Minggu, 23 Maret 2014
masalah super visi
KEUTAMAAN MEMPERINGATI MAULID NABI MUHAMMAD SAW
Menurut fatwa seorang Ulama besar : Asy-Syekh Al Hafidz As-Suyuthi menerangkan bahwa mengadakan peringatan kelahiran Nabi Muhammad Saw, dengan cara mengumpulkan banyak orang, dan dibacakan ayat-ayat al-Quran dan diterangkan (diuraikan) sejarah kehidupan dan perjuangan Nabi sejak kelahiran hingga wafatnya, dan diadakan pula sedekah berupa makanan dan hidangan lainnya dengan cara yang tidak berlebihan adalah merupakan perbuatan Bid’ah hasanah, dan akan mendapatkan pahala bagi orang yang mengadakannya dan yang menghadirinya, sebab merupakan wujud kegembiraan, dan kecintaan / mahabbah kapada Rosullullah saw.
Seperti yang disabdakan oleh Nabi Muhammad Saw :
مَنْ أَحَبَّنِى كَانَ مَعِيْ فِي الْجَنـَّةِ
“Barang siapa yang senang, gembira, dan cinta kepada saya maka akan berkumpul bersama dengan saya masuk surga”.
Dalam kitab “Anwarul Muhammadiyah“ karangan : Syekh Yusuf Bin Ismail An-Nabhani, diterangkan bahwa pada saat hari kelahiran Nabi Muhammad Saw, seorang wanita budak belian dari Abu Lahab (tokoh kafir jahiliyyah) yang bernama Tsuwaibah menyampaikan kabar gembira tentang kelahiran Nabi Muhammad Saw kepada Abu Lahab. Karena senangnya Abu Lahab mendapat berita itu, spontan budak wanitanya yang bernama Tsuwaibah itu dibebaskan dan dihadiahkan kepada Siti Aminah : Ibunda Muhammad Saw untuk menyusui bayinya tersebut.
Ketika Abu Lahab telah meninggal dunia seorang sahabat Nabi ada yang bertemu dalam mimpinya dan menanyakan tentang nasibnya di akhirat.
Abu Lahab menjawab : Saya disiksa selama-lamanya karena kekafiran saya tetapi pada tiap-tiap hari senin saya diberi keringanan dari siksaan bahkan aku bisa mencium dua jari tanganku dan bisa keluar airnya untuk saya minum.
Dan ketika ditanya : mengapa bisa demikian? Abu Lahab menjawab : Ini adalah merupakan hadiah dari Allah karena kegembiraanku pada saat kelahiran Nabi Muhammad Saw.
Dalam sebuah hadits dikatakan :
مَنْ عَظَّمَ مَوْلِدِىْ كُنْتُ شَفِيْعًا لَهُ يَـوْمَ الْقِيَا مَةِ. وَمَنْ أَنْفَقَ دِرْهَمًا فِى مَوْلِدِى فَكَأَ نَّمَا اَنْفَقَ جَبَلاً مِنْ ذَ هَبٍ فِى سَبِيْلِ اللهِ
“Barang siapa yang memulyakan / memperingati hari kelahiranku maka aku akan memberinya syafa’at pada hari kiamat. Dan barang siapa memberikan infaq satu dirham untuk memperingati kelahiranku, maka akan diberi pahala seperti memberikan infaq emas sebesar gunung fi sabilillah.
Sahabat Abu Bakar Ash-Shidiq berkata :
مَنْ أَنْفَقَ دِرْ هَماً فِى مَوْ لِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ رَفِيْقِيْ فِى الْجَنَّةِ
“Barang siapa yang memberikan infaq satu dirham untuk memperingati kelahiran Nabi Saw : akan menjadi temanku masuk surga”.
Sahabat Umar Bin Khoththob berkata :
مَنْ عَظَّمَ مَوْ لِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَدْ أَحْيَا اْلإِسْلاَمَ
“Barang siapa yang memuliakan / memperingati kelahiran Nabi Saw, berarti telah menghidupkan Islam”.
Sahabat Ali Bin Abi Tholib berkata :
مَنْ عَظَّمَ مَوْ لِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَخْرُجُ مِنَ الدُّنْياَ اِلاَّ بِاْلإِ يْمَانِ
“Barang siapa yang memuliakan / memperingati kelahiran Nabi Saw, apabila pergi meninggalkan dunia pergi dengan membawa iman”.
Melihat besarnya pahala tersebut maka banyaklah kaum muslimn muslimat yang selalu melahirkan rasa cintanya kepada Nabi dan mengagungkan hari kelahiran Nabi dengan cara-cara yang terpuji seperti pada tiap-tiap malam Senin atau malam Jum’at mengadakan jama’ah membaca kitab Al- Barzanji, sholawat maulud, dan ada pula yang menyediakan tabungan yang berwujud uang hasil tanaman atau sebagian gajinya untuk kepentingan memperingati kelahiran Nabi Saw.
Perintis Peringatan Maulid Nabi
Peringatan Maulud Nabi sudah diadakan oleh kalangan umat Islam sejak pada kurun ketiga atau tiga ratus tahun setelah hijrah Nabi, yang pada saat itu kondisi umat Islam mulai rusak dalam berbagai hal.
Tokoh pemerintahan yang pertama kali menyelenggarakan peringatan Maulud Nabi adalah Penguasa Irbil Raja Mudzaffar Abu said Al Kukburi bin Zainuddin Ali bin Buktikin. Beliau adalah Raja yang cerdas ahli strategi di bidang pemerintahan, pemurah, alim dan adil. Saat itu pemerintahannya terasa kurang stabil, rakyatnya mulai banyak meninggalkan syariat agamanya, akhlaqnya mulai rusak, mulai terjadi banyak kerusuhan-kerusuhan dan kemaksiatan- kemaksiatan.
Raja Mudzaffar berinisiatif menyelenggarakan peringatan Maulid nabi setiap bulan Robi’ul Awal secara besar-besaran, dengan mengumpulakan semua masyarakat dari tokoh-tokohnya sampai rakyat kecil. Pada peringatan Maulid itu disampaikan penjelasan tentang sejarah dan perjuangan, serta keteladanan Nabi Muhammad SAW sejak lahir sampai wafatnya. Seorang ulama’ besar Syekh Al Hafidz Ibnu Dahyah yang mengarang kitab tentang sejarah Nabi yang diberi nama At-Tanwir fi Maulidil Basyir An-Nadzir, diberi hadiah oleh Raja 1000 dinar.
Setelah diadakan peringatan Maulid Nabi SAW tersebut, pemerintahan kembali stabil, semangat pengamalan agamanya makin baik, negaranya aman, tentram dan bertambah makmur. Sesuai dengan Firman Allah SWT :
وَلَوْ اَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوْا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَاكَانُوْا يَكْسِبُوْنَ. (الأعراف :٩٥)
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah kami (Allah) akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS : Al A’raf :96).
Anjuran memperingati Maulid Nabi
Anjuran supaya memperingati Maulid Nabi sudah diisyaratkan oleh Allah SWT, dan oleh nabi sendiri. Firman Allah surat Al A’rof : 157 :
فَالَّذِيْنَ آمَنُوْا بِهِ وَعَزَّرُوْهُ وَنَصَرُوْهُ وَاتَّبَعُوا النُّوْرَ الَّذِيْ أُنْزِلَ مَعَهُ وَاُولئِكَ هُمُ اْلمُفْلِحُوْنَ. (الأعراف :١٥٧)
Maka orang-orang yang beriman kepadanya (Muhammad) memulyakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. Al A’rof :157)
Termasuk orang-orang yang memulyakan (dalam ayat ini) adalah orang-orang yang memperingati Maulid Nabi SAW, yang membaca Barzanji, Marhaban, Burdah, syair-syair dan qosidah-qosidah dan pengajian-pengajian, kalau dimaksudkan untuk memulyakan Nabi, maka akan mendapat pahala yang banyak dan akan beruntung.
Nabi Muhammad saw juga sudah memberikan isyarat tentang perlunya memperingati kelahiran Nabi sebagaimana hadis riwayat Muslim yang bersumber dari Abu Qotadah Al Anshory r.a :
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلعم سُئِلَ عَنْ صَوْمِ اْلإِثْنَيْنِ فَقَالَ فِيْهِ وُلِدْتُ وَفِيْهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ. (رواه مسلم)
“Sesungguhnya Rosulullah saw ditanya seorang sahabat tentang puasa hari Senin, maka beliau menjawab, sebab di hari Senin itu hari kelahiranku, dan wahyu diturunkan kepadaku”. ( HR. Muslim). Dari hadis ini Nabi sendiri juga memulyakan hari kelahirannya, dengan berpuasa (amal yang baik).
Beberapa pendapat tentang memperingati Maulid Nabi saw.
Di kalangan umat Islam ada beberapa pemahaman tentang memperingati Maulid nabi saw :
1. Golongan yang terbesar, yaitu yang merayakan Maulid Nabi setiap bulan Robi’ul Awwal, bahkan di bulan-bulan yang lain atau tiap-tiap malam Senin atau Jum’at dengan membaca Barzanji, membaca Marhaban dan kitab-kitab Maulid lainnya, sebagaimana yang biasa diamalkan umat Islam sejak dahulu. Golongan ini ada yang hanya membaca Barzanji saja, atau ada pula yang diteruskan dengan pengajian atau ceramah tentang riwayat dan perjuangan Nabi. Semua itu dengan maksud untuk melahirkan kecintaannya kepada nabi Muhammad saw.
2. Golongan umat Islam yang nerayakan maulid nabi tiap Bulan Robiul Awal, tetapi tidak dengan membaca Barzanji, tidak membaca Marhaban, atau kitab-kitab Maulid lainnya, karena dianggap tidak ada tuntunannya.
3. Golongan yang ekstrim, yaitu tidak mau merayakan peringatan maulid Nabi sama sekali, karena hal itu dianggap bid’ah yang harus ditinggal
peringatan nabi muhamad
KEUTAMAAN MEMPERINGATI MAULID NABI MUHAMMAD SAW
Menurut fatwa seorang Ulama besar : Asy-Syekh Al Hafidz As-Suyuthi menerangkan bahwa mengadakan peringatan kelahiran Nabi Muhammad Saw, dengan cara mengumpulkan banyak orang, dan dibacakan ayat-ayat al-Quran dan diterangkan (diuraikan) sejarah kehidupan dan perjuangan Nabi sejak kelahiran hingga wafatnya, dan diadakan pula sedekah berupa makanan dan hidangan lainnya dengan cara yang tidak berlebihan adalah merupakan perbuatan Bid’ah hasanah, dan akan mendapatkan pahala bagi orang yang mengadakannya dan yang menghadirinya, sebab merupakan wujud kegembiraan, dan kecintaan / mahabbah kapada Rosullullah saw.
Seperti yang disabdakan oleh Nabi Muhammad Saw :
مَنْ أَحَبَّنِى كَانَ مَعِيْ فِي الْجَنـَّةِ
“Barang siapa yang senang, gembira, dan cinta kepada saya maka akan berkumpul bersama dengan saya masuk surga”.
Dalam kitab “Anwarul Muhammadiyah“ karangan : Syekh Yusuf Bin Ismail An-Nabhani, diterangkan bahwa pada saat hari kelahiran Nabi Muhammad Saw, seorang wanita budak belian dari Abu Lahab (tokoh kafir jahiliyyah) yang bernama Tsuwaibah menyampaikan kabar gembira tentang kelahiran Nabi Muhammad Saw kepada Abu Lahab. Karena senangnya Abu Lahab mendapat berita itu, spontan budak wanitanya yang bernama Tsuwaibah itu dibebaskan dan dihadiahkan kepada Siti Aminah : Ibunda Muhammad Saw untuk menyusui bayinya tersebut.
Ketika Abu Lahab telah meninggal dunia seorang sahabat Nabi ada yang bertemu dalam mimpinya dan menanyakan tentang nasibnya di akhirat.
Abu Lahab menjawab : Saya disiksa selama-lamanya karena kekafiran saya tetapi pada tiap-tiap hari senin saya diberi keringanan dari siksaan bahkan aku bisa mencium dua jari tanganku dan bisa keluar airnya untuk saya minum.
Dan ketika ditanya : mengapa bisa demikian? Abu Lahab menjawab : Ini adalah merupakan hadiah dari Allah karena kegembiraanku pada saat kelahiran Nabi Muhammad Saw.
Dalam sebuah hadits dikatakan :
مَنْ عَظَّمَ مَوْلِدِىْ كُنْتُ شَفِيْعًا لَهُ يَـوْمَ الْقِيَا مَةِ. وَمَنْ أَنْفَقَ دِرْهَمًا فِى مَوْلِدِى فَكَأَ نَّمَا اَنْفَقَ جَبَلاً مِنْ ذَ هَبٍ فِى سَبِيْلِ اللهِ
“Barang siapa yang memulyakan / memperingati hari kelahiranku maka aku akan memberinya syafa’at pada hari kiamat. Dan barang siapa memberikan infaq satu dirham untuk memperingati kelahiranku, maka akan diberi pahala seperti memberikan infaq emas sebesar gunung fi sabilillah.
Sahabat Abu Bakar Ash-Shidiq berkata :
مَنْ أَنْفَقَ دِرْ هَماً فِى مَوْ لِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ رَفِيْقِيْ فِى الْجَنَّةِ
“Barang siapa yang memberikan infaq satu dirham untuk memperingati kelahiran Nabi Saw : akan menjadi temanku masuk surga”.
Sahabat Umar Bin Khoththob berkata :
مَنْ عَظَّمَ مَوْ لِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَدْ أَحْيَا اْلإِسْلاَمَ
“Barang siapa yang memuliakan / memperingati kelahiran Nabi Saw, berarti telah menghidupkan Islam”.
Sahabat Ali Bin Abi Tholib berkata :
مَنْ عَظَّمَ مَوْ لِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَخْرُجُ مِنَ الدُّنْياَ اِلاَّ بِاْلإِ يْمَانِ
“Barang siapa yang memuliakan / memperingati kelahiran Nabi Saw, apabila pergi meninggalkan dunia pergi dengan membawa iman”.
Melihat besarnya pahala tersebut maka banyaklah kaum muslimn muslimat yang selalu melahirkan rasa cintanya kepada Nabi dan mengagungkan hari kelahiran Nabi dengan cara-cara yang terpuji seperti pada tiap-tiap malam Senin atau malam Jum’at mengadakan jama’ah membaca kitab Al- Barzanji, sholawat maulud, dan ada pula yang menyediakan tabungan yang berwujud uang hasil tanaman atau sebagian gajinya untuk kepentingan memperingati kelahiran Nabi Saw.
Perintis Peringatan Maulid Nabi
Peringatan Maulud Nabi sudah diadakan oleh kalangan umat Islam sejak pada kurun ketiga atau tiga ratus tahun setelah hijrah Nabi, yang pada saat itu kondisi umat Islam mulai rusak dalam berbagai hal.
Tokoh pemerintahan yang pertama kali menyelenggarakan peringatan Maulud Nabi adalah Penguasa Irbil Raja Mudzaffar Abu said Al Kukburi bin Zainuddin Ali bin Buktikin. Beliau adalah Raja yang cerdas ahli strategi di bidang pemerintahan, pemurah, alim dan adil. Saat itu pemerintahannya terasa kurang stabil, rakyatnya mulai banyak meninggalkan syariat agamanya, akhlaqnya mulai rusak, mulai terjadi banyak kerusuhan-kerusuhan dan kemaksiatan- kemaksiatan.
Raja Mudzaffar berinisiatif menyelenggarakan peringatan Maulid nabi setiap bulan Robi’ul Awal secara besar-besaran, dengan mengumpulakan semua masyarakat dari tokoh-tokohnya sampai rakyat kecil. Pada peringatan Maulid itu disampaikan penjelasan tentang sejarah dan perjuangan, serta keteladanan Nabi Muhammad SAW sejak lahir sampai wafatnya. Seorang ulama’ besar Syekh Al Hafidz Ibnu Dahyah yang mengarang kitab tentang sejarah Nabi yang diberi nama At-Tanwir fi Maulidil Basyir An-Nadzir, diberi hadiah oleh Raja 1000 dinar.
Setelah diadakan peringatan Maulid Nabi SAW tersebut, pemerintahan kembali stabil, semangat pengamalan agamanya makin baik, negaranya aman, tentram dan bertambah makmur. Sesuai dengan Firman Allah SWT :
وَلَوْ اَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوْا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَاكَانُوْا يَكْسِبُوْنَ. (الأعراف :٩٥)
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah kami (Allah) akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS : Al A’raf :96).
