Tampilkan postingan dengan label pengajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pengajian. Tampilkan semua postingan
Minggu, 23 Maret 2014
peringatan nabi muhamad
KEUTAMAAN MEMPERINGATI MAULID NABI MUHAMMAD SAW
Menurut fatwa seorang Ulama besar : Asy-Syekh Al Hafidz As-Suyuthi menerangkan bahwa mengadakan peringatan kelahiran Nabi Muhammad Saw, dengan cara mengumpulkan banyak orang, dan dibacakan ayat-ayat al-Quran dan diterangkan (diuraikan) sejarah kehidupan dan perjuangan Nabi sejak kelahiran hingga wafatnya, dan diadakan pula sedekah berupa makanan dan hidangan lainnya dengan cara yang tidak berlebihan adalah merupakan perbuatan Bid’ah hasanah, dan akan mendapatkan pahala bagi orang yang mengadakannya dan yang menghadirinya, sebab merupakan wujud kegembiraan, dan kecintaan / mahabbah kapada Rosullullah saw.
Seperti yang disabdakan oleh Nabi Muhammad Saw :
مَنْ أَحَبَّنِى كَانَ مَعِيْ فِي الْجَنـَّةِ
“Barang siapa yang senang, gembira, dan cinta kepada saya maka akan berkumpul bersama dengan saya masuk surga”.
Dalam kitab “Anwarul Muhammadiyah“ karangan : Syekh Yusuf Bin Ismail An-Nabhani, diterangkan bahwa pada saat hari kelahiran Nabi Muhammad Saw, seorang wanita budak belian dari Abu Lahab (tokoh kafir jahiliyyah) yang bernama Tsuwaibah menyampaikan kabar gembira tentang kelahiran Nabi Muhammad Saw kepada Abu Lahab. Karena senangnya Abu Lahab mendapat berita itu, spontan budak wanitanya yang bernama Tsuwaibah itu dibebaskan dan dihadiahkan kepada Siti Aminah : Ibunda Muhammad Saw untuk menyusui bayinya tersebut.
Ketika Abu Lahab telah meninggal dunia seorang sahabat Nabi ada yang bertemu dalam mimpinya dan menanyakan tentang nasibnya di akhirat.
Abu Lahab menjawab : Saya disiksa selama-lamanya karena kekafiran saya tetapi pada tiap-tiap hari senin saya diberi keringanan dari siksaan bahkan aku bisa mencium dua jari tanganku dan bisa keluar airnya untuk saya minum.
Dan ketika ditanya : mengapa bisa demikian? Abu Lahab menjawab : Ini adalah merupakan hadiah dari Allah karena kegembiraanku pada saat kelahiran Nabi Muhammad Saw.
Dalam sebuah hadits dikatakan :
مَنْ عَظَّمَ مَوْلِدِىْ كُنْتُ شَفِيْعًا لَهُ يَـوْمَ الْقِيَا مَةِ. وَمَنْ أَنْفَقَ دِرْهَمًا فِى مَوْلِدِى فَكَأَ نَّمَا اَنْفَقَ جَبَلاً مِنْ ذَ هَبٍ فِى سَبِيْلِ اللهِ
“Barang siapa yang memulyakan / memperingati hari kelahiranku maka aku akan memberinya syafa’at pada hari kiamat. Dan barang siapa memberikan infaq satu dirham untuk memperingati kelahiranku, maka akan diberi pahala seperti memberikan infaq emas sebesar gunung fi sabilillah.
Sahabat Abu Bakar Ash-Shidiq berkata :
مَنْ أَنْفَقَ دِرْ هَماً فِى مَوْ لِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ رَفِيْقِيْ فِى الْجَنَّةِ
“Barang siapa yang memberikan infaq satu dirham untuk memperingati kelahiran Nabi Saw : akan menjadi temanku masuk surga”.
Sahabat Umar Bin Khoththob berkata :
مَنْ عَظَّمَ مَوْ لِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَدْ أَحْيَا اْلإِسْلاَمَ
“Barang siapa yang memuliakan / memperingati kelahiran Nabi Saw, berarti telah menghidupkan Islam”.
Sahabat Ali Bin Abi Tholib berkata :
مَنْ عَظَّمَ مَوْ لِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَخْرُجُ مِنَ الدُّنْياَ اِلاَّ بِاْلإِ يْمَانِ
“Barang siapa yang memuliakan / memperingati kelahiran Nabi Saw, apabila pergi meninggalkan dunia pergi dengan membawa iman”.
