program-program pengembangan pondok pesantren
6 Data santri
7 Data pegawai pondok pesantren
8 Sarana dan Prasarana
9 Prestasi pondok pesantren
10 Pedoman dan peraturan-peraturan pondok pesantren
11 Foto-foto Kegiatan
PERSETUJUAN
Proposal Penelitian dan Penulisan Tesis Berjudul:
TIPOLOGI PONDOK PESANTREN DALAM KONSTELASI PEMBAHARUAN PENDIDIKAN ISLAM
(Studi pada Pesantren-Pesantren di Bawang Batang)
Oleh:
QURRATUL AENI
NIM. A. 11. 1.0646
Telah disetujui oleh:
Pembimbing
Tanggal, 25 Juni 2013
Dr. Karwanto, S.Ag., M.Pd
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Mantaff..
BalasHapusSangat identik dg judul skripsi saya. Ha ha.... Pdhl satu almamater loh..
BalasHapus