Anjuran memperingati Maulid Nabi
Anjuran supaya memperingati Maulid Nabi sudah diisyaratkan oleh Allah SWT, dan oleh nabi sendiri. Firman Allah surat Al A’rof : 157 :
فَالَّذِيْنَ آمَنُوْا بِهِ وَعَزَّرُوْهُ وَنَصَرُوْهُ وَاتَّبَعُوا النُّوْرَ الَّذِيْ أُنْزِلَ مَعَهُ وَاُولئِكَ هُمُ اْلمُفْلِحُوْنَ. (الأعراف :١٥٧)
Maka orang-orang yang beriman kepadanya (Muhammad) memulyakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. Al A’rof :157)
Termasuk orang-orang yang memulyakan (dalam ayat ini) adalah orang-orang yang memperingati Maulid Nabi SAW, yang membaca Barzanji, Marhaban, Burdah, syair-syair dan qosidah-qosidah dan pengajian-pengajian, kalau dimaksudkan untuk memulyakan Nabi, maka akan mendapat pahala yang banyak dan akan beruntung.
Nabi Muhammad saw juga sudah memberikan isyarat tentang perlunya memperingati kelahiran Nabi sebagaimana hadis riwayat Muslim yang bersumber dari Abu Qotadah Al Anshory r.a :
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلعم سُئِلَ عَنْ صَوْمِ اْلإِثْنَيْنِ فَقَالَ فِيْهِ وُلِدْتُ وَفِيْهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ. (رواه مسلم)
“Sesungguhnya Rosulullah saw ditanya seorang sahabat tentang puasa hari Senin, maka beliau menjawab, sebab di hari Senin itu hari kelahiranku, dan wahyu diturunkan kepadaku”. ( HR. Muslim). Dari hadis ini Nabi sendiri juga memulyakan hari kelahirannya, dengan berpuasa (amal yang baik).
Beberapa pendapat tentang memperingati Maulid Nabi saw.
Di kalangan umat Islam ada beberapa pemahaman tentang memperingati Maulid nabi saw :
1. Golongan yang terbesar, yaitu yang merayakan Maulid Nabi setiap bulan Robi’ul Awwal, bahkan di bulan-bulan yang lain atau tiap-tiap malam Senin atau Jum’at dengan membaca Barzanji, membaca Marhaban dan kitab-kitab Maulid lainnya, sebagaimana yang biasa diamalkan umat Islam sejak dahulu. Golongan ini ada yang hanya membaca Barzanji saja, atau ada pula yang diteruskan dengan pengajian atau ceramah tentang riwayat dan perjuangan Nabi. Semua itu dengan maksud untuk melahirkan kecintaannya kepada nabi Muhammad saw.
2. Golongan umat Islam yang nerayakan maulid nabi tiap Bulan Robiul Awal, tetapi tidak dengan membaca Barzanji, tidak membaca Marhaban, atau kitab-kitab Maulid lainnya, karena dianggap tidak ada tuntunannya.
3. Golongan yang ekstrim, yaitu tidak mau merayakan peringatan maulid Nabi sama sekali, karena hal itu dianggap bid’ah yang harus ditinggal
padang bulan
“ SYI'IR PADANG BULAN ”
Oleh: Maulanaa AlHabib Muhammad Luthfi bin Yahya
اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ
عَدَدَ مَا فِي عِلْمِ اللهِ صَلاَةً دَائِمَةً بِدَوَامِ مُلْكِ اللهِ
[Allohumma Sholli wa Sallim 'alaa sayyidinaa wa maulanaa Muhammadin] 2X
['Adada maa fii 'ilmillahi Sholatan daaimatan bidawaami mulkillaahi] 2X
[Padang bulan, padange koyo rino.
Rembulane sing ngawe-awe] 2X
Ngelengake, ojo turu sore.
[E... Kene tak critani, kanggo sebo mengko sore] 2X
[Lamun wong tuwo, Lamun wong tuwo keliru mimpine
Ngalamat bakal, Ngalamat bakal getun mburine] 2X
Wong tuwo loro, kundur ing ngarso pengeran
[Anak putune, rame rame rebutan warisan] 2X
[Wong tuwa loro, ing njero kubur anyandang susah
Sebab mirsani, putera puterine ora ngibadah (dho pecah belah)] 2X
Kang den arep-arep, yoiku turune rahmat
[Jebul kang teka - Jebul kang teka, nambahi fitnah] 2X
[Iki dino, ojo lali lungo ngaji
Takon marang, Kyai Guru kang pinuji] 2X
Enggal siro, ora gampang kebujuk syetan
[Insya Alloh, kito menang lan kabegjan] 2X
[Jaman kepungkur, ono jaman jaman buntutan
Esuk-esuk, rame rame luru ramalan] 2X
Gambar kucing, dikira gambar macan
[Bengi diputer - bengi diputer, metu wong edan] 2X
[Kurang puas kurang puas, luru ramalan
Wong ora waras wong ora waras, dadi takonan] 2X
Kang ditakoni, ngguyu cekaka’an
[Jebul kang takon - jebul kang takon, wis ketularan] 2x
اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ
عَدَدَ مَا فِي عِلْمِ اللهِ صَلاَةً دَائِمَةً بِدَوَامِ مُلْكِ اللهِ
Sabtu, 22 Maret 2014
prof tesis
Proposal Tesis
Nama
NIM
Prodi
Judul :Qurrotul Aeni
: A. 11.10646
: Pendidikan Agama Islam
: TIPOLOGI PONDOK PESANTREN DALAM KONSTELASI PEMBAHARUAN PENDIDIKAN ISLAM (Studi pada Pesantren-Pesantren di Kecamatan Bawang Kabupaten Batang)
1. Latar Belakang Masalah
Isu utama pesantren saat ini, sebagaimana pernyataan Abdul Djamil pada dasawarsa terakhir nampak sedang memasuki babak baru di tengah-tengah dinamika sosio-kultural masyarakat Indonesia. Fenomena menguatnya kembali peran pesantren dalam membentuk kebudayaan bangsa Indonesia menurutnya semakin signifikan. Babak baru tersebut setidaknya dapat dilacak melalui visi pesantren yang di samping sebagai lembaga pengemban intelektual, juga sebagai pembinaan moral masyarakat. Tidak heran pesantren memiliki posisi nilai tawar tinggi karena berbagai macam pemikiran mencoba berdialektika tarik ulur antara idealitas dan realitas dalam memenuhi kebutuhan mereka.
Di zaman yang multikompleks ini tentunya pendidikan ideal menjadi sebuah keniscayaan. Namun, tantangan globalisasi kini semakin tak terkendalikan. Ketegangan antara aspek teoritis dan praktis atau subjektifitas dan objektifitas pesantren pun muncul. Akibatnya pendidikan Islam dengan paksa termarginalkan secara tragis ditengah kemelut krisis globalisme. Oleh karenanya pembaharuan pesantren sebagai jendela pembaharuan pendidikan Islam diharapkan mampu menjadi pendidkan alternatif bagi masyarakat.
Sejak awalnya, pesantren merupakan institusi keagamaan yang tidak bisa lepas dari masyarakat. Secara normatif, lembaga ini berusaha meletakkan visi dan kiprahnya dalam rangka transformasi sosial dalam bentuk pengabdian untuk membentuk moral keagamaan dan dikembangkan pada rintisan-rintisan pengembangan yang lebih sistematis dan terpadu. Rintisan ini secara substansial berikhtiar memenuhi kebutuhan riil masyarakat dalam menyesuaikan era globalisasi, seperti pengembangan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan penggunaan teknologi alternatif. Upaya yang dilakukan merupakan bentuk manifestasi pengabdian pada masyarakat oleh pesantren yang meyakini bahwa seluruh kehidupan ini adalah sebagai ibadah.
Lembaga ini konon disebut sebagai lembaga pendidikan Islam tertua, bahkan sempat dikatakan sudah mapan di zaman para wali. Meskipun demikian, produk pesantren uniknya mampu berkompetitif dalam merespons tantangan zaman. Sebenarnya faktor apa yang mempengaruhi pesantren tetap berkembang dinamis meskipun nilai-nilai pesantren secara bersamaan dipertaruhkan? Bisa jadi pesantren mulai menyadari bahwa penggiatan diri yang hanya berorientasi pada wilayah keagamaan tidak lagi memadai. Maka sewajarnya pihak pesantren lebih proaktif dengan memberikan ruang untuk pembenahan. Sehingga pembaharuan pendidikan pesantren dengan senantiasa harus selalu apresiatif sekaligus selektif dalam menyikapi dan merespons perkembangan yang ada.
Berdasar pembaharuan di atas, Sahal Mahfudz, sebagaimana dikutip oleh M. Nadjib Hassan, sangat tegas menyatakan eksistensi pesantren dengan berbagai perkembangan saat ini masih tetap tetap dipertahankan, meski perubahan atau modernisasi pendidikan Islam diberbagai kawasan dunia muslim terus dilancarkan. Bahkan pesantren sempat mengalami kejayaan dan kokoh sejak era 1980-an dengan banyak menarik minat masyarakat dan mendapatkan perhatian yang signifikan, khususnya di Jawa. Padahal tidak banyak lembaga pendidikan tradisional Islam seperti pesantren yang mampu bertahan. Bahkan kebanyakan punah setelah tergusur oleh ekspansi sistem pendidikan umum.
Namun, bukan berarti pembaharuan ini tanpa masalah. Fenomena menunjukkan modernitas pesantren ternyata membawa berbagai persoalan yang cukup ruwet baik ditinjau secara nilai maupun secara institutif. Institusi pesantren modern contohnya memberikan peluang sepenuhnya kepada negara untuk campur tangan sehingga dominasi negara dalam hal ini terasa cukup kuat. Dampaknya orientasi pesantren bukan tertuju pada nilai melainkan pada capaian yang bersifat formalistik. Akhirnya sebagian pendidikan pesantren menunjukkan mulai mengarah pada orientasi ijazah semata.
Pesantren dan pembaharuan, jika dihadapkan dengan dinamika perkembangan pendidikan Islam merupakan dua term yang saat ini sangat menarik untuk dipelajari. Di samping pembaharuan merupakan kajian yang sangat relevan bila dikaitkan dengan konteks keindonesiaan yang sedang dihujani arus modernisasi, pendidikan pesantren saat ini tengah disinyalir merupakan propotipe model pendidikan yang ideal bagi bangsa indonesia. Perlunya mengadakan pembaharuan karena pada akhir-akhir ini pesantren dinilai tidak responsif terhadap perkembangan zaman, artinya sulit atau bahkan tidak mau menerima perubahan. Pesantren tetap merasa kokoh dengan mempertahankan pola pendidikannya yang tradisional (salafiyah).
Oleh karena itu, klaim di atas menjadikan pesantren sebagai institusi yang cenderung ekslusif dan isolatif dari kehidupan sosial umumnya. Bahkan lebih sinis lagi ada yang beranggapan pendidikan pesantren tergantung selera kyai. Masih banyak orang yang memandang sebelah mata terhadap pesantren. Namun, menurut Ismail SM, justru dengan tradisionalitas pesantren tersebut, tidak bisa dipungkiri, semakin survive di tengah masyarakat yang mampu bertahan berabad-abad. Bahkan menurutnya pesantren dianggap sebagai alternatif dalam glamouritas dan hegemoni modernisme yang pada saat bersamaan mencatat tradisi sebagai masalah.
Setelah melalui beberapa kurun waktu, pesantren tumbuh dan berkembang secara subur dengan tetap menyandang ciri-ciri tradisionalnya. Sebagai lembaga pendidikan indigenous, pesantren memiliki akar sosio-historis yang cukup kuat sehingga membuatnya mampu menduduki posisi yang relatif sentral dalam dunia keilmuan masyarakatnya dan sekaligus bertahan di tengah berbagai gelombang perubahan.
Jika diadakan pengamatan lebih lanjut, pembaharuan yang dilaksanakan di pesantren memiliki karakteristik bila dibandingkan dengan pembaharuan lainnya. Bahkan tidak salah jika dikatakan punya keunikan tersendiri, yakni unik pada kealotan dan kuatnya proses tarik ulur antara sifat dasar pesantren yang tradisional dengan potensi dasar modernisasi yang progesif dan berubah-ubah. Sehingga ditinjau dari segi komponen pembentuknya, pesantren mempunyai ragam jenis, mulai dari jenis pesantren besar yang mempunyai program baik formal maupun non-formal, bahkan memiliki universitas, sampai jenis pesantren pengajian kitab yang banyak memiliki pondok dan masjid
Pertumbuhan pesantren yang semula rural based institution, meminjam istilahnya Azyumardi, menjadi juga lembaga pendidikan urban yang bermunculan juga di Kabupaten-kabupaten besar. Bahkan tidak sedikit pesantren melakukan sumbangsih pembaharuan untuk masyarakat luas sehingga lulusan pesantren tetap marketable. Di antara Kabupaten yang terdapat banyak pesantren adalah di Kabupaten Batang. Salah satu kecamatan yang terdapat banyak pesantrennya adalah Kecamatan Bawang. Ada hamper 20an pondok pesantren di Kecamatan Bawang. Dari banyaknya pesantren yang tercatat di atas, tentu memiliki karakteristik tersendiri jika dilihat dari visi, misi, dan orientasi keilmuwan pesantren menjadi varian menarik untuk diteliti lebih mendalam. Fenomena semakin digandrunginya pesantren di tengah kemelut bangsa ini tentu tidak lepas dari spesifikasi pesantren. Oleh karena itu, spesifikasi pesantren menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat.
Terlebih jika penelitian ini dikaitkan dengan agenda pembaharuan pendidikan Islam yang sedang di gadang-gadang oleh para pembaharunya. Oleh karena itu, penelitian ini nantinya akan berikhtiar mengumpulkan semua pesantren yang ada di Kecamatan Bawang, kemudian dikategorisasikan menurut karakternya masing-masing. Selanjutnya, ditipologikan menurut teori tipologi pembaharuan pesantren yang digunakan dalam penelitian ini.
Meskipun demikian, dari banyaknya pondok pesantren tersebut dalam berbagai aspek setidaknya dapat ditemukan kesamaan-kesamaan umum. Jika ditelusuri lebih lanjut, maka akan ditemukan variabel-variabel struktural seperti bentuk kepemimpinan, orientasi pesantren, organisasi pengurus, susunan rencana pelajaran (kurikulum), karakteristik keilmuwan, dan variabel-variabel lain yang apabila dibandingkan dengan antara satu pesantren dengan pesantren lainnya, dari satu daerah ke daerah lainnya, maka akan ditemukan tipologi pondok pesantren. Di mana dalam penelitian ini diharapkan akan menemukan kontribusi format pendidikan pesantren ideal sehingga dengan ini dapat merumuskan bagaimana tipologi pesantren masa depan yang berpotensi menjadi pilihan bagi masyarakat.
Fenomena pondok pesantren di Kecamatan Bawang menunjukkan muncul sejumlah pesantren yang mempunyai keunikan tersendiri. Banyak juga pesantren yang mempunyai pondokan (asrama), masjid yang besar dan disediakan berbagai ketrampilan di dalamnya, bahkan banyak juga yang mengembangkan sistem modern. Merekapun juga tetap eksis menyelenggarakan pengajian kitab kuning. Namun uniknya di Kecamatan Bawang juga muncul pesantren yang tidak mempunyai pondokan, akan tetapi memiliki ratusan santri yang berjubel-jubel.
Hal di atas menunjukkan bahwa realitas tersebut menjadi fenomena tersendiri bagi khasanah pesantren Batang. Ini artinya, respon pesantren Batang tunjukkkan dengan berada ditengah-tengah antara menolak dan mengikuti pola-pola terbaru. Demikian, jenis pesantren yang menerapkan pola semacam ini dinamakan jenis pesantren berjargon al-muhafadzah ‘ala al-qadim al-shalih wal-akhdzu bi al-jadid al-ashlah. Pesantren tersebut pada pola pembaharuannya sangat selektif mengadaptasi pola-pola modern yang bisa mendukung kelanggengan pendidikan pesantren yang sudah terbina sejak dulu.
Oleh karena itu, sangat penting jika pola dan corak pembaharuannya, serta arah pendidikan tersebut dicermati lebih seksama dalam sebuah penelitian yang tujuannya membingkai pola pembaharuan pesantren tersebut. Fenomena kyai banyak santri tanpa pondok pesantren merupakan realitas variabel menarik yang layak untuk diteliti. Terlebih diklasifikasikan tipologi masing-masing dengan harapan agar dapat mempermudah cara pemahaman dalam mengkajinya.
Dengan mempertimbangkan uraian di atas beserta berbagai permasalahan yang melatar belakanginya, maka penelitian yang studi pada pesantren-pesantren di Kecamatan Bawang ini secara tegas dengan judul, “Tipologi Pondok Pesantren dalam Konstelasi Pembaharuan Pendidikan Islam (Studi pada Pesantren-Pesantren di Kecamatan Bawang Kabupaten Batang)”.
2. Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah di atas, secara eksplisit penelitian ini bertujuan untuk menjawab,” bagaimana tipologi pondok pesantren dan pembaharuan pendidikan Islam di Kec. Bawang Kab. Batang?” dan secara implisit rumusan tersebut mengandung pertanyaan-pertanyaan :
a. Bagaimana kondisi objektif pesantren-pesantren di Kecamatan Bawang Kab.Batang?
b. Bagaimana eksistensi pembaharuan pendidikan Islam di Kecamatan Bawang Kab.Batang?
c. Bagaimana tipologi pondok pesantren dalam konstelasi pembaharuan pendidikan Islam di Kecamatan Bawang Kab.Batang?
3. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
a. Tujuan
Dari rumusan masalah di atas, maka tujuan yang hendak dicapai dari penelitian ini adalah:
1) Mendeskripsikan tipologi dan karakter pondok pesantren di Kec. Bawang Kab. batang sebagai pemberdayaan potensi pesantren dengan menjadikannya sebagai model pendidikan Islam alternatif..
2) Mencari format tipologi pendidikan ideal di kalangan pesantren yang memang sistem pendidikan dan tradisi keilmuwannya benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat sebagai sarana untuk membangun jiwa-jiwa kemandirian yang mempunyai mentalitas ikhlas limardlotillah.
3) Mengkategorisasikan pesantren-pesantren di Kec. Bawang Kab. Batang dengan berbagai variannya sesuai dengan tipologi, maupun dengan visi yang dibawa dalam menegakkan tujuan pendidikan Islam sehingga dapat mempermudah masyarakat untuk menilai keunggulan dan kekurangannya.
b. Kegunaan
Dengan memperhatikan hasil penelitian ini secara menyeluruh, maka diharapkan akan memperoleh manfaat sebagai berikut :
1) Memberikan kontribusi pada khasanah keilmuan Islam dalam studi pendidikan Islam, khususnya tentang sejarah dan perkembangan lembaga pendidikan Islam tradisional, yaitu pesantren.
2) Memberikan kontribusi pemikiran kepada praktisi dan atau institusi-institusi yang berkompeten terhadap dunia pendidikan, khususnya pendidikan Islam.
3) Mempermudah masyarakat dalam usaha untuk memperoleh informasi tentang tipe-tipe pesantren yang ada di Kec. Bawang Kab. Batang sehingga lahir amal kebaikan bagi peneliti sendiri terutama secara khusus, dan secara umumnya semua pihak yang telah membantu, baik dari kalangan pesantren sendiri maupun sumber-sumber dari luar pesantren.
4. Kajian Pustaka
Di antara alasan kenapa pesantren selalu menarik untuk diteliti yaitu : Pertama, pesantren dinilai tetap eksis sejak ratusan tahun di Indonesia meskipun tergerus oleh arus modernisme. Kedua, pesantren mempunyai keunikan tersendiri dimana antara satu pesantren dengan pesantren yang lain mempunyai kekhasan masing-masing serta sama-sama dapat mempertahankan karakter khasnya. Ketiga, definisi tentang tradisional dan modern yang ditujukan pada pesantren kurang komprehensf sehigga menarik untuk terus diteliti. Keempat, perkembangan pesantren semakin kompleks dan multidimensi.
Alasan di atas menunjukkan bahwa penelitian yang dimaksud merupakan tantangan tersendiri karena bahan kajiannya selalu berkembang dinamis mengikuti deras laju kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu, studi yang peneliti lakukan ini tak lepas dari jasa-jasa peneliti terdahulu yang telah memberikan berbagai informasi yang dibutuhkan. Berkaitan dengan fokus kajian penelitian ini, maka berikut ini peneliti paparkan hasil studi tentang pesantren secara umum dan pesantren Batang secara khususnya sebagai acuan dalam penelitian ini, antara lain :
1. Zamachsjari Dhofier dalam disertasinya yang berjudul The Pesantren Tradition : A Study the Role of the Kyai in Maintenance of the Traditional Idiologi of Islam in Java (1980) yang telah di terbitkan oleh LP3ES pada tahun 1982 dengan judul Tradisi Pesantren : Sudi tentang Pandamgan Hidup Kyai. Dalam bukunya tersebut, Dhofier sengaja melakukan penelitian tentang dua pesantren, yakni pesantren Tegalsari di Kabupaten Semarang Jawa Tengah dan pesantren Tebu Ireng di Jombang Jawa Timur. Di mana kedua pesantren tersebut memang berbeda sistem dan kelembagaannya. Sehingga dalam proses penelitiannya itu sedikit banyak ditemukan berbagai fenomena khususnya strategi kyai dalam memelihara tradisi keilmuwan pesantrennya. Indikasi adanya sebuah network, menurut Dhofier menyatakan penjagaan tradisi bisa melalui transmisi pengetahuan yang bisa membentuk genealogi intelektual maupun perkawinan yang endogamous.
2. Mastuhu, Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren (1994) yang diterbitkan oleh INIS di Jakarta. Dalam salah satu pemikirannya, Mastuhu berusaha ingin menjelaskan fenomena dari banyaknya pesantren yang ada di Indonesia di lihat dari tujuan pendidikannya. Antara satu pesantren dengan pesantren lainnya terdapat perbedaan dalam tujuan, meskipun semangatnya sama, yakni untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat serta meningkatkan ibadah kepada Allah SWT. Dengan perbedaan ini, ia menilai terdapat keunikan masing-masing pesantren dan sekaligus menjadi karakteristik kemandirian dan independensinya. Dengan meneliti 6 pesantren, ia menggunakan pendekatan sosiologis-antropologis dan fenomenologis dengan harapan dapat menembus tabir rahasia nilai-nilai kehidupan pesantren sehingga dapat mengembangkannya dalam sistem pendidikan nasional.
3. Miftahudin (2010) dalam tesisnya yang berjudul Pesantren dan Pendidikan modern di Indonesia. Di dalam tesis ini dijelaskan mengenai berbagai macam jenis pesantren dan juga bentuk-bentuk pendidikan modern yang ada di Indonesia. Pesantren sebagai produk pendidikan Islam dan pendidikan modern sebagai produk pendidikan barat. Namun perkembangan selanjutnya dua model pendidikan ini melebur menadi satu dalam wadah lembaga pendidikan.
5. Kerangka Teori
a. Pondok pesantren
Zamachsjari Dhofier mendefinisikan pondok berasal dari bahasa Arab “funduq” yang berarti hotel atau asrama. Dengan maksud yang sama, Haidar Putra Daulay mengartikan sebagai hotel, tempat bermalam. Baik Dhofier maupun Haidar menyengaja menggunakan kata hotel karena pondok bagi santri merupakan tempat tinggal sewaktu tholabul ‘ilmi. Sebuah pesantren idealnya memiliki tempat tinggal sebagai ajang komunikasi antara santri dan kyai.
Sedangkan pesantren, Dhofier mengatakan berasal dari kata santri yang diawali dengan awalan pe dan akhiran an yang berarti sebagai tempat tinggal para santri. Sementara Manfred Ziemek, sebagaimana di kutip oleh Haidar Putra Daulay menguatkan dengan menyatakan secara etimologi pesantren adalah pesantrian yang berarti tempat santri. Begitu juga Abdurrahman Wahid, yang di kutip oleh Isma’il SM secara teknis pesantren dinyatakan sebagai, “a place where santri (student) live”. Hampir ada kesepakatan mengenai terminologi pesantren ini jika istilah pesantren digunakan setelah datangnya Islam. Namun, jika memandang kata tersebut sebelum datangnya Islam, maka Prof. Johns berpendapat santri berasal dari bahasa Tamil, yang berarti guru mengaji. Begitu juga C.C Berg menyatakan kata santri berasal dari istilah shastri yang merupakan bahasa India yang berarti orang yang tahu buku-buku suci agama Hindu, atau seorang sarjana ahli kitab suci agama Hindu. Sehingga pondok pesantren berdasar pada pendapat-pendapat di atas bisa diartikan sebagai tempat tinggal sementara para santri yang jauh dari asalnya. Ahmad Syafi’i Noer menguatkan tempat tinggal tersebut merupakan tempat di mana kyai dan santri dapat melakukan pengajian sesuai jadwal yang sudah ditetapkan oleh kyai. pondok santri biasanya tidak jauh dengan ndalem kyainya. Hal ini bertujuan untuk lebih mempermudah mengontrol kehidupan
Sehari-hari para santri terutama mengenai pendidikan moral. Sehingga titik sentral kyai ini jika dianalisis lebih lanjut masih sepaham dengan pendapat Dawam Raharjo yang mengartikan secara institusi pesantren bukanlah sekolah atau madrasah, meskipun dalam lingkungan pesantren sekarang ini banyak didirikan unit-unit pendidikan klasikal dan kursus-kursus. Ketradisionalan pesantren yang bukan sekolah ataupun madrasah ini menjadikannya sebagai lembaga pendidikan yang mempunyai karakteristik tersendiri. Untuk mengenai pendapat mengenai asal usul dan latar belakang berdirinya, ada beberapa pendapat yang mengatakan : Pertama, transformasi sistem pesantren yang diadakan oleh orang-orang Hindu di Nusantara. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa jauh sebelum datangnya Islam di Indonesia, lembaga pesantren sudah ada di negeri ini. Kedua, pendapat yang menyebutkan bahwa pondok pesantren berakar pada tradisi Islam sendiri yaitu tradisi tarekat. Pesantren mempunyai kaitan yang erat dengan tempat pendidikan yang khas bagi kaum sufi. Pendapat ini berdasarkan fakta bahwa penyiaran Islam di Indonesia pada awalnya lebih banyak dikenal dalam bentuk kegiatan tarekat. Hal ini ditandai oleh terbentuknya kelompok-kelompok organisasi tarekat yang melaksanakan amalan-amalan dzikir dan wirid-wirid tertentu yang dipimpin oleh seorang kyai. Oleh sebab itu, tujuan umum terbentuknya pondok pesantren adalah membimbing anak didik untuk menjadi manusia yang berkepribadian Islam yang dengan ilmu agamanya ia sanggup menjadi mubaligh Islam dalam masyarakat sekitar melalui ilmu dan amalnya mencetak ulama-ulama yang menguasai ilmu-ilmu agama. Sedangkan tujuan khususnya adalah mempersiapkan para santri untuk menjadi orang alim dalam ilmu agama yang diajarkan oleh kiai yang bersangkutan serta mengamalkannya dalam masyarakat, dan mendidik muslim yang dapat melaksanakan syariat agama.
b. Tipologi pondok pesantren
Berbagai pola pesantren telah diklasifikasikan, baik dari sudut pandang kurikulum, sistem pendidikan, maupun dari pola pembelajaran yang dilaksanakan oleh pesantren. Tujuannya tidak lain untuk mempermudah memahami dinamika perkembangan pesantren secara umum. Dengan pertimbangan efektivitas kondisi pesantren yang ada di obyek penelitian (Kec. Bawang), maka peneliti menggunakan tipologi dari Kemenag RI. Maka, untuk lebih jelasnya, di bawah ini akan dipaparkan pola-pola tersebut.
1) Tipologi Pesantren Menurut Kemenag RI
Secara umum jenis pesantren dapat dideskripsikan menjadi 3 (tiga) tipe, yaitu sebagai berikut :
(a) Pesantren Tipe A
(1) Para santri belajar dan menetap di pesantren
(2) Kurikulum tidak tertulis secara eksplisit melainkan memakai hidden curriculum (benak kyai)
(3) Pola pembelajaran menggunakan metode pembelajaran asli milik pesantren (sorogan, bandongan, dan lain sebagainya)
(4) Tidak menyelenggarakan pendidikan dengan sistem madrasah
(b) Pesantren Tipe B
(1) Para santri tinggal dalam pondok/asrama
(2) Pembelajaran menggunakan perpaduan pola pembelajaran asli pesantren dengan sistem madrasah
(3) Terdapatnya kurikulum yang jelas
(4) Memiliki tempat khusus yang berfungsi sebagai sekolah (madrasah)
(c) Pesantren Tipe C
(1) Pesantren hanya semata-mata tempat tinggal (asrama) bagi para santri
(2) Para santri belajar di madrasah/sekolah yang letaknya tidak jauh dengan pesantren
(3) Waktu belajar di pesantren biasanya malam/siang hari jika para santri tidak belajar di sekolah/madrasah (ketika mereka di pesantren)
(4) Pada umumnya tidak terprogram dalam kurikulum yang jelas dan baku.
Menurut Zamachsjari Dhofier, tipologi pesantren dipandang dari segi fisik terbagi menjadi lima pola, yaitu :
(i) Pesantren yang terdiri hanya masjid dan rumah kyai. Pesantren ini masih sangat sederhana dimana kyai menggunakan masjid atau rumahnya sendiri untuk tempat mengajar. Santri berasal dari daerah sekitar pesantren tersebut.
(ii) Pesantren yang terdiri dari masjid, rumah kyai, pondok atau asrama. Pola ini telah dilengkapi dengan pondok yang disediakan bagi para santri yang datang dari daerah lain.
(iii) Pesantren yang terdiri dari masjid, rumah kyai, pondok atau asrama, dan madrasah. Berbeda dengan yang pertama dan kedua, pola ini telah memakai sistem klasikal, santri mendapat pengajaran di madrasah. Di samping itu, belajar mengaji, mengikuti pengajaran yang diberikan oleh kyai pondok.
(iv) Pesantren yang telah berubah kelembagaannya yang terdiri dari masjid, rumah kyai, pondok atau asrama, madrasah, dan tempat ketrampilan. Pola ini dilengkapi dengan tempat-tempat ketrampilan agar santri trampil dengan pekerjaan yang sesuai dengan sosial kemasyarakatannya, seperti pertanian, peternakan, jahit menjahit, dan lain sebagainya.
Pesantren modern yang tidak hanya terdiri dari masjid, rumah kyai, pondok atau asrama, madrasah, dan tempat keterampilan, melainkan ditambah adanya universitas, gedung pertemuan, tempat olahraga, dan sekolah umum. Pesantren semacam inilah yang dinamakan oleh Zamachsjari Dhofier sebagai pesantren khalafi yang telah memasukkan pelajaran-pelajaran umum, atau membuka tipe sekolah umum di lingkungan pesantren.
6. Metode Penelitian
a. Pendekatan
Jenis penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah jenis penelitian lapangan dengan pendekatan kualitatif. Dalam pendekatan ini, penulis menggunakan pendekatan kualitatif yaitu suatu penelitian yang dilakukan terhadap data primer dan sekunder dalam memberikan gambaran secara umum mengenai pembelajaran PAI.
b. Metode pengumpulan data
Metode pengumpulan data yang peneliti terapkan antara lain :
1) Metode observasi
Maksud dari metode observasi ini adalah untuk mengetahui bentuk pembaharuan yang dilakukan pesantren melalui observasi secara langsung. Bentuk observasi yang dilakukan dengan cara partisipasi pasif karena peneliti bukan termasuk komunitas dari pesantren. Oleh karena itu, peneliti termasuk jenis peneliti pemeranserta sebagai pengamat. Artinya, peranan peneliti tidak sepenuhnya sebagai pengamat yang melakukan fungsi pengamatan. Peneliti menjadi anggota pura pura, jadi tidak melebur dalam arti sesungguhnya. Meskipun demikian, tidak mengurangi semangat peneliti untuk mengkaji lebih dalam mengenai tujuan dari penelitian ini.
Secara umum, observasi yang dilakukan peneliti adalah observasi deskripsi yang bertujuan untuk mengetahui gambaran umum tentang varian pondok pesantren di Bawang yang meliputi sejarah berdiri, visi dan misi pesantren, dan aspek pengembangan pendidikan pesantren. Bukan hanya itu, peneliti juga akan melakukan observasi mengenai pelaksanaan kurikulum, metode pembelajaran, dan lain sebagainya dengan tujuan untuk mengetahui karakteristik masing-masing pesantren.Sehubungan dengan peristiwa yang diobservasi, peneliti menggunakan strategi mengarahkan perhatian dengan fokus pada kepekaan perasaan. Menurut Patton (1980), konsep demikian dinamakan dengan sentizising consepts (konsep yang dirasakan). sentizising consepts berjasa menjadi kerangka dasar untuk menarik yang penting dari suatu peristiwa, kegiatan, atau perilaku tertentu.