Melihat besarnya pahala tersebut maka banyaklah kaum muslimn muslimat yang selalu melahirkan rasa cintanya kepada Nabi dan mengagungkan hari kelahiran Nabi dengan cara-cara yang terpuji seperti pada tiap-tiap malam Senin atau malam Jum’at mengadakan jama’ah membaca kitab Al- Barzanji, sholawat maulud, dan ada pula yang menyediakan tabungan yang berwujud uang hasil tanaman atau sebagian gajinya untuk kepentingan memperingati kelahiran Nabi Saw.
Perintis Peringatan Maulid Nabi
Peringatan Maulud Nabi sudah diadakan oleh kalangan umat Islam sejak pada kurun ketiga atau tiga ratus tahun setelah hijrah Nabi, yang pada saat itu kondisi umat Islam mulai rusak dalam berbagai hal.
Tokoh pemerintahan yang pertama kali menyelenggarakan peringatan Maulud Nabi adalah Penguasa Irbil Raja Mudzaffar Abu said Al Kukburi bin Zainuddin Ali bin Buktikin. Beliau adalah Raja yang cerdas ahli strategi di bidang pemerintahan, pemurah, alim dan adil. Saat itu pemerintahannya terasa kurang stabil, rakyatnya mulai banyak meninggalkan syariat agamanya, akhlaqnya mulai rusak, mulai terjadi banyak kerusuhan-kerusuhan dan kemaksiatan- kemaksiatan.
Raja Mudzaffar berinisiatif menyelenggarakan peringatan Maulid nabi setiap bulan Robi’ul Awal secara besar-besaran, dengan mengumpulakan semua masyarakat dari tokoh-tokohnya sampai rakyat kecil. Pada peringatan Maulid itu disampaikan penjelasan tentang sejarah dan perjuangan, serta keteladanan Nabi Muhammad SAW sejak lahir sampai wafatnya. Seorang ulama’ besar Syekh Al Hafidz Ibnu Dahyah yang mengarang kitab tentang sejarah Nabi yang diberi nama At-Tanwir fi Maulidil Basyir An-Nadzir, diberi hadiah oleh Raja 1000 dinar.
Setelah diadakan peringatan Maulid Nabi SAW tersebut, pemerintahan kembali stabil, semangat pengamalan agamanya makin baik, negaranya aman, tentram dan bertambah makmur. Sesuai dengan Firman Allah SWT :
وَلَوْ اَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوْا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَاكَانُوْا يَكْسِبُوْنَ. (الأعراف :٩٥)
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah kami (Allah) akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS : Al A’raf :96).
Anjuran memperingati Maulid Nabi
Anjuran supaya memperingati Maulid Nabi sudah diisyaratkan oleh Allah SWT, dan oleh nabi sendiri. Firman Allah surat Al A’rof : 157 :
فَالَّذِيْنَ آمَنُوْا بِهِ وَعَزَّرُوْهُ وَنَصَرُوْهُ وَاتَّبَعُوا النُّوْرَ الَّذِيْ أُنْزِلَ مَعَهُ وَاُولئِكَ هُمُ اْلمُفْلِحُوْنَ. (الأعراف :١٥٧)
Maka orang-orang yang beriman kepadanya (Muhammad) memulyakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. Al A’rof :157)
Termasuk orang-orang yang memulyakan (dalam ayat ini) adalah orang-orang yang memperingati Maulid Nabi SAW, yang membaca Barzanji, Marhaban, Burdah, syair-syair dan qosidah-qosidah dan pengajian-pengajian, kalau dimaksudkan untuk memulyakan Nabi, maka akan mendapat pahala yang banyak dan akan beruntung.
Nabi Muhammad saw juga sudah memberikan isyarat tentang perlunya memperingati kelahiran Nabi sebagaimana hadis riwayat Muslim yang bersumber dari Abu Qotadah Al Anshory r.a :
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلعم سُئِلَ عَنْ صَوْمِ اْلإِثْنَيْنِ فَقَالَ فِيْهِ وُلِدْتُ وَفِيْهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ. (رواه مسلم)
“Sesungguhnya Rosulullah saw ditanya seorang sahabat tentang puasa hari Senin, maka beliau menjawab, sebab di hari Senin itu hari kelahiranku, dan wahyu diturunkan kepadaku”. ( HR. Muslim). Dari hadis ini Nabi sendiri juga memulyakan hari kelahirannya, dengan berpuasa (amal yang baik).
Beberapa pendapat tentang memperingati Maulid Nabi saw.
Di kalangan umat Islam ada beberapa pemahaman tentang memperingati Maulid nabi saw :
1. Golongan yang terbesar, yaitu yang merayakan Maulid Nabi setiap bulan Robi’ul Awwal, bahkan di bulan-bulan yang lain atau tiap-tiap malam Senin atau Jum’at dengan membaca Barzanji, membaca Marhaban dan kitab-kitab Maulid lainnya, sebagaimana yang biasa diamalkan umat Islam sejak dahulu. Golongan ini ada yang hanya membaca Barzanji saja, atau ada pula yang diteruskan dengan pengajian atau ceramah tentang riwayat dan perjuangan Nabi. Semua itu dengan maksud untuk melahirkan kecintaannya kepada nabi Muhammad saw.
2. Golongan umat Islam yang nerayakan maulid nabi tiap Bulan Robiul Awal, tetapi tidak dengan membaca Barzanji, tidak membaca Marhaban, atau kitab-kitab Maulid lainnya, karena dianggap tidak ada tuntunannya.
3. Golongan yang ekstrim, yaitu tidak mau merayakan peringatan maulid Nabi sama sekali, karena hal itu dianggap bid’ah yang harus ditinggal
Jumat, 21 Juni 2013
pengajian
khitan dalam presfektif figh kontektual
khitan berasal dari akar kata bahasa arab -khatana,yaktanu,khatnan yang berarti memotong. Secara terminologi pengertian khitan dibedakan antara laki-laki dan perempuan .Menurut imam Almawardi ,ulamak figih madzab imam syafi'i,khitan bagi laki-laki adalah memotong kulit yang menutupi ujung zakar,sehinga menjadi terbuka.Sedang khitan bagi perempuan adalah membuang bagian dalam faraj yakni kelentil/jaringan kecil yang tedapat pada ujung lubang vulva bagian atas vulva bagian atas kemaluan perempuan.Khitan bagi laki-laki di namakan juga I'zar dan khitan bagi perempuan dinamakan khafd. namun keduanya lazim di sebut khitan.Khitan/ sunat perempuan dalam bahasa medisnya disebut clitoridectomy,Sedangkan dalam bahasa inggris lebih dikenal dengan sebutan "Female Genital Multilation" disingkat menjadi FGM. Hukum khitan menurut imam Abu Hanifah adalah sunah ,beliau berpedoman pada sebuah hadist yang bermaksud : "berkhitan itu sunah bagi laki-laki dan penghormatan bagi perempuan," serta referensi lain adalah hadist abu dawut "bahwa nabi Muhamad pernah berkata kepada salah seorang perempuan juru khitan anak perempuan ,sedikit sajalah dipotong,sebab hal itu menambah cantik wajahnya dan kehormatan bagi suaminya."
Sejarah khitan
Khitan merupakan kelanjutan dari tradisi nabi Ibrohim AS, dialah orang pertama kali dikhitan .selain proses operasi bedah kulit bersifat fisik ,khitan nabi Ibrohim juga dimaksudkan sebagai simbol dan ikatan perjanjian suci (mitsaq) antara nabi dengan tuhanya, Allah. Seseorang tidak diperkenankan memasuki kawasan kalam suci ilahi sebelum mendapat stempet tuhan berupa khitan, khitan melambangkan kesucian itu kemudian diikuti pengikut nabi Ibrohim baik laki-laki maupun perempuan,hingga kini. Para antopologi menemukan budaya khitan telah populer dimasyarakat sejak Pra Islam dengan dibuktikan dengan ditemukan mumi perempuan di mesir kuno abad 16 sebelum masahi yang memiliki tanda clitoridectomy( pemotongan yang merusak alat kelamin) Pada abad ke-2 sm khitan dijadikan ritual perkawinan, dalam penelitian lain ,khitan telah dilakukan oleh bangsa pengembara semit, hamit, hamitoit, di asia barat daya dan afrika timur, bangsa negro dan afrika selatan. Di Indonesia sendiri tepatnnya dimusium batavia terdapat benda kuno yang menyerupai zakari yang telah dikhitan.Pada zaman romawi kuno budak perempuan dikhitan sebagai tanda masih perawan dengan cara memotong seluruh bibir vulva kemudian menjahinya sebagai segel masih original hal serupa khitan dilakukan pada zaman firaun berkuasa banya ditemukan mumi perempuan yang dikhitan.