2) Metode interview
Interview (wawancara) adalah percakapan dengan maksud tertentu yang dilakukan oleh dua pihak, yaitu interviuwer (pewawancara) sebagai pengaju pertanyaan dan interviewee (terwawancara) sebagai pemberi jawaban. Tujuan dari metode interview ini adalah mengkonstruksi mengenai orang, kejadian, organisasi, perasaan, motivasi, tuntutan, kepedulian, dan lain sebagainya. Dalam penelitian ini interview dilakukan agar mendapatkan data dari sumbernya secara langsung untuk kepentingan validitas data. Interview peneliti lakukan kepada para pengasuh pondok pesantren, terhadap para pengurus pondok pesantren yang peneliti rasa kapabel dan kompeten, maupun terhadap masyarakat sekitar sebagai penunjang data yang peneliti ketahui sebelumnya.
Interview yang dilakukan dengan menggunakan teknik secara terstruktur maupun tak terstruktur. Secara terstruktur dimaksudkan untuk mengetahui persamaan antar masing-masing pondok pesantren. Dengan begitu, peneliti dapat menemukan keunggulan satu pesantren dibanding pesantren yang lain, dan kelemahan satu pesantren dibanding pesantren yang lain. Sehingga jika data sudah terkumpul semua, peneliti dapat melakukan kategorisasi menurut tipologi masing-masing pesantren. Terstruktur artinya peneliti menegaskan berbagai pertanyaan dan berusaha memunculkan masalah sendiri yang akan diajukan. Bukan hanya demikian, interview tak terstruktur pun juga peneliti lakukan untuk mengetahui data-data tunggal yang sebelumnya peneliti belum mendapatkannya.
3) Metode dokumentasi
Dokumentasi dalam penelitian dimaksudkan untuk mengetahui dokumen-dokumen penting tentang pondok pesantren yang bersangkutan, baik mengenai jumlah santri, profil pesantren, bentuk kegiatan, struktur kepengurusan pondok pesantren, staf pengajar, tradisi keilmuwan yang dipelajari, dan lain sebagainya. Pengumpulan dokumen penting ini tidak semata-mata mengumpulkan semua data yang peneliti peroleh, namun dalam tahap ini dilakukan seleksi data agar akurasi data bisa dipertanggung jawabkan secara legal-formal.
Maka, dokumen yang dimaksud mencakup dokumen pribadi dan dokumen resmi. Dokumen pribadi digunakan untuk melacak catatan atau karangan seseorang secara tertulis tentang tindakan, pengalaman, dan kepercayaannya. Tujuannya itu untuk memperoleh kejadian nyata tentang situasi soaial dan arti berbagai faktor di sekitar subjek penelitian. Sedangkan dokumen resmi digunakan untuk melacak berbagai macam bentuk instruksi, aturan lembaga yang terkait, pengumuman, keputusan pemimpin (kyai, kepala madrasah), majalah, buletin, dan berbagai macam dokumen lainnya. Tujuannya adalah untuk memberikan petunjuk tentang gaya kepemimpinan dan menelaah konteks sosial.
c. Metode analisis data
Analisis data dalam penelitian kualitatif ini merupakan rangkaian proses pengorganisasian dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja. Secara umum, proses analisis ini dijalankan sesuai dengan prosedur sebagai berikut :
1) Mencatat hasil yang diperoleh dari lapangan kemudian diberi kode supaya sumber data tetap bisa ditelusuri,
2) Mengkategorisasikan : Mengumpulkan, memilah-milah, dan klasifikasi data,
3) Mensintesiskan : Membuat ikhtisar (ringkasan), dan membuat indeksnya,
4) Melakukan pemikiran dengan jalan membuat kategori data itu mempunyai makna, mencari dan menemukan pola dan hubungan-hubungan, dan membuat temuan-temuan umum. Sehingga berbagai data yang diperoleh dari lapangan, baik dari observasi, interview, dan dokumentasi selanjutnya teknik analisis datanya dilakukan dengan menggunakan analisis kualitatif yang berjenis analisis deskriptif-hermeneutis. Inti dari analisis jenis ini adalah terletak pada tiga proses yang berkaitan, yaitu :
1) Mendeskripsikan fenomena,
2) Mengklasifikasikannya,
3) Melihat bagaimana konsep-konsep yang muncul itu satu dengan yang lainnya berkaitan.
Namun, penelitian ini bukan hanya mendeskripsikan data, melainkan dilengkapi dengan analisis kritis hermeneutis sosial. Analisis hermeneutis ini diterapkan sebagai alat untuk menafsirkan proses dialektika pemahaman dan reinterpretasi terus menerus untuk menyingkap tabir makna-makna teks sosial. Setelah mendapatkan deskripsi utuh sesuai dengan cara kerja analisis di atas, maka analisis selanjutnya adalah analisis tipologi pesantren. Dalam analisis tipologi ini disertai dengan melakukan representasi karena mengingat waktu penelitian relatif singkat. Analisis ini bertugas melacak sistem pendidikan yang diterapkan oleh pesantren, bagaimana kurikulum yang digunakan, bagaimana juga pola pembelajarannya dan penyelenggaraan pendidikannya. Tujuan dari analisis tipologi yang dimaksud adalah memberikan arti yang signifikan terhadap hasil analisis, menjelaskan pola atau tipologi, dan mencari hubungan di antara dimensi-dimensi uraian.
Namun secara sederhana langkah-langkah di atas dapat dirinci sesuai dengan analisisnya masing-masing sesuai dengan teknik kerjanya. Rincian tersebut sebagai berikut :
(a) Analisis deskriptif
Secara umum pada analisis ini yang termasuk adalah tahap deskripsi data.
(b) Analisis proses
Pada analisis ini, garapan peneliti mencakup tahap mereduksi data, mengklasifikasikan, dan mengkategorisasikan.
(c) Analisis hermeneutik
Pada analisis ini, peneliti membagi membagi empat tahapan, yakni tahap mensintesiskan data, memberikan tipologi, merepresentasikan, dan menafsirkan data melalui prosedur gerak lingkar hermeneutis.
Dengan langkah-langkah dan analisis di atas peneliti berharap dapat menggambarkan konstelasi pembaharuan pendidikan Islam menurut kategorisasi yang sudah ditetapkan. Kategorisasi yang pada akhirnya dengan hermeneutika sosial ini peneliti dapat merumuskan kontribusi tipologi pesantren di Bawang terhadap masyarakat. Di samping itu juga dalam analisis akan diurai bagaimana format pesantren ideal dan tipologi pesantren yang mampu dijadikan sebagai pendidikan alternatif pesantren.
7. Sistematika Pembahasan
Untuk memudahkan pembahasan tesis ini, penulis bermaksud memaparkan bentuk sistematika pembahasan. Sedangkan bentuk sistematika pembahasan penelitian ini penulis bagi menjadi tiga bagian, yakni:
1. Bagian Awal
Bagian awal tesis ini terdiri dari halaman sampul, halaman judul, halaman pernyataan keaslian, halaman nota pembimbing, halaman pengesahan, abstrak, halaman transliterasi, kata pengantar, daftar isi serta daftar tabel.
2. Bagian Isi
Sedangkan pada bagian isi penulis kategorikan menjadi lima bab, yakni:
Bab I Pendahuluan. Pada bagian ini terdiri dari (a) latar belakang masalah, (b) rumusan masalah, (c) tujuan dan manfaat penelitian, (d) kajian pustaka, (e) kerangka teori, (f) metode penelitian, dan (g) sistematika penulisan.
Bab II Tipologi pondok pesantren dalam konstelasi pembaharuan pendidikan Islam. Pada bagian ini terdiri dari tiga sub bab, yakni sub bab pertama, pengertian pondok pesantren, jenis-jenis atau bentuk pondok pesantren, kegiatan pembelajaran pondok pesantren. Kedua, pembaharuan pendidikan Islam, yang terdiri dari pengertian pendidikan Islam, bentuk-bentuk pendidikan Islam, serta pembaharuan pendidikan Islam. Ketiga, tipologi pondok pesantren dalam konstelasi pembaharuan pendidikan Islam.
Bab III Paparan Data dan Temuan Penelitian. Pada bab ini terdiri dari tiga sub bab antara lain: (A) Gambaran Umum pondok pesantren meliputi: (1) letak geografis, (2) latar belakang pendirian pesantren, (3) visi, misi dan tujuan pesantren, (4) struktur organisasi, (5) profil, kyai, guru dan siswa, santri, serta (6) sarana dan prasarana,. (B) Paparan Data, yaitu terdiri dari : (1) tipologi pondok pesantren (C) Temuan Penelitian, terdiri dari: (1) tipologi pondok pesantren di Kecamatan Bawang (2) kegiatan pendidikan yang dilaksanakan pondok pesantren di Kecamatan Bawang.
Bab IV Pembahasan, meliputi (A) Pelaksanaan pendidikan di pesantren se Kecamatan Bawang, (B) tipologi pesantern se Kecamatan Bawang kab. Batang
Bab V Penutup. Pada bagian ini terdiri dari kesimpulan serta saran-saran.
3. Bagian Akhir
Bagian akhir tesis ini memuat daftar pustaka, lampiran-lampiran, dan daftar riwayat penulis.
DAFTAR PUSTAKA SEMENTARA
A’la, Abdul, Pembaharuan Pesantren, Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2006
Aunurrafiq, Pesantren dan Pembaharuan: arah dan Implikasi, Jakarta: Grassindo, 2001
Daulay, haidar Putra, Sejarah Pertumbuhan dan Pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Kencana Prenada, 2007
Dhofir, Zamahsari, Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai, Jakarta: LP3S, 1982
Djamil, Abdul, Pesantren: Jati Diri dan Perannya dalam Kebudayaan, Batang: Central Manajemen, 2005
Hasan, Najib M, Profil Pesantren Batang, Batang: Central Riset, 2005
Ismail SM, Signifikansi Peran Pesantren dalam Perkembangan Masyarakat Madani, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000
Moeloeng, Lexy J, Metodologi Penelitian, Jakarta: Rieneka Cipta
Munthohar, Ahmad, Ideologi Pendidikan Pesantren; Pesantren ditengah Arus Ideologi Pendidikan, Semarang: Pustaka Rizki, 2007
Noer Akhmad Syafi’i, Pesantren: Asal-Usul dan Perkembangan Lembaga-lembaga Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Grasindo, 2001
Raharjo, M Dawam, Dunia Pesantren dalam Peta Pembaharuan, Jakarta: LP3S, 1988
Tim Depag RI, Pola Pembelajaran di Pesantren, Jakarta: direktorat Jendral Kelembagaan Agama Islam, 2003
PANDUAN WAWANCARA
No Fokus Penelitian/
Rumusan Masalah Pertanyaan Informan
1
1.
2
3
4
5
6
7
8
9
2 1
2
3
4
5
6
7
8
9
3 1
2
3
4
5
6
7
8
9
PANDUAN OBSERVASI
No Hal-hal yang diobservasi Keterangan
1
2
3
4
PANDUAN STUDI DOKUMENTASI
Dokumen yang diperlukan:
No Jenis Dokumen Keterangan
1 Sejarah
2 Lokasi/Letak Geografis
3 Visi, misi, tujuan
4 Struktur organisasi dan uraian tugas
5 Program-program pengembangan pondok pesantren
6 Data santri
7 Data pegawai pondok pesantren
8 Sarana dan Prasarana
9 Prestasi pondok pesantren
10 Pedoman dan peraturan-peraturan pondok pesantren
11 Foto-foto Kegiatan
PERSETUJUAN
Proposal Penelitian dan Penulisan Tesis Berjudul:
TIPOLOGI PONDOK PESANTREN DALAM KONSTELASI PEMBAHARUAN PENDIDIKAN ISLAM
(Studi pada Pesantren-Pesantren di Bawang Batang)
Oleh:
QURRATUL AENI
NIM. A. 11. 1.0646
Telah disetujui oleh:
Pembimbing
Tanggal, 25 Juni 2013
Dr. Karwanto, S.Ag., M.Pd
Minggu, 27 Oktober 2013
kuliah
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS WAHID HASYIM SEMARANG
HANDOUT
RENCANA PERKULIAHAN SEMESTER
Nama Matakuliah : Supervisi Pendidikan
Jumlah SKS : 3 sks
Dosen : Dr. Karwanto, M.Pd
Tahun : 2012
Deskripsi Mata Kuliah
Melakukan kajian mengenai berbagai pendekatan dan teknik dalam penyelenggaraan supervisi, prinsip, fungsi dan peranan supervisi dianalisis dari sudut tinjauan latar dan teori yang mendasari berbagai pendekatan dan teknik tersebut.
Tujuan Perkuliahan
Perkuliahan bertujuan untuk memahamkan dan mentrampilkan mahasiswa untuk:
1. Memiliki wawasan mengenai konsep dasar supervisi pendidikan.
2. Menguasai pendekatan supervisi pengajaran
3. Menguasai perspektif psikologi supervisi pengajaran
4. Menguasai implementasi supervisi pendidikan dan pengajaran.
5. Menguasai evaluasi dalam kegiatan supervisi pendidikan
6. Membuat perencanaan, praktek melaksanakan supervisi pendidikan dan mengevaluasi pelaksanaan supervisi pendidikan.
7. Mampu menganalisis permasalahan-permasalahan supervisi pendidikan dan menentukan alternatif pemecahannya.
Kegiatan Perkuliahan
1. Metode Pembelajaran
a. Ceramah Dosen Pembina (20%)
b. Presentasi individu/kelompok mahasiswa (pertopik diskusi) (40%)
c. Observasi ke lapangan/ Instansi terkait dan representatif dalam konteks supervisi pendidikan (30%)
d. Ujian (10%)
2. Bentuk Kegiatan
a. Tatap muka: 16 kali.
b. Tugas Terstruktur:
(1) Studi observasi ke lapangan
(2) Laporan tugas individu atau kelompok.
3. Pelaksanaan Evaluasi
a. Ujian Tengah Semester : 1 kali.
b. Ujian Akhir Semester : 1 kali.
c. Penilaian Tugas Terstruktur : 3 kali.
Penilaian
Aspek yang dinilai sebagai standar keberhasilan mengikuti mata kuliah ini meliputi:
1. Kehadiran dan partisipasi selama mengikuti kegiatan perkuliahan (15%)
2. Penyajian dan Penguasaan materi diskusi/presentasi (15%)
3. Tugas individu atau terstruktur (20%)
4. Hasil Observasi Lapang (20%)
5. Middle dan Final Test (30%)
Kewajiban Setiap Mahasiswa
1. Hadir dan berpartisipasi serta mengerjakan tugas-tugas perkuliahan.
2. Menyiapkan makalah diskusi dan mempresentasikan serta membuat rangkuman diskusi dengan ketentuan:
b. Menyerahkan makalah diskusi kepada dosen pembina.
c. Menyerahkan makalah laporan hasil diskusi dan rangkuman pada dosen.
3. Melakukan dan melaporkan hasil observasi lapang.
4. Mengikuti Middle dan Final Test sesuai jadwal.
Daftar Topik/Kegiatan
No Perte-
muan ke- Topik/Kegiatan Kuliah Keterangan
1 Ke-1 Kontrak Perkuliahan Penjelasan Dosen Pembina
2 Ke-2 Konsep Dasar Supervisi Pendidikan Dosen Pembina
3 Ke-3 Pendekatan Ilmiah Supervisi Pengajaran Sobirin,fadholi,qurotul
4 Ke-4 Pendekatan Artistik Supervisi Pengajaran Nursidik, nurul zulfa, kholik
5 Ke-5 Supervisi Klinis dan Non-Klinis Lukman,safi’i,rusdiono
6 Ke-6 Tipe, Sikap dan Peranan Supervisor Pendidikan Hakim,Drs. slamet, rihaniyah
7 Ke-7 Perilaku Directive Supervisi Pengajaran sri murahati,siti aisah,irham,
8 Ke-8 Perilaku Non-Directive Supervisi Pengajaran Agus M, H.sujud, slamet S.Ag,
9 Ke-9 Tes Tengah Semester Tugas
10 Ke-10 Perilaku Collaborative Supervisi Pengajaran Rina mulyani,pujianah,kiswati
11 Ke-11 Supervisi dalam Rangka Pembinaan Profesional Jumari, arif R, budiyanto
No Perte-
muan ke- Topik/Kegiatan Kuliah Keterangan
12 Ke-12 Program Pembinaan dan Supervisi Pendidikan di Sekolah Zaenal A, nurwahid, sonif
13 Ke-13 Teknik-teknik Supervisi dalam rangka Pembinaan Profesional Kuswandi, bambang,mufid
14 Ke-14 Evaluasi Program Supervisi Pendidikan Mahali,fauzan, fauziyah
15 Ke-15 Permasalahan Pelaksanaan Supervisi Pendidikan dan Alternatif Pemecahannya. Soghir,
16 Ke-16 Tes Akhir Semester -
DAFTAR PUSTAKA
Ametembun, N.A. 1981. Supervisi Pendidikan. Bandung: Suri.