khitan berasal dari akar kata bahasa arab -khatana,yaktanu,khatnan yang berarti memotong. Secara terminologi pengertian khitan dibedakan antara laki-laki dan perempuan .Menurut imam Almawardi ,ulamak figih madzab imam syafi'i,khitan bagi laki-laki adalah memotong kulit yang menutupi ujung zakar,sehinga menjadi terbuka.Sedang khitan bagi perempuan adalah membuang bagian dalam faraj yakni kelentil/jaringan kecil yang tedapat pada ujung lubang vulva bagian atas vulva bagian atas kemaluan perempuan.Khitan bagi laki-laki di namakan juga I'zar dan khitan bagi perempuan dinamakan khafd. namun keduanya lazim di sebut khitan.Khitan/ sunat perempuan dalam bahasa medisnya disebut clitoridectomy,Sedangkan dalam bahasa inggris lebih dikenal dengan sebutan "Female Genital Multilation" disingkat menjadi FGM. Hukum khitan menurut imam Abu Hanifah adalah sunah ,beliau berpedoman pada sebuah hadist yang bermaksud : "berkhitan itu sunah bagi laki-laki dan penghormatan bagi perempuan," serta referensi lain adalah hadist abu dawut "bahwa nabi Muhamad pernah berkata kepada salah seorang perempuan juru khitan anak perempuan ,sedikit sajalah dipotong,sebab hal itu menambah cantik wajahnya dan kehormatan bagi suaminya."
Sejarah khitan
Khitan merupakan kelanjutan dari tradisi nabi Ibrohim AS, dialah orang pertama kali dikhitan .selain proses operasi bedah kulit bersifat fisik ,khitan nabi Ibrohim juga dimaksudkan sebagai simbol dan ikatan perjanjian suci (mitsaq) antara nabi dengan tuhanya, Allah. Seseorang tidak diperkenankan memasuki kawasan kalam suci ilahi sebelum mendapat stempet tuhan berupa khitan, khitan melambangkan kesucian itu kemudian diikuti pengikut nabi Ibrohim baik laki-laki maupun perempuan,hingga kini. Para antopologi menemukan budaya khitan telah populer dimasyarakat sejak Pra Islam dengan dibuktikan dengan ditemukan mumi perempuan di mesir kuno abad 16 sebelum masahi yang memiliki tanda clitoridectomy( pemotongan yang merusak alat kelamin) Pada abad ke-2 sm khitan dijadikan ritual perkawinan, dalam penelitian lain ,khitan telah dilakukan oleh bangsa pengembara semit, hamit, hamitoit, di asia barat daya dan afrika timur, bangsa negro dan afrika selatan. Di Indonesia sendiri tepatnnya dimusium batavia terdapat benda kuno yang menyerupai zakari yang telah dikhitan.Pada zaman romawi kuno budak perempuan dikhitan sebagai tanda masih perawan dengan cara memotong seluruh bibir vulva kemudian menjahinya sebagai segel masih original hal serupa khitan dilakukan pada zaman firaun berkuasa banya ditemukan mumi perempuan yang dikhitan.
Kamis, 13 Juni 2013
pengajian
Tuesday, June 28, 2011
PENGERTIAN ISRAK DAN MIKRAJ

PENGERTIAN ISRAK DAN MIKRAJ
Israk bererti perjalanan Nabi Muhammad S.A.W. dari Masjid al-Haram di Mekah ke Masjid al-Aqsa di Bait al-Maqdis Palestin. Peristiwa ini ada terakam di dalam Al-Quran.
Firman Allah Taala bermaksud:
Maha Suci Allah yang telah menperjalankan hambaNya (Muhammad) pada suatu malam dari Masjid al-Haram (di Mekah) ke Masjid al-Aqsa (di Palestin) yang telah Kami berkati sekelilingnya agar Kami memperlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda (kekuasaan dan kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
(Surah al-Israa: ayat 1).
Sementara itu Mikraj pula merujuk kepada perjalanan Nabi Muhammad S.A.W. dari Masjid al-Aqsa ke Sidrat al-Muntaha di langit ketujuh dekat singgahsana Allah Taala sepertimana yang digambarkan oleh Al-Quran.
Firman Allah Taala bermaksud:
Dan sesungguhnya (Muhammad) telah melihat (Jibril dalam bentuk rupanya yang asal) pada waktu yang lain. (iaitu) Sidrat al-Muntaha. Di dekatnya terletak syurga tempat tinggal (Jannat al-Makwa). (Muhammad melihat Jibril dalam bentuk rupanya yang asal) ketika Sidrat al-Muntaha itu diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling daripada yang disaksikannya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) TuhanNya yang paling besar.
(Surah an-Najm: ayat 13-18).
Dapatlah disimpulkan di sini bahawa peristiwa Israk Mikraj adalah sebagai satu perjalanan kilat Nabi Muhammad S.A.W. pada malam hari di atas kehendak dan keizinan Allah Taala dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsa dan kemudian naik ke langit sampai ke Sidrat al-Muntaha bahkan menembusi tujuh lapis langit lalu kembali semula ke Makkah pada malam yang sama.
SEBAB KEPADA ISRAK MIKRAJ
Bulan Rejab iaitu tahun ke-11 dari kerasulan Nabi Muhammad S.A.W. disifatkan oleh ahli sejarah sebagai tahun dukacita bagi baginda berikutan dengan dua musibah yang menimpa baginda secara berturut-turut. Iaitu kehilangan dua insan yang baginda sayangi berikutan kewafatan Khadijah (isteri baginda) dan kemudian disusuli pula dengan pemergian Abu Talib (bapa saudara baginda).
Musibah yang menimpa itu mempunyai pengaruh besar terhadap diri Nabi Muhammad S.A.W. Baginda merasakan ruang untuk pergerakan dakwah di Makkah semakin sempit dan keselamatan diri turut terancam. Keadaan ini mendorong baginda untuk berpindah ke Thaif dengan harapan agar penduduknya menerima seruan dan bersedia membantu perjuangannya. Namun segala harapan baginda hancur kerana penduduk Thaif bukan saja tidak mahu memberi perlindungan kepada baginda malah baginda dicaci dan dihina dan pelbagai lagi.
Nabi Muhammad S.A.W. kembali semula ke Makkah dengan perasaan hampa dan dukacita. Lalu Allah Taala menganugerahkan Israk Mikraj yang antara lain bertujuan untuk menghibur dan memantapkan iman Nabi Muhammad S.A.W. Sebab kepada Israk Mikraj ini adalah antara sebab musabab berlakunya peristiwa ini namun semuanya di atas kehendak dan ketetapan dari Allah Taala.
PERJALANAN ISRAK DAN MIKRAJ
Telah disebut pada suatu ketika Nabi Muhammad S.A.W. sedang duduk di tepi Kaabah lalu datanglah malaikat Jibril A.S. dengan seekor Buraq untuk membawa Nabi Muhammad S.A.W. dalam peristiwa Israk Mikraj ini. Dari segi bahasa Buraq bererti kilat cahaya. Ia sejenis makhluk menyerupai haiwan. Saiznya besar sedikit dari khimar dan kecil sedikit dari baghal. Buraq dijadikan oleh Allah Taala dari cahaya. Ia boleh melangkah sejauh mata memandang.
Setelah itu berangkatlah Nabi Muhammad S.A.W. dengan ditemani oleh malaikat Jibril A.S. menuju ke Bait al-Maqdis dan baginda solat dua rakaat di situ dan menjadi imam kepada para nabi lain. Setelah selesai solat maka Nabi Muhammad S.A.W. telah dihidangkan dua bejana yang mengandungi dua jenis minuman iaitu satu bejana mengandungi susu dan satu bejana lagi mengandungi arak. Setelah itu Nabi Muhammad S.A.W. mengambil bejana yang mengandungi susu dan tindakan baginda memilih bejana mengandungi susu mendapat sanjungan dari Jibril A.S. kerana menepati fitrah manusia. Kemudian baginda dan Jibril A.S. meneruskan Mikraj ke langit pertama hingga ke tujuh.