Darma, A. 2000. Manajemen Supervisi. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Glickman, C.D., dkk. 1991. Supervision and Instructional Leadership A Developmental Approach. Massachussetts: Allyn and Bacon.
Imron, A. 1995. Pembinaan Guru di Indonesia. Cet. I. Jakarta: Pustaka Jaya.
Naegley, R.L., & Evans, D.N. 1980. Handbook for Effective Supervision of Instruction. Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice-Hall, Inc.
Nurtain. 1989. Supervisi Pengajaran. Jakarta: Depdikbud Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan.
Oliva, P.F. 1984. Supervision for Today’s Schools. New York and London:Longman.
Pidarta, M. 1999. Pemikiran Tentang Supervisi Pendidikan. Cet. II. Jakarta: Bumi Aksara.
Pidarta, M. 2009. Supervisi Pendidikan Kontekstual. Jakarta: Rineka Cipta.
Sagala, S. 2010. Supervisi Pembelajaran dalam Profesi Pendidikan. Bandung: Alfabeta
Sahertian, P.A., 2008. Konsep Dasar & Teknik Supervisi Pendidikan Dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta: Rineka Cipta.
Sergiovanni, T.J., & Starrat, R.J. 1983. Supervision: Human Perspective. London: McGraw-Hill, Inc.
Suhardan, D. 2010. Supervisi Profesional: Layanan dalam Meningkatkan Mutu Pembelajaran di Era Otonomi Daerah. Bandung: Alfabeta.
Semarang, 18 November 2012
Dosen Pembina
Dr. Karwanto, M.Pd
NIP. 197705162010121002
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS WAHID HASYIM SEMARANG
HANDOUT
RENCANA PERKULIAHAN SEMESTER
Nama Matakuliah : Supervisi Pendidikan
Jumlah SKS : 3 sks
Dosen : Dr. Karwanto, M.Pd
Tahun : 2012
Deskripsi Mata Kuliah
Melakukan kajian mengenai berbagai pendekatan dan teknik dalam penyelenggaraan supervisi, prinsip, fungsi dan peranan supervisi dianalisis dari sudut tinjauan latar dan teori yang mendasari berbagai pendekatan dan teknik tersebut.
Tujuan Perkuliahan
Perkuliahan bertujuan untuk memahamkan dan mentrampilkan mahasiswa untuk:
1. Memiliki wawasan mengenai konsep dasar supervisi pendidikan.
2. Menguasai pendekatan supervisi pengajaran
3. Menguasai perspektif psikologi supervisi pengajaran
4. Menguasai implementasi supervisi pendidikan dan pengajaran.
5. Menguasai evaluasi dalam kegiatan supervisi pendidikan
6. Membuat perencanaan, praktek melaksanakan supervisi pendidikan dan mengevaluasi pelaksanaan supervisi pendidikan.
7. Mampu menganalisis permasalahan-permasalahan supervisi pendidikan dan menentukan alternatif pemecahannya.
Kegiatan Perkuliahan
1. Metode Pembelajaran
a. Ceramah Dosen Pembina (20%)
b. Presentasi individu/kelompok mahasiswa (pertopik diskusi) (40%)
c. Observasi ke lapangan/ Instansi terkait dan representatif dalam konteks supervisi pendidikan (30%)
d. Ujian (10%)
2. Bentuk Kegiatan
a. Tatap muka: 16 kali.
b. Tugas Terstruktur:
(1) Studi observasi ke lapangan
(2) Laporan tugas individu atau kelompok.
3. Pelaksanaan Evaluasi
a. Ujian Tengah Semester : 1 kali.
b. Ujian Akhir Semester : 1 kali.
c. Penilaian Tugas Terstruktur : 3 kali.
Penilaian
Aspek yang dinilai sebagai standar keberhasilan mengikuti mata kuliah ini meliputi:
1. Kehadiran dan partisipasi selama mengikuti kegiatan perkuliahan (15%)
2. Penyajian dan Penguasaan materi diskusi/presentasi (15%)
3. Tugas individu atau terstruktur (20%)
4. Hasil Observasi Lapang (20%)
5. Middle dan Final Test (30%)
Kewajiban Setiap Mahasiswa
1. Hadir dan berpartisipasi serta mengerjakan tugas-tugas perkuliahan.
2. Menyiapkan makalah diskusi dan mempresentasikan serta membuat rangkuman diskusi dengan ketentuan:
b. Menyerahkan makalah diskusi kepada dosen pembina.
c. Menyerahkan makalah laporan hasil diskusi dan rangkuman pada dosen.
3. Melakukan dan melaporkan hasil observasi lapang.
4. Mengikuti Middle dan Final Test sesuai jadwal.
Daftar Topik/Kegiatan
No Perte-
muan ke- Topik/Kegiatan Kuliah Keterangan
1 Ke-1 Kontrak Perkuliahan Penjelasan Dosen Pembina
2 Ke-2 Konsep Dasar Supervisi Pendidikan Dosen Pembina
3 Ke-3 Pendekatan Ilmiah Supervisi Pengajaran Sobirin,fadholi,qurotul
4 Ke-4 Pendekatan Artistik Supervisi Pengajaran Nursidik, nurul zulfa, kholik
5 Ke-5 Supervisi Klinis dan Non-Klinis Lukman,safi’i,rusdiono
6 Ke-6 Tipe, Sikap dan Peranan Supervisor Pendidikan Hakim,Drs. slamet, rihaniyah
7 Ke-7 Perilaku Directive Supervisi Pengajaran sri murahati,siti aisah,irham,
8 Ke-8 Perilaku Non-Directive Supervisi Pengajaran Agus M, H.sujud, slamet S.Ag,
9 Ke-9 Tes Tengah Semester Tugas
10 Ke-10 Perilaku Collaborative Supervisi Pengajaran Rina mulyani,pujianah,kiswati
11 Ke-11 Supervisi dalam Rangka Pembinaan Profesional Jumari, arif R, budiyanto
No Perte-
muan ke- Topik/Kegiatan Kuliah Keterangan
12 Ke-12 Program Pembinaan dan Supervisi Pendidikan di Sekolah Zaenal A, nurwahid, sonif
13 Ke-13 Teknik-teknik Supervisi dalam rangka Pembinaan Profesional Kuswandi, bambang,mufid
14 Ke-14 Evaluasi Program Supervisi Pendidikan Mahali,fauzan, fauziyah
15 Ke-15 Permasalahan Pelaksanaan Supervisi Pendidikan dan Alternatif Pemecahannya. Soghir,
16 Ke-16 Tes Akhir Semester -
DAFTAR PUSTAKA
Ametembun, N.A. 1981. Supervisi Pendidikan. Bandung: Suri.
Darma, A. 2000. Manajemen Supervisi. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Glickman, C.D., dkk. 1991. Supervision and Instructional Leadership A Developmental Approach. Massachussetts: Allyn and Bacon.
Imron, A. 1995. Pembinaan Guru di Indonesia. Cet. I. Jakarta: Pustaka Jaya.
Naegley, R.L., & Evans, D.N. 1980. Handbook for Effective Supervision of Instruction. Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice-Hall, Inc.
Nurtain. 1989. Supervisi Pengajaran. Jakarta: Depdikbud Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan.
Oliva, P.F. 1984. Supervision for Today’s Schools. New York and London:Longman.
Pidarta, M. 1999. Pemikiran Tentang Supervisi Pendidikan. Cet. II. Jakarta: Bumi Aksara.
Pidarta, M. 2009. Supervisi Pendidikan Kontekstual. Jakarta: Rineka Cipta.
Sagala, S. 2010. Supervisi Pembelajaran dalam Profesi Pendidikan. Bandung: Alfabeta
Sahertian, P.A., 2008. Konsep Dasar & Teknik Supervisi Pendidikan Dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta: Rineka Cipta.
Sergiovanni, T.J., & Starrat, R.J. 1983. Supervision: Human Perspective. London: McGraw-Hill, Inc.
Suhardan, D. 2010. Supervisi Profesional: Layanan dalam Meningkatkan Mutu Pembelajaran di Era Otonomi Daerah. Bandung: Alfabeta.
Semarang, 18 November 2012
Dosen Pembina
Dr. Karwanto, M.Pd
NIP. 197705162010121002
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS WAHID HASYIM SEMARANG
HANDOUT
RENCANA PERKULIAHAN SEMESTER
Nama Matakuliah : Supervisi Pendidikan
Jumlah SKS : 3 sks
Dosen : Dr. Karwanto, M.Pd
Tahun : 2012
Deskripsi Mata Kuliah
Melakukan kajian mengenai berbagai pendekatan dan teknik dalam penyelenggaraan supervisi, prinsip, fungsi dan peranan supervisi dianalisis dari sudut tinjauan latar dan teori yang mendasari berbagai pendekatan dan teknik tersebut.
Tujuan Perkuliahan
Perkuliahan bertujuan untuk memahamkan dan mentrampilkan mahasiswa untuk:
1. Memiliki wawasan mengenai konsep dasar supervisi pendidikan.
2. Menguasai pendekatan supervisi pengajaran
3. Menguasai perspektif psikologi supervisi pengajaran
4. Menguasai implementasi supervisi pendidikan dan pengajaran.
5. Menguasai evaluasi dalam kegiatan supervisi pendidikan
6. Membuat perencanaan, praktek melaksanakan supervisi pendidikan dan mengevaluasi pelaksanaan supervisi pendidikan.
7. Mampu menganalisis permasalahan-permasalahan supervisi pendidikan dan menentukan alternatif pemecahannya.
Kegiatan Perkuliahan
1. Metode Pembelajaran
a. Ceramah Dosen Pembina (20%)
b. Presentasi individu/kelompok mahasiswa (pertopik diskusi) (40%)
c. Observasi ke lapangan/ Instansi terkait dan representatif dalam konteks supervisi pendidikan (30%)
d. Ujian (10%)
2. Bentuk Kegiatan
a. Tatap muka: 16 kali.
b. Tugas Terstruktur:
(1) Studi observasi ke lapangan
(2) Laporan tugas individu atau kelompok.
3. Pelaksanaan Evaluasi
a. Ujian Tengah Semester : 1 kali.
b. Ujian Akhir Semester : 1 kali.
c. Penilaian Tugas Terstruktur : 3 kali.
Penilaian
Aspek yang dinilai sebagai standar keberhasilan mengikuti mata kuliah ini meliputi:
1. Kehadiran dan partisipasi selama mengikuti kegiatan perkuliahan (15%)
2. Penyajian dan Penguasaan materi diskusi/presentasi (15%)
3. Tugas individu atau terstruktur (20%)
4. Hasil Observasi Lapang (20%)
5. Middle dan Final Test (30%)
Kewajiban Setiap Mahasiswa
1. Hadir dan berpartisipasi serta mengerjakan tugas-tugas perkuliahan.
2. Menyiapkan makalah diskusi dan mempresentasikan serta membuat rangkuman diskusi dengan ketentuan:
b. Menyerahkan makalah diskusi kepada dosen pembina.
c. Menyerahkan makalah laporan hasil diskusi dan rangkuman pada dosen.
3. Melakukan dan melaporkan hasil observasi lapang.
4. Mengikuti Middle dan Final Test sesuai jadwal.
Daftar Topik/Kegiatan
No Perte-
muan ke- Topik/Kegiatan Kuliah Keterangan
1 Ke-1 Kontrak Perkuliahan Penjelasan Dosen Pembina
2 Ke-2 Konsep Dasar Supervisi Pendidikan Dosen Pembina
3 Ke-3 Pendekatan Ilmiah Supervisi Pengajaran Sobirin,fadholi,qurotul
4 Ke-4 Pendekatan Artistik Supervisi Pengajaran Nursidik, nurul zulfa, kholik
5 Ke-5 Supervisi Klinis dan Non-Klinis Lukman,safi’i,rusdiono
6 Ke-6 Tipe, Sikap dan Peranan Supervisor Pendidikan Hakim,Drs. slamet, rihaniyah
7 Ke-7 Perilaku Directive Supervisi Pengajaran sri murahati,siti aisah,irham,
8 Ke-8 Perilaku Non-Directive Supervisi Pengajaran Agus M, H.sujud, slamet S.Ag,
9 Ke-9 Tes Tengah Semester Tugas
10 Ke-10 Perilaku Collaborative Supervisi Pengajaran Rina mulyani,pujianah,kiswati
11 Ke-11 Supervisi dalam Rangka Pembinaan Profesional Jumari, arif R, budiyanto
No Perte-
muan ke- Topik/Kegiatan Kuliah Keterangan
12 Ke-12 Program Pembinaan dan Supervisi Pendidikan di Sekolah Zaenal A, nurwahid, sonif
13 Ke-13 Teknik-teknik Supervisi dalam rangka Pembinaan Profesional Kuswandi, bambang,mufid
14 Ke-14 Evaluasi Program Supervisi Pendidikan Mahali,fauzan, fauziyah
15 Ke-15 Permasalahan Pelaksanaan Supervisi Pendidikan dan Alternatif Pemecahannya. Soghir,
16 Ke-16 Tes Akhir Semester -
DAFTAR PUSTAKA
Ametembun, N.A. 1981. Supervisi Pendidikan. Bandung: Suri.
Darma, A. 2000. Manajemen Supervisi. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Glickman, C.D., dkk. 1991. Supervision and Instructional Leadership A Developmental Approach. Massachussetts: Allyn and Bacon.
Imron, A. 1995. Pembinaan Guru di Indonesia. Cet. I. Jakarta: Pustaka Jaya.
Naegley, R.L., & Evans, D.N. 1980. Handbook for Effective Supervision of Instruction. Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice-Hall, Inc.
Nurtain. 1989. Supervisi Pengajaran. Jakarta: Depdikbud Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan.
Oliva, P.F. 1984. Supervision for Today’s Schools. New York and London:Longman.
Pidarta, M. 1999. Pemikiran Tentang Supervisi Pendidikan. Cet. II. Jakarta: Bumi Aksara.
Pidarta, M. 2009. Supervisi Pendidikan Kontekstual. Jakarta: Rineka Cipta.
Sagala, S. 2010. Supervisi Pembelajaran dalam Profesi Pendidikan. Bandung: Alfabeta
Sahertian, P.A., 2008. Konsep Dasar & Teknik Supervisi Pendidikan Dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta: Rineka Cipta.
Sergiovanni, T.J., & Starrat, R.J. 1983. Supervision: Human Perspective. London: McGraw-Hill, Inc.
Suhardan, D. 2010. Supervisi Profesional: Layanan dalam Meningkatkan Mutu Pembelajaran di Era Otonomi Daerah. Bandung: Alfabeta.
Semarang, 18 November 2012
Dosen Pembina
Dr. Karwanto, M.Pd
NIP. 197705162010121002
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS WAHID HASYIM SEMARANG
HANDOUT
RENCANA PERKULIAHAN SEMESTER
Nama Matakuliah : Supervisi Pendidikan
Jumlah SKS : 3 sks
Dosen : Dr. Karwanto, M.Pd
Tahun : 2012
Deskripsi Mata Kuliah
Melakukan kajian mengenai berbagai pendekatan dan teknik dalam penyelenggaraan supervisi, prinsip, fungsi dan peranan supervisi dianalisis dari sudut tinjauan latar dan teori yang mendasari berbagai pendekatan dan teknik tersebut.
Tujuan Perkuliahan
Perkuliahan bertujuan untuk memahamkan dan mentrampilkan mahasiswa untuk:
1. Memiliki wawasan mengenai konsep dasar supervisi pendidikan.
2. Menguasai pendekatan supervisi pengajaran
3. Menguasai perspektif psikologi supervisi pengajaran
4. Menguasai implementasi supervisi pendidikan dan pengajaran.
5. Menguasai evaluasi dalam kegiatan supervisi pendidikan
6. Membuat perencanaan, praktek melaksanakan supervisi pendidikan dan mengevaluasi pelaksanaan supervisi pendidikan.
7. Mampu menganalisis permasalahan-permasalahan supervisi pendidikan dan menentukan alternatif pemecahannya.
Kegiatan Perkuliahan
1. Metode Pembelajaran
a. Ceramah Dosen Pembina (20%)
b. Presentasi individu/kelompok mahasiswa (pertopik diskusi) (40%)
c. Observasi ke lapangan/ Instansi terkait dan representatif dalam konteks supervisi pendidikan (30%)
d. Ujian (10%)
2. Bentuk Kegiatan
a. Tatap muka: 16 kali.
b. Tugas Terstruktur:
(1) Studi observasi ke lapangan
(2) Laporan tugas individu atau kelompok.
3. Pelaksanaan Evaluasi
a. Ujian Tengah Semester : 1 kali.
b. Ujian Akhir Semester : 1 kali.
c. Penilaian Tugas Terstruktur : 3 kali.