KEJADIAN SEPANJANG ISRAK MIKRAJ
Di sini Allah Taala memperlihatkan pelbagai gambaran kejadian aneh dan pelik sebagai balasan dari Allah Taala kepada hamba-hambaNya mengikut apa sahaja perbuatan yang telah dilakukan. Di antara yang kejadian yang diperlihatkan kepada baginda sepanjang Israk dan Mikraj adalah:
Baginda melihat orang yang bercucuktanam mengeluarkan hasil yang banyak dan cepat. Inilah gambaran orang yang membelanjakan harta di jalan Allah Taala.
Baginda mencium bau yang amat wangi dari kubur Masyitah. Ceritanya: Sedang Masyitah menyikat rambut anak Firaun maka sikat yang digunakan itu terjatuh lalu Masyitah menyebut: Dengan nama Allah. Bertanyalah anak Firaun kepada Masitah tentang tuhan selain bapanya. Masyitah menjawab: Tuhanku dan tuhan bapa kamu adalah Allah. Anak Firaun memberitahu bapanya akan hal ini lalu Masyitah diugut oleh Firaun supaya kembali ke agama asalnya. Masyitah enggan dan tetap dengan pendiriannya. Lalu Firaun mencampakkan seorang demi seorang anaknya ke dalam air yang mendidih sehingga tiba giliran anak terakhirnya yang sedang disusui olehnya. Masyitah merasa sangat bimbang dan kesian akan anak kecilnya itu lalu Masyitah cuba melengah-lengahkan masa. Dengan kuasa Allah Taala maka bayi tersebut dapat berkata-kata lalu menyebut: Wahai ibuku! Sesungguhnya azab akhirat itu jauh lebih pedih dari azab dunia maka usahlah ibu menjauh-jauhkan diri kerana ibu di pihak yang benar. Lalu Masyitah melepaskan bayinya dan Firaun dengan segera mencampakkan bayi itu ke dalam didihan air. Masyitah berkata: Aku mempunyai permintaan iaitu supaya engkau (Firaun) mengumpulkan semua tulang dan menanamnya. Firaun berkata: Aku akan melakukannya. Lantas Firaun pun mencampakkan Masyitah ke dalam air didihan itu.
Baginda melihat sekumpulan manusia berpakaian compang-camping sambil memakan sampah-sarap serta rumput. Itulah gambaran golongan manusia yang enggan mengeluarkan zakat dan tidak bersedekah kerana sayangkan harta yang dimiliki.
Baginda melihat sekumpulan manusia yang mempunyai perut yang besar sehingga tidak terdaya lagi untuk bangun dan berdiri. Inilah gambaran manusia yang memakan hasil daripada perbuatan riba.
Baginda melihat sekumpulan manusia yang asyik memakan daging mentah dan busuk sedangkan di sisi mereka juga terdapat daging yang telah dimasak dan berkeadaan baik. Inilah gambaran manusia yang telah melakukan zina dalam hidup mereka sedangkan mereka sudah pun mempunyai isteri yang telah dikahwini secara sah.
Baginda turut melihat sekumpulan manusia yang sedang memecahkan kepalanya sendiri. Inilah gambaran manusia yang terlalu sibuk dengan hal-hal keduniaan sehingga lalai menunaikan kewajipan bersolat.
Baginda melihat sekumpulan manusia yang memotong lidahnya sendiri secara berterusan. Inilah gambaran manusia yang dalam hidup mereka suka menabur fitnah dan berbohong apabila berkata-kata.
Baginda melihat wanita menangis sambil meminta pertolongan tetapi tiada yang sanggup membantu. Inilah gambaran balasan wanita yang berhias bukan kerana suaminya.
Baginda melihat wanita tergantung pada rambutnya serta otaknya menggelegak dalam periuk. Inilah gambaran balasan wanita yang tidak menutup auratnya.
Baginda melihat wanita berkepala seperti babi dan badannya seperti kaldai dan menerima berbagai-bagai balasan. Inilah gambaran wanita yang suka membuat fitnah dan bermusuh dengan jiran dan membuat dusta.
DIFARDHUKAN SOLAT LIMA WAKTU
Daripada pelbagai kejadian yang disaksikan sendiri oleh Rasulullah S.A.W. ini ada suatu hal yang amat besar dan penting yang melibatkan proses peribadatan umatnya iaitu perintah Allah Taala agar melakukan ibadat solat fardu.
Sewaktu tiba di Sidrat al-Muntaha maka Rasulullah S.A.W. telah menerima perintah Allah Taala iaitu perintah melakukan ibadat solat untuk seluruh umatnya sebanyak 50 waktu sehari semalam. Sebaik sahaja menerima perintah tersebut tanpa banyak bicara baginda dan Jibril A.S. bersiap sedia untuk turun ke bumi.
Pada masa inilah baginda bertemu dengan Nabi Musa A.S. yang bertanyakan hal itu kepada baginda. Setelah mendengar penjelasan Nabi Muhammad S.A.W. maka Nabi Musa A.S. berkata: Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah sedikit keringanan kerana bilangan tersebut tidak akan terdaya dilakukan oleh umatmu.
Nabi Muhammad S.A.W. dan Jibril kembali mengadap Allah Taala. Jumlah bilangan waktu solat telah dikurangkan kepada 40 waktu. Apabila berjumpa Nabi Musa A.S. kemudiannya maka Nabi Musa A.S. meminta baginda kembali menemui Tuhan untuk meminta dikurangkan lagi jumlah tersebut. Setelah beberapa kali Nabi Muhammad S.A.W. berulang alik menemui Allah Taala dan pada akhirnya Allah Taala telah mengurangkan bilangan solat fardu tersebut menjadi 5 waktu sahaja.
Apabila kembali semula maka Nabi Musa A.S. masih merasakan umat Nabi Muhammad S.A.W. masih tidak terdaya untuk melakukannya dengan bilangan 5 itu. Nabi Muhammad S.A.W. menyatakan bahawa beliau tidak akan mengadap Allah Taala lagi untuk memintaNya mengurangkan bilangan solat itu kerana baginda merasa malu untuk berdepan dengan Allah Taala.
PERTIKAIAN KAFIR QURAISY
Tiada alasan untuk menolak hakikat peristiwa Israk Mikraj yang dilalui oleh Nabi Muhammad S.A.W. dengan roh dan jasadnya sekali kerana baginda telah diIsrak dan diMikrajkan oleh Allah Taala. Sekalipun peristiwa Israk Mikraj itu adalah perkara luar biasa di sisi akal manusia tetapi bagi Allah Taala Yang Maha Berkuasa maka Dia boleh melakukan apa jua perkara yang dianggap pelik menjadi perkara biasa dan tiada yang mustahil bagiNya.
Kalaulah peristiwa Israk Mikraj itu sekadar mimpi Nabi Muhammad S.A.W pergi ke Bait al-Maqdis dan juga mimpi naik ke langit tujuh maka kaum musyrikin Makkah tidak akan marah dan mempersenda baginda kerana mimpi adalah perkara biasa bagi semua orang. Bilamana kafir Quraisy menentang habis-habisan dan berusaha mati-matian menyangkal peristiwa Israk Mikraj yang berlaku dengan roh dan juga jasad Nabi Muhammad S.A.W. ini bererti dengan sendirinya mereka mengakui bahawa baginda telah diIsrak dan diMikrajkan dengan roh dan jasadnya sekali. Ini kerana mimpi bukanlah suatu yang luar biasa dan tidak menyebabkan orang bersengketa mempertikaikan jika ada orang yang mendakwa sedemikian rupa.
Sekiranya Nabi Muhammad S.A.W itu sekadar mimpi naik ke langit sahaja maka tidak ada mustahaknya orang-orang kafir Quraisy mencabar baginda untuk membuktikan kebenaran ceritanya dengan menanyakan baginda berkenaan rupabentuk Masjid al-Aqsa serta jumlah pintu dan tiangnya dan juga perkara-perkara yang berkaitan dengan masjid tersebut.
Pertanyaan kafir Quraisy mengenai keadaan rupabentuk Masjid al-Aqsa dengan tujuan untuk memerangkap Nabi Muhammad S.A.W. kerana mereka yakin seratus peratus bahawa baginda tidak pernah menjejakkan kaki ke Bait al-Maqdis. Sebaliknya apabila semua pertanyaan telah dijawab dengan betul maka mereka menjadi panik dan bingung. Mereka tahu bahawa Nabi Muhammad S.A.W. sebelum peristiwa ini sememangnya tidak pernah pergi ke Bait al-Maqdis tetapi mereka hairan bagaimana baginda boleh menjawab semua pertanyaan berhubung Masjid al-Aqsa itu dengan tepat. Mereka telah hilang punca dan mereka terpaksa membuat tuduhan bahawa Nabi Muhammad S.A.W. adalah seorang ahli sihir.