Penilaian
Aspek yang dinilai sebagai standar keberhasilan mengikuti mata kuliah ini meliputi:
1. Kehadiran dan partisipasi selama mengikuti kegiatan perkuliahan (15%)
2. Penyajian dan Penguasaan materi diskusi/presentasi (15%)
3. Tugas individu atau terstruktur (20%)
4. Hasil Observasi Lapang (20%)
5. Middle dan Final Test (30%)
Kewajiban Setiap Mahasiswa
1. Hadir dan berpartisipasi serta mengerjakan tugas-tugas perkuliahan.
2. Menyiapkan makalah diskusi dan mempresentasikan serta membuat rangkuman diskusi dengan ketentuan:
b. Menyerahkan makalah diskusi kepada dosen pembina.
c. Menyerahkan makalah laporan hasil diskusi dan rangkuman pada dosen.
3. Melakukan dan melaporkan hasil observasi lapang.
4. Mengikuti Middle dan Final Test sesuai jadwal.
Daftar Topik/Kegiatan
No Perte-
muan ke- Topik/Kegiatan Kuliah Keterangan
1 Ke-1 Kontrak Perkuliahan Penjelasan Dosen Pembina
2 Ke-2 Konsep Dasar Supervisi Pendidikan Dosen Pembina
3 Ke-3 Pendekatan Ilmiah Supervisi Pengajaran Sobirin,fadholi,qurotul
4 Ke-4 Pendekatan Artistik Supervisi Pengajaran Nursidik, nurul zulfa, kholik
5 Ke-5 Supervisi Klinis dan Non-Klinis Lukman,safi’i,rusdiono
6 Ke-6 Tipe, Sikap dan Peranan Supervisor Pendidikan Hakim,Drs. slamet, rihaniyah
7 Ke-7 Perilaku Directive Supervisi Pengajaran sri murahati,siti aisah,irham,
8 Ke-8 Perilaku Non-Directive Supervisi Pengajaran Agus M, H.sujud, slamet S.Ag,
9 Ke-9 Tes Tengah Semester Tugas
10 Ke-10 Perilaku Collaborative Supervisi Pengajaran Rina mulyani,pujianah,kiswati
11 Ke-11 Supervisi dalam Rangka Pembinaan Profesional Jumari, arif R, budiyanto
No Perte-
muan ke- Topik/Kegiatan Kuliah Keterangan
12 Ke-12 Program Pembinaan dan Supervisi Pendidikan di Sekolah Zaenal A, nurwahid, sonif
13 Ke-13 Teknik-teknik Supervisi dalam rangka Pembinaan Profesional Kuswandi, bambang,mufid
14 Ke-14 Evaluasi Program Supervisi Pendidikan Mahali,fauzan, fauziyah
15 Ke-15 Permasalahan Pelaksanaan Supervisi Pendidikan dan Alternatif Pemecahannya. Soghir,
16 Ke-16 Tes Akhir Semester -
DAFTAR PUSTAKA
Ametembun, N.A. 1981. Supervisi Pendidikan. Bandung: Suri.
Darma, A. 2000. Manajemen Supervisi. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Glickman, C.D., dkk. 1991. Supervision and Instructional Leadership A Developmental Approach. Massachussetts: Allyn and Bacon.
Imron, A. 1995. Pembinaan Guru di Indonesia. Cet. I. Jakarta: Pustaka Jaya.
Naegley, R.L., & Evans, D.N. 1980. Handbook for Effective Supervision of Instruction. Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice-Hall, Inc.
Nurtain. 1989. Supervisi Pengajaran. Jakarta: Depdikbud Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan.
Oliva, P.F. 1984. Supervision for Today’s Schools. New York and London:Longman.
Pidarta, M. 1999. Pemikiran Tentang Supervisi Pendidikan. Cet. II. Jakarta: Bumi Aksara.
Pidarta, M. 2009. Supervisi Pendidikan Kontekstual. Jakarta: Rineka Cipta.
Sagala, S. 2010. Supervisi Pembelajaran dalam Profesi Pendidikan. Bandung: Alfabeta
Sahertian, P.A., 2008. Konsep Dasar & Teknik Supervisi Pendidikan Dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta: Rineka Cipta.
Sergiovanni, T.J., & Starrat, R.J. 1983. Supervision: Human Perspective. London: McGraw-Hill, Inc.
Suhardan, D. 2010. Supervisi Profesional: Layanan dalam Meningkatkan Mutu Pembelajaran di Era Otonomi Daerah. Bandung: Alfabeta.
Semarang, 18 November 2012
Dosen Pembina
Dr. Karwanto, M.Pd
NIP. 197705162010121002
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS WAHID HASYIM SEMARANG
HANDOUT
RENCANA PERKULIAHAN SEMESTER
Nama Matakuliah : Supervisi Pendidikan
Jumlah SKS : 3 sks
Dosen : Dr. Karwanto, M.Pd
Tahun : 2012
Deskripsi Mata Kuliah
Melakukan kajian mengenai berbagai pendekatan dan teknik dalam penyelenggaraan supervisi, prinsip, fungsi dan peranan supervisi dianalisis dari sudut tinjauan latar dan teori yang mendasari berbagai pendekatan dan teknik tersebut.
Tujuan Perkuliahan
Perkuliahan bertujuan untuk memahamkan dan mentrampilkan mahasiswa untuk:
1. Memiliki wawasan mengenai konsep dasar supervisi pendidikan.
2. Menguasai pendekatan supervisi pengajaran
3. Menguasai perspektif psikologi supervisi pengajaran
4. Menguasai implementasi supervisi pendidikan dan pengajaran.
5. Menguasai evaluasi dalam kegiatan supervisi pendidikan
6. Membuat perencanaan, praktek melaksanakan supervisi pendidikan dan mengevaluasi pelaksanaan supervisi pendidikan.
7. Mampu menganalisis permasalahan-permasalahan supervisi pendidikan dan menentukan alternatif pemecahannya.
Kegiatan Perkuliahan
1. Metode Pembelajaran
a. Ceramah Dosen Pembina (20%)
b. Presentasi individu/kelompok mahasiswa (pertopik diskusi) (40%)
c. Observasi ke lapangan/ Instansi terkait dan representatif dalam konteks supervisi pendidikan (30%)
d. Ujian (10%)
2. Bentuk Kegiatan
a. Tatap muka: 16 kali.
b. Tugas Terstruktur:
(1) Studi observasi ke lapangan
(2) Laporan tugas individu atau kelompok.
3. Pelaksanaan Evaluasi
a. Ujian Tengah Semester : 1 kali.
b. Ujian Akhir Semester : 1 kali.
c. Penilaian Tugas Terstruktur : 3 kali.
Penilaian
Aspek yang dinilai sebagai standar keberhasilan mengikuti mata kuliah ini meliputi:
1. Kehadiran dan partisipasi selama mengikuti kegiatan perkuliahan (15%)
2. Penyajian dan Penguasaan materi diskusi/presentasi (15%)
3. Tugas individu atau terstruktur (20%)
4. Hasil Observasi Lapang (20%)
5. Middle dan Final Test (30%)
Kewajiban Setiap Mahasiswa
1. Hadir dan berpartisipasi serta mengerjakan tugas-tugas perkuliahan.
2. Menyiapkan makalah diskusi dan mempresentasikan serta membuat rangkuman diskusi dengan ketentuan:
b. Menyerahkan makalah diskusi kepada dosen pembina.
c. Menyerahkan makalah laporan hasil diskusi dan rangkuman pada dosen.
3. Melakukan dan melaporkan hasil observasi lapang.
4. Mengikuti Middle dan Final Test sesuai jadwal.
Daftar Topik/Kegiatan
No Perte-
muan ke- Topik/Kegiatan Kuliah Keterangan
1 Ke-1 Kontrak Perkuliahan Penjelasan Dosen Pembina
2 Ke-2 Konsep Dasar Supervisi Pendidikan Dosen Pembina
3 Ke-3 Pendekatan Ilmiah Supervisi Pengajaran Sobirin,fadholi,qurotul
4 Ke-4 Pendekatan Artistik Supervisi Pengajaran Nursidik, nurul zulfa, kholik
5 Ke-5 Supervisi Klinis dan Non-Klinis Lukman,safi’i,rusdiono
6 Ke-6 Tipe, Sikap dan Peranan Supervisor Pendidikan Hakim,Drs. slamet, rihaniyah
7 Ke-7 Perilaku Directive Supervisi Pengajaran sri murahati,siti aisah,irham,
8 Ke-8 Perilaku Non-Directive Supervisi Pengajaran Agus M, H.sujud, slamet S.Ag,
9 Ke-9 Tes Tengah Semester Tugas
10 Ke-10 Perilaku Collaborative Supervisi Pengajaran Rina mulyani,pujianah,kiswati
11 Ke-11 Supervisi dalam Rangka Pembinaan Profesional Jumari, arif R, budiyanto
No Perte-
muan ke- Topik/Kegiatan Kuliah Keterangan
12 Ke-12 Program Pembinaan dan Supervisi Pendidikan di Sekolah Zaenal A, nurwahid, sonif
13 Ke-13 Teknik-teknik Supervisi dalam rangka Pembinaan Profesional Kuswandi, bambang,mufid
14 Ke-14 Evaluasi Program Supervisi Pendidikan Mahali,fauzan, fauziyah
15 Ke-15 Permasalahan Pelaksanaan Supervisi Pendidikan dan Alternatif Pemecahannya. Soghir,
16 Ke-16 Tes Akhir Semester -
DAFTAR PUSTAKA
Ametembun, N.A. 1981. Supervisi Pendidikan. Bandung: Suri.
Darma, A. 2000. Manajemen Supervisi. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Glickman, C.D., dkk. 1991. Supervision and Instructional Leadership A Developmental Approach. Massachussetts: Allyn and Bacon.
Imron, A. 1995. Pembinaan Guru di Indonesia. Cet. I. Jakarta: Pustaka Jaya.
Naegley, R.L., & Evans, D.N. 1980. Handbook for Effective Supervision of Instruction. Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice-Hall, Inc.
Nurtain. 1989. Supervisi Pengajaran. Jakarta: Depdikbud Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan.
Oliva, P.F. 1984. Supervision for Today’s Schools. New York and London:Longman.
Pidarta, M. 1999. Pemikiran Tentang Supervisi Pendidikan. Cet. II. Jakarta: Bumi Aksara.
Pidarta, M. 2009. Supervisi Pendidikan Kontekstual. Jakarta: Rineka Cipta.
Sagala, S. 2010. Supervisi Pembelajaran dalam Profesi Pendidikan. Bandung: Alfabeta
Sahertian, P.A., 2008. Konsep Dasar & Teknik Supervisi Pendidikan Dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta: Rineka Cipta.
Sergiovanni, T.J., & Starrat, R.J. 1983. Supervision: Human Perspective. London: McGraw-Hill, Inc.
Suhardan, D. 2010. Supervisi Profesional: Layanan dalam Meningkatkan Mutu Pembelajaran di Era Otonomi Daerah. Bandung: Alfabeta.
Semarang, 18 November 2012
Dosen Pembina
Dr. Karwanto, M.Pd
NIP. 197705162010121002
pidhato bhs jawi
Teks Pidhato Pasrah lan Tampa Penganten Kakung
Teks pidhato pasrah penganten kakung
Nuwun.
Kasugengan saha kanugrahaning Gusti kang Maha asih mugi Kajiwa kasarira wonten Panjenengan Sedaya.Kairing Sagunging Pakurmatan,Ibu saha Bapak RAHARJO,Para putra Putri dalasan Sagung kuluwarga.miwah para rawuh.
Nuwun.Kepareng matur,minangka sesulihipun Ibu saha Bapak R.KUSNA WIJAYA sakuluwarga,Kula kadhawuhan masrahaken Panganten kakung BAGUS ADI SUMANTRI.katur ibu saha bapak R.KUSNA WIJAYA.
Wondene kalampahanipun makaten :kalawau wanci tabuh 09.45, Penganten kakung kula pendhet saking dalem Jln.SUNAN KALIJAGA,kanthi kairing para sepuh.kuluwarga,sanak kadang,mitra Pitepangan sawatawis,kula bekta sowan dumugi ing dalem Jln.Diponegara ngriki kalayan gangsar saha gancar.
Pramila,ngembun sarta ngemban dhawuh wigatosing sedya,kepareng ing samangke penganten kakung kula Pasrahaken tuwin kula Sumanggakaken katur Bapak Soedarta,ingkang anyulihi ibu dalasan Bapak Sukarjo,cundhuk kaliyan lampahing upacara.
Wasana kula nyuwun Pangaksami mbokbilih anggen kula nindhakaken ayahan Punika wonten ingkang kirang ndadhosaken Pirenaning penggalih.
Nuwun.
Teks Pidhato Tampi Pengaten Kakung
Nuwun,
Winantu ing kawilujengan,sinartan sinukartaning Panembrama.
Ibu miwah Bapak R. KUSNA,dalah para putra-putri,sanggayaning (seluruh) kuluwarga,Punapa dene Para rawuh.
Nuwun,Tumanggap Pangandikanipun Bapak Drs Imam Sarjana,ingkang anyulihi (mewakili) Ibu saha Bapak R.KUSNA WIJAYA, Amasrahaken Penganten Kakung,Kepareng kula matur,minangka Sesulihipun ibu saha Bapak SUHARJO,kula kadhawuhan Tampi Pasrah Penganten Kakung.
Pramila,Kaparengan Amratelakaken bilih ing samangke wanci Tabuh 10.00,Penganten Kakung kula Tampi kanthi sae,andadosaken suka bingahing manah ,Saha Sumangga Sami meji-muja syukur Konjuk ing Hyang Murbeng Gesang.
Salajengipun Panganten Kakung badhe sarimbit kaliyan Penganten Putri Rr. ASIH SULASTRI,Dumungkap upacara candhakipun.
Kula nyadhong Pangaksami mbokbilih wonten kekirangan saha kaladuking panampi.
Nuwun.
Kamis, 24 Oktober 2013
tauhid rububiyah dan uluhiyah
Make your own free website on Tripod.com
Close Ad
TAUHID AR-RUBUBIYYAH DAN
TAUHID AL-ULUHIYYAH
Makna kalimah tauhid
Kalimah tauhid membawa pengertian mengetahui, berikrar, mengakui dan mempercayai bahawa sesungguhnya sembahan yang benar dan berhak disembah ialah Allah Subhanahu Wa Ta’ala (SWT) semata-mata. Selain daripada-Nya, sama sekali tidak benar dan tidak berhak disembah. Penghayatan kalimah itu meliputi berikrar dengan hati, menyatakan dengan lidah dan membuktikan dengan perbuatan.
Tauhid ar-Rububiyyah ( ) dan Tauhid al-Uluhiyyah ( )
Tauhid ar-Rububiyyah bermakna beri’tiqad bahawa Allah SWT bersifat Esa, Pencipta, Pemelihara dan Tuan sekelian alam. Tauhid al-Uluhiyyah pula bermakna menjadikan Allah SWT sahaja sebagai sembahan yang sentiasa dipatuhi.
Pengertian lanjut Tauhid ar-Rububiyyah
Antara pengertian kalimah Rabb ( ) ialah:
1. As-Sayyid (Tuan)
2. Al-Malik (Yang Memiliki)
3. Pencipta
4. Penguasa
5. Pendidik
6. Pengasuh
7. Penjaga
8. Penguatkuasa.
Allah jua bersifat mutlak
Manusia, jika dia bersifat seperti memiliki dan berkuasa, maka sifatnya itu sementara. Segala sesuatu di alam ini kepunyaan Allah. Apa yang dimiliki makhluk hanyalah bersifat pinjaman dan majaz (kiasan). Hanya Allah sebagai Rabb al-’Alamin (Rabb sekelian alam) dan mempunyai segala sifat kesempurnaan. Dengan sifat-sifat-Nya yang Maha Sempurna mengakibatkan seluruh makhluk bergantung kepada-Nya, memerlukan pertolongan-Nya dan berharap kepada-Nya.
Manusia, jika dia cerdik, bijak dan pandai, maka semuanya itu datang daripada Allah. Segala kekayaan dan penguasaan manusia bukanlah miliknya yang mutlak tetapi datang daripada Allah.
Manusia dijadikan hanya sebagai makhluk. Dia tidak memiliki apa-apa melainkan setiap kuasa, tindak-tanduk, gerak nafas dan sebagainya datang daripada Allah.
Allah, Dialah Maha berkuasa, mencipta, menghidup dan mematikan. Dia berkuasa memberikan manfaat dan mudarat. Jika Allah mahu memberikan manfaat dan kelebihan kepada seseorang, tiada siapa mampu menghalang atau menolaknya. Jika Allah mahu memberikan mudarat dan keburukan kepada seseorang seperti sakit dan susah, tiada siapa dapat menghalang atau mencegahnya.
Oleh itu hanya Allah sahaja ‘mutafarriq’, bermakna hanya Allah yang berkuasa untuk memberikan manfaat atau mudarat.
Firman Allah SWT:
“Jika Allah menimpakan sesuatu kemudaratan kepadamu, maka tiada yang dapat menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dialah Yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu.”
(Al-An’am: 17)
Dengan sifat-sifat Allah tersebut, maka timbullah kesan tauhid kepada seseorang. Dia hanya takut kepada Allah, dan berani untuk bertindak melakukan sesuatu kerana keyakinannya kepada Allah.
Manusia bersifat fakir
Manusia di dunia ini bersifat fakir (tidak memiliki apa-apa), sebaliknya sentiasa memerlukan pertolongan Allah. Firman Allah SWT di dalam Al-Hadith Al-Qudsi:
“Hai manusia, kamu semua berada di dalam kesesatan kecuali mereka yang Aku berikan taufiq dan hidayah kepadanya. Oleh itu mintalah hidayah daripada-Ku.”
“Hai manusia, kamu semua lapar, kecuali mereka yang aku berikan makan, oleh itu mintalah rezeki daripada-Ku.”
“Hai manusia, kamu semua telanjang kecuali mereka yang Aku berikan pakaian. Oleh itu mohonlah pakaian daripada-Ku.”
Sifat fakir dan sifat kaya
Berhajatkan sesuatu adalah sifat semua makhluk. Manusia, haiwan, tumbuh-tumbuhan dan makhluk lain berhajatkan kepada Allah. Oleh itu semua makhluk bersifat fakir.
Allah Maha Kaya. Dia tidak berhajat kepada sesuatu. Jika manusia memiliki keyakinan ini maka dia akan sentiasa berbaik sangka terhadap Allah. Firman Allah SWT:
“Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah, dan Allah, Dialah Yang Maha Kaya (yang tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (Fathir: 15)
Fakir adalah sifat yang zati bagi setiap makhluk ciptaan Allah. Kaya adalah sifat yang zati bagi al-Khaliq (Pencipta).
Dalil-Dalil Tauhid ar-Rububiyyah
Banyak dalil menunjukkan bahawa Allah itu Maha Esa dan tiada sesuatu menyamai Allah dari segi Rububiyyah. Antaranya:
1. Lihatlah pada tulisan di papan hitam, sudah pasti ada yang menulisnya. Orang yang berakal waras akan mengatakan bahawa setiap sesuatu pasti ada pembuatnya.
2. Semua benda di alam ini, daripada sekecil-kecilnya hinggalah sebesar-besarnya, menyaksikan bahawa Allah itu adalah Rabb al-’Alamin. Dia berhak ke atas semua kejadian di alam ini.
3. Susunan alam yang mengkagumkan, indah dan tersusun rapi adalah bukti Allah Maha Pencipta. Jika alam boleh berkata-kata, dia akan menyatakan bahawa dirinya makhluk ciptaan Allah. Orang yang berakal waras akan berkata bahawa alam ini dijadikan oleh satu Zat Yang Maha Berkuasa, iaitu Allah. Tidak ada orang yang berakal waras akan menyatakan bahawa sesuatu itu boleh berlaku dengan sendiri.
Begitulah hebatnya Ilmu Allah. Pandanglah saja kepada kejadian manusia dan fikirkanlah betapa rapi dan seni ciptaan-Nya.
Terdapat seribu satu macam ciptaan Allah yang memiliki sifat yang berbeza-beza antara satu sama lain. Semuanya menunjukkan bahawa Allah adalah Rabb yang Maha Bijaksana .
Fitrah mengakui Rububiyyah Allah
Berikrar dan mengakui akan Rububiyyah Allah adalah suatu perkara yang dapat diterima. Hakikat ini terlintas dalam setiap fitrah manusia. Meskipun seseorang itu kafir, namun jauh di lubuk hatinya tetap mengakui Rububiyyah Allah SWT. Firman Allah SWT:
“Dan jika kamu bertanyakan mereka tentang: Siapakah pencipta mereka? Nescaya mereka menjawab: Allah.” (Az-Zukhruf: 87)
“Dan jika kamu bertanyakan mereka tentang: Siapakah pencipta langit dan bumi? Nescaya mereka menjawab: Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa dan Yang Maha Mengetahui.”(Az-Zukhruf: 9)
Tidaklah susah untuk membuktikan Rububiyyah Allah SWT. Fitrah setiap insan adalah buktinya. Manusia yang mensyirik dan mengkufurkan Allah juga mengakui ketuhanan Allah Yang Maha Pencipta.
Al-Quran mengakui adanya Tauhid ar-Rububiyyah di dalam jiwa manusia
Al-Quran mengingatkan bahawa fitrah atau jiwa manusia memang telah memiliki rasa mahu mengakui Allah Rabb al-’Alamin. Firman Allah SWT:
“Berkata rasul-rasul mereka: Apakah terdapat keraguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi.” (Ibrahim: 10)
“Dan mereka mengingkarinya kerana kezaliman dan kesombongan (mereka) pada hal hati mereka meyakini (kebenaran)nya.”(An-Naml: 14)
Keengganan dan keingkaran sebahagian manusia untuk mengakui kewujudan Allah sebagai al-Khaliq (Yang Maha Pencipta), sebenarnya didorong oleh perasaan sombong, degil (‘inad) dan keras hati. Hakikatnya, fitrah manusia tidak boleh kosong daripada memiliki perasaan mendalam yang mengakui kewujudan al-Khaliq.
Jika fitrah manusia bersih daripada sombong, degil, keras hati dan selaput-selaput yang menutupinya, maka secara spontan manusia akan terus menuju kepada Allah tanpa bersusah payah untuk melakukan sebarang pilihan. Secara langsung lidahnya akan menyebut Allah dan meminta pertolongan daripada-Nya.
Telatah manusia, apabila berada di saat-saat genting, tidak akan terfikir dan terlintas sesuatu di hatinya kecuali Allah sahaja. Ketika itu segenap perasaan dan fikirannya dipusatkan kepada Allah semata-mata. Benarlah Firman Allah SWT:
“Dan apabila mereka dilambung ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan keikhlasan kepada-Nya, maka ketika Allah menyelamatkan mereka lalu sebahagian daripada mereka tetap berada di jalan yang lurus. Dan tiada yang mengingkari ayat-ayat Kami selain golongan yang tidak setia lagi ingkar.” (Luqman: 32)
Sesungguhnya permasalahan mengenai kewujudan Allah adalah mudah, jelas, terang dan nyata. Kewujudan Allah terbukti dengan dalil yang banyak dan pelbagai.
Tauhid al-Uluhiyyah
Maksud Tauhid al-Uluhiyyah ialah kita mentauhidkan Allah dalam peribadatan atau persembahan. Allah SWT mengutuskan para rasul bertujuan menyeru manusia menerima Tauhid al-Uluhiyyah. Firman-firman Allah SWT yang berikut membuktikan hal tersebut:
“Dan Kami tidak mengutuskan seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahawasanya tiada tuhan melainkan Aku, maka kamu sekelian hendaklah menyembah Aku.” (Al-Anbiya’: 25)
“Dan sesungguhnya Kami telah utuskan pada setiap umat itu seorang rasul (untuk menyeru): Sembahlah Allah dan jauhilah Taghut.” (An-Nahl: 36)
“Dan sesungguhnya Aku telah utuskan Nuh (nabi) kepada kaumnya, lalu dia berkata (menyeru): Wahai kaumku, hendaklah kamu menyembah Allah, (kerana) sesekali tiada tuhan melainkan Dia.” (Al-Mu’minun: 23)
“Dan (Kami telah mengutuskan) kepada kaum ‘Ad saudara mereka Hud (nabi): Hai kaumku sembahlah Allah, sesekali tiada tuhan bagi kamu selain dari-Nya.” (Al ‘Araf: 65)
Cetusan rasa cinta kepada Allah
Menyembah atau beribadah kepada Allah dapat dilaksanakan apabila tercetus rasa cinta yang suci kepada Allah dan rela (ikhlas) menundukkan diri serendah-rendahnya kepada-Nya. Seseorang hamba itu disifatkan sedang menyembah Allah apabila dia menyerahkan seluruh jiwa raga kepada Allah, bertawakkal kepada Allah, berpegang teguh kepada ajaran-ajaran Allah, berpaut kepada ketentuan Allah, meminta (mengharap) serta memulang (menyerah) sesuatu hanya kepada Allah, berjinak-jinak dengan Allah dengan cara sentiasa mengingati-Nya, melaksanakan segala syariat Allah dan memelihara segala perlakuan (akhlak, perkataan dan sebagainya) menurut cara-cara yang diredhai Allah.
‘Ubudiyyah yang semakin bertambah
Pengertian ‘ubudiyyah (pengabdian) kepada Allah akan bertambah sebati dan hebat kesannya dalam kehidupan manusia apabila semakin mendalam pengertian dan keinsafannya tentang hakikat bahawa manusia itu terlalu fakir di hadapan Allah. Manusia sentiasa bergantung dan berhajat kepada Allah. Manusia tidak boleh terlupus daripada kekuasaan dan pertolongan Allah walaupun sekelip mata.
Begitu juga dengan cinta atau kasih (hubb) manusia kepada Allah dan rasa rendah diri (khudu’) manusia kepada Allah yang akan bertambah teguh apabila semakin mantap ma’rifat dan kefahamannya terhadap sifat-sifat Allah, Asma’ Allah al-Husna (sifat-sifat Allah yang terpuji), kesempurnaan Allah dan kehebatan nikmat kurniaan Allah.
Semakin terisi telaga hati manusia dengan pengertian ‘ubudiyyah terhadap Allah semakin bebaslah dia daripada belenggu ‘ubudiyyah kepada selain daripada Allah. Seterusnya dia akan menjadi seorang hamba yang benar-benar tulus dan ikhlas mengabdikan diri kepada Allah. Itulah setinggi-tinggi darjat yang dapat dicapai oleh seseorang insan.
Allah telah menggambarkan di dalam al-Qur’an keadaan para rasul-Nya yang mulia dengan sifat-sifat ‘ubudiyyah di peringkat yang tinggi. Allah telah melukiskan rasa ‘ubudiyyah Rasulullah SAW pada malam sewaktu wahyu diturunkan, ketika baginda berda’wah dan semasa baginda mengalami peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Firman Allah SWT:
“Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan.” (An-Najm: 10)
“Dan ketika berdiri hamba-Nya (Muhammad) untuk menyembah-Nya (beribadat), hampir saja jin-jin itu mendesak-desak mengerumuninya.” (Al-Jin: 19)
“Maha Suci Allah yang memperjalankan hambanya (Muhammad) pada suatu malam dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsa.” ( Al-Isra’: 1)
Tauhid al-Rububiyyah menghubungkan Tauhid al-Uluhiyyah
Seperti yang telah dinyatakan di atas, Tauhid al-Rububiyyah ialah mengakui keesaan Allah sebagai Rabb, Tuan, Penguasa, Pencipta dan Pengurnia secara mutlak. Tidak ada sekutu bagi-Nya di dalam Rububiyyah.
Sesungguhnya kesanggupan dan kesediaan manusia mentauhidkan Allah dari segi Rububiyyah dengan segala pengertiannya akan menghubung atau menyebabkan manusia mengakui Tauhid al-Uluhiyyah iaitu mengesakan Allah dalam pengabdian. Secara spontan pula manusia akan mengakui bahawa Allah sahaja layak disembah, selain daripada-Nya tidak layak disembah walau dalam apa bentuk sekalipun.
Al-Quran terlebih dahulu memperingatkan orang-orang musyrikin Quraisy agar mengakui Tauhid al-Rububiyyah. Apabila mereka menerima Tauhid al-Rububiyyah dan bersungguh-sungguh mengakuinya, maka terbinalah jambatan yang menghubungkan mereka dengan Tauhid al-Uluhiyyah. Hakikat ini jelas dan tidak boleh dicuai atau diselindungkan lagi. Firman Allah SWT:
“Apakah mereka mempersekutukan Allah dengan berhala-berhala yang tidak dapat menciptakan sesuatu apapun? Sedangkan berhala-berhala tersebut adalah buatan manusia.” (Al-A’raf: 191)
“Apakah (Allah) yang menciptakan segala sesuatu itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)? Maka mengapakah kamu tidak mengambil pengajaran?” (An-Nahl: 17)
“Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu serukan selain daripada Allah tidak dapat menciptakan seekor lalat, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu daripada mereka, tiada mereka dapat merebutnya kembali daripada lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah pula yang disembah.” (Al-Hajj: 73)
Ayat-ayat tersebut mengingatkan orang-orang musyrikin mengenai suatu hakikat yang nyata iaitu sembahan-sembahan mereka adalah lemah, malah tidak berkuasa untuk mencipta sesuatu walaupun seekor lalat. Jika lalat itu mengambil atau merampas sesuatu daru mereka, maka mereka tidak berkuasa untuk mendapatkannya kembali. Ini menunjukkan betapa lemah yang meminta dan lemah pula yang dipinta. Oleh itu akal yang sejahtera tidak boleh menerima penyembahan selain daripada Allah. Dalam peribadatan mereka tidak boleh mempersekutukan sesuatu dengan Allah. Allah adalah al-Khaliq Yang Esa. Selain daripada-Nya adalah lemah dan dhaif belaka.
Tuhan-tuhan palsu yang tidak memiliki apa-apa
Al-Quran menghujah dan mengingatkan orang-orang musyrikin bahawa apa yang mereka sembah selain daripada Allah tidak memiliki sebutir atom pun sama ada di bumi mahupun di langit. Malah sembahan mereka sama sekali tidak menyamai Allah walaupun sebesar zarah sama ada di bumi mahupun di langit. Allah tidak mempunyai apa-apa keperluan dengan tuhan-tuhan palsu yang mereka sembah. Jika mereka menyedari hakikat ini, mereka akan merasai kewajipan untuk beribadat dengan ikhlas kepada Allah semata-mata. Firman Allah SWT:
“Katakanlah: Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarah pun di langit dan di bumi, dan mereka tidak memiliki satu saham pun dalam penciptaan langit dan bumi, dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya.” (Saba’: 22)
Al-Quran mengakui bahawa orang-orang musyrikin mengiktiraf sebahagian daripada Rububiyyah Allah seperti Allah itu Pemilik langit serta bumi dan Allah itu Pengurus kejadian-kejadian di langit serta di bumi. Jika begitulah pengiktirafan mereka, sepatutnya mereka beriman dan menyembah Allah tanpa mempersekutukan-Nya. Firman Allah SWT:
“Katakanlah (kepada mereka): Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya jika kamu mengetahui? Mereka akan menjawab: Kepunyaan Allah. Katakanlah (kepada mereka): Apakah kamu tidak ingat?
“Katakanlah (kepada mereka): Siapakah yang mempunyai langit yang tujuh dan yang empunya ‘arasy yang besar? Mereka akan menjawab: Kepunyaan Allah. Katakanlah (kepada mereka): Apakah kamu tidak bertaqwa?
“Katakanlah (kepada mereka): Siapakah yang di tangan-Nya berada segala kekuasaan sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi daripada (azab)-Nya, jika kamu mengetahui? Mereka akan menjawab: Kepunyaan Allah. Katakanlah (kepada mereka): (Oleh yang demikian) dari jalan manakah kamu ditipu ?
“Sebenarnya Kami telah membawa kebenaran kepada mereka dan sesungguhnya mereka sebenarnya orang-orang yang berdusta.”
(Al-Mu’minun: 84-90)
Sains dan aqidah tauhid
Penemuan-penemuan dalam bidang sains dan teknologi mengenai alam buana, atom, manusia, tumbuh-tumbuhan dan pelbagai bidang industri telah berjaya menyingkap keindahan dan ketelitian ciptaan Allah. Penemuan-penemuan dan rekaan-rekaan baru itu menguatkan lagi ajaran aqidah tauhid dan meneguhkan lagi keimanan orang-orang mu’min. Hasil-hasil kajian itu menunjukkan kebesaran dan keluasan kudrat serta ilmu Allah. Sesungguhnya di sebalik kehalusan ciptaan dan keindahan sistem sejagat ini pasti ada Penciptanya Yang Maha Basar dan Maha Berkuasa.
Kedudukan tauhid dalam Islam
Keseluruhan ajaran Islam berasaskan tauhid. Keseluruhan kandungan al-Quran berlegar di atas tauhid. Kandungan ayat-ayat al-Quran meliputi pengkhabaran tentang Allah, sifat Allah, kejadian Allah, perbuatan Allah dan pentadbiran Allah.