Sememangnya tiada dalam ingatan Nabi Muhamamd S.A.W. tentang rupabentuk Masjid al-Aqsa kerana baginda sekadar dibawa singgah sebentar oleh Jibril A.S. untuk menunaikan solat dua rakaat. Bagaimanapun Allah Taala tidak akan membiarkan RasulNya terperangkap dalam percaturan jahat puak musyrikin Makkah yang cuba hendak memalukan baginda. Allah Taala datangkan Masjid al-Aqsa ke hadapan Nabi Muhammad S.A.W. Justeru itu Nabi Muhammad S.A.W. dapat melihat Masjid al-Aqsa dengan jelas sehingga mudah untuk baginda menjawab semua pertanyaan puak musyrikin.
Orang yang beriman akan terus beriman dan makin bertambah kukuhlah iman mereka. Manakala orang yang tidak beriman akan terus kufur bersama kekufuran mereka. Semuanya telah dibentangkan di depan mata.
Kamis, 23 Februari 2012
sejarah awal peringatan maulid .nabi MUHAMAD SAW.
Sejarah singkat awal peringatan maulid nabi muhamad. SAW.
Shalahuddin Yussuf
Al-AyubiPeringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pertama kali diselenggarakan
olehMuzaffar ibn Baktati, raja Mesir yang terkenal arif dan bijaksana.
Sedangkan pencetuside peringatan adalah panglima perangnya, Shalahuddin Yussuf
Al-Ayubi (abad ke-6 M),sosok pemimpin pasukan Islam yang pernah mengalahkan
pasukan Kristen dalam PerangSalib.Shalahuddin juga merupakan panglima Islam di
masa Khalifah Muiz Liddinillahdari dinasti Bani Fathimiyah di Mesir (berkuasa
365 H/975 M). Seperti disebutkan dalamEnsiklopedia Islam untuk Pelajar, ia
kemudian juga gigih menyelenggarakan peringatanMaulid Nabi dari tahun ke tahun
di masanya.Mengapa Shalahuddin merasa perlu mengadakan peringatan Maulid? Sang panglima
berpendapat, ketika Perang Salib terjadi, motivasi umat Islam sangat
menurun,sementara motivasi pasukan Salib (Kristen) meningkat. Hal ini tentu
tidak kondusif bagi pasukan Islam, sehingga Shalahuddin merasa perlu
membangkitkan kembali semangatumat Islam sebagaimana umat Kristen dengan
perayaan Natal-nya. Maka sang panglimaini kemudian mengadakan peringatan hari
lahir Muhammad SAW yang kemudian dikenaldengan sebutan Maulid Nabi.Bila dalam peringatan
Natal kaum Kristen dikisahkan tentang keagungan Yesus,maka dalam peringatan
Maulid, Shalahuddin menggemakan kisah perang yang dilakukan Nabi SAW. Tapi
belakangan, yang dibacakan pada acara peringatan Maulid tersebut berubah, bukan
lagi kisah perang, melainkan kisah lahir dan hidup sang Nabi SAW. Kisah perang
tampaknya dianggap tak lagi relevan lagi.Kini, meskipun tak ada lagi perang
fisik di kalangan umat Islam, peringatanMaulid Nabi tampaknya masih perlu
dilakukan. Selain dimaksudkan untuk meneladaniakhlak Muhammad SAW, peringatan
Maulid juga diperuntukkan untuk perang yang lebih besar, yakni perang melawan
hawa nafsu, kemungkaran, dan kemaksiatan. Krisis berkepanjangan bangsa
Indonesia saat ini, antara lain disebabkan merajalelanyakemaksiatan,
kemungkaran dan tidak adanya penegakan nilai-nilai moral. Hawa nafsulebih
mendominasi kehidupan umat manusia saat ini ketimbang moral.Perang dalam bentuk
non-fisik inilah yang dinilai lebih berat dari perang fisik.Apalagi di tengah
perkembangan globalisasi saat ini, yang tak jarang memperlemahsemangat keimanan
umat Islam, maka peringatan Maulid Nabi SAW menjadi penting.
Langganan:
Postingan (Atom)