Al-Qur’an membincangkan tentang al-amr (perintah) dan anbiya’ Allah (nabi-nabi Allah) kerana kedua-duanya ada kaitan dengan penciptaan dan kekuasaan Allah terhadap makhluk-Nya. Al-Qur’an menerangkan segala bentuk balasan baik (pahala) untuk mereka yang mentaati Allah, Rasul dan syariat-Nya. Semua ini untuk mengajak mereka menegakkan Tauhid al-Uluhiyyah dan Tauhid al-Rububiyyah.
Al-Qur’an menerangkan segala bentuk balasan siksa (dosa) untuk mereka yang tidak mematuhi syariat-Nya, menceritakan tentang keadaan orang-orang zaman dahulu yang telah menderhakai Allah. Semua ini untuk menjelaskan bahawa manusia perlu kembali kepada dasar tauhid dan ibadah kepada Allah.
Oleh itu tauhid adalah intipati atau asas Islam. Daripada tauhid terpancar segala sistem, perintah, hukum dan peraturan. Semua ibadat dan hukum dalam Islam bertujuan untuk menambah, memahir, menguat dan mengukuhkan lagi tauhid di dalam hati orang-orang mu’min.
Dengan tauhid seluruh dorongan manusia akan terbentuk
Dengan tauhid yang kuat, maka akan terbentukkan pelbagai dorongan yang ada dalam jiwa manusia. Dia akan takut hanya kepada Allah SWT dan berani mempertahankan keyakinannya seperti yang dipersaksikan dalam sirah Rasulullah dan para sahabat:
1. Rasulullah SAW pernah memerintahkan Ali RA agar tidur di atas katilnya sebelum baginda keluar berhijrah ke Madinah, sedangkan musuh Islam begitu giat mengintip. Namun Sayyidina Ali sanggup berbuat mengikut perintah Rasulullah SAW kerana beliau yakin atas Kehendak dan Kekuasaan Allah.
2. Khalid Ibn al-Walid RA pernah mengalami banyak calar dan luka pada badannya kerana berperang di jalan Allah. Namun dia tetap yakin dengan Kekuasaan Allah. Dia tetap meneruskan pertempuran melawan musuh.
3. Bilal bin Rabah RA sanggup diheret di padang pasir, dijemur di bawah kepanasan matahari dan diseksa dengan batu besar diletakkan di atas tubuhnya. Dia tetap mempertahankan keimanannya.
Kini, ramai manusia yang kehilangan keyakinan ini. Mereka masih yakin kepada yang lain daripada Allah. Mereka takut kepada kegagalan, ketua, kematian dan sebagainya.
Oleh itu menjadi kewajipan bagi pendakwah-pendakwah Islam untuk mengembalikan manusia kepada keyakinan yang betul.
Syahadah bahawa Nabi Muhammad itu Rasulullah
Syahadah merupakan teras Islam yang kedua. Syahadah ini menuntut manusia mengetahui, membenar dan menyakini dengan muktamad (dengan i’tiqad yang jazim serta pegangan yang putus) bahawa Nabi Muhammad SAW adalah Rasulullah serta membuktikannya dengan perkataan dan perbuatan sekaligus.
Pembuktian dengan perkataan ialah melafazkan kalimah syahadah itu dengan lidah. Pembuktian dengan perbuatan ialah menegakkan tingkah laku (tatasusila) dan seluruh tindak-tanduk yang bersesuaian dengan ajaran Nabi Muhammad SAW serta menuruti jejak langkah baginda.
Para rasul menegakkan tauhid
Pada dasarnya pengutusan para rasul bertujuan untuk mengesakan Allah dalam Tauhid al-Rububiyyah dan Tauhid al-Uluhiyyah. Dialah Tuhan Rabb al-’Alamin dan Tuhan para Rasul tersebut. Tiada tuhan yang sebenar melainkan Allah.
Tauhid al-Rububiyyah dan Tauhid al-Uluhiyyah menjelaskan kekuasaan Allah yang Maha Suci dalam pentadbiran urusan makhluk-Nya. Allah Pengurnia kemaslahatan dan kebaikan. Allah Penentu al-amr (perintah). Allah-lah Pengutus ar-Rasul untuk makhluk-Nya.
Manusia memerlukan rasul untuk mencapai kesempurnaan hidup
Tidak syak lagi untuk mencapai kesempurnaan hidup, manusia bukan sahaja berkehendakkan kepada makanan, pakaian, tempat berlindung dan keperluan-keperluan jasmani yang lain, bahkan manusia juga berkehendakkan sesuatu untuk memenuhi tuntutan roh. Dengan memenuhi tuntutan roh, manusia akan dapat mencapai taraf kesempurnaan sebagai manusia yang mulia dan berbeza dengan makhluk-makhluk yang lain.
Tugas para rasul adalah untuk memberitahu kepada manusia bahawa Allah
adalah enciptanya yang layak disembah dan Dialah yang meletakkan manusia di atas jalan lurus (sirat al-mustaqim). Dengan keyakinan ini barulah manusia dapat sampai ke jalan kebahagiaan dan kesempurnaan sebenar.
Manusia sendiri tidak dapat mengetahui perkara-perkara ghaib mengenai Pencipta dan sirat al-mustaqim dengan menggunakan kudrat dan akalnya yang lemah. Manusia kerap melakukan kesilapan. Untuk memikirkan mengenai Pencipta dan sirat al-mustaqim adalah di luar kemampuan akal manusia. Oleh itu pengutusan para rasul Allah menunjukkan kebijaksanaan-Nya dan merupakan rahmat yang paling besar untuk umat manusia. Para rasul Allah dilantik daripada golongan manusia sendiri supaya mereka dapat menggunakan kebiasaan dan bahasa yang dapat difahami oleh manusia. Seterusnya menyampaikan ajaran Allah, menjelaskan cara-cara untuk sampai kepada risalah-Nya dan menghuraikan cara mana untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Sungguh tidak patut sikap manusia sekiranya dia mengingkari Rasul Allah SWT. Firman Allah SWT:
"Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang sewajarnya ketika mana mereka berkata: Allah tidak menurunkan sesuatu pun untuk manusia.” (Al-An’am: 91)
Mengingkari kenabian Nabi Muhammad adalah kesalahan yang besar
Mengingkari kenabian Nabi Muhammad SAW setelah nyata dalil-dalil mengenai kebenaran dan kenabiannya bererti merendah dan melemahkan akal manusia. Sikap seperti ini merupakan keingkaran yang sangat buruk, kedegilan yang sangat tebal dan dosa yang sangat besar. Allah akan membalas sikap sebegini dengan balasan pedih.
Mengithbatkan (Mensabitkan) kenabian Muhammad SAW
Seseorang tidak boleh mendakwa bahawa dia nampak bintang-bintang di langit sekiranya dia mengingkari kewujudan matahari, sedangkan dia nampak matahari. Kalau dia mendakwa dan percaya juga, itu bertentangan dengan keimanannya terhadap apa yang dilihatnya. Begitu juga seseorang tidak boleh beriman kepada nabi-nabi lain sekiranya dia tidak mempercayai Nabi Muhammad SAW dan mengingkari kenabiannya.
Mengithbatkan (mensabitkan) kenabian Muhammad SAW bererti mensabitkan juga kenabian seluruh para anbiya’ AS sepertimana yang tersebut di dalam al-Quran.
Oleh itu mengingkari perutusan sebarang rasul bererti membohongi sebahagian daripada apa yang terkandung di dalam al-Quran dan mengingkari risalah Islam.
Kesan dan implikasi keimanan kepada Nabi Muhammad SAW
Mengimani Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasulullah bererti mengimani secara mutlak dan sempurna bahawa segala perkara yang dibawa dan dikhabarkan oleh baginda datang daripada Allah SWT. Implikasinya agar manusia wajib membenar dan mentaati segala suruhan dan larangan Nabi Muhammad SAW dengan penuh redha dan ikhlas, tanpa was-was, tanpa rasa keberatan, tanpa rasa sempit dan tanpa rasa terpaksa.
Manusia perlu taat sepenuhnya kepada ajaran Nabi Muhammad SAW tanpa menimbulkan suasana berhujah, berdebat dan berbincang, seolah-olah ajaran itu datang daripada seorang manusia biasa. Beriman dengan Nabi Muhammad SAW tidak boleh sama sekali dengan cara mempercayai atau mengambil sebahagian dan meninggalkan sebahagian daripada ajarannya. Sikap sebegini adalah berlawanan dengan natijah yang sepatutnya lahir daripada keimanan terhadap Nabi Muhammad SAW. Al-Quran kerap menyatakan nas-nas yang qat’i tentang implikasi keimanan kepada Nabi Muhammad SAW. Firman Allah SWT:
Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberikan rahmat.”
(Ali ‘Imran: 132)
“Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, nescaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kamu.” (Ali ‘Imran: 31)
“Katakanlah: Taatilah Allah dan Rasul-Nya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang kafir. (Ali ‘Imran: 32)
“Sesiapa yang mentaati Rasul maka sesungguhnya ia telah mentaati Allah.” (An-Nisa’: 80)
“Sesungguhnya jawapan orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, lalu mereka berkata: Kami dengar dan kami patuh. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (An-Nur: 51)
“Dan sesiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, nescaya Allah akan memasukkannya ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan sesiapa yang berpaling nescaya Dia akan mengazab kamu dengan azab yang pedih.” (Al-Fath: 17)
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu terimalah, dan apa yang dilarang bagimu maka tinggallah.” (Al-Hasyr: 7)
“Dan tidak patut bagi lelaki-lelaki mukmin dan bagi perempuan-perempuan Mu’minah, apabila Allah dan Rasul-Nya menetapkan suatu ketetapan, ada pilihan lain bagi mereka tentang urusan mereka.” (Al-Ahzab: 36)
“Dan jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu maka kembalilah kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kamu benar-benar beriman dengan Allah dan Hari Akhirat.” (An-Nisa’: 59)
“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga menjadikan kamu sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa sesuatu keberatan terhadap keputusan yang kamu berikan, dan mereka menerima sepenuhnya.” (An-Nisa’: 65)
“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpakan cubaan atau ditimpakan azab yang pedih.” (An-Nur: 63)
Nas-nas seperti yang tersebut di atas sememangnya banyak di dalam al-Quran yang mengingatkan orang-orang beriman akan tanggungjawab mereka selepas beriman kepada Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul. Antaranya:
1. Nas-nas itu menyuruh manusia mentaati Nabi Muhammad SAW, kerana taatkan baginda bererti taatkan Allah SWT. Balasan orang yang mentaatinya ialah Syurga an-Na’im dan balasan orang yang mengingkarinya ialah Neraka.
2. Nas-nas itu menerangkan kepada orang-orang mukmin bahawa beriman kepada Nabi Muhammad SAW bererti mengikuti apa yang disuruhnya dan meninggalkan apa yang dilarangnya.
3. Nas-nas itu menyuruh orang Islam yang bertelingkah pendapat agar kembali kepada Allah dan Rasul-Nya serta redha menuruti hukum Rasulullah SAW.
Natijah logik
Semua yang dinyatakan dalam nas-nas al-Quran di atas adalah natijah logik bagi seseorang yang beriman dengan Nabi Muhammad SAW. serta menerima dengan rela akan kerasulannya. Suatu hal yang bertentangan dan tidak diterima akal jika seseorang itu beriman kepada Nabi Muhammad SAW tetapi menentang atau tidak menerima dengan rela hati perkara yang dibawanya dengan alasan, misalnya, tidak sesuai dengan sesuatu kepercayaan.
Umpama seorang yang telah menaruh kepercayaan kepada seorang doktor mahir, sudah tentu dia menerima nasihat doktor itu dan mengikuti cara pengubatannya. Dia akan mematuhi cara-cara memakan ubat dan segala pantang larangnya. Dia tidak boleh menentang atau membahaskan kata-kata doktor pakar itu. Jika kepatuhan dan kerelaan seseorang pesakit terhadap doktor adalah suatu yang dianggap lumrah dan munasabah, padahal doktor itu mungkin tersalah, maka bagaimana pula sikap seseorang terhadap Rasulullah yang diutuskan oleh Allah SWT, sedangkan Rasulullah adalah penghulu bagi segala doktor?
Kewajipan terhadap Rasulullah SAW
Kewajipan seorang muslim terhadap Rasulullah SAW ialah membenarkan semua yang dibawanya, mematuhi segala perintah dan meninggalkan segala larangannya. Seseorang muslim itu hendaklah menerima ajaran baginda dengan sempurna, ikhlas dan rela seperti yang telah dinyatakan.
Kewajipan-kewajipan lain ialah:
1. Mengasihi atau mencintai Rasulullah SAW lebih daripada mengasihi atau mencintai diri, anak, isteri, harta dan isi alam.
Sabda Rasulullah SAW:
“Tidak sempurna iman seseorang kamu sehinggalah dia sanggup menjadikan aku lebih dikasihi daripada dirinya, anaknya, hartanya dan manusia seluruhnya.”
Tanda manusia yang benar-benar mengasihi Rasulullah SAW ialah mengikuti baginda dengan penuh ikhlas. Dia segera mengerjakan apa yang disukai atau dikasihi baginda. Itulah tanda-tanda manusia yang benar-benar kasihkan Rasulullah SAW. Firman Allah SWT:
“Mereka bersumpah kepada kamu dengan nama Allah untuk mencari keredhaanmu, padahal Allah dan Rasul-Nya itulah yang lebih patut mereka cari keredhaannya jika mereka itu adalah orang-orang yang beriman.”
(At-Taubah: 62)
2. Menghormati dan memuliakan Rasulullah SAW sama ada ketika baginda masih hidup atau telah wafat. Firman Allah SWT:
“Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian yang lain.” (An-Nur: 63)
Rasulullah SAW bukanlah seperti manusia biasa. Baginda adalah Nabi dan Rasul. Rasulullah diutuskan untuk seluruh manusia. Maka wajarlah manusia membesar dan memuliakan baginda sehingga apabila memanggil baginda hendaklah memanggil: “Ya Rasulullah”, “Ya Nabiyullah”, “Ya Habibullah” dan sebagainya.
Antara cara menghormati dan memuliakan Rasulullah SAW ialah tidak mendahului baginda semasa bercakap dan tidak meninggikan suara. Firman Allah SWT:
“Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu meninggikan suaramu lebih daripada suara Nabi dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras sepertimana kerasnya suara sebahagian daripada kamu kepada sebahagian yang lain, supaya tidak terhapus pahala amalan kamusedangkan kamu tidak menyedarinya. Sesungguhnya orang-orang merendahkan suara di sisi Rasulullah mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka untuk bertaqwa. Bagi mereka keampunan dan pahala yang besar.” (Al-Hujurat: 1-3)
Menghormati dan memuliakan Nabi perlu terus berlanjutan sehingga selepas kewafatan baginda. Seseorang Muslim tidak boleh mengangkat suara di dalam Masjid an-Nabawi atau di sisi maqam baginda. Seseorang muslim wajib bersopan, bersungguh-sungguh dan redha ketika mendengar hadith baginda yang mulia. Seseorang muslim tidak boleh menafi atau menentang hadith-hadith baginda dengan pendapat-pendapat atau fikiran-fikiran yang karut dan menyesatkan. Jika seseorang muslim itu mendengar: “Qala Rasulullah S.A.W. (Sabda Rasulullah SAW), maka hendaklah dia memahami bahawa sabda baginda tidak boleh dibohongi oleh manusia. Oleh itu ia tidak boleh ditentang, bahkan hendaklah didengar, difahami dan diamalkan.
3. Bersungguh-sungguh menghindarkan apa-apa yang boleh menyakiti Rasulullah Nabi SAW sama ada sedikit atau banyak. Menyakiti Rasulullah SAW adalah haram dan berdosa. Malah, menyakitinya boleh menyebabkan seseorang itu terkeluar daripada Islam. Firman Allah SWT:
“Dan tidak boleh kamu menyakiti hati Rasulullah.” (Al Ahzab: 53)
“Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu bagi mereka azab yang pedih.” (At-Taubah: 61)
Termasuk dalam pengertian menyakiti Rasulullah SAW ialah menghina atau mencerca para isteri baginda yang mulia. Isteri-isteri Rasulullah adalah “Ibu Orang-Orang Yang Beriman”. Begitu juga, dianggap menyakiti Rasulullah, sekiranya seseorang menghina atau mencerca “Ahl al-Bait” baginda.
4. Membaca salawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW. Firman Allah SWT:
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman bersalawatlah kamu kepada Nabi dan ucaplah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (Al-Ahzab: 56)
Rujukan: Dr. Abdul Karim Zaidan, Usul Ad-Da’wah.
Langganan:
Postingan (Atom)